Showing posts with label Kristen. Show all posts
Showing posts with label Kristen. Show all posts

Wednesday, January 7, 2009

Perang Salib

“Saya tidak tahu, apa yang akan dikatakan kaum Muslim seandainya mereka mengetahui kisah-kisah Abad Pertengahan, dan memahami apa yang terdapat dalam nyanyian-nyanyian orang Kristen? Sesungguhnya seluruh nyanyian kami hingga yang tampak sebelum abad ke-12 Masehi bersumber dari pikiran yang satu. Pikiran itulah yang menjadi sebab timbulnya Perang Salib. Seluruh nyanyian dibalut dengan kebusukan dendam terhadap kaum Muslim dan membodohkan agama mereka..” (Comte Henri Descartes, ilmuwan Prancis, 1896 M)

Itulah gambaran yang dilekatkan para tokoh agama Nasrani di Eropa pada kaum Muslim, sebagaimana yang pernah mereka lakukan pada agamanya. Pada abad-abad pertengahan, mereka menggambarkannya dengan sifat-sifat yang keji. Sifat-sifat inilah yang mereka gunakan untuk mengobarkan dendam permusuhan terhadap kaum Muslim. Di antara kobaran fitnah yang diciptakan pihak Nasrani adalah Perang Salib.

Permusuhan salib ini terpendam dalam seluruh jiwa bangsa Barat, khususnya Inggris. Permusuhan yang mengakar dan dendam yang sangat hina inilah yang menciptakan strategi jahannam untuk melenyapkan Islam dan kaum Muslim. Mahabenar Allah yang telah berfirman:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka adalah lebih besar lagi. (QS Ali Imran [3]: 118).

Prof. Leopold Weiss, berkata:

Kemurkaan (bangsa Eropa, red.) telah tersebar luas seiring dengan kemajuan zaman. Kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian ini akhirnya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Muslim…Kemudian datang masa perbaikan hubungan keagamaan ketika Eropa terpecah menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok berdiri dengan senjatanya masing-masing dalam menghadapi kelompok yang lain. Akan tetapi, permusuhan terhadap Islam telah merata ke seluruh kelompok. Setelah itu datang masa yang menjadikan perasaan (sentimen) keagamaan mereda, tetapi permusuhan terhadap Islam masih terus berlanjut. Di antara bukti nyata dari tesis ini adalah pikiran yang dilontarkan oleh seorang filosof sekaligus penyair Prancis abad ke-18, Voltaire. Dia adalah orang Kristen yang paling sengit memusuhi ajaran Kristiani dan gereja. Namun, pada waktu yang sama, dia jauh lebih membenci Islam dan Rasul Islam. Setelah beberapa perjanjian, datang zaman yang menjadikan para ilmuwan Barat mempelajari tsaqâfah-tsaqâfah asing dan menghadapinya dengan penuh simpati. Akan tetapi, dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam, stereotif dan kebiasaan (taklid) menghina menyusup ke dalam problem samar kelompok yang tidak rasional untuk diarahkan pada bahasan-bahasan ilmiah mereka. Jurang yang digali oleh sejarah antara Eropa dan Dunia Islam, di atasnya dibiarkan tanpa dipautkan dengan jembatan, kemudian penghinaan terhadap Islam telah menjadi bagian yang mendasar dalam pemikiran orang-orang Eropa.

Akhirnya, seluruh Eropa disatukan dalam gaung Perang Salib. Pertama-tama dituangkan melalui jalur pemikiran, dengan cara meracuni akal dengan sesuatu yang melecehkan hukum-hukum Islam yang agung; juga dengan memasukkan racun keterasingan yang mencekoki akal putra-putra kaum Muslim dengan pernyataan-pernyataan Barat tentang Islam dan sejarah kaum Muslim, dengan mengatasnamakan kajian ilmiah dan kesucian ilmu. Ini adalah racun tsaqâfah yang menjadi senjata Perang Salib yang paling berbahaya. Seperti halnya para misionaris yang bekerja dengan racun ini, dengan mengatasnamakan ilmu dan kemanusiaan, maka para orientalis juga bekerja dengan mengatasnamakan kajian ketimuran.

Prof. Leopold Weiss berkata:

Pada kenyataannya, kaum orientalis pada awal-awal masa modern adalah kaum misionaris yang bekerja untuk mengkristenkan negeri-negeri Islam…Semangat keagamaan yang membawa kaum orientalis memusuhi Islam telah menjadi watak yang diwariskan, khususnya tabiat yang berpijak pada pengaruh-pengaruh yang diciptakan oleh Perang Salib.

Permusuhan yang diwariskan selalu menyalakan api dendam dalam jiwa orang-orang Barat terhadap kaum Muslim. Barat menggambarkan bahwa Islam adalah hantu kemanusiaan atau pendurhaka yang menakutkan, yang akan melenyapkan kemajuan kemanusiaan. Dengan gambaran itu, mereka berusaha menutupi ketakutan mereka yang sebenarnya. Permusuhan yang diwariskan itu memperkuat setiap gerakan yang menentang Islam dan kaum Muslim. Anda pasti menemukan bahwa Barat selalu mengkaji paham Majusi, Hindu, dan Komunisme; dan anda tidak menemukan dalam pembahasannya yang mengandung unsur fanatis atau kebencian. Akan tetapi, pada waktu dan kasus yang sama, ketika Barat membahas Islam, tentu Anda akan menemukan tanda-tanda kemurkaan, dendam, marah, dan kebencian di dalam pembahasannya. Dalam kondisi demikian, kaum Muslim diserang Barat dengan serangan yang sangat keji. Kafir penjajah mengalahkan mereka. Akan tetapi, para pendeta Barat—di belakang mereka adalah penjajah—selalu menampakkan aktivitas kontraproduktif yang menentang Islam. Mereka tidak mengendurkan tikaman terhadap Islam dan kaum Muslim. Mereka selalu mencaci-maki Muhammad dan para sahabatnya serta melekatkan aib pada sejarah Islam dan kaum Muslim. Semua itu merupakan siksaan dari mereka terhadap kaum Muslim dan untuk mengokohkan laju penjajahan dan kaum penjajah. [Gus Uwik]

Serangan Misionaris

Setelah lama tidak berhasil mengalahkan Daulah Islam dalam Perang Salib, Barat akhirnya mengubah secara total strateginya. Barat selanjutnya melancarkan serangan misionaris berkedok pengetahuan dan kemanusiaan. Strategi ini untuk mengokohkan jaringan pusat-pusat intelijen politik dan penjajahan pemikiran yang sudah memusat di negeri-negeri Islam. Dengan demikian, pintu Dunia Islam menjadi terbuka bagi serangan Barat. Akhirnya, organisasi misionaris tersebar luas di negeri-negeri Islam.
Tujuan fundamental mereka melakukan makar misionaris adalah: (1) Memisahkan Arab dari Daulah Utsmaniyah sebagai upaya membunuh Daulah Islam dengan jalan membangkitkan fanatisme kebangsaan; (2) Menjauhkan kaum Muslim dari ikatan yang hakiki, yakni akidah Islam. Hasilnya, fanatisme kebangsaan baik Turki, Arab, Persia maupun daerah-daerah Islam lainnya berkobar. Fnatisme inilah yang memecah belah kesatuan umat dan menjadikan mereka buta terhadap ikatan ideologi Islam.
Adapun menyangkut teknis operasional dalam pencapaian tujuan, Barat melakukan dua hal. Pertama: Menitikberatkan sandaran operasinya pada orang Kristen yang banyak tinggal di Dunia Islam. Barat menduga, mereka dapat diajak untuk menipu kaum Muslim dan menjalin konspirasi dengan mereka, dengan menjadikan mereka sebagai mata-mata Barat terhadap kaum Muslim agar kaum Muslim bisa diprovokasi untuk mengobarkan perang dengan alasan keagamaan. Kedua: Mengandalkan banyaknya populasi mereka dan besarnya kekuatan mereka.
Namun, dugaan Barat bisa memprovokasi kaum Kristen untuk diajak menelikung dari dalam terhadap kaum Muslim ternyata tidak terjadi. Justru sebaliknya, kaum Kristen bahu-membahu dengan kaum Muslim mengusir penjajah (Barat). Ini semua terjadi karena kaum Kristen tahu betul bagaimana indahnya syariah Islam tatkal diterapkan secara sempurna. Mereka memiliki hak sebagaimana yang dimiliki kaum Muslim. Mereka juga hidup bersama-sama di dalam masyarakat Daulah Islam karena Islam menjaga dan menanggung semua hak mereka.
Barat mengkaji dengan serius persoalan ini. Akhirnya, mereka menemukan rahasianya, yakni akidah Islam. Akidah ini begitu melindungi kaum non-Muslim. Hukum-hukumnya yang berkaitan dengan warga non-Muslim menjamin hak-hak mereka.
Untuk merobohkan itu semua, Barat akhirnya melancarkan perang pemikiran. Langkah awalnya adalah dengan menarik para pemeluk Kristen agar bekerjasama dengan Barat. Berikutnya adalah mengobarkan keraguan kaum Muslim terhadap agama mereka serta mengguncangkan akidah mereka. Ternyata cara ini sangat efektif untuk melemahkan kekuatan kaum Muslim.
Megaproyek ini diwujudkan dengan langkah-langkah kongkret. Di akhir abad 16 M, Barat mendirikan markas misionaris di Malta. Dari Malta, kekuatan-kekuatan misionaris dikirim dan disebarkan hingga ke negeri Syam pada tahun 1625 M. Mereka bersikap simpatik dengan membantu memecahkan kesulitan-kesulitan masyarakat akibat penindasan, pengusiran dan peperangan. Pada tahu 1834 M, delegasi-delegasi misionaris sudah tersebar luas di seluruh Syam. Seorang misionaris Amerika yang sangat terkenal, Wilie Smith, berhasil menggerakkan misi ini dengan sangat fenomenal. Dia menguasai aspek penerbitan buletin-buletin dan sekolah-sekolah.
Tatkala Ibrahim Pasha menetapkan program-program pendidikan tingkat dasar yang diilhami dari program pendidikan di Mesir yang merupakan jiplakan dari pendidikan dasar Perancis, para misionaris segera menyusup. Mereka segera memanfaatkannya dan ikut andil dalam gerakan pendidikan dengan dilandaskan pada visi misionaris. Akhirnya, gerakan ini berhasil mempengaruhi hati rakyat Daulah Islam (Muslim maupun non-Muslim) atas nama kebebasan beragama.
Melalui gerakan misionaris ini pula berhasil diciptakan pertumpahan darah atas nama agama (antara Islam dan Kristen) yang selama berabad-abad tidak pernah terjadi. Inggris dan Prancis berhasil memprovokasi kelompok Kristen dan kaum Druze untuk bertikai atas nama agama di pegunungan Libanon. Huru-hara berubah jadi pertumpahan darah dan semakin meluas hingga ke seluruh Syam. Inggris dan Prancis memang menyengaja sehingga pertikaian ini terus berlangsung walau Daulah Islamiyah telah berupaya sekuat tenaga untuk meredamnya. Fitnah ini akhirnya menjadikan api pertempuran dan perselisihan semakin meluas hingga ke Damaskus.
Dengan peristiwa berdarah ini akhirnya Barat mempunyai alasan mengirimkan kapal-kapal perangnya ke hampir seluruh pesisir Syam. Tujuannya adalah untuk melakukan intervensi langsung ke dalam negeri Syam. Pada tahun yang sama, Prancis mengirimkan angkatan daratnya ke
Beirut dengan dalih memadamkan kerusuhan. Sesungguhnya kerusuhan yang diciptakan Barat adalah untuk memojokkan Daulah Utsmaniyah.

