Thursday, January 29, 2009

Demokrasi itu...

Demokrasi Itu….

Sekadar pengalaman pribadi, selalu saya katakan karena berangkat dari tulisan yang termasuk dalam katagori “meragukan” untuk dipublish, maka sangat terbuka untuk berbeda pendapat. Namanya juga sedang belajar…

Pernah terjadi dalam sebuah diskusi “demokrasi dalam Islam”, seseorang menyudutkan salah satu pembicara yang menentang demokrasi, yang bersangkutan mengatakan : “kalau demokrasi itu haram, bapak punya KTP kan? mengapa bapak memiliki KTP? Bukankah itu produk pemerintahan demokratis? “kalau bapak tidak setuju, mengapa organisasi bapak melakukan demonstrasi, bukankan pemerintah dan anggota DPR yang didemo produk dari demokrasi?”. Di sisi lain juga saya sering mendengar para penentang demokrasi mengatakan bahwa karena demokrasi itu produk Barat maka harus ditolak, seakan-akan semua yang dari barat itu tidak bisa diterima. Entahlah ya, saya merasakan bahwa ada nuansa kedangkalan sebagian ummat Islam, entah ia pro atau kontra pada sesuatu, sikapnya bukan berasal pada hasil belajar, namun produk indoktrinasi, produk emosi, produk “pokoknya kata ustadz gua begini”.

Dalam menyikapi realitas, seorang muslim tidak bisa melepaskan diri dari pandangan hidup yang sudah tertanam dalam pikirannya. Pandangan hidup ini memiliki kemiripan dengan antivirus dalam computer, tugasnya melakukan scanning pada semua hal yang ia definisikan sebagai “Virus”. Bedanya, antivirus harus selalu diupdate, sedangkan pandangan hidup Islam tidak, yang mungkin terjadi adalah proses aktualisasi baru. Menurut al-Attas, pandangan hidup Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth), atau pandangan Islam mengenai keberadaan (ru’yat al-Islam lil wujud). Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final dan telah dewasa sejak lahir. Islam tidak memerlukan proses ’pertumbuhan’ menuju kedewasaan mengikuti proses perkembangan sejarah. Jadi, karakteristik pandangan hidup Islam adalah sifatnya yang final dan otentik sejak awal. Ini sangat berbeda dengan sifat agama-agama lainnya maupun kebudayaan/peradaban umat manusia yang berkembang mengikuti dinamika sejarah. Jadi dalam pandangan hidup dan pembentukan peradaban Islam tidak ada proses dialektika : tesis, anti-tesis, sintesis seperti peradaban Barat. Proses yang tidak jelas arahnya menuju ke mana. Karena peradaban Barat tidak berdasarkan kepada wahyu tidak memiliki ’uswah hasanah’ dalam seluruh aspek kehidupan, maka mereka juga tidak memiliki konsep hukum yang final. Dalam Islam, sebatas pemahaman saya, yang ada proses seleksi dan adaptasi. Atau seperti kata DR. Hamid Fahmy: “Islam dapat "mengadapsi" atau meminjam konsep-konsep asing yang sesuai atau disesuaikan terlebih dulu dengan pandangan hidup Islam, dan di sisi lain Islam dapat menolak ide asing yang tidak diperlukan, dengan kesadaran bahwa realitas ajaran Islam memang berbeda secara asasi dari kebudayaan manapun, termasuk Barat”.
Menarik sekali ketika saya mendapatkan kuliah pandangan hidup Islam dari DR. Phil Hamid Fahmy, beliau mengilustrasikannya seperti gambar berikut:


Nah, demikian juga ketika kita berhadapan dengan apapun yang berasal dari barat atau dari luar Islam secara umum. Hendaknya kita tidak berada diantara dua ekstrim, yakni yang berusaha memaksakan diri menyocokannya dengan pandangan hidup Islam, atau di kutub yang lain menolak segala hal berbau barat. Ketika realitas itu (mungkin berupa ide, konsep, produk, dsb) itu memiliki cacat bawaan yang permanent dan fundamental, maka pandangan hidup akan membawanya pada “quarantine” atau “delete”. Namun jika cacat itu bukan fundamental, maka realitas masih bisa diterima dengan terlebih dahulu mengalami proses perlucutan, dan dilengkapi dengan pandangan hidup Islam, kata orang-orang pinter, inilah yang disebut dengan “islamisasi”. Bahkan jika realitas itu hanya berbeda pada aspek luar, maka ia bisa diterima dan dipersilakan masuk ke dalam Islam tanpa ragu. Nah, demikian juga ketika kita menyikapi masalah demokrasi.

Sebelum menolaknya dengan kejam atau menerimanya dengan mesra, sebagai seorang muslim yang telah menerima Islam sebagai pandangan hidup dan bukan hanya ritus, etos, dan spirit, maka langkah awal adalah melakukan ”scanning” apakah demokrasi memiliki cacat bawaan yang fundamental atau tidak? Jika iya, maka kita harus karantina dia atau bahkan di ”recycle bin”, namun ketika problematikanya ada pada wilayah teknis, maka tinggal diadaptasi, jika setelah diislamkan ternyata melanggar aspek fundamental demokrasi, maka harus kita katakan tidak ada pernah ada demokrasi-Islam, namun jika wajah demokrasi masih bisa diselamatkan maka harus kita stempel ”verfied” dan bolehlah kita sematkan padanya ”demokrasi-islam”.

Jadi, proses inilah yang pertama-tama harus dilakukan oleh seorang muslim, yang menjadikan agamanya sebagai pandangan hidup. Bukan menjadikan Islam sebagai agama di satu sisi, namun pandangan hidupnya telah diisi bermacam konsep yang bercampur baur, mungkin saling kontradiktif. Jika dikepala anda belum apa-apa sudah bercampur berbagai macam pandangan-hidup, maka proses ”islamisasi” menjadi gagal. Anda akan mungkin mengidentifikasi ”virus” sebagai ”program” atau ”file”, dan sebaliknya. Itulah mengapa sering terjadi, belum apa-apa sudah kalah oleh realitas dengan mengatakan ”ya gimana ya realitasnya begini?” atau belum apa-apa sudah kompromistik dan mengatakan ”inilah yang terbaik yang kita punya”.

Kompromi terhadap realitas mungkin bisa saja terjadi, tapi bukan di gerbang pertama, proses ini ada di pintu terakhir. Kalau anda membalikan proses, hasilnya adalah kekacauan, sebagai hasilnya terjadi ”system failure”.

Sebagai contoh, saya ambil kasus ekonomi syariah. Suksesnya ekonomi syariah di Indonesia mungkin adalah hasil dari proses yang benar, berangkat dari pemahaman konsep-konsep ideal Islam tentang ekonomi. Konsep-konsep digali, training-training diselenggarakan, sekolah-sekolah didirikan, semua itu untuk menanamkan pandangan hidup Islam tentang ekonomi. Setelah itu, proses ’islamisasi’ dilakukan dengan cara melakukan proses scanning satu persatu produk-produk ekonomi, seperti tabungan, asuransi, simpan-pinjam, konsep uang, transaksi elektronik, ATM, jual beli saham, valas, dll. Produk-produk ini ada sebagian yang ditolak, sebagian lagi direkonstruksi, bahkan mungkin ada yang dipersilahkan masuk, tentu harus ”assalamu ’alaikum” dulu. Ada juga produk-produk inovatif, seperti shar-e, canggih memang. Lalu, lahirlah produk-produk bank Islam, asuransi Islam, dan lain-lain. Memang belum semua ideal barangkali, namun prosesnya sudah baik. Setelah produknya siap, lalu ditawarkan kepada ummat, kampanye lalu dilakukan, berat memang pada awalnya, hingga pernah saya menerima keluhan dari seorang aktivis Islam ”menabung di Bank syariah malah rugi”.

Ummat tak boleh lagi melakukan tawar-menawar konsep, jika tidak mau ya tidak usah. Kompromi terhadap realitas bukannya tidak dilakukan, tapi dalam proses akhir, misalnya dengan kompromi dibolehkannya membuka dua jendela ”syariah” dan ”konvensional” dalam sebuah bank yang sama, namun jangan main-main dengan idealisme konsep, sebab ada dewan pakar yang mengawasi. Baragkali karena barakah, banyak ummat Islam lalu mulai tertarik, dan bahkan Barat mulai melirik ”seksi”nya ekonomi syariah, tidak sedikit bank Islam didirikan justru oleh orang non-muslim, terlebih lagi rivalnya, yakni sistem ekonomi kapitalis, tengah dalam perawatan serius di UGD. Lalu para anggota legislatif yang semula alergi dengan kata ”syariah” pun sukarela atau terpaksa menyambutnya dengan undang-undang. Semoga Allah memberikan ganjaran berlipat ganda kepada para mujahid ekonomi syariah, sebutlah K.H. DR. Didin Hafidudin, DR. Syafi’i Antonio, Syakir Sula, Bapak Ahmad Riawan, Umer Chapra, dan banyak lagi.

Demikian juga ketika saya sebagai muslim berhadapan dengan demokrasi. Langkah yang saya harus lakukan adalah pertama, kita harus membaca prinsip-prinsip politik dalam Islam, hakikat kekuasaan, fiqh-fiqh yang berkaitan dengan kekuasaan, apa prinsip-prinsip yang harus dipegang. Singkatnya bagaimana konsep Islam tentang politik
Setelah itu. Kita juga harus mempelajari hakikat demokrasi. Ya, meskipun bukan berlatarbelakang ilmu politik, ”terpaksa” saya harus membaca buku-buku teks demokrasi untuk mengetahui apa itu demokrasi, mengapa ia lahir, apa prinsip-prinsip pokoknya, apa niali-nilai dasarnya, atas reaksi apa demokrasi muncul, bagaimana situasi dan lingkungan kelahiran demokrasi, pandangan hidup apa yang ada di balik demokrasi, dll. Memang banyak PR, namun ya itu tadi, namanya juga belajar, mungkin tak cukup satu hingga dua tahun untuk meyakinkan diri sendiri. Sehingga jangan sampai kita mengatakan : ”demokrasi tidak harus diartikan ideologis, kita juga bisa memandang demokrasi dari segi praktis”. Karena peryataan terakhir ini pasti muncul dari orang yang salah dalam prosesnya, belum apa-apa ia sudah menyerah pada realitas. Atau jangan sampai ada yang mengasosiasikan demokrasi dengan KTP atau demonstrasi. Atau jangan sampai ada yang mengatakan karena demokrasi bukan dari Islam maka belum apa-apa, kita katakan harus ditolak semuanya.

Sekarang proses scanning dilakukan, hasilnya apa? Bandingkan dengan pendapat dan fatwa ’ulamaa, karena hujjah mereka lebih berhak dihormati, sedangkan hasil belajar kita hanyalah salah satu perangkat untuk memilih. Dari situ diambil kesimpulan pribadi, jangan dulu yakin dengan kesimpulan, karena proses belajar masih akan terus terjadi. Mungkin saya berpindah dari satu kesimpulan ke kesimpulan lain. Ini terjadi pada saya, dari seorang yang awalnya terpesona dan merasa gagah dengan jargon ”vox populii vox dei” saat zaman reformasi, hingga kini menjadi orang yang hati-hati pada demokrasi.

Simpanlah kesimpulan-kesimpulan ini dalam arsip sebagai hujjah pribadi, jangan gunakan untuk menyerang orang lain karena saya masih sangat jauh dari maqam seorang mujtahid, saya baru seorang pembelajar. Jadikan saja ini sebagai argumen ketika dimintai pendapat, atau jika ada orang yang mengajak diskusi atau bahkan ada pemikiran yang menantang dan menyerang, kita sudah siap dengan jawaban hasil belajar ini. Jadikan juga ini sebagai referensi pribadi, misalnya ketika dihadapkan aspek praktis seperti musim pikada, pemilu, kontroversi golput, dan lain-lain.

Proses ini harus saya tempuh karena kadang menemui seseorang yang melalui proses belajar yang keliru, berangkat dari asumsi karena indoktrinasi tanpa proses belajar, lebih karena komando, bendera atau ikatan emosi, lalu mencari-cari hujjah dan fatwa yang sesuai dengan asumsi. Atau sebagian lain mentah-mentah menolak fatwa ’ulama karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya.

