Wednesday, June 9, 2010

Mimpi Buruk Israel Bernama Kapal Bantuan Kemanusiaan


Pasca pembajakan kapal Rachel Corrie yang membawa bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza di perairan Gaza, berita mengenai pengiriman kapal-kapal bantuan kemanusiaan baru dari menghiasi seluruh pemberitaan media-media massa.

Trasformasi terbaru mengenai upaya pembatalan blokade rakyat Gaza secara khusus dan pembebasan Palestina secara umum dengan sendirinya menjadi kartu truf bagi bangsa Palestina. Sebaliknya, pengiriman kapal bantuan kemanusiaan telah menjadi mimpi buruk bagi rezim Zionis Israel. Karena bila pengiriman tresebut berlangsung terus-menerus, maka pondasi rezim ini akan goyah. Itu artinya masa kehancuran rezim buatan Barat ini semakin dekat.

Pernyataan kesiapan Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki untuk ikut dalam kapal bantuan kemanusiaan, sekaligus melawat Gaza pasca sikap anti-Zionis-nya berhasil merenggut waktu tidur para pejabat Zionis Israel. Pernyataan itu membuat mimpi buruk bagi Zionis Israel menjadi semakin meluas. Dengan kata lain, langkah Erdogan, bila itu terjadi, akan menjadi sebuah langkah baru yang sangat membahayakan eksistensi Israel.

Gelombang anti-Zionis yang semakin memuncak ditambah dukungan yang semakin luas terhadap warga Gaza dan bangsa Palestina di seluruh dunia dapat disaksikan dari aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat internasional di pelbagai penjuru dunia. Bila rasa kebencian terhadap Zionis Israel dan dukungan terhadap Palestina terus berlangsung yang dinyatakan lewat pengiriman konvoi-konvoi kapal bantuan kemanusiaan, Zionis Israel harus mengakui bahwa aksi ini dapat menggoyahkan sendi-sendi rezim ini yang dibangun secara haram di tanah Palestina.

Bila kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang berisikan para aktivis kemanusiaan dan perdamaian dari seluruh dunia berkumpul di perairan internasional dekat Gaza dipandang sebagai manuver manusia-manusia merdeka dan aksi solidaritas terhadap Gaza, niscaya rezim Zionis dan para pendukungnya berada dalam kondisi yang sulit. Tidak hanya itu, membayangkan terjadinya peristiwa tersebut saja sangat menyiksa mereka.

Sekaitan dengan hal ini, Manouchehr Mottaki, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran dalam sidang istimewa sekretariat pelaksana Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang diselenggarakan hari Ahad (06/6) di Jeddah meminta masyarakat internasional, khususnya negara-negara Islam melakukan aksi nyata dan segera terhadap rezim Zionis Israel. Untuk itu Menlu Mottaki mengusulkan agar negara-negara Islam secara simbolik mengirimkan kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza. Menurut Mottaki, aksi ini harus dilakukan berkali-kali dan dengan pelbagai cara. Dengan demikian, diharapkan kejahatan Zionis Israel dan para pendukungnya harus menyadari sedang berhadap-hadapan dengan kekuatan hati nurani manusia yang tak terkalahkan.

Dalam pidatonya, Mottaki mengatakan, "Kami membutuhkan puluhan kapal bantuan kemanusiaan dengan bendera dari pelbagai negara menuju Gaza." "Sangat tepat bila dalam periode masa genting ini, setiap negara anggota OKI mengirimkan sebuah kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai langkah awal," tambah Mottaki.

Bila usulan ini diterima oleh negara-negara anggota OKI, setidak-tidaknya akan ada 54 kapal sebagai perwakilan 1,5 miliar umat Islam yang akan menuju tanah air Palestina yang dirampas oleh para imigran Zionis. Bila gerakan simbolik ini dilakukan oleh negara-negara Islam, pembebasan al-Quds sebagai kiblat pertama umat Islam menjadi sesuatu hal yang mungkin.

Bila merunut ke belakang, pembentukan Organisasi Konferensi Islam oleh negara-negara Islam bermula ketika rezim Zionis Israel membakar Masjidul Aqsa, kiblat pertama umat Islam, pada 21 Agustus 1969. Demi mengutuk kejahatan itu, pada bulan September tahun yang sama, negara-negara Islam berkumpul di Rabat, Maroko dan secara resmi membentuk OKI pada bulan Mei 1971. Kini OKI telah memasuki usianya yang ke-40 dan mereka dapat kembali mengambil keputusan bersama menghapus kanker bernama rezim Zionis Israel untuk selamanya.

Bila mencermati negara-negara Islam yang membentuk sepertiga anggota PBB dan posisi strategis mereka di dunia, tentu saja mereka dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Betapa tidak, 74 persen cadangan minyak dunia dan 50 persen cadangan gas dunia dikuasai negara-negara Islam. Dengan catatan ini saja, semestinya negara-negara Islam tidak punya masalah bila ingin melaksanakan tanggung jawabnya di hadapan Palestina.

Tanggung jawab terhadap bangsa Palestina ini secara transparan dimasukkan dalam butir kelima dari tujuh tujuan pendirian OKI yang diratifikasi tahun 1972. Butir kelima itu menyebutkan, "Mengkoordinasi seluruh upaya demi melindungi tempat-tempat suci, membantu perang yang dilakukan bangsa Palestina dan bantuan kepada mereka demi meraih hak-hak dan pembebasan tanah air mereka."

Apakah dengan berlalunya 40 tahun dari ratifikasi butir kelima dari piagam OKI, masih belum cukupkah bagi mereka untuk melaksanakan butir ini dengan mengirimkan kapal bantuan kemanusiaan mereka ke Gaza?(IRIB/SL)

Siapa Pelatih Militer Taliban?‎

Tentara Inggris melatih dan memberikan bantuan dana kepada gerilyawan Taliban di ‎wilayah selatan Afganistan. Hal itu diungkap salah seorang anggota Taliban.

Press TV ‎melaporkan, Mulla Abdussalam Hanafi kepada situs pemberitaan Beneva mengatakan, ‎dalam beberapa tahun terakhir gerilyawan Taliban mendapat pelatihan militer dari ‎tentara Inggris. Tak hanya itu, setiap bulan Inggris juga memberi 300 dolar kepada ‎masing-masing anggota Taliban.‎

Mulla Abdussalam Hanafi adalah salah seorang senior di jaringan Taliban. Dia sempat ‎menjabat sebagai Gubernur Uruzgan saat Taliban berkuasa di Afganistan. Fakta ‎tersebut diungkap Hanafi setelah Inggris secara terbuka membeberkan prakarsa ‎damai dengan Taliban.‎

Tahun 2001, AS yang dibantu Inggris dan sejumlah negara sekutunya menyerang ‎Afganistan dengan alasan untuk menumpas kelompok Taliban. Serangan dan ‎pendudukan Afganistan hanya membuat negara itu tenggelam dalam ketidakamanan ‎dan kekacauan. Warga sipil adalah pihak yang paling banyak menderita akibat invasi ‎dan pendudukan asing di Afganistan.(IRIB/AHF/PH)‎

Wednesday, June 2, 2010

Khilafah dan Gerakan Transnasional




Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam untuk umat Islam sedunia. Para fukaha men-ta‘rif-kan Khilafah sebagai: ri’âsat[un] ‘âmmat[un] li al-muslimîn jamî‘[an] fî ad-dunyâ li iqâmati ahkâmi syar‘i al-Islâmi wa hamli ad-da‘wah al-islâmiyyah ilâ al-‘âlam (kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum syariah Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia).

Dengan demikian, Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam sebagaimana sistem pemerintahan republik, kerajaan, kekaisaran, dan lain-lain. Hanya saja, selama ini literatur-literatur yang diajarkan di sekolah atau perguruan tinggi seolah-olah telah sengaja tidak mau menyebut Khilafah sebagai suatu sistem pemerintahan. Biasanya yang diajarkan adalah republik yang merupakan lawan dari kerajaan, sistem demokrasi yang merupakan lawan dari totaliter, atau sistem demokrasi liberal dari kalangan kapitalis yang merupakan lawan dari demokrasi rakyat/proletariat dari kalangan sosialis-komunis. Para akademisi seolah-olah menganggap sistem Khilafah itu tidak pernah ada.

Padahal sistem Khilafah itu tegak sejak pemerintahan yang diwariskan oleh Baginda Rasulullah saw. kepada kaum Muslim (Beliau menyebutkan dalam hadis bahwa yang akan memerintah setelah beliau adalah para khalifah) generasi pertama, yakni Khulafaur Rasyidin pada abad ke tujuh, hingga khalifah terakhir pada masa Khilafah Utsmaniyah jatuh pada tahun 1924. Bagaimana mungkin negara yang terus-menerus tegak, walau mengalami jatuh-bangun, hingga 13 abad tanpa suatu sistem? Padahal sistem demokrasi kapitalis yang hari ini berkuasa di muka bumi faktanya baru tegak setelah Revolusi Prancis 1789, yakni baru berumur 218 tahun. Demokrasi rakyat versi komunis pun cuma berumur tidak sampai seabad (1917-1991). Di sinilah ketidakjujuran tampak nyata! Islam dianggap agama seperti Kristen, Budha, atau yang lain yang tidak memiliki ideologi dan sistem pemerintahan.

Namun, belakangan ada fenomena menarik. Pasca Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet tahun 1991, sistem demokrasi kapitalis yang diemban negara-negara Barat yang dikomandani AS merasa perlu adanya musuh bersama yang menggantikan ideologi komunis yang diemban Uni Soviet demi menjaga kelestarian sistem mereka. Mereka merujuk Huntington, bahwa musuh yang bisa dipasang adalah Islam. Namun, karena Islam adalah agama yang dipeluk oleh sekitar 1,5 miliar kaum Muslim, tidak strategis kalau mereka mengumumkan perang secara terbuka terhadap Islam. Karena itulah, Bush mengoreksi istilah Perang Salib dengan war on terorism setelah menyerbu Afganistan tahun 2001. Selanjutnya NIC (National Inteligent Council) menyebut-nyebut bahwa salah satu skenario yang bakal muncul sebagai kekuasaan yang mendominasi dunia tahun 2020 adalah Khilafah. Bush pun tidak kuat menahan diri untuk menyatakan bahwa kaum teroris akan mendirikan imperium dari Spanyol hingga Indonesia. Pejabat militer AS juga menyebut kalau tentara AS keluar dari Irak, mereka (kaum teroris) akan menegakkan Khilafah di Irak!

Jadi, musuh utama Barat adalah Islam. Untuk menipu Dunia Islam, mereka menyatakan bahwa mereka tidak memusuhi Islam, tetapi memusuhi teroris. Teroris itu adalah mereka yang menyerukan penegakan syariah Islam dan Khilafah! Oleh karena itu, segala bentuk operasi pemberantasan terorisme di Dunia Islam, baik oleh AS dan sekutu-sekutu Baratnya maupun para kompradornya di Dunia Islam tidak akan keluar dari skenario global war on terorism yang sejatinya adalah global war on Islam!