Di tengah-tengah serangkaian kerusuhan tersebut kaum misionaris melancarkan makar baru, yakni penyusupan melalui sekolah-sekolah, aksi-aksi misionaris, penerbitan dan praktek klinik. Mereka mendirikan sejumlah kelompok studi. Tahun 1842 M dibentuklah lembaga yang bertugas mendirikan kelompok kajian ilmiah di bawah pimpinan delegasi Amerika. Kelompok studi pertama kali yang didirikan adalah Kelompok Studi Sastra dan Ilmu Pengetahuan. Tujuan lembaga ini adalah menyebarkan ilmu kepada masyarakat agar mereka berpemikiran Barat. Mereka juga mendirikan Kelompok Studi Ilmuah Suriah. Dengan kedok masyarakat setempat mereka berhasil memperdaya kaum Muslim sehingga menerima mereka.
Selanjutnya tahun 1875 M, di Beirut dibentuk kelompok studi yang sangat rahasia. Fokusnya adalah menggerakkan revolusi politik dengan menghembuskan ide nasionalis Arab. Strategi mereka adalah meracuni pemikiran kaum Muslim Suriah dan Libanon dengan ide kebangsaan dan kearaban serta membangkitkan permusuhan terhadap Daulah Utsmaniyah yang mereka namakan Negara Turki. Selain itu, mereka berusaha memisahkan agama dari negara dan menjadikan kebangsaan Arab sebagai asas ideologi. Mereka juga mempropagandakan bahwa Turki telah merampas Kekhilafahan Islam dari tangan orang-orang Arab. Turki juga dituduh telah melanggar syariah Islam dan melanggar batas-batas agama.
Ternyata serangan misionaris dengan mengatasnamakan agama dan ilmu tidak hanya menjadi perhatian AS, Inggris dan Prancis semata; tetapi juga menjadi perhatian sebagian besar negara Eropa Kristen seperti Rusia. Rusia mengirimkan agen-agen misionarisnya. Mereka saling bekerjasama dengan agen-agen misionaris dari negara lainnya. Mereka bahu-membahu menyebarkan agama Kristen, mengekspor pemikiran Barat, serta menanamkan keraguan kaum Muslim atas agama mereka. [Gus Uwik]

Tuesday, August 14, 2007

Menguak SK Pengesahan Ketuhanan Yesus

Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?

Hal itu diputuskan pada Konsili di Efesius Juni 431 M (400 tahun setelah Yesus wafat) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.

“We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man”

(Oleh karena itu kita mengakui bahwa Tuhan Yesus Kristus, anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%)

Keputusan ini kemudian diperkuat lagi oleh SK yang diterbitkan dalam Konsili di Chalcedon, Oktober 451 M yang disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.

”Following the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Lord Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in mahood, tryly God and tryly man…”

(Sesuai dengan ajaran para pemimpin gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya).

Prof. John Hick dalam bukunya The Myth of God Incarnate mengatakan :

”What the orthodoxy developed as the two natures of Jesus, divine and human coinhering in one historical Jesus Christ remains a form of words without assignable meaning… for to say without explanation that the historical Jesus of Nazareth was also God is a devoid of meaning..That Jesus was God the Son incarnate is not literally true since it has no literal meaning but it is an application to Jesus of a mythical concept whose function is analogous to that of the nation of divine son ship ascribed in ancient word to a king”

(Apa yang diciptakan oleh golongan Kristen Orthodoks tentang ke dwi sifat-an (dua kodrat) Yesus sebagai Khalik dan makhluk dalam diri Yesus hanyalah merupakan kata-kata tanpa arti… karena dengan mengatakan tanpa penjelasan bahwa manusia Yesus adalah juga Tuhan, adalah suatu yang tidak memiliki makna…Bahwa Yesus adalah inkarnasi Tuhan secara harfiah tiak benar, karena secara harfiah tidak ada artinya dan hanya dapat diterapkan kepada Yesus dalam mitos yang fungsinya mirip seperti pandangan tentang raja sebagai anak dewa dalam legenda).

Huston smith, pakar perbandingan agama dalam bukunya The World’s Religion hal. 340 mengomentari ke-dwisifat-an Yesus :

”to be fully devine mean one has to be free human limitation. If he has only one human limitation then he is not God. But according to the creed, he has every human limitation. How then can he be God?”

(Untuk sepenuhnya ilahi, berarti dia harus bebas dari segala keterbatasan manusia. Kalau dia memiliki satu kelemahan manusia, berarti dia bukan Tuhan. Tetapi berdasarkan kredo, dia (yesus) memiliki segala keterbatasan sebagai seorang manusia. Oleh sebab itu mana mungkin dia Tuhan?)

Randolph Ross dalam bukunya Common sense Christianity dengan tegas menyatakan:

”Not because it is difficult to understand, but because it can not be meaningfully be said..not only impossible according to our understanding of the laws of nature..but impossible according to the rule of logic upon which all our reasoning is based”

(bukan hanya karena sulit dimengerti, tetapi karena tidak ada maknanya..tidak hanya mustahil berdasarkan hukum alam tetapi juga mustahil berdasarkan akal sehat dimana logika berfikir kita didasarkan.

Namun walaupun ajaran yang tidak masuk akal ini mendapat tantangan dari ilmuwan dan pakar Alkitab, Gereja tetap mempertahankannya mati-matian karena umat Kristiani sudah terlanjur diajari bahwa dua kodrat Yesus merupakan syarat untuk menjadikannya sebagai Juru Selamat sesuai agama Yunani.

Apakah upaya yang dilakukan Gereja untuk menjadikan anak Allah sebagai Tuhan?

Dengan mengatakan bahwa Anak Allah (Tuhan) adalah Logosnya filsafat Yunani.

Siapa yang mengatakan bahwa Logos (Firman) adalah anak Allah (Tuhan)?

Yang mengatakan demikian adalah Philo dari Alexandria. Dia mendifinisikan Logos sebagai ”Protogenes huios theou”

Gelar anak Tuhan ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus. Selanjutnya penyalin Injil yang umumnya adalah pengikut Paulus juga ikut-ikutan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) dengan menambahkannya ke dalam ayat-ayat Injil.

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, anak Allah“ (Markus 1:1)

”Jawabnya : “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah” (Kis. 8:37).

Kata “Anak Allah” dari kedua ayat tersebut di atas tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah Para Rasul yang diperkirakan ditulis pada tahun 325 M. Kata “Anak Allah” dalam kedua kitab diatas, baru diselipkan di akhir abad ke IV atau awal abad ke V. (swaramuslim)

http://al-islahonline.com/bca.php?idartikel=215

Friday, June 8, 2007

Tabligh Akbar Ummat Islam Jogja Menentang Kristenisasi


Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. ( Al Maa’idah : 54)


Ikuti dan Hadiri Aksi Massa :
Tabligh Akbar Ummat Islam Jogja Menentang Kristenisasi

Rabu, 30 Mei 2007 - Pukul 14.00 - selesai
di Masjid Noor Islam, Semaki Kulon
(Jalan Gayam, Sebelah Barat Stadion Mandala Krida)

Pembicara : K.H. Sunardi Syahuri (Ulama’ dan Tokoh Jogja)
K.H. Thoha Abdurrahman (Ketua MUI DIY)
H. Muhammad Muqoddas
Irfan S. Awwas (Majelis Mujahidin Indonesia)
H.M. Jazir ASP (Ketua MPP BKPRMI)

Pesan ini disampaikan oleh :
Forum Ukhuwwah Islamiyah DIY : MUI DIY - DDII DIY-FSRMY-Jangkar Islam-FSLDK-KAMMMI DIY-HTI DIY-Arimatea-FKAM-FKRM-GPII-MMI-GAM-IKADI DIY-Hidayatullah-BKPRMI DIY-

-----------------------------------------------------------------------------------

FUI GELAR DEMO DI DEWAN; Tolak Upaya Pemurtadan Umat
Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY menggelar aksi demonstrasi di depan gedung DPRD DIY, Sabtu (26/5) menolak upaya pemurtadan atas umat Islam secara terselubung. Karena itu, forum ini meminta kepada semua pihak tidak menggunakan kesempatan atas sikap toleransi umat Islam dengan memancing keresahan melalui kegiatan yang mengarah kepada pemurtadan.

Dalam aksi ini, FUI menggelar berbagai spanduk dan poster yang intinya tidak sependapat dengan kegiatan yang mengarah pada pemurtadan. Apalagi kondisi DIY sudah berjalan damai serta memiliki sikap toleransi antar umat beragama yang terbangun baik.Salah satu orator demo, Azis memperhatikan adanya gerakan yang berusaha menjerumuskan umat Islam. Karena itu kewaspadaan terhadap gerakan itu harus diperlukan.
Dalam demo tersebut disampaikan ketidaksetujuannya terhadap digelarkan Jogja Festival 2007. Alasannya event ini renta memicu persoalan SARA. Namun demikian kepada semua pihak untuk mewaspadai berbagai iming-iming, apapun bentuknya, yang ditawarkan pihak manapun.

Dalam pernyataan sikap FUI, juga meminta kepada umat Islam agar tidak terpancing dengan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. (Jon)-f. Sumber : kr.co.id


Jogja Festival Dituntut Dibubarkan
Yogyakarta - Polda DI Yogyakarta dituntut membubarkan kegiatan Jogja Festival 2007. Kegiatan itu diindikasi mengandung upaya permurtadan dan kristenisasi massal.

Tutuntuan itu diserukan oleh 50-an orang yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Islam DIY. Mereka menggelar aksi di halaman Mapolda DIY, Jl Ringroad Utara, Condong Catur, Yogyakarta, Selasa (29/5/2007).

Para demonstran yang rata-rata mengenakan pakaian muslim, sorban dan kopiah ini mulai menggelar aksi sekitar pukul 10.00 WIB. Selain berorasi, mereka membentangkan berbagai spanduk yang antara lain bertuliskan "Tolak Jogja Festival 2007" dan "Polda harus bubarkan Jogja Festival".

Koordinator aksi dari Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta, Muhamad Tyas, dalam orasinya mengatakan, kegiatan Jogja Festival yang akan dilaksanakan di Stadion Mandala Krida pada Rabu 29 Mei 2007 sore harus dibubarkan, karena nyata-nyata melakukan pemurtadan terselubung.

Menurut Tyas, kegiatan itu direncanakan mendatangkan seorang tabib asing bernama Peter Youngren yang akan melakukan pengobatan gratis dan massal. Kegiatan serupa di Bandung dan Balikpapan berhasil dibubarkan.

"Karena itu kami meminta Polda DIY untuk membubarkan acara itu. Kegiatan itu harus digagalkan karena rentan dan dapat memicu isu SARA di kalangan masyarakat Jogja. Kami juga mendukung forum ukhuwah islamiyah Yogyakarta yang telah melakukan pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X untuk membubarkan dan mencabut izin kegiatan tersebut," ujarnya.

Beberapa perwakilan dari demonstran diterima oleh Kapolda DIY Brigjen Pol Angorro Raharjo Harry Anwar. Mereka melakukan pertemuan tertutup di salah satu ruangan Mapolda DIY.

Jogja Festival 2007 merupakan kegiatan yang diadakan oleh para misionaris. Kegiatan itu antara lain akan diisi dengan dengan pengobatan gratis secara massal. Kegiatan tampaknya diadakan secara besar-besaran. Pantauan detikcom, ribuan poster dan spanduk tentang acara tersebut memenuhi tiap sudut kota Yogyakarta. (irw/sss/detik)

http://swaramuslim.net/FAKTA/more.php?id=5595_0_16_0_M

Didesak Presiden VENEZUELA, Orang Nomor Satu VATIKAN Itu Akui Kristen Disebarkan Dengan Kekerasan !!


Paus VATIKAN, Benedictus XVI mengakui penderitaan dan penganiayaan yang dialami penduduk asli Amerika akibat misi kristenisasi. Pengakuan ini disampaikannya setelah beberapa hari didesak presiden Venezuela, Hugo Chavez agar meminta maaf atas tragedi yang menimpa penduduk Amerika Latin akibat penyebaran agama Kristen secara paksa. Dalam pertemuan mingguannya yang diadakan setiap hari Rabu bersama para pengikutnya di lapangan kudus, Paus mengatakan, “Memang ada semacam kabut yang menyelubungi proses kristenisasi di Amerika Latin.”

Lebih lanjut, ia menambahkan seraya mengakui bahwa tidak diragukan lagi, memperingati masa lalu yang jaya tidak mungkin melupakan kabut yang menyertai proses injilisasi (penyebaran Kristen dengan Injil) terhadap Amerika Latin. Ia juga mengakui, sama sekali tidak mungkin melupakan penderitaan dan penganiayaan yang ditimpakan para penjajah yang menganut agama Kristen terhadap penduduk asli setempat.

Paus Benedictus XVI mengatakan, hak-hak kemanusiaan warga asli Amerika seringkali diinjak-injak. Demikian seperti yang diklaimnya. Padahal, sepuluh hari sebelumnya ketika berada di San Paolo, Paus membantah fakta terjadinya pemaksaan keyakinan Kristen secara kasar terhadap penduduk Amerika Latin yang menyebabkan tewasnya puluhan juta orang itu.!!??

Mereaksi bantahan Paus itu, presiden Venezuela, Hugo Chavez mendesak gereja Katholik dan paus agar meminta maaf kepada penduduk asli Amerika, khususnya Amerika Latin atas statement dan bantahan tersebut.!

