Wednesday, November 29, 2006

"Kabut" Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif “menelikung” pemikiran Buya HAMKA, seolah-olah beliau seorang yang rindu dunia untuk didiami siapa saja meski “beragama atau tidak”

Oleh: Irena Handono *

Ahmad Syafii Maarif, bekas ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menerima pesan singkat dari jenderal polisi yang bertugas di Poso. Sang jenderal minta Syafii membantunya memahami ayat 62 surat Al-Baqarah. Jenderal itu berharap makna ayat itu akan membantunya mengurai konflik yang terjadi di Poso. Tulisan yang dimaksud berjudul, “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah” di Harian Republika, (Selasa 21 November 2006).

Di bawah ini kutipanya;

“ Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana. Karena permintaan itu serius, maka saya tidak boleh asal menjawab saja, apalagi ini menyangkut masalah besar yang di kalangan para mufassir sendiri belum ada kesepakatan tentang maksud ayat itu. Ayat yang substansinya serupa dapat pula ditemui dalam surat al-Maidah ayat 69 dengan sedikit perdedaan redaksi. Beberapa tafsir saya buka, di antaranya Tafsir al-Azhar karya Hamka yang monumental itu.”

Dalam tulisan itu, Syafii juga mengatakan jika yang dimaksud Hamka itu adalah masalah toleransi. Padahal bukan. Menurut saya, buku tafsir itu dibacanya dengan fikiran yang “berkabut”. Kesimpulannya, hal-hal yang benar dari Hamka tertutup dan memunculkan pemikiran Syafii Maarif sendiri.
“Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).”

Menurut Syafii Maarif, Hamka adalah seorang mufassir yang berani. Saya setuju dan benar sekali. Bahkan beliau sudah menafsirkan ayat-ayat Allah dengan tepat dan gamblang, termasuk surat Al-Baqarah ayat 62 dan
Al-Maidah ayat 69 serta Ali Imran ayat 85 yang terkait dengan ayat 62 surat Al- Baqarah.

Tafsir Hamka terhadap surat Al-Baqarah ayat 62: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabiin, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shaleh, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita "

Surat AlMaidah ayat 69: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabiun, dan Nashara, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan diapun mengamalkan amal yang shaleh, maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita."

Merujuk pada Tafsir Al Azhar. karya Prof.DR Hamka, seharusnya Syafii Maarif bisa menjawab pertanyaan sang jenderal polisi dengan tegas dan benar. Sebab pada buku juz 1 halaman 212, Hamka menyatakan sebagai berikut :

"Di dalam ayat ini dikumpulkanlah keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa semua mereka tidak merasakan ketakutan dan dukacita asal saja mereka sudi beriman kepada Allah dan Hari Akhirat dan diikuti dengan amal yang saleh. Dan keempat-empat golongan itu lalu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat itu akan mendapat ganjaran di sisi Tuhan mereka."

Jadi, penafsiran Prof DR Hamka, bukan tentang toleransi antar ummat beragama, tapi yang paling pokok adalah keempat golongan itu hendaknya beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Itulah syarat mutlak untuk mendapatkan ganjaran disisi Tuhan mereka. Mestinya penafsiran yang gamblang ini jangan lagi diberi bayang-bayang kabut, karena tidak ada ayat Al Quran yang saling bertentangan, tapi justru saling melengkapi.
Sebaliknya, Syafii Maarif "menjejalkan" fikirannya dengan menggambarkan Hamka sebagai seorang yang rindu akan dunia yang aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing Jadi, seolah-olah Hamka menyatakan beragama atau tidak bukan masalah, toh semua agama sama.

Saran saya, supaya tidak terkesan “menelikung” pemikiran Prof. Hamka, hendaknya Syafii Maarif juga mengutip pemikiran beliau pada halaman 214 dan 215 yaitu, "kerapkali menjadi kemuskilan bagi orang yang membaca ayat ini, karena disebut yang pertama sekali ialah orang-oang yang beriman, kemudiannya baru disusul oleh Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Setelah itu disebutkan bahwa semuanya akan diberikan ganjaran oleh Tuhan apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, lalu beramal yang saleh. Mengapa orang yang beriman disyaratkan beriman lagi ?"

