Monday, December 29, 2008

Dibalik Serangan Israel Terhadap Gaza

Analisa Serangan Israel terhadap Gaza

“Mereka (muslim) mendiami wilayah yang luas dan sumber daya alam yang kaya. Mereka mendominasi lalu lintas perjalanan dunia. Tanah mereka adalah pusat peradaban dan agama. Mereka memiliki satu keyakinan, satu bahasa, satu sejarah dan satu aspirasi. Tidak ada batas alam yang mampu memisahkan mereka, satu dari lainnya..kalau saja, bangsa mereka bisa tersatukan dalam satu negara, ia akan menggenggam nasib dunia dan memisahkan Eropa dari belahan dunia lainnya. Mengingat betapa pentingnya masalah ini, entitas asing perlu ditancapkan di jantung mereka agar mereka tidak akan pernah bisa bersatu dan menghabiskan energi mereka dalam peperangan yang tidak berkesudahan. Entitas itu juga bisa menjadi alat bagi Barat untuk mendapatkan apa yang sangat dia idam-idamkan.” (Perdana Menteri Henry Bannerman dalam Laporan Campbell-Bannerman terbit di tahun 1907)


Israel sang negara teroris sekali lagi membantai muslim di Gaza, padahal pejabat Israel telah membocorkan informasi tentang akan adanya serangan sejak dua minggu lalu dimana tidak akan ada siapapun yang selamat. Bahkan pejabat Israel juga menyebutkan bahwa Israel menunggu cuaca yang baik agar bisa membantai dengan baik. Pada Sabtu pagi tanggal 27 Desember di tengah hiruk pikuk kesibukan, pembantaian di mulai.


Gelombang serangan pertama terjadi secara terkoordinasi dalam tempo 3 menit dengan melibatkan 60 jet F-16 menyerang 50 titik target infrastruktur Gaza yang masih tersisa. Gelombang kedua menghancurkan markas HAMAS (perlu diingat bahwa markas tersebut terletak di tengah populasi warga sipil). Dalam satu jam serangan pertama, 155 korban tewas dan jenazah korban terus berdatangan dan memenuhi rumah sakit.


Dengan terbenamnya matahari di Gaza, Israel akan meneruskan serangannya sepanjang malam. Dengan laju serangan seperti ini, Israel akan segera kehabisan target dan Gaza pun akan jatuh. Tank-tank Israel sudah disiagakan dan mengepung Gaza, dan bersiap untuk memasukinya. Pejabat Israel berulang kali mengatakan bahwa serangan ini hanyalah pembukaan, yang dikonfirmasi oleh pernyataan Menteri Pertahanan Israel,’ saat untuk menyerang Gaza telah tiba dan operasi ini tidak akan berlangsung sebentar, operasi akan jauh lebih dalam dan luas apabila diperlukan.”


Israel membenarkan aksinya sebagai tanggapan terhadap tingkat serangan roket terhadap wilayahnya yang diluncurkan dari Gaza. Menlu Israel Tzipi Livni membela serangan udara ini dengan berkata dalam siaran TV,” Israel tidak punya pilihan. Kami melakukan apa yang kami harus lakukan untuk melindungi warga kami.” Israel menuduh HAMAS, yang memenangkan pemilu 18 bulan lalu dan didukung oleh Iran, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap serangan roket ini.

Israel memang selalu mengkambinghitamkan HAMAS sebagai kelompok Islam radikal yang bertujuan menghapus Israel, padahal Israel telah memblokade Gaza sejak lama. Secara rutin, Israel menutup jalur penyeberangan perbatasan menuju Gaza, yang berakibat pada kelaparan massal. Dalam sebulan terakhir, penyeberangan menuju ke Gaza dibuka selama 5 hari saja. Perwakilan PBB untuk Gaza menggambarkan situasi yang menyedihkan sebagai berikut,” Tiap hari adalah perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Warga benar-benar kelaparan. Semua serba kekurangan, termasuk makanan yang sempat habis selama dua hari, dan fakta yang semakin memburuk yang bisa berakhir kepada kepahitan… kami berusaha keras mencari alasan untuk memiliki harapan yang realistis.”
Politik


Tanggapan dunia pun sudah bisa diduga. Israel tetap menjadi anak favorit bagi Barat. PM Inggris Gordon Brown dalam wawancara dengan BBC mengatakan bahwa ia ’sangat prihatin’ dan mengatakan bahwa milisi Palestina harus menghentikan serangan roket terhadap Israel, meskipun Palestina adalah pihak yang diserang dan Muslim dibantai.


Tanggapan penguasa muslim, yang selama ini tidak peduli terhadap jatuhnya korban muslim pun tidak bicara banyak. Mesir yang memiliki batas dengan jalur Gaza telah melakukan pembicaraan dengan Menlu Israel Tzipi Livni mengenai gencatan senjata. Hasilnya, Hamas menolak gencatan senjata selama Gaza masih diblokade Israel. Hubungan Mesir dengan Gaza pun memburuk. Telah diketahui bahwa Mesir marah besar ketika Hamas menolak berbicara dengan Fatah bulan lalu yang sedianya dijadwalkan berlangsung di Mesir. Media Arab pun melaporkan bahwa Hosni Mubarak juga menuduh Hamas telah melakukan kesalahan besar ketika menolak adanya gencatan senjata. Harian Al Quds Al Arabi yang berpusat di London juga melaporkan bahwa Mesir tidak akan memprotes serangan Israel, yang bertujuan untuk menjatuhkan pemerintahan Hamas di Gaza. Di samping itu keberadaan Tzipi Livni di ibukota Mesir adalah suatu peristiwa yang tidak biasa karena umumnya Hosni Mubarak menemui pejabat Israel di kawasan wisata Sharm el-Sheikh.


Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, Azzam Tamimi, direktur Institut Pemikiran Politik Islam (Institute of Islamic Political Thought) dan pakar masalah Palestina, menggambarkan pengamatannya sebagai berikut, ” Saya duga operasi militer ini tidak hanya terbatas tapi juga berusaha untuk mengganti penguasa di Gaza, kalau tidak, kenapa Israel juga mentargetkan jajaran kepolisian? Yang menembakkan roket di Israel bukanlah para polisi dan polisi bertugas untuk menjaga keamanan di Gaza. Operasi ini ditujukan untuk menciptakan kekacauan dan kemungkinan besar Mesir dan Ramallah berkolusi dalam hal ini. Tidak mungkin berani Israel melancarkan serangan dalam skala sebesar ini tanpa adanya ijin dari kalangan tertentu, seperti Amerika, Eropa, dan juga Mesir dan Ramallah.”


Israel menggunakan muslim sebagai pion
Situasi politik domestik Israel jauh dari kestabilan selama setahun terakhir ini dan situasi tersebut adalah latar belakang serangan oportunis Israel terhadap Gaza. Sejak konflik Israel vs Lebanon pada tahun 2006, dimana Israel sendiri mengakui kekalahannya, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan kabinetnya telah dipermalukan. Tidak hanya kekalahan Lebanon, pemerintahan pimpinan Olmert juga tercemar dengan berbagai skandal yang menyebabkan tekanan publik yang berakhir pada turunnya Olmert sebagai ketua partai Kadima. Penggantinya, Tzipi Livni sejauh ini gagal untuk menyatukan koalisi yang memimpin pemerintahan Israel dan terpaksa melaksanakan Pemilu yang dijadwalkan pada bulan Februari 2009. Livni juga tidak dalam posisi untuk memenangkan Pemilu dalam bersaing melawan Benjamin Netanyahu dari Partai Likud. Dalam janji politiknya, Netanyahu menyatakan akan menumbangkan pemerintahan Hamas.


Survei yang diambil pada detik-detik dimulainya penyerangan oleh Israel menunjukkan bahwa partai Kadima mulai lebih populer. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan waktu penyerangan diatur sehingga popularitas Kadima bisa terangkat pada Pemilu yang sebentar lagi akan digelar. Kesibukan AS dalam persiapan prosesi peralihan pemerintahan dari Presiden Bush ke Presiden terpilih Obama, juga memberikan Israel kesempatan emas ketika AS sendiri masih disibukkan oleh penggantian kekuasaan.


Kesimpulan
Sekali lagi Israel menunjukkan bahwa ia tidak menghargai kehidupan muslim ketika ia membantai muslim di Gaza setelah ia memblokadenya dan membuatnya kelaparan berbulan-bulan agar ia bisa memenangkan Pemilu. Di lain pihak, peristiwa tragis ini juga membongkar kedok para penguasa muslim yang ternyata tidak memiliki tulang punggung keberanian dalam membela jiwa dan kehormatan umat. Mereka lupa kata-kata Rasulullah saaw ketika berdiri di samping Ka’bah,” Darah seorang muslim lebih berharga ketimbang Ka’bah dan sekelilingnya.”


Selama bertahun-tahun, Saudi Arabia adalah konsumen peralatan militer terbesar di dunia namun itu semua tidak terpakai padahal muslim dianiaya tidak jauh darinya. Perlu diingat bahwa pamor kekuatan militer Israel musnah di tahun 2006 ketika Hezbollah secara efektif mampu mempercundangi Israel. Dalam laporan komisi penyelidik Israel disebutkan banyak kegagalan dan penyebab kekalahan dimana terlihat bahwa militer Israel tidak mampu menghadapi serangan gerilya dan tidak diciptakan untuk melakukan serangan darat. Hal ini terlihat dalam konflik 2006, dimana sekelompok paramiliter muslim dengan iman kepada ALLAH mampu menahan kekuatan militer yang didukung suatu pemerintah. Serbuan darat yang dilakukan Israel setelah 30 tahun ternyata gagal total, terbongkarlah kelemahannya, dan hancurlah pamornya.


Pasukan dari penjuru manapun di Dunia Islam mampu menghentikan pembantaian Palestina. Pasukan dunia Arab harus bertindak, bersatu, dan memenuhi tanggungjawab mereka di hadapan ALLAH dalam melindungi nyawa muslim di Palestina.


Ini bukan saatnya lagi untuk pertemuan, rapat, dan gencatan senjata. Israel sekali lagi telah menumpahkan darah Muslim dan ALLAH telah menentukan Jihad sebagai solusi terhadap tindakan pengecut seperti sekarang. Hanya dengan pembentukan Khilafah, pasukan muslim akan bebas berderap kembali dan berjihad di Palestina, dimana Kalimatullah akan kembali menjadi tinggi.
Semua anggota pasukan muslim harus mencerna firman ALLAH azza wa jall:



لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (QS An Nisa : 95)


(Adnan Khan; Sabtu 27 Desember 2008 Sumber : www.khilafah.com)

Menlu Israel: Korban Besar di Palestina Wajar

Menlu Israel: Korban Besar di Palestina Wajar
Oleh Hanin Mazaya pada Sen 29 Des 2008, 01:16 PM

GAZA (Arrahmah.com) - Menlu Israel Tzipi Livni melontarkan pernyataan yang tak berperikemanusiaan. Ia mengatakan bahwa jatuhnya ratusan korban di kalangan warga sipil Palestina akibat serangan brutal Israel adalah hal yang wajar.


Minggu malam, Israel kembali menggempur Gaza dan menghancurkan sebuah universitas di kota Gaza. Di Iran, Ahmadinejad menyatakan Israel telah melakukan kejahatan perang.

Sampai hari ini, jumlah warga Gaza yang gugur syahid sudah mencapai 300 orang. Markas Besar PBB di New York juga melaporkan bahwa sembilan staffnya tewas akibat serangan biadab Israel ke Jalur Gaza.

Sementara itu, Israel menyatakan tidak akan mempedulikan tekanan dunia internasional dan masih akan melanjutkan pembantaiannya di Gaza dengan melancarkan serangan dari darat. Untuk itu, Israel sudah menyiagakan ribuan pasukannya termasuk ribuan pasukan cadangan dan tank-tank nya ke perbatasan Gaza.

Militer Israel mengklaim berhasil menghancurkan lebih dari 40 terowongan di perbatasan Gaza yang diyakini digunakan para pejuang Palestina untuk menyelundupkan senjata, bahan peledak bahkan manusia.

Di perbatasan Gaza-Mesir hari Minggu kemarin, terdengar suara baku tembak. Laporan-laporan menyebutkan bahwa warga Gaza berusaha menerobos perbatasan agar bisa mengungsi ke wilayah Mesir untuk menghindari serangan udara Israel.

Bantuan dari berbagai negara untuk warga Gaza mulai berdatangan. Sekitar 50 dokter asal Mesir dengan membawa obat-obatan sudah tiba di perbatasan Gaza, el-Arish. Dua pesawat dari negara Qatar juga sudah mendarat di tempat yang sama, dengan membawa 50 ton obat-obatan.

Raja Arab Saudi, Raja Abdullah sudah menginstruksikan tiga pesawat berisi obat-obatan diterbangkan ke Jalur Gaza. Begitu pula Iran, sudah mengirimkan bantuan makanan yang akan disalurkan oleh Bulan Sabit Merah Mesir ke Jalur Gaza.