Dalam acara televisi, hari Jum’at lalu, bertempat di Caracas, Chavez mengatakan, apa yang terjadi di Amerika Latin adalah lebih buruk dan berbahaya daripada apa yang terjadi dengan Holocaust dan genocide saat terjadinya Perang Dunia II. Chavez menilai, apa yang dialami penduduk Amerika Latin pada masa penyebaran agama Kristen tidak seorang pun yang dapat mengingkarinya, bahkan oleh Paus sekalipun yang datang ke tanah kita ini, tidak dapat mengingkari genocide yang dialami penduduk asli Amerika.!!

Saat itu, Chavez sebagai seorang pemimpin negara yang memakai pakaian sederhana seorang petani Venezuela mengimbau Paus agar menyampaikan permintaan maafnya terhadap penduduk asli Amerika seraya berujar, “Sesungguhnya tulang-belulang penduduk asli korban pembantaian yang dilakukan para penjajah Eropa adalah sebaik-baik saksi atas kesalahan pernyataan Paus.!!” (ismo/AH)


http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=615

Sunday, June 3, 2007

Konsili Nicea 325 Masehi


Konsili Nicea 325 Masehi

Pada abad ini pertikaian paham sangat sengit membakar Gereja. Arius, uskup dari Aleksandria, menolak ketuhanan Yesus yang menimbulkan kemarahan sebagian besar orang-orang Kristen. Akhirnya kaisar Konstantine menyelenggarakan konsili di Nicea tahun 325 Masehi. 1800 orang yang diundang untuk hadir dalam konsili ini terdiri atas, 1000 orang yang berasal dari Gereja Timur dan 800 dari Gereja Barat. 22 orang rombongan Arius yang dipimpin oleh Eusebius of Nicomedia, semuanya diusir dari forum. Sehingga secara keseluruhan Konstantine telah mengusir keluar sekitar 1482 uskup dan hanya 318 yang diijinkan mengikuti hingga akhir. (Dr. Henery Stbble, An Account of the Rise and Progress of Mohametanism, 1954, hal.44-45, Holy Blood Holy Grail hal.692, Arana-"Holocaust Theology"). Dari 318 suara tersebut hanya 2 suara yang mendukung Arius.



Konsili pertama yang dilaksanakan pada tanggal 20 Mei sampai 25 Juni diakhiri dengan ketokan palu yang mengesahkan Kredo Misterius, yang juga dikenal sebagai Kredo Nicea. Kredo Nicea yang sekarang bukanlah rumusan yang disepakati pada konsili Nicea dulu, tetapi sudah diperluas dan dimodifikasi. (Prof. Percy Gardner, English Modernism,-Apendiks I, hal.223). Yang paling penting dari semuanya, keputusan Konsili Nicea diambil dengan cara pengambilan suara, bahwa Yesus seorang Tuhan bukan sekedar nabi yang bisa wafat. (Holy Blood Holy Grail, hal.472)



Konsili Nicea menjatuhkan hukuman pengucilan Arius dan uskup lainnya yang ikut dalam konsili tetapi menolak doktrin Trinitas. Tulisan-tulisan Arius dibakar dan akan memasukkan ke penjara bagi siapa saja yang kedapatan memiliki tulisannya. (Edward Gibbon, Decline and Fall of Roman Empire, vol.2, hal.693)



Pada konsili tersebut Yesus dinyatakan sebagai, "Tuhan dari segala Tuhan, Cahaya dari segala Cahaya, Maha Tuhan dari segala Maha Tuhan". (Hasting's Encyclopedia of Etnics & Religion, vol.4, hal.239).


Lingkaran terpelajar masih berada di pihak Arius dan mereka telah dikekang dengan tangan besi. Dimasa itu popularitas Arius mencapai puncaknya, yang dibuktikan oleh Santo Jerome sebagai berikut :

"Seluruh dunia merasa dan terheran-heran menemukan dirinya sebagai penganut Arius". (Wilfred W.Briggs, Introduction to the History of the Christian Church, hal.49)


Will Durant menulis :
"Perdebatan seru tentang doktrin Trinitas yang diperkenalkan oleh Athanasius tidak pernah berakhir dengan adanya konsili Nicea. Beberapa uskup masih berpihak pada Arius. Kelompok gereja yang masih loyal kepada Kredo Nicea disingkirkan dari Gereja; kadang kala disingkirkan oleh kekerasan massa; setengah abad Gereja mengikuti ajaran Arius dan meninggalkan ketuhanan Yesus. Setiap uskup memiliki faksi yang mendukungnya. Pertikaian antar faksi pecah menjadi kerusuhan berdarah, dan banyak yang terbunuh. (Will Durant, Age of Faith)

Pemandangan kekerasan yang mengerikan dan pertempuran yang menelan ribuan jiwa, merupakan hal yang biasa selama periode ini. Aleksandria, daerah tempat tinggal Arius, menjadi ladang pertikaian yang paling ganas. Gibbon mencatat, satu insiden kekerasan menelan korban "tiga ratus lima puluh jiwa". Mengenai kekejaman Gereja dalam masalah ini bahas lengkap dalam buku Edward Gibbon (pasal 21)

Dimasa pemerintahan Konstantin, merupakan periode emas bagi Kristen karena mendapatkan kitab suci Bibel yang standar. Itu pun tidak bisa dikerjakan tanpa kontroversi yang dahsyat melalui konsili-konsili Gereja. Sebagaimana dicatat oleh Marjorie Bowen :

"Kitab-kitab injil harus direvisi beberapa kali sebelum diterima, orang-orang yang dianggap sesat harus dihadapi, serta menyelenggarakan konsili di Nicea tahun 325 Masehi dan di Konstantinopel tahun 381 Masehi untuk merumuskan dogma dan keimanan agama Kristen." (Marjorie Bowen, The Church and Social Progress, hal.4-5)

Konsili-konsili

Konsili Konstantinopel, Tahun 381. Theodosius I menyelenggarakan Konsili Konstantinopel untuk membahas lebih jauh tentang ketuhanan Yesus. Konsili ini berakhir dengan memberi penegasan pada Kredo Nicea.
Konsili Efesus, Tahun 431. Konsili ini diselenggarakan untuk membahas pertanyaan apakah Maria (Ibu Yesus) manusia asli atau termasuk Tuhan. Pembahasan ini dilatarbelakangi karena sekte Maronite menyembah Maria sebagai "Ibu Tuhan" dan memasukkannya sebagai salah satu oknum trinitas pengganti "roh suci". Konsili ini mengutuk penyembahan terhadap Maria.
Konsili Chalsedon, Tahun 451. Konsili ini membahas tentang teori Dua Kodrat Yesus.
Konsili Konstantinopel, Tahun 553. Konsili diselenggrakan untuk memecahkan teka-teki kodrat Yesus tersebut. Konsili ini didominasi oleh uskup-uskup Gereja Timur, Gereja Barat menolak semua keputusan dari konsili ini. Pada abad ini diputuskannya Natal pada 25 Desember oleh Dionysius Exiguus, mengadopsi hari kelahiran anak dewa Matahari yang lahir pada hari Minggu, 25 Desember.

Pada akhir abad ke-6 lahirlah Islam. Kristen telah menyimpang demikian jauh dari ajaran aslinya (ajaran Yesus) bahkan Gereja Barat lebih banyak mengadopsi agama Pagan. Kristen mengalami kebusukan hingga akarnya. Ketegangan antara Gereja Timur dan Gereja Barat berangsur-angsur melemah. Gereja Timur hanya memiliki sedikit pengikut, sebagai akibat ribuan pemeluk Kristen beralih ke agama Islam. Dan hampir semua wilayah Mediterania berada dibawah pengaruh Islam.

"Mungkin karena pengaruh secara tidak langsung dari agama baru Islam yang anti-musyrik, pada abad ke-8, tentara kaisar Isauria...menemukan sesuatu yang tidak disukainya pada peribadatan yang sudah lama berlaku dalam dunia Kristen yang berbau politheisme." (J.M Robertson, A Short History of Freethought, vol.1, hal.277)

Selanjutnya untuk pertama kali dalam sejarah Kristen pada tahun 723 tradisi Pagan dalam tata cara kebaktian agama Kristen dilarang oleh Kaisar Leo melalui pengumuman, dan ia lebih condong pada ajaran monotheistik Islam. Bagaimanapun, larangan ini dicabut pada tahun 787 oleh Konsili ke-II di Nicea. (The Invacation of Saints and Adoration of Images, oleh Rev. W.P. Hares, hal 10-11).

Pemilihan Kitab

Injil disebarkan dari mulut ke mulut sehingga tradisi oral ini menghasilkan laporan yang berlainan satu dengan lain terhadap perkataan dan perbuatan Yesus. Ketika mereka berusaha mendokumentasikannya maka bertambahlah perbedaan-perbedaan akibat variasi verbal. Sarjana-sarjana Kristen mengakui fakta sejarah bahwa pada terdapat juga sejumlah Injil-injil yang lain, dan masing-masing gereja mempunyai versinya sendiri. Sebagian sarjana mempercayai bahwa jumlah Injil-Injil tersebut mencapai 300 Injil (Holy Blood Holy Grail, hal.692). Tapi bagaimana yang yang terpilih hanya 4 saja ?

Ke-empat Injil tersebut (Matius, Markus, Lukas & Yohanes) dipilih pada saat Konsili Nicea 325 Masehi. Konsili yang memperkenalkan konsep Trinitas untuk pertama kali. Sehingga pemilihan ke-4 Injil tersebut adalah penyesuaian terhadap Kredo yang dipaksakan. Maka semua Injil yang menceritakan tentang kemanusiaan Yesus harus di hancurkan.

Teknis pemilihan Injil-Injil tersebut adalah, semua naskah Injil yang berbeda-beda diletakkan dibawah sebuah meja di ruang Konsili. Setiap orang diminta meninggalkan ruangan tersebut dan pintunya dikunci. Semua uskup diminta untuk berdoa sepanjang malam supaya versi Kitab yang benar akan berada di atas meja tersebut. Pada keesokan paginya, ke-4 Injil, Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan "ajaib"nya telah berada diatas meja dengan rapi, sisanya berserakan dibawah meja. Sehingga diputuskan semua yang terletak dibawah meja haruslah dibakar. (Sex in the Bible, Wahyudi).



Kredo (syahadat) Nicea dalam bahasa Latin

Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum,
Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri
per quem omnia facta sunt.
Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis.
Et incarnatus est de Spiritu Sancto
ex Maria virgine et homo factus est.
Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato,
passus et sepultus est.
Et resurrexit tertia die secundum Scripturas.
et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris.
Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos,
cuius regni non erit finis.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem,
qui ex Patre (Filioque)* procedit.
Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur:
qui locutus est per prophetas.
Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.
Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum.
Et expecto resurrectionem mortuorum,
et vitam venturi saeculi. Amen.



Kredo (syahadat) Nicea dalam Gereja Katholik & Protestan
Versi Katolik

Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal,
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang.
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa
segala sesuatu dijadikan olehnya.
Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita.
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus

dari Perawan Maria dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus

Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci.
Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati;
KerajaanNya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa (dan Putra)¹
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan.
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik² dan apostolik.
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa.

Aku menantikan kebangkitan orang mati,
dan kehidupan di akhirat. Amin.


Versi Protestan

Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal,
yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, terang dari terang.
Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat dengan Sang Bapa,
yang dengan perantaraan-Nya, segala sesuatu dibuat;
yang telah turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,
dan menjadi daging oleh Roh Kudus

dari anak dara Maria, dan menjadi manusia.

yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,

menderita dan dikuburkan;
yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi Kitab-kitab,
dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa
dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati;
yang Kerajaan-Nya takkan berakhir.
Aku percaya kepada Roh Kudus, yang menjadi Tuhan dan yang menghidupkan
yang keluar dari Sang Bapa dan (Sang Anak)¹,
yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan,
yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi.
Aku percaya satu Gereja yang kudus dan am² dan rasuli.
Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa.
Aku menantikan kebangkitan orang mati
dan kehidupan di zaman yang akan datang. Amin.

by : Silmy

Upaya Mengkristenkan Yasser Arafat

Upaya Mengkristenkan Yasser Arafat
Selasa, 23 Maret 2004

Kaum Kristen tengah berusaha mengkristenkan Presiden Palestina, Yaser Arafat yang dilakukan oleh seorang pengajar Injil bernama R.T. Kendal. Baca kegigihan misi Kristen di CAP Adian Husaisin, MA ke-46 Majalah Rohani Populer (Krisren), BAHANA, edisi XXXXV, Februari 2004, menulis satu berita menarik tentang usaha mengkristenkan Presiden Palestina Yasser Arafat. (lihat: www.bahana-magazine.com). Diceritakan, seorang Pengajar Injil bernama R.T. Kendall, bertemu untuk kedua kalinya dengan Yasser Arafat di kediamannya di Ramallah.