Lebih jauh Hamka berpendapat, "setengah ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud disini barulah iman pengakuan saja. Misalnya mereka sudah mengucapkan dua kalimah syahadat, mereka telah mengaku dengan mulut, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah. Tetapi pengakuan tadi baru pengakuan saja,belum diikuti oleh amalan, belum mengerjakan rukun Islam yang lima perkara, maka iman mereka itu masih sama saja dengan iman Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Apatah lagi orang Islam peta bumi saja atau Islam turunan, maka Islam yang semacam itu masih sama saja dengan Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Barulah keempat itu terkumpul menjadi satu, apabila semuanya memperbaharui iman, kembali kapada Allah dan Hari Akhirat, serta mengikutinya dengan perbuatan dan pelaksanaan."

Itulah syarat mutlak sehingga keempat golongan itu menjadi satu dan padu yaitu beriman kepada Allah, Hari Akhir dan beramal shaleh. Adapun yang tidak dikutip oleh Syafii Maarif sehingga pemikirannya berkabut adalah kalimat Prof. Hamka pada halaman 215 yaitu, "Apabila telah bersatu mencari kebenaran dan kepercayaan, maka pemeluk segala agama itu akhir kelaknya pasti bertemu pada satu titik kebenaran."
Ciri yang khas dari titik kebenaran itu adalah menyerah diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah yang SATU ; itulah Tauhid, itulah Ikhlas, dan itulah Islam ! Maka dengan demikian orang yang telah memeluk Islam sendiripun hendaklah menjadi Islam yang sebenarnya. Inilah sebenarnya pemikiran Islami dari Prof. DR. Hamka yang ditelikung oleh Syafii Maarif, yang mengaku sebagai ‘sang murid.’

Di sisi lain, pernahkah terfikirkan oleh Syafii Maarif bahwa keyakinan Kristiani menyatakan Allah dalam Al Quran bukan Tuhan dalam Bible (Lihat buku .The Islamic Invasion, karya Robert Morey, edisi Bahasa Indonesia, Halaman 62, yang isinya sebagai berikut;

"Ketika kita bandingkan sifat-sifat Tuhan Al Kitab (Bible) dengan sifat-sifat Tuhannya Al Quran, muncul dengan jelas, bahwa keduanya bukanlah dari Tuhan yang sama!" Bahkan pada halaman yang sama tertulis bahwa : "Latar belakang sejarah mengenai asal-usul dan makna kata Arab "Allah" bukanlah Tuhan yang menjadi sesembahan orang Yahudi dan orang Kristen. Allah hanyalah suatu berhala Dewa Bulan bangsa Arab yang dimodifikasi dan ditingkatkan maknanya."

Pada halaman yang sama Robert Morey mengutip pendapat Doktor Samuel Schlorff, yang menyatakan dalam tulisannya mengenai perbedaan mendasar antara Allah dalam Al Quran dan Tuhan dalam Al Kitab (Bible) sebagai berikut; " Saya percaya bahwa kunci masalahnya adalah pertanyaan mengenai hakekat Tuhan dan bagaimana Tuhan berhubungan dengan ciptaannya ; Islam dan Kristen, meskipun mempunyai kesamaan secara formal, sesungguhnya sangat jauh berbeda dalam masalah tersebut."

Nah marilah kita merenung kembali, samakah semua agama, samakah semua kitab suci? Seharusnya Ahmad Syafii Maarif –apalagi dia mantan Ketua PP Muhahammadiyah-- meyakini bahwa; "satu-satunya agama di sisi Allah hanyalah Islam." Wallahu a’lam.


*) Penulis adalah pendiri ‘Irena Center’ dan Ketua Umum Gerakan Muslimat Indonesia (GMI)
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3903&Itemid=60

Thursday, November 23, 2006

Mensos Larang Misionaris Asing Masuk Indonesia

Menteri Sosial (Mensos), Bachtiar Chamsah, di Jombang, Jawa Timur, Kamis (16/11), mengatakan, pihaknya melarang misionaris asing masuk ke Indonesia mengembangkan misi-misi tertentu.

Kamis, 16 Nopember 2006 17:05:00

Jombang-RoL -- .
"Kalau ada orang-orang asing menjalankan misi-misi tertentu akan kita larang. Depsos punya anggaran sendiri untuk kegiatan sosial, jadi nggak perlu orang-orang asing seperti itu," ujarnya di depan ribuan peserta halal bi halal Jam'iyyah Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah di Ponpes Darul 'Ulum, Peterongan, Jombang.