Belakangan muncul seruan dari kalangan non-pemerintah tentang apa yang disebut dengan kewaspadaan terhadap ideologi transnasional. Yang dimaksud ideologi transnasional adalah gerakan politik dari Timur Tengah yang datang ke Indonesia yang mengatasnamakan agama. Bahkan menurut suatu sumber, secara tegas disebut bahwa gerakan politik atas nama agama tersebut adalah Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Tuduhan melakukan kekerasan ditimpakan pada gerakan-gerakan ini, termasuk Hizbut Tahrir. Jelas ini adalah kebohongan. Sebab, siapa pun di negeri ini yang benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri aktivitas Hizbut Tahrir dalam demo-demo yang digelarnya sejak AS menyerbu Afganistan tahun 2001 hingga hari ini, baik dalam skala massa besar maupun kecil, tidak akan berani menyimpulkan bahwa massa Hizbut Tahrir melakukan tindakan kekerasan. Polisi sekalipun yang biasa mendampingi aksi HTI tidak akan berani mengarang cerita seperti itu. Bahkan Kapolda Metro Jaya pada masa Irjenpol Makbul Padmanegara (sekarang Wakapolri) pernah mengeluarkan piagam penghargaan atas demonstrasi yang tertib kepada HTI. Betul, Hizbut Tahrir keras dalam memegang prinsip Islam. Namun, melakukan tindakan kekerasan dalam aksi—seperti massa pendukung partai yang calonnya kalah dalam Pilkada di Tuban—tidak pernah. Hizbut Tahrir memang tidak mengadopsi penggunaan kekuatan fisik dalam mencapai tujuannya untuk mewujudkan kehidupan Islam secara kâffah di negeri ini.

Lebih aneh lagi, dalam upaya mencegah gerakan ideologi transnasional, khususnya terhadap Hizbut Tahrir, dikembangkan fitnah oleh Harari dari Libanon (aslinya dari Habasyah) yang menyebut Hizbut Tahrir sesat. Lalu, untuk menimbulkan perlawanan masyarakat dikembangkan pula cerita bahwa Hizbut Tahrir di Jawa Timur merebut masjid-masjid NU.

Jelas, ini seperti operasi intelijen untuk menimbulkan konflik horisontal. Pasalnya, menurut syariah Islam, masjid adalah wakaf dan itu adalah milik umum (milkiyyah ‘âmmah). Siapapun kaum Muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berhak dan wajib memakmurkannya (lihat QS at-Taubah [9]: 18). Sebaliknya, siapapun tidak berhak melarang kaum Muslim manapun untuk memakmurkan masjid. Jadi, tidak tepat masjid yang statusnya wakaf itu dimiliki dan dikuasai ormas tertentu.

Jadi, dengan pemahaman tersebut, tidak akan terbersit dalam diri Hizbut Tahrir untuk mengambil-alih masjid dari pihak manapun. Faktanya, para aktivis Hizbut Tahrir menyatu dengan kaum Muslim dari aliran dan ormas manapun di negeri ini untuk mengajak berjuang bersama mengembalikan kehidupan Islam yang kâffah. Karena itu, wajar jika muncul penentangan sendiri dari warga masyarakat di Jawa Timur terhadap sosialisasi yang memojokkan Hizbut Tahrir.

Eskalasi penentangan terhadap perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah dibangkitkan seolah-olah Khilafah adalah barang asing yang berbahaya bagi umat Islam, khususnya buat umat Islam di Indonesia, hanya karena sifatnya yang transnasional. Ini jelas keliru. Sebab, bahaya-tidaknya sebuah ideologi/sistem politik tidak ditentukan oleh wataknya yang transnasional atau tidak.

Kapitalisme—yang juga bersifat transnasional—yang kemudian melahirkan imperialisme (militer, ekonomi, politik, budaya, dll) sudah terbukti membahayakan dunia. Secara empiris, nenek moyang kita juga sudah merasakan bahaya imperialisme saat Belanda menjajah negeri ini selama 3,5 abad. Saat ini pun, kita sudah merasakan pahitnya penjajahan ekonomi Barat (khususnya AS) yang telah banyak menguras kekayaan negeri ini. Karena itulah, jika saat ini ada gerakan—seperti Hizbut Tahrir—yang menolak ideologi Kapitalisme dan penjajahan Barat/AS (yang telah terbukti menimbulkan bahaya dan penderitaan luar biasa bagi bangsa ini hingga hari ini) tentu pantas didukung oleh umat, apalagi oleh para ulama waratsah al-anbiyâ!

Dalam sejarahnya yang sanagat panjang, Khilafah sesungguhnya tidak pernah terbukti menyengsarakan manusia, termasuk negeri ini. Justru Khilafahlah yang telah menyampaikan hidayah Allah kepada bangsa ini sehingga bangsa ini mayoritas memeluk Islam. Apakah belum diketahui bahwa Walisongo yang menyebarkan Islam di negeri ini adalah para ulama dari Turki dan Palestina yang dikirim oleh Khilafah? Syarif Hidayatullah, misalnya, seorang ahli tatanegara dari Turki sekaligus panglima perang yang membebaskan Jakarta dari penjajah Portugis yang kemudian menamainya Jayakarta (terjemahan dari fath[an] mubîna; artinya kemenangan yang nyata [lihat QS al-Fath: 1]) adalah salah seorang wali yang berasal dari Palestina.

Mengapa para wali dari tokoh-tokoh Walisongo tersebut dikirim oleh Khilafah ke Nusantara? Tidak lain karena Khilafah memiliki tugas mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Sebab, politik luar negeri Khilafah adalah mengemban Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Karena itu, gerak dakwah Islam dan politik Khilafah Islamiyah pasti bersifat transnasional. Rasul sendiri melakukan hal itu. Beliau mengirim surat kepada Kaisar Heraklius di Syam dan Kisra di Persia. Jelas, dakwah Rasulullah saw. kepada kedua pemimpin negara adidaya waktu itu meraupakan gerakan dakwah politik transnasional. Demikian juga ekspedisi pasukan mujahidin di bawah pimpinan Jenderal Khalid bin Walid yang dikirim oleh Khalifah Abu Bakar untuk membuka wilayah Irak pasca pemadaman pemberontakan kaum murtad juga bersifat transasional, berbagai ekspedisi yang dikirim oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab hingga mampu meruntuhkan negara Persia sekaligus memukul mundur Heraklius dan balatentaranya dari seluruh wilayah Syam dan kemudian lari ke Konstantinopel, serta berbagai perluasan Islam dalam dakwah dan jihad yang dilakukan para khalifah berikutnya hingga Islam membentang dari Andalusia (Spanyol) hingga Asia Tenggara. Semua itu merupakan bentuk gerakan dakwah dan politik yang bersifat transnasional. Tanpa dakwah dan politik yang sifatnya transnasional, Islam tidak mungkin berkembang sampai ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kini menjadi jelas, tanpa gerakan transnasional Khilafah, mana mungkin Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah mengirim mubalig yang mengajarkan Islam ke Jambi memenuhi surat permintaan Raja Sriwijaya Jambi bernama Srindravarman pada tahun 718M hingga Raja Hindu tersebut masuk Islam pada tahun 720 M. Kalau Khilafah bukan gerakan transnasional, mana mungkin pula Sultan Muhammad I dari Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1404 mengirimkan para mubalig yang kemudian terkenal sebagai Walisongo di Tanah Jawa. Para mubalig yang dikirim ke Nusantara dalam lima periode itu antara lain: Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq (Ayahanda Sunan Giri) dari Samarqand, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghribi dari Maroko, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, Syaikh Subakir dari Persia, Syaikh Ja‘far Shadiq (Sunan Kudus) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dari Palestina.

Jika ada ulama di Jawa hari ini mengklaim bahwa dakwah mereka adalah mewarisi para Wali Songo, maka atas dasar alasan apa—baik secara syar‘i maupun historis—menolak gerakan penegakan kembali Khilafah yang bersifat transnasional tersebut? Apalagi jika gerakan yang mengingatkan seluruh umat Islam atas puncak kewajiban umat ini—yakni Khilafah—adalah gerakan yang dibentuk oleh seorang ulama Palestina yang merupakan cucu dari ulama besar Syaikh Yusuf an-Nabhani yang menulis kitab Syawâhid al-Haqq dan lain-lain. Ulama yang menelusuri khazanah Islam dan kitab-kitab kuning pada awal abad lalu pasti mengenal baik siapa Sayikh Yusuf an-Nabhani dan pasti mereka sungkan memusuhi anak-keturunan beliau, apalagi yang beliau kader sendiri sebagai ulama politisi seperti Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir!

Hadânâ Allâh wa iyyakum. Wallâh al-Muwaffiq ilâ aqwam ath-tharîq!

[Muhammad al-Khaththath]

Sunday, May 30, 2010

Inilah Wajah-wajah Iblis Yang Menyeramkan! Bukan Rekayasa

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah situs luar negeri yang memuat wajah Paus Benedict XVI yang digambarkan sebagai seorang Iblis. Dan hal ini tidak ada rekayasa sedikitpun. Kasus ini mungkin karena banyaknya terjadi skandal pelecehan seksual yang didapati oleh Gereja. Sehingga terciptalah wajah-wajah iblis tersebut.

Saya tidak bermaksud sara, karena saya hanya meng-copy paste saja. Di lain tempat, saya menemukan beragam hujatan di facebook yang diarahkan kepada Islam dan Umat Islam serta Nabi-nabi Islam. Seperti ini ---> 1

Kebencian mereka menghinakan umat Islam dan nabi-nabi umat Islam terlihat begitu bodoh sekali. Nah, sekarang bukti nyata telah kita ketahui sejak dulu. Hanya orang bodoh saya yang mengikuti ajaran pendeta-pendeta yang menyimpang dalam berbagai skandal pelecehan seksual. Ok, mari kita lihat wajah-wajah ibil tersebut:

1. Sini… anak-anak…. mari kemari hihihihihii

image

2. Aku adalah Santa hehehe

image

3. Bodoh sekali mereka, orang-orang tidak akan mencurigaiku

image

4. Jadilah seperti aku, sang iblis

image

5. Bloommm… hehehe

image

6. Apakah aku sudah tampak seperi Nazi?

image

7. Hahahaha….barakaraba

image

8. Saya akan kembali hihiihihihi

image

9. Kalia tidak akan pernah bisa lari dariku hahahahaha

image

10. HUPSSS, ilmu menghilangkan wajah

image

11. Tenanglah, kamu akan sedikit menderita

image

Sumber: buzzfeed

http://suara01.blogspot.com/2010/04/hot-inilah-wajah-wajah-iblis-yang.html

Monday, May 3, 2010

Jihad Explained

JIHAD, Other Commonly Used Spellings: JIHAAD

It is an Arabic word the root of which is Jahada, which means to strive for a better way of life. The nouns are Juhd, Mujahid, Jihad, and Ijtihad. The other meanings are: endeavor, strain, exertion, effort, diligence, fighting to defend one's life, land, and religion.