"Rais [sebutan presiden dalam bahasa Arab],” kata Kendall, “Saya ingin mengatakan sesuatu untuk direnungkan. Ada yang mengatakan pada saya bahwa Yesus Kristus sangat berkesan bagi Anda." Arafat segera menjawab, "Oh ya, sangat, sangat penting."

Kendall yang setiap hari sejak tahun 1982 selalu mendoakan Arafat ini tahu bahwa Arafat pernah bermimpi tentang Yesus. Arafat lalu menceritakan mimpinya, ketika tentara Israel menyerang dan mengebomi kediaman Arafat, tahun 2002. "Pada hari ketiga pengepungan itu.....seekor domba menuntun saya ke Betlehem," kata Kendall menirukan kembali ucapan Arafat. "Di sana saya melihat bunda Maria sedang menggendong bayi Yesus.

Saya mencium Yesus. Ketika saya bangun, saya kaget karena saya memerintahkan domba itu disembelih dan diserahkan kepada para imam di Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem supaya mereka berpesta."

Kendall lalu berkata, "Saya minta Anda mau mengakui bahwa Yesus benar-benar mati bagi dosa Anda. Dia bukan diselamatkan dari salib itu, melainkan Dia benar-benar mati." Ketika Kendall sedang berbicara tentang 'panggilan untuk bertobat' itu, tiba-tiba penerjemahnya menyela. "Tetapi Arafat menaruh tangannya pada penerjemah itu untuk memberi isyarat bahwa saya boleh meneruskan kata-kata saya," ucap Kendall.

Setelah menjelaskan pada Arafat apa saja keuntungan menjadi orang Kristen, Kendall memperhatikan bahwa penerjemah itu keberatan lagi ketika Kendall sekali lagi melakukan 'panggilan untuk bertobat'. "Saya berkata, 'Saya hanya berusaha agar publik tahu apa yang diyakini Arafat,'" kata Kendall (67 th) "Saya berkata pada Arafat, 'Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Perdamaian [di Timur Tengah] tidak bisa tercipta melalui jalur militer atau politik,'" lanjut Kendali.

Setelah itu, Kendall minta Arafat supaya bersedia merenungkan hal ini. Arafat setuju. Di akhir pertemuan, Kendall berdoa bagi Arafat dan memberikan buku "Total Forgiveness," yang dia tulis. "Saya tidak tahu apakah dua kunjungan saya ini berdampak baik atau tidak," kata Kendall kepada Charisma News Service ," tapi yang penting saya telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus.

Begitulah berita tentang usaha pengkristenan Yaser Arafat yang dilakukan oleh Kendall, sebagaimana diceritakan Majalah BAHANA. Sebagai berita, tentu saja, cerita ini sulit dipercaya kebenarannya, karena belum ada konfirmasi dari pihak Arafat. Apakah cerita Kendall itu betul atau ngibul? Kita tidak tahu pasti.

Yang penting dari cerita itu adalah paparan tentang kegigihan seorang mionaris Kristen (yang sudah tua, berumur 67 tahun) masih begitu bersemangat untuk meng-Kristenkan seorang tokoh dunia bernama Arafat, yang jelas-jelas dikenal publik internasional sebagai seorang Muslim. Simaklah kata-kata Kendall: “Tapi yang penting saya telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus.” Semangat misionaris Kendall itu sangat luas biasa. Adakah tokoh Islam yang berusaha mengislamkan Bush, Kofi Annan, dan berbagai pemimpin dunia lainnya, sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang mulia?

Dalam soal misi Kristen, ada ayat Bible yang biasanya banyak dikutip misionaris Kristen dan dijadikan pijakan misinya. Misalnya, dalam Matius 28:19 dikatakan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Dulu, para pemuka agama dan penguasa Kristen melakukan tindakan pembaptisan paksa terhadap semua manusia. Siapa yang menolak dibaptis, maka akan disiksa atau dibunuh. Sebagai contoh, di Spanyol, berdasarkan hasil The Third Council of Toledo (589), maka Katolik dijadikan sebagai agama negara, dan ditetapkan sejumlah keputusan terhadap kaum Yahudi: (1) larangan perkawinan antara pemeluk Yahudi dengan pemeluk Kristen, (2) keturunan dari pasangan itu harus dibaptis dengan paksa, (3) budak-budak Kristen tidak boleh dimiliki Yahudi (4) Yahudi harus dikeluarkan dari semua kantor publik, (5) Yahudi dilarang membaca Mazmur secara terbuka saat upacara kematian.

Dalam periode 612-620, banyak kasus tejadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Ribuan Yahudi melarikan diri ke Perancis dan Afrika. Pada 621-631, di bawah pemerintahan Swinthila, perlakuan Yahudi agak lebih lunak. Pelarian Yahudi kembali ke tempat tinggalnya semula dan mereka yang dibaptis secara paksa kembali lagi ke agama Yahudi. Tetapi, Swinthila ditumbangkan oleh Sisinad (631-636), yang melanjutkan praktik pembaptisan paksa. Pada masa pemerintahan Chintila (636-640), dibuatlah keputusan dalam The Six Council of Toledo (638), bahwa selain orang Katolik dilarang tingal di wilayahnya. Euric (680-687) membuat keputusan: seluruh Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan di bawa pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Raja Egica (687-701) membuat keputusan: semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak untuk selamanya, harta benda mereka disita, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka, sehingga mereka tersebar ke berbagai profinsi. Upacara keagamaan Yahudi dilarang keras. Lebih dari itu, anak-anak Yahudi, umur 7 tahun keatas diambil paksa dari orang tuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. (Lihat, Max L. Margolis dan Alexander Marx, A History of the Jewish People, hal. 304-306).

Misi Kristen terus berjalan, berangkat dari doktrin, bahwa “di luar Gereja tidak ada keselamatan”. (Extra ecclesiam nulla salus). Sebagian kalangan Kristen berusaha mendobrak doktrin itu dan melakukan liberalisasi teologi yang kemudian dikenal sebagai teologi pluralis, yang menganggap bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran. Itu klaim mereka. Kasus Arafat dan masih bergiatnya kegiatan misionaris Kristen di seluruh dunia menunjukkan, bahwa semangat pembaptisan itu masih terus bercokol dan berjalan. Hingga, mereka memandang perlu untuk mengkristenkan seorang Yasser Arafat.

Untuk apa? Mengapa mereka tidak berusaha mengkristenkan Ariel Sharon? Sejarah mencatat betapa misi Kristen telah memakan begitu banyak korban. Di Spanyol, misalnya, Mahkamah Inquisisi secara resmi dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820.

Pembentukan ini dipicu oleh laporan bahwa para Yahudi dan Muslim yang dipaksa memeluk Kristen (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktikkan ritualitas agama lama mereka. Pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap mereka di sebuah jalan utama di Kota Barcelona, yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban disiksa. Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari Sabtu, atau tidak mau memakan babi.

Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah dibakar hidup-hidup. Kondisi kaum Yahudi dan Muslim menjadi lebih buruk setelah Tomas de Torquemada diangkat sebagai “inquisitor general” untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang dibakar hidup-hidup semakin banyak. Tidak puas dengan membantai para “Yahudi tersembunyi” (crypto-Jews), Torquemada kemudian berusaha mengusir seluruh Yahudi dari Spanyol. Upaya ini kemudian berhasil, dengan dikeluarkannya perintah pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella, yang dikenal dengan General Edict on the Expulsion of the Jews from Aragon and Castile. (Martin Gilbert (ed), Atlas of The Jewish People, hal. 61-64.)

Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan, diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu. Masa kekuasaan Ferdinand -- The King of Aragon -- dan Isabella -- the Queen of Castile–dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai “the Catholic Kings”, yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol.

Masa kekuasaan Kristen itu memang telah berakhir di Barat. Masyarakat Kristen Barat sendiri mengalami trauma dengan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh tokoh Gereja dengan mengatasnamakan wakil Kristus. Karena itu, kemudian merek tidak memberi tempat lagi kepada institusi Gereja untuk berkuasa dalam semua bidang, seperti di zaman pertengahan Eropa. Hanya saja, mereka pun tetap memanfaatkan misi Kristen untuk kepentingan kolonialisme dan imperialisme mereka.

Kasus Kendall yang mencoba mengkristenkan Yasser Arafat sebenarnya hal yang “mengherankan” jika kaum Kristen sendiri mau mengkaji dengan cermat problema teologi dan teks Bible sendiri. Jika para misionaris mengajak manusia untuk mempercayai dan mengakui bahwa kematian Jesus di Tiang Salib adalah untuk menebus dosa manusia, maka hingga kini, para teolog Kristen sendiri masih terus berdebat tentang hal itu. Heboh Film 'The Passion of the Christ' karya Mel Gibson menunjukkan bagaimana kontroversialnya cerita tentang penyaliban Jesus itu sendiri. Paus Yohanes Paulus II menyetujui film itu dan menyatakan, bahwa film itu adalah apa adanya, sesuai dengan cerita Bible. Namun, seorang tokoh Kristen membuktikan, banyak gambaran dalam film itu yang tidak sesuai dengan Bible. Misalnya digambarkan, bahwa Iblis menemui Yesus di Getsemane, padahal Bible menyebut Malaekat yang menemui Yesus (Luk.22:43).

Film ini juga secara khas model ‘Perjanjian Baru’ yang menggambarkan, bahwa Yahudi bertanggung jawab atas kematian Jesus itu. Tetapi, John Dominic Crossan, professor dalam Biblical Studies di DePaul University Chicago, menulis sebuah buku berjudul Who Killed Jesus? yang isinya membuktikan bahwa pemahaman tradisional terhadap terbunuhnya Jesus, yang digambarkan sebagai perbuatan kaum Yahudi, sebagaimana dipaparkan dalam Perjanjian Baru, bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Ia juga mempertanyakan berbagai persoalan teologis yang mendasar, seperti “benarkah Jesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia?” juga “apakah keimanan kita sia-sia jika tidak ada kebangkitan tubuh Jesus?” (Lihat, John Dominic Crossan, Who Killed Jesus (New York: HarperCollins Publishers, 1995). Perdebatan seputar Jesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Jesus itu benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). (Lihat, Howard Clark Kee, Jesus in History, (New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970), hal. 29.

Konsep ketuhanan Jesus itu sendiri baru diputuskan secara resmi pada Konsili Nicea tahun 325 M. Sebuah buku berjudul “The Messianic Legacy” mencatat: “At Nicea Jesus’s divinity, and the precise nature of his divinity, were established by means of a vote. It is fair to state that Christianity as We know It today derives ultimately not from Jesus’s time, but from the Council of Nicea.” Jadi, konsep Ketuhanan Jesus dan hakikat alamiahnya ditetapkan dalam Konsili tersebut, melalui cara voting. Maka, kata buku ini, adalah fair untuk menyatakan, bahwa Kekristenan yang dikenal saat ini diturunkan bukan dari zaman Jesus, tetapi dari Konsili Nicea.

Maka, sejak awal mula perkembangan Kristen, banyak sekali aliran yang tidak mengakui Ketuhanan Jesus. Contohnya, adalah satu kelompok yang bernama Cathary yang hidup di Selatan Perancis. Kelompok Cathary adalah penganut Catharism, satu kelompok heresy radikal di Zaman Pertengahan. Cathary percaya bahwa karena daging adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan. Dalam ajaran Cathary, Jesus bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Untuk memperhambakan manusia, tuhan yang jahat menciptakan gereja, yang mempertontonkan “sihirnya” dengan mengejar kekuasaan dan kekayaan. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan persuasif, Paus Innocent III menyerukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka dengan senjata, sehingga ribuan orang dibantai.

Lebih pelik lagi jika kaum Kristen mau menelaah dengan serius problema yang dihadapi Kitab agama mereka sendiri, yaitu Bible. Begitu banyak kajian ilmiah yang membuktikan bahwa Bible memang bermasalah. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah.

Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. Hasil penelaahan serius oleh Prof. Bruce M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bahwa sekarang mungkin saja untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament.

(the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). (Lihat, Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance, (Oxford:Clarendon Press, 1987), hal. 273).

Kristen adalah agama yang dibentuk dan disusun teologi dan ritualitasnya oleh perkembangan sejarah. Ini sangat berbeda dengan Islam, yang merupakan satu-satunya agama, yang namanya sudah diberikan oleh Allah, melalui Kitab Suci al-Quran. Nama “Islam” sudah built-in sejak awal. Konsep teologi dan ritual pokok dalam Islam pun sudah sempurna sejak awal mula.

