Sunday, July 15, 2007

Kesalahan Memahami Ruh : Faktor penyebab sekulerisme juga

Pemahaman sekuler yaitu memisahkan urusan agama dengan dunia sebenarnya telah mengakar pada kesadaran kita akibat penjelasan yang salah tentang jasmani dan rohani. Kita menganggap pada tubuh kita ada badan halus dan badan kasar. Dan kita pun membedakan kebutuhan masing masing. Kebutuhan dari jasmani adalah makan, minum, tidur .. sampai dulu itu ada namanya : senam kesegaran jasmani. Sedangkan kebutuhan rohani itu sholat, puasa, dzikir dan lain lain. Pertanyaanya : kalau ngomel itu untuk memenuhi kebutuhan apa ? Demikian juga melamun, jalan jalan di pantai, belajar bahasa inggris itu masuk urusan memenuhi kebutuhan jasmani atau rohani ?

Sebenarnya sih kalau mau jujur bahwa sebelum kita dikenalkan dengan istilah ruhani, ruh dan lain lain . Pembahasan antara klasifikasi jasmani dan ruhani itu tidak pernah kita pedulikan. Yang penting kalau lapar ya makan, kalau ngantuk tidur dan kalau resah ya cari jalan menetralisir keresahan baik dengan melamun, curhat, atau sholat. Baru kemudian di sekolah kita di definisikan dengan kebutuhan jasmani dan rohani. Iya kalau definisinya itu benar, kalau salah . .bisa fatal.

Pertanyaan lagi : Apakah pernah Rasulullah SAW memberikan statement bahwa jasmani dan rohani itu terpisah ? Memang dalam Islam (dan dalam agama manapun) meyakini bahwa ada “ruh” sebagai faktor penggerak kehidupan yang merupakan unsur di luar jasmani. Namun apakah benar bahwa kebutuhan rohani itu sama dengan kebutuhan ruh ?

Apakah kita bisa membedakan bahwa sholat, puasa dll itu adalah kebutuhan roh ? (bukan rohani). Jawabannya sederhana saja. Kalau memang ruh itu adalah unsur kehidupan yang ada pada setiap makhluq hidup - termasuk hewan-, maka harusnya hewan itu juga merasakan kebutuhan berpuasa, berkhalwat, berdzikir, dll. Dan kalau tidak tercapai kebutuhan itu, maka dia akan resah. Nah .. apakah ada hewan yang ngamuk2 karena kebutuhan rohani nya (puasa, berkhalwat, dll) tidak terpenuhi ?

Ternyata tidak. Oleh karena itulah maka kita tidak bisa mendefinisikan bahwa sholat, puasa, berkhalwat, dll adalah kebutuhan roh. Kita cukup mendefinisikan adanya kebutuhan rohani saja, tanpa harus mengatakan bahwa kebutuhan rohani itu adalah tuntutan ruh manusia, karena memang ruh itu tidak bisa di identifikasi bentuk, sifat dan kebutuhannya.

Kesalahan mendasar dari masyarakat muslim sekarang adalah terjebak pada filsafat ruh, yang dikembangkan terutama oleh Filsafat Yunani yang sebenarnya juga transferan dari filsafat India. Pythagoras -filsuf yunani- mengatakan bahwa keberadaan ruh atau jiwa dan menganggap ruh terperangkap dalam tubuh jasmani sebagai hukuman karena suatu dosa. Ruh tersebut terkutuk harus menjalani berbagai bentuk inkarnasi, baik sebagai manusia atau pun hewan.

Bahkan Rasulullah SAW yang paling dekat dengan Allah SWT — pencipata dan pemilik ruh2 — tidak tahu atau bahkan tidak diberitahu mengenai masalah ruh kecuali hanya sedikit saja
وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ‌ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلاً۬Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)
Kerancuan ini semakin merajalela di negeri kita Indonesia yang memang sangat kental mewarisi kebudayaan dus tsaqofah hindu yang penuh dengan keyakinan bahwa badan dan ruh adalah dua benda yang berbeda kebutuhannya. Sehingga pemahaman ruh dari agama hindu masaih melekat sekali, seperti adanya roh penasaran, dll.

Jasad, Jiwa (nafs) dan Ruh
Dalam Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red) banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly. Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang? Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh (Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).

Secara umum beliau menjelaskan bahwa Ruh dalam AlQuran maknanya adalah “Nyawa” (sirruh hayah) dan juga Jibril. Sedangkan perasaan2 ketidak tenangan, kegundahan, keresahan dll itu menurut AlQuran adalah pengaruh dari NAFS (jiwa) bukan dari ruh. Nafsu sendiri tingkatannya ada 3 yaitu nafsu muthmainnah, nafsu amarah dan nafsu lawwamah

Nafsu muthmainnah adalah nafsu/jiwa yang tenang karena yakin mendapatkan ridho Allah, yaitu nafsu yang berada pada kondisi mengikuti Islam baik secara ma’rifat (aqidah), amalan dzohir (sholat, dagang, dll) dan amalan bathin (tawadhu, ikhlas, dll). Manusia harus selalu pada kondisi perbuatan fisik yang baik dan perbuatan batin yang baik agar bisa mendapatkan ketenangan. Dan tidak lain makna baik adalah semua yang baik menurut Allah , yaitu sesuatu yang wajib, mandub dan mubah dilakukan, bukan yang makruh atau yang haram. Barang yang dipergunakan pun harus barang yang halal, bukan barang yang haram. Buruk adalah semua yang buruk menurut Allah.

Kesimpulan
Kebutuhan rohani yang kita sebut sebut itu sebenarnya bukan kebutuhan roh, tapi adalah kebutuhan untuk mendapatkan jiwa yang tenang (nafs muthmainnah).
Karenanya, tidak benar bila memenuhi kebutuhan rohani itu cuman dengan sholat, puasa tok .. tapi setiap amal perbuatan yang tidak menentramkan hati (maksian) juga harus dihindari. Dan semua perbuatan yang menentramkan hati (menjalankan amal ikhlas dan benar menurut syariat) harus dilaksanakan agar kita mendapatkan kesehatan rohani.

Jangan sesorang itu korupsi, melacur, mabuk, durhaka pada orang tua, aborsi dilakukan, lalu agar hatinya tenang langsung ditutupi kondisinya itu dengan melakukan sholat, puasa dan sedekah. Itu namanya mempermainkan tobat. Memang sholat puasa dan sedekah itu menentramkan hati, namun kalau selesaninya dan mengingat lagi ancaman serta siksa yang menanti di akhirat akibat maksiat itu, maka pasti - dan harusnya, kalau memang beriman - kembali tidak akan tenang karena teringat dosa dosa maksiat itu.

http://dnuxminds.wordpress.com/

Kesempurnaan Islam di Khitan oleh Muslimin Non Ideologis Islam

Tulisan ini tidak bermaksud menanggapi tanggapan nyleneh seseorang yang meminta SBY mencegah masuknya ideologi transnasional atau mencoba menambahkan definisi dan penjelasan atas ideologi Islam yang sudah tentu telah banyak ditulis oleh para senior seperti artikel di al-wa’ie atau yang lainnya.

Secara singkat debat Islam sebagai ideologi atau bukan adalah karena definisi ideologi itu sendiri. Manakala ideologi diterjemahkan sebagai buah pemikiran manusia untuk menyelesaikan problemanya maka jelas memang Islam bukan buatan manusia. Pertanyaanya : itu definisi dari mana ya ? Kalau saya baca wiki atau yang lainnya, penjelasan ideologi adalah “ilmu tentang ide, ilmu tentang gagasan, yang tentu saja harus berperan dalam proses pengembangan setiap ilmu termasuk dan terutama menyangkut ilmu-ilmu sosial.” tanpa disebutkan disana apakah itu hasil pemikiran manusia murni atau datang dari pemikiran yang digali dari wahyu Allah SWT.

Lebih jauh, menurut Willard A. Mullins karakteristik ideologi adalah1. memiliki kekuatan pengamatan (terhadap realitas)2. mampu memberikan panduan evaluasi seseorang (dalam menyelesaikan masalah)3. bisa memberikan arahan untuk berbuat/berntidak (berfikir juga tentunya)4. harus padu (terintegrasi)
Jadi, bila dirumuskan dengan dari pandangan pakar definisi ideologi tersebut ? kira kira Islam masuk dalam suatu objek yang disebut ideologi tidak ? Masuk definisi idelogi dong ..

Yang jelas, ketika seorang muslimin khususnya yang menurut masyarakat umum dikenal atau setidaknya dianggap sebagai tokoh Islam yang menyatakan bahwa islam itu bukan ideologi maka pertanyaanya adalah : ideologi apa yang sedang dia anut ? apakah ideologi kapitalis atau ideologi komunis. Dan peluang yang terbesar adalah dia menganut ideologi kapitalis sekuler entah dalam taraf penganut ideologi kapitalis tulen - yang memisahkan mutlak antara urusan sistem islam dari kehidupan umum - atau penganut ideologi kapitalis yang tidak tulen, yang berupaya menggunakan Islam sepenuhnya namun meminggirkan Islam pada tataran hukum dan pemerintahan.

Karena memang tidak ada kemungkinan lain selain memeluk antara ideologi Islam, ideologi Kapitalis dan Ideologi Komunis. Ideologi2 lainnya hanyalah cabang dari ideologi kapitalis atau komunis atau hasil perkawinan yang menghasilkan anak cucu. Sebab Islam tidak mempunyai cabang atau anak cabang ideologi selain Islam itu sendiri, hal ini sesuai pemahaman “udkhuluu fiis silmii kaffah” [masuklah islam saja dan secara totalitas] .. atau “wamaa dzaa ba’dal haqqi illadh dholal ?” [maka apakah sesudah kebenaran itu kecuali kebatilan]..

Bahaya terbesar dari pernyataan Islam bukan sebagai ideologi dari mereka yang dikenal atau dianggap sebagai tokoh Islam adalah efek pernyataan tersebut kepada kaum muslimin yang masih awam dalam hal pengertian dan sifah ideologi Islam itu sendiri, sehingga terjebak untuk tidak berideologi Islam alias terjebak masuk dalam koridor ideologi kapitalis/komunis dan sudah tentu menjadi tidak masuk ke dalam Islam secara kaffah.

Tokoh tersebut pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatan dan hasil perbuatannya tersebut di yaumil hisab yang mencegah atau mengakibatkan orang lain tidak masuk islam secara kaffah. Aktivitas tokoh tersebut akan tidak lain adalah telah menyunat (mengkihtan) kesempurnaan Islam itu sendiri yang merupakan sebuah koleksi terintegrasi dari petunjuk2 hidup yang diberikah oleh Allah SWT untuk menyelesaikan segala problematika manusia di dunia.

Ada yang nyletuk : Gimana mungkin Islam itu Ideologi, lha wong istilah ideologi itu sendiri baru muncul abad 18 M. Jawaban : Lha itu kan cuman penemuan istilah atau definisi dari ideologi saja, bukan penemuan ideologinya sendiri. Kapitalis sendiri sebagai sebuah ideologi juga sudah muncul sebelum penemuan istilah idelogi itu sendiri. Tinggal masalahnya, bagaimana memasukkan tiap objek yang ada apakah bisa masuk ke dalam definisi baru tersebut atau tidak. Istilah aqidah sebagai istilah baru dari Iman, saja juga baru muncul setelah masa nabi dan sahabat kok .. yang penting makna dibalik definisinya, bukan kapan definisi itu ada … Gitu lo ..

Apapun itu istilahnya, yang jelas Allah menghendaki agar kita beriman dan berislam totalitas dan menyeluruh terhadap apa2 yang dibawa Rasulullah SAW termasuk dalam hal sistem hukum dan pemerintahan Islam. “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). (AlBaqoroh 137) Jika mereka ber-Islam (masuk Islam dan tunduk pada aturan Islam), sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). (Ali Imran :20)

http://dnuxminds.wordpress.com/2007/06/04/kesempurnaan-islam-di-khitan-oleh-muslimin-non-ideologis-islam/

Pangkal Kerapuhan Kapitalisme

Kapitalisme adalah istilah yang dipakai untuk menamai sistem ekonomi yang mendominasi dunia Barat sejak runtuhnya feodalisme pada abad ke-16 (Dillard, 1987). Milton H. Spencer dalam bukunya, Contemporary Macro Economics (1977), mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah organisasi ekonomi yang dicirikan oleh kepemilikan individu atas alat-alat produksi dan distribusi serta pemanfaatan kepemilikan individu itu untuk memperoleh laba dalam kondisi-kondisi yang sangat kompetitif (Winardi, 1990).

