Showing posts with label world. Show all posts
Showing posts with label world. Show all posts

Wednesday, June 9, 2010

Mimpi Buruk Israel Bernama Kapal Bantuan Kemanusiaan


Pasca pembajakan kapal Rachel Corrie yang membawa bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza di perairan Gaza, berita mengenai pengiriman kapal-kapal bantuan kemanusiaan baru dari menghiasi seluruh pemberitaan media-media massa.

Trasformasi terbaru mengenai upaya pembatalan blokade rakyat Gaza secara khusus dan pembebasan Palestina secara umum dengan sendirinya menjadi kartu truf bagi bangsa Palestina. Sebaliknya, pengiriman kapal bantuan kemanusiaan telah menjadi mimpi buruk bagi rezim Zionis Israel. Karena bila pengiriman tresebut berlangsung terus-menerus, maka pondasi rezim ini akan goyah. Itu artinya masa kehancuran rezim buatan Barat ini semakin dekat.

Pernyataan kesiapan Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki untuk ikut dalam kapal bantuan kemanusiaan, sekaligus melawat Gaza pasca sikap anti-Zionis-nya berhasil merenggut waktu tidur para pejabat Zionis Israel. Pernyataan itu membuat mimpi buruk bagi Zionis Israel menjadi semakin meluas. Dengan kata lain, langkah Erdogan, bila itu terjadi, akan menjadi sebuah langkah baru yang sangat membahayakan eksistensi Israel.

Gelombang anti-Zionis yang semakin memuncak ditambah dukungan yang semakin luas terhadap warga Gaza dan bangsa Palestina di seluruh dunia dapat disaksikan dari aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat internasional di pelbagai penjuru dunia. Bila rasa kebencian terhadap Zionis Israel dan dukungan terhadap Palestina terus berlangsung yang dinyatakan lewat pengiriman konvoi-konvoi kapal bantuan kemanusiaan, Zionis Israel harus mengakui bahwa aksi ini dapat menggoyahkan sendi-sendi rezim ini yang dibangun secara haram di tanah Palestina.

Bila kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang berisikan para aktivis kemanusiaan dan perdamaian dari seluruh dunia berkumpul di perairan internasional dekat Gaza dipandang sebagai manuver manusia-manusia merdeka dan aksi solidaritas terhadap Gaza, niscaya rezim Zionis dan para pendukungnya berada dalam kondisi yang sulit. Tidak hanya itu, membayangkan terjadinya peristiwa tersebut saja sangat menyiksa mereka.

Sekaitan dengan hal ini, Manouchehr Mottaki, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran dalam sidang istimewa sekretariat pelaksana Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang diselenggarakan hari Ahad (06/6) di Jeddah meminta masyarakat internasional, khususnya negara-negara Islam melakukan aksi nyata dan segera terhadap rezim Zionis Israel. Untuk itu Menlu Mottaki mengusulkan agar negara-negara Islam secara simbolik mengirimkan kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza. Menurut Mottaki, aksi ini harus dilakukan berkali-kali dan dengan pelbagai cara. Dengan demikian, diharapkan kejahatan Zionis Israel dan para pendukungnya harus menyadari sedang berhadap-hadapan dengan kekuatan hati nurani manusia yang tak terkalahkan.

Dalam pidatonya, Mottaki mengatakan, "Kami membutuhkan puluhan kapal bantuan kemanusiaan dengan bendera dari pelbagai negara menuju Gaza." "Sangat tepat bila dalam periode masa genting ini, setiap negara anggota OKI mengirimkan sebuah kapal bantuan kemanusiaan ke Gaza sebagai langkah awal," tambah Mottaki.

Bila usulan ini diterima oleh negara-negara anggota OKI, setidak-tidaknya akan ada 54 kapal sebagai perwakilan 1,5 miliar umat Islam yang akan menuju tanah air Palestina yang dirampas oleh para imigran Zionis. Bila gerakan simbolik ini dilakukan oleh negara-negara Islam, pembebasan al-Quds sebagai kiblat pertama umat Islam menjadi sesuatu hal yang mungkin.

Bila merunut ke belakang, pembentukan Organisasi Konferensi Islam oleh negara-negara Islam bermula ketika rezim Zionis Israel membakar Masjidul Aqsa, kiblat pertama umat Islam, pada 21 Agustus 1969. Demi mengutuk kejahatan itu, pada bulan September tahun yang sama, negara-negara Islam berkumpul di Rabat, Maroko dan secara resmi membentuk OKI pada bulan Mei 1971. Kini OKI telah memasuki usianya yang ke-40 dan mereka dapat kembali mengambil keputusan bersama menghapus kanker bernama rezim Zionis Israel untuk selamanya.

Bila mencermati negara-negara Islam yang membentuk sepertiga anggota PBB dan posisi strategis mereka di dunia, tentu saja mereka dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Betapa tidak, 74 persen cadangan minyak dunia dan 50 persen cadangan gas dunia dikuasai negara-negara Islam. Dengan catatan ini saja, semestinya negara-negara Islam tidak punya masalah bila ingin melaksanakan tanggung jawabnya di hadapan Palestina.

Tanggung jawab terhadap bangsa Palestina ini secara transparan dimasukkan dalam butir kelima dari tujuh tujuan pendirian OKI yang diratifikasi tahun 1972. Butir kelima itu menyebutkan, "Mengkoordinasi seluruh upaya demi melindungi tempat-tempat suci, membantu perang yang dilakukan bangsa Palestina dan bantuan kepada mereka demi meraih hak-hak dan pembebasan tanah air mereka."

Apakah dengan berlalunya 40 tahun dari ratifikasi butir kelima dari piagam OKI, masih belum cukupkah bagi mereka untuk melaksanakan butir ini dengan mengirimkan kapal bantuan kemanusiaan mereka ke Gaza?(IRIB/SL)

Siapa Pelatih Militer Taliban?‎

Tentara Inggris melatih dan memberikan bantuan dana kepada gerilyawan Taliban di ‎wilayah selatan Afganistan. Hal itu diungkap salah seorang anggota Taliban.

Press TV ‎melaporkan, Mulla Abdussalam Hanafi kepada situs pemberitaan Beneva mengatakan, ‎dalam beberapa tahun terakhir gerilyawan Taliban mendapat pelatihan militer dari ‎tentara Inggris. Tak hanya itu, setiap bulan Inggris juga memberi 300 dolar kepada ‎masing-masing anggota Taliban.‎

Mulla Abdussalam Hanafi adalah salah seorang senior di jaringan Taliban. Dia sempat ‎menjabat sebagai Gubernur Uruzgan saat Taliban berkuasa di Afganistan. Fakta ‎tersebut diungkap Hanafi setelah Inggris secara terbuka membeberkan prakarsa ‎damai dengan Taliban.‎

Tahun 2001, AS yang dibantu Inggris dan sejumlah negara sekutunya menyerang ‎Afganistan dengan alasan untuk menumpas kelompok Taliban. Serangan dan ‎pendudukan Afganistan hanya membuat negara itu tenggelam dalam ketidakamanan ‎dan kekacauan. Warga sipil adalah pihak yang paling banyak menderita akibat invasi ‎dan pendudukan asing di Afganistan.(IRIB/AHF/PH)‎

Sunday, May 30, 2010

Inilah Wajah-wajah Iblis Yang Menyeramkan! Bukan Rekayasa

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah situs luar negeri yang memuat wajah Paus Benedict XVI yang digambarkan sebagai seorang Iblis. Dan hal ini tidak ada rekayasa sedikitpun. Kasus ini mungkin karena banyaknya terjadi skandal pelecehan seksual yang didapati oleh Gereja. Sehingga terciptalah wajah-wajah iblis tersebut.

Saya tidak bermaksud sara, karena saya hanya meng-copy paste saja. Di lain tempat, saya menemukan beragam hujatan di facebook yang diarahkan kepada Islam dan Umat Islam serta Nabi-nabi Islam. Seperti ini ---> 1

Kebencian mereka menghinakan umat Islam dan nabi-nabi umat Islam terlihat begitu bodoh sekali. Nah, sekarang bukti nyata telah kita ketahui sejak dulu. Hanya orang bodoh saya yang mengikuti ajaran pendeta-pendeta yang menyimpang dalam berbagai skandal pelecehan seksual. Ok, mari kita lihat wajah-wajah ibil tersebut:

1. Sini… anak-anak…. mari kemari hihihihihii

image

2. Aku adalah Santa hehehe

image

3. Bodoh sekali mereka, orang-orang tidak akan mencurigaiku

image

4. Jadilah seperti aku, sang iblis

image

5. Bloommm… hehehe

image

6. Apakah aku sudah tampak seperi Nazi?

image

7. Hahahaha….barakaraba

image

8. Saya akan kembali hihiihihihi

image

9. Kalia tidak akan pernah bisa lari dariku hahahahaha

image

10. HUPSSS, ilmu menghilangkan wajah

image

11. Tenanglah, kamu akan sedikit menderita

image

Sumber: buzzfeed

http://suara01.blogspot.com/2010/04/hot-inilah-wajah-wajah-iblis-yang.html

Thursday, June 25, 2009

Penguasa Boneka

Memanasnya isu Ambalat, yang secara kasatmata melibatkan Indonesia dengan Malaysia, tidak bisa dilihat sebagai konflik antara Indonesia dan Malaysia.

Ambalat adalah blok kaya minyak. Produksinya, menurut sumber resmi Kementerian ESDM, diperkirakan sekitar 30.000-40.000 barel perhari. Bahkan kawasan perairan Ambalat ini, menurut ahli geologi dari lembaga konsultan Exploration Think Tank Indonesia (ETTI), Andang Bachtiar, mengandung cadangan minyak yang luar biasa. Satu titik tambang di Ambalat menyimpan cadangan potensial 764 juta barel minyak dan 1,4 triliun kaki kubik gas. “Itu baru satu titik dari sembilan titik yang ada di Ambalat,” ujarnya (Tempo interaktif, 2/6/2009).

Dari situlah semuanya bermula. Petronas, perusahaan minyak milik Malaysia, memberikan konsesi pengeboran minyak di Blok Ambalat kepada Shell (perusahaan milik Inggris dan Belanda) 15 Februari 2005. Indonesia sendiri, menurut Marty Natalegawa, Jubir Deplu kala itu, sudah memberikan konsesi kepada beberapa perusahaan minyak dunia di lokasi ini sejak tahun 1960-an, antara lain kepada Total Indonesie untuk Blok Bunyu sejak 1967 yang dilanjutkan dengan konsesi kepada Hadson Bunyu BV pada 1985. Konsesi lainnya diberikan kepada Beyond Petroleum (BP) untuk Blok North East Kalimantan Offshore dan ENI Bukat Ltd. Italia untuk Blok Bukat pada 1988.

Jadi, perairan Ambalat, yang terdiri atas tiga blok—East Ambalat (dikelola Chevron-AS), Ambalat (ENI Lasmo-Italia) dan Bougainvillea—secara bisnis dan ekonomi memang sangat menggiurkan. Lalu siapa yang diuntungkan dari konflik ini? Jelas bukan Malaysia dan Indonesia, tetapi negara-negara penjajah seperti AS, Inggris, Belanda dan Italia. Karena itu, konflik Ambalat ini sejatinya adalah konflik kepentingan negara-negara penjajah itu. Hanya saja, mereka tidak berhadap-hadapan secara langsung, tetapi cukup dengan menggunakan para penguasa boneka, baik di Indonesia maupun Malaysia.