Jihad should not be confused with Holy War; the latter does not exist in Islam nor will Islam allow its followers to be involved in a Holy War. The latter refers to the Holy War of the Crusaders.

Jihad is not a war to force the faith on others, as many people think of it. It should never be interpreted as a way of compulsion of the belief on others, since there is an explicit verse in the Qur'an that says:"There is no compulsion in religion" Al-Qur'an: Al-Baqarah (2:256).

Jihad is not a defensive war only, but a war against any unjust regime. If such a regime exists, a war is to be waged against the leaders, but not against the people of that country. People should be freed from the unjust regimes and influences so that they can freely choose to believe in Allah.

Not only in peace but also in war Islam prohibits terrorism, kidnapping, and hijacking, when carried against civilians. Whoever commits such violations is considered a murderer in Islam, and is to be punished by the Islamic state. during wars, Islam prohibits Muslim soldiers from harming civilians, women, children, elderly, and the religious men like priests and rabies. It also prohibits cutting down trees and destroying civilian constructions.



The Spiritual Significance of Jihad


Seyyed Hossein Nasr
Vol. IX, No. 1

And those who perform jihad for Us, We shall certainly guide them in Our ways, and God is surely with the doers of good. (Quran XXXIX; 69)

You have returned from the lesser jihad to the greater jihad. (Hadith)

The Arabic term jihad, usually translated into European languages as holy war, more on the basis of its juridical usage in Islam rather than on its much more universal meaning in the Quran and Hadith, is derived from the root jhd whose primary meaning is to strive or to exert oneself. Its translation into holy war combined with the erroneous notion of Islam prevalent in the West as the 'religion of the sword' has helped to eclipse its inner and spiritual significance and to distort its connotation. Nor has the appearance upon the stage of history during the past century and especially during the past few years of an array of movements within the Islamic world often contending or even imposing each other and using the word jihad or one of its derivative forms helped to make known the full import of its traditional meaning which alone is of concern to us here. Instead recent distortions and even total reversal of the meaning of jihad as understood over the ages by Muslims have made it more difficult than ever before to gain insight into this key religious and spiritual concept.

To understand the spiritual significance of jihad and its wide application to nearly every aspect of human life as understood by Islam, it is necessary to remember that Islam bases itself upon the idea of establishing equilibrium within the being of man as well as in the human society where he functions and fulfills the goals of his earthly life. This equilibrium, which is the terrestrial reflection of Divine Justice and the necessary condition for peace in the human domain, is the basis upon which the soul takes its flight towards that peace which, to use Christian terms, 'passeth understanding'. If Christian morality sees the aim of the spiritual life and its own morality as based on the vertical flight towards that perfection and ideal which is embodied in Christ, Islam sees it in the establishment of an equilibrium both outward and inward as the necessary basis for the vertical ascent. The very stability of Islamic society over the centuries, the immutability of Islamic norms embodied in the Shari'ah, and the timeless character of traditional Islamic civilization which is the consequence of its permanent and immutable prototype are all reflections of both the ideal of equilibrium and its realization as is so evident in the teachings of the Shari'ah (or Divine Law) as well as works of Islamic art, that equilibrium which is inseparable from the very name of islam as being related to salam or peace.

The preservation of equilibrium in this world, however, does not mean simply a static or inactive passivity since life by nature implies movement. In the face of the contingencies of the world of change, of the withering effects of time, of the vicissitudes of terrestrial existence, to remain in equilibrium requires continuous exertion. It means carrying out jihad at every stage of life. Human nature being what it is, given to forgetfulness and the conquest of our immortal soul by the carnal soul or passions, the very process of life of both the individual and the human collectivity implies the ever-present danger of the loss of equilibrium and the fact of falling into the state of disequilibrium which if allowed to continue cannot but lead to disintegration on the individual level and chaos on the scale of community life. To avoid this tragic end and to fulfill the entelechy of the human state which is the realization of unity (al-tawhid) or total integration, Muslims as both individuals and members of Islamic society must carry out jihad, that is they must exert themselves at all moments of life to fight a battle both inward and outward against those forces that if not combatted will destroy that equilibrium which is the necessary condition for the spiritual life of the person and the functioning of human society. This fact is especially true if society is seen as a collectivity which bears the imprint of the Divine Norm rather than an antheap of contending and opposing units and forces.

Man is at once a spiritual and corporeal being, a micro-cosm complete unto himself; yet he is the member of a society within which alone are certain aspects of his being developed and certain of his needs fulfilled. He possesses at once an intelligence whose substance is ultimately of a divine character and sentiments which can either veil his intelligence or abett his quest for his own Origin. In him are found both love and hatred, generosity and coveteousness, compassion and aggression. Moreover, there have existed until now not just one but several 'humanities' with their own religious and moral norms and national, ethnic and racial groups with their own bonds of affiliation. As a result the practice of jihad as applied to the world of multiplicity and the vicissitudes of human existence in the external world has come to develop numerous ramifications in the fields of political and economic activity and in social life and come to partake on the external level of the complexity which characterizes the human world.

In its most outward sense jihad came to mean the defence of dar al-islam, that is, the Islamic world, from invasion and intrusion by non-Islamic forces. The earliest wars of Islamic history which threatened the very existence of the young community came to be known as jihad par excellence in this outward sense of 'holy war'. But it was upon returning from one of these early wars, which was of paramount importance in the survival of the newly established religious community and therefore of cosmic significance, that the Prophet nevertheless said to his companions that they had returned from the lesser holy war to the greater holy war, the greater jihad being the inner battle against all the forces which would prevent man from living according to the theomorphic norm which is his primordial and God given nature. Throughout Islamic history, the lesser holy war has echoed in the Islamic world when parts or the whole of that world have been threatened by forces from without or within. This call has been especially persistent since the nineteenth century with the advent of colonialism and the threat to the very existence of the Islamic world. It must be remembered, however, that even in such cases when the idea of jihad has been evoked in certain parts of the Islamic world, it has not usually been a question of religion simply sanctioning war but of the attempt of a society in which religion remains of central concern to protect itself from being conquered either by military and economic forces or by ideas of an alien nature. This does not mean, however, that in some cases especially in recent times, religious sentiments have not been used or misused to intensify or legitimize a conflict. But to say the least, the Islamic world does not have a monopoly on this abuse as the history of other civilizations including even the secularized West demonstrates so amply. Moreover, human nature being what it is, once religion ceases to be of central significance to a particular human collectivity, then men fight and kill each other for much less exalted issues than their heavenly faith. By including the question of war in its sacred legislation, Islam did not condone but limited war and its consequences as the history of the traditional Islamic world bears out. In any case the idea of total war and the actual practice of the extermination of whole civilian populations did not grow out of a civilization whose dominant religion saw jihad in a positive light. On the more external level, the lesser jihad also includes the socio-economic domain. It means the reassertion of justice in the external environment of human existence starting with man himself. To defend one's rights and reputation, to defend the honour of oneself and one's family is itself a jihad and a religious duty. So is the strengthening of all those social bonds from the family to the whole of the Muslim people (al-ummah) which the Shari'ah emphasizes. To seek social justice in accordance with the tenets of the Quran and of course not in the modern secularist sense is a way of re-establishing equilibrium in human society, that is, of performing jihad, as are constructive economic enterprises provided the well-being of the whole person is kept in mind and material welfare does not become an end in itself; provided one does not lose sight of the Quranic verse, 'The other world is better for you than this one'. To forget the proper relation between the two worlds would itself be instrumental in bringing about disequilibrium and would be a kind of jihad in reverse.

All of those external forms of jihad would remain incomplete and in fact contribute to an excessive externalization of human being, if they were not complemented by the greater or inner jihad which man must carry out continuously within himself for the nobility of the human state resides in the constant tension between what we appear to be and what we really are and the need to transcend ourselves throughout this journey of earthly life in order to become what we 'are'.

From the spiritual point of view all the 'pillars' of Islam can be seen as being related to jihad. The fundamental witnesses, 'There is no divinity but Allah' and 'Muhammad is the Messenger of Allah', through the utterance of which a person becomes a Muslim are not only statements about the Truth as seen in the Islamic perspective but also weapons for the practice of inner jihad. The very form of the first witness (La ilaha illa' Lla-h in Arabic) when written in Arabic calligraphy is like a bent sword with which all otherness is removed from the Supreme Reality while all that is positive in manifestation is returned to that Reality. The second witness is the blinding assertion of the powerful and majestic descent of all that constitutes in a positive manner the cosmos, man and revelation from that Supreme Reality. To invoke the two witnesses in the form of the sacred language in which they were revealed is to practice the inner jihad and to bring about awareness of who we are, from whence we come and where is our ultimate abode.

The daily prayers (salat or namaz) which constitute the heart of the Islamic rites are again a never ending jihad which punctuate human existence in a continuous rhythm in conformity with the rhythm of the cosmos. To perform the prayers with regularity and concentration requires the constant exertion of our will and an unending battle and striving against forgetfulness, dissipation and laziness. It is itself a form of spiritual warfare.

Likewise, the fast of Ramadan in which one wears the armour of inner purity and detachment against the passions and temptations of the outside world requires an asceticism and inner discipline which cannot come about except through an inner holy war. Nor is the hajj to the centre of the Islamic world in Mecca possible without long preparation, effort, often suffering and endurance of hardship. It requires great effort and exertion so that the Prophet could say, 'The hajj is the most excellent of all jihads". Like the knight in quest of the Holy Grail, the pilgrim to the house of the Beloved must engage in a spiritual warfare whose end makes all sacrifice and all hardship pale into significance, for the hajj to the House of God implies for the person who practices the inner jihad encounter with the Master of the House who also resides at the centre of that other Ka'bah which is the heart.

Finally the giving of zakat or religious tax and khums is again a form of jihad not only in that in departing from one's wealth man must fight against the coveteousness and greed of his carnal soul, but also in that through the payment of zakat and khums in its many forms man contributes to the establishment of economic justice in human society. Although jihad is not one of the 'pillars of Islam', it in a sense resides within all the other 'pillars'. From the spiritual point of view in fact all of the 'pillars' can be seen in the light of an inner jihad which is essential to the life of man from the Islamic point of view and which does not oppose but complements contemplativity and the peace which result from the contemplation of the One.

The great stations of perfection in the spiritual life can also be seen in the light of the inner jihad. To become detached from the impurities of the world in order to repose in the purity of the Divine Presence requires an intense jihad for our soul has its roots sunk deeply into the transient world which the soul of fallen man mistakes for reality. To overcome the lethargy, passivity and indifference of the soul, qualities which have become second nature to man as a result of his forgetting who he is constitutes likewise a constant jihad. To pull the reigns of the soul from dissipating itself outwardly as a result of its centrifugal tendencies and to bring it back to the centre wherein resides Divine Peace and all the beauty which the soul seeks in vain in the domain of multiplicity is again an inner jihad. To melt the hardened heart into a flowing stream of love which would embrace the whole of creation in virtue of the love for God is to perform the alchemical process of solve et coagula inwardly through a 'work' which is none other than an inner struggle and battle against what the soul has become in order to transform it into that which it 'is' and has never ceased to be if only it were to become aware of its own nature. Finally, to realize that only the Absolute is absolute and that only the Self can ultimately utter 'I' is to perform the supreme jihad of awakening the soul from the dream of forgetfulness and enabling it to gain the supreme principal knowledge for the sake of which it was created. The inner jihad or warfare seen spiritually and esoterically can be considered therefore as the key for the understanding of the whole spiritual process, and the path for the realization of the One which lies at the heart of the Islamic message seen in its totality. The Islamic path towards perfection can be conceived in the light of the symbolism of the greater jihad to which the Prophet of Islam, who founded this path on earth, himself referred.