Untuk sekadar menegaskan, tulisan ini bukan tentang menghakimi demokrasi, ini tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi sesuatu. Semoga saja dengan proses yang mungkin benar ini, jika saya salah, masih memperoleh 1 kebaikan.
Wallahu a’lam bishawab.
http://ishacovic.multiply.com/journal/item/104/DEMOKRASI_ITU....

Tuesday, January 27, 2009

Pidato Obama (Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia)

Pidato Obama (Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia)
Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerja sama yang ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan di masa kemakmuran dan di masa damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk. Pada saat-saat demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita rakyat Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan oleh generasi orang Amerika yang sekarang ini. Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis. Bangsa kita kini sedang terlibat perang, melawan jaringan kekerasan dan kebencian yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan tindakan tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru. Banyak rumah yang disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar. Asuransi kesehatan kita terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal, dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi justru memperkuat musuh-musuh kita dan mengancam planet kita. Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika - kekhawatiran terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. Tetapi ketahuilah ini, Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi. Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan ketimbang konflik dan pertentangan. Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang sudah terlalu lama mencekik politik kita. Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci, saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan. Saatnya sudah tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan sejarah yang lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk mengejar kebahagiaan sepenuhnya.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras. Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan dan menjadi terkenal. Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani mengambil risiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat barang-barang baru. Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan.Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru.
Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras. Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San. Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan
yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga, atau kekayaan ataupun partai atau kelompok.

Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai. Otak mkita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun lalu. Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja memperbaharui Amerika.
Karena ke mana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kita akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang selayaknya, dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan.

Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita - dengan mengatakan sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. Daya ingat mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang dilakukan negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan kebutuhan digabung dengan ketabahan. Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah begitu lama menyita waktu kita - tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil,
tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti. Apabila jawabannya -ya, kita berniat untuk terus bergerak maju. Apabila jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur uang rakyat akan dimintai pertanggung- jawabannya - supaya mengeluarkan uang secara bijaksana, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dengan jujur - karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah. Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita. Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya. Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada kemampuan kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja, dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna mencapai kemakmuran bersama.

Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi. Semua cita-cita ini masih menerangi dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin lagi. Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa
melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat sekehendak hati kita. Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya tujuan kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta kesanggupan menahan diri. Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini, sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut upaya lebih besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan. Bersama teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi. Kita tidak akan minta maaf atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan mereka dengan terror dan membantai orang-orang tak bersalah, kami katakan kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan.

Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan, dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok dunia. Dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masakegelapan menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa semua garis-garis pembatas antar suku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia ini akan menjadi semakin kecil. Kerendahan hati kita akan tampak dengan sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era perdamaian yang baru. Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental. Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya. Seraya kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi - semangat inilah yang harus ada pada kita semua. Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini. Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita. Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung - yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme - semua itu sudahm lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era
pertanggungjawaban yang baru - suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit. Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan. Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita - pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.
Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita- mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.
Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku. Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju, salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan - bahwa kota dan negara, waspada
akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya. “

Amerika, dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskananugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa
depan.

http://ardiabara.multiply.com/item/reply-to-message/ardiabara:journal:80

Eencana Israel Raya (eretz yisrael)

Rencana Eretz Yisrael
Oleh Wawan Kurniawan





“Dari Nil ke Eufrat” (Theodor Herzl, Complete Diaries, Vol.II, hal 771)

“Tanah yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon” (Testimoni Rabi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, di depan UN Special Committee of Enquiry pada 9 Juli 1947)

Tulisan Saudara Ibnu Burdah tentang “Rencana Strategis Israel” (Republika, 06/10) menarik untuk dicermati lebih jauh. Pencermatan itu diperlukan karena Ibnu Burdah tidak memfokuskan bahasan opininya apa sebenarnya rencana strategis Israel itu. Ibnu Burdah hanya sekadar memberi pengantar: batas final pada 2010.

Rencana Pendek 2010
Istilah yang lebih tepat dan sering dikatakan Ehud Olmert adalah batas permanen (permanent border). Olmert ingin batas permanen Israel selesai pada 2010 (David Makovsky, Olmert’s Bold Stand, USA Today, 19/05). Batas permanen ini diberlakukan hanya di Tepi Barat (West Bank) saja. Sedangkan, Jalur Gaza sudah mempunyai batas permanen karena wilayahnya yang mudah diatur (lihat Gaza Strip Border Crossings, Washington Institute for Near East Policy, 2005).

Ariel Sharon, sebelum terkena stroke, sudah menandaskan ketidaktertarikannya dengan Jalur Gaza. Jika melihat data CIA World Factbook 2005, Jalur Gaza merupakan wilayah sempit (620 km2) dengan penduduk padat (1.376.289 jiwa). Gaza memiliki pertumbuhan populasi 3,77 persen, rata-rata kelahiran 40,3 kelahiran per seribu penduduk, dan tingkat kesuburan 5,91 anak per wanita.

Gaza tidak cocok dengan tuntutan pemenuhan-meminjam istilah Nazi-lebensraum (ruang hidup) bangsa Yahudi di masa mendatang. Oleh karena itu, penarikan mundur tentara Israel dari Gaza pada 12 September 2005 kemarin bukan berdasarkan pada belas kasih atau tekanan internasional melainkan pada satu kenyataan saja: wilayah ini tidak layak untuk diduduki.

Tepi Barat merupakan wilayah dengan “tapal batas irisan” dengan wilayah Israel yang berliku-liku dan banyak kelokan. Ada beberapa bagian tanah Palestina yang menjorok ke wilayah Israel dan sebaliknya. Nah, batas permanen dibangun di atas bagian terluar wilayah Israel yang menjorok itu. Artinya, Israel akan mengakuisi tanah Palestina yang berada di dalam batas permanen itu secara sepihak.

Yang dimaksud tapal batas irisan adalah jalur hijau (Green Line) yang disebut juga sebagai batas wilayah sebelum perang 1967. Jalur hijau inilah yang diminta Hamas jika Israel menyetujui hudnah (gencatan senjata) selama 10 tahun.

Jika dihitung, batas permanen itu merampas 46 persen (2685 km2) wilayah Tepi Barat: 7,4 persen dari perbatasan lama (Green Line 1967), 2,1 persen blok, 8 persen tanah di belakang tembok, dan 28,5 persen Lembah Jordan. Bisa dipastikan batas permanen yang berupa tembok batu solid setinggi 10 kaki itu menusuk jauh ke dalam wilayah Tepi Barat dan mengeratnya menjadi enclave-enclave dengan begitu banyak checkpoint (pos pemeriksaan).

Jika Tembok Berlin sudah lama runtuh dan segregasi rasialis apartheid ala Afrika Selatan sudah lama berakhir, tembok “batas permananen” rasialis kini ada di Palestina.

Mengembangkan Perumahan
Olmert memiliki maksud tersendiri dengan batas permanen itu. Maksud itu berupa: ekspansi perumahan (settlement), mengamankan sumber air, dan mengukuhkan Jerusalem.

Di belakang tembok pembatas itu, Israel terus-menerus memperbesar kawasan pemukiman hingga mengepung Jerusalem Timur. Rencana E-1 (East-1 Plan) berusaha mewujudkan pemukiman Yahudi yang melingkari Jerusalem Timur: Givat Ze’ev di utara, Ma’aleh Adumim di timur, dan Etzion di selatan. Ma’aleh Adumim mencakup 53 km persegi dengan kapasitas mencapai 30 ribu residen.

Pada 1999, ada 177.441 orang Yahudi di Jerusalem Timur dan sekitarnya. Lalu bertambah menjadi 192.176 (2000) dan 203.443 (2001) (Israeli Settlements in the West Bank, Peace Now Settlement Watch, 31/12/01). Belum terhitung pada tahun 2006 ini.

Irosnisnya, dunia internasional (dan dunia Islam) tidak tanggap terhadap perkembangan ini. Sesungguhnya pembangunan pemukiman Israel itu jelas-jelas melanggar Resolusi DK PBB 446 (22 Maret 1979), 452 (20 Juli 1979), 465 (1 Maret 1980), dan 471 (5 Juni 1980). Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel selalu abstain dalam 4 resolusi tersebut.

Transfer orang Israel guna menempati pemukiman itu melanggar Protokol Jenewa Keempat pasal 49. Pasal itu menyatakan: “The Occupying Power shall not deport or transfer parts of its own civilian population into the territory it occupies.” Terlebih lagi, dalam Perjanjian Oslo (13 September 1993) Artikel V “Transitional Period and Permanet Status Negotiations” yang diagung-agungkan oleh Barat dan PLO itu sendiri tidak membahas masalah-masalah krusial seperti status Jerusalem, hak kembali para pengungsi dan pembangunan pemukiman Israel. Lengkap sudah ketidakberdayaan itu.

Menggenggam Jerusalem
Pengembangan perumahan dan transfer penduduk ini mempertegas kenyataan bahwa Israel tidak akan mengembalikan Jerusalam Timur ke Palestina. Israel merampas Jerusalem Timur pada perang 1967. Israel secara resmi menjadikan Jerusalem menjadi ibu kota melalui sebuah UU Dasar (Basic Law)pada 30 Juli 1980. “Jerusalem, complete and united, is the capital of Israel.” Tidak lama setelah itu, tepatnya 20 Agustus 1980, DK PBB mengeluarkan Resolusi 478 yang menentang penjadian ibu kota itu.

“Kota ini adalah kota yang dipilih Tuhan sebagai ibukota bangsa Yahudi. Tidak ada kekuatan di dunia yang bisa mengubahnya,” pesan mesianis Olmert kepada turis-turis Kristen yang datang melalui International Christian Embassy in Jerusalem (ICEJ) (Yedioth Ahronoth, 08/10). ICEJ dibentuk pada 1980-an untuk mendukung Israel.

Politik Air
Air dan nuklir adalah dua penopang utama eksistensi Israel di Timur Tengah. Air adalah sumber daya yang harus dikuasai Israel, bukan minyak. Karena menurut penulis, konflik abadi di Timur Tengah setelah minyak habis (peak) adalah air. “History reveals that water has frequently provided a justification for going to war: It has been an object of military conquest, a source of economic or political strength and both a tool and a target of conflict.” (James R. Lee dan Maren Brooks, Conflict and Environment: Lebanon’s Historic and Modern Nightmare, 1996)

Sebelum perang 1967, Israel hanya menguasai dua sumber air: laut (yang didesalinisasikan) dan Sungai Dan. Tetapi setelah 1967, Israel mendapat tiga sumber tambahan: Lembah Jordan, Sungai Banias (utara Dataran Tinggi Golan), dan Sungai Hasbani.

Sengketa Israel dengan negara-negara tetangga disebabkan oleh pendefinisian batas wilayah yang notabene terdapat (atau dekat dengan) sumber air. Suriah menuntut “penetapan kembali batas 1967″ yang dengan itu memungkinkan Suriah mengakses Sungai Jordan dan Laut Galilee. Konflik air Israel-Jordan diselesaikan di Wadi Araba pada Oktober 1994. Demikian halnya dengan Palestina-Israel (Sharif S Elmusa, The Water Issue and the Palestinian-Israeli Conflict, The Center for Policy Analysis on Palestine, Desember 1993).

Hampir separuh dari air yang digunakan oleh Israel berasal dari pertarungan dan perampasan dengan tetangganya (Thomas R Stauffer, Water and War in the Middle East: The Hydraulic Parameters of Conflict, The Center for Policy Analysis on Palestine, Juli 1996). Dan karena itu, mustahil bagi Israel mau mengembalikan kawasan yang terduduki semisal Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan kepada pemilik aslinya (Isabelle Humphries, Breaching Borders: The Role of Water In The Middle East Conflict, Washington Report on Middle East Affairs, September/Oktober 2006).

Sheeba Farm yang dijadikan Israel sebagai batu loncatan merampas Sungai Litani. Ada dugaan, perang Juli kemarin mengupayakan area Sungai Litani sebagai zona aman dengan membersihkan Hizbullah. Sungai Litani yang mempunyai kemampuan menghasilkan 920 juta meter kubik air bersih kualitas tinggi per tahun hanya berjarak 4 km dari perbatasan Israel.