Di Pakistan, kita menyaksikan bagaimana para penguasa boneka Barat digunakan untuk membumihanguskan rakyatnya sendiri di Lembah Swat. Di negeri tetangganya, Afganistan, para penguasa boneka itu bahu-membahu dengan tentara NATO dan AS untuk melawan rakyat Afganistan yang tergabung dalam gerakan Taliban.

Di Somalia, Syeikh Syarif Ahmad yang kemarin menjadi mitra partai Islam dan para pemuda Mujahidin dalam peperangan menghadapi pemerintah yang loyal kepada Amerika dan pasukan Ethiopia, kini harus berbalik arah. Sang boneka itu pun berhasil dibeli oleh Amerika dan kini harus memerangi kedua kelompok yang sebelumnya berjuang bersamanya.

Para tentara penguasa boneka Arab seperti Mesir, Suriah dan Arab Saudi juga sama. Mereka telah berperang di pihak Amerika dalam Perang Teluk, dengan alasan membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak, yang dianggap orang-orang asing. Penguasa boneka di Irak sendiri juga telah memerangi kelompok perlawanan Kurdi. Bahkan setelah pendudukan Amerika di Irak, penguasa boneka itu pun memerangi para Mujahidin di Irak. Ironisnya, mereka sama sekali tidak berusaha memerangi Amerika, Inggris dan sekutunya.

Di Palestina juga demikian. Aparat keamanan Palestina yang kemarin menjadi mitra kelompok perlawanan dan pemerintah, kini harus berhadap-hadapan. Ironisnya, mereka tidak sungguh-sungguh melakukan perlawanan terhadap Israel.

Iran juga sama. Para penguasa boneka di negeri mullah itu membantu Amerika di Irak dan Afganistan. Bahkan beberapa waktu yang lalu para penguasa Iran, Afganistan dan Pakistan bertemu. Mereka sepakat untuk memerangi terorisme dan menjaga keamanan di perbatasan, agar para teroris itu tidak bisa keluar-masuk wilayah mereka.

Siapapun yang mencermati peristiwa dan realitas politik di atas akhirnya bisa menemukan jawaban, bahwa sesungguhnya Amerika, Inggris dan negara-negara penjajah telah menggunakan negeri-negeri tersebut berikut para tentaranya untuk menceburkan diri dalam medan peperangan dengan menjadi bonekanya di wilayah-wilayah tersebut.

Operasi militer yang dilakukan tentara Pakistan sejatinya merupakan operasi yang dilakukan untuk menggantikan Amerika di wilayah kabilah (FATA) yang telah dikuasai kelompok perlawanan Afganistan. Karzai dan gerakan-gerakan yang berkoalisi dengannya juga sama. Mereka telah terlibat dalam peperangan dan bahu-membahu dengan tentara Amerika di Afganistan untuk mempertahankan posisi, aset dan kepentingan Amerika di wilayah itu.

Di Irak, sudah menjadi rahasia umum, bahwa para penguasa Arab telah bersekutu dengan Amerika. Mereka terlibat dalam peperangan untuk melawan tentara Irak; membuka jalan bagi Amerika untuk menduduki Irak, merampas kekayaannya, membunuh dan mengusir jutaan warganya. Begitu juga dengan pemerintah boneka yang dibentuk oleh Amerika di Irak. Pemerintahan ini dibentuk atas dasar aliran, termasuk membentuk gerakan Ashahwah. Kelompok ini berhasil digunakan untuk memerangi semua gerakan perlawanan di Irak, menggantikan tugas Amerika.

Di Somalia, tugas Amerika berhasil digantikan dengan baik oleh pemerintah boneka, Syeikh Syarif Ahmad.

Di Palestina, Jenderal Amerika, Dayton, berhasil mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membersihkan semua kekuatan perlawanan dari aparat keamanan. Kemudian, ia melatih generasi baru yang rela untuk mengawasi dan menangkapi “saudara-saudara mereka sendiri, meski harus menggunakan kekuatan senjata”, atau bahkan menjadi mitra pemerintah dalam rangka menjaga keamanan orang-orang Yahudi serta melestarikan kepentingan, pengaruh dan cengkeraman Amerika di Palestina.

Mereka inilah yang disebut oleh Nabi saw., “ar-Rajulu at-tâfih yar’a syu’ûna al-’âmmah (Orang idiot yang mengurus urusan orang banyak).”

Tepat sekali sebutan Nabi saw. Bagaimana tidak idiot, seorang presiden kafir, dari negara kafir, yang tangannya masih berlumuran darah kaum Muslim, dan pasukannya siang dan malam masih terus membantai saudara-saudara mereka di Irak, Afganistan, Pakistan dan Somalia disambut begitu rupa, bahkan mengajari mereka kepentingan mutual respect (saling menghormati)?

Mengapa umat Islam belum juga mengambil kendali kekuasaannya, menyatukan dirinya dan menegakkan Khilafah yang akan menerapkan Islam secara kâffah, mengemban risalah, cahaya dan petunujuk kepada seluruh umat manusia, sehingga umat manusia terbebas dari kegelapan, kezaliman dan kejahatan Amerika dan negara-negara penjajah lainnya menuju keadilan Islam? Setelah itu, Khilafah akan mengembalikan posisi kaum Muslim pada kedudukan yang semestinya dan menjadikan negaranya sebagai negara adadidaya dunia, menggantikan AS, Inggris, Uni Eropa, Rusia dan Cina. []Hafidz Abdurrahman

Krisis Iran : Diambang Revolusi Baru?

Adnan Khan (Jumat 19 Juni 2009)

Apa penyebab krisis di Iran yang menyebabkan demonstrasi besar-besaran di kota Teheran?

Krisis ini disebabkan oleh hasil pemilu yang terjadi pada tanggal 12 juni 2009.

Hasil pemilu yang diumumkan pada tanggal 13 Juni 2009 oleh Mendagri Sadiq Mahsouli.
Ia menyatakan bahwa Mahmoud Ahmadinejad telah terpilih kembali dengan 62% suara, sedangkan kandidat reformis Mir Hossein Mousavi hanya mampu meraih 33% suara saja. Mahsouli menambahkan bahwa jumlah pemilih mencapai 85% dengan lebih dari 39 juta dari 46,2 juta pemilih telah melakukan pilihan mereka di TPS. Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khameini pun dengan segera mengeluarkan pernyataan bahwa ia mendukung hasil pemliu dan menyerukan kepada publik untuk mendukung pemenangnya.

Uni Eropa dan beberapa negara barat menyuarakan keprihatinan mereka terhadap adanya dugaan kecurangan dalam pemilu tersebut. Beberapa analis dan jurnalis dari media Eropa dan Amerika mengutarakan keraguan terhadap keabsahan hasil pemilu tersebut.

Mousavi mengeluarkan pernyataan,” Saya ingatkan bahwa saya tidak akan menyerah terhadap kepalsuan,” dan dia mendorong para pendukungnya untuk melawan keputusan ini sekaligus mengingatkan untuk tidak melakukan aksi kekerasan. Protes yang mendukung Mousavi dan dugaan kecurangan pun meletus di Tehran.

Pada prinsipnya, dunia Barat dan kandidat dari kalangan reformis partai oposisi menolak hasil pemilu.

Apakah ada tanda-tanda kebenaran dari klaim tersebut?

Beberapa tindakan inkonsistensi telah dilaporkan dan dugaan adanya rekayasa perhitungan suara juga tidak bisa ditepis begitu saja. Di saat yang sama, diamnya tokoh yang jauh lebih berpengaruh seperti Rafsanjani dan Larijani juga merupakan indikasi yang kuat bahwa dugaan kecurangan kurang mendapat dukungan yang luas. Klaim kecurangan juga sulit diverifikasi kalaupun akan diselidiki. Hasil final yang memberikan Ahmadinejad perbedaan marjin sebesar 11 juta kartu suara akan sangat sulit untuk di hitung ulang.

Padahal tanpa penyelidikan akan sulit untuk membuktikan adanya rekayasa penghitungan suara. Namun akan juga sulit bagaimana Ahmadinejad mampu mencuri suara sebesar itu dengan marjin yang sangat besar. Untuk mencapai hasil seperti itu membutuhkan tim yang sangat besar dan ditempatkan pada setiap TPS. Resikonya akan sangat besar karena Ahmadinejad memiliki banyak rival politik yang akan dengan cepat mengambil kesempatan kalau memang ada indikasi kecurangan. Mousavi setelah 5 hari menyampaikan keluhannya kepada dewan Keamanan belum menghasilkan suatu penjelasan bagaimana kecurangan ini bisa terjadi.

Yang membuat tuduhan kaum reformis tentang kecurangan pemilu menjadi lemah adalah fakta bahwa keberadaan Ahmadinejadi dalam konferensi puncak Shanghai Cooperation Organisation (SCO) beberapa hari setelah hasil pemilu diumumkan. Kepergiannya tentu tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan pemimpin spiritual tertinggi Ali Khomeini dan tokoh berpengaruh lainnya.

Khutbah Jumat pertama setelah pemilu nampaknya juga akan menghentikan arus demonstrasi dan juga pemilu ulang. Pemimpin spiritual Iran dalam khutbahnya di Universitas Tehran mengkritik Mousavi yang tidak menerima hasil pemilu dan yang juga bertanggungjawab terhadap adanya rentetan demonstrasi. Maka pernyataan Ali Khomeini ini secara tidak langsung merupakan dukungan terhadap hasil pemilu.

Saat ini kandidat dari kaum reformis menyatakan bahwa hasil pemilu ini berlawanan dengan mayoritas warga Iran yang menurut mereka beroposisi terhadap presiden Iran sekarang Mahmoud Ahmadinejad dan kebijakannya. Mereka juga mengatakan bahwa aspirasi ini dicuri oleh diktator yang tidak populer yang terkesan memenangkan pemilu dengan angka yang sangat dramatis.

Seberapa jauh persaingan antara kubu konservatif melawan kubu reformis?

Kaum konservatif mulai berkuasa sejak keberhasilannya mencetuskan revolusi Islam Iran di tahun 1979. Mahmoud Ahmadinejad sendiri dilaporkan sebagai salah satu otak yang mengendalikan terjadinya krisis penyanderaan di kedubes AS sebagai bentuk dukungan terhadap revolusi Iran. Akhirnya, Iran pun mengalami masa isolasi dari masyarakat internasional, yang menyebabkan rendahnya kepercayaan antara Iran dengan dunia Barat. Meninggalnya Ayatollah Rahullah Khomeini menyebabkan beberapa ulama senior Iran menyerukan adanya penghentian isolasi dari dunia internasional dan mendorong adanya perbaikan hubungan dengan Barat. Seruan reformasi ini dipimpin oleh Ali Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami, yang hingga kini merupakan perbedaan mendasar yang menimbulkan perbedaan aliran politik Iran.