In the same way that with every breath the principle of life which functions in us irrespective of our will and as long as it is willed by Him who created us, exerts itself through jihad to instill life within our whole body, at every moment in our conscious life we should seek to perform jihad in not only establishing equilibrium in the world about us but also in awakening to that Divine Reality which is the very source of our consciousness. For the spiritual man, every breath is a reminder that he should continue the inner jihad until he awakens from all dreaming and until the very rhythm of his heart echoes that primordial sacred Name by which all things were made and through which all things return to their Origin. The Prophet said, 'Man is asleep and when he dies he awakens'. Through inner jihad the spiritual man dies in this life in order to cease all dreaming, in order to awaken to that Reality which is the origin of all realities, in order to behold that Beauty of which all earthly beauty is but a pale reflection, in order to attain that Peace which all men seek but which can in fact be found only through the inner jihad.


Tuesday, December 22, 2009

Siapakah Pribumi di Indonesia?

Siapakah Pribumi di Indonesia?

Dalam berbagai kamus bahasa Indonesia kata pribumi didefinisikan sebagai penduduk asli suatu wilayah, bukan penduduk pendatang. Disini jelas bahwa persoalan waktu kedatangan bukan menjadi parameter, tapi sekali lagi keaslian. Tidak perduli kapan mereka datang dan menetap, selama mereka bukan penduduk asli, mereka adalah non-pribumi.

Sejauh ini, jika kita percaya pada teori evolusi, maka satu-satunya pribumi di dunia ini adalah orang Afrika. Karena itulah Afrika dikenal sebagai cradle of humankind, tempat terlahirnya manusia, yang kemudian menyebar keseluruh penjuru dunia. Memang ada juga teori yang mengatakan bahwa manusia berkembang di dua tempat - Afrika dan Asia - lalu kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Dan Indonesia merupakan salah satu tempat berkembangnya manusia di Asia menurut teori tersebut. Apakah ini yang menyebabkan kita mengklaim diri kita sebagai pribumi di Indonesia? Mungkin, tapi tidak valid.

Secara samar-samar kita memang telah diajarkan mengenai keberadaan rumpun kita di wilayah ini. Namun entah disengaja atau tidak, sejak di bangku Sekolah Dasar kita diajarkan bahwa nenek moyang kita (Melayu) berasal dari Cina, titik. Seolah sejak dari daratan Cina nenek moyang kita sudah merupakann rumpun Melayu. Kita tidak diajarkan secara eksplisit bahwa nenek moyang kita tidak saja berasal dari Cina tapi juga orang Cina.

Habgood (1989) mengatakan bahwa manusia modern Indonesia berasal dari Cina daratan. Gelombang migrasi nenek moyang kita yang merupakan para petani Cina dimulai pada 5000 tahun yang lalu dan mencapai bagian barat Indonesia pada 3000 tahun yang lalu. Sebagai petani, nenek moyang kita memiliki teknologi yang lebih maju dibandingkan mereka, kaum negrito, yang terlebih dahulu mendiami wilayah ini dan sumber kehidupannya hanya dari berburu dan mengumpulkan makanan dihutan. Oleh karena memiliki teknologi yang lebih maju, maka dengan mudahnya nenek moyang kita menggusur kaum negrito keluar dari wilayah yang mereka diami selama ini. Keturunan dari kaum negrito yang tergusur ini masih bisa kita temukan diwilayah pedalamam Irian, yang masih tetap mempraktekan pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan.

Baik dari sejarah maupun dari konteks kata pribumi itu sendiri, sudah jelas bahwa kita - rumpun Melayu - bukanlah penduduk asli di wilayah nusantara ini. Kita adalah pendatang sebagaimana halnya mereka yang kita labelkan sebagai non-pribumi. Lalu jika demikian mengapa klaim sebagai pribumi tetap ingin kita kibarkan dan kita arak dalam kehidupkan bernegara kita? Mungkin - walaupun dahulunya merupakan virus yang disebarkan oleh penjajah Belanda - istilah ini tetap dikampanyekan karena jika tidak ada klaim sebagai pribumi maka berarti menegasikan keberadaan Orang Indonesia Asli. Mengatakan Orang Indonesia Asli tidak ada berarti menyatakan bahwa UUD 45 harus diubah serta banyak kebijakan di negeri ini harus ditinjau ulang, dan yang jauh lebih berdampak, banyak orang akan kebakaran jenggot karena privilege mereka sebagai 'tuan tanah' akan terpangkas.

Sebaliknya, jika tetap bersikukuh bahwa Orang Indonesia Asli ada dan kita ingin semua berjalan sesuai dengan konstitusi, mungkin kita harus mempersiapkan diri untuk tidak memiliki presiden. Sebab di abad modern ini tak ada satu manusiapun, apalagi sebuah bangsa, di muka bumi ini yang mampu menjaga kemurnian garis keturunannya. Lalu kita mesti bertanya masih adakah sesuatu yang imun dari perubahan di era reformasi ini, sekalipun itu sesuatu yang selama ini kita sakralkan?

Mungkin kita perlu belajar dari negara-negara Amerika Latin akan makna bernegara dalam komponen bangsa yang majemuk. Bahwa bangsa dan nasionalisme adalah suatu idea, bukan pakaian seragam kodian yang dapat dibuktikan keasliannya, sededar dari kenampakan fisik belaka.

Siapakah pribumi asli Nusantara?

Kembali ke masa prasejarah, penduduk wilayah Nusantara hanya terdiri dari dua golongan yakni Pithecantropus Erectus beserta manusia Indonesia purba lainnya dan keturunan bangsa pendatang di luar Nusantara yang datang dalam beberapa gelombang.

Berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan di wilayah Indonesia, dapat dipastikan bahwa sejak 2.000.000 (dua juta) tahun yang lalu wilayah ini telah dihuni. Penghuninya adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua atau mesolithicum seperti Meganthropus Palaeo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan sebagainya. Manusia-manusia purba ini sesungguhnya lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini dikenal sebagai penduduk asli Australia.

Dengan demikian, yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” adalah kaum Negroid, atau Austroloid, yang berkulit hitam. Manusia Indonesia purba membawa kebudayaan batu tua atau palaeolitikum yang masih hidup secara nomaden atau berpindah dengan mata pencaharian berburu binatang dan meramu. Wilayah Nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoide yang berasal dari teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk type Veddoid-Austrolaid.

Bangsa Melanesoide dengan kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang.Teknologi pertanian juga sudah mereka genggam sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan semi nomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke Nusantara, selalu dilakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang datang sebelumnya.

Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupannya mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap maka yang pertama dan yang paling dibutuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah. Mereka belum sanggup menjaga, apalagi meningkatkan, kesuburan tanah. Mereka membutuhkan sistem pertanian yang ekstensif, dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah di Nusantara belum menjadi kepemilikan siapapun.

Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya tempat yang dituju adalah lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di wilayah Nusantara di lembah-lembah sungai) walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoide datang, mereka mulai menetap walaupun semi nomaden. Mereka akan pindah jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan. Maka pilihan atas tempat-tempat yang akan ditempatinya adalah tanah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetannya. Padahal, wilayah ini adalah juga wilayah di mana para penduduk asli mengumpulkan makanannya.

Ini mengakibatkan benturan yang tidak terelakan antara kebudayaan palaeolithikum dengan kebudayaan yang mesolithikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya. Pertemuan ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
1. Penduduk asli ditumpas, atau
2. Mereka diharuskan masuk dan bersembunyi di pedalaman untuk menyelamatkan diri, atau
3. Mereka yang ditaklukkan dijadikan hamba, dan kaum perempuannya dijadikan harem-harem untuk melayani para pemenang perang.

Sekitar tahun 2000 SM, bangsa Melanesoide yang akhirnya menetap di Nusantara kedatangan pula bangsa yang kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang me-nyebabkan bangsa Melayu tua meninggalkan asalnya yaitu :
1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah;
2. Adanya peperangan antar suku;
3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.

Suku-suku dari Asia tengah yakni Bangsa Aria yang mendesak Bangsa Melayu Tua sudah pasti memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi lagi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan yang tetap tinggal bercampur dengan Bangsa Aria dan Mongol. Dari artefak yang ditemukan yang berasal dari bangsa ini yaitu kapak lonjong dan kapak persegi.Kapak lonjong dan kapak persegi ini adalah bagian dari kebudayaan Neolitikum. Ini berarti orang-orang Melayu Tua, telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju dan bukan mustahil mereka sudah beternak. Dengan demikian mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing). Kemampuan ini membuat mereka dapat menetap secara lebih permanen.

Pola menetap ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis kebudayaan awal. Mereka juga mulai membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukiman mereka. Pengorganisasian ini membuat mereka sanggup belajar membuat peralatan rumah tangga dari tanah dan berbagai peralatan lain dengan lebih baik. Mereka mengenal adanya sistim kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang ada sehubungan dengan pertanian mereka. Sama seperti yang terjadi terdahulu, pertemuan dua peradaban yang berbeda kepentingan ini, mau tidak mau, melahirkan peperangan-peperangan untuk memperebutkan tanah. Dengan pengorganisiran yang lebih rapi dan peralatan yang lebih bermutu, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka usung kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli. Sisa-sisa pengusung kebudayaan Batu Tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Beberapa suku bangsa merupakan keturunan dari para pelarian ini, seperti suku Sakai, Kubu, dan Anak Dalam.

Arus pendatang tidak hanya datang dalam sekali saja. Pihak-pihak yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah-tanah di wilayah lain. Demikian juga yang menimpa bangsa Melayu Tua yang sudah mengenal bercocok tanam, beternak dan menetap. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran.

Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa melanesoide harus diperjuangkan untuk dipertahankan dari bangsa Melayu Tua.Tuntutan budaya yang sudah menetap mengharuskan mereka mencari tanah baru. Dengan modal kebudayaan yang lebih tinggi, bangsa Melanesoide harus menerima kenyataan bahwa telah ada bangsa penguasa baru yang menempati wilayah mereka.

Namun kedatangan bangsa Melayu Tua ini juga memungkinkan terjadinya percampuran darah antara bangsa ini dengan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Nusantara. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman. Sisa keturunannya sekarang dapat didapati orang-orang Sakai di Siak, Suku Kubu serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatera Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, orang Aeta di pedalaman Philipina, orang-orang Papua Melanesoide di Irian dan pulau-pulau Melanesia.