Menurut dia, hampir setiap bulan Depsos mendapatkan dana berasal dari sumbangan para pengusaha rata-rata Rp1 miliar hingga 1,5 miliar. "Dengan menggunakan dana ini pula, bisa kita larang kedatangan orang asing yang hendak merealisasikan program-program tertentu. Untuk itu silakan masyarakat atau kalangan pondok pesantren yang membutuhkan dana sosial, bisa mengajukan proposal kepada kami," kata menteri dari kader PPP itu.

Ia mengaku, selama ini telah bekerja keras berupaya menekan angka kemiskinan yang jumlahnya telah mencapai 39,1 juta jiwa, tanpa harus mendapatkan bantuan dari misionaris asing.

"Meskipun orang miskin di Indonesia sebanyak itu, tapi tidak sampai kelaparan, karena kultur masyarakatnya yang suka tolong-menolong. Berbeda dengan di Eropa, kemiskinan bisa saja berubah jadi kelaparan," ujarnya.
Walau begitu, dia tetap meminta kesadaran seluruh masyarakat untuk tidak berpangku tangan, karena kemiskinan hanya bisa diperangi dengan bekerja keras.

"Kepada para ulama juga kami tekankan, agar dalam dakwahnya juga mengajak umat untuk bekerja keras. Karena bagi kami kaum muslim di Indonesia jauh lebih bermartabat dibandingkan dengan di negara lain," kata Bachtiar Chamsah mengingatkan.

Sementara itu dalam waktu dekat ini Depsos akan mendirikan pondok pesantren di Poso, Sulawesi Tengah, dengan anggaran yang disediakan sekitar Rp300 juta. (antara)

http://www.republika.co.id/Online_detail.asp?id=272028&kat_id=23

TAK ADA API MAKA TAK ADA ASAP. INI ADALAH BUKTI KONKRIT BAHWA KEGIATAN SALIBIS MEMURTADKAN UMMAT ISLAM ADALAH MERUPAKAN FAKTA. BUKAN ISU.

Wednesday, November 15, 2006

Bush's New and Improved War on Terror

So Rumsfeld resigns the same day as the Republicans take a major beating at the polls because the majority of Americans do not support the ill-conceived and ill-handled, and corruption riddled War in Iraq, and George Bush has the audacity to say publicly that the election had nothing to do with it. Who does this guy think he is kidding?

Rumsfeld fell on his sword for the poor Republican showing in the election (or was forced to by Karl Rove), just like Colin Powell was forced to fall on his sword for the President's (or perhaps again it was Karl Rove's) "weapons of mass destruction" motivation for the Iraq War. That, as we have all come to know, was a lie too.

So what will we be looking at now for the War on Terror, with this potentially new landscape. Well, the Iraq War is getting a new person at the helm, Robert Gates. This is the same Robert Gates who was in Bush's father's cabinet (does the Junior Bush know ANYONE on his own or is he just taking Daddy's advice and using the same old Cold Warriors his Dad did over a decade ago). The world is a much different place than it once was and you would think the present President Bush would know defense people other than those who served under his father. But I digress.

I guess the real question is what will Gates do and how will our policy in Iraq change? Can Gates be a visionary and pull American fat out of the fryer in Iraq or will he push us deeper, faster. This administration is not very open to change or dissention so my crystal ball tells me it will be more of the same under the guise of "new and improved". However, Dick Cheney whom I suspect is one of the main drivers behind what has happened in Iraq (and one who cannot resign as Rumsfeld had to) is not a man who changes his stripes and he is a vociferous hawk on Iraq. Likewise, Bush has positioned himself with his "stay the course" rhetoric so rigidly that he cannot move much from his present position primarily because he has jeered at anyone who does not believe in his Iraq policy as "not supporting the troops" or as "cut and run". That rhetoric makes it pretty tough to shift his position without being tarred with his own brush. The jury is out, but I would not make any big plans that a plan to withdraw from Iraq is going to happen any time soon, so the fodder for terror in the Middle East can be expected to continue at least another two years.
http://www.firewithfire.info/