Israel sudah lama ingin menguasai Sungai Litani (lihat Hussein A Amery, The Litani River of Lebanon, The Geographical Review, July 1993; Arnon Soffer, The Litani River: Fact and Fiction, Middle Eastern Studies, Oktober 1994; Ronald Bleier, Israel’s Appropriation of Arab Water: An Obstacle to Peace, Middle East Labor Bulletin, Spring 1994). Ben Gurion dan Moshe Dayan (Kepala Staf Tentara Israel 1953-195 berungkali menyarankan penguasaan Sungai Litani.

Bahkan ketika perang 34 hari kemarin telah usai dan pasukan PBB telah tiba, Israel masih mencuri air Lebanon. Sebuah harian terbitan Beirut (Daily Star, 25/09) memberitakan hal tersebut.

Konflik Internal Palestina
Kisruh internal Palestina antara Hamas sebagai pemenang pemilu 25 Januari 2006 dengan Fatah yang telah berkuasa selama sepuluh tahun lebih membawa keuntungan sendiri bagi Israel. Ketiadaan soliditas Palestina membuat Israel bisa menjalankan agenda-agenda besarnya.

Meski dari permukaan luarnya Israel menganggap perseteruan Hamas-Fatah sebagai masalah internal Palestina (Financial Times, 10/6), ada sinyalemen Israel membantu salah satu pihak yang bertikai.

Terbetik kabar, Abbas meminta izin dari Israel untuk memperbesar jumlah pasukan pengawalnya, Force 17, dari 2 ribu menjadi 10 ribu (Ha’aretz, 28/05). Ekspansi pasukan ini mendapat bantuan senjata dari Israel melalui negara ketiga (Ha’aretz, 29/05). Ini menjawab kontroversi klaim Israel yang mengirim senjata ke Palestina (Mail & Guardian, 26/05) meskipun disangkal Fatah.

Lawatan Menlu AS Condoleezza Rice ke Timur Tengah kemarin mampir di Tel Aviv dan juga menemui Abbas. Tak lama sesudah itu, AS memberi bantuan 20 juta dolar kepada Fatah untuk memenangi pertarungannya dengan Hamas (VOA News, 05/10).

Melalui dua organnya yang sering campur tangan di negara-negara berkembang, National Democratic Institute (NDI) dan International Republican Institute (IRI), AS menyalurkan 42 juta dolar guna memperkuat kelompok-kelompok anti pemerintah (Reuters, 14/10).

Bulan-bulan ke depan akan menjadi ujian berat bagi Hamas. Mesir, Qatar, dan Jordan memberi peringatan bahwa Israel mempersiapkan operasi masif ke Jalur Gaza guna membebaskan Gilad Shalit. Bersamaan dengan itu, Fatah bersiap melanjutkan konfontrasinya (Fatah preparing showdown with Hamas, Jerusalem Post, 24/10).

Setali Tiga Uang, Buruh-Kadima-Likud
Kenyataan polarisasi di ranah politik Israel, yaitu kiri (Buruh), tengah (Kadima), dan kanan (Likud) tidaklah merefleksikan polarasasi kebijakan luar negeri. Mereka sama berkonvergen pada pendirian negara Israel di tanah Palestina.

Kadima merupakan sempalan Likud. Sedangkan Likud merupakan pengusung ide-ide nasionalis kaum Zionis Revisionis yang digagas oleh Zeev Jabotinsky. Di kalangan Yahudi, bisa dikatakan Jabotinsky adalah pemikir terbesar setelah Theodore Herzl.

Kaum Revisionis mengklaim daerah antara Sungai Eufrat dan Sungai Nil sebagai tanah Yahudi (Paul Findley, Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship, 1993). Dua ideolog utama Likud, Menachem Begin dan Yithak Shamir adalah murid langsung Jabotinsky.

Visi Buruh juga sama saja. “Mimpi batas Israel meliputi selatan Lebanon, selatan Suriah, Jordan hari ini, Tepi Barat, dan Sinai” dinyatakan oleh Ben Gurion di pertemuan World Council of Poale Zion (cikal bakal Buruh) 1938. Tokoh Buruh lainnya, Yithak Rabin, semasa menjadi menteri pertahanan (1984-1990) mengeluarkan kebijakan kontroversional “mematahkan lengan dan kaki” para demonstran intifada Palestina yang umumnya adalah anak-anak dan remaja.

Jabotinsky mendirikan Haganah (Defender). Begin dengan Irgun Zvai Leumi (National Military Organization), Shamir dengan Lehi (Lohamei Herut Yisrael/Freedom Fighters of Israel), dan Rabin dengan Palmach (penyerang). Semuanya adalah organisasi paramiliter yang menyokong pendirian negara Israel dengan meneror warga Arab (Cf. J. Boyer Bell, Terror out of Zion: The Irgun, Lehi Stern and the Palestine Underground, 1977).

Jika-mengutif Paul Fenley-Likud adalah nasionalisme mesianis dan Buruh sebagai sekuler pragmatis, Kadima adalah sinkretis keduanya. Hanya dalam waktu 3 bulan semenjak dinyatakan sebagai pemenang pemilu 2006, Kadima sudah berani membuat ulah dengan menginvansi Lebanon.

Olmert (61 tahun) dan menlu sekarang, Tzipi Livni, merupakan Likudites. Shimon Peres (83), wakil PM, awalnya merupakan aktivis kawakan Buruh yang kemudian bergabung dengan Kadima karena ajakan Ariel Sharon. Emir Peretz, ketua Buruh, menjadi menhan dalam kabinet Olmert. Dulunya, Peretz adalah anggota awal gerakan kiri Peace Now.

Jelas, warna Likud lebih dominan daripada Buruh. Olmert dengan sepengetahuan Peres membuat kesepakatan bahwa Livni-lah yang akan menjadi pengganti Olmert bila Olmert tidak dapat bertugas sebagaimana mestinya. Olmert sendiri sudah memberi sinyal akan menggeser ke kanan (New York Sun, 10/10).

Kabar terbaru, partai yang paling kanan (extreme right), Yisrael Beiteinu (Israel Rumah Kita), telah bergabung dengan aliansi Kadima-Buruh sejak 23 Oktober kemarin. Sebelas kursi Yisrael Beiteinu menyebabkan kursi total pendukung Olmert menjadi 80 atau dua pertiga parlemen.

Sang pemimpin partai fasis ini, Avigdor Lieberman, mendapat kursi baru s”Kementerian Ancaman Strategis” yang khusus merespon perilaku Iran. Sebenarnya, Lieberman adalah politisi hasil kaderisasi Netanyahu. Dia sempat menjadi orang penting Likud pada 1993-1996.

Lieberman adalah otak penentu kesuksesan Netanyahu pada kampanye 1996. Sharon memuji Lieberman sebagai menteri yang paling kapabel dalam kabinet 2001 dan 2003 (Scotsman, 10/23). Bisa dikatakan, Lieberman adalah “bayangan” Netanyahu dengan tipikal khusus: banyak bicara.

Sebuah poling yang dipublikasi harian terkemuka Israel Yedioth Ahronoth (21/10) mendudukkan Lieberman sebagai orang kedua yang pantas menjadi PM Israel mendatang setelah Netanyahu. Oleh karena itu, Lieberman dan Livni (keduanya sama-sama berumur 48 tahun) merefleksikan bagaimana Israel di masa depan.

Memang benar kelahiran Kadima mengguncangkan konstelasi politik Israel tetapi tidak untuk Timur Tengah. Pada dasarnya, Kadima adalah wajah lain Likud dan Buruh. Harapan besar yang digantungkan oleh media massa Barat kepada Kadima adalah propaganda absurd yang menyesatkan.

Pembangunan batas permanen, perluasan pemukiman, pengepungan Jerusalem, dan pencurian air memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Semua itu berjalan mulus dan lancar karena terselubungi oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak signifikan. Masalah-masalah yang direkayasa oleh Israel untuk mengalihkan perhatian dunia internasional dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tahun 2010 hanyalah rencana transisi saja. Visi Israel yang sebenarnya adalah seperti gambar bendera nasionalnya: bintang David di antara garis biru atas dan bawah. Hal itu berarti men-Zionis-kan wilayah-wilayah di antara Sungai Nil dan Eufrat. Itulah Eretz Yisrael (Israel Raya).

http://kainsa.wordpress.com/rencana-eretz-yisrael/

HARAMKAH GOLPUT?

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III di Padangpanjang, Sumatera Barat, yang berlangsung sejak Jumat (24/1) hingga Senin (26/1) telah mengeluarkan fatwa haramnya golput dalam pemilu. Menurut Sekjen MUI Ichwan Sam, memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib. ''Jadi memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram,'' tegas Ichwan.

Bila kita menyoroti amal dengan hukum syara’, yakni melihat hukumnya dengan timbangan halal haram, maka dalam hal ini harus dilihat dengan kaca mata hukum syara’ semata, tidak boleh menggunakan pertimbangan-pertimbangan lain. Sebab, hak menghalalkan dan mengharamkan benda (asyaa’) atau perbuatan (af’aal) hanyalah hak Allah, bukan yang lain!. Dalam kasus permintaan fatwa tentang golput, apakah hukumnya halal atau haram, maka permintaan itu boleh. Tetapi memberikan pengarahan apalagi tekanan agar golput itu diharamkan, jelas ini tidak bisa dibenarkan. Oleh karena itu, bagaimanakah sesungguhnya memilih wakil rakyat dalam timbangan syara?

Hukum syar’i dalam ta’rif para ulama adalah khithab syaa’ri al amuta’alliq biaf’alil ibaad, yang artinya: seruan pembuat syara’ (Allah SWT) yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Maka aktivitas memilih wakil rakyat bisa dikategorikan kepada aqad wakalah. Yakni ijab qabul antara rakyat pemilih (muwakkiil) dengan wakil rakyat (wakiil) yang sighat-nya adalah mewakilkan suatu amal kepada wakil rakyat (wakiil).

Dalam wakalah ini perlu diperhatikan amal apa yang akan dilakukan oleh wakil rakyat yang mewakili rakyat yang memilihnya?. Sebab hukum asal dari suatu wakalah adalah mubah. Namun amal dari wakalah itu menentukan halal haramnya suatu wakalah. Bilamana seseorang mewakilkan suatu amal pencurian kepada orang lain, maka wakalah seperti ini hukumnya haram. Sebaliknya, seseorang yang mewakilkan kepada orang lain untuk mengambil gajinya adalah halal.

Dalam masalah pemilihan wakil rakyat di kursi parlemen, amal yang diwakalahkan adalah amal membuat undang-undang (taqnin) dan melakukan pengawasan kepada penguasa (muhasabah). Dalam hal ini perlu dijelaskan kepada rakyat tentang status hukum syara’ dari amal wakil rakyat itu sehingga rakyat bisa memberikan wakalah kepada mereka dengan kesadaran hukum Islam.

Dalam pandangan Islam, membuat undang-undang (taqnin) yang diberlakukan kepada rakyat dalam proses pemerintahan hanya bisa dibenarkan bilamana hukum yang diundangkan itu adalah semata-mata hukum syariat Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah. Pembuatan UU dengan rujukan selain dari hukum syara’ adalah haram hukumnya. Sebab tindakan itu bisa terkategorikan melanggar hak Allah SWT dalam membuat hukum.

Allah SWT berfirman:
menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang Sebenarnya dan dia pemberi Keputusan yang paling baik". (QS. AL An’am 57).

Juga Firman Allah SWT:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. an-Nahl [16]: 116)

Sehingga dalam hal pembuatan perundangan, baik wakil rakyat maupun pemerintah, dibatasi hanya wajib mengadopsi dari hukum syara’ maupun hasil-hasil ijtihad yang digali (istinbath) dari dalil-dalil syar’i. Membuat perundangan dengan merujuk kepada system hukum dan perundangan selain Islam (baik dari system Kapitalis Barat maupun system Sosialis Komunis) bagi kaum muslimin haram hukumnya.