Tak dapat dipungkiri, Kapitalisme sebagai sistem ekonomi kini tengah berjaya di tingkat global, terutama setelah momentum hancurnya Sosialisme pada awal 1990-an. Hampir seluruh negara di dunia menerapkan Kapitalisme dengan berbagai variasinya. Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin dalam bukunya, The Chalenge of Global Capitalism (2000), bahkan memuji Kapitalisme sebagai “sistem ekonomi pencipta kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal di dunia.”

Namun, para pemuja fanatik Kapitalisme itu lupa untuk menyoal, siapa yang menikmati kesejahteraan itu. Penikmat kesejahteraan sebagian besarnya hanyalah negara-negara penjajah kaya. Kapitalisme justru gagal total dalam mendistribusikan pendapatan global. Pada tahun 1960, 20% penduduk dunia terkaya menikmati 75% pendapatan dunia; sedangkan 20% penduduk termiskin hanya menerima 2,3% pendapatan dunia. Pada tahun 1997 ketimpangan global itu bukan makin berkurang, namun makin parah. Sebanyak 20% penduduk terkaya itu menikmati pendapatan global makin banyak, yakni 80%. Sebaliknya, 20% penduduk termiskin menerima pendapatan global makin sedikit, yakni menjadi 1% saja (Spilanne, 2003).

Tak hanya gagal dalam distribusi, Kapitalisme saat ini tengah meluncur menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda kerapuhan Kapitalisme makin terlihat. Harry Shutt dalam bukunya, Runtuhnya Kapitalisme (2005), menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”. Misal: semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan semakin seringnya krisis keuangan.

Jelas, ada yang salah dalam Kapitalisme. Kesalahan ini bagaikan cacat bawaan yang melekat pada Kapitalisme sejak kelahirannya. Cacat ini sedemikan fatalnya sehingga yang diperlukan bukan lagi koreksi berupa pembaruan atau perbaikan pada lapisan kulitnya saja, namun perombakan total untuk membentuk sistem yang sama sekali baru (Jerry Mander dkk, 2004).

Tulisan ini berusaha menguraikan faktor-faktor paling mendasar yang mempengaruhi kerapuhan Kapitalisme dan akan langsung dibandingkan dengan solusi alternatifnya menurut Islam.

Ekonomi Berbasis Moneter
Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan/non-real), bukan real based economy (ekonomi berbasis sektor real). Artinya, Kapitalisme dominan bermain di level atas dari ekonomi real. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi spekulatif melalui sektor non-real (keuangan); misalnya melalui kredit perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, Kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Sistem ekonomi non-real ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan. Menurut The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius (Washington Post, 15/11/2002), pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang default (gagal bayar) sebesar Rp 1.650 triliun. Jumlah ini lebih besar daripada jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan, US$ 277 miliar obligasi di Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang berbasis bunga (interest based) (Harahap, 2003).

Dari aspek kredit bank juga dapat diketahui, bahwa kualitas aktiva produktif (kredit) di Amerika semakin lama semakin turun. Menurut data Moody’s Ratio of Credit Downgrades to Upgrades, terlihat bahwa kredit bank di Amerika semakin menurun sejak tahun 1995 hingga tahun 2003. Ini membuktikan, bahwa pola kredit perbankan berbasis bunga dapat membahayakan kelangsungan perbankan itu sendiri, dan pada akhirnya dapat membahayakan sektor real dan perekonomian secara umum (Harahap, 2003).

Islam berbeda dengan Kapitalisme. Islam tidak mengakui keberadaan sektor non-real berbasis bunga, karena Islam telah mengharamkan riba, termasuk bunga (QS 2: 275). Dengan kata lain, dalam Islam, uang bukanlah komoditi yang karenanya mempunyai harga. Harga uang inilah yang dalam teori-teori Kapitalisme disebut bunga. Menurut buku UK Budget Red Books 1990, “Suku bunga merupakan harga dari uang dan kredit.” (El-Diwany, 2003). Uang dalam Islam hanyalah sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditi sebagaimana dalam Kapitalisme.

Dengan kata lain, ekonomi Islam adalah real based economy (ekonomi berbasis sektor real). Ini merupakan kebalikan total dari ekonomi Kapitalisme yang dibangun dengan monetary based economy. Keuntungan hanya diperoleh melalui jerih payah nyata (real) dalam produksi barang atau jasa.

Ekonomi Berbasis Uang Kertas (Fiat Money)
Fiat money adalah uang kertas yang secara legal diakui pemerintah melalui dekrit sebagai uang resmi, namun tidak ditopang dengan logam mulia seperti emas dan perak (Hamidi, 2007). Uang kertas itulah yang sekarang digunakan oleh negara-negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods yang mengaitkan dolar dengan emas (1 ons/28,35 gram emas=35 dolar AS) pada tahun 1970-an, dolar AS tidak ditopang lagi dengan emas dan dapat berlaku hanya karena kepercayaan (trust) orang pada dolar.

Seiring dengan dominasi Kapitalisme AS, mata uang dolar kini menjadi salah satu mata uang kuat (hard currency) dunia yang digunakan sebagai standar nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan internasional.
Sistem uang kertas ini merupakan salah satu akar kerapuhan Kapitalisme. Betapa tidak. Pasalnya, jika dibandingkan dengan mata uang Islam (dinar dan dirham), uang kertas sesungguhnya mempunyai kelemahan mendasar, antara lain selalu terkena inflasi permanen (Hamidi, 2007). Di samping itu, uang kertas jauh dari nilai keadilan (fairness) lantaran nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya.

Mengenai inflasi permanen, perhatikan ilustrasi berikut. Misal: Anda meminjamkan uang kepada teman Anda tahun ini sebesar Rp 100 juta rupiah. Teman Anda akan mengembalikan sejumlah Rp 100 juta juga, namun 10 tahun lagi. Samakah nilai Rp 100 juta sekarang dengan Rp 100 juta untuk 10 tahun lagi? Jelas tidak sama. Uang kertas rupiah ini akan mengalami depresiasi (penurunan nilai) karena inflasi permanen. Inilah kelemahan mendasar uang kertas.

Mata uang Islam (dinar dan dirham) berbeda dengan mata uang dalam Kapitalisme. Dinar dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil sekali inflasinya. Pada masa Rasulullah saw., dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli seekor kambing, dan dengan uang 1 dirham (2,975 gram perak) dapat dibeli seekor ayam. Pada masa sekarang ini, tahun 2007, dengan uang senilai 1 dinar orang masih dapat membeli seekor kambing; dan dengan uang senilai 1 dirham orang sekarang masih dapat membeli seekor ayam. Luar biasa, bukan?

Pada mata uang kertas, nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya. Ini jelas tidak adil. Misal: untuk mencetak uang dengan nilai nominal 1 dolar AS diperlukan biaya yang besarnya hanya 4 sen dolar AS. Jadi, nilai intrinsik uang 1 dolar sebenarnya hanya 4 sen dolar. Kalau kurs 1 dolar AS, misalnya, senilai Rp 10.000, berarti 4 sen dolar hanya sebesar Rp 400. Nah, sekarang kalau mau mencetak uang 100 dolar AS, berapa biaya produksi yang diperlukan? Jelas sekali tidak akan jauh berbeda dengan biaya mencetak uang 1 dolar AS (Hamidi, 2007).

Berbeda dengan uang kertas, pada dinar dan dirham nilai intrinsik dan nominalnya menyatu, tidak bakal ada perbedaan. Mengapa? Sebab, nilai nominal dinar atau dirham ditentukan semata oleh berat logamnya itu sendiri yang sekaligus menjadi nilai intrinsiknya, bukan ditentukan oleh dekrit atau pengumuman bank sentral. Kalau kita menyimpan uang Rp 100 ribu sebanyak satu karung, lalu Bank Indonesia mengumumkan uang itu tidak berlaku lagi dan tidak bisa ditukar dengan uang baru, kita tak bisa berbuat apa-apa. Sekarung uang itu hanya menjadi sampah tak bernilai. Berbeda halnya kalau kita mempunyai dinar emas seberat 100 gram, misalnya. Dinar emas akan tetap berlaku sebagai alat tukar di mana pun dan kapan pun, tidak bergantung pada dekrit pemerintah atau bank sentral.

Keunggulan dinar dan dirham Islam itu tidak dimiliki oleh dolar AS yang dominan sekarang. Jika dinar dan dirham memperkokoh ekonomi karena tahan inflasi, dolar AS justru akan merapuhkan ekonomi lantaran rentan inflasi. Pasalnya, ketika dolar tidak ditopang dengan emas lagi, pemerintah AS akan gampang tergoda mencetak dolar dalam jumlah tak terbatas (unlimited). Penciptaan dolar yang terus-menerus oleh Federal Reserve (Bank Sentral) AS inilah yang dianggap para pakar seperti Friedman dan Schwartz (1983) sebagai biang keladi di balik depresi terburuk sepanjang sejarah Amerika. Mereka mengatakan, Federal Reserve-lah yang menyebabkan inflasi terus-menerus karena mencetak dolar yang melebihi nilai barang dan jasa yang ada (Hamidi, 2007).

Ekonomi Berbasis Utang
Utang, baik yang dilakukan negara-negara kapitalis maupun negara-negara Dunia Ketiga, terbukti sama-sama membahayakan. Total out standing utang AS (pemerintah dan swasta) dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 1998 jumlahnya ‘baru’ 5,5 triliun dolar AS, dan pada tahun 2002 jumlahnya menjadi 6,2 triliun dolar AS. Jelas ini jumlah yang luar biasa besar kalau dibandingkan dengan utang Indonesia yang ‘hanya’ 120 miliar dolar AS pada tahun 1998 dan turun menjadi 98 miliar dolar AS pada tahun 2002.

Bagaimana AS mengatasi masalah ini? Gampang, AS tinggal mencetak dolar sebanyak-banyaknya, lalu mengalihkan beban inflasinya ke segala pihak yang memegang uang dolar di seluruh dunia (Hamidi, 2007). Dampaknya, pertumbuhan ekonomi yang muncul akan bersifat semu (bubble economy) dan ancaman kolapsnya pun tinggal menunggu waktu.

Bagi negara-negara Dunia Ketiga yang ikut-ikutan menerapkan Kapitalisme, utang telah menjadi alternatif andalan dalam pembiayaan pembangunan mereka sejak berakhirnya Perang Dunia II (1945). Namun, para penguasa Dunia Ketiga itu tidak sadar, bahwa utang luar negeri sebenarnya lebih bermotif ideologi-politik daripada motif ekonomi. John F. Kennedy tahun 1962 pernah menegaskan, bahwa utang luar negeri merupakan metode AS untuk mempertahankan kedudukannya yang berpengaruh dan memiliki pengawasan di seluruh dunia (Beaud, 1987). Dengan demikian, utang luar negeri bagi negara-negara Dunia Ketiga bukan saja menimbulkan masalah ekonomi (beban utang yang berat), namun juga masalah ideologi dan politik, yaitu hegemoni ideologi Kapitalisme di negeri-negeri Islam.

Islam dengan tegas mengharamkan utang luar negeri dengan dua alasan utama. Pertama: karena utang itu pasti disertai syarat bunga, padahal Islam mengharamkan bunga (QS 2: 275). Kedua: karena utang itu telah menghancurkan kedaulatan negeri penerima utang dan hanya menjadi jalan hegemoni penjajah kafir. Padahal hegemoni kafir atas umat Islam juga diharamkan (QS 4: 141).

Ekonomi Berbasis Investasi Asing
Investasi asing yang dilakukan negeri-negeri Islam terbukti lebih menguntungkan negara-negara investor dan malah merugikan ekonomi lokal. Ekonom Sritua Arief pernah menghitung, untuk 1 dolar AS investasi asing yang masuk ke Indonesia, ternyata yang balik lagi keluar dari Indonesia adalah sepuluh kali lipatnya, alias 10 dolar AS.