Mohammad Khatami mengundurkan diri dari pemilu dan memberikan dukungannya kepada Mousavi untuk memastikan tidak adanya perpecahan suara untuk kubu reformis. Pemilu ini merupakan pertarungan antara kandidat konservatif yang yakin dengan Revolusi Islam dan kaum reformis yang percaya bahwa Iran harus meninggalkan revolusi Islam dan memperbaiki hubungan dengan Barat. Saat ini rezim Iran dan aparatnya dikendalikan oleh kaum konservatif.

Beberapa hari setelah pemilu terjadi berbagai demonstrasi yang menyerukan reformasi. Untuk beberapa waktu ada kesan bahwa Mousavi akan menyerukan gelombang perlawanan di Tehran secara besar-besaran. Namun kemungkinan itu berlalu ketika pasukan keamanan Ahmadinejad yang berkendaraan sepeda motor melakukan intervensi. Pada akhirnya Barat pun menghadapi skenario terburuk: pemimpin anti-liberal yang terpilih secara demokratis.

Media Barat banyak meliput permasalahan pemilu dan melaporkannya sebagai tanda-tanda akan terjadinya revolusi. Meski dua kandidat dalam pemilu ini mewakili dua kubu yang berbeda, garis yang membedakan mereka sebenarnya tidak terlalu jelas karena keduanya mulai bersikap dan mengambil kebijakan pragmatis.

Dalam wawancaranya dengan John Harwood dari CNBC, Barack Obama mengatakan,” Perbedaan antara Ahmadinejad dan Mousavi tentang kebijakan yang akan mereka ambil sebenarnya tidak tidak terlalu berbeda sebagaimana yang selama ini dilaporkan. Apapun hasilnya, kami akan tetap bekerjasama dengan siapapun yang memimpin rezim Iran, yang selama ini memusuhi AS.”

Meski di masa lalu perbedaan antara kaum reformis dan konservatif jelas terlihat, saat ini tidak demikian. Meski pada setiap kubu ada anggota yang saling menyerang, hal ini lebih bersifat personal ketimbang ideologi konservatif ataupun reformis. Kebencian terhadap
Ali Akbar Rafsanjani lebih karena ia melakukan korupsi ketimbang dia sebagai konservatif.

Media Barat melaporkan tanda-tanda akan adanya revolusi baru, apakah demikian?

Peliputan media massa Barat terhadap Iran saat ini terlalu berlebihan dan sangat bias. Ide revolusi ini terucap oleh laporan Barat dengan slogan seperti revolusi seru, generasi ipod, revolusi facebook, revolusi blog, dan revolusi hijau. Pangkal dari laporan Barat semacam ini berakar dari permusuhan mereka terhadap Revolusi Islam dan mendukung para reformis yagn menginginkan kebebasan di Iran yang liberal. Barat selalu mengangkat isu ini dalam interaksinya dengan Iran, dan tidak akan berhenti melakukannya.

Cerita mitos di dunia barat mengatakan bahwa kejatuhan Shah Iran adalah gerakan masyarakat yang menginginkan liberalisasi. Kalau saja kelompok reformis didukung oleh Barat, maka mereka akan menjadi penguasa dan pemerintah. Wartawan asing percaya bahwa mereka yang mendengarkan Beyonce memiliki iPod, memiliki blog, dan tahu bagaimana membuat hal-hal Seru, tentu merupakan penggemar habis liberalisme Barat. Individu semacam ini bisa ditemukan di kalangan profesional di Tehran dan juga pada kelompok mahasiswa.

Banyak diantara mereka yang berbicara bahasa Inggris sehingga bisa dikontak oleh wartawan Barat, diplomat, dan agen intelijen. Merekalah yang bisa dan mau berbicara kepada masyarakat Barat. Dari merekalah Barat memiliki informasi bahwa revolusi sedang terjadi di sana. Namun orang-orang ini tidaklah mayoritas. Kebanyakan warga Iran adalah miskin dan tidak mampu membeli iPod apalagi telpon, dan merekapun senang mendengarkan pidato Ahmadinejad yang anti Barat.

Kandidat yang kalah pemilu ini juga menggunakan data dari survei untuk membuktikan keluhan mereka. Hampir semua survei memprediksi kekalahan Ahmedinijad. Ia memiliki masa pemerintahan yang buruk dan sedikit sekali janji kebijakan politik yang berhasil ia lunasi, seperti tingginya pengangguran dan rusaknya infrastruktur industri energi Iran. Maka tidak heran apabila para pendukung kaum reformis oposisi, baik dari Iran maupun luar Iran, sangat terkejut mendengar kekalahan kaum reformis.

LSM AS Strategic Forecasting, yang bergerak di bidang kegiatan intelijen- melaporkan:” Hasil dari survei menunjukkan bahwa bekas perdana menteri Iran Mir Hossein Mousavi mengalahkan Ahmadinejad. Akan sangat menarik untuk dipelajari bagaimana seseorang bisa melakukan survei di negeri dimana telpon belum umum digunakan. Maka survei kemungkinan dilakukan terhadap orang yang punya telpon dan tinggal di Tehran dan sekitarnya. Untuk daerah seperti itu, Mousavi memang bisa saja menang. Tapi, di luar Tehran, angka survei bisa saja berbeda.”

Abbas Barzegar, yang melaporkan untuk harian The Guardian menceritakan reaksi Barat terhadap hasil pemilu sebagai angan-angan. Katanya, “ Wartawan Barat selama ini melaporkan dari sumber yang berasal dari daerah yang kaya di perkotaan dan tidak memperhitungkan besarnya dukungan terhadap Ahmadinejad di daerah yang miskin dan pedesaan.”

Akan tetapi hubungan Barat dan Iran mulai berubah dan diawali sejak pemerintahan Bush. Iran terus bekerjasama dengan AS dan melindungi kepentingannya. Di Iraq, Tehran terus mendukung pemimpin SCIRI, Ayatollah Hakim dan Brigade Badr yang telah menjadi kunci rencana AS untuk Iraq Selatan. Di Afghanistan, Iran melakukan aktifitas rekonstuksi yang ekstensif dan program pelatihan di Kabul, Herat, dan Kandahar. Sejauh ini Iran masih mencegah rasa malu AS di masing-masing negara. Meski media massa Barat masih menfokuskan kepada ketidakpercayaan antar dua negara ini, Barack Obama merencanakan untuk memulai meladeni hubungan dengan Tehran dalam beberapa minggu ke depan.

Apakah demonstrasi yang terjadi adalah bukti perlawanan terhadap Revolusi Islam atau Islam itu sendiri

Banyak sekali warga Iran di tahun 1979 bergerak secara serentak untuk menjatuhkan pemerintahan Shah. Kegagalan ekonomi dan kediktatorannya menjadi faktor pemersatu antara kaum reformis, marxist, sosialis, mahasiswa, profesor, dan kaum anarkis. Namun revolusi Islam tidak membawa perbaikan dalam hal ekonomi. Khomeini memulai proses mengontrol kegiatan masyarakat, mengasingkan, membunuh, dan menahan siapapun yang telah membantunya naik ke panggung kekuasaan. Perang melawan Iraq selama 8 tahun juga menghisap perekonomian Iran dan menciptakan semakin banyak kemiskinan daripada sebelum revolusi.

Ekonomi Iran sejauh ini masih tergantung kepada minyak dan sektor energi lainnya. Iran memiliki cadangan gas terbesar di dunia setelah Rusia dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia setelah Saudi Arabia. Namun infrastruktur energi yang dibangun sejak tahun 1940an mulai rusak, inflasi meninggi, dan pengangguran sulit dikendalikan. Ahmadinejad meraih kekuasaan dengan berjanji memperbaiki semua itu tapi hingga kini belum terjadi. Dia berusaha menyelesaikan masalah dengan program belanja publik yang masif dan mensubsidi minyak dan gas, dimana hal ini tidak bisa dilanjutkan. Di tahun 2007, akibat manajemen yang tidak baik Ahmadinejad melakukan usaha memperbaiki dengan tindakan membagikan bensin, namun hal ini justru menimbulkan kerusuhan.

Demonstrasi yang kini memenuhi laporan media massa Barat mewakili mereka yang ingin berubah akibat kegagalan ekonomi pemerintahan Ahmadinejad. Dia telah gagal dalam melaksanakan janji ekonominya dan menciptakan bom ekonomi yang bisa meledak kapan saja. Kemenangan pemilunya banyak dilihat sebagai kelanjutan kebijakan ekonomi yang gagal. Ahmadinejad tidak melakukan apapun untuk 3 juta penganggur. Meskipun isu pemilu menjadi katalis aksi demonstrasi, isu pemilu sendiri juga meliputi isu ekonomi dan pengangguran. Media Barat akan terus mengekspos para demonstran sebagai kaum yang mewakili sentimen publik Iran, dan mereka gagal melihat bahwa permasalahan ekonomi yang menghantui negeri itu, atau bahkan gagal melihat bahwa para demostransi adalah sekedar para pendukung kandidat yang kalah pemilu secara telak.

Tuesday, January 27, 2009

Pidato Obama (Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia)

Pidato Obama (Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia)
Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerja sama yang ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan di masa kemakmuran dan di masa damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk. Pada saat-saat demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita rakyat Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan oleh generasi orang Amerika yang sekarang ini. Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis. Bangsa kita kini sedang terlibat perang, melawan jaringan kekerasan dan kebencian yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan tindakan tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru. Banyak rumah yang disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar. Asuransi kesehatan kita terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal, dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi justru memperkuat musuh-musuh kita dan mengancam planet kita. Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika - kekhawatiran terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. Tetapi ketahuilah ini, Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi. Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan ketimbang konflik dan pertentangan. Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang sudah terlalu lama mencekik politik kita. Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci, saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan. Saatnya sudah tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan sejarah yang lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk mengejar kebahagiaan sepenuhnya.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras. Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan dan menjadi terkenal. Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani mengambil risiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat barang-barang baru. Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan.Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru.
Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras. Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San. Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan
yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga, atau kekayaan ataupun partai atau kelompok.

Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai. Otak mkita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun lalu. Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja memperbaharui Amerika.
Karena ke mana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kita akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang selayaknya, dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan.

Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita - dengan mengatakan sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. Daya ingat mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang dilakukan negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan kebutuhan digabung dengan ketabahan. Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah begitu lama menyita waktu kita - tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil,
tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti. Apabila jawabannya -ya, kita berniat untuk terus bergerak maju. Apabila jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur uang rakyat akan dimintai pertanggung- jawabannya - supaya mengeluarkan uang secara bijaksana, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dengan jujur - karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah. Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita. Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya. Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada kemampuan kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja, dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna mencapai kemakmuran bersama.

Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi. Semua cita-cita ini masih menerangi dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin lagi. Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa
melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat sekehendak hati kita. Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya tujuan kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta kesanggupan menahan diri. Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini, sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut upaya lebih besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan. Bersama teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi. Kita tidak akan minta maaf atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan mereka dengan terror dan membantai orang-orang tak bersalah, kami katakan kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan.

Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan, dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok dunia. Dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masakegelapan menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa semua garis-garis pembatas antar suku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia ini akan menjadi semakin kecil. Kerendahan hati kita akan tampak dengan sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era perdamaian yang baru. Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental. Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya. Seraya kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi - semangat inilah yang harus ada pada kita semua. Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini. Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita. Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung - yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme - semua itu sudahm lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era
pertanggungjawaban yang baru - suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit. Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan. Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita - pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.
Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita- mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.
Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku. Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju, salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan - bahwa kota dan negara, waspada
akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya. “

Amerika, dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskananugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa
depan.

http://ardiabara.multiply.com/item/reply-to-message/ardiabara:journal:80

Eencana Israel Raya (eretz yisrael)

Rencana Eretz Yisrael
Oleh Wawan Kurniawan





“Dari Nil ke Eufrat” (Theodor Herzl, Complete Diaries, Vol.II, hal 771)

“Tanah yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon” (Testimoni Rabi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, di depan UN Special Committee of Enquiry pada 9 Juli 1947)

Tulisan Saudara Ibnu Burdah tentang “Rencana Strategis Israel” (Republika, 06/10) menarik untuk dicermati lebih jauh. Pencermatan itu diperlukan karena Ibnu Burdah tidak memfokuskan bahasan opininya apa sebenarnya rencana strategis Israel itu. Ibnu Burdah hanya sekadar memberi pengantar: batas final pada 2010.

Rencana Pendek 2010
Istilah yang lebih tepat dan sering dikatakan Ehud Olmert adalah batas permanen (permanent border). Olmert ingin batas permanen Israel selesai pada 2010 (David Makovsky, Olmert’s Bold Stand, USA Today, 19/05). Batas permanen ini diberlakukan hanya di Tepi Barat (West Bank) saja. Sedangkan, Jalur Gaza sudah mempunyai batas permanen karena wilayahnya yang mudah diatur (lihat Gaza Strip Border Crossings, Washington Institute for Near East Policy, 2005).

Ariel Sharon, sebelum terkena stroke, sudah menandaskan ketidaktertarikannya dengan Jalur Gaza. Jika melihat data CIA World Factbook 2005, Jalur Gaza merupakan wilayah sempit (620 km2) dengan penduduk padat (1.376.289 jiwa). Gaza memiliki pertumbuhan populasi 3,77 persen, rata-rata kelahiran 40,3 kelahiran per seribu penduduk, dan tingkat kesuburan 5,91 anak per wanita.

Gaza tidak cocok dengan tuntutan pemenuhan-meminjam istilah Nazi-lebensraum (ruang hidup) bangsa Yahudi di masa mendatang. Oleh karena itu, penarikan mundur tentara Israel dari Gaza pada 12 September 2005 kemarin bukan berdasarkan pada belas kasih atau tekanan internasional melainkan pada satu kenyataan saja: wilayah ini tidak layak untuk diduduki.

Tepi Barat merupakan wilayah dengan “tapal batas irisan” dengan wilayah Israel yang berliku-liku dan banyak kelokan. Ada beberapa bagian tanah Palestina yang menjorok ke wilayah Israel dan sebaliknya. Nah, batas permanen dibangun di atas bagian terluar wilayah Israel yang menjorok itu. Artinya, Israel akan mengakuisi tanah Palestina yang berada di dalam batas permanen itu secara sepihak.

Yang dimaksud tapal batas irisan adalah jalur hijau (Green Line) yang disebut juga sebagai batas wilayah sebelum perang 1967. Jalur hijau inilah yang diminta Hamas jika Israel menyetujui hudnah (gencatan senjata) selama 10 tahun.

Jika dihitung, batas permanen itu merampas 46 persen (2685 km2) wilayah Tepi Barat: 7,4 persen dari perbatasan lama (Green Line 1967), 2,1 persen blok, 8 persen tanah di belakang tembok, dan 28,5 persen Lembah Jordan. Bisa dipastikan batas permanen yang berupa tembok batu solid setinggi 10 kaki itu menusuk jauh ke dalam wilayah Tepi Barat dan mengeratnya menjadi enclave-enclave dengan begitu banyak checkpoint (pos pemeriksaan).

Jika Tembok Berlin sudah lama runtuh dan segregasi rasialis apartheid ala Afrika Selatan sudah lama berakhir, tembok “batas permananen” rasialis kini ada di Palestina.

Mengembangkan Perumahan
Olmert memiliki maksud tersendiri dengan batas permanen itu. Maksud itu berupa: ekspansi perumahan (settlement), mengamankan sumber air, dan mengukuhkan Jerusalem.

Di belakang tembok pembatas itu, Israel terus-menerus memperbesar kawasan pemukiman hingga mengepung Jerusalem Timur. Rencana E-1 (East-1 Plan) berusaha mewujudkan pemukiman Yahudi yang melingkari Jerusalem Timur: Givat Ze’ev di utara, Ma’aleh Adumim di timur, dan Etzion di selatan. Ma’aleh Adumim mencakup 53 km persegi dengan kapasitas mencapai 30 ribu residen.

Pada 1999, ada 177.441 orang Yahudi di Jerusalem Timur dan sekitarnya. Lalu bertambah menjadi 192.176 (2000) dan 203.443 (2001) (Israeli Settlements in the West Bank, Peace Now Settlement Watch, 31/12/01). Belum terhitung pada tahun 2006 ini.

Irosnisnya, dunia internasional (dan dunia Islam) tidak tanggap terhadap perkembangan ini. Sesungguhnya pembangunan pemukiman Israel itu jelas-jelas melanggar Resolusi DK PBB 446 (22 Maret 1979), 452 (20 Juli 1979), 465 (1 Maret 1980), dan 471 (5 Juni 1980). Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel selalu abstain dalam 4 resolusi tersebut.

Transfer orang Israel guna menempati pemukiman itu melanggar Protokol Jenewa Keempat pasal 49. Pasal itu menyatakan: “The Occupying Power shall not deport or transfer parts of its own civilian population into the territory it occupies.” Terlebih lagi, dalam Perjanjian Oslo (13 September 1993) Artikel V “Transitional Period and Permanet Status Negotiations” yang diagung-agungkan oleh Barat dan PLO itu sendiri tidak membahas masalah-masalah krusial seperti status Jerusalem, hak kembali para pengungsi dan pembangunan pemukiman Israel. Lengkap sudah ketidakberdayaan itu.

Menggenggam Jerusalem
Pengembangan perumahan dan transfer penduduk ini mempertegas kenyataan bahwa Israel tidak akan mengembalikan Jerusalam Timur ke Palestina. Israel merampas Jerusalem Timur pada perang 1967. Israel secara resmi menjadikan Jerusalem menjadi ibu kota melalui sebuah UU Dasar (Basic Law)pada 30 Juli 1980. “Jerusalem, complete and united, is the capital of Israel.” Tidak lama setelah itu, tepatnya 20 Agustus 1980, DK PBB mengeluarkan Resolusi 478 yang menentang penjadian ibu kota itu.

“Kota ini adalah kota yang dipilih Tuhan sebagai ibukota bangsa Yahudi. Tidak ada kekuatan di dunia yang bisa mengubahnya,” pesan mesianis Olmert kepada turis-turis Kristen yang datang melalui International Christian Embassy in Jerusalem (ICEJ) (Yedioth Ahronoth, 08/10). ICEJ dibentuk pada 1980-an untuk mendukung Israel.

Politik Air
Air dan nuklir adalah dua penopang utama eksistensi Israel di Timur Tengah. Air adalah sumber daya yang harus dikuasai Israel, bukan minyak. Karena menurut penulis, konflik abadi di Timur Tengah setelah minyak habis (peak) adalah air. “History reveals that water has frequently provided a justification for going to war: It has been an object of military conquest, a source of economic or political strength and both a tool and a target of conflict.” (James R. Lee dan Maren Brooks, Conflict and Environment: Lebanon’s Historic and Modern Nightmare, 1996)

Sebelum perang 1967, Israel hanya menguasai dua sumber air: laut (yang didesalinisasikan) dan Sungai Dan. Tetapi setelah 1967, Israel mendapat tiga sumber tambahan: Lembah Jordan, Sungai Banias (utara Dataran Tinggi Golan), dan Sungai Hasbani.

Sengketa Israel dengan negara-negara tetangga disebabkan oleh pendefinisian batas wilayah yang notabene terdapat (atau dekat dengan) sumber air. Suriah menuntut “penetapan kembali batas 1967″ yang dengan itu memungkinkan Suriah mengakses Sungai Jordan dan Laut Galilee. Konflik air Israel-Jordan diselesaikan di Wadi Araba pada Oktober 1994. Demikian halnya dengan Palestina-Israel (Sharif S Elmusa, The Water Issue and the Palestinian-Israeli Conflict, The Center for Policy Analysis on Palestine, Desember 1993).

Hampir separuh dari air yang digunakan oleh Israel berasal dari pertarungan dan perampasan dengan tetangganya (Thomas R Stauffer, Water and War in the Middle East: The Hydraulic Parameters of Conflict, The Center for Policy Analysis on Palestine, Juli 1996). Dan karena itu, mustahil bagi Israel mau mengembalikan kawasan yang terduduki semisal Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan kepada pemilik aslinya (Isabelle Humphries, Breaching Borders: The Role of Water In The Middle East Conflict, Washington Report on Middle East Affairs, September/Oktober 2006).

Sheeba Farm yang dijadikan Israel sebagai batu loncatan merampas Sungai Litani. Ada dugaan, perang Juli kemarin mengupayakan area Sungai Litani sebagai zona aman dengan membersihkan Hizbullah. Sungai Litani yang mempunyai kemampuan menghasilkan 920 juta meter kubik air bersih kualitas tinggi per tahun hanya berjarak 4 km dari perbatasan Israel.

Israel sudah lama ingin menguasai Sungai Litani (lihat Hussein A Amery, The Litani River of Lebanon, The Geographical Review, July 1993; Arnon Soffer, The Litani River: Fact and Fiction, Middle Eastern Studies, Oktober 1994; Ronald Bleier, Israel’s Appropriation of Arab Water: An Obstacle to Peace, Middle East Labor Bulletin, Spring 1994). Ben Gurion dan Moshe Dayan (Kepala Staf Tentara Israel 1953-195 berungkali menyarankan penguasaan Sungai Litani.

Bahkan ketika perang 34 hari kemarin telah usai dan pasukan PBB telah tiba, Israel masih mencuri air Lebanon. Sebuah harian terbitan Beirut (Daily Star, 25/09) memberitakan hal tersebut.

Konflik Internal Palestina
Kisruh internal Palestina antara Hamas sebagai pemenang pemilu 25 Januari 2006 dengan Fatah yang telah berkuasa selama sepuluh tahun lebih membawa keuntungan sendiri bagi Israel. Ketiadaan soliditas Palestina membuat Israel bisa menjalankan agenda-agenda besarnya.

Meski dari permukaan luarnya Israel menganggap perseteruan Hamas-Fatah sebagai masalah internal Palestina (Financial Times, 10/6), ada sinyalemen Israel membantu salah satu pihak yang bertikai.