Sedangkan amal mengawasi pemerintah (muhasabatul hukkam) dengan standar hukum syara’ adalah hak sekaligus merupakan kewajiban rakyat yang bisa dilaksanakan langsung atau melalui wakil rakyat.

Dengan demikian bilamana rakyat memilih wakil rakyat yang akan melaksanakan amal mengadopsi hukum-hukum syara’ sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah dengan pedoman halal-haram dalam pandangan Islam, maka memilih wakil yang bisa dipercaya untuk mengemban tugas-tugas tersebut hukumnya halal.

Sebaliknya, memilih wakil rakyat yang akan mengadopsi hukum-hukum selain Islam sebagai UU dan mengawasi kebijakan pemerintah tidak dengan timbangan syara’, apalagi secara nyata menolak penerapan syariah oleh negara dan bertekad melestarikan system negara dan pemerintahan sekuler, maka memilih wakil rakyat seperti ini jelas hukumnya haram bagi setiap muslim. Na’udzubillahi mindzalik!

Kini jelaslah halal-haramnya hukum memilih wakil rakyat dalam pemilu. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana calon-calon wakil rakyat, apakah masuk dalam criteria halal dipilih atau justru haram dipilih. Ibarat akad nikah, sebelum diijab oleh calon mertua, seorang lelaki harus melamar terlebih dahulu. Calon mantu yang tidak layak tentu tidak akan diserahi (ijab) dalam majelis akad nikah.

Oleh karena itu, kampanye para calon wakil rakyat di daerah pemilihan masing-masing harus dilihat secara teliti oleh rakyat sehingga rakyat bisa memilih wakilnya sesuai criteria hukum syariat Islam yang telah diterangkan di atas, bukan sekedar criteria versi MUI yang masih sangat umum tersebut. Sebagai waratsatul anbiya, hendaknya para ulama tidak perlu sungkan dan ragu berbenturan dengan penguasa atau kekuatan politik manapun dalam menerangkan system pemerintahan menurut Islam secara gamblang agar menjadi pedoman rakyat dan penguasa yang mayoritas muslim ini.

Memilih wakil rakyat yang bisa dipercaya (terbukti dalam program-program kampanye syariahnya dalam berbagai bidang kehidupan) akan memperjuangkan adopsi syariah secara kaffah menjadi UU dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara adalah harga mati buat setiap umat Islam. Namun bila tidak ada yang layak, umat harus menahan diri dari memilih yang haram, dan harus berjuang untuk mengangkat mereka yang layak sekalipun tidak tercatat sebagai calon dalam permainan yang ada!



Mohammad Shodiq Ramadhan

http://www.facebook.com/note.php?note_id=47832315605

Thursday, January 22, 2009

the death toll in the Israel-Gaza conflict



1 week ago: Graphic shows the death toll in the Israel-Gaza conflict; 1 c x 3 3/4 in; 46.5 mm x 95.25 mm.

An update of the Israel-Gaza conflict





1 week ago: Graphic provides an update of the Israel-Gaza conflict; 2 c x 3 1/4 in; 96.3 mm x 82.55 mm.
http://www.daylife.com/photo/06dY5mG0tK1i7/Gaza

The Global War of Terror


The so-called 'war on terror' is nothing new; it has its precedents in operations like Gladio; can be seen as the "strategy of tension" gone global and a logical extension of the US-UK imperial policy post 1945; it is the latest justification for the actions of a genocidal Empire which has caused between 20 and 30 million deaths since World War II; imperial genocide is not a new policy. According to Youssef Aschkar, the 'war on terror' did not start on September 11, 2001: "between 1996 and September 11, 2001, the culture of hate and fear was spread to the United States by the publication of thousands of books and articles on the subject of terrorism. From that time onward, 'Islamic terrorism' became the new Evil Empire". The Power of Nightmares, a BBC documentary, even starts from earlier. It "explores the origins in the 1940's and 50s of Islamic Fundamentalism in the Middle East, Neoconservatism in America and the parallels between these movements." Now, with the neocon's 'war on terror', legality and morality gone out of the window, torture [1|2], detention without trial [1|2|3], rendition, secret prisons, dawn raids, death squads [1], profiling, fabricated terror plots, executions and Orwellian Big Brother surveillance are the new norm as muslims are demonised in order to justify the "clash of civilisations" and the military industrial complex's perpetual global war.

The Genocide of a Nation, With the Full Support of the United States Government

The Genocide of a Nation, With the Full Support of the United States Government
Debbie Morgan


What is going on in the Gaza Strip is genocide, pure and simple. In all the barrage of rockets and missiles and whatever else Israel could shove down Palestine’s throat, “Israeli death squads” started moving through a Palestinian village separating the men from the women and children and then slaughtering the men, including young adults and teen-aged boys, shooting them in the back.



I recently read that one of my heroes, Kevin Barrett, is leaving the country. Barrett is a strong proponent of 9/11 truth and an even stronger enthusiast for human rights. He cited several things, pictures of dead babies on the news overseas, probably the most exasperating, but he mentioned something else that should hit all of us square between the eyes, as well…the American Dream is dead. He, like so many of us, is just plain fed up with the lack of conscience of this country’s leadership. I have to say, that I can’t blame him.

We, in the United States, pride ourselves with the knowledge that we are a civilized society. We feel that we are humane, compassionate and care for those less fortunate than ourselves. In his final press conference, Outgoing-President George W Bush told us that America is compassionate. I am here to say that that notion could not be farther from the truth. Bush said that if we don’t believe it we should ask China or Africa or India about the compassion of America. What about the Palestinians? Should we ask them?

Rep Nancy Pelosi along with her hoard of bi-partisan co-sponsors, pushed through H Res 34, Israel’s Right to Defend Itself. Did any of these Representatives ask we-the-people if it was okay for the United States to take sides in this conflict, because I thought they represented us! It appears they represent Israel, though…yet we pay their salaries… Shouldn’t The Gaza Strip have the same right to defend itself?

In his comments about this egregious piece of legislation, Rep Ron Paul told Congress that they have a moral obligation to both Israel and the Arab Nations, because “we provide help and funding for both,” yet as a country, the House has chosen to support Israel…again.

During Bush’s press conference, when asked about peace between Israel and Gaza, Bush says that he is for a “sustainable ceasefire.” He goes on to define a “sustainable ceasefire” as “Hamas stop(s) shooting missiles into Israel.” What if Israel stops shooting missiles into the Gaza Strip?

A very observant journalist asked about how other countries around the world view the United States. Bush goes on to say that he does not feel the entire world views the US as immoral, and that, if we wanted to, we could become popular by blaming everything going on in the Middle East on Israel. Israel has broken the past several ceasefire agreements, so who should be blamed for that?

According to an article by Global Research, Israeli Defense Minister Ehud Barak had the Israel Defense Force start preparation for this latest slaughter in The Gaza Strip six month before its December 27th beginning, preparation that, incidentally, was started during a ceasefire. The article also says “…Operation ‘Cast Lead’ is a carefully planned undertaking, which is part of a broader military-intelligence agenda first formulated by the government of Prime Minister Ariel Sharon in 2001.” Wait, 2001? It goes on to say that the operation “is intended, quite deliberately, to trigger civilian casualties.” And Israel is not to blame for this? The “sustainable ceasefire” has to be at the disarmament of Hamas, but not Israel? And, by the way, since when does the United States get to decide who can be “armed” and who can’t? I may have missed this in Civics class!

According to secret documents obtained by Reuters, the Pentagon is seeking the services of a merchant ship to transport 325 20-foot containers of “ammunition” from Greece to Israel by the end of January. The manifest says only that the shipment contains such hazardous substances as explosive materials and detonators.

Pentagon spokesperson Air Force Lt Col Patrick Ryder confirmed the shipment and said it was not in support of the Israel-Gaza conflict, yet a London senior military analyst stated that the timing was “irregular.” A shipping broker in London stated that a 3000-plus ton “in one go” ammunition shipment is pretty rare. The Pentagon recently made a December delivery of 989 20-foot containers to Israel, as well, but Hamas needs to disarm?

Rep. Paul reminded House members of the US involvement in the creation of Al Qaeda, as well as its indirect involvement in creating Hamas. And Hamas is to blame? He also reminded the House that the US pushed for Democratic elections in the Palestinian State, and they followed the process, electing the Israel/US created Hamas, and now they (the Palestinians) must be killed for it. Paul, of course, was making a point, not advocating the actual deed, but the rest of the House, with the apparent exception of Paul, Kucinich and three others, is advocating the actual deed through blind support of Israel.

During the first days of the attack, Former Presidential Candidate Cynthia McKinney was aboard a private boat attempting to deliver medical supplies to the war-torn Gaza Strip when an Israel Patrol vessel rammed the private boat. McKinney said the purpose was one of peace and that the boat was clearly not engaging in terrorist activities, yet the Israeli’s rammed them. She said that this paled in comparison to what the Palestinians were going through and reminded the CNN audience that this was also not the first time Israelis attacked a friendly American boat. Remember the USS Liberty? (Because I guarantee you the survivors remember it well!!!)

Recently, Rep. Dennis Kucinich spoke out about the tragedy in Gaza. He told the House that some fifty percent of Gaza inhabitants are under the age of fourteen. That is younger than my youngest daughter. Some of his words will live on in my memory for the rest of my life. “We cannot avert our eyes without staining our soul.” He is right! We call ourselves a nation created by God, and Israel is quick to claim they are “God’s chosen.” This travesty against the Palestinians is not godly at all. It is heinous and barbaric. Kucinich went on to say that “this is a humanitarian crisis of the highest magnitude.” He also confirmed that Israel is using aircraft and weapons supplied by the US which “imposes a moral obligation for this congress to speak out.” He is right…again.

The current death toll reported by one outlet as of January 14th, 2009, is 13 Israeli casualties, 3 civilian and 1010 Palestinian casualties. Of that, 311 are children and 100 are women. For those concerned, that means 31% of the casualties are children and 10% are women, but how many civilian men? It didn’t say that. I have read several places on the Internet that say Hamas has brought this on the Palestinian people themselves. Really? Just the other day it was reported that several schools in the Gaza Strip were targeted by Israeli attacks. So Israel has the right to target schools, and hospitals, clinics and refugee settlements? Why would they attack a school or hospital or clinic, or refugee settlement? What has that got to do with Hamas?

What is going on in the Gaza Strip is genocide, pure and simple. In all the barrage of rockets and missiles and whatever else Israel could shove down Palestine’s throat, “Israeli death squads,” according to another article, started moving through a Palestinian village separating the men from the women and children and then slaughtering the men, including young adults and teen-aged boys, shooting them in the back. Paul, Kucinich and McKinney have stated that the US has basically supplied the weapons that Israel is using to kill Palestinians…at least 41% civilian women and children. Again I ask, why would our government supply arms to Israel, yet ask Palestine to disarm? This doesn’t make sense!

Where does President Elect Obama stand on the situation he is about to inherit? He has said that he does support Israel’s right to defend itself, and I am not saying that they shouldn’t, but if we afford Israel the right to defend itself then we must afford the Palestinians the same rights. After all, this attack was planned in 2001, and was being prepared for during a ceasefire. Israel broke this ceasefire…And, given the casualty rates that have been reported, Israel is killing far too many “women and children.” What country is proud of collateral damage to the tune of 41% women and children?

McKinney has a plea for President-Elect Obama. She is asking him to please “say something…about the humanitarian crisis that is being experienced right now by the people of Gaza.”

It is apparent by the vote on H Res 34 that this country is sorely lacking integrity. The United States has just sworn in a new Congress, one that is supposed to bring about positive change. Yes, I remember, Obama’s campaign slogan, “Change We Can Believe in.” But didn’t some of the newly elected Representatives tout change, as well? Yet, one of the first pieces of legislation they pass, and quite handily, I must say, is the support of Israel…there is no change in that!

It is time we took a page from Rep Paul’s playbook, which, by the way, is not a new idea, and stood down with regard to other governments. Have we learned nothing about the blowback, as Paul recently pointed out, which is certainly not worth it? The United States must stand down…stay out of the affairs of other country’s. Let them rule themselves. Let them work out there differences, the only exception being of a TRUE threat against the United States. Since when did the United States become the police of the world? Is that a roll we really want? I don’t think we do…the cost is just too high!