Investasi asing yang dilakukan ternyata lebih sebagai penghisapan dan eksploitasi yang kejam. Sebanyak 70% sumberdaya alam di Indonesia telah dikuasai asing. Indonesia hanya mendapat bagian sedikit, ditambah ‘bonus’ mengerikan berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Emas Papua yang dieksploitasi PT Freeport, misalnya, pertahun menghasilkan Rp 40 triliun. Namun, Pemerintah Indonesia hanya mendapat bagian 9,4 % ditambah pajak dan royalti, serta itu tadi, bonus kerusakan lingkungan yang dahsyat dan konflik sosial antara penduduk lokal dengan PT Freeport karena ketidakadilan.

Islam memberikan ketentuan syariah yang jelas mengenai investasi asing. Dalam investasi asing untuk SDA, misalnya, Islam telah menetapkan bahwa SDA seperti emas, minyak, dan gas, adalah milik umum, bukan milik individu atau milik negara. Jadi, tambang tidak boleh diserahkan kepada investor untuk dieksplorasi dengan sistem bagi hasil. Yang benar, 100% hasil tambang adalah milik umum yang dikelola negara. Jika ada pihak swasta yang dilibatkan, itu sebatas kontrak tenaga kerja atau kontrak sewa peralatan yang dibayar sesuai dengan jasa mereka. Wallâhu a‘lam.  [KH M Shiddiq al-Jawi]

Daftar Pustaka
Beaud, Michel, “Lompatan Kapitalisme Jauh ke Depan (1945-1980),” dalam M. Dawam Rahardjo (Ed.), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES), 1987.
Dillard, Dudley, “Kapitalisme”, dalam M. Dawam Rahardjo (Ed.), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES), 1987.
Ebenstein, William & Fogelman, Edwin, Isme-Isme Dewasa Ini (Today’s Isms), Penerjemah Alex Jemadu, (Jakarta: Penerbit Erlangga), 1994,
El-Diwany, Tarek, The Problem With Interest (Sistem Bunga dan Permasalahannya), Penerjemah Amdiar Amir, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana), 2003,
Gilpin, Robert & Gilpin, Jean Millis, Tantangan Kapitalisme Global (The Chalenge of Global Capitalism), Penerjemah Haris Munandar & Dudy Priatna, (Jakarta: PT RajaGrafindo Perkasa), 2002,
Hamidi, M. Luthfi, Gold Dinar Sistem Moneter Global yang Stabil dan Berkeadilan, (Jakarta: Senayan Publishing House), 2007,
Harahap, Sofyan S., Pelajaran Dari Krisis Asia, (Jakarta: Pustaka Kuantum), 2003,
Mander, Jerry dkk, “Globalisasi Membantu Kaum Miskin?” dalam International Forum on Globalization, Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan (Does Globalization Help the Poor?), Penerjemah A. Widyamartaya & AB. Widyanta, (Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2004,
Shutt, Harry, Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism), Penerjemah Hikmat Gumilar, (Jakarta: Penerbit TERAJU), 2005,
Spilanne, James J., “Industri Ringan Kaki: Neoliberalisme dan Investasi Global”, dalam I. Wibowo & Francis Wahono (Ed), Neoliberalisme, (Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas), 2003,
Winardi, Ilmu Ekonomi (Aspek-Aspek Sejarahnya), (Bandung: PT Citra Aditya Bakti), 1990.

http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/07/02/pangkal-kerapuhan-kapitalisme/#more-97

Salman Rushdie dan Permusuhan Barat terhadap Islam


Salman Rushdie adalah nama yang selalu mengingatkan peristiwa pahit bagi umat Islam sedunia. Tahun 1988, novelis asal berdarah India itu menerbitkan buku "The Satanic Verses" atau Ayat-ayat Setan, yang berisi penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat serta kitab suci al-Qur'an. Penerbitan buku itu membangkitkan amarah umat Islam sedunia. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa murtad dan vonis mati atas Salman Rushdie. Satu bulan berikutnya, para menteri luar negeri Organisasi Konferensi Islam (OKI) menggelar sidang dan mendukung fatwa tersebut. Seiring dengan gelombang protes dunia Islam, para penulis muslim menulis puluhan buku untuk menjawab novel tulisan Rushdie.


Di saat umat Islam di seluruh dunia meneriakkan protes, kecaman dan kutukan kepada Salman Rushdie, dunia Barat khususnya Kerajaan Inggris justeru mengumumkan dukungan kepada novelis murtad tersebut. Dunia Barat bahkan memberikan berbagai hadiah dan penghargaan diberikan kepadanya. Setelah berlalu 18 tahun sejak dijatuhkannya vonis hukuman mati oleh Imam Khomeini kepada Salman Rushdie, kaum muslimin kembali dikejutkan oleh langkah Ratu Elizabeth II yang memberikan gelar kesatriaan atau knighthood kepada Rushdie, dengan alasan perannya dalam mengembangkan kesusasteraan.

Tak syak bahwa apa yang dilakukan pemerintah Inggris itu adalah sebuah kesengajaan dan skenario yang telah dirancang untuk mempermainkan perasaan kaum muslim dan melecehkan Islam. Sebab, para pengamat pakar kesusasteraan menilai tidak ada keistimewaan seni dalam karya-karya Rushdie. Pengalaman selama ini juga menunjukkan bahwa Barat memiliki standar ganda dalam banyak hal seperti kebebasan berpendapat dan berkreasi. Jika dituntut kepentingannya, Barat akan memberikan lampu hijau kepada siapa saja untuk menulis semaunya meski tulisan itu melanggar kode etik dan melukai perasaan satu setengah milyar muslim.

Tak dipungkiri bahwa kebebasan berpendapat adalah salah satu hak yang paling asasi bagi manusia. Akan tetapi tidak ada kebebasan tanpa batas dan aturan. Jika sebuah kebebasan berbenturan dengan kesucian dan meniscayakan pelecehan terhadap nilai-nilai kebenaran, maka tidak ada lagi kebebasan yang harus dipertahankan. Sayangnya, banyak pihak yang dalam hal ini negara-negara adidaya dan Barat, tak segan mengorbankan kesucian dan kebenaran untuk kepentingannya, dengan menggunakan kedok kebebasan berpendapat.

Dukungan dan pembelaan Barat kepada Salman Rushdie dapat dilihat dari sudut pandang ini. Dengan mendukung Salman Rushdie, dunia Barat praktis telah menistakan kesucian agama ilahi dan melecehkan kebebasan itu sendiri. Media massa, para politikus dan pejabat pemerintahan di Barat tak jarang melakukan aksi pelecehan dan penistaan terhadap kesucian Islam, al-Qur'an dan Nabi Muhammad SAW. Ketika aksi tersebut direaksi keras oleh dunia Islam, mereka bersembunyi di balik kedok kebebasan berpendapat.

September 2005, Koran Denmark, Jyllan Posten memuat karikatur penghinaan terhadap Nabi SAW, tindakan yang lantas direaksi luas dan keras oleh umat muslim dunia. Saat belum ada permintaan maaf, berbagai media eletronik dan cetak di sejumlah negara Barat memuat karikatur yang sama dan menambah luka hati kaum muslimin. Rezim-rezim Barat memberikan dukungan kepada aksi media tersebut dengan memberinya label kebebasan berpendapat. Kesamaan karikatur ini dan buku ayat-ayat setan tulisan Salman Rushdie adalah pelecehan tanpa dalil. Padahal Islam adalah agama yang logis. Sementara pelecehan adalah tindakan yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki argumen.

Penghinaan kepada agama khususnya Islam, biasanya dibarengi dengan penghinaan terhadap para Nabi. Dalam skenario Salman Rushdie dan ayat-ayat setannya, masalah ini nampak dengan jelas. Rushdie memperolok dan mempermainkan keagungan Nabi Muhammad SAW dan mengalamatkan berbagai tuduhan kepada beliau. Penghinaan kepada para Nabi sudah biasa dilakukan oleh para penentang kebenaran dan ajaran ilahi sejak dahulu kala. Karena itu apa yang terjadi di zaman ini adalah kelanjutan dari peristiwa di masa lalu.
Para Nabi adalah poros kebenaran dan spiritual. Karena itu, para musuh Allah berharap dapat menodai dan melemahkan agama yang dibawa para Nabi dengan merusak kesucian insan-insan pilihan Allah ini. Akan tetapi para nabi khususnya Nabi Muhammad SAW adalan wujud suci yang cahayanya tak mungkin redup hanya dengan olok-olok dan penghinaan para musuh Allah. Tak hanya para pengikut agama ilahi, orang-orang yang berpandangan bebas dan jujur akan mengakui para utusan Allah itu sebagai insan-insan yang menjadi kebanggaan sejarah dan pembimbing umat manusia. Mereka mengajarkan kebenaran, kejujuran, keadilan, persaudaraan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sayangnya, di tengah masyarakat barat, muncul berbagai kelompok yang menutup mata mereka dari fakta tadi. Kemanusiaan dan spiritual diremehkan dan dilecehkan, sementara gerakan anti agama dan spiritualitas didukung dan dibesarkan. Salman Rushdie dijadikan pahlawan dan disemati berbagai penghargaan dan penghormatan, hanya lantaran karya-karyanya yang melecehkan agama.

Pemberian penghargaan dan gelar kehormatan terbaru kepada Rushdie oleh Kerajaan Inggris, setelah hampir dua dekade berlalu sejak ia dijatuhi vonis mati oleh almarhum Imam Khomeini, menunjukkan episode baru atau, mungkin, babak kelanjutan dari permusuhan barat terhadap agama ilahi terutama Islam. Rushdie, figur yang paling dibenci oleh umat Islam sedunia, diberi gelar kebangsawanan 'Sir' oleh Ratu Inggris. Akibatnya, dunia dibakar oleh demo serta gerakan protes dan kutukan. Dengan langkah ini, London harus bersiap-siap menghadapi perlawanan dari dunia Islam.

Di Inggris sendiri, sekitar dua juta warga muslim di negara itu tak mampu menahan rasa sakit hati. Warga muslim Inggris selama ini selalu berusaha hidup secara damai dan menghormati agama-agama yang lain. Namun yang mereka dapat adalah penistaan terhadap agama Islam. Reaksi keras mereka terhadap pemberian gelar kehormatan kepada Salman Rushdie melahirkan gelombang protes di dalam pemerintahan Inggris. Gencarnya protes tersebut memaksa sejumlah menteri di kabinet Tony Blair termasuk Menteri Luar Negeri Inggris dan beberapa anggota parlemen untuk memkritik langkah pemerintah dan Ratu Elizabeth II dalam memberikan gelar ksatria kepada Rushdie, langkah yang hanya menjadikan Inggris sebagai negara paling dibenci oleh umat Islam.

Saat memberikan gelar kehormatan tersebut, pemerintah Inggris memberikan alasan peran Rushdie dalam kesusasteraan dan kebebasan berpendapat yang dianut di Inggris. Namun tak ada satupun yang dapat mempercayai alasan itu. Bahkan tidak sedikit yang menilai sebagai tindakan pelecehan baru Tony Blair terhadap Islam menjelang kepergiannya dari kursi pemerintahan. Sebelum ini, Blair telah ikut membantu invasi dan pendudukan atas Irak, sebuah negeri muslim.

Penganugerahan gelar kehormatan kepada Salman Rushdie yang menghina dunia Islam lewat the Satanic Verses, menunjukkan langkah terprogram Barat dalam memusuhi dan memerangi Islam. Rezim-rezim di Eropa tak mampu menyembunyikan kekecewaan dan kekhawatiran mereka terhadap perkembangan Islam di sana. Mereka beranggapan bahwa dengan mencoreng nama baik Islam dan mengesankan kaum muslimin sebagai orang-orang yang bengis dan tak berperadaban, perkembangan Islam di Eropa dapat ditekan.
Tak diragukan bahwa pesatnya teknologi dan pertukaran informasi lewat media, telah membuka pintu bagi warga Eropa untuk mengenal Islam. Jika pengenalan ini dibiarkan berjalan secara alamiah, tentu warga Eropa akan menerima agama yang suci, logis dan dengan ajarannya yang menawan ini. Karena itu, para penguasa di Eropa berusaha keras untuk membendung perkembangan Islam, yang salah satu caranya adalah dengan merusak citra Islam, sehingga hakikat agama ini tertutupi bagi warga Eropa. Pemberian penghargaan dan berbagai hadiah kepada Salman Rushdie dapat dicermati lewat kacamata ini.