Pada gelombang migrasi kedua dari Yunan di tahun 2000-300 SM, datanglah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria di daratan Yunan. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutero Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Kebudayaan ini lebih tinggi lagi dari kebudayaan Batu Muda yang telah ada karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa Melayu Tua yang tadinya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak pula ke pedalaman karena kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak berubah. Sisa-sisa keturunan bangsa melayu tua banyak ditemukan di daerah pedalaman seperti suku Dayak, Toraja, orang Nias, batak pedalaman, Orang Kubu dan orang Sasak. Dengan menguasai tanah, Bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya bahkan menjadi penyumbang terbesar untuk cikal-bakal bangsa Indonesia sekarang.

Dari seluruh pendatang yang pindah dalam kurun waktu ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Ada juga yang kembali bergerak ke arah Cina Selatan dan kemudian kembali ke kampung halaman dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke Nusantara. Dalam kedatangan-kedatangan tersebut penduduk yang lebih tua menyerap bahasa dan adat para imigran. Jarang terjadi pemusnahan dan pengusiran bahkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Percampuran-percampuran inilah yang menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari ras kuning (mongoloid) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, ras hitam yang dimiliki oleh bangsa Melanesoide dan Ceylon dan ras putih anak benua India.

Sehingga tidak ada penduduk atau ras asli wilayah Nusantara kecuali para manusia purba yang ditemukan fosil-fosilnya. Kalaupun memang ada penduduk asli Indonesia maka ia terdesak terus oleh pendatang-pendatang boyongan sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya atau kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru. Semua adalah bangsa-bangsa pendatang.

Daftar Pustaka:
D. G. E. Hall. Sejarah Asia Tenggara. Cet.I. Surabaya-Usaha Nasional. 1988
Stanley. Makalah Arus Dari Utara. 1998
T. Parakitri Simbolon. Menjadi Indonesia, buku I “Akar-akar kebangsaan Indonesia”. Cet.I. Jakarta-Kompas-Grasindo. 1995.
Dr. M. Prijohutomo & P.J. Reimer. Tentang Orang dan Kejadian Jang Besar Djilid I. Tjet.V. Djakarta-Amnsterdam: W.Versluys N.V.
Pramoedya Ananta Toer. Hoakiau di Indonesia. Jakarta-Garba Budaya.1998

Baca Juga Sejarah Kerajaan Indonesia

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2621150

AWAL PENDARATAN AUSTRONESIA DI PANTAI UTARA JAWA

AWAL PENDARATAN AUSTRONESIA DI PANTAI UTARA JAWA,
SEBUAH PROSPEK MELACAK NENEK MOYANG ETNIS JAWA
Sofwan Noerwidi
Balai Arkeologi Yogyakarta