Terbetik kabar, Abbas meminta izin dari Israel untuk memperbesar jumlah pasukan pengawalnya, Force 17, dari 2 ribu menjadi 10 ribu (Ha’aretz, 28/05). Ekspansi pasukan ini mendapat bantuan senjata dari Israel melalui negara ketiga (Ha’aretz, 29/05). Ini menjawab kontroversi klaim Israel yang mengirim senjata ke Palestina (Mail & Guardian, 26/05) meskipun disangkal Fatah.

Lawatan Menlu AS Condoleezza Rice ke Timur Tengah kemarin mampir di Tel Aviv dan juga menemui Abbas. Tak lama sesudah itu, AS memberi bantuan 20 juta dolar kepada Fatah untuk memenangi pertarungannya dengan Hamas (VOA News, 05/10).

Melalui dua organnya yang sering campur tangan di negara-negara berkembang, National Democratic Institute (NDI) dan International Republican Institute (IRI), AS menyalurkan 42 juta dolar guna memperkuat kelompok-kelompok anti pemerintah (Reuters, 14/10).

Bulan-bulan ke depan akan menjadi ujian berat bagi Hamas. Mesir, Qatar, dan Jordan memberi peringatan bahwa Israel mempersiapkan operasi masif ke Jalur Gaza guna membebaskan Gilad Shalit. Bersamaan dengan itu, Fatah bersiap melanjutkan konfontrasinya (Fatah preparing showdown with Hamas, Jerusalem Post, 24/10).

Setali Tiga Uang, Buruh-Kadima-Likud
Kenyataan polarisasi di ranah politik Israel, yaitu kiri (Buruh), tengah (Kadima), dan kanan (Likud) tidaklah merefleksikan polarasasi kebijakan luar negeri. Mereka sama berkonvergen pada pendirian negara Israel di tanah Palestina.

Kadima merupakan sempalan Likud. Sedangkan Likud merupakan pengusung ide-ide nasionalis kaum Zionis Revisionis yang digagas oleh Zeev Jabotinsky. Di kalangan Yahudi, bisa dikatakan Jabotinsky adalah pemikir terbesar setelah Theodore Herzl.

Kaum Revisionis mengklaim daerah antara Sungai Eufrat dan Sungai Nil sebagai tanah Yahudi (Paul Findley, Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship, 1993). Dua ideolog utama Likud, Menachem Begin dan Yithak Shamir adalah murid langsung Jabotinsky.

Visi Buruh juga sama saja. “Mimpi batas Israel meliputi selatan Lebanon, selatan Suriah, Jordan hari ini, Tepi Barat, dan Sinai” dinyatakan oleh Ben Gurion di pertemuan World Council of Poale Zion (cikal bakal Buruh) 1938. Tokoh Buruh lainnya, Yithak Rabin, semasa menjadi menteri pertahanan (1984-1990) mengeluarkan kebijakan kontroversional “mematahkan lengan dan kaki” para demonstran intifada Palestina yang umumnya adalah anak-anak dan remaja.

Jabotinsky mendirikan Haganah (Defender). Begin dengan Irgun Zvai Leumi (National Military Organization), Shamir dengan Lehi (Lohamei Herut Yisrael/Freedom Fighters of Israel), dan Rabin dengan Palmach (penyerang). Semuanya adalah organisasi paramiliter yang menyokong pendirian negara Israel dengan meneror warga Arab (Cf. J. Boyer Bell, Terror out of Zion: The Irgun, Lehi Stern and the Palestine Underground, 1977).

Jika-mengutif Paul Fenley-Likud adalah nasionalisme mesianis dan Buruh sebagai sekuler pragmatis, Kadima adalah sinkretis keduanya. Hanya dalam waktu 3 bulan semenjak dinyatakan sebagai pemenang pemilu 2006, Kadima sudah berani membuat ulah dengan menginvansi Lebanon.

Olmert (61 tahun) dan menlu sekarang, Tzipi Livni, merupakan Likudites. Shimon Peres (83), wakil PM, awalnya merupakan aktivis kawakan Buruh yang kemudian bergabung dengan Kadima karena ajakan Ariel Sharon. Emir Peretz, ketua Buruh, menjadi menhan dalam kabinet Olmert. Dulunya, Peretz adalah anggota awal gerakan kiri Peace Now.

Jelas, warna Likud lebih dominan daripada Buruh. Olmert dengan sepengetahuan Peres membuat kesepakatan bahwa Livni-lah yang akan menjadi pengganti Olmert bila Olmert tidak dapat bertugas sebagaimana mestinya. Olmert sendiri sudah memberi sinyal akan menggeser ke kanan (New York Sun, 10/10).

Kabar terbaru, partai yang paling kanan (extreme right), Yisrael Beiteinu (Israel Rumah Kita), telah bergabung dengan aliansi Kadima-Buruh sejak 23 Oktober kemarin. Sebelas kursi Yisrael Beiteinu menyebabkan kursi total pendukung Olmert menjadi 80 atau dua pertiga parlemen.

Sang pemimpin partai fasis ini, Avigdor Lieberman, mendapat kursi baru s”Kementerian Ancaman Strategis” yang khusus merespon perilaku Iran. Sebenarnya, Lieberman adalah politisi hasil kaderisasi Netanyahu. Dia sempat menjadi orang penting Likud pada 1993-1996.

Lieberman adalah otak penentu kesuksesan Netanyahu pada kampanye 1996. Sharon memuji Lieberman sebagai menteri yang paling kapabel dalam kabinet 2001 dan 2003 (Scotsman, 10/23). Bisa dikatakan, Lieberman adalah “bayangan” Netanyahu dengan tipikal khusus: banyak bicara.

Sebuah poling yang dipublikasi harian terkemuka Israel Yedioth Ahronoth (21/10) mendudukkan Lieberman sebagai orang kedua yang pantas menjadi PM Israel mendatang setelah Netanyahu. Oleh karena itu, Lieberman dan Livni (keduanya sama-sama berumur 48 tahun) merefleksikan bagaimana Israel di masa depan.

Memang benar kelahiran Kadima mengguncangkan konstelasi politik Israel tetapi tidak untuk Timur Tengah. Pada dasarnya, Kadima adalah wajah lain Likud dan Buruh. Harapan besar yang digantungkan oleh media massa Barat kepada Kadima adalah propaganda absurd yang menyesatkan.

Pembangunan batas permanen, perluasan pemukiman, pengepungan Jerusalem, dan pencurian air memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Semua itu berjalan mulus dan lancar karena terselubungi oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak signifikan. Masalah-masalah yang direkayasa oleh Israel untuk mengalihkan perhatian dunia internasional dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tahun 2010 hanyalah rencana transisi saja. Visi Israel yang sebenarnya adalah seperti gambar bendera nasionalnya: bintang David di antara garis biru atas dan bawah. Hal itu berarti men-Zionis-kan wilayah-wilayah di antara Sungai Nil dan Eufrat. Itulah Eretz Yisrael (Israel Raya).

http://kainsa.wordpress.com/rencana-eretz-yisrael/

Sunday, December 14, 2008

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan
Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina


Thurday, May 10, 2007 15:42

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina
Al Quran kuno dan ditulis dengan tulisan tangan yang kembali pada zaman kerajaan Ming dihadiahkan ke Museum peninggalan budaya di kota Syibi, Cina

Waratwan Kehormatan Iqna dari Pekan, Cina melaporkan, bahwa sebuah al Quran yang dihadiahkan ke musemun itu adalah hasil karya para seniman dan penulis kaligrafi berkebangsaan Cina dan semua pinggiran kertasnya dihiasi dengan berbagai yang indah.

Pemberi hadiah tersebut menyatakan, bahwa Al Quran tersebut merupakan warisan yang ia terima dari kakek-kakeknya dan sudah berpindah tangan kepadanya melalui delapan generasi.

Pemberi hadiah Al Quran tersebut yang merupakan imam jamaah mesjid Jami kota Syibi menyatakan hal itu dalam wawancaranya dengan pihak Iqna. dalam rangka menjaga warisan yang sangat berharga itu kami memutuskan untuk menghadiahkannya ke musium yang memang ahli dalam pemeliharaan barang-barang kuno dan berharga.

Ketua pengelola museum memberikan keterangan, bahwa memang sesuai penelitian yang dilakukan Al Quran tersebut dibuat pada zaman pemerintahan Ming dan merupakan salah satu dari Al Quran terkuno di dunia saat ini.

Al Quran tersebut berukuran 20 X 6 X 26/6 cm untuk Cina ia merpakan Al Quran tulisan tangan ke empat terkuno dan terindah.

Menurut para ahli kertasnya juga memuat bahan-bahan lain sebagai campurannya, seperti sutera dan kapas.

Keberadaan kitab Al Quran kuno dan beberapa kitab arab lainnya yang merupakan karya ulama Islam zaman terdahulu menjadi bukti kuat akan lamanya Islam menginjak tanah Cina.

122280

Yusuf Qardawi: Umat Islam Wajib Membantu Iran

Yusuf Qardawi: Umat Islam Wajib Membantu Iran
Rabu, 17 Oktober 2007





Syeh Yusuf Qardawi dalam pesan iedul fitrinya kepada kaum muslimin mengatakan: “ Adalah tangung jawab bersama umat muslimin untuk menjaga Islam. Dan kita harus menjaga dan ikut membantu Iran dari serangan musuh karena Iran adalah negara Islam”.

Lebih lanjut Syeh Yusuf Qardawi melanjutkan: ” Hari ini AS dalam rangka memerangi terorisme pada hakekatnya mempunyai maksud dan tujuan untuk melenyapkan agama Islam. Dan AS adalah negara yang dengan segala kekuatan yang dimiliki berdiri selalu disamping Zionis. Kalau saja bukan karena bantuan dari AS maka hari ini kita tidak akan menyaksikan wujud rezim zionist”.

Dalam pesan iedul fitri dia bertanya kepada kaum muslimin: “Kenapa mereka mengharamkan hak-hak negara seperti Iran atau negara-negara Arab untuk memiliki reaktor nuklir damai ?.

Dalam kesempatan yang sama Yusuf Qardawi juga memberikan pesan khusus kepada Hamas dan Fatah Iraq untuk menyelesaikan setiap permasalahnya dengan diskusi dan rundingan seraya mengatakan: “Untuk semua saudara-saudara Muslim di Iraq, Palestina saya katakan bahwa selalu jagalah persaudaraan dan jangan saling jatuh menjatuhkan satu sama lainnya. Perkuat rasa persatuan dan rasa persaudaraan”.

Dalam menyoroti permasalahan dan gejolak yang terjadi di Palestina beliau mengatakan bahwa: “Palestina hari ini dalam keadaan perang dan sampai detik ini Palestina masih dalam cengkeraman penjajah, semua janji-janji Olmert dan Condoleeza Rice yang diomongkan hanyalah dusta. Ini adalah tangung jawab bangsa Palestina untuk selalu selalmu mendahulukan diskusi dan perundingan dan hal ini merupakan sebuah keharusan dan kewajiban dalam agama”.