(al-Yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’maty, wa radhiitu lakumul Islama diinaa). Tidak ada satu pun agama yang memiliki sifat dan karakteristik seperti Islam itu, sehingga pendiri Islamic Studies di MacGill University, Wilfred Cantwell Smith, dalam bukunya The Meaning and End of Religion, menampatkan satu bab khusus “The Special Case of Islam”. Meskipun dalam buku ini ia mereduksi makna Islam hanya sekedar “submission to God” atau “pasrah kepada Tuhan”.

Maka, kisah Kendall dan Arafat itu seyogyanya dapat menjadi pelajaran bagi kaum Muslim. Bahwa, meskipun secara konseptual teologis dan kitab Kitab-nya masih dipersoalkan, namun Kendall begitu bersemangat mengkristenkan Yasser Arafat. Jika kaum Muslim yakin bahwa Islam adalah ya’luu wa laa yu’laa ‘alaihi, maka adalah sangat aneh, jika semangat kaum Muslim dalam “melakukan Islamisasi” jauh lebih rendah daripada Kendall. Wallahu a’lam. (Adhian Husaini, Kuala Lumpur, 18 Maret 2004).

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1051&Itemid=0

Konsili Nicea, Kongres Kontroversi Pelantikan Tuhan

Mukjizat Kristen di Senayan
Senin, 09 Agustus 2004
Konsep ketuhanan Yesus sejak Konsili Nicea tahun 325 sudah kontroversial. Bagaimana menjelaskan dengan akal sehat, bahwa Yesus benar Tuhan" dan sekaligus "manusia"?. Baca CAP Adian Husaini ke-64

Majalah Kristen BAHANA edisi Agustus 2004 menurunkan satu berita dengan judul panjang: "Doa Bagi Bangsa: Pesona Reinhard Bonke di Stadion Bung Karno, Mengawal Indonesia Memilih Presiden, Menebar Mukjizat Ilahi."

Ada baiknya kita simak berita tersebut secara lengkap: "Kidung pujian bagi Bapa di Surga kembali bergema dari Stadion Gelora Bung Karno. Ribuan umat Kristiani dari penjuru Jakarta berkumpul memanjatkan Doa Bagi Bangsa, melepas denominasi masing-masing. Bagai dupa yang harum dengan ketulusan pujian sebagai korban persembahan membuka pintu surga, menerangi malam yang gelap dengan cahaya mukjizat yang luar biasa.

Sejak sore, ribuan jemaat yang rindu akan Tuhan telah membanjiri stadion terbesar di Indonesia ini. Pujian penyembahan menggema dari mereka yang haus bersekutu dengan-Nya, ataupun dari tubuh-tubuh lemah yang rindu jamahan mukjizat Tuhan. Melalui hamba-Nya Reinhard Bonke, Tuhan menyatakan kuasa-Nya dengan begitu ajaib. Dari kisah perempuan yang berzinah (Yoh. 8:1-11), Bonke memaparkan, bahwa betapa pun hinanya dia di mata manusia, namun Yesus tetap mengampuni dan memintanya untuk tidak berbuat dosa lagi.

Usai khotbah, Bonke mengajak seluruh jemaat berdoa bersama. Kesibukan drastis terjadi tepat di depan panggung, tempat orang-orang sakit berkumpul. Mulai dari yang pincang, lumpuh, buta, hingga yang terbaring sekarat di atas tempat tidur berjajar kesembuhan Ilahi. Para pendoa segera menyebar, mendampingi mereka yang butuh bantuan doa. Kuasa Tuhan bekerja dengan dahsyat. Usai berdoa, satu per satu jemaat yang beroleh kesembuhan bersaksi di atas panggung. Mereka yang lumpuh dapat berjalan, yang tuli dapat mendengar.

Bahkan ada seorang wanita yang minta jamahan Tuhan agar diberi anak beberapa tahun lalu saat Bonke kali pertama datang ke Indonesia, dengan dua anak kembarnya naik ke atas mimbar menyaksikan mukjizat Tuhan yang luar biasa. Menurut ketua panitia, Cecilia Sianawati, acara ini merupakan kegiatan doa untuk menopang bangsa Indonesia memasuki pemilihan presiden. Dengan persembahan puji-pujian, umat Kristiani percaya Tuhan Yesus membuka pintu gerbang transformasi bagi bangsa Indonesia. "Kita sadar, semua usaha kita sebagai manusia tidak cukup. Kita butuh pertolongan Tuhan,"katanya. Doa Bagi Bangsa juga dihadiri Ketua Umum Partai Damai Sejahtera Ruyandi Hutasoit, Ketua Umum Nahdlatul Ulama dan Menteri Agama (Menag) Said Aqil Husein Al Munawar.

Menag: Syaloom

Syaloom, teriak lantang Menag Al-Munawar mengawali kata sambutannya. Sontak salam hangat ini disahut ribuan jemaat dengan pekik Syaloom pula. Dalam sambutannya, Al-Munawar menyatakan mendapat kehormatan mewakili Presiden Megawati Soekarnoputri sekaligus permintaan maaf yang sebesar-besarnya dari presiden yang berhalangan karena tengah menuju Bali menghadiri pertemuan penting.

Sebagai bangsa pluralis, lanjut Al-Munawar, langkah menggelar Doa Bagi Bangsa ini sangat tepat, sebab mendoakan bangsa dan negara, serta pemimpin yang tepat merupakan tanggung jawab semua warga negara, tanpa memandang agama ataupun sukunya. "Untuk membangun Ibu pertiwi, kemajemukan harus dipertahankan, " ungkapnya. Dalam kesempatan ini, menteri juga menyatakan, SKBRI bagi WNI keturunan dicabut dan Keputusan Bersama dua menteri tahun 1969 yang melarang umat Nasrani beribadah di luar gereja, telah direvisi. Inilah mukjizat lain juga luar biasa malam itu. "Syaloom Indonesia."

(***)

Begitulah berita yang disebarluaskan oleh majalah Rohani populer Kristen itu. Membaca berita tersebut, sangatlah mengherankan, bahwa pejabat tinggi Negara setingkat Menteri Agama menghadiri acara itu. Sudah lama bangsa Indonesia disuguhi adegan penyebaran agama melalui cara-cara ?penyembuhan ajaib? yang selain tidak masuk akal, juga sebenarnya melecehkan kalangan Kristen sendiri. Logikanya, jika para pendoa Kristen itu mampu menyembuhkan orang buta, lumpuh, pincang, dan sebagainya, lalu buat apa mereka membangun begitu banyak rumah sakit Kristen?

Beberapa waktu lalu, saat pro-kontra RUU Sisdiknas, beredar luas "VCD Gus Dur" yang didoakan oleh pendeta wanita AS dan diikuti oleh ribuan jemaat yang hadir. Mereka berdoa agar saat itu juga Tuhan membuka mata Gus Dur, sehingga dapat melihat. Sampai berulangkali doa itu itu dipanjatkan, ternyata Gus Dur tidak berubah.

Sekali lagi, jika formula pengobatan ajaib yang diklaim sebagai "mukjizat" oleh kaum Kristen itu memang ampuh, maka Depkes RI sebaiknya segera dibubarkan saja. Adalah ajaib, jika berita itu benar, menteri agama kita yang Prof. Dr. dan pakar dalam agama, mau menghadiri acara yang sudah begitu banyak menimbulkan pro-kontra di kalangan umat beragama.

Beginikah cara kaum Kristen menyebarkan agamanya kepada bangsa Indonesia? Dari segi pengembangan intelektualitas dan diskursus keagamaan, berita yang dibanggakan oleh Majalah Kristen itu menunjukkan, bahwa mereka sama sekali tidak mau memahami problematika teologis yang ada dalam agama mereka sendiri. Justru ketika mereka selalu menyebut Tuhan Yesus, maka disitulah, sejak ratusan tahun lalu, sejak awal-awal masa Kekristenan, problematika yang paling mendasar dalam teologi Kristen muncul. Mereka belum pernah selesai dalam mendefinisikan siapa sebenarnya yang mereka sebut dengan Yesus itu. Apakah dia manusia, atau dia Tuhan.

Apakah dia manusia dan sekaligus Tuhan. Atau dia memang Tuhan. Sejak dulu, hingga kini, perdebatan seputar ketuhanan Yesus berlangsung sengit. Dr. C. Groenen ofm, seorang teolog Belanda, mencatat, bahwa seluruh permasalahan kristologi di dunia Barat berasal dari kenyataan bahwa di dunia Barat, Tuhan menjadi satu problem. Setelah membahas perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus (Kristologi) dari para pemikir dan teolog Kristen yang berpengaruh, ia sampai pada kesimpulan, bahwa kekacauan para pemikir Kristen di dunia Barat hanya mencerminkan kesimpangsiuran kultural di Barat. "Kesimpang siuran itu merupakan akibat sejarah kebudayaan dunia Barat," tulis Groenen. Dalam buku Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen (1988).

Setelah membahas puluhan konsep para teolog besar di era Barat modern, Groenen memang akhirnya "menyerah" dan "lelah", lalu sampai pada kesimpulan klasik, bahwa konsep Kristen tentang Yesus memang "misterius" dan tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Sebab itu, jangan dipikirkan. Kata dia: "Iman tidak tergantung pada pemikiran dan spekulasi para teolog. Yesus Kristus, relevansi dan kebenaran abadi-Nya, akhirnya hanya tercapai dengan hati yang beriman dan berkasih. Yesus Kristus, Kebenaran, selalu lebih besar dari otak manusia, meski otak itu sangat cerdas dan tajam sekali pun."

Sepanjang sejarah peradaan Barat, terjadi banyak problema serius dalam perdebatan teologis Kristen. Di zaman pertengahan, rasio harus disubordinasikan kepada kepercayaan Kristen. Akal dan filosofi di zaman pertengahan tidak digunakan untuk mengkritisi atau menentang doktrin-doktrin kepercayaan Kristen, tetapi digunakan untuk mengklarifikasi, menjelaskan, dan menunjangnya. Sejumlah ilmuwan seperti Saint Anselm, Abelard, dan Thomas Aquinas mencoba memadukan antara akal (reason) dan teks Bible (revelation).

Problema yang kemudian muncul ialah, ketika para ilmuwan dan pemikir diminta mensubordinasikan dan menundukkan semua pemikirannya kepada teks Bible dan otoritas Gereja, justru pada kedua hal itulah terletak problema itu sendiri. Disamping menghadapi problema otentisitas, Bible juga memuat hal-hal yang bertentangan dengan akal dan perkembangan ilmu pengatahuan. Sejumlah ilmuwan mengalami benturan dengan Gereja dalam soal ilmu pengatahuan, seperti Gelileo Galilei (1546-1642) dan Nicolaus Copernicus (1473-1543). Bahkan Giordano Bruno (1548-1600), pengagum Nicolaus Copernicus, dibakar hidup-hidup.

Thomas Aquinas mengungkapkan konsep teologi Kristen dengan kata-katanya: "deum esse trinum et unum est solum creditum, et nullo modo potest demonstrative probari" (That God is three and one is only known by belief, and it is in no way possible for this to be demonstratively proven by reason).

Konsep ketuhanan Yesus yang dirumuskan dalam Konsili Nicea, tahun 325, sudah memunculkan problem serius dan kontroversial tentang "ketuhanan Yesus". Bagaimana menjelaskan kepada akal yang sehat, bahwa Yesus adalah "Tuhan" dan sekaligus "manusia". Apa yang disebut kaum Katolik sebagai "Syahadat Nicea", secara eksplisit mengutuk pemikiran Arius, seorang imam Alexandria yang lahir tahun 280. Arius didukung sejumlah Uskup menyebarkan pemahaman bahwa Yesus bukanlah Tuhan adalah tunggal, esa, transenden, dan tak tercapai oleh manusia. Yesus adalah "Firman Allah" yang secara metafor boleh disebut "Anak Allah" bukanlah Tuhan,tetapi makhluk, ciptaan, dan tidak kekal abadi.

"Syahadat Nicea" menyatakan: "Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada" (Lihat, C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, dan buku Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, (Yogyakarta, Kanisius, 2003).

Simaklah, bagaimana perdebatan tentang "Syahadat Kristen" yang menjadi perbincangan dan kontroversi hebat dalam sejarah Kristen. Konsili Efesus, tahun 431, melarang perubahan apa pun pada "Syahadat Nicea", dengan ancaman kutukan Gereja (anathema). Namun, Konsili Kalsedon, tahun 451, mengubah "Syahadat Nicea". Kutukan terhadap Arius dihapuskan. Naskah syahadat Konsili Kalsedon berasal dari konsili local di Konstantinopel tahun 381. Sebab, naskah edisi tahun 325 dianggap sudah tidak memadai untuk berhadapan dengan situasi baru. Kalangan teolog Kristen ada yang menyebut bahwa naskah tahun 381 adalah penyempurnaan naskah tahun 325, tanpa mengorbankan disiplin teologisnya. Naskah syahadat itu di kalangan sarjana disebut "Syahadat dari Nicea dan Konstantinopel" disingkat N-C. Naskah syahadat N-C ini hingga sekarang masih menjadi naskah syahadat penting dari kebanyakan Gereja Kristiani. Namun, pada Konsili Toledo III di Spanyol tahun 589, Gereja Barat melakukan tambahan frasa "dan Putra" (Filioque), pada penggal kalimat "dan akan Roh Kudus" yang berasal dari Bapa".