Abstrak
Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya di Kepulauan
Nusantara. Berdasarkan kajian linguistik, Robert Blust (1984/1985) berpendapat
bahwa proses pembentukan proto bahasa Jawa, Bali, Sasak dan Sumbawa bagian
barat baru terjadi pada 2500 BP yang kemungkinan berasal dari suatu daerah di
Borneo atau Sumatra. Namun, bukti arkeologis yang dapat digunakan untuk menguji
hipotesis tersebut masih sangat terbatas, sehingga proses awal penghunian pulau
Jawa oleh masyarakat neolitik Austronesia masih menjadi misteri. Mungkin saat ini
situs-situs neolitik awal di pantai utara Pulau Jawa telah terkubur beberapa meter di
bawah endapan aluvial. Data geologi dan geomorfologi memiliki peran yang sangat
penting untuk mengungkap kasus tersebut. Selain itu juga perlu diperhatikan
perubahan muka air laut pada masa lampau. Metode pencarian data dari bidang lain
mungkin sangat membantu dalam hal ini, seperti geoelektrik misalnya.
Abstract
Java Island is the densest island in the Indonesian Archipelago. From linguistic
evidence, Blust (1985) argued that there are the created process of proto Javanese,
Balinese, Sasak and West Sumbawa language took place approx. in the last 2500
years, which came from a language spoken somewhere in Sumatera or Borneo. The
archaeological evidence, which can support these linguistic hypotheses is very rear
uncovered, this causes reconstruction of the process of colonization in Java Island by
Austronesia speaking people to still be a mystery. Maybe, early Neolithic sites along
north coast of Java buried under alluvial deposit at the present time. Geomorphology
and Geological data are very important to answer this case. Another hand, ancient
sea level fluctuation will be an important factor. Survey methodology from other
discipline will very helpful, such as Geo-electric.
Terminologi Austronesia
Rumpun bahasa Austronesia merupakan salah satu rumpun bahasa terbesar yang
digunakan di lebih dari separuh belahan dunia, membentang dari Madagaskar di
barat hingga Pulau Paskah di Timur, serta membujur dari Taiwan dan Hawai�i di
utara hingga Selandia Baru di selatan. Luas persebarannya menjadikan rumpun
bahasa Austronesia sebagai bahasa terbesar sebelum masa kolonialisme bangsa
Eropa. Turunan rumpun bahasa Austronesia beranggotakan sekitar 1200 bahasa yang
berkerabat, serta digunakan oleh lebih dari 350 juta orang, dengan jumlah penutur
terbesar terdiri dari bahasa Melayu-Indonesia, Jawa dan Tagalog. Saat ini, bahasa
Austronesia secara mayoritas digunakan di negara-negara; Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, Brunei, serta oleh etnis tertentu di Taiwan (seperti; Atayal, Tsou
dan Paiwan), Vietnam, Kamboja (etnis Cham), Birma (pengembara laut di Kep.
Mergui), Timor Leste (seperti; Tetum, Quemac, dan Tocodede) dan beberapa etnis di
pantai utara Papua (lihat: Tryon, 1995: 17-19 dan Martins, 2000: 78).
Persebaran Berbagai Rumpun Bahasa Manusia (www.wikipedia.com)
Istilah Austronesia pada awalnya diberikan oleh ahli linguistik untuk menyebut suatu
rumpun bahasa yang hampir secara mayoritas dituturkan di Asia Tenggara
Kepulauan, Micronesia, Melanesia Kepulauan dan Polynesia. Pada
perkembangannya, istilah Austronesia juga digunakan untuk menyebut suatu
komunitas yang berbudaya Austronesia serta menuturkan bahasa Austronesia.
Perhatian terhadap kajian rumpun bahasa Austronesia dapat dirunut hingga awal
abad 16, ketika para pengembara mengumpulkan daftar kosa kata bahasa Austronesia
dari tempat-tempat yang mereka kunjungi, seperti misalnya Antonio Pigafetta
(seorang berkebangsaan Italia) yang ikut dalam ekspedisi Magellan 1519-1522 (Fox,
2004: 3). Kapten Cornelis de Houtman seorang kapten kapal Belanda yang berlayar
menuju Hindia Timur (mendarat di Banten) melalui Madagaskar pada tahun 1596,
mengamati berbagai kemiripan antara bahasa Malagasy dan bahasa Melayu
(Tanudirjo, 2001:9).
William von Humboldt adalah tokoh yang pertama kali mengajukan istilah �Malayo-
Polynesia� untuk menyebut bahasa-bahasa di kawasan Malaya sampai Polynesia
yang memiliki kemiripan. Pada tahun 1889, berdasarkan pada kajian linguistik yang
detail dan sistematis, Hendrik Kern membagi rumpun bahasa �Malayo-Polynesia�
menjadi bahasa �Malayo-Polynesia Barat� yang terdiri dari bahasa-bahasa di Asia
Tenggara Kepulauan serta Micronesia bagian barat, dan bahasa �Malayo-Polynesia
Timur� yang terdiri dari bahasa-bahasa di Melanesia Kepulauan dan Polynesia.
Kemudian pada tahun 1906, Wilhelm Schmidt memperkenalkan terminology
�Austronesia�, untuk menyebut bahasa �Malayo-Polynesia�. Selain itu beliau juga
mengajukan hipotesis bahwa pada masa lampau di Asia daratan terdapat bahasa
�Austric� yang merupakan nenek moyang bahasa Austronesia dan Austroasiatic.
Selain itu, di Asia Daratan juga terdapat beberapa rumpun bahasa besar lainnya,
antara lain adalah; Indo-Eropa, Sino-Tibetan, Tai-Kadai, Altaic, Korea, dan Hmong
Mien. Bahasa Austronesia kemudaian menurunkan bahasa-bahasa di Asia Tenggara
Kepulauan dan Pasifik, sedangkan bahasa Austroasiatic berkembang menjadi dua
rumpun besar bahasa yaitu; bahasa Mon-Khmer di Indochina dan bahasa Munda di
India bagian timur (lihat: Anceaux, 1991:73 serta Blench dan Dendo, 2004: 13).
Robert von Heine Geldern adalah ahli arkeologi yang pertama kali mengadopsi
konsep budaya Austronesia dari para linguist. Beliau berpendapat bahwa luas
persebaran budaya Austronesia ditunjukkan dengan persebaran kompleks budaya
Vierkantbeil Adze, dengan ciri utamanya adalah kehadiran beliung berpenampang
lintang persegi. Roger Duff kemudian melakukan kajian berdasarkan hasil penelitian
Geldern. Beliau melakukan klasifikasi tipologi beliung persegi berdasarkan bentuk
irisan, bentuk tajaman dan bentuk pangkal (Duff, 1970:8). Akhirnya Duff sampai
pada kesimpulan bahwa persebaran komunitas Austronesia di Kepulauan Indonesia
(kecuali Papua) yang didukung dengan pola subsistensi pertanian berasal dari
Semenanjung Malaya bagian selatan. Hal tersebut tercermin oleh persebaran beliung
paruh (Malayan Beacked Adze) dan belincung (Indonesian Pick Adze) (Duff,
1970:14). Ahli lainnya adalah Wilhelm G. Solheim II yang mengajukan teori bahwa
wilayah geografis persebaran gerabah Sa-Huynh dan Kalanay di Asia Tenggara
Kepulauan dan Lapita di Melanesia bagian barat memiliki hubungan dengan
persebaran orang Austronesia. Namun, beliau mengajukan istilah Nusantau untuk
menyebut kelompok orang Austronesia dan budayanya tersebut.
Persebaran Austronesia
Sangat mengagumkan melihat persebaran rumpun bahasa Austronesia yang
dituturkan pada hampir seluruh kawasan kepulauan Indo-Pasifik. Banyak ahli yang
berpendapat bahwa persebaran rumpun bahasa Austronesia yang luas disebabkan
oleh proses ekspansi komunitas penutur rumpun bahasa tersebut ke luar dari daerah
asalnya. Hendrik Kern mencoba untuk mencari daerah asal persebaran bahasa
Austronesia menggunakan metode pemilihan kosa kata sebagai bentuk bahasa
Austronesia purba dari kosa kata yang maknanya bersangkutan dengan unsur-unsur
flora, fauna dan lingkungan geografis. Hasil kajian tersebut membawa beliau pada
suatu kesimpulan bahwa tanah asal nenek moyang rumpun bahasa Austronesia
terletak di suatu pantai daerah tropis (Anceaux, 1991: 74-75, Blust, 1984-1985:47-
49).
Robert Blust (1984-1985) seorang linguist, berusaha menyusun silsilah kekerabatan
bahasa Austronesia dengan menggunakan metode �W�rter und Sachen Technique�,
yaitu dengan menggunakan kosa kata sebagai dasar untuk menyimpulkan berbagai
referensi yang diketahui oleh penutur bahasa yang direkonstruksi. Kosa kata tersebut
juga digunakan sebagai dasar untuk merekonstruksi budaya dan lingkungan alam
penutur bahasa yang direkonstruksi. Hasil reksonstruksi Blust adalah; nenek moyang
bahasa Austronesia dituturkan di sekitar daerah yang tidak jauh dari Pulau Taiwan
(Formosa) pada kurun sebelum 4.500 SM. Kemudian bahasa tersebut memisahkan
diri menjadi bahasa Austronesia Formosa (Atayal, Tsou dan Paiwan) dan Proto
Melayu-Polynesia (seluruh bahasa Austronesia di luar Taiwan) pada 4.500 SM.
Melayu-Polynesia kemudian berkembang menjadi Melayu-Polynesia Barat dan
Melayu-Polynesia Timur-Tengah pada 3.500 SM. Pada 3.000 SM, bahasa Melayu-
Polynesia Barat berkembang menjadi bahasa-bahasa Austronesia di kawasan antara
Filipina Selatan, Sumbawa bagian Barat dan Sumatra, sedangkan Melayu-Polynesia
Timur-Tengah berkembang menjadi Melayu-Polynesia Tengah dan MelayuPolynesia
Timur. Akhirnya, pada 2.500 SM bahasa Melayu-Polynesia Timur
berkembang menjadi bahasa Halmahera Selatan-Nugini Barat dan bahasa Oseania.
Silsilah Rumpun Bahasa Austronesia (Blust, 1978)
Saat ini berkembang beberapa teori persebaran Austronesia yang diajukan oleh para
ahli dari berbagai sudut pandang yang berbeda, diantaranya adalah; The Express
Train from Taiwan to Polynesia (Bellwood), The Taiwan Homeland concept (Reed),
Island Southeast Asia Origin (Solheim), From South America via Kon Tiki
(Heyerdahl), An Entangled Bank (Terrell), The Geneflow Model (Devlin), The
Genetic Bottleneck in Polynesia (Flint), The Eden in the East concept
(Oppenheimer), Voyaging Corridor Triple I account (Green) (lihat Chambers,
2006:303). Berdasarkan beberapa teori yang berkembang tersebut, pada intinya
terdapat tiga kubu model persebaran Austronesia yang berbeda, yaitu; (1)
Austronesia berasal dari Pulau Taiwan, (2) Austronesia berasal dari dari kawasan
Asia Tenggara Kepulauan dan (3) Austronesia berasal dari dari kawasan Melanesia.
Diantara beberapa teori tersebut, salah satunya yang terkuat dan mendapat banyak
dukungan dari berbagai sudut pandang keilmuan adalah model yang diajukan oleh
Bellwood. Beliau menyarankan bahwa Austronesia berasal dari Taiwan dan Pantai
Cina bagian selatan. Kawasan tersebut oleh berberapa ahli linguistik dianggap
sebagai tempat asal bahasa proto-Austronesia. Disamping itu, secara arkeologis
daerah tersebut menghasilkan bukti pola subsistensi bercocok tanam dan aspek
budaya Austronesia lainnya yang paling tua di kawasan ini berupa beliung persegi
dan gerabah, seperti yang ditemukan di situs Hemudu di Teluk Hangzou, Propinsi
Zhejiang yang berumur 7000 tahun (Bellwood, 1995:97-98).
Kolonisasi Austronesia di Jawa
Pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang paling padat penduduknya di
Kepulauan Nusantara. Dari sudut pandang genetik dan linguisik, pada saat ini
mayoritas penduduk Pulau Jawa adalah masyarakat dengan ciri genetik Mongoloid
serta menuturkan bahasa yang termasuk dalam rumpun Austronesia. Sampai saat ini,
penjelasan yang paling luas diterima bagi kasus penyebaran masyarakat penutur
bahasa Austronesia adalah Blust-Bellwood model yang dibangun berdasarkan
gabungan antara data linguistic historis dan arkeologi. Teori yang diajukan mereka
disebut juga model Out of Taiwan atau Express Train from Taiwan to Polynesia yang
intinya bahwa masyarakat penutur bahasa Austronesia berekspansi dari Taiwan sejak
5.000 BP menuju Asia Tenggara Kepulauan, Melanesia Kepulauan, Micronesia
hingga Polynesia, dengan cepat selama satu millennium berikutnya via Filipina. Pada
masa sebelumnya, Taiwan dikoloni oleh sekelompok populasi petani dari daratan
Cina Selatan via Pulau Peng Hu (Pascadores) pada sekitar 6.000 BP akibat tekanan
demografi (Tanudirjo, 2006: 87).
Persebaran Geografis Bahasa Austronesia (Diamond, 2000)
Berdasarkan kajian linguistik, Robert Blust (1984/1985) berpendapat bahwa
kelompok bahasa Jawa-Bali-Sasak memiliki hubungan yang erat dengan kelompok
bahasa Malayo-Chamic dan Bahasa Barito di Kalimantan Selatan (termasuk
Madagaskar). Beliau menduga bahwa proto kelompok bahasa-bahasa tersebut
dituturkan di bagian tenggara Kalimantan pada periode 1000-1500 SM. Kemudian
mengalami pemisahan yang pertama menjadi nenek moyang Bahasa Barito, Bahasa
Malayo-Chamic dan Bahasa Jawa-Bali-Sasak. Proses pemisahan berikutnya yang
dialami oleh proto bahasa-bahasa tersebut terjadi pada 800-1000 SM. Namun proses
pembentukan proto bahasa Jawa, Bali, Sasak dan Sumbawa bagian barat baru terjadi
pada 2500 tahun terakhir yang kemungkinan berasal dari suatu daerah di Borneo atau
Sumatra.
Beberapa Permasalahan
Berdasarkan kajian arkeologi, �paket� budaya neolitik yang dapat diasosiasikan
dengan penyebaran komunitas Austronesia awal dari Taiwan antara lain adalah;
pertanian padi-padian, domestikasi anjing dan babi, gerabah berdasar membulat
berhias slip merah, cap, gores dan tera tali dengan bibir melipat ke luar, kumparan
penggulung benang dari tanah liat, beliung batu dengan potongan lintang persegi
empat yang diasah, artefak dari batu sabak (lancipan) dan nephrite (aksesoris), batu
pemukul kulit kayu, serta batu pemberat jala. Beberapa dari kategori tersebut,
terutama gerabah slip merah berlanjut hingga Indonesia timur kemudian menuju