Nasihat untuk Suksesnya Sebuah Perkawinan

Pernikahan adalah salah satu perintah Tuhan, dan ini merupakan jalan para Anbiya, termasuk manusia pertama, Adam as dan wanita pertama, Hawa. Mereka melangsungkan pernikahannya di Surga, oleh sebab itu Allah memberikan suatu Wewangian Surgawi kepada pasangan yang melangsungkan pernikahannya agar mereka bahagia. Tetapi mereka harus menjaga sendiri wewangian itu sepanjang hidupnya,ini sangat penting

Nasihat untuk Suksesnya Sebuah PerkawinanMaulana Syaikh Nazhim Adil al HaqqaniMercy Oceans Towards the Divine Presence (Book One)

Sebuah Khutbah NikahPernikahan adalah salah satu perintah Tuhan, dan ini merupakan jalan para Anbiya, termasuk manusia pertama, Adam as dan wanita pertama, Hawa. Mereka melangsungkan pernikahannya di Surga, oleh sebab itu Allah memberikan suatu Wewangian Surgawi kepada pasangan yang melangsungkan pernikahannya agar mereka bahagia. Tetapi mereka harus menjaga sendiri wewangian itu sepanjang hidupnya,ini sangat penting

Dan sekarang kita memohon kepada Allah untuk melestarikan wangi tadi di antara mereka berdua sepanjang jalan mereka, sepanjang hidup mereka di dunia, dan kita berharap agar mereka akan bersatu di Akhirat kelak, di kehidupan yang kekal. Itulah makna dari pelaksanaan upacara pernikahan bagi satu pasangan baru.

Kita bersyukur kepada Tuhan kita, yang menciptakan pria dan wanita, dan mengaruniai mereka dari Cinta Ilahi-Nya. Jika Dia tidak menganugerahkan Cinta Ilahi-Nya, tak seorang pun yang akan menemukan jodohnya. Dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjalani kehidupan yang mulia, dengan menjadi kan orang saling berpasangan, bukannya satu wanita untuk semua pria atau seorang pria bagi seluruh wanita.

Merupakan suatu kehormatan bagi wanita, bahwa seorang wanita hanya diperuntukkan bagi seorang pria dan sebaliknya seorang pria hanya untuk seorang wanita. Itu merupakan suatu kemuliaan bagi mereka di kehidupan ini. Siapa pun yang melanggar aturan tersebut, Allah tidak akan menyebut mereka sebagai orang yang terhormat. Oleh sebab itu kita memegang teguh upacara yang mulia ini, dan kita memohon kepada Allah agar mereka berhasil dalam menjalani kehidupan mereka bersama.

Kamu hanya boleh memandang suamimu. Siapakah orang yang paling tampan di dunia? Jika kamu ditanya, kamu harus menjawab bahwa suami saya adalah orang yang paling tampan. Begitu pula dengan kamu (pria), siapakah orang tercantik di London? Istrimu. Jika masing-masing melihat pada pasangannya, takkan ada lagi masalah, baik di London, di Inggris, di Turki, di Siprus, di Timur dan di Barat.

Ini adalah nasihat yang paling penting bagi pasangan yang baru menikah. Saya mendengar tentang banyak pasangan yang mendaftarkan diri melalui petugas pendaftaran (KUA-red). Setelah tiga hari, setelah tiga minggu, setelah tiga bulan, setelah tiga tahun, keduanya menjalani jalan yang berbeda, karena mereka melihat (pada orang lain), yang wanita melihat pria lain; yang pria melihat wanita lain. Kalau demikian, pernikahan mereka tidak akan berusia panjang.

Sekarang kalian tengah membangun suatu ‘gedung’ baru, melangsungkan sebuah pernikahan, dan kita memohon kepada Allah untuk membuat kalian saling mencintai satu sama lain. Bawakan dia beberapa perhiasan (emas), seperti ini, seperti itu, sehingga dia akan senang denganmu. Lakukanlah selalu; ketika istrimu marah kepadamu, bawakanlah sesuatu yang disukainya.

Kalian harus tahu, kalian semua: Jangan menyakiti hati istri kalian, jangan menyakiti hati istri kalian! Buatlah (suasana) agar mereka senantiasa bahagia dengan kalian; kalau tidak demikian, ketika kalian datang, mereka akan pergi.

Kalian mengerti? Jagalah agar mereka tetap bahagia. Dengan demikan mereka pun akan berusaha membuat kalian bahagia.Wanita sangat beruntung, di sini dan di Akhirat nanti. Apa alasannya? Karena takkan ada pertanyaan bagi mereka.