Yang jelas, program yang dijalankan Barat untuk membendung Islam adalah program yang terkoordinasi dengan rapi. Hal ini diungkap dalam oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Ali Hosseini yang mengatakan, "Penganugerahan gelar 'Sir' kepada Salman Rushdie menunjukkan bahwa aksi penistaan dan pelecehan kesucian Islam bukan peristiwa yang terjadi secara kebetulan, tetapi sebuah gerakan yang terprogram dan terorganisasi dengan dukungan negara-negara Barat."


Friday, July 13, 2007

YAHUDI MUSUH AGAMA !!!


Oleh Redaksi Majalah Salafiyah Al-Ashalah

Musuh-musuh Islam dan orang-orang bodoh yang mengikuti mereka, berusaha menggambarkan bahwa hakikat permusuhan kita melawan Yahudi hanyalah permusuhan memperebutkan wilayah perbatasan, permasalahan pengungsi dan sumber air. Dan permusuhan seperti ini mungkin diselesaikan dengan cara hidup berdamai dan mengganti para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dengan tempat tinggal baru, serta memperbaiki kondisi kehidupan mereka, menempatkan mereka di berbagai wilayah, dan mendirikan pemerintahan sekuler yang hidup dibawah kaki tangan Yahudi ; yang menjadi dinding keamanan bagi Negara Yahudi.


Tidaklah mereka semuanya mengetahui, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan yang terjadi semenjak dahulu kala, semenjak pemerintahan Islam pertama berdiri di Madinah Al-Munawarah dengan pimpinan Rasul (utusan Allah) untuk seluruh manusia yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan kepada kita tentang hakikat kedengkian Yahudi dan permusuhan mereka terhadap umat Islam, umat Tauhid.


Artinya : Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. [Al-Ma'idah : 82]


Orang musyrik yang dimaksud adalah Nashara.


Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mendahulukan Yahudi daripada orang-orang musyrik dalam permusuhan (terhadap umat Islam), padahal millah/kepercayaan orang kafir adalah satu, hanya saja mereka berbeda-beda tingkatan dalam permusuhan mereka terhadap umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Artinya : orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. [Al-Baqarah : 120]


Semenjak awal kali kaum muslimin menghirup udara Islam : Orang-orang Yahudi telah melakukan permusuhan terhadap umat Islam dan Nabi mereka Shallalahu 'alaihi wa sallam. Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak luput dari gangguan orang-orang Yahudi. Mereka telah berusaha membunuh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam tiga kali, (Pertama) mereka berusaha menimpakan batu ke kepala Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, (Kedua) mereka meletakkan racun dalam (makanan) yaitu paha kambing, (Ketiga) ketika Labid bin Al-Asham Al-Yahudi semoga laknat Allah Subhanahu wa Ta'ala ditimpakan kepadanya- menyihir Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Inilah dia Amerika membekali orang-orang Yahudi dengan senjata tercanggih yang menghancurkan ; untuk membunuh anak-anak, wanita, orang tua penduduk Palestina yang beragama Islam, dan mereka menyibukkan dunia dengan pemilihan umum Amerika untuk menutup-nutupi korban-korban pemubunuhan yang dilakukan Yahudi terhadap penduduk Palestina yang muslim.


Inilah dia Inggris, membekali Yahudi dengan senjata penghancur yang menyebabkan korbannya terbunuh mengerikan, senjata yang menghentikan gerakan pemuda Palestina ; maka umat Islam ini adalah sasaran yang dituju oleh Yahudi dan penolong-penolongny a, baik pemudanya, para orang tua, anak-anak, dan para wanita.


Dan inilah penolong-penolong Yahudi, memalingkan umat dari luka-luka yang diderita penduduk Palestina yang muslim, menutupi kejahatan-kejahatan yang dilakukan Yahudi dengan mengadakan acara-acara pertandingan- pertandingan olah raga, dan pertunjukan- pertunjukan yang menghilangkan kesadaran umat serta menidurkan mereka.


Apakah kaum muslimin tidak mengetahui, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan aqidah, permusuhan budaya, permusuhan peradaban, permusuhan yang tidak akan dapat dihilangkan begitu saja ?!


Bukankah Yahudi telah membakar Masjidil Aqsa ? Bukankah mereka telah membuat lubang dibawah Masjidil Aqsa, agar Masjid Aqsa runtuh dengan sendirinya? Bukankah mereka telah membunuh kaum muslimin ketika sujud di bulan Ramadhan di Masjid Al-Khalil ?! Bukankah mereka telah membelah perut-perut wanita-wanita yang hamil, dan membunuh anak-anak yang masih menyusui, dan membakar tumbuh-tumbuhan maupun bangunan ?!


Bukankah orang-orang Yahudi berusaha merubah masjid-masjid di Palestina menjadai kafe-kafe minuman keras dan tempat perjudian ?! Bukankah mereka telah menjadikan sebagian masjid-masjid itu sebagai kandang-kandang binatang ternak dan tempat penimbunan sampah?


Lalu tiba-tiba ada yang menyatakan : Sesungguhnya permusuhan kita dengan Yahudi hanyalah permusuhan dalam memperebutkan wilayah perbatasan[1] , dan jalan penyelesaiannya adalah : Mendirikan negara Palestina kecil, ibu kotanya di Al-Quds Asy-Syarif, supaya [pemeluk tiga agama (Islam, Kristen dan Yahudi) hidup (bersama) demikianlah yang mereka kira-. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa agama yang diridhoi di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala hanyalah Islam ?! Atau apakah mereka tidak mengetahui bahwa nabi Ibrahim 'alaihissalam berlepas diri dari Yahudi dan Nashara disebabkan kesyirikan dan penyembahan berhala yang mereka lakukan?


Artinya : Ibrahim bukan orang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif/lurus lagi muslim/berserah diri (kepada Allah) dan sekal-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. [Ali-Imran : 67]


Sesungguhnya penyelesaian yang dipahami orang-orang Yahudi adalah Jihad dengan menegakkan syarat-syarat jihad- untuk menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan orang-orang Yahudi tidak akan pernah menginginkan perdamaian, yang mereka inginkan hanyalah umat Islam menyerah, ruku dan menghinakan diri kepada mereka, dan menghapuskan makna Jihad dari kamus kaum muslimin, dan juga yang mereka inginkan hanyalah agar umat Islam menjadi budak Yahudi dan pekerja serta pegawai mereka, yang mana orang Yahudi memukul umat Islam dengan sandal-sandal mereka, dan menggiring umat Islam dengan cemeti mereka kapan saja mereka kehendaki.


Sesungguhnya hakekat permusuhan kita dengan Yahudi tidak akan berakhir dengan didirikannya negara kecil yang membawa syiar Islam, namun tidak menegakkan syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan bagaimana permusuhan ini bisa berakhir ! Sedangkan kaum muslimin membaca dalam shalatnya 17 kali sehari.


Artinya : (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nashara). [Al-Fatihah : 7]


Yang dimaksud mereka yang dimurkai? dalam ayat diatas adalah Yahudi, sedangkan yang dimaksud orang-orang yang tersesat adalah Nashara, sesuai kesepakatan ahli tafsir hingga hari kiamat. Maka peperangan yang menentukan, yang akan memusnahkan orang-orang Yahudi akan terjadi kelak, suatu hal yang tidak bisa dihalangi : Peperangan iman, peperangan dalam rangka (ibadah) karena Allah Subhanahu wa Ta'ala


Artinya : Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi, dan kaum muslimin akan membunuh mereka, hingga orang Yahudi bersembunyi dibelakang batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata : Wahai muslim! Wahai Abdullah ! Ini ada orang Yahudi dibelakangku kemarilah, bunuhlah ia kecuali pohon Ghorqod, sesungguhnya pohon ini adalah pohon orang Yahudi? [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]


Ini adalah janji yang benar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mana beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berbicara dari hawa nafsu, janji yang akan memastikan akhir permusuhan (umat Islam) melawan Yahudi, tidak sebagaimana gambaran surat-surat kabar yang tersesat dan menyesatkan.


----------------------


[Majalah Al-Ashalah edisi 30, hal.5-6, Penerjemah Abu Hasan Arif] [Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 15 Th III Rajab 1426H/Agustus 2005M, Penerbit Ma'had Ali Al-Irsyad Surabaya, Jl Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]

----------------------


Foote Note [1]. Mahmud Abdul Halim (salah seorang murid generasi pertama Hasan Al-Banna pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir) membuat pasal pembahasan dengan judul Fi Qadhiyyatul Filistin (Tentang Permasalahan Palestina) dalam kitabnya yang berjudul Al-Ikhwan Al-Muslimun Ahdats Sona'at At-Tarikh? ia menceritakan tentang Lajnah Amerika Inggris dalam perkara Palestina, dimana Hasan Al-Banna menghadiri rapat dengan lajnah itu dan menyampaikan ceramahnya.


Hasan Al-Banna berkata : Hal yang ingin saya sampaikan adalah hal yang sederhana dari sisi agama, karena hal ini terkadang tidak dimengerti oleh dunia Barat, oleh karena itu saya ingin menjelaskannya secara ringkas : Saya tegaskan, bahwa permusuhan kita terhadap Yahudi bukanlah permusuhan agama, karena Al-Qur'an menganjurkan persaudaraan dan menjalin persahabatan dengan mereka, dan agama Islam adalah syari'at insaniyyah (syari'at manusia) sebelum menjadi syari'ah kaumiyyah (syariat suatu kaum), agama Islam juga memuji mereka, dan menjadikan kesepakatan antara kita dengan mereka.


Artinya : Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik?[Al-Maidah : 46]


Ketika Al-Qur'an memuat masalah Yahudi, Al-Qur'an hanya membicarakan dari sisi ekonomi dan undang-undang, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.


Artinya : Maka disebabkan kezaliman orang-oran Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka?[An-Nisa : 160]


Demikian pula DR Yusuf Al-Qardhawi mengatakan : Sesungguhnya kami tidak memerangi kalian (Yahudi) lantaran aqidah Yahudi yang kalian anut, dan bukan pula lantaran bangsa kalian adalah bangsa Yahudi? (Majalah Al-Bayan edisi 124, lihat kitab Al-Qardhawi Fil Mizan hal. 218, -pent)


Asy-Syaikh Salim bin Id Al-Hilali Hafidhaullah- memberi komentar terhadap perkataan Al-Banna diatas dengan mengatakan : Sesungguhnya perkataan Al-Banna menghancurkan dan bukannya membangun ; menghancurkan puluhan ayat Al-Qur'an yang menunjukkan dengan dalil yang pasti bahwa permusuhan terhadap Yahudi adalah permusuhan agama, diantara ayat-ayat itu adalah.


Artinya : Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu? [An-Nisa : 101]


Artinya : Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ? [Al-Maidah : 82]


Artinya : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka? [Al-Baqarah : 120]


Artinya : Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang ) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jiyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk? [At-Taubah : 29]


Sesungguhnya Yahudi adalah manusia yang paling memusuhi orang yang beriman, dan mereka adalah makhluk yang paling jahat. (Lihat kitab Al-Jama'at Al-Islamiyyah Di Dhauil Kitab was Sunnah ?, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilali, hal. 284-285, -pent)


Kristen Qibti Mesir Marah Pernyataan Vatikan


Kristen Qibti Mesir ’tersengat’ penyataan Vatikan yang mengatakan hanya Katolik yang masuk surga. Vatikan menganggap Kristen di luar Katolik kurang syah
Pernyataan Vatikan yang dikeluarkan pada hari Selasa, (10/7) kemarin menyebabkan timbulnya kemarahan para pemimpin Kristen Qibti di Mesir, bahkan sebagian dari mereka menyatakan untuk tidak mengakui gereja Katolik.

Pemicu masalah ini adalah pernyataan yang disiarkan oleh Pusat Pengkajian Aqidah dan Keimanan di Vatikan yang menyebutkan bahwa keimanan kaum Kristen yang berada di luar gereja Katolik tidaklah sempurna dan tempat-tempat peribadatan ortodok tetap dianggap gereja, akan tetapi memiliki kecacatan, karena tidak mengakui Paus sebagai pemimpin dan cacat ini lebih para jika dibandingkan dengan kecacatan yang mengidap Protestan.

Adapun gereja-gereja lain telah kehilangan prinsip-prinsip yang dianggap sebagai hal yang amat penting oleh Katolik, maka gereja-gereja itu tidaklah bisa dikatakan gereja menurut bahasa, akan tetapi merupakan "perkumpulan" seminar.