Livni: Perang Adalah Perang

Pada saat yang sama, Menlu Israel Tzipi Livni mengatakan jumlah korban yang besar di kalangan warga sipil Palestina adalah hal yang wajar sebagai akibat dari sebuah perang. Dalam wawancara dengan jaringan televisi Sky News hari Minggu melam, Livni meminta warga sipil yang tinggal di dekat basis-basis Hamas untuk segera menyingkir.

"Perang adalah perang, korban bisa terjadi," kata Livni yang membantah bahwa pasukannya telah menghancurkan sekolah-sekolah, sebuah penjara dan sebuah masjid di Gaza.

Livni menambahkan, serangan Israel yang tiba-tiba memang untuk mengejutkan Hamas dan menuding Hamas sebagai pihak yang selalu melanggar gencatan senjata padahal adalah sebaliknya, Israel lah yang kerap memprovokasi Hamas. (Hanin Mazaya/eramuslim)

Israel Targetkan Mesjid-mesjid Gaza

Israel Targetkan Mesjid-mesjid Gaza
Oleh Hanin Mazaya pada Sel 30 Des 2008, 10:16 AM

Mesjid-mesjid yang berdiri di sepanjang jalur Gaza, menjadi target terakhir kebiadaban militer Israel yang telah melakukan serangan sejak Sabtu (27/12) lalu.


“Seolah-olah apa yang mereka lakukan tidak lah cukup, dengan membunuh saudara-saudara kami, anak-anak kami, kini Israel juga menghancurkan rumah-rumah Allah,” ujar Abu Khalid, penduduk Gaza seperti yang dilansir islamonline.

Dua orang syahid (Insya Allah) setelah angkatan udara Israel melancarkan serangan menghancurkan mesjid di dekat rumah Abu Khalid di Gaza Barat.

“Kami mendengar suara bom yang sangat besar dan kami lihat asap hitam pekat membumbung hingga ke langit,” lanjutnya.

“Kami pergi ke luar untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan kami tercengang saat melihat mesjid di dekat rumah kami telah rata dengan tanah,” ungkapnya.

Angkatan Udara Israel menghancurkan sebuah mesjid di Jabaliya pada Senin (29/12) pagi.

Lima perempuan dalam satu keluarga termasuk seorang anak berusia 14 bulan yang baru belajar berjalan menjadi korban kebiadaban Israel saat melancarkan serangan ke mesjid di daerah Jabaliya.

Tiga mesjid di Selatan kota Khan Younis juga dibombardir Israel.

Aksi Kriminal

Penduduk Gaza dibangkitkan amarahnya oleh serangan Israel yang menargetkan mesjid-mesjid mereka.

“Berani benar mereka menjadikan rumah ibadah sebagai target serangan,” ujar Abu Rami, seorang penduduk yang rumahnya ikut hancur dalam serangan Israel yang menargetkan mesjid-mesjid.

“Sungguh, mereka akan mendapat balasan yang lebih kejam dari Allah.”

Abu Omar, salah satu imam mesjid tidak habis pikir dengan ulah Israel yang begitu brutal.

“Mengapa mereka berani menghancurkan mesjid? Apakah mesjid-mesjid menembakkan roket-roket kea rah mereka?” ungkapnya dengan penuh amarah.

“Mesjid adalah rumah Allah, tempat Muslim melaksanakan ibadah. Serangan yang dilakukan Israel benar-benar aksi criminal,” lanjutnya. (Hanin Mazaya/arrahmah.com)

Israel Bersumpah Akan Terus Menggempur Gaza

Israel Bersumpah Akan Terus Menggempur Gaza
Oleh Hanin Mazaya pada Sel 30 Des 2008, 07:39 AM

GAZA (Arrahmah.com) - Para pejabat tinggi Israel bersumpah akan terus menggempur Hamas, setelah serangan udara sekarang ini memasuki hari ketiga.

Israel akan berperang "sampai tuntas" melawan Hamas, kata menteri pertahanannya. Seorang pejabat senior militer mengatakan tidak akan ada bangunan Hamas yang akan tersisa.

Sekitar 320 warga Palestina tewas sejak hari Sabtu, kata PBB. Sebaliknya, baru dua warga Israel yang terbunuh akibat tembakan roket dari Gaza.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, meminta gencatan senjata segera.

Ban mengatakan dia "sangat prihatin" oleh kobaran tindak kekerasan di Gaza. Sementara dia mengakui hak Israel untuk membela diri dari serangan roket militan Palestina. dia mencela penggunaan kekuataan militer yang berlebihan oleh Israel.

Israel sekarang mengerahkan pasukan di perbatasan Gaza dan menyatakan daerah di sekelilingnya sebagai "zona militer tertutup".

Para wartawan mengatakan langkah ini, di samping pengerahan ribuan tentara cadangan, boleh jadi akan menjadi awal dari operasi darat. Tetapi, bisa juga berarti memperkuat tekanan terhadap Hamas.

Palang Marah menggambarkan situasi di berbagai rumah sakit Gaza dalam keadaan kacau, tim medis telah bekerja mati-matian.

Sementara itu, sejumlah kecil orang Palestina yang luka-luka sudah menyeberangi perbatasan Rafah masuk ke Mesir untuk perawatan, dan truk-truk yang bermuatan obat-obatan diizinkan masuk ke Gaza.

Para menteri luar negeri Uni Eropa akan bertemu di Paris hari Selasa untuk membicarakan krisis yang semakin marak itu.

Korban sipil

Puluhan pusat kekuatan Hamas, termasuk kompleks keamanan, kantor-kantor pemerintah, dan terowongan ke Mesir, hancur sejak Israel melancarkan pemboman besar-besaran mulai hari Sabtu.

Gedung-gedung yang digempur termasuk rumah komandan senior Hamas, mobil yang membawa silinder gas, sejumlah masjid dan rumah, kata berbagai laporan. Lima perempuan dari satu keluarga tewas dalam serangan di Jabaliya.

Kepala urusan kemanusiaan PBB, John Holmes, mengatakan informasu terbaru menunjukkan 320 orang terbunuh dan 1,400 luka-luka.

"Enam-puluh empat di antara yang terbunuh itu adalah warga sipil," katanya dalam konferensi pers.

"Mereka adalah perempuan dan anak-anak. Tidak termasuk korban sipil yang laki-laki, meskpun kami tahu banyak laki-laki warga sipil yang juga tewas."

Sumber-sumber rumah sakit Palestina mencatat korban tewas lebih banyak lagi, yaitu 340 terbunuh dan 1,650 luka-luka. (Hanin Mazaya/bbc/arrahmah.com)

Senjata Pasukan Abbas Digunakan Melindungi Israel dan Memerangi Perlawanan

Senjata Pasukan Abbas Digunakan Melindungi Israel dan Memerangi Perlawanan
Oleh Hanin Mazaya pada Sab 13 Sep 2008, 03:24 AM

GAZA (Arrahmah.com) - Ketua Komisi Keamanan di Parlemen Palestina, Ismail al Asyqar menyerukan dinas keamanan Palestina di Tepi Barat, yang berada di bawah otoritas Presiden Abbas, agar melindungi rakyat Palestina dari penjajah di sana dan menghentikan koordinasi keamanan dengan musuh.
Pernyataan Asyqar ini menyusul masuknya pasukan penjajah Israel ke kamp pengungsi al Ain di kotaNablus, Rabu (10/09), dan melakukan aksi pembunuhan terhadap seorang aktivis perlawanan serta menangkap dan melukai sejumlah orang lainnya. Asyqar menganggap ini adalah “tamparan noda hitam di jidat ribuan anggota dinas keamanan Palestina yang digaji rutaan dolar setiap bulannya.”

Asyqar mengatakan, “Apa yang terjadi di Tepi Barat berupa permusuhan dan koordinasi keamanan dengan penjajah membutuhkan renungan sungguh-sungguh dari semua pihak demi melindungi rakyat Palestina yang mengalami serangan aksi-aksi pembunuhan dan pengusiran setiap hari, di tengah-tengah terus berlanjutnya koordinasi keamanan antara dinas keamanan Abbas dengan pasukan penjajah Israel dan berlanjutnya pengejaran terhadap para pejuang perlawanan Palestina di sana.”

Ketua komisi keamanan di parlemen Palestina ini menganggap izin otoritas penjajah Israel sepekan lalu atas masuknya seribu senjata dan amunisi kepada dinas keamanan Palestina di Tepi Barat adalah “untuk memerangi perlawanan dan bukan untuk memerangi penjajah sekaligus bagian dari rencana jenderal Amerika Keith Dayton. Biaya jutaan dolar kepada dinas keamanan ini hanya untuk berkhidmat pada tujuan-tujuan Amerika dan Israel dan bukan untuk melindungi rakyat Palestina. Menurutnya, seharusnya senjata-senjata itu berada di tangan perlawanan dan bukan di tangan dinas keamanan sehingga bisa untuk membela warga.

Asyqar menambahkan, “Senjata perlawanan di Tepi Barat adalah senjata incaran dari dinas keamanan Presiden Abbas dan penjajah Israel sekaligus senjata terlarang. Sedangkan senjata dinas keamanan Presiden Abbas adalah digunakan untuk melindungi penjajah dan memerangi perlawanan.”

Dia menyerukan keapada perlawanan Palestina untuk tetap teguh dan semangat betapapun kadar serangan terhadap mereka dari dinas keamanan Presiden Abbas dan pasukan penjajah Israel. Dia meminta pejuang perlawanan lebih waspada dan siap siaga, kerena mereka menjadi incaran operasi pasukan penjajah. (Hanin Mazaya/infopalestina)

Hamas : Perlawanan Telah Hancurkan Paradigma Israel Raya

Hamas : Perlawanan Telah Hancurkan Paradigma Israel Raya
Oleh Hanin Mazaya pada Sel 16 Sep 2008, 05:18 AM

GAZA (Arrahmah.com) - Gerakan Perlawanan Hamas menegakan, pernyataan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert tentang berakhirnya ide Israel Raya merupakan pengakuan atas gugurnya dasar-dasar pendirian Israel Raya.
Hamas menambahkan, sang perampok Israel berada dalam situasi kemunduran dalam menghadapi berlanjutnya perlawanan dan sikap teguh rakyat Palestina dalam mempertahankan hak-haknya.

Juru Bicara Hamas, DR. Sami Abu Zuhri dalam pernyataan persnya yang dilansir Infopalestina kemarin (15/9) mengatakan, atas karunia Allah Israel mengalami kemunduran. Perlawanan Palestina telah berhasil menghancurkan mimpi mereka tentang Israel Raya. Disamping telah mendorong para pemimpin Zionis untuk melepaskan hak-hak Palestina setelah mereka merasa lemah, untuk melindungi Sederot dan Naghev.

Abu Zuhri menegaskan, pernyataan Olmert bahwa waktu tidak berpihak pada Israel adalah pengakuan pemimpin Israel yang menegaskan tentang kekuatan perlawanan. hal ini juga menunjukan bahwa berlanjutnya penjajahan tidak mampu mencengkramkan kekuasaanya. Dan wilayah Palestina belum dimakmurkan. Oleh karena itu, hengkangnya penjajahan hanya masalah waktu saja. Inilah yang diyakini gerakan Hamas.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert menyatakan, ide pendirina negara Israel yang sempurna dan terpadu telah lewat masanya. Barang siapa yang masih membicarakanya ia telah menipu dirinya sendiri.

Ia menambahkan, waktu tidak berpihak pada kita. Sementara diskusi masalah ganti rugi bagi mereka yang mau meninggalkan permukiman, saat ini waktu yang paling tepat.

Pernyataan Olmert ini diungkapkanya saat menutup diskusi pemerintah Zionis terkait rancangan undang-undang pengosongan dan penggantian wilayah permukiman yang akan ditinggalkan secara suka rela oleh pemiliknya dari permukiman Israel yang terletak di sebelah timur Tembok Rasial yang dulu dicanangkan wakil perdana menteri Israel, Hayem Ramon pada sidang kabinet Ahad (14/9) lalu.

Olmert mengakui perubahan sikapnya. Ia mengatakan, saya akui tidak akan tetap dalam pendirian ini. saya juga meyakini telah saya katakan pada Ehud Barak bahwa pelepasan hak mereka dalam perjanjian Kamp David telah melebihi batas. Sebelumnya aku juga meyakini bahwa semua wilayah yang terletak antara sungai Yordan dan Laut Tengah adalah milik Israel. Karena tiap tempat di sana terdapat sejarah keyahudian. (Hanin Mazaya/infopalestine)

Negara-Negara Arab Pengecut!

Oleh Fadly pada Sel 30 Des 2008, 08:27 AM

YAMAN - Serangan beruntun yang dilancarkan Israel kepada Palestina dalam tiga hari terakhir berdampak pada aksi demonstrasi di negara-negara Arab. Mereka meprotes para pemimpin negara Arab yang hanya diam saja.