Dalam kesempatan itu Yusuf Qardawi menghimbau kepada bangsa Iraq untuk tidak terjebak pada konspirasi musuh dan menumpahkan darah sesama kaum muslimin.[IM/MT] taghribnews

http://www.islammuhammadi.com/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=68

Saturday, December 13, 2008

Afghany children

Image Hosting by PictureTrail.com

http://pic90.picturetrail.com/VOL2313/9985074/18197016/347085779.jpg

[IMG]http://pic90.picturetrail.com/VOL2313/9985074/18197016/347085779.jpg[/IMG]

Free Image Hosting at www.picturetrail.com

Free Image Hosting at www.picturetrail.com


Mereka adalah anak-anak dari desa Darmorakh - Badakhshan - Afghanistan. Tersenyum ceria...
Tertawa lepas...
Kepolosan mereka memberi sebuah nasihat sederhana pada kita....
Bahwa bagaimanapun kondisi yang kita hadapi....tetaplah tersenyum. Karena hidup terus berjalan dan tidak mungkin untuk dihentikan.
Inilah realita kehidupan.

Sebuah pesan sederhana dari anak-anak Afganistan untuk semua orang.

Thursday, November 20, 2008

KENAPA AS INCAR IRAN?

KENAPA AS INCAR IRAN?

ISU NUKLIR IRAN DAN ENERGI LISTRIK KAWASAN

Jika membayangkan nuklir, semua orang akan membayangkan senjata nuklir seperti dijatuhkan AS ke atas kota Nagasaki dan Hiroshima dalam Perang Dunia Kedua di Asia Pasifik. Kehebatan dan ancaman senjata nuklir itu pula yang didengungkan AS ke persoalan Iran.

Memang benar ADA laporan intelijen AS yang menyebutkan bahwa Iran telah memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir, seiring dengan rencana Iran untuk membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik. TAPI, apakah masyarakat dunia (termasuk Indonesia) tidak belajar dengan kasus Irak? AS menyerang Irak dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, dalih itu berdasarkan laporan intelijen semata. MANA sekarang buktinya? (silahkan lihat lagi halaman 1 di artikel ini) Masyarakat AS sebagian besar telah sadar atas kebohongan publik yang dibuat oleh pemerintahannya. Pajak yang didapatkan dari masyarakat AS dibuang percuma demi Irak. Sementara itu, perusahaan alat militer dan perusahaan minyak besar (Big Oil Company) di AS ternyata yang memperoleh keuntungan. Di sisi lain, sebagian keluarga para tentara AS mulai tidak mau anggota keluarganya bertugas sia-sia dan tak jelas tujuannya di medan konflik Irak. SEKALI LAGI, isu senjata nuklir Irak ataupun Iran itu hanya isu kampungan yang digembar-gemborkan AS.

List of Locations Relevant to the Implementation of IAEA Safeguards
As of November 2003



Sumber: www.globalsecurity.org

Lalu, jika memang Iran memiliki kemampuan membuat senjata nuklir gara-gara potensi dari pengayaan uranium, darimana Iran mendapatkan teknologi nuklir itu sendiri? Mau tahu?! Kata Bung Karno: Jasmerah!

Yang pertama harus diingat adalah Iran sebenarnya telah berusaha membangun reaktor nuklir sejak tahun 1974, ketika Iran di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi. Anda tahu khan negara mana di balik sang Shah tersebut?.

Saat itu, Shah berencana membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik dengan bantuan Jerman, Perancis, dan AS. Ya tentunya semua dengan restu Washington. Kemudian Shah memberikan kontrak pembangunan ke perusahaan Jerman, Siemens, untuk membangun 2 reaktor nuklir berkekuatan 1200 MW di wilayah Bushehr, Iran Kawasan Bushehr adalah salah satu kawasan yang diributkan oleh AS lewat IAEA saat ini.


Saat itu (tahun 1974), AS mendukung Iran untuk mengembangkan sumber energi alternatif; tidak berbasiskan minyak dan gas. Padahal saat itu, pembangkit listrik nuklir belum sangat dibutuhkan oleh Iran. Saat itu, jumlah penduduk Iran kurang dari 70 juta orang, produksi minyak sekitar 5,8 juta bpd, konsumsi energi domestik Iran saat itu sekitar seperempat dari saat ini. Kenapa saat itu pembangkit listrik nuklir Iran tidak dipersoalkan?!

Tapi oleh AS, sebuah penelitian pun digelar Stanford Research Institute. Penelitian lembaga tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1990, Iran membutuhkan kapasitas listrik sebesar 20.000 MW. Lalu, generasi pertama teknisi nuklir Iran dikirim dan dilatih ke Massachusetts Intitute of Technology.

Dalam dua Memorandum Keputusan Keamanan Nasional AS (National Security Decision Memoranda) tertanggal 22 April 1975 dan 20 April 1976, Presiden AS saat itu Gerald Ford menyetujui penjualan fasilitas pemrosesan dan pengayaan uranium ke Iran. Sebaliknya, Iran membeli 8 reaktor nuklir. Kerjasama Iran dan AS itu senilai 15 miliar Dollar Amerika. Amerika Serikat setuju membangun 8 pembangkit listrik tenaga nuklir yang total kapasitasnya 8000 MW. Kebijakan Gedung Putih saat itu diumumkan resmi oleh juru bicara Sydney Sober pada bulan Oktober 1977, dalam sebuah simposium, “The US and Iran: An Increasing Partnership.” Akhirnya, draft final US-Iran Nuclear Energy Agreement ditandatangani bersama Iran dan AS pada bulan Juli 1978. Penandatanganan tersebut dilakukan beberapa bulan sebelum adanya gejolak Revolusi Islam Iran. AS melongo……


Kemudian, pada 9 Februari 2003, Presiden Iran Mohammad Khatami mengumumkan program pengayaan uranium untuk bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Sejak itu, tenaga ahli dari IAEA (International Atomic Energy Agency) berdatangan ke Iran. Pihak Gedung Putih (AS) berkeyakinan bahwa pengayaan uranium Iran itu untuk pembuatan senjata nuklir. Sungguh lucu!

Kini, teknologi nuklir Iran untuk pembangkit listrik di-support oleh Rusia. Rusia dan Iran menjalin kerja sama strategis. Nilai kontraknya diperkirakan senilai 25 Miliar Dollar Amerika. Rusia membutuhkan Iran, demikian sebaliknya. Rusia membutuhkan Iran sebagai partner strategis untuk mengimbangi upaya dominasi AS di kawasan Eurasia (Eropa-Asia). Sementara Iran membutuhkan teknologi Rusia untuk agar nanti Iran menjadi pusat geopolitik-ekonomi di Timur Tengah. Dalam intelijen internasional, kawasan Eurasia memang merupakan target dominasi AS. Kegelisahan AS dan Sekutunya pun menjadi-jadi. Selain teknologi nuklir, Rusia ternyata juga mentransfer teknologi militer dan ruang angkasa ke Iran.

Kini, Rusia seperti “mengkhianati” Iran. Rusia lewat IAEA, mendukung resolusi PBB. Iran menilai sikap Rusia ambigu. Padahal Rusia sebenarnya mengkhawatirkan serangan AS ke Iran benar-benar akan terjadi. Sikap AS yang kelewatan sebenarnya tak seharusnya terjadi; karena nafsu. Yang patut ditiru adalah sikap Perancis, Jerman, dan Inggris yang menjanjikan pengiriman bantuan dan kerja sama teknis kepada Iran untuk pembangunan reaktor nuklir sipil (listrik), demi transparansi nuklir. Sikap negara-negara tersebut bijaksana ketimbang kekhawatiran yang membabi buta atas sikap Iran.

Lepas dari fakta tersebut, sebenarnya ada apa di balik sikap Iran yang “ngotot” untuk program nuklir sipilnya? Berdasarkan analisis, terdapat dua hal yang mendasari, yakni: antisipasi konsumsi energi listrik dalam negeri Iran yang makin tinggi, dan geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan.



Antisipasi konsumsi energi listrik Iran. Menurut EIA, kebutuhan listrik domestik Iran makin tinggi, dan dibutuhkan investasi miliaran Dollar Amerika. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang di Iran sebesar 34,3 GW. Produksi listrik sebesar 155,7 miliar KWH. Konsumsi listriknya 145,1 miliar KWH. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang Iran naik menjadi sebesar 36 GW. Pertumbuhan konsumsi listriknya mencapai 7-9 persen. Pemerintahan Iran mau tak mau harus mengejar keamanan pasokan listrik domestik apalagi jumlah penduduk Iran diperkirakan mencapai 100 juta orang pada tahun 2025.

Kapasitas Pembangkit Listrik Iran Berdasar Jenisnya




Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, Iran membutuhkan daya listrik 70.000 MW pada tahun 2021. Jika daya listrik tersebut dihasilkan dari minyak (BBM), dibutuhkan 112-140 juta barrel per tahun. Ini sebuah dilema untuk Iran. Pembangkit listrik besar Iran kebanyakan berbahan baku BBM. Padahal pendapatan Iran 80 persen berasal dari ekspor minyak, dan 45 persennya digunakan untuk APBN Iran. Selain itu, hasil produksi minyak Iran belum ada kemajuan pesat akibat konsumsi domestik yang naik 280 persen sejak tahun 1978, dan belum pula dibutuhkan biaya 40 miliar USD untuk perawatan kilang-kilang minyak Iran dalam 15 tahun. Jika situasi terus seperti itu, Iran diprediksi menjadi net oil importer pada tahun 2010.

Daftar Pembangkit Listrik Iran





Bagaimana dengan pembangkit listrik berbahan baku gas? Jika Iran mengembangkan dan meningkatkan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku gas, sangat percuma. Menurut Massachusetts Intitute of Technology (AS) sendiri, biaya produksi listrik dari gas berbanding sama dengan biaya produksi listrik dari reaktor nuklir. Selain itu, dilema Iran, Eropa, dan Asia yang lain adalah gas Iran termasuk yang SANGAT dibutuhkan untuk memasok kebutuhan Eropa dan Asia.

Penggunaan Nuklir Untuk Listrik Di Dunia



Sungguh tak masuk akal jika Iran harus mengikuti kemauan AS untuk menghentikan pengayaan uranium demi listrik Iran. Iran memang kaya akan minyak dan gas, tapi tetap membutuhkan sumber energi alternatif untuk listrik. Inggris, Canada, hingga Rusia adalah eksportir migas, tapi negara-negara ini tetap menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Di dunia saat ini, 19 persen daya listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir. Penggunaan reaktor nuklir di dunia sebagai penghasil daya listrik diperkirakan akan meningkat terus.

Yang jelas, Iran telah merencanakan sumber pasokan energi listrik pada tahun 2021 berasal dari 10 persen tenaga nuklir, 20 persen dari hydro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari yang lain.

Geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan. Seperti diketahui bersama, letak Iran yang sangat strategis membuat posisi Iran dekat dengan negara-negara Asia Selatan, Asia Tengah, ataupun Laut Caspia. Beberapa negara di kawasan tersebut kekurangan pasokan listrik untuk dalam negerinya. Sebut saja seperti negara-negara seperti Syria, Georgia, Azerbaijan, Afghanistan, Irak, Pakistan, hingga India.