Pernyataan inilah yang menyebabkan timbulnya kemarahan dan upaya "pembalasan" oleh para pemimpin Protestan di seluruh dunia.

Dan para pemimpin Kristen di Mesir ikut menolak pernyataan Paus Benekdiktus XVI tentang keutamaan gereja Katolik Romawi atas gereja-gereja lain dan menganggapnya sebagai gereja Kristen yang sebenarnya dan satu-satunya jalan keluar.

Dr. Andre Zakki ketua komunitas Anglikan Mesir menyebutkan, jika gereja Katolik tidak mengakui gereja-gereja lain maka gereja-gereja lain juga berhak untuk tidak mengakui gereja Katolik. Ia menyebutkan bahwa Vatikan telah menggunakan pendangan yang sempit terhadap masalah ini.

Dalam kesempatan yang sama pendeta "Salib Matta", anggota Milli Mejelis Umum Qibti Ortodok juga berkomentar, bahwa gereja ortodok di Timur adalah orisinil dan tidak menentang keyakinan Kristen yang orisinil, Katoliklah yang telah menyimpang dari ortodoksi yang lurus dan telah melenceng dari keimanan. [Al-Arabiya/Toriq/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5021&Itemid=1

Thursday, June 28, 2007

Sejak Kehadiran Pasukan Asing, Produksi Ganja di Afghanistan Meningkat


Laporan PBB secara mengejutkan mencantumkan Afghanistan sebagai negara yang paling banyak menghasilkan ganja selama tahun 2006. Laporan tahunan UN Office on Drugs and Crime (UNODC) itu menyebut 92% opium dunia, berasal dari wilayah Afghanistan.

Mereka memperingatkan dugaannya bahwa jumlah sebenarnya, akan lebih besar dari data yang berhasil diperoleh. Karena wilayah yang terdata oleh pihak PBB tidaklah mencakup seluruh wilayah Afghanistan.

Dalam laporan tahunan PBB terkait narkotika dan kriminalitas, disampaikan bahwa penanaman ganja di Afghanistan tahun ini bertambah berlipat-lipat, meskipun ada 30 ribu orang lebih tentara internasional yang kini ditempatkan di lokasi itu. Selama tahun 80-an, Afghanistan memproduk sekitar 30% opium dunia. Tapi pada beberapa tahun terakhir, terutama setelah kehadiran pasukan internasional, kapasitas produksi ganja Afghanistan meningkat tajam menjadi tiga kali lipat. Opium juga merupakan salah satu bahan produk heroin.

Laporan PBB menuliskan, wilayah Helmand Selatan yang kini tunduk di bawah penguasaan Taliban, merupakan separuh sumber ganja ilegal. Ia menyebutkan bahwa hasil ganja yang diperoleh dari lokasi itu jauh melebihi jumlah ganja yang dihasilkan di tempat lain. “Ada sekitar 70 ribu hektar di Helmand Selatan yang ditanami ganja. Ini sama dengan tiga kali lipat dari wilayah perkebunan ganja di Myanmar yang dianggap negara terbesar kedua penghasil ganja di dunia. ”

Ditambahkan pula, “Kami melihat adanya hubungan kuat antara produktifitas opium dan aksi perlawanan serta menurunnya keamanan di Afghanistan. Jelas sekali strategi pasukan koalisi asing yang ada di Afghanistan tidak berhasil mengatasi perluasan perkebunan ganja, karena masalah ini memberi keuntungan bagi banyak pihak yang punya kepentingan politik."

Disebutkan pula dalam laporan itu, bahwa hasil opium Afghanistan berkisar 4.500 ton sampai 6.700 ton sepanjang tahun 2006. Dan jumlah itu sama dengan 92% hasil ganja di dunia. (na-str/iol)

http://www.eramuslim.com/berita/int/7627103841-sejak-kehadiran-pasukan-asing-produksi-ganja-afghanistan-meningkat.htm

Cara Mudah Hancurkan Zionis (Tamat)


Fatwa boikot produk Israel dan AS yang diserukan Yusuf Qaradhawy disambut gegap-gempita oleh aktivis kemanusiaan dunia dari Eropa hingga Asia, setelah Denmark, Perancis, Inggris, maka Swedia dan lainnya juga merespon dengan sangat antusias. Inilah di antaranya:

Respon di Swedia

Anna Lind, Menteri Luar Negeri Swedia, menegaskan dirinya akan turut menyukseskan kampanye boikot produk Israel. Ini dikutip oleh semua media terbitan Swedia tanggal 20 April 2002. “Saya akan memboikot produk-produk Israel yang banyak dijajakan di sejumlah supermarket negeri ini, khususnya buah-buahan seperti jeruk dan alpukat, ” ujar Lind.

Saat berbicara dalam sebuah tayangan televisi Swedia (19 April 2002), Anna Lind menyatakan, “Jika pun saya tidak mampu untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah Swedia untuk bersatu dalam barisan kampanye boikot produk Israel, saya pribadi akan tetap melakukan aksi ini. ” Tindakannya ini, ujar Lind, dilakukan sebagai bentuk protes dan kecaman terhadap kebiadaban tentara Zionis-Israel terhadap warga Palestina.

Lind merupakan salah satu aktivis dari Partai Sosial Demokrat yang secara resmi memang bersimpati pada perjuangan bangsa Palestina dalam merebut kemerdekaannya dari penjajahan Zionis-Israel. Menteri Luar Negeri yang baru, Stein Anderson, juga berasal dari partai yang sama dengan Lind dan secara pribadi juga bersahabat akrab dengan Presiden Palestina Yasser Arafat.

Menteri Kerjasama Internasional Palestina, Nabil Shaat, ketika berkunjung ke Ibukota Swedia, Stockholm, bertemu dengan PM Goeran Persson. Pemerintah Swedia, ujar Persson, akan memberikan bantuan uang kepada Palestina sebesar 350 Swedish Corona atau mendekati 35 juta dollar AS untuk membangun kembali kamp pengungsian di Jenin dan wilayah sekitarnya yang luluh-lantak akibat kekejaman tentara Zionis yang melancarkan aksi pembantaian di Jenin.

Shaat juga bertemu dengan Lind yang menyatakan kaget dengan apa yang menimpa warga Palestina. Lind dalam kesempatan itu berjanji akan membantu bangsa Palestina dengan sekuat tenaga. Shaat sangat terharu atas perhatian pemerintah Swedia yang menunjukkan empati demikian tinggi terhadap nasib bangsa Palestina. Di kantor-kantor pemerintah, dari pegawai rendahan hingga pejabat tingginya banyak yang memakai pin bertuliskan “Boikot Israel”.

Setelah terjadinya pembantaian warga Palestina di Jenin, segenap masyarakat Swedia turun ke jalan-jalan melakukan unjuk rasa mengecam ulah biadab tentara Zionis pimpinan Ariel Sharon waktu itu. Dalam aksinya, mereka mengusung pamflet dan spanduk panjang yang berisi kecaman terhadap Sharon dan menyebutnya sebagai pembunuh berdarah dingin. Ada pula yang menulisi spanduknya dengan kalimat “Bush is a killer” atau “Zionism is Fascism”.

Beberapa kelompok Yahudi di Swedia juga menggelar aksi tandingan. Di sejumlah tempat, bentrokkan tak terelakkan yang berakhir dengan kedatangan polisi yang menyemprotkan gas air mata untuk melerai kedua kelompok tersebut.

Di kota Obsala, peserta aksi unjuk rasa mengenakan pakaian hitam-hitam, menutup mulutnya, sambil membawa lilin dalam satu acara di malam hari. Mayoritas warga Swedia dengan tegas menyatakan berdiri di samping Palestina. Kian hari kian banyak warga Swedia yang bergabung dalam kampanye boikot produk Israel. Bahkan masalah Palestina menjadi salah satu agenda utama pembahasan di dalam pemilihan umum parlemen di bulan September 2002.

Di Rusia

Liga Muslim Rusia juga tidak ketinggalan ikut serta dalam menyukseskan kampanye boikot produk Israel dan Amerika. Mereka men-sweeping pasar-pasar dan sejumlah supermarket di Rusia. Aneka selebaran dan poster berisi seruan boikot ditempelkan di sejumlah tempat keramaian. Ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kekejaman tentara Zionis yang terus-menerus melakukan pembantaian terhadap bangsa Palestina.

Pada tanggal 2-4 Mei 2002, di timur Rusia diselenggarakan konferensi Liga Muslim Rusia mengambil tema “Muslim Rusia dan Isu-Isu Kontemporer”. Sheikh Nafiullah Ashirov, pimpinan Liga Muslim Rusia, menyerukan agar Muslim Rusia wajib memboikot produk Israel dan Amerika. “Membeli produk Israel dan Amerika berarti Anda telah membantu mereka membunuhi bangsa Palestina!” tegas Ashirov seperti termuat dalam situs www.Islam. Ru.

Ashirov juga menyebut aksi boikot sebagai jihad kecil melawan Israel bagi siapa pun yang belum diberi kesempatan untuk melakukan jihad besar melawan Israel di tanah Palestina. Ashirov juga menuding Amerika sebagai negara yang dengan nyata membantu Israel dan juga secara langsung memerangi umat Islam dunia.

Mufti Republik Tataristan, Othman Isaacov, dengan penuh empati menyatakan sikapnya, “Hati kami berada di Palestina, dan jiwa kami ada di Afghanistan. Kami menyerukan kepada saudara-saudaraku seiman di seluruh dunia untuk mengambil bagian dalam peperangan abadi melawan musuh-musuh Allah ini. Salah satu jalan terbaik untuk menolong saudara-saudara kita di Palestian dan Afghan adalah dengan jalan memboikot produk-produk mereka. ”

Harian Islam Rusia, Al-Fikr, memuat sejumlah produk AS dan Israel yang diserukan untuk diboikot, antara lain produk Coca-Cola, Pepsi-Cola, Heinz, New Alex, Rodina, California Gardens, dan sebagainya.

Kampanye boikot produk Israel dan AS yang bergema di seluruh dunia ditanggapi Israel dengan sikap reaktif. Asosiasi Manufaktur Israel menyatakan kekecewaannya atas kampanya boikot yang diserukan oleh Eropa. Akibat seruan boikot ini, banyak rekanan Israel di Eropa yang membatalkan pembelian dan perjanjian bisnisnya.

Asosiasi ini juga mendesak pemerintahnya untuk sesegera mungkin memberikan bantuan dan menjamin kelancaran ekspor produk-produk Israel ke luar negeri agar permintaan bisa kembali lancar. Ini dilakukan karena di sejumlah negara Eropa, produk-produk Israel tertahan di bandara atau pelabuhan karena serikat buruh setempat menolak untuk mengangkut atau memproses barang-barang negeri Zionis tersebut. Walau tidak disebutkan dengan jelas, diduga kuat, kerugian yang dialami perusahaan Israel sangatlah besar.

Israel Kolaps

Dalam waktu tidak lebih dari dua tahun, jumlah turis ke Israel turun lebih dari 90 persen, tingkat hunian hotel-hotel di Israel turun drastis hingga 47 persen (Jerusalem Post, Haim Shapiro, “Israel Hotel visits drop 47% in first half”, 24 Juli 2002).

Perusahaan maspakai penerbangan Israel, El Al, mengurangi jumlah penerbangan ke Eropa dan Amerika hingga 10-30 persen (Data dari CEO El-Al-Yitzchak Amitai dalam. Www.Globes. Co.il, “El Al-Cuts Flights to Europe & US”, 5 Mei 2002).

Israel Military Industries, mem-PHK 1. 000 pekerjanya, menutup 5 unit pabrik senjatanya, menggabungkan unit-unit usaha sebagai langkah efisiensi, dan merencanakan privatisasi (Data dari CEO IMI, Arieh Mizrahi, dalam rapat resmi dengan Federasi Pekerja Histadrust yang dipimpin oleh MK Amir Peretz, seperti dikutip dari Harian Ha’aretz, by Haim Bior, “Israel Military Industries set to fire 1000 workers and close factories”, 11/8/ 2002).

IMI mengalami defisit keuangan sekitar 30-40 juta dollar AS di tahun 2002. Venture Capital Funds (VCs) yang menanamkan investasi di Israel antara tahun 1999 hingga 2001 telah kehilangan hingga 5 miliar dollar AS dari keseluruhan investasi sebesar 6, 5 miliar dollar AS (Ha'aretz, by Oded Hermoni, “Investors lose $5 billion on Israeli startups”, 5 Agustus 2002).