Penambahan itu dimaksudkan untuk menekankan keilahian dan kesetaraan antara Putra dengan Bapa. Paus, yang mulanya menolak penambahan itu, akhirnya menerima dan mendukungnya. Namun, Gereja Timur menolak, karena melanggar Konsili Efesus. Penambahan ini kemudian menjadi penyebab utama terjadinya "skisma", perpecahan antara dua Gereja (Barat dan Timur) pada abad ke-11.

Konsili Vatikan II juga membuat perubahan kecil pada Syahadat N-C, dengan mengganti kata pembuka "Aku percaya" menjadi "Kami percaya". (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).

Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). (Lihat, Howard Clark Kee, Jesus in History, (New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970).

Bahkan, perdebatan seputar Yesus itu kadangkala sampai menyentuh aspek moralitas Yesus sendiri dalam aspek sexual. Marthin Luther sendiri dilaporkan menyebutkan , bahwa Yesus berzina seban yak tiga kali. Arnold Lunn, dalam bukunya, The Revolda Against Reason, (London: Eyre&Spottiswoode, 1950), hal. 233, mencatat: "Weimer quoted a passage from the Table-Talk, in which Luther states that Christ committed adultary three times, first with the woman at the well, secondly with Mary Magdalene, and thirdly with the woman taken adultary, "whom he let off so lightly. Thus even Christ who was so holy had to commit adultary before he died."

Bahkan, The Times, edisi 28 Juli 1967, mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi tokoh-tokoh Gereja di Oxford tahun 1967: "Women were his friends, but it is men he is said to have loved. The stricking fact was that he remained unmarried, and men who did not marry usually had one of three reasons: they could not afford it; there were no girls, or they were homosexual in nature.." (Dikutip dari: Muhammad Musthafa al-A'zhami, The History of The Quranic Text, from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testament, (Leicester: UK Islamic Academy, 2003)

Perdebatan seputar Yesus memang tidak berkesudahan. padahal, di atas landasan inilah, teologi Kristen ditegakkan. Pada awal-awal kekristenan, mereka ingin menonjolkan aspek ketuhanan Yesus. Tetapi, teolog-teolog modern kemudian ingin menonjolkan aspek kemanusiaan Yesus, mendekati gagasan Arius yang dulu dikutuk Gereja. Menyimak perdebatan tentang Yesus yang tiada henti itu, maka teolog Kristen seperti Groenen membuat teori "pokoknya", bahwa meskipun pemikiran kaum Kristen tentang Yesus Kristus berbeda-beda, tetapi Yesus tetap tidak berubah. Yesus tetaplah Yesus.

Argumentasi Groenen semacam ini tentu sulit dipahami oleh kalangan teolog yang sejak dahulu kala berusaha merumuskan pemahaman tentang Yesus, namun tidak pernah mencapai titik temu. Kepelikan itu bisa dipahami, mengingat Yesus sendiri tidak pernah menyatakan, bahwa dia adalah Tuhan. Paul Young, dalam bukunya, Christianity, mencatat, bahwa seluruh penulis Perjanjian Baru menekankan hakikat kemanusiaan Yesus. Ia lapar, haus, dan lelah, sebagaimana manusia lainnya. Ia juga punya emosi, bisa sedih dan senang. Tetapi, beratus tahun kemudian, Yesus dirumuskan dan disembah sebagai Tuhan. "This Jesus, a real human being, is the focus of Christian worship. Such worship contrasts sharply with all other great world religion," tulis Young. Tentang kepelikan seputar "misteri Yesus", Mark Twain membuat sindiran: "It's not the parts of the Bible which I can't understand that bother me, it's the parts that I can understand." Bukan bagian Bible yang tidak dipahaminya yang meresahkannya, tetapi justru bagian yang ia pahami.

Kontroversi dalam soal teologi seperti dalam sejarah Kristen semacam itu tidak dijumpai dalam Islam. Mengingat begitu hebatnya kontroversi teologis Kristen dan trauma Barat terhadap hegemoni Gereja ketika mereka memegang doktrin eksklusivisme teologis (extra ecclesiam nulla salus), bisa dipahami jika mereka lebih menyukai pengembangan paham pluralisme agama.

Kondisi Islam sama sekali berbeda. Dasar-dasar teologi Islam sudah dirumuskan dan sudah sangat jelas, sejak awal Islam lahir, serta tidak pernah diputuskan melalui satu "kongres", musyawarah, atau "konsili". Karena itu, sejak awal kelahirannya, Islam memang sudah sempurna. Konsep teologi dan ibadah dalam Islam sudah selesai dirumuskan. Bahkan, sebagai agama, nama "Islam" pun sudah diberikan oleh Allah. (QS al-Maidah:3).

Sebaliknya, Konsep Kristen tentang tuhannya dirumuskan melalui Kongres, dan hingga kini masih saja memunculkan kontroversi, sehingga banyak memunculkan apatisme di kalangan masyarakat Barat. Hanya sebagian kecil kalangan Kristen yang nekad, menyebarkan agamanya kepada kaum Muslim, dengan cara-cara seperti di Stadiun Bung Karno itu. Yang perlu diacungi jempol, meskipun berdiri di atas landasan yang rapuh, tetapi kelompok kristen di Senayan itu nekad; alias bonek, "bondo nekad". Wallahu a'lam. (KL, 6 Agustus 2004).

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1315&Itemid=0

Sunday, May 6, 2007

"Allah" dalam Islam dan Kristen

Konsep ketuhanan yang ada dalam Yahudi dan Kristen lebih 'membingungkan; dibanding pengertian 'ketuhanan' yang dimengerti dalam Islam

Oleh:
Qosim Nursheha Dzulhadi *

Bukan rahasia lagi bahwa umat Islam secara umum, dan khusus di Indonesia banyak dihadapi berbagai tantangan teologis. Dari “kristenisasi” terang-terangan hingga penggunaan istilah keagamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dialektika Islam-Kristen di Indonesia menyisakan persoalan yang perlu diungkap dan diteliti secara serius.

Beberapa tulisan para pendeta Kristen di Indonesia banyak sekali menggunakan istilah-istilah Islam yang sudah resmi dan formal digunakan sebagai istilah “ekslusif” dalam Islam. Salah satu istilah yang sudah biasa digunakan adalah lafadz “Allah”. Lafadz ini adalah murni istilah Islam, tidak bisa sembarangan digunakan, meskipun ketiga agama Semit mengklaim masih menggunakannya.

Tulisan ini akan mengulas konsep “Allah” secara umum, yang biasa dikenal dalam agama-agama Semit (Yahudi→Kristen→Islam) yang dikenal sebagai Abrahamic religions. Dan kita akan melihat bahwa Islam benar-benar satu agama yang teguh ‘melestarikan’ konsep “Allah” ini.

Konsep “Allah” dalam Islam ini diakui dengan sangat baik oleh Dr. Jerald F. Dirk dalam bukunya “Salib di Bulan Sabit” (Serambi, 2006). Mantan diaken di ‘Gereja Metodis Bersatu’ ini mencatat bahwa “penggunaan kata Allah sering kali terdengar aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat. Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa semitik, dan istilah Arab Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan”.

“El-Elohim berarti Tuhannya para tuhan atau sang Tuhan. Ia adalah kata Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan Tuhan. Karena itu, menurutnya, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata Allah adalah konsisten, bukan hanya dengan Al-Quran dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi biblikal tertua”, kutipnya.

F. Dirk mungkin benar. Akan tetapi konsep Allah dalam Islam jauh lebih mendalam, karena bukan hanya sebagai ‘nama diri’ (proper noun). Dalam pembahasan ilmu Tauhid, konsep al-Ilah terkait erat dengan peribadatan. Oleh karenanya, dalam penjelasan “Laa ilaaha illa Allah” para ulama menjelaskan dengan “laa ma‘buda bihaqqin illa Allah”. (Tidak ada seorang tuhanpun yang berhak “diibadahi” secara benar (mutlak), kecuali hanya Allah saja).

Ini tentu berbeda dengan kata El dalam bahasa Ibrani, yang kemudian bisa menjadi El-Elohim, yang diartikan sebagai “Tuhannya para tuhan”. Berarti ada tuhan selain tuhan yang disebut El-Elohim itu. Namun dalam Islam, Allah atau Ilah hanya satu. Apalagi jika ditelusuri konsep Tuhan dalam agama Yahudi, yang banyak menyiratkan bahwa “Tuhan” Yahudi adalah ‘Tuhan nasionalistik’, atau private God bagi Yahudi. Di luar Yahudi Tuhannya berbeda.

Konsep keimanan kepada “wujud Allah” dalam Islam tidak pernah mengalami problem serius, karena konsep dasarnya sudah jelas dan fixed, tidak bisa ditawar lagi.

Imam al-Sanusi misalnya, menjelaskan bahwa tentang konsep “wujud” itu sangat jelas. Menurut mazhab Syeikh Abu al-Hasan al-Asy‘ariy, mengganggap wujud sebagai salah satu sifat merupakan satu bentuk tasamuh
(toleransi). Sebab menurutnya, wujud adalah diri zat (mawjud) itu sendiri, bukan sesuatu yang lain dari zat; dan zat, jelas bukan sifat. Akan tetapi, karena dalam ucapan, wujud selalu disebut sebagai sifat zat, seperti dalam kalimat “Zat Tuhan kita Jalla wa ‘Azza adalah mawjud (ada)”, maka tidak ada salahnya kalau secara global ia dihitung sebagai salah satu sifat. Adapun menurut mazhab yang menganggap bahwa wujud itu lain dari zat, seperti imam al-Raziy, maka menghitungnya sebagai sifat adalah benar sepenuhnya, tanpa tasamuh. Ada pula yang berpendapat bahwa pada yang baharu, wujud itu lain dari zat, tetapi pada yang qadim tidak. Ini adalah mazhab para filosof. (Lihat, Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi, Syarh Umm al-Barahin (Bahasan tentang Sifat Allah yang Duapuluh), terjemah: Lahmuddin Nasution, PT. Grafindo Persada, 1999: 32). Semua pendapat ini dapat dipahami dengan jelas dan mudah.

Absurditas ‘Trinitas’
Dalam agama Kristen, konsep Allah jauh lebih problematis. Ini disebabkan adanya konsep “Trinitas” yang hingga hari ini menjadi ‘teka-teki silang’ yang tak berujung.

Seorang penulis Kristen Koptik (Qibti), Arab-Mesir, Nashrullah Zakariya menulis satu buku yang berjudul al-Tsâlûts fî al-Masîhiyyah: Tawhîd am Syirkun bi’l-Lâh? (Trinitas dalam Kristen: Monoteis atau Syirik?), menulis, jika konsep keimanan kepada Allah terjadi lewat ‘advertensi Tuhan’ (al-I‘lân al-Ilâhiy). Tanpa ini, manusia tidak bisa mengenal Allah. ‘

Menurutnya, advertensi Tuhan’ ini terjadi lewat dua cara: Pertama, ‘advertensi umum’ (al-i‘lân al-‘âm). Ini adalah advertensi yang dengannya Allah menyingkap diri-Nya lewat dua hal: (1) Alam. Tentang ini, wahyu yang kudus (al-wahyu al-muqaddas) mencatat: “Langit menyatakan, keagungan Allah dan cakrawala mewartakan karya-Nya” (Mazmur 19: 1-2); dan (2), sejarah. Maksud dari sejarah adalah: berbagai interaksi Allah dengan manusia lewat pengalaman historiknya. Kitab suci menyatakan, “Ia tidak lupa memberi bukti-bukti tentang diri-Nya...” (Kisah Rasul-Rasul 14: 17).

Kedua, ‘advertensi khusus’. Jenis ini memiliki dua sumber: (1) tajassud (bersatunya Allah dengan Yesus, inkarnasi): dimana Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita secara jelas dan eksplisit lewat inkarnasi (tajassud) Kristus.