Orang-orang Arab menggelar aksi unjuk rasa dengan cara turun ke jalan dan menunjukkan kemarahan kepada negara sendiri karena tidak melakukan tindakan.

Di Yaman, para demonstran yang turun ke jalan sempat terjadi kericuhan setelah para demonstran membakar bendera Israel di ibukota Yaman, Sanaa.

Para demonstran juga terlihat menangis melihat negara-negara di Liga Arab yang menunda sejumlah pembahasan terkait krisis Israel Palestina.

"Negara di Liga Arab sangat tidak berharga. Mereka adalah pemimpin yang lemah dan seharusnya mereka hanya pulang ke rumah." kritik para demonstran di Doha, Qatar.

Di Sudan, pemandangan juga terlihat sama. Seorang wanita yang menggunakan lambang Hamas di kepala mengatakan kepada Al Manar TV, "Ke mana para pemimpin negara Arab? Mana aksi dari mereka? Cukup perkataan mengutuk. Tunjukkan dukungan kepada Gaza."

Sementara para pelajar di Qatar melakukan boikot untuk tidak masuk ke kelas dan menggelar aksi unjuk rasa untuk dukungan terhadap Gaza.

Di Jordan, seorang anggota parlemen terlihat berbicara melalui mikrofon dan membakar bendera Israel sebelum berjalan ke tengah ruangan. Aksi ini juga mendapat aplaus dari rekan sesama anggota parlemen.

Mesir adalah negara yang paling banyak mendapat kritik dalam krisis ini. Para demonstran menilai, Mesir telah berdosa karena "telah menjual Palestina" dengan membina hubungan yang dekat dengan Israel dan Amerika Serikat. [okz]

Irak Resmi Menjadi Bagian Israel Raya

Irak Resmi Menjadi Bagian Israel Raya

Tuesday, August 09 2005 @ 01:38 PM WIT
Kontributor: HPI
Ditampilkan 208
Ali Reza al-Athas

Imam Ali Khamene'i juga menyatakan, demonstrasi-demonstrasi di belahan dunia, termasuk Indonesia sebagai bukti anti Amerika yang berangkat dari hati nurani mereka. Mungkin pada perang Vietnam, Amerika dapat menuduh bahwa yang mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi anti Amerika adalah Uni Sovyet. Berbeda untuk saat ini, Amerika tidak dapat menuduh siapa pun dibalik besarnya reaksi dunia terhadap invasi Amerika di Irak.

Pada awalnya hampir setiap orang berfikir, tidak mungkin Amerika bersikap membabi buta dengan kelakuannya untuk menginvasi Irak. Seakan tidak ada alternatif lain untuk membungkam negara seribu satu malam dibawah diktator Saddam, yang dikenal dengan pembangkang ini. Akan tetapi inilah yang telah terjadi. Amerika memang benar-benar konyol dan tidak memperdulikan opini dunia. Padahal, alasan yang diangkat untuk menginvasi Irak adalah demokrasi. Anehnya, pada waktu yang sama Amerika tidak memperdulikan demokrasi, dengan sikap tidak mau tahu dengan opini dunia, yang dikukuhkan dengan suara mayoritas badan dunia PBB,yang tidak merestui penggunaan kekuatan militer. Akhirnya, berlangsunglah sandiwara baru skenario Amerika dengan mengusung demokrasi, dihancurkanlah demokrasi itu sendiri. Semakin jelaslah keinginan Amerika di muka bumi ini. Pemimpin Spritual dan Politik Islam Imam Ali Khamane'i dalam khutbah jum'at pekan ini secara tegas menyatakan, invasi Amerika di Irak telah mengkaburkan makna demokrasi barat. Demokrasi barat yang dianggap norma masyarakat dunia telah kehilangan peranannya.

Amerika dan sekutunya meyakini, kawasan Timur Tengah tidak mungkin dibiarkan begitu saja, karena kunci kekuasaan dunia ada di kawasan tersebut. Orang-orang Arab dan Persia harus tertindas. Para pedagang Yahudi yang nota bene adalah Zionis, untuk mendapatkan keuntungan perdagangan di kawasan minyak tersebut, tidak akan mungkin membiarkan kawasan Timur Tengah dalam kondisi aman dan stabil. Krisis dikawasan tersebut haruslah terus diciptakan. Kepentingan invasi Amerika di Irak, tidak lain hanyalah minyak, tidak lebih.

Mengutip pernyataan Ayatullah Rafsanjani dalam pertemuannya dengan para birokrat Departemen Kesehatan Iran yang dimuat dalam harian Ofarinesh pada tanggal 9 April 2003 menyatakan: "Masyarakat dunia menyadari bahwa tujuan Amerika menginvasi Irak hanya ingin mendapatkan minyak, menguasai sumber daya alam kawasan ini dan menjaga kepentingan-kepentingan Israel. Atas alasan inilah Gedung Putih dengan tema kebebasan dan demokrasi melanjutkan tindakan kriminalnya."

Rafsanjani dalam kesempatan yang sama menanggapi sikap tidak manusiawi Amerika, dengan mengatakan, tragedi mengerikan itu sangatlah serius, akan tetapi Amerika menutupi tragedi tersebut dengan mengatakan ini adalah sebuah solusi yang terbaik. Ternyata Amerika meleset, karena para wartawan telah mengetahuinya, sehingga dapat mempersempit dan memojokkan perilakunya. Selanjutnya mantan Presiden dua periode di Iran tersebut menambahkan bahwaasanya situasi di Irak tidak dapat dibandingkan dengan Afghanistan. Dalam menanggapi semakin bertambahnya problema dan tidak amannya Afghanistan setelah invasi Amerika di negara itu, berkata:"Sejarah tidak akan memaafkan Amerika".

Anehnya, sekarang Amerika berharap seorang pensiun Jenderal Amerika akan menggantikan penguasa negara itu. Rafjanjani yang sekarang masih menjabat sebagai Ketua Badan Kemaslahatan Negara, dalam kesempatan itu juga mengomentari bahwasanya seorang pun tidak akan menerima seorang Jenderal Amerika memerintah masyarakat yang selama 30 tahun dibawah kekuasaan partai ba'st (partai sosialis miliknya Sadam). Pada kesempatan yang berbeda Sayyid Ali Khamene'i dalam khutbah jum'atnya juga menegaskan, tujuan Amerika yang didengungkan kepada masyarakat dunia adalah menyingkirkan penguasa diktator Sadam, akan tetapi setelah menduduki, masih ingin membentuk pemerintahan di kawasan tersebut, yang mestinya mereka harus berkomitmen dengan tujuan awalnya yang hanya ingin menyingkirkan Sadam, dan tujuan tersebut sudah diselesaikan, sewajarnyalah Amerika cepat hengkang kembali ke negaranya.

Harian Ofarinesh di hari yang sama juga menukil komentar menteri luar negri Iran, Kharozi, dalam menjawab pertanyaan seorang wartawan tentang analisa politik Amerika setelah lengsernya pemerintahan Saddam, Kharozi tidak memungkiri bahwasanya Amerika mempunyai strategi khusus dalam invasi kali ini.

Sehari kemudian, ternyata Imam Khamene'i dalam khutbah jumatnya pada tanggal 10 april menegaskan bahwa dibalik invasi ini adalah dukungan yang kuat terhadap Israel. Srategi ini termasuk sederet rencana untuk memperluas kawasan Israel Raya.

Anehnya, Inggris yang dalam beberapa tahun ini dapat mengkaburkan kesan kediktatoran, juga ikut bergabung dengan Amerika. Ini adalah kesalahan besar Tony Blair yang mengembalikan image buruk Inggris. Begitulah pernyataan Imam Ali Khamene'i dalam menanggapi sikap kriminalnya Inggris.

Imam Ali Khamene'i juga menyatakan, demonstrasi-demonstrasi di belahan dunia, termasuk Indonesia sebagai bukti anti Amerika yang berangkat dari hati nurani mereka. Mungkin pada perang Vietnam, Amerika dapat menuduh bahwa yang mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi anti Amerika adalah Uni Sovyet. Berbeda untuk saat ini, Amerika tidak dapat menuduh siapa pun dibalik besarnya reaksi dunia terhadap invasi Amerika di Irak.

Selama ini, Amerika sangat khawatir dengan posisi Iran, sebagai pemerintahan Islam yang semakin kuat dan mendapat kepercayaan negara-negara dunia. Apakah Amerika berani menginvasi Iran? Kita lihat saja nanti.

Cara berfikir saya yang sederhana, sebagai bagian dari masyarakat awam, hanya dapat menilai, disaat Amerika memusuhi negara tersebut, berarti kebenaran ada di negara tersebut. Dan sebaliknya, pujian Amerika terhadap sekutunya dan bagian masyarakat yang mendukungnya, tidak akan membawa keuntungan untuk negara tersebut. Terlebih untuk negara Islam, seperti Iran, Malaysia dan Indonesia.

(Alireza Alatas, Qom Iran)[]

Israel Raya : Agenda Tersembunyi di Balik Kekejaman Israel

Syarifudin Ahmad *

Dunia Arab kembali disibukkan dengan ketegangan baru yang dipicu agresi militer darat, laut, dan udara Israel terhadap Lebanon sejak 12 Juli 2006. Alasan Israel melancarkan serangan tersebut untuk membebaskan dua prajuritnya yang diculik Hizbullah. Dalam perkembangan berikutnya, alasan tersebut ternyata kamuflase alias palsu.

Menteri Pertahanan Israel, Amir Perets, secara terbuka mengatakan Israel ingin mengusir Hizbullah dari Lebanon. Bahkan pada 23 Juli 2006 lalu, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, mengisyaratkan bahwa krisis di Lebanon akan memakan waktu yang lama, hingga infrastruktur Hizbullah di Lebanon dapat dihancurkan. Israel juga secara tegas menolak usul utusan PBB untuk gencatan senjata dalam waktu segera. Mereka beralasan, penghancuran infrastruktur kelompok 'teroris' tidak mengenal upaya diplomasi. Akibat dari agresi itu ratusan warga Lebanon meninggal, ratusan ribu penduduk lainnya terusir dari kampung halaman.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Israel sedemikian beringas melancarkan perang pembersihan tanpa membedakan antara target sipil dan militer? Bahkan infrastruktur Lebanon dari mulai jalan raya, jembatan, bandara, stasiun listrik, pemancar televisi, saluran air, juga mengapa ikut dihancurkan? Seandainya tujuan dari agresi tersebut hanya untuk membebaskan dua prajuritnya, tentu bernegosiasi secara langung jauh akan lebih efektif .

Balas dendam

Israel ibarat seorang yang sedang kehausan menemui sebuah mata air. Penculikan dua tentara Israel dimanfaatkan untuk melampiaskan dendam masa lalu dengan memberangus Lebanon. Seorang pengamat masalah Timteng asal Inggris, Patrick Seal, dalam artikelnya di Surat Kabar Harian Al Hayat terbitan 24 Juli 2006 mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan Israel sedemikian beringas menghadapi Hizbullah. Di antara alasan itu adalah historis konflik Hizbullah-Israel. Kedua kekuatan ini pernah berseteru sebelumnya selama 15 tahun yang berakhir dengan penarikan mundur Israel dari Lebanon selatan tahun 2000. Sehingga bisa dipahami serangan Israel merupakan aksi balas dendam atas kekalahan Israel di masa lalu.

Selain faktor historis konflik kedua pihak, kebiadaban Israel juga dipengaruhi oleh lemahnya reaksi dunia internasional dalam mengecam dan mengupayakan penghentian agresi tersebut secara cepat. Bahkan terkesan masyarakat internasional secara implisit menginginkan Israel sebagai alat implementasi Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 1559. Resolusi itu isinya antara lain menyangkut perlucutan senjata milisi-milisi sipil di Lebanon, termasuk Hizbullah.

Pemberitaan koran New York Times beberapa waktu lalu makin memperkeruh keadaan. Harian itu memberitakan, Amerika Serikat (AS) mempercepat pengapalan senjata bom berpresisi tinggi ke Israel di saat negara ini melakukan serangan membabi buta ke Lebanon. Apapun alasannya, pengiriman itu jelas menunjukan sikap dukungan buta AS terhadap agresi militer yang mendorong negara zioinis semakin gencar membombardir Lebanon. Kebijakan tersebut juga tidak mendukung bagi upaya penghentian perang.

Sementara kekuatan-kekuatan internasional termasuk PBB dan Uni Eropa tidak mengambil sikap tegas terhadap agresi ini. Hasil pernyataan para pemimpin yang menghadiri pertemuan G-8 di Petersburgh, Rusia, juga cenderung menyalahkan kelompok Hizbullah. Para pejuang Hizbullah dianggap sebagai pemicu terjadinya kekejian Israel di Lebanon.

Bisa dikatakan, terdapat kesepakatan di antara masyarakat internasional mengenai perlunya perlucutan dan netralisasi kelompok Hizbullah di Lebanon. Bahkan Hizbullah dianggap sebagai kelompok yang menjadi penghambat bagi proses demokratisasi di Lebanon. Situasi internasional demikian dimanfaatkan oleh Israel untuk terus menghancurkan Lebanon dengan dalih menumpas Hizbullah.