Yoram Tietz dari Ernst & Young Israel (Kost, Forer & Gabbay): “Dua miliar dollar AS hilang akibat penutupan sejumlah perusahaan, tiga miliar dollar AS hilang akibat terdepresi oleh situasi perekonomian dan politik di Israel yang menunjukkan grafik yang kurang menguntungkan. ”

Dalam kuartal kedua 2002, laba perusahaan-perusahaan hi-tech di Israel dari sisi investasi dan kerjasama proyek turun 43 persen atau 291 juta dollar AS dibanding pendapatan dalam kuartal yang sama di tahun 2001 (Data Israel Venture Capital, dari The Jerusalem Post, by Mati Wagner, “Venture Capital Investments in Israel down 43% in Q2”, 24/7/ 2002).

Dana Dari Amerika

Mengetahui Zionis-Israel sekarat, Zionis Amerika lekas-lekas menolong. Paul Wolfowitz menggelar acara penggalangan dana besar-besaran untuk Israel bertajuk “Stand with Israel”. Dana miliaran dollar AS mengalir deras ke Israel dalam tempo singkat. Perusahaan-perusahaan AS bergotong royong dengan pemerintahan Bush menggelontorkan dana miliaran dollar ke negeri Zionis tersebut. Israel tidak jadi tewas. Amerika menjadi dewa penolongnya.

Sekarang, masihkah kita mau menyalurkan uang kita ke perusahaan-perusahaan pro Zionis? Masihkah kita sudi membelanjakan uang kita ke mereka? Jika Yahudi Neturei Karta saja memboikot produk AS dan Israel, maka jika kita masih saja berbelanja produk AS dan Israel, maka sesungguhnya kita lebih buruk dari pada Yahudi. Bukan saja Yahudi terlaknat, tapi bisa jadi, kita pun terlaknat. (Tamat/Rizki Ridyasmara)

http://www.eramuslim.com/berita/lpk/7619105850-cara-mudah-hancurkan-zionis-tamat.htm

Mencium Hajar Aswad


Tanya :

Apa hikmah thawaf(disekitar Ka'bah)? Apakah hikmah mencium Hajar Aswad adalah tabarruk (memohon barakah) kepadanya?

Jawab :

Hikmah thawaf telah dijelaskan Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam tatkala beliau berkata: "Thawaf di Al-Bait (Ka'bah) Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah, dijadikan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allah. " Orang yang thawaf mengitari Baitullah (Ka'bah), melakukannya karena mengangungkan Allah, sehingga dia membuat dirinya sebagai orang yang berdzikir kepada-Nya. Semua perbuatannya, entah itu mencium dan mengusap Hajar aswad maupun Rukun Yamany, maupun memberi isyarat kepada Hajar Aswad, dimaksudkan sebagai dzikirkepada Allah, karena semua itu merupakan ibadah kepada-Nya. Semua ibadah adalah dzikir kepada Allah dengan pengertian secara umum.

Sedangkan apa yang diucapkannya, seperti takbir, dzikir dan do'a, zhahirnya adalah mengingat Allah. Sedangkan mencium Hajar Aswad adalah ibadah. Sebab seseorang mencium sebongkah batu yang tak memiliki hubungan kecuali dengan ibadah kepada Allah, dengan cara mengagungkan-Nya dan mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan, bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab berkata tatkala mencium Hajar Aswad, "Aku benar-benar tahu bahwa engkau hanyalah sekedar batu yang tidak bisa memberi madharat dan tidak pula manfaat. Kalau tidak karena aku melihat Nabi menciummu, aku tak kan sudi menciummu." Tentang anggapan sebagian orang-orang yang bodoh, bahwa hal itu dimaksudkan untuk memohon barakah dengannya, maka anggapan itu tidak ada dasarnya sama sekali dan batil.

Tentang apa yang diriwayatkan sebagian orang-orang zindiq, bahwa thawaf di Ka'bah tak jauh berbeda dengan thawaf di kuburan para wali, ini adalah watsaniyyah (paganisme). Itu merupakan gambaran zindiq dan ateisme mereka. Orang-orang Mukmin tidak melakukan thawaf kecuali karena atas perintah Allah. Melaksanakan apa pun yang telah diperintahkan Allah adalah ibadah kepada-Nya. Tidakkah engkau tahu bahwa sujud kepada selain Allah adalah syirik yang amat besar? Tatkala Allah memerintahkan malaikat agar bersujud kepada Adam, maka sujud itu adalah ibadah kepada Allah, dan tidak sujud kepadanya karena sujud kepada diri Adam berarti kufur. Berarti thawaf di Ka'bah adalah ibadah, karena ia merupakan rukun dalam haji, dan haji adalah satu rukun Islam. Maka jika orang yang thawaf di Ka'bah melakukannya dengan perasaan tenang karena kenikmatan thawaf dan curahan sanubarinya, maka dia akan mendapatkan kedekatan dengan Rabb-nya, yang bisa dirasakan dengan ketinggian kedudukannya dan keutamaannya.

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatfatwa&id=205

Wala' Dan Bara'

Makna Wala’

Wala’ dalam bahasa berasal dari kata kerja waalaa-yuwaalii-muwalatan wa walaa-an (وَالى- يُوَالِيْ- مُوَالاَةً وَوَلاَءً ).Dalam kamus Lisanul Arab Ibnul ‘Arabi berkata, “Ada dua orang yang bertengkar kemudian datang orang ketiga untuk mendamaikan keduanya, namun si penengah ini mempunyai kecenderungan kepada salah satunya, lalu dia membela dan pilih kasih terhadapnya.Maka dapat dikatakan, وَالَى فُلاانٌ فُلاناً berarti apabila dia mencintai orang tersebut. Dan الوَلِي adalah bentuk kata yang berarti pelaku pekerjaan tersebut. وَلِيَه artinya dia mengurusinya. Firman Allah, ( الله ولي الذين آمنوا ) Allah Pelindung orang-orang yang beriman; (QS. 2:257)
Adapun arti wala’ dalam istilah adalah kecintaan seorang hamba terhadapRabb-nya dan nabi-Nya dengan mengikuti perintah dan menjauhi larangan dan mencintai para wali-Nya dari orang-orang yang beriman.

Makna Bara’

Pengertian bara’ dalam bahasa adalah dari kata baraa برى)) berarti memutuskan atau memotong, yang dimaksud disini adalah memutuskan hubungan dengan orang-orang kafir, dengan demikian dia tidak mencintai mereka, tidak tolong-menolong dengan mereka dan tidak tinggal di negara mereka. Ibnul Arabi berkata, “Bara’ berarti jika dia melepaskan diri, dan bari-a berarti jika dia menjauhkan diri, dan juga berarti memberikan alasan dan peringatan. Firman Allah, ( براءة من الله ورسوله ) artinya (Inilah pernyataan) pemutusan perhubungan dari Allah dan Rasul-Nya.

Arti bara’ dalam istilah adalah menjauhkan, membebaskan diri dan mengumumkan permusuhan setelah memberikan alasan dan peringatan. Dikatakan بَرَى وَتَبَرَّأَ مِنَ الْكُفَّارِ artinya memutuskan hubungan antara dirinya dan orang-orang kafir, oleh karenanya dia tidak membela, tidak mencintai, tidak cenderung dan tidak pula meminta pertolongan dari mereka.

Kedudukan wala’ dan bara’ dalam Islam

Wala’ dan bara’ merupakan salah satu dasar agama dan pokok keimanan dan aqidah, maka tidak shah keimanan seseorang tanpa keduanya (wala’ dan bara’).
Oleh karenanya wajib bagi setiap muslim untuk berteman karena Allah, cinta karena Allah, memusuhi karena Allah dan benci karena Allah dengan demikian dia berteman dengan wali Allah (orang-orang yang beriman), dan mencintainya serta memusuhi musuh-musuh Allah, melepaskan diri dari mereka, dan membencinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

( أَوْثَقُ عَرَى اْلِإيْمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي الله وَالمْعُاَدَةُ فِي الله وَالْحُبُّ فَي الله وَالبُغْضُ فِي الله )

“Pengikat iman yang paling kuat adalah setia karena Allah, memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa wala’ berasas pada cinta, pertolongan, dan mengikuti. Barangsiapa cinta karena Allah dan benci karena Allah, berkawan dan bermusuhan karena Allah maka dialah wali Allah.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, “Barangsiapa cinta karena Allah, benci karena Allah, berkawan karena Allah, bermusuhan karena Allah, dan kewalian (pertolongan kedekatan) dari Allah bisa didapat hanyalah dengan hal itu, dan seorang hamba tidak akan mendapatkan rasa (kenikmatan) iman walaupun banyak shalat dan puasanya sehingga dia menjadi seperti di atas (mencintai, membenci, berkawan dan bermusuhan karena Allah) dan persaudaraan antara manusia sekarang telah berdiri di atas kepentingan dunia, hal yang sedemikian tidak akan memberikan manfaat sedikitpun juga.”

Adapun orang yang setia kepada kaum kafir, menjadikan mereka sebagai teman dan saudara maka dia seperti mereka, Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)

Dan Al-Qur’an mengandung banyak ayat yang mengingatkan kita agar tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin atau teman setia seperti dalam firmannya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. 3:118)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;. (QS. 60:1)
Bara’ adalah termasuk dasar-dasar aqidah Islam yang artinya menjauhkan diri dari orang kafir, memusuhi mereka dan memutuskan hubungan dengan mereka, maka tidak shah iman seseorang sehingga dia mencintai para wali Allah (orang-orang yang beriman) dan memusuhi musuh-musuh Allah dan melepaskan diri dari mereka walau pun mereka adalah kerabat yang terdekat, Allah berfirman :

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. 58:22)

Ayat ini mengandung pengertian bahwa iman tidak akan terealisasi kecuali bagi orang yang menjauhkan orang-orang kafir yang menentang Allah dan Rasul-Nya, melepaskan diri, dan memusuhi mereka walaupun kerabat terdekat, dan Allah telah memuji Ibrahim ketika dia melepaskan diri dari bapak, kaumnya dan sesembahan mereka. Firman Allah :

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:"Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah.Tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". (QS. 43:27-27)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. 60:4)

Dengan keterangan singkat tentang wala’ dan bara’, jelaslah urgensi dua pondasi ini dan kedudukannya dalam Islam.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Hal kedelapan (yang dapat mengeluarkan orang dari agama Islam) adalah bahu-membahu dan menolong orang kafir untuk memerangi kaum muslimin berdasarkan firman Allah :

Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh ketika ditanya tentang seorang muslim yang tidak memusuhi kemusyrikan beliau menjawab, “Sesungguhnya seseorang itu tidaklah menjadi orang Islam kecuali bila dia mengetahui tauhid, tunduk /meyakininya, mengamalkan tuntutannya, membenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam apa yang beliau kabarkan, menaatinya dalam larangan dan perintahnya, dan beriman kepadanya dan kepada apa yang beliau bawa, maka siapa orangnya mengatakan saya tidak memusuhi orang-orang musyrik atau dia itu memusuhinya namun tidak mengkafirkannya atau dia itu mengatakan saya tidak akan mengganggu orang-orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah meskipun mereka itu melakukan kekufuran dan kemusyrikan serta memusuhi agama Allah atau dia mengatakan saya tidak akan mengganggu kubah-kubah itu (rela dengan kemusyrikan,red), maka orang semacam ini tidaklah dianggap sebagai orang muslim, bahkan dia itu justru tergolong orang-orang yang difirmankan Allah subhanahu wa ta'alaa dalam surat an-Nisaa ayat 151,”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain),” serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman dan kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya,”

Allah subhanahu wa ta'alaa mewajibkan memusuhi orang-orang musyrik, menjahuinya dan mengkafirkannya, Dia berfirman,”kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,” dan Dia berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu,” [1]

Dari uraian di atas tampak jelas sekali bahwa tauhid atau keimanan dan syirik atau kekufuran adalah dua hal yang saling bertentangan dan tidak akan pernah bertemu selamanya.Tidak mungkin seseorang yang mengaku Islam dan faham makna tauhid akan mencintai kekufuran, kemusyrikan dan para pelakunya.Karena konsekuensi dari tauhid adalah membuang segala hal yang berbau musyrik dan kufur serta tidak berwala’ terhadap musyrikin dan kafirin.Dalam hal ini jalan tengah yang menerima kedua duanya adalah sebuah kemunafikan yang pada hakekatnya merupakan kekufuran juga.Wallahu A’lam.