Pada Hari Kebangkitan, setiap wanita akan datang bersama suaminya dan ketika si suami masuk Surga, istrinya pun akan masuk bersamanya. Tak ada pertanyaan bagi mereka. Tetapi kalian—para pria—kalian akan mendapat begitu banyak pertanyaan.

Kalian mengerti? Tunjukkan passpor kalian di depan pintu Surga, masuklah, dan istri kalian akan masuk bersama kalian. “Ini istrimu?” Allah ‘Azza wa Jalla akan bertanya pada kalian. Kalian akan menjawab, “Ya.” “Kamu bahagia bersamanya?” Jika kalian menjawab, “Ya”; Allah akan berkata, “Bawa dia masuk ke dalam Surga.”

Tetapi jika kalian berkata, “Ya Tuhanku, Aku tidak pernah puas dengannya. Dia terlalu banyak bicara!” Lalu Allah akan berkata, “Berhentilah! Berdiri! Mengapa kamu tidak bahagia dengannya? Dia adalah hijab antara dirimu dengan Neraka. Jika dia tidak bersamamu, kamu pasti sudah tergelincir ke jurang Neraka. Oleh sebab itu mereka semua lebih berharga dari pada kalian.”

Ya, karena jika istri kalian tidak melayanimu sebagai hijab, kita semua akan terjerumus ke dalam Neraka, tak seorang pun yang akan mengeluarkan kita, kecuali isteri kita, tempat berlindung kita. Jadi di siang hari, ketika kalian hendak berangkat kerja, raihlah tangan istrimu (Syaikh Nazhim menunjukkan gerakan mencium tangan), begitu pula di malam hari. Kalian harus memperlakukan istri kalian dengan lembut. Ya, hal ini adalah benar, mutlak, yakin dan bahkan sangat benar.

Oleh sebab itu kalian harus menjaga hak-hak mereka. Kalian, para pria suka melakukan kekejaman terhadap wanita dan tidak mempedulikan hak-hak mereka. Setiap orang harus menjaga hak-hak mereka (wanita). Allah akan bertanya, “Mengapa kalian tidak merasa puas terhadap istri kalian? Apa masalahnya, karena dia adalah yang menjadi hijab antara kalian dengan Neraka, apakah dia tidak menjaga rumahmu? Apakah dia tidak memasak? Tidak mencuci? Tidak merawat anak-anak? Tidak bersih-bersih?” Allah akan bertanya.

Tidak ada kewajiban bagi wanita untuk melakukan suatu pekerjaan. (Menurut syari’ah Islam, sebenarnya pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak merupakan tugas pria atau suami. Jika istri tidak sanggup atau tidak ingin merawat anaknya, maka si suami bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi anaknya. Namun karena sudah menjadi kebiasaan, maka istrilah yang mengerjakan hal-hal tersebut.

Syaikh Nazhim mengatakan bahwa pria harus bersikap lebih apresiatif, arif dan menolong bukannya memanfaatkan istrinya untuk mengurus rumah dan merawat anaknya.) Kalian (pria) harus melakukannya: mencuci, bersih-bersih, dan merawat anak-anak. Dalam syari’ah, Allah swt bahkan tidak memerintahkan wanita untuk memberikan susu kepada anak-anak kalian. Itu termasuk tanggung jawab kalian, wahai pria. Kalian harus menyediakannya (susu), kalian harus membayarnya.

Kalian memberi bayaran pada wanita? Untuk setiap bayi yang dia lahirkan, kalian harus membawakan rantai emas (perhiasan) untuk istrimu. Ya, ketika dia memberikan susunya kepada si bayi, kalian harus membayarnya, bukannya mengatakan, “Kamu dapat melakukannya, kamu bisa menemukan seseorang untuk memberi susu kepada bayimu.”

Jangan menyuruhnya untuk bekerja! Dia hanyalah sebagai hijab antara kamu dengan hal-hal yang haram, itulah tugasnya. Segalanya berada di pundak pria, tetapi mereka (wanita) mau melakukannya… karena mereka bersyukur kepada kita, mereka melakukannya dengan sukarela. Apakah kamu sekali-sekali pernah mencuci?

Bihurmati habib, al Fatihahposted by Mevlana as Sufi at 11:07 PM 0 comments

http://ariefhamdani.blogspot.com/2004_08_01_ariefhamdani_archive.html