Tapi, negara-negara yang minim pasokan daya listriknya mau tak mau harus bersyukur, karena jaringan interkoneksi telah dibangun dan sedang dikembangkan lagi menghubungkan antar-negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan Kabarnya jaringan interkoneksi ini menyambung hingga ke daratan Eropa; dari Iran melalui Armenia.


Jaringan Transmisi Listrik Utara Iran




Afghanistan’s Cross-Border Electricity Interconnections



Source: www.pakistan.gov.pk



Sumber: http://meaindia.nic.in

Iran yang kaya akan minyak dan gas melihat peluang bisnis energi listrik kawasan. Tercatat, sejak tahun 1992, Iran mulai menjual daya listriknya ke negara-negara tetangga.



Sumber: http://amar.tavanir.org.ir


Ambisi Iran untuk mempengaruhi negara-negara kawasan lewat penjualan listrik, sepertinya seimbang dengan rencana Iran yang akan membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik, walaupun juga untuk kebutuhan domestik Iran juga. Iran masih berencana memperluas pasar penjualan daya listriknya ke negara-negara tetangga.

Selain mencari pasar penjualan, Iran bersama Rusia, dan China termasuk concern berinvestasi pembangunan pembangkit listrik di Asia Tengah. Selain sebagai perluasan pengaruh geopolitik, juga untuk memasok kebutuhan energinya sendiri (seperti ke China). Tiga negara ini mendorong negara Asia Tengah untuk menjual ke luar negara bersangkutan. Tiga negara ini terlibat pendanaan pembangunan di negara-negara seperti Tajikistan dan Kazakhstan. Tercatat, tidak ada perusahaan asal AS satu pun yang terlibat di pengembangan pembangkit listrik di Asia Tengah.

Gerakan bisnis energi listrik Iran, Rusia, dan China bisa jadi membuat gerah AS. Secara geopolitik energi, gerakan tiga serangkai (Iran, Rusia, dan China) secara tidak langsung akan membuat negara-negara kawasan Asia Tengah ataupun Asia Selatan akan tergantung pada tiga negara tersebut, dan mengurangi pengaruh dominasi AS.

Wednesday, October 8, 2008

Bank AMERIKA

IMF: Akibat Krisis Keuangan, AS akan Kehilangan Pengaruh Politik dan Ekonominya di Dunia

IMF: Akibat Krisis Keuangan, AS akan Kehilangan Pengaruh Politik dan Ekonominya di Dunia
Thursday, 09 October 2008

Laporan Badan Moneter Internasional (IMF) mengenai kondisi ekonomi global yang dipublikasikan pada Rabu (8/10) menyatakan, akibat krisis keuangan yang tengah dihadapi, peran dan pengaruh politik dan ekonomi AS di dunia internasional akan berkurang. Menurut laporan tersebut, untuk masa-masa mendatang AS dan Uni Eropa akan lebih konsentrasi menyelesaikan permasalahan dalam negerinya sendiri, akibat dampak krisis tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh analis pasar uang di London, Antwan Matar kepada Aljazeera mengatakan bahwa krisis keuangan yang dihadapi AS dan akan menyusul negara-negara Uni Eropa akan mengurangi peran internasional AS dan Uni Eropa.

Hal ini dikarenakan, menurut Matar, AS selama ini adalah pemiliki perekonomian terbesar dan terkuat di dunia, sehingga kontribusi dan peranannya di lembaga-lembaga keuangan global juga besar, sehingga mampu mengendalikan kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF.

Dengan adanya krisis finansial yang dihadapinya, baik AS dan Uni Eropa dalam jangka menengah akan lebih mengarahkan kebijakan moneternya untuk membenahi kondisi ekonomi dalam negerinya. Oleh karena itu, menurut Matar, AS dan Uni Eropa akan mengurangi berbagai bantuan luar negerinya dan program-program kemanusiaan yang didanainya, khususnya di negara-negara berkembang.

Terkait dengan efektifitas UU Bailout dalam meredam gejolak krisis, Matar mengatakan tidak yakin UU itu akan mampu mengeluarkan AS dari ancaman resesi. Bahkan dia memperkirakan akan semakin banyak bank-bank dan perusahaan-perusahaan finansial AS yang akan menyatakan pailit. " UU itu tidak terlalu banyak berpengaruh", tukasnya seperti dikutip Aljazeera. [syarif/alj/www.suara-islam.com]

Americans Must Stop Congress Bailout Treason

Americans Must Stop Congress Bailout Treason
9-25-8

You must CALL your Congressmen and Senators and DEMAND they NOT support the bailout. They must be told that if the engage in the rape of America for financial gangsters, they will be voted OUT of office if not subjected to an immediate recall drive. -ed

This was just received and shows the TREASON which cannot be allowed to stand...

Jeff, I got this from a long time member of my email list, figures...

"I just spoke to Senator Bob Casey's staffer (D-PA), and they told me that they are getting THOUSANDS of phone calls which are running 99 to 1 against the BAILOUT - but that Bob has decided to support it none the less!

Can you spell "fascism"?

Menkeu AS: AS Akan Hadapi "Tsunami" Ekonomi

Menkeu AS: AS Akan Hadapi "Tsunami" Ekonomi
Thursday, 09 October 2008


Meski UU Bailout telah disepakati, AS masih akan tetap hadapi gejolak "Tsunami" ekonomi. Menteri Keuangan AS, Henry Paulson mengatakan sejumlah lembaga keuangan AS diperkirakan akan mengalami pailit, meski Pemerintah AS telah mengeluarkan dana talangan ratusan milyar USD.




"Satu hal yang harus diakui, meski otoritas finansial AS memiliki kekuasaan dan kewenangan baru, tapi sejumlah lembaga keuangan AS akan tetap menyatakan pailit," kata Paulson dalam jumpa persnya di Washington pada Rabu (8/10).

Paulson menegaskan bahwa UU Bailout senilai 700 Milyar USD yang telah disetujui Konggres AS pada Jumat lalu dirancang hanya untuk menahan sementara gejolak pasar uang.

Untuk menstabilkan krisis finansial, Paulson mengusulkan perlunya dilakukan pertemuan darurat internasional melibatkan negara-negara berkepentingan untuk sama-sama mencari solusi. Secara khusus, Paulson menyerukan diselenggarakan pertemuan negara-negara G20, termasuk Brazil, Rusia, China dan India.

"Saya menyerukan pertemuan negara-negara G20 dan para pemimpin lembaga keuangan dunia, gubernur Bank Sentral dan para regulator perbankan. Pertemuan ini untuk membahas dan mengkoordinasikan penanggulangan dampak krisis finansial global dan kelesuan pertumbuhan ekonomi dunia," tukas Paulson. [syarif/press/www.suara-islam.com]

Bailout Means Full Faith And Credit

Bailout Means Full Faith And Credit
Terrell E. Arnold
9-27-8

As the US Congress wrangles over a bailout package while Treasury Secretary Paulson literally goes on his knees to pray for immediate action, just what the crisis is remains obscure to most people. There are two main questions: Just who needs to be bailed out, and what is the specific funding problem? Plunging boldly into the chill waters of investment banking and such arcane devices as mortgage backed securities, commercial mortgage backed securities and et cetera, the answers are not what you might expect. For better or worse, the US Government is now in the home mortgage business.

A home or commercial property mortgage, as such, is straightforward: A buyer (individual, family or company) selects a property that is for sale, determines what he/she/they have as a down payment, how much they can borrow, and what amortization schedule and interest rate they can handle, and if the seller plus funding source are happy, the deal is done. The mortgage backed security creator, whether the bundle is commercial, individual home, or other property based, takes a bundle of similar such done deals and turns them into a marketable investment security. Over the past several years an estimated 5-6 trillion dollars worth of these packages have been sold to investors, principally by Fannie Mae and Freddie Mac. Over a trillion dollars worth of those deals have been picked up by foreign investors, including mainly central banks. The big bundles are in China, Japan and Western Europe, but there are others.

Who did most of the bundling for these deals? While all eyes are on investment bankers, the bundles-upward of 80% at least-were put together by Fannie Mae and Freddie Mac. These bundles were then marketed by investment bankers, and with triple, that is AAA ratings, the bundles were attractive to central banks, mutual funds and others looking for remunerative and safe places for funds.

How do subprime mortgages get into this act? For the uninitiated, an AAA rated bundle of high risk mortgages sounds like an oxymoron. There are two levels to the answer: First, if you take a bundle of 10 such high risk mortgages the chances of the whole bundle going belly up are pretty slim. Bundling is a real risk mitigation device. That in itself, however, still would not seem to justify AAA ratings, because the risk of some failures-as has been demonstrated at the subprime level-is substantially greater than zero. Second though, as seen by the mortgage backed security buyer, the risk of failure was rendered minimal, because _Fannie Mae and Freddie Mac guaranteed payment of the interest and principal on all mortgages in the bundle, even if individual mortgage holders defaulted_. The AAA rating flowed from this guarantee, not from the intrinsic security of any mortgage bundle.

Given this guarantee, Fannie Mae and Freddie Mac got caught in the middle when the subprimes started failing. Worth noting is that reportedly in 2008 upward of 98% of payments on mortgages underwritten by them were current. They apparently had based their business model on an expectation that failure rates would be low to minimal, certainly manageable. (At least that is a reasonable explanation of their operation). In fact, as subprime mortgage holders started to fail, Fannie and Freddie were faced by rapid reduction in liquidity as a result of non-payments. They were not getting expected revenues, but they had guaranteed principal and interest returns on the mortgage backed securities they had sold. Although it involved only a small proportion of outstanding mortgages, the arithmetic was simply murderous, and the two were going belly up when the government stepped in. Everybody in the chain was undercut by the subprime failures. Nobody in the chain appears to have anticipated this debacle. In effect, virtually all of the banks involved were operating on thin reserve margins that simply did not allow for the order of subprime failures that occurred. The ones most deeply into the subprime market, e.g. Washington Mutual and Lehmann Brothers, along with Fannie Mae and Freddie Mac were caught flat footed.

One can say that since no one anticipated the subprime mortgage holder meltdown or the collapse in housing values that undercut even prime mortgage markets that ensued, no one is to blame. But who to blame is not the issue. Who to look to for making things right is the matter on the table. We are back to Fannie Mae and Freddie Mac. They hold, or guarantee more than $5 trillion in mortgages. But they are now in government hands.

Where then does responsibility lie? The Federal Housing Finance Agency (FHFA) has the authority and responsibility and placed Fannie Mae and Freddie Mac in conservatorship. According to Wikipedia, the effect of this action is that FHFA will "support the soundness of the obligations and guarantees on securities issued by Fannie Mae and Freddie Mac to obtain funds." That means essentially that the Fannie Mae and Freddie Mac guarantees of principal and interest payments on mortgage backed securities have become obligations of the federal government, read the American taxpayer.

Just like that, the United States Government is now, full time, in the home mortgage business as the intermediary between banks that make and sell mortgages and investment houses or others who buy, sell or hold mortgage backed securities. This makes the alleged bailout not a bailout at all but funding to support a suddenly assumed Federal budgetary responsibility to maintain the liquidity of Fannie Mae and Freddie Mac, and to preserve their reputations in financial markets.