[1] Bab hukum murtad juz delapan hal : 111,112
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=94

Muslim Nasionalis

Sesungguhnya identitas kita sebagai muslim tidaklah bertentangan dengan fitrah, yakni merasa cinta kepada tanah air yang kita menisbatkan diri kepadanya. Tidak pula bertentangan dengan keinginan untuk kebaikan negeri kita tersebut. Bahkan seorang muslim adalah nasionalis sejati, bukan dalam arti fanatik terhadap kewarga negaraannya, namun dalam makna dia menghendaki kebaikan dan kebahagiaan negaranya di dunia dan di akhirat dengan merealisasikan syari'at Islam, pembinaan aqidah serta menyelamatkan seluruh warga dari siksa neraka. Allah subhanahu wata’ala berfirman mengisahkan seorang mukmin keluarga Fir’aun,
(Musa berkata),"Hai kaumku, untukmu lah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!" Fir'aun berkata, "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar". Dan orang yang beriman itu berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu.” (QS. al-Mukmin:29-30)

Tampak sekali pengertian nasionalisme ini dalam kisah seorang mukmin dari keluarga Fir'aun, yang menghendaki kebaikan kaum dan bangsanya.

Akan tetapi negeri yang sesungguhnya bagi seorang muslim adalah surga, tempat bapak kita nabi Adam ’alaihis salam tinggal pertama kali. Sementara kita di dunia ini sedang kehilangan negeri (surga) tersebut, dan sedang berusaha untuk dapat meraihnya kembali. Dan ajaran Islam telah menuliskan bagi kita peta perjalanan untuk kembali ke negri asal tersebut.

Surga adalah negeri kebahagiaan yang jika seseorang telah memasukinya, maka dia tidak akan mau lagi untuk berpindah darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Seandainya dunia ini sama di sisi Allah dengan satu sayap nyamuk, maka tentu Allah tidak akan memberi minum orang kafir darinya walau hanya seteguk air." (HR at-Tirmidzi no. 2320 dan dia berkata, Hadits shahih gharib. Di shahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 686 karena banyak pendukungnya). Jika dunia seisinya tidak ada artinya di sisi Allah subhanahu wata’ala jika dibandingkan dengan sayap seekor nyamuk, maka bagaimana dengan hanya sebuah negara?

Di dunia ini tidak ada negeri yang paling dicintai oleh seorang mukmin dibanding Makkah al-Mukarramah, al-Madinah an-Nabawiyah, dan Baitul Maqdis di Palestina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa negri yang paling beliau cintai adalah Makkah al-Mukarramah, karena ia merupakan negri yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala dan diberkahi.

Sedangkan selain tiga negeri yang disucikan tersebut, maka Islamlah negeri kita, keluarga dan kerabat kita. Di mana syari'at Islam ditegakkan dan kalimat Allah ditinggikan, maka di sanalah negeri kita tercinta. Adapun negara dalam arti sempit, yakni sepotong tanah yang ditulis batas-batasnya oleh manusia, dibuat pemisah, dibatasi warna kulit, suku dan kebangsaan maka itu sesuatu yang tidak pernah dikenal oleh kaum salaf maupun kholaf. Hal itu muncul dalam kerangka memberikan pemahaman yang rusak dan merusak yang ditebarkan oleh Barat dan para pengekornya untuk menyingkirkan semangat keislaman, meredupkan jati diri Islam yang telah mempersatukan berbagai suku, bangsa dan ummat serta menjadikannya sebagai satu ummat saja "Ummat Islam" serta "Ummat Tauhid".

Saksi dari semua itu adalah seorang sejarawan yahudi Bernard Louis yang mengatakan, "Semua orang yang memperhatikan sejarah Islam maka dia akan mengetahui kisah Islam yang menakjubkan dalam memerangi penyembah berhala sejak permulaan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian bagaimana Nabi dan sahabatnya mendapatkan pertolongan dan menegakkan ibadah hanya kepada Ilah yang Esa serta memporak porandakan agama-agama berhala kaum Arab Jahiliyah. Dan pada hari ini mereka berhadapan dengan berhala yang lain. Mereka tidak berhadapan dengan Latta, Uzza dan tuhan-tuhan orang jahiliyah lainnya. Mereka melawan bebagai berhala-berhala baru, yang bernama negara (nasionalisme dan fanatik kebangsaan), kesukuan (rasialisme), serta qaumiyah (fanatik golongan).

Sesungguhnya barat tidak memandang kita dengan dua kaca mata, namun hanya satu kaca mata saja, yaitu kacamata fanatik buta, kedengkian dan kezhaliman yang nyata terhadap kaum muslimin. Tatkala Islam tegak dengan tanpa mempermasalahkan batas-batas wilayah, bersatu dalam amal serta telah rekat persatuannya maka tiba-tiba saja mereka merobek-robek dan mencerai beraikan kita.

Aqidah Islam merupakan satu-satunya pandangan yang dengannya seorang muslim mampu melihat kesalahannya dalam bersikap, berfikir dan mengambil dasar hidup. Aqidah Islam merekomendasikan kepada kita untuk mengambil warisan sejarah agar kita tahu batas, mana yang harus kita terima dan mana yang wajib kita tolak.

Fir'aun dan pengikutnya adalah orang Mesir namun mereka kafir. Nabi Musa ’alaihis salam juga orang Mesir, tetapi dia Islam dan beriman. Maka wajib seorang mukmin memusuhi musuh-musuh Allah dan berlepas diri dari mereka meskipun mereka adalah satu bangsa, ras dan satu bahasa. Dan seorang mukmin berwala' (loyal) kepada golongan Allah dan para wali-Nya, siapa pun mereka, di mana pun mereka berada dan kapan saja waktunya. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah orang Arab, dari suku Quraisy dan masih kerabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Namun karena mereka memusuhi Allah subhanahu wata’ala, maka Rasulullah pun memusuhi mereka.

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman tentang sekelompok orang mukmin dari Bani Israil di bawah pimpinan Thalut, yang berperang menghadapi Raja kafir yang juga Bani Israil yang bernama Jalut.

Kita orang mukmin selalu memegang prinsip ini, yaitu menolong aqidah Islam dari orang-orang kafir siapa pun orang kafir itu, meski seorang yang berbangsa Palestina.

Seandainya saja Allah subhanahu wata’ala menakdirkan Nabi Sulaiman ’alaihis salam dan Nabi Dawud ’alaihis salam hidup kembali di dunia ini, maka tentu mereka berdua akan mengikuti syariat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Demi Allah, seandainya Musa hidup di tengah-tengah kalian, maka dia tidak ada pilihan lain kecuali akan mengikutiku." (HR. ad-Darimi, Imam Ahmad dan selain meeka, dihasankan oleh al-Albani).

Andaikan Nabi Musa ’alaihis salam, Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Dawud ’alaihis salam dibangkitkan kembali tentu mereka akan memerangi yahudi, nashara, kaum sekuler dan orang-orang mulhidin.

Sesungguhnya aqidah adalah pondasi jati diri yang paling besar yang mengikat seorang muslim dengan saudaranya, sehingga menjadi ibarat satu tubuh. Jika ada salah satu anggota badan yang sakit maka anggota badan yang lain ikut merasakannya dengan susah tidur dan demam, seperti disebutkan dalam hadits.

Inilah ikatan yang hakiki dan yang sesungguhnya. Adapun selain itu seperti hubungan kerabat, teman, keluarga, suku, bangsa, ras adalah bersifat nisbi. Dalil yang menunjukkan hal ini yaitu firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. al-Mujadilah:22)

Dalam kisah Nabi Nuh ’alaihis salam Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang putranya, "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik.” Dan dalam kisah Nabi Ibrahim ’alaihis salam beliau dan pengikutnya berkata, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Juga dalam kisah Nabi Isa ’alaihis salam ketika beliau menyeru Bani Israil agar menjadi penolongnya, maka sebagian ada yang beriman yakni kaum Hawariyyun dan sebagain ada yang kafir. Maka Allah subhanahu wata’ala menolong orang yang beriman atas musuh mereka. Demikian pula dalam surat al-Lahab yang menceritakan paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Lahab, "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak." (QS. 111:3). Sebuah syair menyebutkan,

Islam tekah memuliakan Salman, seorang berbangsa Persi
Kekufuran telah menghinakan bangsawan mulia, Abu Lahab

Dalil lainnya adalah bahwa seorang mukmin yang memiliki anak kafir maka hartanya tidak diwarisi oleh anaknya, tetapi diwarisi kaum muslimin dan masuk ke baitul mal. Ini menunjukkan bahwa saudara yang hakiki adalah saudara seaqidah, sesama muslim tanpa memandang bangsa, ras, suku dan warna kulit.

Disadur dari kitab, “Huwiyyatuna awil Hawiyah”, Muhammad Ahmad Islamil al-Muqaddam, hal 19-32.

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=428

BALASAN SESUAI DENGAN PERBUATAN

BALASAN SESUAI DENGAN PERBUATAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguh nya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". (HR. al-Bukhari). Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula), barangsiapa menyayangi makhluq Allah maka Allah akan menyayanginya. Sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Orang-orang yang penyayang, maka Allah akan menyayangi mereka. Sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangi kalian". (HR. At-Tirmidzi).

Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan yang dilakukan. Allah subhanahu wata’ala akan memperlakukan hamba-Nya sebagaimana perlakuan hamba tersebut terhadap hamba-hamba Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, "Jikalau kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. At-Taghabun:14). Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat An-Nur ayat 22 yang artinya, "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".

Bersegeralah untuk meringankan kesulitan-kesulitan orang lain agar Allah meringankan kesulitan dari dirimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim maka Allah akan membalasnya dengan menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-keslitan yang ada pada hari Kiamat". (HR. al-Bukhari).

Bantulah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dengan cara itu engkau akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya". Juga sabda beliau, "Barangsiapa berada di dalam kebutuhan saudaranya maka Allah berada di dalam kebutuhannya". (HR. Imam Muslim).

Jadilah engkau seorang hamba Allah yang menghilangkan kesukaran orang-orang yang tertimpa kesulitan niscaya Allah akan memberi kemudahan kepada kamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim).

Bersikap lemahlembutlah terhadap hamba-hamba Allah, semoga engkau termasuk golongan yang tersirat dalam do'a yang dipanjatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, "Ya Allah, barangsiapa bersikap lembut terhadap umatku, maka perlakukanlah ia dengan lembut dan barangsiapa yang membuat kesukaran kepada mereka maka ciptakanlah kesukaran baginya". (HR. Ahmad). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelemah lembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan". (HR. Muslim). Dan juga sabda beliau, “Barangsiapa terhalang untuk mendapat sifat lemah lembut maka ia terhalang dari semua kebaikan". (HR. Muslim).

Tutupilah aib hamba-hamba Allah, maka Allah subhanahu wata’ala akan menutupi aibmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim). Dan sabda beliau, "Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat". (HR. Ibnu Majah).

Berilah makan kaum muslimin niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memberi makanan kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Mukmin manapun yang memberi makan seorang mukmin ketika lapar maka Allah akan memberikannya makanan dari buah-buahan Surga.” (HR. Imam At-Tirmidzi).

Berilah minum kaum muslimin maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan minuman kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah besabda, "Mukmin manapun yang memberi minum seorang mukmin yang sedang kehausan maka Allah akan memberinya minum pada hari Kiamat dari Ar-Rohiq Al-Makhtum". (HR. At-Tirmidzi)

Berilah kaum muslimin pakaian niscaya Allah akan memberi pakaian kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Mukmin mana pun yang memberi pakaian kepada seseorang yang telanjang maka Allah akan memberinya pakaian sutra halus berwarna hijau dari Surga". (HR. at-Tirmidzi).

Sebagaimana perlakuanmu terhadap hamba-hamba Allah, maka seperti itu pula perlakuan Allah terhadapmu. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau menyiksa manusia karena sesungguhnya Allah akan menyiksamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia". (HR. Imam Muslim). Allah subhanahu wata’ala juga telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 49 yang artinya, "Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya". Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, "Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras". (QS. Al-Mukmin: 46).

Hindarilah dirimu dari mempersulit hamba-hamba Allah karena hal itu dapat membuatmu tertimpa do'a yang diucapkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, "Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu membuat susah mereka, maka buatlah kesusahan baginya". (HR. Muslim).