----------------------

Endnotes:


H Res 34: Recognizing Israel's right to defend itself against attacks from Gaza

http://www.govtrack.us/congress/bill.xpd?bill=hr111-34


Bush’s Final Press Conference is available on YouTube in parts or in its entirety. The text of the conference can be seen here:

http://www.whitehouse.gov/news/releases/2009/01/20090112.html


Video: Ron Paul - Israel Created Hamas to weaken Arafat ’s Fatah

http://dprogram.net/2009/01/11/video-ron-paul-israel-created-hamas-to-weaken-arafat-s-fatah/


2008–2009 Israel–Gaza conflict

http://en.wikipedia.org/wiki/2008%E2%80%932009_Israel%E2%80%93Gaza_conflict


Video: Cynthia McKinney: The Gaza Strip Relief Boat Attacked By Israeli Military

http://www.youtube.com/watch?v=KBpcCumKh1w


The Invasion of The Gaza Strip: "Operation Cast Lead", Part of a Broader Israeli Military-Intelligence Agenda

http://globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=11606


In Shallow Graves in Al-Qarrara Village - Lies Fathers and Sons - Victims of an Israeli Massacre

http://www.uruknet.info/?p=m50693&hd=&size=1&l=e


US plans massive arms delivery to Israel

http://dprogram.net/2009/01/11/us-plans-massive-arms-delivery-to-israel/


The Obama Factor in Israel's Gaza War

http://www.usnews.com/articles/news/world/2009/01/14/the-obama-factor-in-israels-gaza-war.html


Israel accused of using white phosphorus in Gaza - 11 Jan 09

http://www.youtube.com/watch?v=gchf_4VgtK4


Kucinich: 50 Percent of the Population of Gaza Under 14 Years of Age!

http://www.youtube.com/watch?v=g6MkzkBrxAg


USS Liberty Memorial Website

http://www.gtr5.com/


Take Back Washington

www.TakeBackWashington.com


----------------------------
Debbie Morgan
Homepage: http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=11851

Tuesday, January 13, 2009


For more widgets please visit www.yourminis.com


For more widgets please visit www.yourminis.com

Wednesday, January 7, 2009

Perang Salib

“Saya tidak tahu, apa yang akan dikatakan kaum Muslim seandainya mereka mengetahui kisah-kisah Abad Pertengahan, dan memahami apa yang terdapat dalam nyanyian-nyanyian orang Kristen? Sesungguhnya seluruh nyanyian kami hingga yang tampak sebelum abad ke-12 Masehi bersumber dari pikiran yang satu. Pikiran itulah yang menjadi sebab timbulnya Perang Salib. Seluruh nyanyian dibalut dengan kebusukan dendam terhadap kaum Muslim dan membodohkan agama mereka..” (Comte Henri Descartes, ilmuwan Prancis, 1896 M)

Itulah gambaran yang dilekatkan para tokoh agama Nasrani di Eropa pada kaum Muslim, sebagaimana yang pernah mereka lakukan pada agamanya. Pada abad-abad pertengahan, mereka menggambarkannya dengan sifat-sifat yang keji. Sifat-sifat inilah yang mereka gunakan untuk mengobarkan dendam permusuhan terhadap kaum Muslim. Di antara kobaran fitnah yang diciptakan pihak Nasrani adalah Perang Salib.

Permusuhan salib ini terpendam dalam seluruh jiwa bangsa Barat, khususnya Inggris. Permusuhan yang mengakar dan dendam yang sangat hina inilah yang menciptakan strategi jahannam untuk melenyapkan Islam dan kaum Muslim. Mahabenar Allah yang telah berfirman:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka adalah lebih besar lagi. (QS Ali Imran [3]: 118).

Prof. Leopold Weiss, berkata:

Kemurkaan (bangsa Eropa, red.) telah tersebar luas seiring dengan kemajuan zaman. Kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian ini akhirnya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Muslim…Kemudian datang masa perbaikan hubungan keagamaan ketika Eropa terpecah menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok berdiri dengan senjatanya masing-masing dalam menghadapi kelompok yang lain. Akan tetapi, permusuhan terhadap Islam telah merata ke seluruh kelompok. Setelah itu datang masa yang menjadikan perasaan (sentimen) keagamaan mereda, tetapi permusuhan terhadap Islam masih terus berlanjut. Di antara bukti nyata dari tesis ini adalah pikiran yang dilontarkan oleh seorang filosof sekaligus penyair Prancis abad ke-18, Voltaire. Dia adalah orang Kristen yang paling sengit memusuhi ajaran Kristiani dan gereja. Namun, pada waktu yang sama, dia jauh lebih membenci Islam dan Rasul Islam. Setelah beberapa perjanjian, datang zaman yang menjadikan para ilmuwan Barat mempelajari tsaqâfah-tsaqâfah asing dan menghadapinya dengan penuh simpati. Akan tetapi, dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam, stereotif dan kebiasaan (taklid) menghina menyusup ke dalam problem samar kelompok yang tidak rasional untuk diarahkan pada bahasan-bahasan ilmiah mereka. Jurang yang digali oleh sejarah antara Eropa dan Dunia Islam, di atasnya dibiarkan tanpa dipautkan dengan jembatan, kemudian penghinaan terhadap Islam telah menjadi bagian yang mendasar dalam pemikiran orang-orang Eropa.

Akhirnya, seluruh Eropa disatukan dalam gaung Perang Salib. Pertama-tama dituangkan melalui jalur pemikiran, dengan cara meracuni akal dengan sesuatu yang melecehkan hukum-hukum Islam yang agung; juga dengan memasukkan racun keterasingan yang mencekoki akal putra-putra kaum Muslim dengan pernyataan-pernyataan Barat tentang Islam dan sejarah kaum Muslim, dengan mengatasnamakan kajian ilmiah dan kesucian ilmu. Ini adalah racun tsaqâfah yang menjadi senjata Perang Salib yang paling berbahaya. Seperti halnya para misionaris yang bekerja dengan racun ini, dengan mengatasnamakan ilmu dan kemanusiaan, maka para orientalis juga bekerja dengan mengatasnamakan kajian ketimuran.

Prof. Leopold Weiss berkata:

Pada kenyataannya, kaum orientalis pada awal-awal masa modern adalah kaum misionaris yang bekerja untuk mengkristenkan negeri-negeri Islam…Semangat keagamaan yang membawa kaum orientalis memusuhi Islam telah menjadi watak yang diwariskan, khususnya tabiat yang berpijak pada pengaruh-pengaruh yang diciptakan oleh Perang Salib.

Permusuhan yang diwariskan selalu menyalakan api dendam dalam jiwa orang-orang Barat terhadap kaum Muslim. Barat menggambarkan bahwa Islam adalah hantu kemanusiaan atau pendurhaka yang menakutkan, yang akan melenyapkan kemajuan kemanusiaan. Dengan gambaran itu, mereka berusaha menutupi ketakutan mereka yang sebenarnya. Permusuhan yang diwariskan itu memperkuat setiap gerakan yang menentang Islam dan kaum Muslim. Anda pasti menemukan bahwa Barat selalu mengkaji paham Majusi, Hindu, dan Komunisme; dan anda tidak menemukan dalam pembahasannya yang mengandung unsur fanatis atau kebencian. Akan tetapi, pada waktu dan kasus yang sama, ketika Barat membahas Islam, tentu Anda akan menemukan tanda-tanda kemurkaan, dendam, marah, dan kebencian di dalam pembahasannya. Dalam kondisi demikian, kaum Muslim diserang Barat dengan serangan yang sangat keji. Kafir penjajah mengalahkan mereka. Akan tetapi, para pendeta Barat—di belakang mereka adalah penjajah—selalu menampakkan aktivitas kontraproduktif yang menentang Islam. Mereka tidak mengendurkan tikaman terhadap Islam dan kaum Muslim. Mereka selalu mencaci-maki Muhammad dan para sahabatnya serta melekatkan aib pada sejarah Islam dan kaum Muslim. Semua itu merupakan siksaan dari mereka terhadap kaum Muslim dan untuk mengokohkan laju penjajahan dan kaum penjajah. [Gus Uwik]

Serangan Misionaris

Setelah lama tidak berhasil mengalahkan Daulah Islam dalam Perang Salib, Barat akhirnya mengubah secara total strateginya. Barat selanjutnya melancarkan serangan misionaris berkedok pengetahuan dan kemanusiaan. Strategi ini untuk mengokohkan jaringan pusat-pusat intelijen politik dan penjajahan pemikiran yang sudah memusat di negeri-negeri Islam. Dengan demikian, pintu Dunia Islam menjadi terbuka bagi serangan Barat. Akhirnya, organisasi misionaris tersebar luas di negeri-negeri Islam.
Tujuan fundamental mereka melakukan makar misionaris adalah: (1) Memisahkan Arab dari Daulah Utsmaniyah sebagai upaya membunuh Daulah Islam dengan jalan membangkitkan fanatisme kebangsaan; (2) Menjauhkan kaum Muslim dari ikatan yang hakiki, yakni akidah Islam. Hasilnya, fanatisme kebangsaan baik Turki, Arab, Persia maupun daerah-daerah Islam lainnya berkobar. Fnatisme inilah yang memecah belah kesatuan umat dan menjadikan mereka buta terhadap ikatan ideologi Islam.
Adapun menyangkut teknis operasional dalam pencapaian tujuan, Barat melakukan dua hal. Pertama: Menitikberatkan sandaran operasinya pada orang Kristen yang banyak tinggal di Dunia Islam. Barat menduga, mereka dapat diajak untuk menipu kaum Muslim dan menjalin konspirasi dengan mereka, dengan menjadikan mereka sebagai mata-mata Barat terhadap kaum Muslim agar kaum Muslim bisa diprovokasi untuk mengobarkan perang dengan alasan keagamaan. Kedua: Mengandalkan banyaknya populasi mereka dan besarnya kekuatan mereka.
Namun, dugaan Barat bisa memprovokasi kaum Kristen untuk diajak menelikung dari dalam terhadap kaum Muslim ternyata tidak terjadi. Justru sebaliknya, kaum Kristen bahu-membahu dengan kaum Muslim mengusir penjajah (Barat). Ini semua terjadi karena kaum Kristen tahu betul bagaimana indahnya syariah Islam tatkal diterapkan secara sempurna. Mereka memiliki hak sebagaimana yang dimiliki kaum Muslim. Mereka juga hidup bersama-sama di dalam masyarakat Daulah Islam karena Islam menjaga dan menanggung semua hak mereka.
Barat mengkaji dengan serius persoalan ini. Akhirnya, mereka menemukan rahasianya, yakni akidah Islam. Akidah ini begitu melindungi kaum non-Muslim. Hukum-hukumnya yang berkaitan dengan warga non-Muslim menjamin hak-hak mereka.
Untuk merobohkan itu semua, Barat akhirnya melancarkan perang pemikiran. Langkah awalnya adalah dengan menarik para pemeluk Kristen agar bekerjasama dengan Barat. Berikutnya adalah mengobarkan keraguan kaum Muslim terhadap agama mereka serta mengguncangkan akidah mereka. Ternyata cara ini sangat efektif untuk melemahkan kekuatan kaum Muslim.
Megaproyek ini diwujudkan dengan langkah-langkah kongkret. Di akhir abad 16 M, Barat mendirikan markas misionaris di Malta. Dari Malta, kekuatan-kekuatan misionaris dikirim dan disebarkan hingga ke negeri Syam pada tahun 1625 M. Mereka bersikap simpatik dengan membantu memecahkan kesulitan-kesulitan masyarakat akibat penindasan, pengusiran dan peperangan. Pada tahu 1834 M, delegasi-delegasi misionaris sudah tersebar luas di seluruh Syam. Seorang misionaris Amerika yang sangat terkenal, Wilie Smith, berhasil menggerakkan misi ini dengan sangat fenomenal. Dia menguasai aspek penerbitan buletin-buletin dan sekolah-sekolah.
Tatkala Ibrahim Pasha menetapkan program-program pendidikan tingkat dasar yang diilhami dari program pendidikan di Mesir yang merupakan jiplakan dari pendidikan dasar Perancis, para misionaris segera menyusup. Mereka segera memanfaatkannya dan ikut andil dalam gerakan pendidikan dengan dilandaskan pada visi misionaris. Akhirnya, gerakan ini berhasil mempengaruhi hati rakyat Daulah Islam (Muslim maupun non-Muslim) atas nama kebebasan beragama.
Melalui gerakan misionaris ini pula berhasil diciptakan pertumpahan darah atas nama agama (antara Islam dan Kristen) yang selama berabad-abad tidak pernah terjadi. Inggris dan Prancis berhasil memprovokasi kelompok Kristen dan kaum Druze untuk bertikai atas nama agama di pegunungan Libanon. Huru-hara berubah jadi pertumpahan darah dan semakin meluas hingga ke seluruh Syam. Inggris dan Prancis memang menyengaja sehingga pertikaian ini terus berlangsung walau Daulah Islamiyah telah berupaya sekuat tenaga untuk meredamnya. Fitnah ini akhirnya menjadikan api pertempuran dan perselisihan semakin meluas hingga ke Damaskus.
Dengan peristiwa berdarah ini akhirnya Barat mempunyai alasan mengirimkan kapal-kapal perangnya ke hampir seluruh pesisir Syam. Tujuannya adalah untuk melakukan intervensi langsung ke dalam negeri Syam. Pada tahun yang sama, Prancis mengirimkan angkatan daratnya ke
Beirut dengan dalih memadamkan kerusuhan. Sesungguhnya kerusuhan yang diciptakan Barat adalah untuk memojokkan Daulah Utsmaniyah.