Mengubah peta

Terkait dengan misi agresi militer tersebut, beberapa pengamat Timur Tengah mengatakan misi agresi yang dilakukan Israel sebenarnya ingin menimbulkan perpecahan internal politik dan perubahan perimbangan kekuatan politik di Lebanon. Diharapkan, dari hancurnya infrastruktur Lebanon yang parah, mayoritas rakyat dan kekuatan-kekuatan politik di Lebanon mengecam eksistensi Hezbullah di Lebanon. Rakyat didorong untuk menuduh Hizbullah sebagai biang kerok kehancuran yang telah mengembalikan Lebanon ke masa 50 tahun yang lalu. Atau paling tidak, agresi ini bisa menjadikan Hizbullah bukan lagi sebagai 'pemain' yang berpengaruh dalam politik dalam negeri di Lebanon.

Dari kalangan umat Islam di beberapa negara Arab termasuk Ikhwanul Muslimin menanggapi agresi Israel sebagai bagian dari upaya bangsa Yahudi untuk mewujudkan eksistensi negeri Israel raya. Aksi ini juga implementasi dari agenda AS untuk mewujudkan The Greater Middle East yang dilontarkan AS sebelum menginvansi Irak.

Oleh karena itu, menurut Ikhwanul Muslimin, tidak ada jalan lain kecuali menghadapi Israel melalui perlawanan bersenjata. Pengamatan Ikhwanul Muslimin ini mungkin ada benarnya menyusul pernyataan Menlu AS, Condoleezza Rice dalam jumpa persnya sebelum meninggalkan Gedung Putih pada 23 Juli 2006. Dia menyebutkan bahwa lawatan kunjungannya ke Israel bukan untuk mendorong gencatan senjata melainkan ingin melihat terwujudnya Timur Tengah baru.

Tidak menutup kemungkinan, agresi Israel tersebut sebenarnya hanya perpanjangan tangan AS untuk mengubah situasi perimbangan kekuatan di negara-negara Timur Tengah agar lebih mendukung kepentingan-kepentingan AS dan Israel di kawasan. Keberhasilan Israel menumpas Hizbullah akan semakin mendorong AS dan Israel untuk menekan negara-negara kawasan yang dikategorikan melawan agar lebih pro dengan agenda dan kepentingan AS kawasan tersebut.

Siapapun yang keluar menjadi pemenang, agresi militer Israel terhadap Lebanon akan berdampak buruk bagi stabilitas keamanan di Timur Tengah secara keseluruhan. Jika Hizbullah berhasil memukul mundur Israel dari Lebanon selatan, hal ini berdampak akan melemahkan kubu pendukung penyelesaian damai konflik Arab-Israel.

Kelompok penyeru perdamaian sebagai satu-satunya alternatif menyelesaikan konflik Arab-Israel akan semakin terpojok dan menurunkan tingkat kepercayaan kalangan grass root mengenai efektivitas melakukan perundingan dengan Israel. Sebaliknya, ideologi Hizbullah yang mengatakan hanya dengan kekuatan senjata, konflik Arab-Israel dapat diselesaikan semakin mendapatkan pembuktian kebenarannya. Ini berarti kawasan Timur Tengah akan menghadapi perang-perang susulan.

Di sisi lain, jika Israel berhasil menginvansi Lebanon dengan meluluhlantakkan seluruh infrastruktur negeri ini, maka skenario Irak akan terulang kembali di Lebanon. Kalau skenario ini berjalan, berarti juga akan menyulut kembali maraknya aksi-aksi kekerasan dari kelompok pejuang kemerdekaan seperti di Afghanistan, Irak, dan Somalia. Lebih jauh lagi, invasi ini juga akan memperluas gerakan-gerakan sentimen anti-AS dan Israel di berbagai belahan dunia. (RioL)

Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Politik Institut Liga Arab, Kairo

The Great Middle Esat alias Great Israel



Perhatikan Perluasan Koloni negara Israel pada Peta dibawah




Cek Link dibawah :
http://www.alfredlilienthal.com/greaterisrael.htm
http://www.alfredlilienthal.com/greaterisrael_links.htm
http://www.theunjustmedia.com/the%20zionist_plan_for_the_middle_east.htm

Wanita-Wanita Permata dan Genosida Gazza

Oleh : Taryudi, Mahasiswa Pasca Sarjana Al-Azhar Cairo


Logika apa yang dipakai oleh agresor Israel yang sampai hati membantai ratusan penduduk Palestina di Gazza? Alibi kerdil apa yang sampai bisa memasung kepedulian bangsa Arab untuk sekadar menonton pembantaian massal di Palestina? Sudah terlalu menggunungkah dosa-dosa kita yang kemudian mengatup nurani untuk melek menyaksikan kejahatan perang tak termaafkan dalam sejarah itu?

Sabtu (27/12) kemarin, genosida biadab tak berkesudahan itu kembali menumpahkan darah-darah manusia terhormat di bumi Gazza. Tidak kepalang tanggung, 150 orang syahid dan 200 lainnya menderita cidera serius dibabat ribuan amunisi buas Israel; ditebas oleh terjangan roket-roket maut F16 yang mengamuk di atas angkasa Palestina. Dan, korban sebanyak itu baru prolog. Allahu akbar!

Manusia-manusia Islam yang sudah kehilangan kepedulian saudara-saudaranya di belahan bumi yang lain itu, hanya kuasa menjerit pilu. Cuma bisa mengerang tak bisa berbuat apa apa, tatkala suami-suami mereka jatuh tersungkur bermandi darah; ketika bocah-bocah yang lucu dan menggemaskan itu berteriak kesana-kemari dalam derai kepanikan; manakala puluhan apartemen usang yang menjadi tempat berteduh keluarga-keluarga malang itu seketika roboh dihantam peluru raksasa Israel. Yang tersisa adalah gelimpangan mayat, jasad bocah-bocah suci yang tersenyum tenang, dan puing-puing bangunan yang menyatu ke bumi.

Israel kembali menggunakan "logika kematian". Strategi bertaruh nyawa yang tentu saja membuat bulu kuduk pemimpin-pemimpin Arab merinding. Karena kumpulan orang-orang yang mengaku diri mulia dan terhormat itu tidak pernah mengerti bahwa hanya dengan pertaruhan darah demi membela kemerdekaan sejati, manusia baru bisa mulia lalu mendapatkan kehormatan abadi. Bukan dengan bersembunyi di balik ketiak kepengecutan, atau menggelar ratusan pertemuan di meja-meja konferensi OKI, Liga Arab, yang selalu saja berakhir dengan rekomendasi bualan. Tanpa bukti. Pantas mereka menjadi kurcaci dihadapkan dengan logika kematian Israel?

Bagi rakyat Palestina sendiri dari dulu hingga sekarang, mereka sudah memahami bahwa letak krisis Palestina bukan karena Israel yang tak henti-hentinya melakukan pembunuhan dan perampasan. Masalah kematian bagi mereka tak menjadi soal, sebab mereka faham bahwa kesucian dan kemuliaan diri itu selalu harus ditebus dengan darah dan air mata.

Sumber genosida di Gazza adalah sikap pengecut pemimpin-pemimpin Arab dan umat Islam yang telah kehilangan semangat altruistik. Lelap berselimut egoistis hingga tak lagi peka akan nilai-nilai humanisme, yang tak lagi menyemat spirit kohesif yang menjadi pilar kekuatan Islam dan bangsa Arab. Dan, oleh karenanya kita dilindas Israel (Barat) yang sukses mengaplikasi semangat altruistik dan spirit kohesif! Maka wajar kita kalah.

Kontribusi Wanita Permata

Kenapa Palestina yang tinggal sekerat itu masih tetap bertahan menggelorakan semangat perlawanan tanpa batas dan tidak lekang dari bumi? Sebab di atas tanah milik umat Islam itu ada wanita-wanita luar biasa.

Bak permata. Meskipun tak menyimpan permata dan perhiasan mewah. Kemilaunya memancar dari kepribadian. Wanita yang mungkin tersembunyi, terbenam bersama perjuangan membina generasi pejuang. Mereka tidak populer, tapi selalu membisikkan spirit kepahlawanan ke telinga-telinga putera-puteri tercinta. "Nak, kehidupan abadi itu di surga. Kemuliaan itu senantiasa harus ditebus dengan tetes darah dan derai air mata"!

Begitulah Ummu Nidhol, wanita permata Palestina yang kerap membisikkan spirit perjuangan kepada ketiga puteranya. Ia deskripsikan surga di pangkal mata. Ia tak pernah pacu sang anak untuk merengkuh kehidupan hedonis yang acapkali membinasakan mental ukhrawi. Ia tak cita-citakan puteranya untuk mengemis harta bertuhankan nafsu. Ia hanya inginkan buah hatinya masuk surga, dengan berkorbankan darah.

Usai putera ketiganya yang baru berusia 16 tahun syahid dalam drama ledakan dahsyat di jantung kekuatan Israel, Ummu Nidhol menangis. Ketika ditanya perihal penyebab ia menangis. Wanita permata itu berkata: "Saya tidak punya lagi anak yang bisa saya persembahkan untuk kemuliaan Palestina!"

Lalu Ibunda Muh. Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel tahun 1453 M. Dalam usia 23 tahun, Al-Fatih berhasil memaksa hengkang Raja Constantine XI Paleologus dari tahtanya. Penaklukan paling fantastis dalam sejarah.

Ibunyalah yang kala masih mengandung Al-Fatih acap berdiri menghadap ke arah kota Konstantinopel. Ia berharap besar bahwa kelak puteranya yang akan menaklukkan negeri itu. Mengamini sabda baginda Rasulullah Saw. "“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan umat Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad). Obsesi mulia wanita permata.

Menegaskan Substansi Krisis

Sekali lagi, memang benar genosida di Gazza saat ini merupakan potret keangkaramurkaan. Sangat pantas kita kecam kebiadaban Israel bahkan menjadi suatu keharusan. Tidak kita biarkan penduduk Gazza menahan derita seorang diri. Segera tabuh genderang reaksi massal untuk hentikan pembantaian itu. Sebelum terlambat. Sebelum Palestina, seperti kata DR. Raghib Sirjani, akan menjadi Andalusia kedua. Hilang dari peta dunia.

Tapi, seyogyanya jangan biarkan pemimpin-pemimpin Arab yang duduk santai di singgahsana apatis itu lepas dari kecaman. Sebab mereka yang paling bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan yang melanda bumi Palestina. Paksa mereka untuk mengulurkan bantuan dan membungkam kekejaman Israel, walaupun mungkin hal itu hampir mustahil mereka lakukan.

Mengapa? Barangkali karena sosok wanita-wanita permata itu hanya ada di Palestina, hanya pernah ada di masa penaklukan Konstantinopel. Yang ada hanya seorang ibu yang cita-citanya hendak mengikuti riak-riak kecil arus modernisme. Meletakkan standar kesuksesan anak-anak pada wujud materi dan segudang sertifikasi. Seorang isteri yang memaksa suami berpeluh darah untuk menangkap kebahagiaan semu pada jabatan, pangkat, dan prestise. Pada ruang-ruang busana temporal yang sering menguap dilahap waktu. Mengapa ibu dan isteri itu tak membisikkan senandung merdu tentang surga ke telinga-telinga anak dan suami? Kenapa tak pintal sutera cinta dalam tiap keinginan bahwa ibu dan isteri itu ingin bersama merengguk kebahagiaan abadi?

Genosida Gazza adalah konsekuensi dari punahnya sistem pendidikan ukhrawi yang hanya bisa diajarkan oleh wanita-wanita permata. Cukup kita sesalkan karena pemimpin-pemimpin Arab itu dilahirkan, dibesarkan, dididik, dan didampingi oleh reinkarnasi wanita lain.

Harapan itu masih ada. Di Palestina masih banyak wanita permata yang menjamin eksistensi para pahlawan pembela negeri. Kalau Dunia Arab telah mandul melahirkan wanita permata, maka Dunia Islam yang membentang dari pangkal Indonesia sampai ke pucuk Samudera Atlantik di pesisir Afrika Barat, pasti telah bersiap-sedia menjadi wanita-wanita permata. Untuk melahirkan pemimpin satria sekelas Al-Fatih. Bukan seperti pemimpin Arab yang kini hanya bisa menonton Genosida di Gazza. []

Saturday, December 27, 2008

Perayaan Natal Sarat Misi, Perusak Aqidah

Perayaan Natal Sarat Misi, Perusak Aqidah

Natal Bersama, Tahun Baru, dan Valentine bukanlah perayaan tanpa misi Kristen. Para tokoh ummat harus tegas bersikap.

‘’Bertaubatlah, bertaubatlah, karena bulan Desember sampai Pebruari biasanya Allah SWT akan menimpakan bala bencana kepada negeri kita, baik berupa bencana alam maupun bencana kemanusiaan,’’ seru KH Ma’ruf Amien, Ketua MUI.