Janganlah engkau menyakiti hati kaum muslimin dengan mencari-cari aib mereka karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa mencari-cari aib seorang muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah menelusuri (mencari-cari) aibnya maka Allah akan membongkarnya meskipun berada di dalam rumahnya". (HR. At-Tirmidzi).

Janganlah engkau cabut rasa kasih sayangmu kepada manusia karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah Azza wa Jalla tidak menyayanginya". (HR. Muslim).

Ingatlah baik-baik wahai hamba-hamba Allah! Di mana engkau memperlakukan hamba-hamba Allah dengan sebuah perbuatan, maka engkau akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang telah engkau kerjakan di sisi Sang Pencipta. Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Ia mencintai kemuliaan dari hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui (berilmu), dan mencintai para ulama. Allah Maha berkuasa, mencintai para pemberani. Allah Maha Indah, mencintai keindahan. Allah Maha Penyayang, menyayangi orang-orang yang penyayang. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang. Allah Maha Menutupi (aib), mencintai orang-orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pemaaf, mencintai hamba-Nya yang senang memberi maaf. Allah Maha Pengampun, mencintai hamba-Nya yang mengampuni kesalahan orang lain. Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dari hamba-hamba-Nya dan membenci kekerasan. Allah Maha Santun, mencintai sopan santun. Allah Maha Baik, mencintai kebaikan dan pelakunya. Allah Maha Adil, mencintai keadilan. Allah Maha Menerima udzur (alasan yang dibenarkan), mencintai orang yang menerima udzur hamba-hamba-Nya.

Allah subhanahu wata’ala akan memberi balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan sifat-sifat ini. Maka barangsiapa memaafkan maka Allah akan memaafkannya. Barangsiapa siapa yang mengampuni kesalahan manusia maka Allah akan mengampuninya. Barang siapa bersikap dermawan kepada orang lain maka Allah subhanahu wata’ala akan bersikap dermawan kepada nya. Barangsiapa memusuhi hamba-hamba Allah maka Allah akan memusuhinya.

Barangsiapa bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan bersikap lemah lembut kepadanya. Barangsiapa menyayangi makhluk Allah maka Allah akan menyayanginya. Barangsiapa berbuat baik kepada manusia maka Allah akan berbuat baik kepada-Nya. Barangsiapa memberi manfaat kepada manusia maka Allah akan memberikan manfaat kepadanya. Barangsiapa menutupi aib saudaranya maka Allah subhanahu wata’ala maka menutupi kekurangan atau kesalahannya. Barangsiapa berusaha untuk tidak marah kepada manusia maka Allah tidak akan marah kepadanya.

Barangsiapa mencari-cari aib manusia maka Allah akan menelusuri aib-aibnya. Barangsiapa membuka kejelekan hamba-hamba Allah maka Allah akan membuka dan membeberkan kejelekannya. Barangsiapa enggan berbuat baik kepada manusia maka Allah tidak akan berbuat baik kepadanya. Barangsiapa membuat sulit seseorang maka Allah akan memberinya kesukaran (masalah). Barangsiapa berbuat makar, maka Allah akan membalas makar kepadanya. Barangsiapa menipu Allah maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan tipuan pula.

Dan barangsiapa memperlakukan seseorang dengan sebuah sifat maka Allah akan memperlakukannya dengan sifat itu sendiri di dunia dan akhirat. Allah akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan perlakuan hamba terhadap makhluk-Nya.

Maka tamaklah engkau -semoga Allah memberi taufik kepadamu- untuk senantiasa memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah, untuk merealisasikan sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Barangsiapa diantara kalian mampu memberi mafaat terhadap saudaranya maka lakukanlah". (HR. Muslim). Berbuat baiklah kepada mereka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Jadilah engkau seorang yang lembut yang senang memudahkan urusan mereka. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Neraka itu haram menyentuh setiap orang yang lunak, lembut, mudah (dalam bermuamalah) dan dekat (dengan manusia)". (HR. Imam Ahmad).

Maafkanlah mereka, janganlah mudah marah, toleransilah terhadap mereka dan senantiasalah menjadi seorang pengampun. Semoga Allahsubhanahu wata’ala mengampuni segala dosa dan kesalahanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala seseorang yang memperbagus amal perbuatannya. (Zainal Abidin)

Disarikan dari: "Kama Takuunu Li 'Ibadillahi Yakunullahu Lak" karya Abdul Qayyum As-Suhaibany"

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=428

SEBAB SEBAB KEHANCURAN UMAT

Pembaca yang budiman! Lembaran kita kali ini akan membicarakan tentang sebab sebab mengapa Allah subhanahu wata’ala menghancurkan penduduk sebuah negeri dan bahkan sebuah umat. Mengapa mereka dihancurkan? Apakah Allah subhanahu wata’ala berbuat zhalim kepada mereka? Tidak sama sekali, bahkan itulah balasan kezhaliman yang mereka lakukan. Allah subhanahu wata’ala befirman, artinya,
"Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS. Huud:101)

Berikut ini di antara sebab-sebab mengapa sebuah negeri atau umat di hancurkan. Jika di suatu tempat telah tampak sebab-sebab ini maka artinya mereka sedang menunggu kebinasaan dan kehancuran dari Allah subhanahu wata’ala

1. Kezhaliman

Kezhaliman merupakan sebab paling dominan mengapa Allah subhanahu wata’ala menghancurkan sebuah negeri. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)

Amat banyak kezhaliman yang terjadi di suatu negeri atau kampung, kezhaliman kepada Allah subhanahu wata’ala, kezhaliman terhadap sesama manusia antara satu dengan yang lainnya. Berapa banyak kezhaliman yang terjadi di suatu negara, baik terhadap orang-orang kecil, para pegawai, buruh dan warga negara yang mereka semua tidak mampu untuk mendapatkan sebagian hak-haknya, apa lagi keseluruhan haknya. Dan di antara kezaliman yang sangat besar adalah kezhaliman terhadap orang-orang mukmin, muwahidin, kepada para da'i yang menyeru ke jalan Allah, kepada para wali Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)

2. Kemegahan Hidup Dan Nikmat Yang Melimpah

Di masa ini kita melihat banyak orang berpakaian mewah, tinggal di istana-istana dan gedung megah, naik kendaraan mewah, dengan perabotan rumah yang serba lux yang hampir-hampir tidak bisa dinalar. Padahal berapa banyak kemewahan yang menyeret manusia ke dalam dosa, maksiat dan kefasikan. Sampai-sampai orang menjadi lupa kepada agama Allah subhanahu wata’ala dan perintah-Nya, hanya lantaran tinggal di rumah mewah, naik kendaraan mewah. Tidak senang dan tidak mau menerima nasihat jika ada orang lain yang beramar ma'ruf nahi munkar.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap nya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa': 17)

3. Kufur Nikmat

Sebagian orang ada yang jika diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala maka dia tidak mau bersyukur, Allah subhanahu wata’ala memberi nikmat namun dia melupakan hak-hak Allah subhanahu wata’ala yang ada dalam nikmat tersebut. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl:112)

Kelaparan dan ketakutan adalah dua hal yang selalu berdampingan, manusia jika kufur nikmat lalu Allah subhanahu wata’ala menimpakan kepada mereka kelaparan dan mereka tidak mau kembali kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia akan menimpakan ketakutan. Demikian juga jika mereka sudah ditimpa ketakutan, hilangnya rasa aman dan ketenangan namun tetap tidak mau kembali kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia timpakan kepada mereka kelaparan.

4. Banyak Orang Munafik

Salah satu sebab hancurnya umat adalah karena banyaknya orang munafik yang memegang urusan kaum muslimin. Orang munafik adalah orang yang menampak kan Islam namun memendam kekufuran, memerangi wali-wali Allah, para da'i di jalan Allah, para ulama dan orang-orang yang istiqamah menjalankan agama. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab, "Sesungguh nya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". (QS. Al-Baqarah:11)

Mereka mengaku sedang melakukan perbaikan, sebagian dari mereka berkata sebagaimana yang dikatakan Fir'aun kepada pengikutnya, dalam firman Allah, artinya, "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama-agamamu atau menimbul kan kerusakan di muka bumi". (QS Ghafir:26)

5. Berwala' (Setia) Kepada Kaum Kufar

Memberikan wala' (loyalitas) kepada orang kafir dan tidak bersikap setia kepada orang mukmin masih banyak terjadi di masyarakat. Mereka setia kepada musuh-musuh Allah dan bangga dapat membantu serta menolong mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 173)

Maksudnya jika orang mukmin tidak berwala' dengan orang mukmin, tidak berwala dengan penyeru penyeru kebaikan, tidak berwala' dengan ahli ilmu dan ahli takwa, maka itu akan menyebabkan fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.

6. Meninggalkan Amar Ma'ruf Dan Nahi Munkar

Sesungguhnya di antara sebab hancur nya umat adalah karena meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya,
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (al-Anfal 25)

Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadits tentang safinah (perahu), yakni jika ada seseorang yang ingin mengambil air dengan cara melobangi perahu, lalu penumpang yang lain tidak mencegahnya, maka seluruh penumpang perahu akan tenggelam semua, bukan hanya orang yang melobangi perahu. Memang terkadang banyak alasan untuk meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar. Misalnya, "nanti saya tidak punya penghasilan, saya khawatir keluarga dan rumah, saya malu untuk berbicara, ini urusan ulul amri (penguasa), ini dan itu."

7. Menyebarnya Riba

Jika riba sudah merajalela di suatu negeri maka ketahuilah -wahai sekalian hamba Allah- itu hanya tinggal menunggu peperangan dari Allah subhanahu wata’ala. Adzab dari Allah subhanahu wata’ala mungkin berupa krisis, kelaparan , hutang, dikuasai musuh, bencana dan lain-lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mu." (QS. al-Baqarah:278-279)

8. Penghacuran Masjid

Di antara sebab hancurnya sebuah negeri adalah jika masjid-masjid dirobohkan. Merobohkan masjid sebagaimana dikatakan Imam asy-Syaukani ada dua macam:

1. Takhribul hissi , yakni merobohkan masjid secara fisik.

2. Takhribul ma'nawi, yakni menelantarkan dari tujuan dibangunnya masjid, tidak ada kajian, ta'lim, muhadharah, digembok setiap saat, orang dilarang masuk dan lain-lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah)." (QS. al-Baqarah: 114)

9. Meninggalkan Jihad

Bagaimana tidak, sebab meninggalkan jihad fi sabilillah artinya membiarkan kerusakan di muka bumi tanpa mau mencegahnya, tidak mau menolong agama Allah subhanahu wata’ala dan al-Haq. Maka jelas sekali jika tidak ada jihad, kerusakan dan keburukan akan terus bercokol. Lihatlah bagaimana akibat meninggalkan jihad, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Jika kalian asyik berjual beli dengan 'inah (satu jenis riba), mengikuti ekor-ekor sapi (bertani dan beternak) lalu meninggalkan jihad fi sabilillah maka Allah akan menguasakan kepadamu kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian." (HR. Abu Dawud)

10. Menyebarnya Kekejian

Bentuk-bentuk perbuatan keji amatlah banyak, di antara yang disebutkan dalam hadits adalah khabats (perzinaan), dan ini yang sangat mengkhawatirkan, juga minuman keras, alat-alat musik dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meyebutkan beberapa kemungkaran beserta akibatnya, di antaranya adalah:

1. Tidaklah tersebar perzianaan kecuali Allah akan menurunkan tha'un dan penyakit aneh yang tidak pernah ada di masa lalu.

2. Tidaklah manusia mengurangi timbangan dan takaran (termasuk riba, menipu dalam jual beli dll) kecuali Allah akan menimpakan paceklik (kelaparan) kekurangan makanan pokok dan penguasa yang buruk (zhalim).

3. Tidaklan manusia menahan zakatnya kecuali Allah akan menahan turunnya air hujan dari langit, kalau bukan karena binatang ternak maka Allah tidak akan menurunkannya.

4. Tidaklah mereka merusak janji dengan Allah dan Rasul kecuali Allah akan menguasakan mereka kepada musuh. (Kholif Abu Ahmad)

Sumber: Naskah Khutbah Jum’at “Asbab Hilak al-Umam”, Syaikh Nabil al-’Awadhi.


http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=431