Di dalam Injil, Yohanes berkata: “Pada mulanya adalah ‘Firman’. Dan firman itu bersama Allah, dan firman itu adalah Allah. Firman sudah menjadi manusia, Ia tinggal di antara kita dan kita sudah melihat keagungan-Nya, seperti yang ada pada seseorang berasal dari seorang ayah, yang penuh dengan karunia dan kebenaran” (Yohanes 1: 1-15, rujuk Ibrani 1: 1-4 dan 1 Timotius 3: 3-5); (2) firman Allah yang termaktub dan pembenar atas – eksistensi – Nya yang berasal dari Kristus.

Yesus berkata: “Janganlah kalian menganggap bahwa Aku datang untuk menghapuskan hukum Musa dan ajaran nabi-nabi. Aku datang bukan untuk menghapuskannya, tetapi untuk menyempurnakannya. Ingatlah! Selama langit dan bumi masih ada, satu huruf atau titik yang terkecil pun di dalam hukum itu, tidak akan dihapuskan, kalau semuanya belum terjadi.” (Matius 5: 17-18).

Itu lah dua bentuk ‘advertensi Tuhan’ kepada manusia menurut Nashrullah Zakariya, yang terdapat di dalam Taurat (Torah) dan Injil. Menurutnya, hal itu menyatakan bahwa Allah itu “esa” (wâhid). Tetapi, Allah juga tidak hanya ‘mengumumkan’ diri-Nya sebagai Tuhan yang esa (al-Ilah al-wahid), advertensi itu terjadi berulang-ulang dari dirinya hingga menjadi “trinitas” (tsâlûtsan).

Setelah menjelaskan itu, Nashrullah bingung dan menyatakan bahwa dogma “trinitas” dalam Kristen tidak bisa dianggap sebagai hasil studi filsafat atau konsep rasionalitas an sich. Karena hal itu menurutnya tidak mudah untuk diterima oleh akal. Sumber dogma ini menurutnya berasal dari Allah itu sendiri. Allah lah yang mengumumkan dirinya sebagai Tuhan yang memiliki tiga oknum: “trinitas” (tsâluts), bukan “trinisasi” (tatslîts). Dan dalam apologi kaum Nasrani dalam membela Allah yang trinitas itu (Allah al-tsâlûts) merupakan bukti keimanan mereka kepada Allah yang esa, seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri tentang diri-Nya lewat firman-firman-Nya: kitab suci.

Padahal, jika mencukupkan diri pada ayat Torah di atas, konsep Allah jelas dapat dipahami. Tapi ketika dikaitkan dengan dogma “trinitas” yang hanya ada dalam Perjanjian Baru (Injil) konsep Allah menjadi ‘kabur’.
Penulis lain, Nasyid Hana dalam “Khamsu Haqâ’iq ‘an Allah”, (cet. II, 1999) menulis bahwa ketika Allah menciptakan para malaikat, Dia mempraktekkan sebagian sifat-sifat-Nya. Dan ketika menciptakan manusia, Dia mempraktekkan sifat-sifatnya kepada manusia.Bagaimana mungkin Allah butuh kepada makhluk-makhluk-Nya dan mempraktekkan sifat-sifatnya kepada diri-Nya?

Lebih aneh lagi, sebagaimana ditulis Nasyid Hana, “Oknum-oknum itu bukanlah bagian-bagian dalam diri Allah. Maha suci Allah. Allah tidak terdiri dari tiga oknum. Maha suci Allah, tetapi Allah itu esa, dan setiap oknum itu adalah Allah, bukan bagian dari Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Satu esensi tetapi tiga oknum.” Inilah konsep ketuhanan yang membingungan.

Membicarakan “oknum” saja dalam agama Kristen sudah berbelit-belit, karena memang sulit dinalar oleh akal sehat. Sampai sekarang, masalah “oknum Allah” ini masih terus dibahas dan diperdebatkan hingga kini.
Akibat kebingungan ini, banyak tokoh-tokoh Kristen menyikapi dogma “trinitas” lewat ekspresi rasa ‘ketidakpuasan. St. Anselm, misalnya, harus menulis Cur Deus Homo, St. Augustine juga menulis de Trinitate dan memproklamirkan slogan: “Credo ut intellegam” (aku percaya supaya aku bisa mengerti). Senada dengan Augustine, Tertullian menyatakan: “Credo quia absurdum” (aku beriman justru karena doktrin tersebut tidak masuk akal). Ini sangat kontra dengan Islam, dimana “rasio” sangat berperan dalam mengenal dzat Allah. Apa yang bertentangan dengan akal sehat, berarti ada yang “eror” dan harus dikritisi.

Dalam Islam, Allah menciptakan makhluk-Nya agar mereka mengenal-Nya lewat nama-nama-Nya yang baik (al-asma’ al-husna), sifatnya yang transenden: yang memiliki sifat kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan.

Ketika mereka sudah mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya, mereka melakukan ibadah kepada-Nya, yang tidak berhak diberikan kepada selain-Nya dan tidak mendekati-Nya kecuali dengan ibadah tersebut. Mereka juga memuji Allah swt. sebagaimna mestinya, sesuai dengan kemuliaan dzat-Nya dan keagungan otoritas-Nya. Ini dengan detail dijelaskan oleh Allah swt.: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS: Al-Thalaq [65]: 12).

Kata agar kamu mengetahui merupakan dalil bahwa tujuan dari penciptaan alam ini, baik alam atas maupun bawah; adalah untuk mengetahui Allah swt. Lengkap dengan nama dan sifat-sifat-Nya; yang dalam ayat tersebut disebutkan sebagiannya, yakni: kekuasaan total (al-qudrah al-syamilah) dan ilmu yang meliputi segala sesuati (al-‘ilm al-muhith). (Lihat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Fushûl fî al-‘Ibâdah bayna al-Salaf wa al-Khalaf, dalam serial Nahwa Wahdah Fikriyyah li al-‘Āmilîna li al-Islâm (6), (Cairo: Maktabah Wahbah, 2005: 14).

Dengan demikian, terdapat perbedaan yang sangat prinsipil dalam konsep “Allah” dalam Yahudi, Kristen dan Islam. Dapat dibuktikan di dalam Al-Quran dan ulama-ulama klasik, bahwa Islam lah satu-satunya agama semit yang konsisten dalam melestarikan konsep “Allah”. Konsep Allah yang ‘nasionalistik’ adalah tidak benar dan harus ditolak. Dan konsep “Allah” yang ‘membutuhkan’ perantara (mediator) adalah mencederai kekuasaan dan keagungann-Nya. Maka, Islam menutup konsep “Allah” yang Mahasempurna dan tiada banding itu dengan firman Allah swt: “Laysa kamitslihi syai’un” (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, ) (Qs. Al-Syura [42]: 11). Wallahu a‘lamu bi al-shawab. []

*) Penulis alumnus Al-Azhar University (Cairo-Egypt) jurusan Tafsir & ‘Ulumu’l-Qur’an. Peminat Qur’anic & Hadith Studies dan Christology. Tulisan ini diambil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2007

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4635&Itemid=60

Thursday, May 3, 2007

20 Tahun "Rencana Islam “Menghijaukan” Amerika"

Sorrosh juga pernah menulis "The True Furqan". Buku ini secara sengaja diterbitkan untuk mengaburkan bacaan kaum Muslimin terhadap Kitab Suci, Al-Quran. Di antaranya, ia mengganti arti "Bismillah" dengan "Bismil Abi, Wal Ibni, Waruu hil Quds" (dengan nama Tuhan Bapak, Anak dan roh kudus). Seolah-olah Al-Quran itu meyakini ketuhanan Yesus. Namun usaha pemalsuan Al-Qur’an ini tak ada efek berarti di kalangan Muslim. Sebab, kebanyakan kaum Muslim hafal ayat-ayat suci sehingga cepat ketahuan mana yang asli dan mana yang palsu. Baru-baru ini, ia menulis sebuah artikel berjudul, "Twenty-Year Plan: Islam Targets America", Shorrosh memaparkan kemungkinan Islam dalam 20 tahun ke depan di Amerika Serikat.

Menurutnya, ada 20 kemungkinan kaum Muslim ‘menghijaukan’ AS. Karena sebagian di antara analisanya itu bisa dikategorikan fitnah dan provokasi, hidayatullah menurunkan dan merubah judulnya menjadi, "20 Tahun "Rencana Islam "Menghijaukan" Amerika": [Catatan ketakutan seorang evangelis Amerika terhadap Islam]."

Analisa Sorrosh ini menunjukkan rasa kekhawatiran seorang evangelis yang tinggi bila selama dua puluh tahun ke dapan, tepatnya tahun 2020, Islam akan mampu ‘merebut’ Amerika Serikat. Di bawah ini kutipannya.20 poin analisis Islam ‘mengambil alih’ Amerika pada Tahun 2020

Menggantikan kebebasan berpendapat orang Amerika dengan sikap kebencian di seluruh dunia.

Berperang dengan kata-kata yang berasal dari pemimpin berkulit hitam, bahwa Islam di Amerika adalah agama asli di sana. Anehnya tidak ada satupun fakta yang menyebutkan bahwa orang-orang Arab menangkap dan menjual mereka sebagai budak. Yang ada adalah penyebutan untuk orang kulit hitam dan budak adalah sama yaitu "Abed."

Perlawanan terhadap publik Amerika akan kebaikan Islam.

Mencalonkan simpatisan Muslim ke meja politik.

Mengambil alih media dan internet dengan membeli perusahannya atau pemegang saham.

Mendorong ketakutan terhadap terbatasnya/habisnya persediaan minyak di Timur Tengah.

Memprotes setiap saat akan kritik terhadap Islam atau analisis tentang Al-Quran di area publik.

Menempati posisi pemerintahan, mendapat keanggotaan dalam panggung sekolah lokal, memberikan pelatihan kepada orang-orang Muslim sebagai doktor-doktor untuk mendominasi bidang kesehatan, penelitian, dan perusahan farmasi. Belum pernah diketahui keberadan jumlah doktor-doktor Muslim di Amerika.

Mempercepat pertumbuhan Islam melalui :
a. Perpindahan besar-besaran (100.000 tiap tahun sejak 1961)
b. Menikahi orang-orang Amerika dan mengislamkan mereka (10.000 pertahun)
c. Mengubah kemarahan, menjadikan orang-orang kulit hitam sebagai Islam militan (2000 tahanan telah bergabung dengan Al-Qaidah)

Masjid-masjid dan pusat pendidikan harus mengajarkan kebencian terhadap Yahudi, evangelis Kristen dan demokrasi. Ratusan sekolah Muslim harus lebih loyal kepada Al-Quran bukan pada hukum Amerika.

Memberikan bantuan kepada perguruan tinggi dan universitas di Amerika untuk pengembangan "pusat studi Islam".

Memberitahukan bahwa kata-kata teroris telah ‘membajak Islam’, padahal sebenarnya tidak, dan bahwa Islam-lah yang ‘membajak teroris’.

Menyeru kepada orang-orang Amerika untuk bersimpati terhadap orang-orang Muslim yang ada di Amerika dengan menggambarkan sebagai imigran terbesar yang negaranya tertindas.

Meruntuhkan pengertian Amerika dari keamanan dengan kesalahfahaman bahwa akan ada penyerangan terhadap, jembatan, terowongan, persediaan air, bandara, gedung apartemen dan mal-mal.

Menghasut narapidana dengan permintaan akan hukum Islam, bukan hukum Amerika.

Menaikan dana/amal melalui dolar tapi digunakan untuk mendanai aksi keislaman/teror Islam.

Menumbuhkan kecintaan terhadap Islam di kampus dan universitas dengan meminta kepada mahasiswa baru untuk mengambil mata kuliah atau kursus keislaman. Meyakinkan pada orang amerika, orang-orang Kristen, dan para sarjana bahwa Al-Quran dapat menangani kekerasan melalui cinta damai, spiritual dan aspek keagamaan

Berkonsolidasi dengan orang-orang Muslim, masjid, pusat studi Islam dan media melalui internet dan menangani acara tahunan untuk menyusun rencana penyebaran dakwah.

Menyebarkan pesan ketakutan kepada orang yang berusaha mengkritik terhadap Islam dan mencarinya untuk dimusnahkan dengan cara apapun.

Menghargai orang-orang Muslim yang loyal terhadap Amerika, dengan menyorotinya sebagai pemberi suara terbesar dari minoritas dan etnik di Amerika

[by Didin/ hidayatullah.com]

http://swaramuslim.net/more.php?id=5562_0_1_0_M

Thursday, April 19, 2007

Penistaan Al-Quran di Malang

Dalam tiga bulan terakhir, kalangan umat muslim di wilayah Malang Raya dibuat resah dengan ditemukannya sebuah VCD yang bertajuk training doa bersama LPMI Wilayah Jatilira yang dibuat di salah satu hotel melati di Kota Batu 17–21 Desember 2006.