Bencana itu, Kyai Ma’ruf menuturkan, selain disebabkan oleh perbuatan manusia merusak alam, juga lantaran kemusyrikan sebagian umat bahkan tokoh Islam. Yaitu mereka aktif dalam perayaan Natal (25 Desember), Tahun Baru (1 Januari), dan Valentine’s Day (14 Pebruari).

Ya, tak berlebihan bila Amien Rais menyebut psikologi pemerintah kita bermental inlander. Salah satu ekspresinya adalah ‘’mewajibkan’’ diri mengikuti Perayaan Natal Bersama (PNB). Padahal, Islam yang menjadi agama anutannya dan merupakan agama mayoritas di negeri ini, tidak pernah mengemis-ngemis kepada umat agama lain untuk turut dalam acara IFB (Iedul Fitri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), atau IMB (Isra’ Mi’raj Bersama).

Menurut anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI, DR Adian Husaini, PNB hanyalah mitos yang patut dipertanyakan urgensinya. Sebab, kebersamaan ini hanyalah agenda sepihak umat lain. Umat Islam tidak merasa berhak dan perlu menuntut serupa atas umat lain, agar mengikuti semisal IFB, MNB, atau IAB tadi.

Dalih PNB untuk membina kerukunan antar umat beragama, juga mitos belaka. Sebab, jelas Adian, dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, yang bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Menurut Kristen, Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16).

Sedangkan dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91).

Karena itu, Prof Hamka menyebut tradisi PNB semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tapi menyuburkan kemunafikan.

Sebagian aktivis PNB berkilah, toh tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Menurut Adian Husaini, melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat.

Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen. Konsili Vatikan II (1962-1965), mengeluarkan satu dokumen khusus tentang misi Kristen. Dalam ad gentes ditegaskan, misi Kristen harus tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semua manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan.

Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim juga menghormati fatwa MUI yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB.

Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI. Adapun soal ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.


Tahun Baru Masehi

Penetapan 1 Januari sebagai pertanda Tahun Baru bermula pada abad 46 Sebelum Masehi (SM). Kala itu Kaisar Romawi Julius Caesar membuat Kalender Matahari. Ia mengklaim kalender solar system ini lebih akurat ketimbang kalender-kalender lain pernah dibuat sebelumnya.

Sebelumnya, pada abad 153 SM, Janus seorang pendongeng di Roma yang menetapkan awal mula tahun. Konon dengan dua wajahnya, Janus mampu melihat kejadian di masa lalu dan masa depan. Dialah yang menjadi simbol kuno resolusi (sebuah pencapaian) Tahun Baru. Bangsa Roma berharap dengan dimulainya tahun yang baru, kesalahan-kesalahan di masa lalu dapat dimaafkan. Sebagai penebus dosa, tahun baru juga ditandai dengan saling tukar kado.

Berdasarkan hal ini, Ustadz Ihsan Tanjung menilai perayaan Tahun Baru sebagai perbuatan tasyabbuh (meniru kebiasaan kaum kafir). Ia lalu mengutip hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa saat Rasulullah SAW ke Madinah, warga setempat memiliki dua hari besar untuk bermain-main. Lalu Rasul bertanya, “Dua hari untuk apa ini?” Jawab mereka, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa lalu.” Maka Rasulullah SAW pun berkata, ‘’Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri.”


Valentine’s Day

Pemkot Bukittinggi, melarang remaja merayakan Valentine’s Day 14 Pebruari. Bagi remaja yang terlihat merayakan bisa dianggap melanggar Peraturan Daerah tentang Pemberantasan Maksiat.

Pebruari lalu, pemkot mengerahkan 100 satuan polisi pamong praja merazia hotel serta menangkap remaja yang berduaan di jalan.

Wakil Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis, waktu itu menegaskan, perayaan Hari Valentine’s Day terlarang mata karena tidak sesuai adat istiadat Minagkabau dan ajaran agama Islam.

Valentine’s Day menurut penggeledahan literatur ilmiah, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu resmi agama Nasrani menjadikannya hari raya baru.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Ketua Dewan Syariah Nasional MUI KH Ma’ruf Amin menilai perayaan Valentine’s Day yang jatuh pada tanggal 14 Februari esok, haram.

Meskipun MUI belum memfatwakan keharamannya, menurut KH Ma’ruf Amien, perayaan Valentine’s Day selama ini lebih banyak mengarah pada pesta-pesta dan mabuk-mabukan, sehingga diharamkan. (taqiyuddin al baghdady/tabloid media umat edisi 3)

Natal, ‘Imperialisme’ Kasih Sayang , dan Kegagalan Gereja

Natal, ‘Imperialisme’ Kasih Sayang , dan Kegagalan Gereja

“Bagaimanapun juga Islam harus dihadapi, karena semua yang menguntungkan Islam di Kepulauan ini akan merugikan kekuasaan Belanda… Kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan (Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum)

Ada yang selalu berulang pada bulan Desember, semarak perayaan natal di mana-mana. Di bulan ini Indonesia yang mayoritas Islam , bak kan negeri di Eropa. Di toko-toko, supermarket, perusahaan swasta, sampai instansi pemerintahan hari natal disambut dengan meriah. Acara tv pun dipenuhi dengan film, dokumentar, talkshow, berita, entertainment yang bertemakan natal.

Tentu saja bagi yang pemeluk agama Nashrani sah-sah saja merayakan natal. Tapi ‘memblow up’ demikian rupa kegiatan Natal , apa tidak menyakitkan umat Islam. Lihat saja di super market yang tentu saja mayoritas pengunjungnya umat Islam disuguhi lagu-lagu natal terus menerus. Tidak hanya itu karyawan sampai satpam yang kita yakin mayoritas Islam pun ‘dipaksa’ pakai atribut Natal seperti topi Santa Claus. Dimana toleransi pemilik TV yang memang mayoritas beragama kristen ? Umat Islam disuguhi terus menerus dengan tema-tema Natal. Ini tentu saja harus kita protes.


Bagi Umat Islam sendiri, merayakan natal jelas diharamkan. Sebab , perayaan Natal adalah bagian dari ibadah umat Nashrani. Syariat Islam sendiri dengan tegas melarang umat Islam mengikuti tata acara hidup pemeluk agama Yahudi dan Nasharani. Apalagi merayakan kegiatan ibadah mereka .


Fatwa dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, isinya sudah sangat jelas . Antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.



Disamping itu ‘kasih sayang’ pun menjadi tema utama yang sering didakwahkan pemeluk kristen dalam bulan ini. Lagi-lagi, adalah hak pemeluk kristen mengangkat tema ini. Yang kita tantang adalah ‘kasih sayang’ kemudian menjadi kedok untuk memurtadkan umat Islam. Atas nama menyebarkan kasih sayang dibuat acara yang memberikan bantuan kepada umat Islam untuk kemudian dimurtadkan. Ini tentu kita protes.


Seperti yang terjadi di Bekasi baru-baru ini , dengan topeng Bekasi Berbagi Bahagia (B3), tapi ternyata isinya adalah kegiatan terselubung pemurtadan. Acara dimulai dengan hiburan, kemudian para peserta yang mayoritas Islam diceburkan ke kolam renang buatan, mirip ritual pembaptisan . Di akhir acara, para pengunjung diajak berdoa dengan menyebut-nyebut nama Jesus.


Tema menyebarkan ‘kasih-sayang’ ini pun kehilangan maknanya kalau kemudian diartikan sebatas kegiatan sosial gereja membagi-bagikan sembako murah atau memberikan pendidikan murah bagi rakyat miskin. Sementara Gereja cendrung mendiamkan akar persoalan dari kemiskinan di masyarakat yakni penerapan sistem kapitalisme. Padahal kapitalisme penyebab sistematis kemiskinan masyarakat.


Apalagi kalau gereja malah didanai oleh negara-negara Kapitalis dan perusahaan-perusahaan global kapitalisme yang rakus. Bantuan dana yang digunakan untuk memurtadkan umat Islam, justru sebenarnya berasal dari kekayaan alam umat Islam yang dirampok oleh negara-negara Kapitalis itu.


Makna ‘kasih sayang’ gereja pun semakin dipertanyakan ketika gereja gagal menghentikan pembantaian manusia yang menjadi bencana kemanusiaan yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis rakus di dunia termasuk di negeri Islam. Pesan kasih sayang gereja pun menjadi hambar. Ketika gereja gagal menghentikan pembantaian di Irak, Afghanistan, Palestina, yang dilakukan negara-negara Kapitalis.


Apalagi kalau tindakan pembantaian itu dilakukan dengan motif agama , sungguh dipertanyakan. Esther Kaplan dalam bukunya With God on Their Side: How Christian Fundamentalists Trampled Science, Policy, and Democracy in George W. Bush’s White House, (New York: The New Press, 2004), hal. 5), menulis bagaimana sejak Bush berkuasa di gedung putih secara rutin dilakukan studi Bible mingguan yang dihadiri lebih dari setengah staff Gedung Putih. Tidak mengherankan kalau berkali-kali Bush mengatakan kebijakannya dalam pemerintah di pengaruhi oleh ajaran kristen.

Berkaitan dengan Irak Bush mengatakan Tuhan mengatakan dia untuk menyerang al Qaida dan Saddam Husain : “God told me to strike at al-Qaeda and I struck them, and then he instructed me to strike at Saddam, which I did, and now I am determined to solve the problem in the Middle East.”


Sayangnya saat bertemu dengan Bush , Paus tidak secara terbuka mengecam kebijakan AS di negara-negara tersebut yang oleh banyak pihak justru dianggap menjadi pangkal utama krisis di kawang tersebut . Hal ini tentu amat disayangkan. Padahal seharusnya Paus bicara lantang menentang kebijakan penjajahan AS di Irak. Seruan perdamaian Paus ditanggapi skeptis oleh banyak pihak.


Paus yang dianggap tokoh perdamaian tersebut tidak bisa menghentikan perang. Bahkan sekadar melarang tentara Italia pergi bersama AS memerangi umat Islam di Irak Paus tidak bisa. Paus dan Gereja juga tidak bisa berbuat banyak menghentikan praktik-praktik diskriminasi terhadap umat Islam di Eropa, seperti larangan jilbab di Prancis, meskipun Paus mengecamnya


Kegagalan gereja bisa dimengerti, karena Paus dan Gereja hanya bergerak dalam tataran spritual dan moral saja. Padahal berbagai persoalan manusia seperti perang, kemiskinan, konflik, atau kerusakan moral tidak bisa diselesaikan hanya dengan seruan-seruan spritual dan moral saja.


Pangkal persoalan dari semua itu adalah sistem Kapitalisme sekular yang rusak. Karenanya harus ada perubahan ideologi sistem dunia saat ini. Penjajahan seperti di Irak, Afganistan, maupun Palestina, misalnya, jelas harus dilawan dengan perang/jihad terhadap sang penjajah, bukan sekadar dihadapi dengan seruan moral.


Paus dan Gereja terjebak dalam berbagai kontradiksi yang membingungkan sekaligus menurunkan wibawa mereka sendiri. Di satu sisi Gereja menentang perang yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis, di sisi lain Gereja hidup di bawah dukungan negara-negara kapitalis. Tentu sulit membayangkan dari mana dana Gereja yang demikian besar jika tidak didukung oleh perusahan-perusahan kapitalis dan negara-negara kapitalis yang mengeksploitasi kekayaan alam Dunia Ketiga, terutama Dunia Islam, secara rakus.



Lalu pemimpin seperti apa yang dibutuhkan dunia saat ini? Tidak lain pemimpin yang tidak hanya menyerukan perdamaian, tetapi juga bisa mewujudkan perdamaian. Dia adalah Khalifah, pemimpin tertinggi kaum Muslim, dengan sistem Khilafah-nya. Khalifahlah, dengan sistem Khilafah-nya, yang secara kongkret akan mampu menyelamatkan dunia dengan Islam;


Sejarah telah membuktikan, pada masa lalu, Khalifah kaum Muslim pada masa Khilafah Utsmaniyah pernah memberikan bantuan pangan kepada rakyat Amerika pada abad ke-18 yang mengalami kelaparan setelah perang panjang melawan Inggris. Khalifah kaum Muslim pada masa Khilafah Utsmaniyah juga pernah melindungi Raja Swedia dan berbuat baik kepada Raja Prancis yang meminta perlindungan pada Khilafah.Khilafah Utsmaniah juga pernah melindungi rakyat Aceh dari penjajahan Portugis dengan mengirim ekspedisi militer besar di bawah laksamananya, Kortoglu Hizier Reis.