Oseania dalam bentuk komplek budaya Lapita (3.350-2.800 BP) (lihat: Bellwood,
2000: 313 dan 2006: 68). Namun, bukti arkeologis tersebut di atas yang dapat
digunakan untuk menguji hipotesis linguistik Blust masih sangat terbatas ditemukan
di Pulau Jawa, sehingga proses awal penghunian pulau ini oleh masyarakat neolitik
penutur bahasa Austronesia sampai sekarang masih menjadi misteri.
Data arkeologis yang mengindikasikan adanya kolonisasi Austronesia di Jawa adalah
persebaran berbagai macam tipologi beliung persegi yang telah dicatat oleh H.R van
Heekeren (1974), antara lain dari daerah; Banten, Kelapa Dua, Pejaten, Kampung
Keramat, dan Buni (Jakarta dan Tangerang), Pasir Kuda (Bogor), Cibadak, Cirebon,
Tasikmalaya (Priangan), Pekalongan, Gunung Karangbolang (Banyumas),
Semarang, Yogyakarta, Punung dan Wonogiri, Madiung, Surabaya, Madura, Malang,
Kendeng Lembu dan Pager Gunung (Besuki). Namun sayangnya, sebagian besar dari
temuan tersebut berasal dari laporan penduduk dan situs yang tidak jelas asalusulnya,
kecuali beberapa situs yang saat ini telah di teliti secara intensif seperti
misalnya Punung.
Bukti arkeologis yang langsung dapat digunakan untuk mendukung hipotesis
linguistik masih sangat sedikit yang ditemukan, sehingga proses awal penghunian
Pulau Jawa oleh masyarakat penutur bahasa Austronesia sampai saat ini masih
menjadi misteri. Proses transformasi data arkeologi berpengaruh sangat besar bagi
proses pembentukan dan ditemukannya bukti-bukti arkeologis tersebut. Mungkin
keadaannya pada saat ini situs-situs neolitik awal di pantai utara Pulau Jawa telah
terkubur beberapa meter di bawah endapan aluvial, sehingga sukar untuk ditemukan
dan diteliti (Bellwood, 2000: 337). Hal tersebut disebabkan karena di pulau Jawa
terdapat beberapa sungai besar yang bermuara ke pantai utara, antara lain adalah;
Sungai Cisadane, Sungai Ciliwung dan Sungai Citarum di bagian barat, Sungai Kuto,
Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi di bagian Tengah, serta Sungai Bengawan Solo dan
Sungai Brantas yang mengalir ke timur dan bermuara di Selat Madura. Permasalahan
yang serupa mungkin juga terjadi pada situs-situs di pantai timur Sumatra yang
diperkirakan menjadi lokasi pendaratan Austronesia di pulau tersebut.
Prospek Penelitian
Untuk menyiasati permasalahan belum banyaknya bukti arkeologis akibat proses
transformasi tersebut, maka harus dicari situs-situs di kawasan yang diperkirakan
selamat dari proses pengendapan yang cepat oleh material alluvial kegiatan vulkanik
beberapa gunung berapi yang dimulai sejak Jaman Kuarter. Data geologi dan
geomorfologi memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Selain itu juga perlu
diperhatikan perubahan tinggi muka air laut pada masa lampau. Berdasarkan pada
indicator biogenic dan inorganic untuk merekonstruksi muka air laut pada masa
lampau, dapat dikatahui bahwa di Semenanjung Malaysia dan Thailand yang gerak
tektoniknya stabil, muka air laut lebih tinggi 5 meter dari muka air laut sekarang
yang terjadi pada 5.000 BP (lihat: Tjia, 2006). Jika hal ini juga terjadi di pantai utara
Jawa, maka situs-situs pendaratan Austronesia antara 3.000-2.500 BP harus dicari
pada kawasan pantai yang konturnya lebih tinggi dari 3-4 meter di atas permukaan
laut saat ini.
Berdasarkan pada persyaratan tersebut di atas, maka beberapa kawasan pantai utara
Pulau Jawa bagian tengah dan timur yang memiliki potensi sebagai lokasi pendaratan
Austronesia adalah pantai-pantai di sepanjang Semenanjung Blambangan, Tuban,
Semarang dan Batang. Oleh karena itu, harus dicari situs permukiman neolitik
terbuka di sekitar kawasan pantai-pantai tersebut. Metode pencarian data dari bidang
keilmuan lain mungkin sangat membantu dalam hal ini, seperti geoelektrik misalnya
yang berguna untuk membantu menemukan garis pantai masa lampau sesuai dengan
kronologi yang diinginkan (3.000-2.500 BP untuk awal pendaratan Austronesia di
Pulau Jawa berdasarkan hipotesis linguistik).
Punung
Purbalingga
Kendenglembu
Kondisi Geomorfologi Pulau Jawa, dan Hipotesis pendaratan Austronesia
Mahirta (2006) mengembangkan beberapa model migrasi-kolonisasi yang diajukan
oleh Moore untuk diujikan pada kasus persebaran Austronesia. Beliau berpendapat
bahwa di Kepulauan Indonesia bagian timur terdapat dua macam pola permukiman
prasejarah Austronesia, yaitu (1) permukiman tersebar di sepanjang pantai jika
mengkoloni pulau yang tidak terlalu besar, seperti misalnya Pulau Kayoa dan Pulau
Gebe di Maluku Utara dan (2) permukiman berkembang memanjang ke pedalaman
sejajar dengan alur sungai, seperti misalnya situs-situs Kalumpang di Sulawesi Barat
dan permukiman tradisional etnis Dayak di Kalimantan yang masih bisa kita
saksikan hingga saat ini (lihat: Mahirta, 2006). Melihat beberapa kasus tersebut,
maka sebaiknya dalam eksplorasi situs-situs di pantai utara Jawa juga
memperhatikan keberadaan sungai yang dapat berpotensi sebagai jalur akses menuju
ke pedalaman. Hal tersebut disebabkan karena Pulau Jawa terlalu luas bagi
komunitas Austronesia jika hanya dikoloni pada bagian sekeliling garis pantainya
saja. Selain itu, komunitas petani dan peternak Austronesia tentunya membutuhkan
dataran alluvial gunung berapi yang subur di lokasi yang lebih ke pedalaman untuk
mengembangkan pola subsistensi bercocok tanam biji-bijian di Pulau Jawa. Dalam
hal ini, beberapa sungai besar yang bermuara ke pantai utara Jawa harus mendapat
perhatian khusus, seperti misalnya Sungai Tuntang di Semarang.
Sebagai referensi lainnya, pada situs-situs Austronesia awal di Cina daratan dan
Taiwan, rupa-rupanya telah dikenal sistem pemukiman menetap, dan berkelompok di
tempat terbuka dalam bentuk perkampungan. Situs-situs pemukiman rumah
panggung antara lain terdapat di Xitou, Kequitou dan Tanshishan di Fujian, situs
Hemudu di Zhejiang dan di Guangdong. Situs-situs tersebut berumur 5200 dan 4200
SM. Rumah-rumah tersebut berdenah persegi yang dibangun dengan teknik lubang
dan pasak yang amat rapi dan didirikan di atas deretan tumpukan kayu kecil.
Kemudian pada masa selanjutnya muncul situs desa seluas 40-80 hektar di Peinan
yang bertarik 1500 dan 800 SM. Situs rumah panggung juga terdapat di Feng pi t�ou
di Taiwan yang dihuni 2500-500 SM dan situs Dimolit di Luzon utara, yang dihuni
2500-1500 SM (Bellwood, 2000: hlm. 309, 315, 319, dan 323). Di Pasifik, pola
permukiman budaya Lapita pada umumnya terdiri atas beberapa rumah panggung
yang berada di pinggir pantai atau pulau kecil diseberangnya, seperti di Kepulauan
Mussau dengan luas 7 hektar. Indikasi mengenai situs tersebut biasanya ditandai
dengan sebaran pecahan gerabah, tungku dari tanah, dan bekas perapian (Spriggs,
1995: 118).
Berdasarkan data linguistik, kosa kata Austronesia mengenai rumah dan unsurunsurnya
permukiman lainnya ditemukan di seluruh kawasan barat dan timur
persebaran bahasa ini. Bahkan kata *Rumaq (Ind. Rumah) telah muncul sejak awal
perkembangan bahasa Austronesia di Taiwan (Blust, 1984-1985: 220). Sedangkan
berdasarkan bukti etnografi, sampai saat ini sistem permukiman terbuka tradisional
dengan rumah panggung masih banyak ditemukan pada masyarakat tradisional
Austronesia, seperti: Rumah Gadang (Minangkabau), Lamin (Dayak), Tongkonan
(Toraja).
Implikasi
Banyak situs permukiman neolitik telah ditemukan di Indonesia, dan beberapa
diantaranya telah dilakukan penelitian secara intensif, seperti misalnya; Tipar Ponjen,
Purbalingga (1.180-870 BP), Nangabalang, Kalimantan Barat (2.871 BP), Minanga
Sipakko, Sulawesi Barat (2.570 BP) dan Punung, Pacitan (2.100-1.100 BP)
(Simanjuntak, 2002). Namun dari beberapa situs tersebut hanya Situs Kendenglembu
di Pulau Jawa, yang merupakan satu di antara dua (yang baru ditemukan) kompleks
situs permukiman pure (murni) neolitik di Indonesia berdasarkan kerangka kronologi
(bukan tradisi). Situs sejenis lainnya adalah situs-situs di sepanjang Sungai Karama,
Kalumpang di Sulawesi Barat, mulai dari Tasiu, Sikendeng dan Lattibung di hilir
hingga Minanga Sipakko, Kamassi dan Tambing-tambing di hulu (lihat: Simanjuntak
2006).
Namun, berbeda dengan situs-situs Kalumpang yang terletak di sepanjang Sungai
Karama dari hilir hingga hulu, Situs Kendenglembu merupakan situs pedalaman di
selatan Jawa bagian timur yang kelihatannya tidak memiliki akses sungai menuju ke
pantai utara Jawa, tempat diperkirakannya awal pendaratan Austronesia di pulau ini.
Walaupun demikian, melihat perkembangan yang cukup signifikan dari hasil
penelitian Situs Kalumpang, maka perlu juga dilakukan penelitian secara sistematis
di Situs Kendenglembu dan eksplorasi situs-situs permukiman terbuka neolitik
lainnya di pantai utara, yang diperkirakan merupakan situs koloni awal (pendaratan)
Austronesia di Pulau Jawa, sebagai cikal bakal atau nenek moyang etnis Jawa di
pulau ini.
REFERENSI
Anceaux, J.C. 1991, �Beberapa Teori Linguistik Tentang Tanah Asal Bahasa
Austronesia�, dalam Harimurti Kridalaksana, ed. Masa Lampau Bahasa
Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm.
72-92.
Bellwood, Peter. 1995. �Austronesian Prehistory in Southeast Asia: Homeland,
Expansion and Transformation�, dalam Peter Bellwood, James J. Fox,
Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical and Comparative
Perspectives, Canberra: ANU, hlm. 96-111.
2000. Prasejarah kepulauan Indo-Malaysia, edisi revisi, Jakarta:
PT.Gramedia Pustaka Utama.
2006 �The Early Movement of Austronesian-speaking-peoples in the
Indonesian Region�, dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian
Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago,
Jakarta: LIPI Press. hlm. 61-82.
Blench, Roger dan Mallam Dendo. 2004. �Stratification in the Peopling of China:
How Far Does the Linguistic Evidence Match Genetics and Archaeology?�,
Paper for the Symposium : Human migrations in continental East Asia
and Taiwan: genetic, linguistic and archaeological evidence, Gen�ve:
Universit� de Gen�ve
Blust, Robert. 1984-1985. �The Austronesian Homeland: A Linguistic Perspective�,
Asian Perspectives 26 (1), hlm. 45-68.
Chambers, Geoffrey K. 2006. �Polynesian Genetic and Austronesian Prehistory�,
dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian Diaspora and the
Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago, Jakarta: LIPI Press.
hlm. 299-319.
Diamond, Jared. M. 2000. �Taiwan�s gift to the world�, Nature, Vol. 403, Macmillan
Magazines Ltd
Duff, Roger. 1970. Stone Adze of Southeast Asia, New Zealand: Centerbury
Museum
Fox, James J. 2004. �Current Developments in Comparative Austronesian Studies�,
makalah disampaikan dalam Symposium Austronesia, Pascasarjana
Linguistik dan Kajian Budaya, Universitas Udayana, Bali
Heekeren, H.R. van. 1972. �The Stone Age of Indonesia�, Verhandelingen van
het Koninklijk Instituut voor Tall-, Land-, en Volkenkunde, 61, Revised
Edition, The Hague: Martinus Nijhoff
Mahirta. 2006. �The Prehistory of Austronesian Dispersal to the Southern Island of
Eastern Indonesia�, dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian
Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago,
Jakarta: LIPI Press. hlm. 129-145.
Martins, F.M. 2000. �Susunan Beruntun dalam Bahasa Bunac� dalam Sudaryanto
dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan Bahasa dan Budaya di
Kawasan Non-Austronesia, Yogyakarta: PSAP-UGM, hlm. 77-89.
Simanjuntak, Truman, ed. 2000. Gunung Sewu in Prehistoric Times, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Simanjuntak, Truman. 2006. �Advance of Research on the Austronesian in
Sulawesi�, dalam dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed, Austronesian
Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago,
Jakarta: LIPI Press. hlm. 223-231.
Spriggs, Matthew. 1995. �The Lapita Culture and Austronesian Prehistory in
Oceania�, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The
Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, Canberra: ANU,
hlm. 112-133.
Tanudirjo, Daud Aris. 2001. �Island In-Between: the Prehistory of Northeastern
Indonesia. Ph.D. Thesis, Canberra: ANU.
2006. �The Dispersal of Austronesian-speaking-people and the
Ethnogenesis Indonesian People� dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed,
Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian
Archipelago, Jakarta: LIPI Press. hlm. 83 - 98.
Tjia, H.D. 2006. �Geological Evidence for Quaternary Land Bridge in Insular
Southeast Asia�, dalam Truman Simanjuntak, dkk. ed. Archaeology:
Indonesian Perspective, R.P. Soejono�s Festschrift, Jakarta: LIPI Press.
hlm. 71-82.
Tryon, Darrel. 1995. �Proto-Austronesian and the Major Austronesian Subgroup�,
dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds.), The
Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, Canberra: ANU,
hlm. 17-38.