Sebagai gambaran, dalam kegiatan itu, semua peserta training berpakaian ala muslim, yakni berjilbab, berpeci, bahkan sebagian mengenakan sorban. Namun, dengan diiringi alunan musik, mereka menyanyikan puji-pujian ala agama Nasrani. Selanjutnya, dilakukan doa yang diiringi dengan tangis-tangisan yang dibaca oleh orang yang diduga pendeta. Berikutnya, kelompok tadi meletakkan Alquran di lantai seraya mengatakan, di dalam Alquran itu terdapat roh-roh jahat.

Atas kejadian ini 18 organisasi Islam bersama MUI menyelenggarakan pertemuan di Kantor MUI Jawa Timur pada hari kamis, 5/4/2007. Delapan belas organisasi Islam itu diantaranya; Al-Irsyad, Forum Pemuda Sunni (FPS), Gerakan Pemuda Islam (GPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Pemuda Bulan Bintang, Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), PKSPP, Pelajar Islam Indonesia (PII), BKPRMI, Forum Umat Islam (FUI), Dewan Masjid Surabaya, Korp Mubaligh, CICS, Hidayatullah, GP Anshar, Muslimah NU, dan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM).

Pernyataan sikap yang dihasilkan terkait acara “Training Doa” yang kini meresahkan sebagian kaum Muslim Jawa Timur adalah : Pertama, mengutuk kegiatan yang dianggap melecehkan umat Islam. Kedua, meminta pihak aparat berwajib segera mengusut tuntas pelaku dan semua yang terlibat dalam acara “Training Doa”. Ketiga, meminta kepolisian bertindak tegas dengan mengambil tindakan hukum. Keempat, meminta umat Islam untuk tak terpancing dan tetap menjaga kerukunan.

MUI dan Pimpinan organisasi Islam Jawa Timur terus mendesak pihak berwajib segera menindaklanjuti proses penodaan agama Islam ini agar kasusnya tidak memancing reaksi anarkis massa. Karenanya Ketua MUI Jatim ini berharap aparat segera bertindak untuk mencegah aksi massa. “Jadi kesepakatan ormas itu disampaikan justru untuk membantu aparat agar umat Islam tak bertindak diluar koridor hukum”, ucapnya.

Kepala Kepolisian Wilayah Malang Komisaris Besar Polisi Muhammad Amin Saleh berjanji mengusut kasus itu sampai tuntas. Polisi sudah meminta keterangan dari lima saksi yang menjadi panitia pelaksana dan mengamankan barang bukti. "Barang bukti yang kami amankan berupa handycam, VCD berisi gambar pelecehan agama, dan spanduk yang tergambar dalam VCD tersebut," kata Amin Saleh. Dan Polisi akan berusaha menghadirkan semua anggota LPMI Jatilira (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara) yang hadir dalam pelatihan rohani di Hotel Asida, hotel kelas melati di Kota Batu, 17-20 Desember 2006.

Sejauh ini menurut kabar, BKSG (Badan Kerja Sama Gereja) sudah memecat pendeta yang terbukti terlibat dalam kegiatan LPMI. Pemecatan dari posisi yang mana-pun belum jelas, mengingat BKSG hanyalah sebuah wadah koordinasi. Penasihat BKSG Dr. Petrus Octavianus, yang juga Ketua Yayasan Persekutuan Pengkabaran Injil Indonesia (YPPII) Kota Batu, menyebut kegiatan LPMI melanggar ketentuan agama mana pun.


Dan ia mengatakan BKSG dan YPPII sama sekali tidak mempunyai hubungan kerja dengan LPMI. Hal ini sulit dipahami, karena sebelumnya mereka telah mengatakan bahwa memecat pendeta yang terbukti terlibat. Lalu Petrus menandaskan, ”Tapi, tindakan mereka sungguh di luar sepengetahuan kami, secara personal maupun kelembagaan, mereka bukanlah golongan kami, melainkan sekumpulan orang dari luar Batu atau Malang". Sangat aneh, lalu siapa yang sudah dipecat ?

Disamping itu semua, siapa dan apakah LPMI ? Berikut informasi yang didapat dari website resmi mereka, http://www.pmk-itb.com/lpmi

LPMI adalah Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia. Nama internasional lembaga pelayanan ini adalah Campus Crusade for Christ (CCC) International. Didirikan awalnya di University of Califonia Los Angeles (UNCLA) tahun 1951 oleh Bapak DR. William Rohl Bright (Bill Bright) dan istrinya Yvonette Zachary Bright. Saat ini CCC berada di 234 negara. Di Indonesia, LPMI mencakup 25 provinsi dan 40 kota besar.

Tujuan lembaga ini adalah, antara lain pada point ke-1, “Membantu mengemban Amanat Agung Kristus dalam generasi ini sesuai dengan Matius 28:18-20.” Adapun bunyi ayatnya adalah :

28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Bunyi ayat 19 diatas adalah sangat jelas merupakan perintah meng-kristen kan (kristenisasi), dan bahkan dikatakan ’semua bangsa’.

Adapun Kegiatan LPMI antara lain pada point ke-1 : PA (Pemahaman Alkitab). Dan yang terpenting pada point ke-4 : Spiritual Leadership Training (dasar dan menengah). Kegiatan ini dilakukan setahun sekali. Pada kegiatan ini akan dibahas cara-cara PI (Pekabaran Injil), ”cara-cara PI” disini adalah membahas teknik-teknik meng-injili, menyebarkan injil termasuk juga keunggulan Injil ketimbang Kitab suci lain. Kemudian dasar-dasar kepemimpinan, manajemen waktu, manajemen keuangan. Untuk menerapkan materi pelatihan, diadakan praktek PI ke anak jalanan dan penjara, silaturahmi ke IAIN (Pondok Pesantren).

Maka apa yang telah dilakukan LPMI di Batu-Malang sudah sesuai dengan program kerja yang disusun terencana dan terskema rapi. Jadi, mustahil jika dikatakan sebuah penyimpangan atau kesalahan oknum.

Kristenisasi adalah Fakta !

(Silmy kaffah : berbagai sumber)

Friday, April 13, 2007

A Plea from Vatican : Pope publishes answer to 'The Da Vinci Code'

A book by Pope Benedict XVI to appear in Italian, German and Polish stores on Monday (local time) is billed as his answer to popular publications such as Dan Brown's best-selling The Da Vinci Code.

Journalists have received advance copies of the Italian edition of Jesus of Nazareth, which attempts to reconcile the historical figure of Jesus with that of the Gospels.

In the work, Pope Benedict laments "the worst books, which destroy the figure of Jesus and dismantle faith, filled with the supposed results" of scriptural study, a clear allusion to The Da Vinci Code, which was harshly criticised by the Roman Catholic Church.

"The interpretation of the Bible can become an instrument of the Antichrist" if it goes down mistaken paths, he warned.

The Pope, a respected theologian, also denounces "the temptation to interpret Christianity as a recipe for progress and to consider the quest for the common well-being to be the true goal of all religions".

The book is being translated into 17 other languages, and will soon be available in Latin America, where books by Spanish Jesuit liberation theologian Jon Sobrino were recently condemned by the Vatican.

The Pope began writing the book in 2003 when he was Cardinal Joseph Ratzinger and headed the Vatican's doctrinal enforcement body.

He asserts that his account offers a "theological interpretation of the Bible without abandoning historical rigour".

A second volume will concern the birth of Jesus and "the mystery of his passion, death and resurrection," according to the Italian publisher, Rizzoli.

Pope Benedict states in the new book's foreword that it is "absolutely not" part of the papal Magisterium, or infallible teachings, but simply an "expression of (his) personal research".

"Everyone is free, then, to contradict me," he wrote.
- AFP

Wednesday, April 4, 2007

Patung Yesus dari Coklat


Seniman : Banyak yang menginginkan coklat Yesus.
Minggu, 1 April 2007.

Sebuah patung Yesus terbuat dari coklat membuat umat katholik marah bahkan telah
menuai ancaman. Tapi para seniman yang membuatnya justru mengatakan bahwa banyak
tawaran untuk membuat pertunjukan tentangnya.

Cosimo Cavallaro seorang seniman, pada hari sabtu mengatakan, bahwa disebabkan "orang-orang yang fanatik" dan ancaman-ancaman yang diterimanya, maka terpaksa patung tersebut harus disimpan di truk pendingin disebuah lokasi yang tidak diketahui umum.

Galeri di Manhattan pada hari Jumat akhirnya membatalkan niatnya untuk menggelar pameran patung Yesus setinggi 6 kaki yang dijuluki "My Sweet Loed" ditenggah-tengah komplain yang membanjir dari pihak Katholik bahkan juga dari Cardinal Edward Egan.

Mereka (para pembuat patung tersebut) telah dianggap telah melukai keyakinan Katholik, dengan membuat patung Yesus yang tidak menggunakan cawat. Banyak juga yang marah karena galeri merencanakan akan memamerkan patung tersebut selama minggu suci. Yang mana seharusnya berjalan dari Senin hingga minggu di Manhattan di hotel Roger SMith, New York.

Cavallaro mengatakan bahwa kontroversi justru memacu ribuan email dari orang-orang yang berniat membantu, memberikan donasi dan tempat untuk pameran.
"Ini sangat luar biasa", ia menambahkan.
http://www.theconservativevoice.com/ap/article.html?mi=D8O81J4G1&apc=9024


Galeri membatalkan pameran Coklat Yesus
Sabtu, 31 Maret 2007

New York. Sebuah galeri seni di Manhattan membatalkan pameran Paskah yang rencananya akan menampilkan sebuah patung telanjang Yesus dari coklat seukuran manusia karena teriakan dari Gereja Katholik Roma.

Akhirnya Direktur galeri seni menyetujui pembatalan tersebut.
Patung yang diberi nama "My Sweet Lord" karya Cosimo Cavallaro semestinya akan dipamerkan selama 2 jam tiap hari di Galeri Roger Smith di Midtown Manhattan.

Jadwal pameran patung ini harusnya telah dimulai senin, beberapa hari sebelum Jumat Agung yakni ketika umat kristen merayakan penyaliban Yesus dan kebangkitan Yesus yang dirayakan pada hari minggunya.
Tapi protes juga termasuk telpon yang menyeru untuk memboikot segala sesuatu yang berhubungan dengan Hotel Roger Smith memaksa galeri tersebut membatalkan pertunjukan.

"KIta telah membatalkan pertunjukkan tersebut dan meminta kerendahan hati dan rasa tanggung jawab dari pihak hotel dan semua yang terkait," James Knowles, Presiden dari Hotel Roger Smith, mengatakan dalam sebuah statemen nya.

Sebuah perkumpulan Katholik untuk keimanan dan hak-hak manusia telah menyerukan untuk memboikot semua yang berhubungan dengan hotel Roger Smith.

"Kami akhirnya lega. Dan kami senang akhirnya mereka kembali menggunakan akal sehatnya," kata Kiera McCafrey, direktur Kominukasi perkumpulan yang mengklaim sebagai perkumpulan katholik Amerika yang terbesar.

Sebelum pembatalan, ia menyebut kejadian ini "Penghinaan terhadap ummat Kristen" ia menambahkan, "Mereka tidak akan berani untuk berbuat sama, membuat patung telanjang dari coklat untuk nabi Muhammad, yang mempertontonkan kemaluannya di tengah bulan Ramadhan."

Kardinal Edward Egan di New York menyebut patung tersebut sebagai "sebuah skandal" dan "pertunjukkan yang menjijikkan".
Mattew Semler, direktur seni galeri tersebut mengatakan ia tidak melihat adanya sesuatu yang tidak layak dan mengatakan akan mencari tempat lain yang mau memamerkan.
"Saya melihatnya sebagai meditasi terhadap semua isu : faktanya itu hanyalah coklat, faktanya itu telanjang, dan coklat tersebut hitam," Semler said.

Di New York sering kali terjadi perselisihan antara seni dan keyakinan.
Di tahun 1999, Mayor Rudolph Giuliani mencoba untuk menggambar di pembukaan sebuah museum seni di Brooklyn,seorang wanita kulit hitam yang dianggap sebagai Bunda Maria dengan kotoran gajah yang menghiasinya dengan pengambilan gambar seolah-olah dari majalah porno.

Mayor Michael Bloomberg mengambil pendekatan yang berbeda.
"Jika kamu ingin menyuguhkan sesuatu untuk konsumen pria, maka bicaralah tentang mereka, buat jadi sebuah pembicaraan yang besar," Bloomberg mengatakan pada Radio WABC. "Jika kamu ingin membalas mereka, maka cara yang jitu adalah, jangan diperhatikan !".
http://www.stuff.co.nz/stuff/dailynews/4012155a12.html