Di tengah-tengah serangkaian kerusuhan tersebut kaum misionaris melancarkan makar baru, yakni penyusupan melalui sekolah-sekolah, aksi-aksi misionaris, penerbitan dan praktek klinik. Mereka mendirikan sejumlah kelompok studi. Tahun 1842 M dibentuklah lembaga yang bertugas mendirikan kelompok kajian ilmiah di bawah pimpinan delegasi Amerika. Kelompok studi pertama kali yang didirikan adalah Kelompok Studi Sastra dan Ilmu Pengetahuan. Tujuan lembaga ini adalah menyebarkan ilmu kepada masyarakat agar mereka berpemikiran Barat. Mereka juga mendirikan Kelompok Studi Ilmuah Suriah. Dengan kedok masyarakat setempat mereka berhasil memperdaya kaum Muslim sehingga menerima mereka.
Selanjutnya tahun 1875 M, di Beirut dibentuk kelompok studi yang sangat rahasia. Fokusnya adalah menggerakkan revolusi politik dengan menghembuskan ide nasionalis Arab. Strategi mereka adalah meracuni pemikiran kaum Muslim Suriah dan Libanon dengan ide kebangsaan dan kearaban serta membangkitkan permusuhan terhadap Daulah Utsmaniyah yang mereka namakan Negara Turki. Selain itu, mereka berusaha memisahkan agama dari negara dan menjadikan kebangsaan Arab sebagai asas ideologi. Mereka juga mempropagandakan bahwa Turki telah merampas Kekhilafahan Islam dari tangan orang-orang Arab. Turki juga dituduh telah melanggar syariah Islam dan melanggar batas-batas agama.
Ternyata serangan misionaris dengan mengatasnamakan agama dan ilmu tidak hanya menjadi perhatian AS, Inggris dan Prancis semata; tetapi juga menjadi perhatian sebagian besar negara Eropa Kristen seperti Rusia. Rusia mengirimkan agen-agen misionarisnya. Mereka saling bekerjasama dengan agen-agen misionaris dari negara lainnya. Mereka bahu-membahu menyebarkan agama Kristen, mengekspor pemikiran Barat, serta menanamkan keraguan kaum Muslim atas agama mereka. [Gus Uwik]

Tuesday, January 6, 2009

MERANCANG ZIONIS RAYA

MERANCANG ZIONIS RAYA

Oleh : Zulharbi Salim

Sulit memang, jika tidak dapat disebut mustahil, pendapat umum internasional akan sepakat dapat menyelesaikan peperangan dengan berbagai jenis senjata. Perang yang kita saksikan abad ini, adalah invasi sekutu AS ke Irak, sebelumnya invasi ke Afghanistan, kini masih berlanjut perang di Palestina.
Opini dunia memberikan tanggapan saling berbeda, tidak sama. Apabila ada perang berkecamuk dibelahan dunia ini, tentu akan membawa malapetaka yang sangat hebat terhadap pengorbanan manusia dan itu dapat terjadi kapan dan dimana saja.
Bangsa Arab sudah terpecah belah setelah Irak bertekuk lutut kepada Zionis dan berakhir sudah hikayat 1001 malam. Tidak ada lagi peran Shahrazad dan Shahrayar mendongeng menghibur sang Raja ditengah malam. Tidak ada orang yang tergelak lagi melihat tingkah polah Abu Nawas. Tamat sudah riwayat pusat peradaban dunia di Timur Tengah. Yang tinggal hanya puing-puing berserakan…
Sepanjang lorong jalan-jalan kota Bahgdad yang dulu menjadi primadona para turis, budayawan dan sejarahwan kini menjadi sepi dan penuh debu. Yang terlihat hanya bekas reruntuhan puing-puing gedung megah peninggalan hantaman rudal penjajah baru Zionis.
Keadaan di Baghdad menjadi sangat mengharukan, tidak lebih kurang seperti yang diperbuat tentara Israel terhadap rakyat dan rumah-rumah rakyat Palestina.
Minggu pertama setelah Baghdad lumpuh, terjadilah penjarahan oleh berbagai pihak di gedung-gedung pemerintahan, toko-toko, kediaman para mantan pejabat Irak termasuk Istana Presiden. Para penjarah ini termasuk oknum tentara sekutu.
Konon 2000 tentara Zionis Israel (tentu berbaju seragam militer AS) bergabung bersama-sama marinir AS menduduki kota-kota Mosul, Nasiriyah dan Baghdad. (eramuslim.com) Tidak banyak orang tahu bahwa Israel sudah lama merencenakan untuk membumi hanguskan Irak dengan Saddam Hussein yang diktator.
Sejak tembakan rudal Scud Irak dalam perang Teluk I, Israel mendendam berat akan membalasnya suatu ketika. Saat invasi AS ke Irak inilah waktu yang tepat bagi Zionis Israel bergabung dan mendapat kesempatan pertama dalam perang Teluk ke II ini. Tokoh-tokoh dibelakang layar Zionis Israel ikut merencanakan serangan jauh-jauh hari, seperti yang diungkapkan PM Israel Ariel Sharon kepada Radio Israel bahwa "Amerika harus tunduk dibawah kemauan Israel. Israel tidak perlu repot-repot mencaplok Irak, Amerika sudah berada dibawah kendali bangsa Yahudi".
Ungkapan sombong Ariel Sharon itu menjadi kenyataan dan kemudian akan meneruskan invasinya dengan mudah ke Negara Arab lainnya untuk memulai era baru Zionis Raya sebagai Greater Zionist Israel Planned, yang dimulai dari Herzliya dan Haifa dipantai Laut Tengah menuju Beirut di Lebanon, terus ke Allepo, Homs, Palmyra terus ke Der Al-Zour di Suriah, tiba di Baghdad (meliputi sungai Tigris dan Efurat) ke selatan Irak tiba di Basra menuju ke Kuwait termasuk pelabuhan Om Kasr, Pulau Bobyan dan Teluk Parsi sampai ke Dammam di Saudi Arabia, melalui Hafar Batin, Hail, Medinah, Tabuk, dan Teluk Aqabah, berakhir di Semenanjung Sinai. Wilayah inilah yang meliputi wilayah Zionis Raya yang sudah masuk dalam master plan Zionis Internasional. (lihat peta).
Demikian juga halnya dengan pembangunan pipa minyak yang disebut sebagai Trans Pipa Minyak Arab (Trans Arabian Pipeline atau Tapline). Saluran pipa itu menghubungkan mulai kota Dammam di Saudi Arabia sampai ke Sidon di Palestina. Pengaliran minyak Irak akan disambungkan dari Mosul melalui Suriah dan Jordania dan berakhir di Haifa.
Tujuan invasi AS ke Irak adalah untuk mengujudkan impian Israel Raya, disamping menjadikan minyak sebagai komoditi terbesar. Negara-negara Arab yang menjadi target berikutnya tentu Suriah dan Lebanon. Jordania pada hakikatnya sudah tidak masalah karena negara ini sudah lama dibawah pengaruh Amerika dan Inggris dan tentu saja Israel berada dibelakangnya.
Untuk menjinakkan Suriah dan Lebanon AS dan sekutunya tidak perlu tergesa-gesa, tidak perlu dalam bentuk invasi militer, cukup dengan gertak diplomasi. PM Ariel Sharon secara terang-terangan meminta segera AS menginvasi Suriah dan Lebanon, karena menganggap Suriah pusat pelatihan pejuang-pejuang Palestina menentang Israel (Israel menyebutnya teroris). Di Suriah dan Lebanon terdapat pasukan Hizbullah sempalan Syi'ah pro Iran yang anti Israel. Apabila Suriah tidak diserang, bahaya laten akan datang menghantam Isarel dari High Golan dan Lebanon Selatan. Israel juga menuduh Suriah mempunyai senjata pemusnah massal seperti Irak. Nyatanya sampai saat ini tidak terbukti.