This is a critical action as foreign investors, especially the big holders of mortgage backed securities, may see it. In recent news reports, Japan and China, both big time holders of these securities, have indicated satisfaction with the takeover decision. Others who hold parts of the more than trillion dollar overseas component of the US mortgage backed securities market should also be pleased.

If it can be carried out successfully, the "bailout" will serve to minimize or avoid both further foreign and domestic losses. However, the President, Secretary Paulson and Fed Chairman Bernanke should be stressing the obvious argument: The takeover of Fannie Mae and Freddie Mac by the Federal Housing Finance Agency and the commitment of FHFA to support their guarantees and obligations puts the full faith and credit of the United States on the line. How this plays out will affect American business and financial relations both at home and with the rest of the world for years to come.

The writer is a retired Senior Foreign Service Officer of the US Department of State. He served in key economic interest countries such as Egypt, India, the Philippines and Brazil. He has an MA in political science and economics from San Jose State University, he is a graduate of the National War College, and he studied development economics at the University of California, Berkeley. He will welcome comments at wecanstopit@charter.net

Taxpayers Forced To Bailout Zionist Gangsters

Taxpayers Forced To Bailout Zionist Gangsters
The Financial Crisis On Wall Street & The Gang of Zionists Behind 9-11
By Christopher Bollyn
9-21-8




Ben Shalom Bernanke, the chairman of the Federal Reserve, is the dedicated Zionist Jew behind the $85 billion taxpayer-funded bailout of Maurice Greenberg's criminal enterprise, A.I.G.


Adding Insult to Injury:
Hard-pressed American Taxpayers Forced to Bailout
Zionist Gangsters Behind 9-11
Updated September 21, 2008




Maurice Greenberg, the Zionist criminal behind A.I.G.,
is deeply involved in the false flag terror of 9-11.
[Photo: www.cloakanddagger.de]


The current financial crisis in the United States involves some of the very same Zionist criminals and entities that I pointed out in my recent chapter, "The Architecture of Terror: Mapping the Israeli Network Behind 9-11."

The collapse of their criminal scams on Wall Street could result in more information coming out about the Zionist gangsters behind 9-11.
Such outrageous criminal scams cannot be kept hidden for long.

The government loan of $85 thousand millions of U.S. taxpayer dollars ($85 billion) to keep afloat Maurice Greenberg's criminal operation, American International Group (A.I.G.), brings into the spotlight one of the key individuals in the Zionist criminal network behind 9-11.






Maurice Greenberg
The criminal head of A.I.G.


THE DEVOTED ZIONIST BEHIND THE A.I.G. BAILOUT

It should come as no surprise that the key person behind this unprecedented government bailout of A.I.G., a huge Zionist criminal operation, is himself a devoted Zionist. Ben Shalom Bernanke, the chairman of the Federal Reserve System, is another Hebrew-speaking scion of the Jewish Theological Seminary of New York City, like Michael Chertoff and Alvin K. Hellerstein.

How can it be that the sons of small group of uneducated Jews from Eastern Europe, who immigrated to the Bronx in the 1900s, now control a nation of 300 million non-Jews? If you were to ask a Zionist Jew from the Jewish Theological Seminary why they control America, they would probably say: "Because we can."






Bernanke has been a religious supporter
of Zionist criminals since the 1970s.

Growing up, Bernanke attended the extremist Zionist summer camp (Ramah) of the Jewish Theological Seminary where he was immersed for months in the Zionist ideology of the JTS - in Hebrew. During college in the early 1970s, Bernanke began working directly with the Jewish political crime bosses in South Carolina.


BERNANKE'S YEARS WITH THE CRIME BOSS OF DILLON

Ben Shalom (Hebrew for "Son of Peace") Bernanke went to Harvard University and graduated with a B.A. in economics in 1975. Throughout college, however, Bernanke had a very odd summer job for an Ivy League student of economics. Every summer he returned to Dillon, South Carolina, to work for Alan Heller Schafer, the well-known Jewish criminal and political boss who ran a sprawling roadside gambling and drinking establishment called South of the Border. The adjacent counties in North Carolina had been "dry counties" when Schafer originally started his drinking and gambling establishment.
Such was his clout that he was reportedly able to have the route of Interstate 95 altered so it would directly pass his saloon operation.





Alan Schafer

Bernanke's criminal employer during his college years.


Alan Schafer was, after all, the long-standing chairman of the Democratic Party in Dillon County, where, since 1966, he ran the "state's smoothest-running political machine" by buying votes.
Schafer's political machine maintained power, said Craig C. Donsanto, director of the Justice Department's Election Crimes Branch, through a "carefully controlled and sophisticated system of rigging elections," the New York Times reported in 1982. This is the crime boss that Bernanke worked for, every summer, while he studied at Harvard.

"Alan didn't want any more stump meetings because they threatened his candidates," said A.W. (Red) Bethea, 66, who was defeated four times in Statehouse races by Schafer-backed candidates. "If you were running against the Schafer machine without his wanting you to, you were just wasting your time."

Mr. Donsanto said more than 1,000 Dillon County voters were paid $5 to $10 to sign their names to absentee ballots in 1980. In the 1980 primary, 1,500 of the 7,000 votes cast in Dillon County were absentee ballots. Two days after the primary, agents from the U.S. Justice Dept. "swooped down on Dillon County and seized the ballot boxes, touching off the largest voting fraud investigation ever conducted in the Southeast," the Times reported.

After an 18-month investigation, 30 residents of Dillon County were indicted on charges of violating federal election laws, most of them for buying votes. As the head of the election corruption and vote- buying machine, Schafer was sentenced to three and a half years in federal prison. The joint state and federal investigation, which finally busted Schafer's political machine, "broke up the county's leadership elite, men who had controlled and manipulated Dillon's political process since the mid-1960s," the Times reported.

This was the well-known Jewish criminal that Ben Shalom Bernanke, a student of economics at Harvard, worked for every summer. It is simply impossible that Bernanke was unaware of Schafer's wide-scale criminal activities, which were legendary in the state. (Now, Bernanke is behind the $85 billion taxpayer-funded bailout of another Zionist criminal, Maurice R. Greenberg, who ran A.I.G. for decades and who owned some $15 billion worth of A.I.G. stock, before it fell some 94 percent in value.)

The "pain and embarrassment" caused by Schafer's decades of criminal activity aimed at controlling elections deeply affected the people of Dillon County.

After college, Bernanke earned a doctorate at Massachusetts Institute of Technology, where his adviser was Stanley "Stan" Fischer.
Fischer, born in Rhodesia, also happens to be the current Governor of the Bank of Israel. If you look at Bernanke's biography you will find that he has spent his entire life engaged only in Zionist activities. I have not found any period of Bernanke's life when he was involved in anything other than Zionism.





Bernanke's advisor of Zionist economics at MIT was Stan Fischer,
head of the Bank of Israel; here with Ehud Olmert on April 1, 2008.
[Photo AP - Sebastian Scheiner]

(I am working on an article to explain the massive Zionist criminal enterprise of A.I.G., primarily owned by Maurice Greenberg. A.I.G. is much more than insurance fraud, and there is nothing "golden" about it, except for its Israeli subsidiary's name. Greenberg's criminal enterprise known as A.I.G. is sprawling and even includes a company (ILFC) that leases and finances aircraft for the airlines and secret government missions such as "enforced renditions."

One of Greenberg's aircraft, for example, a Gulfstream 4 with tail number N971L, was involved in the abduction of crew members who survived the Estonia catastrophe in September 1994. Greenberg's plane left Stockholm's Arlanda airport with half a dozen "unregistered passengers" and took them to Bangor, Maine, the day after 11 surviving crew members disappeared from Stockholm's Huddinge hospital.)

This is just a fragment of the criminal activity Greenberg's A.I.G. is involved in. As I wrote in one of the latest chapters of Solving 9-11, published in July 2008, Greenberg and A.I.G. are both involved in the 9-11 false flag terror attacks:


KROLL, GREENBERG & THE ISRAELIS

Rebuffed in 1987, the Mossad team of Malkin and Shalom didn't give up on Isser Harel's prophecy of 9-11, which meant getting the Port Authority security contract. They simply changed tack and decided to work in a less obvious manner, through dedicated and corrupt American Zionists like Jules Kroll and Maurice Greenberg. Shalom went to work for Kroll, according to the online 9/11 Encyclopedia entry for Maurice "Hank" Greenberg, the CEO of the American International Group (A.I.G.) insurance company.

In 1993, Maurice Greenberg became a partner and co-owner of Jules Kroll's company when A.I.G. bought 23 percent of Kroll. Greenberg is very close to Henry Kissinger, who became chairman of A.I.G.'s International Advisory Board in 1987.





Kissinger and Greenberg

Greenberg was deeply involved in China in the 80s, where Henry Kissinger was one of his representatives, according to the 9-11 Encyclopedia. Through the China trade, Greenberg became close to Shaul Eisenberg, the leader of the Asian section of the Israeli intelligence service Mossad, and agent for the sales of sophisticated military equipment to the Chinese military, it reports. Eisenberg was also the owner of Atwell Security of Tel Aviv...

Maurice Greenberg and Jules Kroll are connected to the key players of 9-11 in so many ways that their connections would fill a book. For the purpose of this chapter, however, there are a few key connections that need to be underlined:
1. Maurice Greenberg and Jules Kroll became partners in 1993, the same year Kroll Associates "was chosen over three other companies to advise the Port Authority on a redesign of its security procedures."
"We have such confidence in them that I have followed every one of their recommendations," Stanley Brezenoff, the Port Authority executive director, told the New York Times in 1994.

2. Kroll controlled security at the World Trade Center complex in 2001 and was responsible for hiring John O'Neill, the former chief of counterterrorism for the FBI, who died on 9-11, reportedly his first day on the new job.

3. Greenberg's son, Jeffrey W. Greenberg, became CEO of Marsh & McLennan (MMC) in 1999 and chairman in 2000. The first plane of 9-11 flew directly into the secure computer room of Marsh (Kroll) USA, part of Greenberg's company. Mark Wood, an eyewitness, said: "It looked like a mid-sized executive jet and the way it turned suggested it was being aimed deliberately at a target."
There is much more information about Maurice Greenberg's ties to 9-11 in "The Architecture of Terror: Mapping the Israeli Network Behind 9-11."




Christopher Bollyn

Please support my research and writing.
Donate by Pay Pal to:
bollyn@bollynbooks.com

Sources:

Bollyn, Christopher, "The Architecture of Terror: Mapping the Israeli Network Behind 9-11," July 24, 2008
http://www.bollyn.info/home/articles/911/theisraelinetworkbehind911/

Bollyn, Christopher, " 'Ghost Planes' Make Suspects Disappear: Pentagon has new secret weapon in 'War on Terror' " American Free Press, January 2004
http://www.americanfreepress.net/html/ghost_planes.html

Bollyn, Christopher, "Were Key Survivors from Estonia Catastrophe Kidnapped?" January 2005
http://www.elaestonia.org/eng/index.php?module=lingid&link=133
New York Times, "Carolina Revives its Stump Meetings," May 23, 1982 (Article about Alan Schafer's criminal activities in Dillon County elections, S.C.)