Walhasil, ketika agama hanya sekedar menyerukan kasih kasih sayang membantu orang miskin, tapi tidak menghentikan kapitalisme yang menjadi sumber kemiskinan, berarti agama telah gagal. Termasuk ketika agama tidak bisa menghentikan penjajahan kapitalisme yang menimbulkan bencana kemanusiaan, agama tersebut juga telah gagal. Dan ketika agama itu kemudian berkoalisi dengan negara-negara kapitalis penyebar perang , kasih sayang telah menjadi alat imperialisme . ‘Imperialisme kasih sayang’ untuk kepentingan negara kapitalis justru lebih mengerikan . (farid wadjdi)

Komoditi Itu Bernama Islam

Komoditi Itu Bernama Islam
Ditulis oleh Andres Irawan di/pada September 9, 2006

Berapakah jumlah rakyat Indonesia? Data dari BPS tahun 1999 sendiri memperkirakan bahwa penduduk Indonesia berjumlah sekitar 210 juta jiwa. Dari 200 juta tersebut, banyak pihak yang mengklaim bahwa penduduk Indonesia 90 persen menganut agama Islam. Dengan demikian, secara hitungan kasar maka jumlah muslim di Indonesia berkisar 190 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar tentunya dan sangat potensial.

Lalu berapakah jumlah penduduk Indonesia saat ini? Data dari BPS terakhir yang beredar di Koran dan surata kabar penduduk Indonesia berjumlah hampir 240 juta jiwa atau naik sekitar 12 persen. Berapakah jumlah penduduk muslim Indonesia? Jika masih mengaku 90 persen maka jumlah muslim di Indonesia adalah sekitar 216 juta. Berarti sejumlah 24 juta jiwa adalah non muslim. Pertanyaannya adalah, riil kah data diatas? Apakah benar jumlah muslim di Indonesia adalah 200 juta jiwa lebih?, sedangkan pihak Nasrani sendiri mengklaim telah berhasil menambah umatnya paling tidak lebih dari 10 juta jiwa. Bahkan menantang untuk diadakan sensus agama untuk membuktikan bahwa jumlah kaum Nasrani melonjak jauh dari perhitungan umat islam yang masih terbuai dengan jumlahnya yang besar.

Aku gak akan mengajak anda untuk menghitung-hitung dan mengira-ngira berapakah jumlah penduduk muslim Indonesia, karena bukan itu focus tulisan ini. nanti bakan aku coba telusuri lebih lanjut. Tapi saat ini aku hanya ingin mengajak anda untuk menyadari besarnya potensi jumlah muslim di Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar, dengan para pemimpin mulai timgkat pusat sampe daerah yang juga didominasi kaum muslim. Namun apakah tingkat kesejahteraan kaum muslim meningkat??

Dibidang hiburan, jika anda maniak dengan kotak ajaib yang bernama televisi maka anda akan menemukan berbagai macam tayangan film dan sinetron yang menjual indentitas Islam. Dengan menyulap para artisnya yang biasa berpakaian terbuka di kehidupan normal menjadi sosok berjilbab dan religi dalam perannya menjadikan banyak dari kita betah untuk mengikuti acara tersebut. Belum lagi ceritanya yang ujung-ujungnya adalah tentang harta – tahta – wanita dengan menampilkan sosok wanita antagonis sebagai pemicu masalah. Dan bodohnya lagi adalah kita dengan sukarela menyumbangkan uang kita yang tidak seberapa kepada produser sinetron tersebut sedangkan produser tersebut sendiri tidak pernah peduli akan isi dan pesan moral di dalam acaranya tersebut. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana setiap episode bisa dibayar mahal oleh stasiun televisi lewat pemasukan iklan yang banyak karena acaranya itu di tempatkan di jam premiere.

Benar, kita manusia bodoh yang mau menyaksikan sinetron tersebut. Dengan kebodohan kitalah, yang rela menonton acara tersebut menjadikan rating acara tersebut menjadi tinggi dan akhirnya harga iklanpun mahal sehingga harga tiap episodepun menjuadi mahal. Dan akhirnya yang kaya adalah sang produser.

Lalu, masih ada acara yang menampilkan sosok kyai sakti, yang menangkapi jin dan makhluk halus yang ada di suatu tempat. Dan hebatnya lagi adalah, dibukanya konsultasi jarak jauh dengan sang kyai untuk menerawang masalah yang sedang menimpa orang yang sedanga konsultasi. Rasulullah sendiri, tidak pernah meminta bantuan kepada makhluk apapun untuk mengatasi masalah beliau. Beliau hanya meminta pertolongan dari Allah bukan kepada jin dan makhluk halus lainnya. Lalu sedemikian saktinya sang kyai sehingga makhluk haluspun tunduk padanya

Dan menjelang Ramadhan ini, dapat dipastikan makin bermunculnya segala hal yang berlabel islam meskipun tidak jelas akan maksud dan tujuannya serta caranya. Tahun 2004 dulu, pernah ada Festival Nasyid Indonesia yang mengadu grup-grup nasyid dari daerah untuk menjadi juara, yang kalo boleh saya plesetkan menjadi Nasyid Idol. Setelah berlangsung satu peridoe, ternyata tidak dilanjutkan lagi Nasyid Idol ini.

Kalo isu yang berdar bahwa ternyata Nasyid Idol ini tidak semegah yang ditayangkan di TV. Penonton yang datang untuk melihat langsung ternyata jauh dari harapan dan perkiraan, Lalu jumlah sms yang masuk ternyata juga tidak sesuai dengan target sehingga operator yang menyediakan layanan premium hanya dapat untung sedikit dan menyebabkan kerugian dari penyelenggara. Yang akhirnya membuat Nasyid Idol ini tidak berlanjut.

Dibidang industri, siapakah pemegang juara penyedia alat-alat atau kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, pasta gigi dan sebagainya? Memang ada pengusaha muslim seperti Aa’ Gym dengan MQ nya, lalu juga pengusaha lainnya. Tapi kalo boleh saya hadirkan satu nama, yaitu UNILEVER. Meskipun berbendera Yahudi, namun produsen ini adalah yang paling tertib soal label kehalalan. Hal yang kurang di lakukan oleh para produsen lain, bahkan produsen muslim. Unilever sadar bahwa pasar yang besar di Indonesia dengan kaum muslimnya, membuat mereka harus menjaga image mereka sebagai produk halal meskipun bendera mereka adalah Yahudi.

Lalu sampai kapankah umat Islam ini hanya menjadi ajang komoditas???

Thursday, December 25, 2008

Hizbut Tahrir Khawarij ?

Hizbut Tahrir Khawarij ?

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Nopember 1, 2007


Soal: Siapakah sebenarnya kaum Khawarij? Benarkah Hizbut Tahrir termasuk Khawarij? Apakah perjuangan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir sama dengan apa yang telah dilakukan oleh kaum Khawarij?

Jawab:Khawarij mempunyai beberapa sebutan. Kadang disebut Haruriyyah karena mereka keluar di suatu tempat yang bernama Harura’. Mereka juga disebut warga Nahrawan, karena Imam Ali memerangi mereka di sana. Di antara kelompok Khawarij ada yang beraliran Abadhiyyah, yaitu para pengikut Abdullah bin Abadh; ada juga yang beraliran Azariqah, yaitu para pengikut Nafi’ bin al-Azraq, dan aliran an-Najadat, yaitu para pengikut Najdah al-Haruri. Merekalah kelompok yang pertama kali mengkafirkan kaum Muslim karena sejumlah dosa. Karenanya, mereka juga telah menghalalkan darah kaum Muslim. Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan siapa saja yang loyal kepada keduanya. Mereka telah membunuh Ali bin Abi Thalib setelah menyatakan bahwa beliau halal untuk dibunuh. Secara umum mereka berpandangan bahwa status orang hanya ada dua, Mukmin atau kafir. Mukmin adalah siapa saja yang telah melakukan semua kewajiban dan meninggalkan keharaman. Siapa saja yang tidak seperti itu berarti kafir, ia kekal di dalam neraka. Mereka pun kemudian memvonis kafir siapa saja yang berbeda dengan pandangan mereka. Mereka menyatakan bahwa Utsman dan Ali telah berhukum pada selain hukum yang diturunkan oleh Allah dan zalim. Karena itu, mereka kafir.[1] Bahkan, sekte an-Najadat tegas menolak kewajiban mengangkat imam atau khalifah.[2] Berdasarkan fakta-fakta di atas, jelas sekali perbedaan Khawarij dengan Hizbut Tahrir, antara lain:Pertama, dalam masalah iman dan kufur, Hizbut Tahrir berpegang pada prinsip pembuktian yang qath‘i (al-burhân al-qâthi‘). Karena itu, Hizbut Tahrir tidak dengan mudah memvonis orang Islam dengan vonis kafir.[3] Kedua, Hizbut Tahrir juga berkeyakinan bahwa umat Islam saat ini masih memeluk akidah Islam, betapapun kotor dan rapuhnya akidah tersebut. Dengan kata lain, Hizbut Tahrir tidak pernah menganggap umat ini tidak lagi berakidah Islam, karena anggapan seperti justru sangat berbahaya, dan membahayakan.[4] Karena itu, Hizbut Tahrir tidak pernah menghalalkan darah kaum Muslim sehingga boleh dibunuh. Bahkan, tumpahnya darah seorang Muslim dianggap masih jauh lebih berharga ketimbang dunia dan seisinya, sebagaimana sabda Nabi saw.:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

Sesungguhnya hilangnya dunia (dan seisinya) benar-benar lebih ringan bagi Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim. (HR at-Tirmidzi).

Ketiga, Hizbut Tahrir menyatakan bahwa semua Sahabat adalah adil (kullu ash-Shahâbah ‘udul). Meski seorang Sahabat bisa saja berbuat salah, hal itu tetap tidak akan menghilangkan status keadilannya.[5] Apatah lagi, memvonis Sahabat dan para pengikutnya dengan vonis kafir. Na‘ûdzu billâh.

Keempat, Hizbut Tahrir juga menyatakan bahwa Utsman dan Ali sebagai kepala negara Islam tetap berhukum pada hukum yang diturunkan oleh Allah. Adapun kasus tahkîm yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, yang masing-masing mengangkat Abu Musa al-Asy‘ari dan Amr bin al-Ash, justru untuk menjalankan perintah Allah dalam masalah tahkîm, bukan sebaliknya.

Kelima, dalam konteks pengangkatan imam dan khalifah, termasuk di dalamnya kewajiban menegakkan Khilafah,[6] jelas Hizbut Tahrir sangat berbeda dengan sekte an-Najadat, yang dengan tegas menolak kewajiban tersebut.Tinggal satu masalah, apakah tindakan Hizbut Tahrir menasihati penguasa dan mengkritik kebijakan mereka secara terbuka sama dengan tindakan kaum Khawarij? Tentu tidak. Kaum Khawarij, sebagaimana namanya, adalah mereka yang melawan para penguasa (Khalifah) yang nyata-nyata menjalankan hukum Allah, bukan para penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah. Sebaliknya, Hizbut Tahrir menasihati penguasa dan mengkritik kebijakan mereka secara terbuka justru karena mereka tidak mau tunduk dan patuh pada hukum Allah. Umumnya, mereka adalah para penguasa boneka dan kaki tangan negara penjajah, pengkhianat Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslim.

Dalam melakukan misinya, kaum Khawarij menggunakan cara-cara fisik dan kekerasan, bahkan sampai membunuh lawannya, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Ali bin Abi Thalib. Sebaliknya, Hizbut Tahrir, sebagai entitas intelektual, tidak pernah menggunakan cara-cara tersebut. Sekalipun para anggotanya banyak yang telah dianiaya, dizalimi dan dibunuh di dalam penjara-penjara para penguasa despot, Hizbut Tahrir tetap hanya menjalankan aktivitas intelektual dan politik; tanpa sedikitpun menggunakan cara-cara kekerasan, apalagi anarkis. Semua itu dilakukan bukan karena tidak berani atau tidak mampu, tetapi semata-mta karena Hizbut Tahrir berpegang teguh pada garis perjuangan Nabi saw. dan tidak ingin menyimpang sedikitpun, meski hanya seutas rambut.

Lalu, dari mana Hizbut Tahrir dan aktivitasnya disamakan dengan Khawarij, padahal keduanya berbeda sama sekali? Ataukah mereka yang membuat tuduhan itu memang tidak paham tentang Khawarij dan juga Hizbut Tahrir? Atau mungkin mereka paham, tetapi sengaja melakukan penyesatan, karena ada pesanan, sehingga bisa membuat analogi yang sama sekali keliru, yang bahkan membuktikan rendahnya kadar intelektualitas mereka? Wallâhu a‘lam. [HAR]


[1] Lihat, Ibn Taymiyyah, Majmu’ al-Fatawa, juz VII, bab Akidah.
[2] Lihat, Ibn Hazm, al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal, juz IV, hal. 87; as-Syahrastani, Nihayat al-Iqdam, hal. 482; Ibn Khaldun, Muqaddimah, juz II, hal. 133; al-Iji, al-Mawaqif, juz VIII, hal. 345; al-Amidi, Ghayat al-Maram, hal. 364; ar-Razi, al-Mahshal, hal. 181; dan as-Syaukani, Nail al-Authar, juz VIII, hal. 265.
[3] Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, bab al-’Aqidah wa al-Hukm as-Syar’i.
[4] Hizbut Tahrir, Nida’ al-Harr, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.t., hal.
[5] Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I,
[6] Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, cet. V, edisi Mu’tamadah, 2003, juz II, hal. 13.
Sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/10/30/hizbut-tahrir-khawarij/

Sunday, December 14, 2008

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan
Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina


Thurday, May 10, 2007 15:42

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina
Al Quran kuno dan ditulis dengan tulisan tangan yang kembali pada zaman kerajaan Ming dihadiahkan ke Museum peninggalan budaya di kota Syibi, Cina

Waratwan Kehormatan Iqna dari Pekan, Cina melaporkan, bahwa sebuah al Quran yang dihadiahkan ke musemun itu adalah hasil karya para seniman dan penulis kaligrafi berkebangsaan Cina dan semua pinggiran kertasnya dihiasi dengan berbagai yang indah.