Pemerintahan boneka
Pejabat AS mengatakan bahwa kader-kader Irak akan menerima jabatan pemerintahan sementara dari Gubernur Jenderal (GJ) AS sebagai kaki tangan Presiden Bush, Jenderal Jay Garner.
Jay Garner dijuluki sebagai Sheriff of Baghdad, juga disebut sebagai Gubernur Jenderal model penjajahan Inggris dan Raja atau Presiden Irak yang baru. Garner akan membawahi beberapa jenderal sebagai penguasa baru. Garner sangat dekat dengan The Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA), seorang pengagum militer Israel.
Pentagon memulai tugasnya mengirimkan tim warga Irak yang menetap dipengasingan ke Baghdad untuk dipersiapkan menjadi pemimpin sementara (baca : boneka) AS.
Menurut pejabat AS mereka adalah pejabat berpengalaman dalam memimpin administrasi yang akan ditempatkan di 23 departemen untuk memulai tugasnya sebagai orang-orang terpercaya AS dan Inggris dibawah komando Jay Garner, seorang pensiunan jenderal yang kini ditunjuk menyelesaikan masalah-masalah sipil setelah jatuhnya Irak.
Mereka adalah kader-kader teknokrat yang sudah dibina sejak lama di wilayah Virginia AS untuk siap dikirim ke Irak begitu selesai direbut dari rezim Saddam Huusein.
Setelah tiba di Baghdad Yay Garner langsung melobi tokoh-tokoh Irak anti Saddam Hussein yang akan dipromosikan sebagai batu loncatan mendirikan pemeritahan boneka sementara di Irak akhir bulan April ini, lebih cepat dari rencana semula. Pembentukan pemerintahan ini lebih dititik beratkan kepada kader-kader Irak yang sudah digembleng di pengasingan, ketimbang mengambil pemimpin oposan dari dalam negeri Irak yang belum tentu berdidekasi baik. Lobi Garner ini mencakupi juga mendekati tokoh Syi'ah yang selama ini dibelenggu Saddam, tapi pro Amerika.
Ketua Partai Kongres Nasional Irak, Ahmad Chalabi merupakan calon kuat untuk memimpin Irak. Chalabi selama ini mengungsi di London dan mendapat kepercayaan AS dan Inggris. Ia adalah binaan CIA dan didukung oleh JINSA. Chalabi didukung Pentagon, tapi ditentang oleh Menlu Collin Powel karena dipandang tidak bersih. Berkat hubungannya yang kuat dengan lobi Zionis, ia mempunyai peluang cukup besar. Chalabi ketika Perang Teluk I pernah menerima bantuan dari AS sebesar 12,5 juta dolar untuk membantu rakyat Irak dipengasingan, tapi di korupnya untuk kepentingan pribadi.
Calon lain yang diorbitkan AS adalah Zalmay Khalizad. Ia adalah orang kepercayaan Presiden Bush yang menjadi duta dalam Pasca perang Irak, dan sebelumnya menjadi duta dalam perang Afghanistan. Lobinya terkenal kuat dengan para mullah dan kaum Syi'ah. Dukungannya tentu diberikan oleh JINSA dan sebagai arsitek ekonomi membangun pipa minyak di Afghanistan, ia termasuk salah seorang anggota perancang Trans Arabian Pipeline (Tapline) yang menghubungkan Sidon (Haifa) di Palestina menuju Dammam di Saudi Arabia. (lihat peta). Khalizad berperan mengalirkan minyak Irak Mosul-Haifa melalui Trans Jordania Pipeline dan dalam waktu dekat akan beroperasi. Jika aliran minyak ini mengalir, biaya minyak Israel dapat dihemat 25%.
Selain itu Khalizad bersama Paul Wolfowitz (mantan Dubes AS di Jakarta, 1980) kini Wakil Menhan AS adalah seorang tokoh Zionis yang menjadi arsitek invasi AS ke Irak, pernah menulis makalah yang disampaikan kepada Kongres berjudul Overthrow Him. Khalizad salah seorang arsitek yang berencana menggulingkan Saddam Hussein dengan bantuan Iran, tapi gagal.
Dengan munculnya nama-nama yang selama ini tidak pernah dikenal rakyat Irak akan menimbulkan kontroversi, pro dan kontra. Barisan teknokrat anti Saddam ini, sepenuhnya mendapat dukungan dari Zionis Israel dan AS akan membentuk penguasa baru yang diberi nama Dewan Pembangunan Kembali Irak.
Belum diketahui secara pasti bagaimana bentuk pemerintahan boneka yang baru tersebut. Disebut-sebut nama Eng. Imad Diya yang lari dari Irak 21 tahun yang lalu sebagai penasehat Jay Garner akan menjadi pemimpin dalam menyusun penmerintahan sementara, semuanya ada 150 orang kader dan tenaga ahli tempaan Amerika yang segera menuju Baghdad dalam waktu dekat ini. Diantara mereka itu terdapat pakar perekonomian dan pertambangan yang pernah diusir Saddam atau melarikan diri ke luar negeri.
Ir. Imad Diya ketika meninggalkan AS menuju ke Kuwait dan terus ke Baghdad menyatakan kepada pers bahwa "apa yang akan terjadi di Irak adalah impian kami sejak lama yaitu membangun kembali Irak baru dalam demokrasi rakyat yang selama 34 tahun yang lalu diharamkan oleh rezim Saddam yang diktator".
Suriah menanti giliran
Pengamat politik Lebanon George Fersakh menyebutkan jika Suriah ditinggalkan sendirian menghadapi tuduhan AS dan Zionis, bakal menjadi bahaya besar Negara-negara Arab. Suriah dituduh bersekongkol dengan Irak dan mempunyai senjata pemusnah massal, oleh karena itu perlu di invasi seperti Irak untuk mencapai cita-cita Zionis Raya.
Republik Arab Suriah yang luasnya mencapai 185.180 km2 mempunyai kekayaan minyak mentah dan gas alam yang cukup besar, sebagai komoditi ekspor utama. Berpenduduk 18 juta jiwa, Presiden sekarang Dr. Bashar Al-Assad.
Menhan AS Donald Rumsfeld menyatakan bahwa senjata pemusnah massal Irak dilarikan ke Suriah dan konon kabarnya Saddam Hussein dan keluarganya juga berhijrah ke Suriah. Tuduhan ini tentu membuat Presiden Bashar Al Assad kupingnya menjadi merah. "Tidak benar itu", ucap jubir Kemlu Suriah Mdm. Buthaina Sya'ban. "Tuduhan itu tidak beralasan, silahkan lihat sendiri, Suriah tidak memiliki apa yang dituduhkan itu. Suriah bersedia bekerjasama dengan Amerika".
Soal akan diutupnya aliran minyak ke Suriah dari Irak menurut Buthania bukanlah masalah ensesial, namun perlu dipertimbangkan bahwa Suriah telah membeli minyak Irak setiap tahunnya seharga 1,2 milyar dolar AS. (Teshreen.com, 25/4)
Bermula dari ocehan PM Isarel Ariel Sharon, setelah Irak diserbu kini AS harus memberikan tekanan kepada Damaskus, tapi untuk saat ini belum perlu memberikan tekanan dengan invasi bersenjata. "Oh tidak dengan senjata dulu, cukup dengan jalur diplomasi dan tekanan ekonomi kepada Suriah", ucap Sharon sombong. (Haartez, 20/4).
Ucapan Sharon ini ternyata melunak setelah di bujuk AS untuk tidak bertindak drastis, berbeda dengan ucapannya seperti yang disebutkan diatas.
Seperti sudah di rekayasa Menhan Isarel yang baru, Shauul Mofazd menyulut kesombongan Sharon dengan mengatakan "Amerika tidak bisa menerima sikap Suriah pasca perang Irak. Di Suriah tempatnya sarang teroris dari kelompok Hamas, Hizbullah, Jihad Islam, Al Fatah sempalan anti Arafat dan teroris Palestina lainnya. Suriah nyata-nyata tidak mendukung invasi AS ke Irak, Suiiah adalah ancaman serius bagi AS".
Tidak heran Israel menginginkan Dataran Tinggi Golan wilayah Suriah tetap berada dibawah kekuasaan Zionis, karena Golan merupakan tempat yang paling strategis menghadapi Suriah. Dari puncak Golan, Israel dapat menyaksikan kota Damaskus dengan jelas yang hanya berjarak 70 km, sedangkan ke Jerusalem hanya 40 km.
Penulis ketika berkunjung ke Puncak Golan tahun 2001 yang bersuhu 10 derjat dimusim dingin dapat melihat dengan mata kepala kendaraan Israel yang lalu lalang diseberangnya, tidak jauh dari pusat radar pengintai dini (inzar mubakir) yang dipasang Israel di puncak Golan yang hanya berjarak 1500 meter dari Qunetra wilayah Suriah. Penduduk Palestina dan Suriah disana tetap menjalankan aktifitasnya dan mundar mandir lewat pos penyekat PBB antara puncak Golan di Israel dengan puncak Golan di Suriah.
Suriah kini hanya menanti waktu saja dan ini jangan dibiarkan, jika Suriah diserang terwujudlah impian Zionis Raya Israel. PR buat Liga Arab dan dunia Islam*

*) Penulis pemerhati masalah Timur Tengah, menetap di Bukittinggi

**) Opini sorotan dan komentar, harian HALUAN Padang, 1 Mei 2003

rencana israel raya (eretz yisrael)

Rencana Eretz Yisrael
Oleh Wawan Kurniawan







http://kainsa.files.wordpress.com/2007/11/the-promise-land.gif

“Dari Nil ke Eufrat” (Theodor Herzl, Complete Diaries, Vol.II, hal 771)

“Tanah yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon” (Testimoni Rabi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, di depan UN Special Committee of Enquiry pada 9 Juli 1947)

Tulisan Saudara Ibnu Burdah tentang “Rencana Strategis Israel” (Republika, 06/10) menarik untuk dicermati lebih jauh. Pencermatan itu diperlukan karena Ibnu Burdah tidak memfokuskan bahasan opininya apa sebenarnya rencana strategis Israel itu. Ibnu Burdah hanya sekadar memberi pengantar: batas final pada 2010.

Rencana Pendek 2010
Istilah yang lebih tepat dan sering dikatakan Ehud Olmert adalah batas permanen (permanent border). Olmert ingin batas permanen Israel selesai pada 2010 (David Makovsky, Olmert’s Bold Stand, USA Today, 19/05). Batas permanen ini diberlakukan hanya di Tepi Barat (West Bank) saja. Sedangkan, Jalur Gaza sudah mempunyai batas permanen karena wilayahnya yang mudah diatur (lihat Gaza Strip Border Crossings, Washington Institute for Near East Policy, 2005).

Ariel Sharon, sebelum terkena stroke, sudah menandaskan ketidaktertarikannya dengan Jalur Gaza. Jika melihat data CIA World Factbook 2005, Jalur Gaza merupakan wilayah sempit (620 km2) dengan penduduk padat (1.376.289 jiwa). Gaza memiliki pertumbuhan populasi 3,77 persen, rata-rata kelahiran 40,3 kelahiran per seribu penduduk, dan tingkat kesuburan 5,91 anak per wanita.

Gaza tidak cocok dengan tuntutan pemenuhan-meminjam istilah Nazi-lebensraum (ruang hidup) bangsa Yahudi di masa mendatang. Oleh karena itu, penarikan mundur tentara Israel dari Gaza pada 12 September 2005 kemarin bukan berdasarkan pada belas kasih atau tekanan internasional melainkan pada satu kenyataan saja: wilayah ini tidak layak untuk diduduki.

Tepi Barat merupakan wilayah dengan “tapal batas irisan” dengan wilayah Israel yang berliku-liku dan banyak kelokan. Ada beberapa bagian tanah Palestina yang menjorok ke wilayah Israel dan sebaliknya. Nah, batas permanen dibangun di atas bagian terluar wilayah Israel yang menjorok itu. Artinya, Israel akan mengakuisi tanah Palestina yang berada di dalam batas permanen itu secara sepihak.

Yang dimaksud tapal batas irisan adalah jalur hijau (Green Line) yang disebut juga sebagai batas wilayah sebelum perang 1967. Jalur hijau inilah yang diminta Hamas jika Israel menyetujui hudnah (gencatan senjata) selama 10 tahun.

Jika dihitung, batas permanen itu merampas 46 persen (2685 km2) wilayah Tepi Barat: 7,4 persen dari perbatasan lama (Green Line 1967), 2,1 persen blok, 8 persen tanah di belakang tembok, dan 28,5 persen Lembah Jordan. Bisa dipastikan batas permanen yang berupa tembok batu solid setinggi 10 kaki itu menusuk jauh ke dalam wilayah Tepi Barat dan mengeratnya menjadi enclave-enclave dengan begitu banyak checkpoint (pos pemeriksaan).

Jika Tembok Berlin sudah lama runtuh dan segregasi rasialis apartheid ala Afrika Selatan sudah lama berakhir, tembok “batas permananen” rasialis kini ada di Palestina.

Mengembangkan Perumahan
Olmert memiliki maksud tersendiri dengan batas permanen itu. Maksud itu berupa: ekspansi perumahan (settlement), mengamankan sumber air, dan mengukuhkan Jerusalem.

Di belakang tembok pembatas itu, Israel terus-menerus memperbesar kawasan pemukiman hingga mengepung Jerusalem Timur. Rencana E-1 (East-1 Plan) berusaha mewujudkan pemukiman Yahudi yang melingkari Jerusalem Timur: Givat Ze’ev di utara, Ma’aleh Adumim di timur, dan Etzion di selatan. Ma’aleh Adumim mencakup 53 km persegi dengan kapasitas mencapai 30 ribu residen.

Pada 1999, ada 177.441 orang Yahudi di Jerusalem Timur dan sekitarnya. Lalu bertambah menjadi 192.176 (2000) dan 203.443 (2001) (Israeli Settlements in the West Bank, Peace Now Settlement Watch, 31/12/01). Belum terhitung pada tahun 2006 ini.

Irosnisnya, dunia internasional (dan dunia Islam) tidak tanggap terhadap perkembangan ini. Sesungguhnya pembangunan pemukiman Israel itu jelas-jelas melanggar Resolusi DK PBB 446 (22 Maret 1979), 452 (20 Juli 1979), 465 (1 Maret 1980), dan 471 (5 Juni 1980). Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel selalu abstain dalam 4 resolusi tersebut.