Friday, October 2, 2009

THE SAUDI DYNASTY? HAVE JEWS ANCESTOR???

THE SAUDI DYNASTY: FROM WHERE IS IT? AND WHO IS THE REAL ANCESTOR OF THIS FAMILY?



RESEARCH AND PRESENTATION OF: MOHAMMAD SAKHER , who was ordered killed by the Saudi Regime for the following findings:

1. Are the Saudi Family members belonging to the Tribe of ANZA BEN WA'EL as they allege to be?
2. Is Islam their actual religion?
3. Are they of an ARAB ORIGIN at all?

In the year 851 A.H. a group of men from AL MASALEEKH CLAN, which was a branch of ANZA Tribe, formed a caravan for buying cereals (wheat and corn) and other food stuff from IRAQ, and transporting it back to NAJD. The head of that group was a man called SAHMI BIN HATHLOOL. The caravan reached BASRA, where the members of the group went to a cereal merchant who was a Jew, Called MORDAKHAI BIN IBRAHIM BIN MOSHE'. During their bargaining with that merchant, the Jew asked them : "Where are you from?" They answered: "From ANZA TRIBE; a clan of AL MASALEEKH." Upon hearing that name, the Jew started to hug so affectionately each one of them saying that he, himself, was also from the clan of AL MASALEEKH, but he had come to reside in BASRA (IRAQ) in consequence to a family feud between his father and some members of ANZA Tribe.

After he recounted to them his fabricated narrative, he ordered his servants to load all the camels of the clan's members with wheat, dates and tamman; a remarkable deed so generous that astonished the MASALEEKH men and aroused their pride to find such an affectionate (cousin) in IRAQ- the source of their sustenance; they believed each word he said , and , because he was a rich merchant of the food commodities which they were badly in need, they liked him (even though he was a Jew concealed under the garb of an Arab from AL MASALEEKH clan).

When the caravan was ready to depart returning to NAJD, that Jewish Merchant asked them to accept his company, because he intended to go with them to his original homeland, NAJD. Upon hearing that from him, they wholeheartedly welcomed him with a very cheerful attitude.

So that (concealed) Jew reached NAJD with the caravan. In NAJD, he started to promulgate a lot of propaganda for himself through his companions (his alleged cousins), a fact, which gathered around him a considerable number of new supporters; but, unexpectedly, he confronted a campaign of opposition to his views led by SHEIKH SALEH SALMAN ABDULLA AL TAMIMI, who was a Muslem religious preacher in AL-QASEEM. The radius of his preaching area included Najd, Yemen, and Hijaz, a fact which compelled the Jew (the Ancestor of the present SAUDI FAMILY to depart from AL QASEEM to AL IHSA, where he changed his name (MORDAKHAI) To MARKHAN BIN IBRAHIM MUSA. Then he changed the location of his residence and settled at a place called DIR'IYA near AL-QATEEF, where he started to spread among the inhabitants a fabricated story about the shield of our Prophet MOHAMMAD (p.b.u.h), that it was taken as a booty by an Arab Pagan in consequence of OHOD Battle between the Arab pagans and the Muslems. "That shield, he said, was sold by the Arab Pagan to a Jewish Clan called BANU QUNAIQA' who preserved it as a treasure! He gradually enhanced his position among the Bedouins through such stories which indicated how the Jewish clans in Arabia were so influential and deserved high esteem. He gained some personal importance among the Bedouins, and decided to settle permanently there, at DIR'IYA town, near AL QATEEF, which he decided to be his (Capital) on the Persian Gulf. He aspired to make it his spring board for establishing a Jewish Kingdom in Arabia.
In order to fulfill his ambitious scheme, he started to approach the desert Arab Bedouins for support of his position, them gradually, he declared himself as their king!

At that juncture, AJAMAN Tribe together with BANU KHALED Tribe became fully aware of that Jewish cunning plan after they had verified his true identity, and decided to put an end to him. They attacked his town and conquered it, but before arresting him he had escaped by the skin of his teeth.

That Jewish Ancestor of the SAUDI FAMILY, (MORDAKHAI), sought shelter in a farm called at that time AL-MALIBEED-GHUSAIBA near AL-ARID, which is called at our present time : AL-RIYADH.

He requested the owner of that farm to grant him an asylum. The farmer was so hospitable that he immediately gave him sanctuary. But that Jew (MORDAKHAI), no longer than a month had he stayed there, when he assassinated the land lord and all members of his family, pretending that all were killed by an invading band of thieves. Then he pretended that he had bought that real estate from them before that catastrophe happened to them! Accordingly, he had the right to reside there as a land lord. He then gave a new name to that place: He named it AL-DIRIYA - the same name as that he had lost.

That Jewish Ancestor of the SAUDI FAMILY (MORDAKHAI), was quick to establish a "GUEST HOUSE" called "MADAFFA" on the land he usurped from his victims, and gathered around him a group of hypocrites who started to spread out false propaganda for him that he was a prominent Arab Sheikh. He plotted against Sheikh SALEH SALMAN ABDULLA AL TAMIMI, his original enemy, and caused his assassination in the mosque of the town called (AL-ZALAFI).

After that, he felt satisfied and safe to make (AL-DIRIYA) his permanent home. There he practiced polygamy at a wide scale, and indeed, he begot a lot of children whom he gave pure Arab names.

Eversince his descendants grew up in number and power under the name of SAUDI CLAN, they have followed his steps in practicing under ground activities and conspiracies against the Arab Nation. They illegally seized rural sectors and farm lands, and assassinated every person who tried to oppose their evil plans. They used all kinds of deceit for reaching their goals: they bought the conscience of their dissidents; they offered their women and money to influential people in that area, particularly to those who started to write the true biography of that Jewish Family; they bribed writers of history in order to purify their ignominious history, and make their lineage related to the most prominent Arab Tribes such as RABI'A, ANZA and ALMASALEEKH.

A conspicuous hypocrite in our era whose name is MOHAMMAD AMIN AL TAMIMI- Director/Manager of the contemporary Libraries of the SAUDI KINGDOM, made up a genealogical tree (FAMILY TREE) for this JEWISH FAMILY (THE SAUDIS), connecting them to our Great Prophet, MOHAMMAD (P.B.U.H) For his false work, he received a reward of 35 (THIRTY FIVE) THOUSAND EYPTIAN POUNDS from the then SAUDI AMBASSADOR TO CAIRO, EGYPT, in the year 1362 AH.- 1943 A.D. The name of that Ambassador is : IBRAHIM AL-FADEL.

As aforementioned, the Jewish Ancestor of the SAUDI FAMILY, (MORDAKHAI), practiced polygamy by marrying a lot of Arab women and begot many children; his polygamous practice is, at the present time, being carried out " to the letter" by his descendants; they cling to his marital heritage!

One of MORDAKHAI'S sons called AL-MAQARAN, arabized from the Jewish root (MACK-REN) begot a son called Mohammad, then another son called SAUD, which is the name of the present day SAUDI DYNASTY.

Descendants of SAUD (the present day SAUDI FAMILY )started a campaign of assassination of the prominent leaders of the Arab Tribes under the pretence that those leaders were apostates; renegading from the Islamic Religion, and deserting their Koranic doctrines; so they deserved the SAUDI condemnation and slaughter!

In the History Book of the SAUDI FAMILY pages (98-101), their private family historian declares that the SAUDI DYNASTY considers all the people of NAJD blasphemous; so their blood must be shed, their properties confiscated, and their females be taken as concubines; no muslem is authentic in his /her belief unless he/she belongs (affiliates) to the sect of MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB, (whose origins are also Jewish from TURKEY.) His doctrines give authority to the SAUDI FAMILY to destroy the villages with all their inhabitants-males including children, and to sexually assault their women; stab the bellies of the pregnant, and cut off the hands of their children, then burn them! They are further authorized by such a BRUTAL DOCTRINE to plunder all the properties of whom they call renegades (not following their Wahabi Sect).Their hideous Jewish Family has, in fact, done all that kind of atrocities in the name of their false religious sect (the Wahabi), which has actually been invented by a Jew so as to sow the seeds of terror in the hearts of people in towns and villages. This Jewish Dynasty has been committing such brutal atrocities eversince 1163 A.H. They have named the whole Arabian Peninsula after their family name (SAUDI ARABIA) as if the whole region is their own personal real estate, and that all other inhabitants are their mere servants or slaves, toiling day and night for the pleasure of their masters (THE SAUDI FAMILY).

They are completely holding the natural wealth of the country as their own property. If any poor person from the common people raises his/her voice complaining against any of the despotic rules of this Jewish Dynasty, (the Dynasty) cuts off his/her head in the public square. A princess of theirs once visited FLORIDA, USA, with her retinue; she rented 90 (NINETY) Suite rooms in a Grand Hotel for about One Million Dollars a night! Can anyone of their subjects comment about that extravagant event If he/she does, his/her fate is quite known: DEATH WITH THE EDGE OF THE SAUDI SWORD IN THE PUBLIC SQUARE!!!!!!

Witnesses on the Jewish Ancestry of this Saudi Family:

In the 1960's the "SAWT AL ARAB" Broadcasting Station in Cairo, Egypt, and the YEMEN Broadcasting Station in SANA'A confirmed the Jewish Ancestry of the SAUDI Family.

King FAISAL AL-SAUD at that time could not deny his family's kindred with the JEWS when he declared to the WASHINGTON POST on Sept. 17, 1969 stating: "WE, THE SAUDI FAMILY, are cousins of the Jews: we entirely disagree with any Arab or Muslem Authority which shows any antagonism to the Jews; but we must live together with them in peace. Our country (ARABIA) is the Fountain head from where the first Jew sprang, and his descendants spread out all over the world." That was the declaration of KING FAISAL AL-SAUD BIN ABDUL AZIZ!!!!!

HAFEZ WAHBI, The SAUDI Legal Adviser, mentioned in his book entitled: "THE PENINSULA OF ARABIA" that KING ABDUL AZIZ AL-SAUD, who died in 1953, had said : "Our Message (SAUDI MESSAGE) encountered the opposition of all Arab Tribes; my grandfather, SAUD AWAL, once imprisoned a number of the Sheikhs of MATHEER Tribe; and when another group of the same tribe came to intercede for the release of the prisoners, SAUD AWAL gave orders to his men to cut off the heads of all the prisoners, then, he wanted to humiliate and derogate the interceders by inviting them to eat from a banquet he prepared from the cooked flesh of his victims whose cut off heads he placed on the top of the food platters!! The interceders became so alarmed and declined to eat the flesh of their relatives; and, because of their refusal to eat, he ordered his men to cut off their heads too. That hideous crime was committed by that self imposed king to innocent people whose guilt was their opposition to his most cruel and extremely despotic rules.

HAFEZ WAHBI, states further that King ABDUL AZIZ AL-SAUD related that bloody true story to the Sheikhs of the MATHEER Tribe, who visited him in order to intercede for their prominent leader at that time, FAISAL AL DARWEESH, who was the king's prisoner. He related that story to them in order to prevent them from interceding for the release of their Sheikh; otherwise, they would face the same fate; He killed the Sheikh and used his blood as an ablution liquid for him just before he stood up for his prayer (after the false sect doctrine of the Wahabi); The guilt of FAISAL DARWEESH at that time was that he had criticized King ABDUL AZIZ AL-SAUD when the king signed the document which the English Authorities prepared in 1922 as a declaration for giving PALESTINE to the Jews; his signature was obtained in the conference held at AL AQEER in 1922.

That was and still is the system of this Regime of the JEWISH FAMILY (SAUDI FAMILY): All its goals are : plundering the wealth of the country, robbing, falsifying, and committing all kinds of atrocity, iniquity, and blasphemy-all are executed in compliance with their self invented Wahabi Sect which legalizes the chopping of the heads of their opposing subjects.

http://www.fortunecity.com/boozers/bridge/632/history.html