Pemberi hadiah tersebut menyatakan, bahwa Al Quran tersebut merupakan warisan yang ia terima dari kakek-kakeknya dan sudah berpindah tangan kepadanya melalui delapan generasi.

Pemberi hadiah Al Quran tersebut yang merupakan imam jamaah mesjid Jami kota Syibi menyatakan hal itu dalam wawancaranya dengan pihak Iqna. dalam rangka menjaga warisan yang sangat berharga itu kami memutuskan untuk menghadiahkannya ke musium yang memang ahli dalam pemeliharaan barang-barang kuno dan berharga.

Ketua pengelola museum memberikan keterangan, bahwa memang sesuai penelitian yang dilakukan Al Quran tersebut dibuat pada zaman pemerintahan Ming dan merupakan salah satu dari Al Quran terkuno di dunia saat ini.

Al Quran tersebut berukuran 20 X 6 X 26/6 cm untuk Cina ia merpakan Al Quran tulisan tangan ke empat terkuno dan terindah.

Menurut para ahli kertasnya juga memuat bahan-bahan lain sebagai campurannya, seperti sutera dan kapas.

Keberadaan kitab Al Quran kuno dan beberapa kitab arab lainnya yang merupakan karya ulama Islam zaman terdahulu menjadi bukti kuat akan lamanya Islam menginjak tanah Cina.

122280

Yusuf Qardawi: Umat Islam Wajib Membantu Iran

Yusuf Qardawi: Umat Islam Wajib Membantu Iran
Rabu, 17 Oktober 2007





Syeh Yusuf Qardawi dalam pesan iedul fitrinya kepada kaum muslimin mengatakan: “ Adalah tangung jawab bersama umat muslimin untuk menjaga Islam. Dan kita harus menjaga dan ikut membantu Iran dari serangan musuh karena Iran adalah negara Islam”.

Lebih lanjut Syeh Yusuf Qardawi melanjutkan: ” Hari ini AS dalam rangka memerangi terorisme pada hakekatnya mempunyai maksud dan tujuan untuk melenyapkan agama Islam. Dan AS adalah negara yang dengan segala kekuatan yang dimiliki berdiri selalu disamping Zionis. Kalau saja bukan karena bantuan dari AS maka hari ini kita tidak akan menyaksikan wujud rezim zionist”.

Dalam pesan iedul fitri dia bertanya kepada kaum muslimin: “Kenapa mereka mengharamkan hak-hak negara seperti Iran atau negara-negara Arab untuk memiliki reaktor nuklir damai ?.

Dalam kesempatan yang sama Yusuf Qardawi juga memberikan pesan khusus kepada Hamas dan Fatah Iraq untuk menyelesaikan setiap permasalahnya dengan diskusi dan rundingan seraya mengatakan: “Untuk semua saudara-saudara Muslim di Iraq, Palestina saya katakan bahwa selalu jagalah persaudaraan dan jangan saling jatuh menjatuhkan satu sama lainnya. Perkuat rasa persatuan dan rasa persaudaraan”.

Dalam menyoroti permasalahan dan gejolak yang terjadi di Palestina beliau mengatakan bahwa: “Palestina hari ini dalam keadaan perang dan sampai detik ini Palestina masih dalam cengkeraman penjajah, semua janji-janji Olmert dan Condoleeza Rice yang diomongkan hanyalah dusta. Ini adalah tangung jawab bangsa Palestina untuk selalu selalmu mendahulukan diskusi dan perundingan dan hal ini merupakan sebuah keharusan dan kewajiban dalam agama”.

Dalam kesempatan itu Yusuf Qardawi menghimbau kepada bangsa Iraq untuk tidak terjebak pada konspirasi musuh dan menumpahkan darah sesama kaum muslimin.[IM/MT] taghribnews

http://www.islammuhammadi.com/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=68

Saturday, December 13, 2008

Afghany children

Image Hosting by PictureTrail.com

http://pic90.picturetrail.com/VOL2313/9985074/18197016/347085779.jpg

[IMG]http://pic90.picturetrail.com/VOL2313/9985074/18197016/347085779.jpg[/IMG]

Free Image Hosting at www.picturetrail.com

Free Image Hosting at www.picturetrail.com


Mereka adalah anak-anak dari desa Darmorakh - Badakhshan - Afghanistan. Tersenyum ceria...
Tertawa lepas...
Kepolosan mereka memberi sebuah nasihat sederhana pada kita....
Bahwa bagaimanapun kondisi yang kita hadapi....tetaplah tersenyum. Karena hidup terus berjalan dan tidak mungkin untuk dihentikan.
Inilah realita kehidupan.

Sebuah pesan sederhana dari anak-anak Afganistan untuk semua orang.

Thursday, November 20, 2008

KENAPA AS INCAR IRAN?

KENAPA AS INCAR IRAN?

ISU NUKLIR IRAN DAN ENERGI LISTRIK KAWASAN

Jika membayangkan nuklir, semua orang akan membayangkan senjata nuklir seperti dijatuhkan AS ke atas kota Nagasaki dan Hiroshima dalam Perang Dunia Kedua di Asia Pasifik. Kehebatan dan ancaman senjata nuklir itu pula yang didengungkan AS ke persoalan Iran.

Memang benar ADA laporan intelijen AS yang menyebutkan bahwa Iran telah memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir, seiring dengan rencana Iran untuk membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik. TAPI, apakah masyarakat dunia (termasuk Indonesia) tidak belajar dengan kasus Irak? AS menyerang Irak dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, dalih itu berdasarkan laporan intelijen semata. MANA sekarang buktinya? (silahkan lihat lagi halaman 1 di artikel ini) Masyarakat AS sebagian besar telah sadar atas kebohongan publik yang dibuat oleh pemerintahannya. Pajak yang didapatkan dari masyarakat AS dibuang percuma demi Irak. Sementara itu, perusahaan alat militer dan perusahaan minyak besar (Big Oil Company) di AS ternyata yang memperoleh keuntungan. Di sisi lain, sebagian keluarga para tentara AS mulai tidak mau anggota keluarganya bertugas sia-sia dan tak jelas tujuannya di medan konflik Irak. SEKALI LAGI, isu senjata nuklir Irak ataupun Iran itu hanya isu kampungan yang digembar-gemborkan AS.

List of Locations Relevant to the Implementation of IAEA Safeguards
As of November 2003



Sumber: www.globalsecurity.org

Lalu, jika memang Iran memiliki kemampuan membuat senjata nuklir gara-gara potensi dari pengayaan uranium, darimana Iran mendapatkan teknologi nuklir itu sendiri? Mau tahu?! Kata Bung Karno: Jasmerah!

Yang pertama harus diingat adalah Iran sebenarnya telah berusaha membangun reaktor nuklir sejak tahun 1974, ketika Iran di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi. Anda tahu khan negara mana di balik sang Shah tersebut?.

Saat itu, Shah berencana membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik dengan bantuan Jerman, Perancis, dan AS. Ya tentunya semua dengan restu Washington. Kemudian Shah memberikan kontrak pembangunan ke perusahaan Jerman, Siemens, untuk membangun 2 reaktor nuklir berkekuatan 1200 MW di wilayah Bushehr, Iran Kawasan Bushehr adalah salah satu kawasan yang diributkan oleh AS lewat IAEA saat ini.


Saat itu (tahun 1974), AS mendukung Iran untuk mengembangkan sumber energi alternatif; tidak berbasiskan minyak dan gas. Padahal saat itu, pembangkit listrik nuklir belum sangat dibutuhkan oleh Iran. Saat itu, jumlah penduduk Iran kurang dari 70 juta orang, produksi minyak sekitar 5,8 juta bpd, konsumsi energi domestik Iran saat itu sekitar seperempat dari saat ini. Kenapa saat itu pembangkit listrik nuklir Iran tidak dipersoalkan?!

Tapi oleh AS, sebuah penelitian pun digelar Stanford Research Institute. Penelitian lembaga tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1990, Iran membutuhkan kapasitas listrik sebesar 20.000 MW. Lalu, generasi pertama teknisi nuklir Iran dikirim dan dilatih ke Massachusetts Intitute of Technology.

Dalam dua Memorandum Keputusan Keamanan Nasional AS (National Security Decision Memoranda) tertanggal 22 April 1975 dan 20 April 1976, Presiden AS saat itu Gerald Ford menyetujui penjualan fasilitas pemrosesan dan pengayaan uranium ke Iran. Sebaliknya, Iran membeli 8 reaktor nuklir. Kerjasama Iran dan AS itu senilai 15 miliar Dollar Amerika. Amerika Serikat setuju membangun 8 pembangkit listrik tenaga nuklir yang total kapasitasnya 8000 MW. Kebijakan Gedung Putih saat itu diumumkan resmi oleh juru bicara Sydney Sober pada bulan Oktober 1977, dalam sebuah simposium, “The US and Iran: An Increasing Partnership.” Akhirnya, draft final US-Iran Nuclear Energy Agreement ditandatangani bersama Iran dan AS pada bulan Juli 1978. Penandatanganan tersebut dilakukan beberapa bulan sebelum adanya gejolak Revolusi Islam Iran. AS melongo……


Kemudian, pada 9 Februari 2003, Presiden Iran Mohammad Khatami mengumumkan program pengayaan uranium untuk bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Sejak itu, tenaga ahli dari IAEA (International Atomic Energy Agency) berdatangan ke Iran. Pihak Gedung Putih (AS) berkeyakinan bahwa pengayaan uranium Iran itu untuk pembuatan senjata nuklir. Sungguh lucu!

Kini, teknologi nuklir Iran untuk pembangkit listrik di-support oleh Rusia. Rusia dan Iran menjalin kerja sama strategis. Nilai kontraknya diperkirakan senilai 25 Miliar Dollar Amerika. Rusia membutuhkan Iran, demikian sebaliknya. Rusia membutuhkan Iran sebagai partner strategis untuk mengimbangi upaya dominasi AS di kawasan Eurasia (Eropa-Asia). Sementara Iran membutuhkan teknologi Rusia untuk agar nanti Iran menjadi pusat geopolitik-ekonomi di Timur Tengah. Dalam intelijen internasional, kawasan Eurasia memang merupakan target dominasi AS. Kegelisahan AS dan Sekutunya pun menjadi-jadi. Selain teknologi nuklir, Rusia ternyata juga mentransfer teknologi militer dan ruang angkasa ke Iran.

Kini, Rusia seperti “mengkhianati” Iran. Rusia lewat IAEA, mendukung resolusi PBB. Iran menilai sikap Rusia ambigu. Padahal Rusia sebenarnya mengkhawatirkan serangan AS ke Iran benar-benar akan terjadi. Sikap AS yang kelewatan sebenarnya tak seharusnya terjadi; karena nafsu. Yang patut ditiru adalah sikap Perancis, Jerman, dan Inggris yang menjanjikan pengiriman bantuan dan kerja sama teknis kepada Iran untuk pembangunan reaktor nuklir sipil (listrik), demi transparansi nuklir. Sikap negara-negara tersebut bijaksana ketimbang kekhawatiran yang membabi buta atas sikap Iran.

Lepas dari fakta tersebut, sebenarnya ada apa di balik sikap Iran yang “ngotot” untuk program nuklir sipilnya? Berdasarkan analisis, terdapat dua hal yang mendasari, yakni: antisipasi konsumsi energi listrik dalam negeri Iran yang makin tinggi, dan geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan.



Antisipasi konsumsi energi listrik Iran. Menurut EIA, kebutuhan listrik domestik Iran makin tinggi, dan dibutuhkan investasi miliaran Dollar Amerika. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang di Iran sebesar 34,3 GW. Produksi listrik sebesar 155,7 miliar KWH. Konsumsi listriknya 145,1 miliar KWH. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang Iran naik menjadi sebesar 36 GW. Pertumbuhan konsumsi listriknya mencapai 7-9 persen. Pemerintahan Iran mau tak mau harus mengejar keamanan pasokan listrik domestik apalagi jumlah penduduk Iran diperkirakan mencapai 100 juta orang pada tahun 2025.