Transfer orang Israel guna menempati pemukiman itu melanggar Protokol Jenewa Keempat pasal 49. Pasal itu menyatakan: “The Occupying Power shall not deport or transfer parts of its own civilian population into the territory it occupies.” Terlebih lagi, dalam Perjanjian Oslo (13 September 1993) Artikel V “Transitional Period and Permanet Status Negotiations” yang diagung-agungkan oleh Barat dan PLO itu sendiri tidak membahas masalah-masalah krusial seperti status Jerusalem, hak kembali para pengungsi dan pembangunan pemukiman Israel. Lengkap sudah ketidakberdayaan itu.

Menggenggam Jerusalem
Pengembangan perumahan dan transfer penduduk ini mempertegas kenyataan bahwa Israel tidak akan mengembalikan Jerusalam Timur ke Palestina. Israel merampas Jerusalem Timur pada perang 1967. Israel secara resmi menjadikan Jerusalem menjadi ibu kota melalui sebuah UU Dasar (Basic Law)pada 30 Juli 1980. “Jerusalem, complete and united, is the capital of Israel.” Tidak lama setelah itu, tepatnya 20 Agustus 1980, DK PBB mengeluarkan Resolusi 478 yang menentang penjadian ibu kota itu.

“Kota ini adalah kota yang dipilih Tuhan sebagai ibukota bangsa Yahudi. Tidak ada kekuatan di dunia yang bisa mengubahnya,” pesan mesianis Olmert kepada turis-turis Kristen yang datang melalui International Christian Embassy in Jerusalem (ICEJ) (Yedioth Ahronoth, 08/10). ICEJ dibentuk pada 1980-an untuk mendukung Israel.

Politik Air
Air dan nuklir adalah dua penopang utama eksistensi Israel di Timur Tengah. Air adalah sumber daya yang harus dikuasai Israel, bukan minyak. Karena menurut penulis, konflik abadi di Timur Tengah setelah minyak habis (peak) adalah air. “History reveals that water has frequently provided a justification for going to war: It has been an object of military conquest, a source of economic or political strength and both a tool and a target of conflict.” (James R. Lee dan Maren Brooks, Conflict and Environment: Lebanon’s Historic and Modern Nightmare, 1996)

Sebelum perang 1967, Israel hanya menguasai dua sumber air: laut (yang didesalinisasikan) dan Sungai Dan. Tetapi setelah 1967, Israel mendapat tiga sumber tambahan: Lembah Jordan, Sungai Banias (utara Dataran Tinggi Golan), dan Sungai Hasbani.

Sengketa Israel dengan negara-negara tetangga disebabkan oleh pendefinisian batas wilayah yang notabene terdapat (atau dekat dengan) sumber air. Suriah menuntut “penetapan kembali batas 1967″ yang dengan itu memungkinkan Suriah mengakses Sungai Jordan dan Laut Galilee. Konflik air Israel-Jordan diselesaikan di Wadi Araba pada Oktober 1994. Demikian halnya dengan Palestina-Israel (Sharif S Elmusa, The Water Issue and the Palestinian-Israeli Conflict, The Center for Policy Analysis on Palestine, Desember 1993).

Hampir separuh dari air yang digunakan oleh Israel berasal dari pertarungan dan perampasan dengan tetangganya (Thomas R Stauffer, Water and War in the Middle East: The Hydraulic Parameters of Conflict, The Center for Policy Analysis on Palestine, Juli 1996). Dan karena itu, mustahil bagi Israel mau mengembalikan kawasan yang terduduki semisal Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan kepada pemilik aslinya (Isabelle Humphries, Breaching Borders: The Role of Water In The Middle East Conflict, Washington Report on Middle East Affairs, September/Oktober 2006).

Sheeba Farm yang dijadikan Israel sebagai batu loncatan merampas Sungai Litani. Ada dugaan, perang Juli kemarin mengupayakan area Sungai Litani sebagai zona aman dengan membersihkan Hizbullah. Sungai Litani yang mempunyai kemampuan menghasilkan 920 juta meter kubik air bersih kualitas tinggi per tahun hanya berjarak 4 km dari perbatasan Israel.

Israel sudah lama ingin menguasai Sungai Litani (lihat Hussein A Amery, The Litani River of Lebanon, The Geographical Review, July 1993; Arnon Soffer, The Litani River: Fact and Fiction, Middle Eastern Studies, Oktober 1994; Ronald Bleier, Israel’s Appropriation of Arab Water: An Obstacle to Peace, Middle East Labor Bulletin, Spring 1994). Ben Gurion dan Moshe Dayan (Kepala Staf Tentara Israel 1953-1958) berungkali menyarankan penguasaan Sungai Litani.

Bahkan ketika perang 34 hari kemarin telah usai dan pasukan PBB telah tiba, Israel masih mencuri air Lebanon. Sebuah harian terbitan Beirut (Daily Star, 25/09) memberitakan hal tersebut.

Konflik Internal Palestina
Kisruh internal Palestina antara Hamas sebagai pemenang pemilu 25 Januari 2006 dengan Fatah yang telah berkuasa selama sepuluh tahun lebih membawa keuntungan sendiri bagi Israel. Ketiadaan soliditas Palestina membuat Israel bisa menjalankan agenda-agenda besarnya.

Meski dari permukaan luarnya Israel menganggap perseteruan Hamas-Fatah sebagai masalah internal Palestina (Financial Times, 10/6), ada sinyalemen Israel membantu salah satu pihak yang bertikai.

Terbetik kabar, Abbas meminta izin dari Israel untuk memperbesar jumlah pasukan pengawalnya, Force 17, dari 2 ribu menjadi 10 ribu (Ha’aretz, 28/05). Ekspansi pasukan ini mendapat bantuan senjata dari Israel melalui negara ketiga (Ha’aretz, 29/05). Ini menjawab kontroversi klaim Israel yang mengirim senjata ke Palestina (Mail & Guardian, 26/05) meskipun disangkal Fatah.

Lawatan Menlu AS Condoleezza Rice ke Timur Tengah kemarin mampir di Tel Aviv dan juga menemui Abbas. Tak lama sesudah itu, AS memberi bantuan 20 juta dolar kepada Fatah untuk memenangi pertarungannya dengan Hamas (VOA News, 05/10).

Melalui dua organnya yang sering campur tangan di negara-negara berkembang, National Democratic Institute (NDI) dan International Republican Institute (IRI), AS menyalurkan 42 juta dolar guna memperkuat kelompok-kelompok anti pemerintah (Reuters, 14/10).

Bulan-bulan ke depan akan menjadi ujian berat bagi Hamas. Mesir, Qatar, dan Jordan memberi peringatan bahwa Israel mempersiapkan operasi masif ke Jalur Gaza guna membebaskan Gilad Shalit. Bersamaan dengan itu, Fatah bersiap melanjutkan konfontrasinya (Fatah preparing showdown with Hamas, Jerusalem Post, 24/10).

Setali Tiga Uang, Buruh-Kadima-Likud
Kenyataan polarisasi di ranah politik Israel, yaitu kiri (Buruh), tengah (Kadima), dan kanan (Likud) tidaklah merefleksikan polarasasi kebijakan luar negeri. Mereka sama berkonvergen pada pendirian negara Israel di tanah Palestina.

Kadima merupakan sempalan Likud. Sedangkan Likud merupakan pengusung ide-ide nasionalis kaum Zionis Revisionis yang digagas oleh Zeev Jabotinsky. Di kalangan Yahudi, bisa dikatakan Jabotinsky adalah pemikir terbesar setelah Theodore Herzl.

Kaum Revisionis mengklaim daerah antara Sungai Eufrat dan Sungai Nil sebagai tanah Yahudi (Paul Findley, Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship, 1993). Dua ideolog utama Likud, Menachem Begin dan Yithak Shamir adalah murid langsung Jabotinsky.

Visi Buruh juga sama saja. “Mimpi batas Israel meliputi selatan Lebanon, selatan Suriah, Jordan hari ini, Tepi Barat, dan Sinai” dinyatakan oleh Ben Gurion di pertemuan World Council of Poale Zion (cikal bakal Buruh) 1938. Tokoh Buruh lainnya, Yithak Rabin, semasa menjadi menteri pertahanan (1984-1990) mengeluarkan kebijakan kontroversional “mematahkan lengan dan kaki” para demonstran intifada Palestina yang umumnya adalah anak-anak dan remaja.

Jabotinsky mendirikan Haganah (Defender). Begin dengan Irgun Zvai Leumi (National Military Organization), Shamir dengan Lehi (Lohamei Herut Yisrael/Freedom Fighters of Israel), dan Rabin dengan Palmach (penyerang). Semuanya adalah organisasi paramiliter yang menyokong pendirian negara Israel dengan meneror warga Arab (Cf. J. Boyer Bell, Terror out of Zion: The Irgun, Lehi Stern and the Palestine Underground, 1977).

Jika-mengutif Paul Fenley-Likud adalah nasionalisme mesianis dan Buruh sebagai sekuler pragmatis, Kadima adalah sinkretis keduanya. Hanya dalam waktu 3 bulan semenjak dinyatakan sebagai pemenang pemilu 2006, Kadima sudah berani membuat ulah dengan menginvansi Lebanon.

Olmert (61 tahun) dan menlu sekarang, Tzipi Livni, merupakan Likudites. Shimon Peres (83), wakil PM, awalnya merupakan aktivis kawakan Buruh yang kemudian bergabung dengan Kadima karena ajakan Ariel Sharon. Emir Peretz, ketua Buruh, menjadi menhan dalam kabinet Olmert. Dulunya, Peretz adalah anggota awal gerakan kiri Peace Now.

Jelas, warna Likud lebih dominan daripada Buruh. Olmert dengan sepengetahuan Peres membuat kesepakatan bahwa Livni-lah yang akan menjadi pengganti Olmert bila Olmert tidak dapat bertugas sebagaimana mestinya. Olmert sendiri sudah memberi sinyal akan menggeser ke kanan (New York Sun, 10/10).

Kabar terbaru, partai yang paling kanan (extreme right), Yisrael Beiteinu (Israel Rumah Kita), telah bergabung dengan aliansi Kadima-Buruh sejak 23 Oktober kemarin. Sebelas kursi Yisrael Beiteinu menyebabkan kursi total pendukung Olmert menjadi 80 atau dua pertiga parlemen.

Sang pemimpin partai fasis ini, Avigdor Lieberman, mendapat kursi baru s”Kementerian Ancaman Strategis” yang khusus merespon perilaku Iran. Sebenarnya, Lieberman adalah politisi hasil kaderisasi Netanyahu. Dia sempat menjadi orang penting Likud pada 1993-1996.

Lieberman adalah otak penentu kesuksesan Netanyahu pada kampanye 1996. Sharon memuji Lieberman sebagai menteri yang paling kapabel dalam kabinet 2001 dan 2003 (Scotsman, 10/23). Bisa dikatakan, Lieberman adalah “bayangan” Netanyahu dengan tipikal khusus: banyak bicara.

Sebuah poling yang dipublikasi harian terkemuka Israel Yedioth Ahronoth (21/10) mendudukkan Lieberman sebagai orang kedua yang pantas menjadi PM Israel mendatang setelah Netanyahu. Oleh karena itu, Lieberman dan Livni (keduanya sama-sama berumur 48 tahun) merefleksikan bagaimana Israel di masa depan.

Memang benar kelahiran Kadima mengguncangkan konstelasi politik Israel tetapi tidak untuk Timur Tengah. Pada dasarnya, Kadima adalah wajah lain Likud dan Buruh. Harapan besar yang digantungkan oleh media massa Barat kepada Kadima adalah propaganda absurd yang menyesatkan.

Pembangunan batas permanen, perluasan pemukiman, pengepungan Jerusalem, dan pencurian air memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Semua itu berjalan mulus dan lancar karena terselubungi oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak signifikan. Masalah-masalah yang direkayasa oleh Israel untuk mengalihkan perhatian dunia internasional dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tahun 2010 hanyalah rencana transisi saja. Visi Israel yang sebenarnya adalah seperti gambar bendera nasionalnya: bintang David di antara garis biru atas dan bawah. Hal itu berarti men-Zionis-kan wilayah-wilayah di antara Sungai Nil dan Eufrat. Itulah Eretz Yisrael (Israel Raya).
http://kainsa.wordpress.com/rencana-eretz-yisrael/#comment-561