Kapasitas Pembangkit Listrik Iran Berdasar Jenisnya




Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, Iran membutuhkan daya listrik 70.000 MW pada tahun 2021. Jika daya listrik tersebut dihasilkan dari minyak (BBM), dibutuhkan 112-140 juta barrel per tahun. Ini sebuah dilema untuk Iran. Pembangkit listrik besar Iran kebanyakan berbahan baku BBM. Padahal pendapatan Iran 80 persen berasal dari ekspor minyak, dan 45 persennya digunakan untuk APBN Iran. Selain itu, hasil produksi minyak Iran belum ada kemajuan pesat akibat konsumsi domestik yang naik 280 persen sejak tahun 1978, dan belum pula dibutuhkan biaya 40 miliar USD untuk perawatan kilang-kilang minyak Iran dalam 15 tahun. Jika situasi terus seperti itu, Iran diprediksi menjadi net oil importer pada tahun 2010.

Daftar Pembangkit Listrik Iran





Bagaimana dengan pembangkit listrik berbahan baku gas? Jika Iran mengembangkan dan meningkatkan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku gas, sangat percuma. Menurut Massachusetts Intitute of Technology (AS) sendiri, biaya produksi listrik dari gas berbanding sama dengan biaya produksi listrik dari reaktor nuklir. Selain itu, dilema Iran, Eropa, dan Asia yang lain adalah gas Iran termasuk yang SANGAT dibutuhkan untuk memasok kebutuhan Eropa dan Asia.

Penggunaan Nuklir Untuk Listrik Di Dunia



Sungguh tak masuk akal jika Iran harus mengikuti kemauan AS untuk menghentikan pengayaan uranium demi listrik Iran. Iran memang kaya akan minyak dan gas, tapi tetap membutuhkan sumber energi alternatif untuk listrik. Inggris, Canada, hingga Rusia adalah eksportir migas, tapi negara-negara ini tetap menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Di dunia saat ini, 19 persen daya listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir. Penggunaan reaktor nuklir di dunia sebagai penghasil daya listrik diperkirakan akan meningkat terus.

Yang jelas, Iran telah merencanakan sumber pasokan energi listrik pada tahun 2021 berasal dari 10 persen tenaga nuklir, 20 persen dari hydro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari yang lain.

Geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan. Seperti diketahui bersama, letak Iran yang sangat strategis membuat posisi Iran dekat dengan negara-negara Asia Selatan, Asia Tengah, ataupun Laut Caspia. Beberapa negara di kawasan tersebut kekurangan pasokan listrik untuk dalam negerinya. Sebut saja seperti negara-negara seperti Syria, Georgia, Azerbaijan, Afghanistan, Irak, Pakistan, hingga India.

Tapi, negara-negara yang minim pasokan daya listriknya mau tak mau harus bersyukur, karena jaringan interkoneksi telah dibangun dan sedang dikembangkan lagi menghubungkan antar-negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan Kabarnya jaringan interkoneksi ini menyambung hingga ke daratan Eropa; dari Iran melalui Armenia.


Jaringan Transmisi Listrik Utara Iran




Afghanistan’s Cross-Border Electricity Interconnections



Source: www.pakistan.gov.pk



Sumber: http://meaindia.nic.in

Iran yang kaya akan minyak dan gas melihat peluang bisnis energi listrik kawasan. Tercatat, sejak tahun 1992, Iran mulai menjual daya listriknya ke negara-negara tetangga.



Sumber: http://amar.tavanir.org.ir


Ambisi Iran untuk mempengaruhi negara-negara kawasan lewat penjualan listrik, sepertinya seimbang dengan rencana Iran yang akan membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik, walaupun juga untuk kebutuhan domestik Iran juga. Iran masih berencana memperluas pasar penjualan daya listriknya ke negara-negara tetangga.

Selain mencari pasar penjualan, Iran bersama Rusia, dan China termasuk concern berinvestasi pembangunan pembangkit listrik di Asia Tengah. Selain sebagai perluasan pengaruh geopolitik, juga untuk memasok kebutuhan energinya sendiri (seperti ke China). Tiga negara ini mendorong negara Asia Tengah untuk menjual ke luar negara bersangkutan. Tiga negara ini terlibat pendanaan pembangunan di negara-negara seperti Tajikistan dan Kazakhstan. Tercatat, tidak ada perusahaan asal AS satu pun yang terlibat di pengembangan pembangkit listrik di Asia Tengah.

Gerakan bisnis energi listrik Iran, Rusia, dan China bisa jadi membuat gerah AS. Secara geopolitik energi, gerakan tiga serangkai (Iran, Rusia, dan China) secara tidak langsung akan membuat negara-negara kawasan Asia Tengah ataupun Asia Selatan akan tergantung pada tiga negara tersebut, dan mengurangi pengaruh dominasi AS.

Sunday, November 9, 2008

TPM: Aneh, Dakwaan dan BAP Amrozi Cs Soal Bahan Peledak Berbeda!

TPM: Aneh, Dakwaan dan BAP Amrozi Cs Soal Bahan Peledak Berbeda!
Alfian Banjaransari - detikNews

Jakarta - Tim Pengacara Muslim (TPM) kembali menegaskan sikap mereka bahwa ekseksui Amrozi cs harus ditunda. Salah satu alasannya adalah, ada keganjilan dalam dakwaan terhadap Amrozi cs.

"Dalam surat dakwaan disebutkan bahwa bahan peledaknya adalah TNT. Padahal dalam berita acara ditemukan banyak sekali jenis residu bahan peledak," kata Ketua TPM, Mahendradatta, di kantor TPM Jl Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (8/11/2008).

Mahendradatta kemudian menunjukkan masing-masing Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan berkas dakwaan terhadap Amrozi. Dia mnggarisbawahi perbedaan antara kedua berkas tersebut berkaitan dengan bahan peledak yang digunakan.

Memang terdapat perbedaan keduanya dalam menjelaskan jenis bahan peledak yang digunakan. Dalam BAP, disebutkan bahwa hasil pemeriksaan residu bahan peledak yang terdapat pada serpihan barang bukti
yang ditemukan di kawah maupun sekitarnya menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis residu senyawa kimia, antara lain : TNT, RDX, dan HMX. Sementara dalam surat dakwaan disebutkan bahwa ditemukan TNT, belerang, dan Kalium Chloride (KClO3).

"Bahan HMX misalnya, itu hanya ada di lima negara. Itu barang pabrik, jadi nggak mungkin dirakit," kata Mahendradatta.

Dalam BAP, disebutkan bahwa penelitian terhadap residu bahan peledak tersebut dilakukan oleh tim dari Laboratorium Forensik Denpasar, Bali. Namun anehnya, mereka tidak pernah dijadikan saksi dalam persidangan.

"Ketika kami minta diuji coba (peledaknya), mereka nggak mau," ujarnya heran.

Hasil penelitian mengenai kandungan residu bahan peledak tersebut ditandatangani oleh Kepala Laboratorium Forensik Denpasar Kombes Budiono serta beranggotakan peneliti sebanyak enam orang. Mahendradatta berharap, agar hal ini menjadi pertimbangan pihak pemerintah untuk menunda pelaksanaan eksekusi mati.(alf/djo)

Ba’asyir, Burks, dan Bush

Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 08 Feb 2005 - 6:25 am

Oleh : Riza Sihbudi*
Dua bulan lalu barangkali tidak ada orang Indonesia yang mengenal nama Frederick Burks (kecuali mereka yang mengenalnya secara pribadi), walaupun ia pernah lama tinggal di Kalimantan dan menguasai dengan sangat fasih Bahasa Indonesia (selain Spanyol dan Mandarin). Dalam beberapa hari terakhir ini nama dan gambarnya terpampang di hampir semua media cetak terkemuka di Indonesia, seperti Republika, Koran Tempo, dan Kompas. Wajah pria jangkung kelahiran Amerika Serikat 46 tahun lalu itu pun sempat muncul di sejumlah stasiun televisi. Bahkan MetroTV dan SCTV secara khusus mewawancarai Burks pada Jumat, 14 Januari 2005 lalu.

Pada hari yang sama Burks juga tampil sebagai pembicara tunggal di forum diskusi yang diadakan Pusat Penelitian Politik LIPI dan the Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, dengan tema “Mengungkap Kebohongan Bush.” Tidak disangka, acara yang diadakan secara mendadak dan bahkan penyebaran undangannya hanya lewat SMS (pesan pendek) ini pun ternyata menyedot banyak perhatian dari kalangan akademisi dan profesional, sehingga ruangan berkapasitas 50-an orang itu pun penuh sesak.

Kenapa nama Fred Burks mendadak “populer” di Indonesia?

kPertama, tentu karena kesaksiannya dalam sidang kasus “terorisme” dengan terdakwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (amir Majelis Mujahidin Indonesia) di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta, (13 Januari 2005). Dalam sidang itu, Burks antara lain mengatakan bahwa Pemerintah George W Bush pernah meminta agar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) ditahan dan diserahkan ke AS. Permintaan AS itu, menurut Burks, disampaikan utusan khusus Bush kepada Presiden Republik Indonesia (saat itu) Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan rahasia di Jalan Teuku Umar Jakarta (rumah pribadi Megawati), September 2002.

Pernyataan Burks di sidang ABB itu sebenarnya tidak ada yang baru.

Dalam berbagai kesempatan, dua atau tiga tahun lalu, saya sudah sering mengungkapkan adanya ntervensi pemerintahan AS dalam berbagai kasus “terorisme” di berbagai negara, termasuk Indonesia (lihat misalnya, opini Republika, 7 Oktober 2002, dan Koran Tempo, 25 Maret 2002). Hanya saja pernyataan itu menjadi istimewa lantaran keluar dari seorang Fred Burks yang sejak 1996 berprofesi sebagai penerjemah di Departemen Luar Negeri AS, dan sempat pula menjadi penerjemah Presiden AS, dari Bill Clinton sampai Bush. Artinya, pernyataan itu keluar dari seseorang yang memiliki otoritas yang tak perlu diragukan lagi.
Tentu bukan hanya itu. Burks yang sejak 2002 mengelola media alternatif dalam bentuk website bernama wanttoknow.info dan membangun jaringan internasional yang berupaya mengungkap kebohongan rezim Bush dalam kasus 11 September 2001, memiliki data-data yang sangat valid dan akurat. Data-data itu ia peroleh selama bertahun-tahun bekerja di Deplu AS serta interaksinya dengan puluhan elite politik, ekonomi, intelijen, maupun militer di negaranya. Dengan kredibilitasnya itu, apa yang dikatakan Fred Burks jelas bukan sekadar ”teori konspirasi” seperti yang selama ini dituduhkan sementara kalangan terhadap orang-orang seperti saya yang tidak pernah percaya pada ”versi resmi” kasus-kasus terorisme, khususnya 2001-2004.

Kasus Ustadz ABB, misalnya, sudah terang benderang mengandung banyak kejanggalan. Begitu pula kasus-kasus Bom Kuningan 2004, JW Marriot 2003, Bali 2002, dan—tentu saja-- 11 September 2001. “Versi resmi” yang, kendati tak didukung data-data yang valid dan akurat, berhasil “menyihir” opini dunia-ironisnya tak hanya kalangan awam melainkan juga kalangan akademisi dan intelektual—bahwa para pelaku aksi-aksi teror
(2001-2004) itu adalah Jamaah Islamiyah (JI) dan Alqaidah. Jika dibaca secara luas, pelaku aksi-aksi teror besar 2001-2004 adalah umat Islam, sebab kedua ”organisasi” itu dipimpin oleh tokoh-tokoh muslim, yaitu Abu Bakar Ba’asyir dan Usamah bin Ladin.

JI, Alqaidah dan Usamah masih banyak diselimuti misteri (menurut Burks, bukan tak mungkin mereka bikinan CIA). Tapi, tidak demikian halnya dengan Ustadz ABB. ABB adalah seorang ustadz yang jelas latar belakangnya, lantaran mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk kepentingan dakwah Islam. ABB memang pernah terusir karena melawan rezim Soeharto, namun ABB jelas bukan satu-satunya penentang penguasa Orde Baru itu. Benar bahwa ABB secara konsisten memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di Indonesia yang—seperti dikatakan Ketua Muhammadiyah Syafii Maarif—mungkin saja kurang sejalan dengan “mainstream” umat Islam di republik ini. Tapi, menyejajarkan ABB dengan Usamah (juga Hambali dan Umar Faruq, “dua tokoh JI” versi AS), jelas sangat tidak masuk di akal sehat.

Seorang teroris tentu tidak akan pernah tampil di depan publik, melainkan akan terus berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya seperti yang kini dilakukan Dr Azahari dan Noordin M Top, atau Imam Samudera, Amrozi, dan kawan-kawannya dulu. Ini jelas berbeda dengan ABB yang selalu tampil di depan publik, kecuali pada masa Orde Baru, lantaran terus diancam aparat Soeharto, sehingga ABB terpaksa
”bersembunyi” di Malaysia. Namun, selama di Malaysia pun keberadaan ABB bukan sama sekali tak bisa dipantau. Dengan kata lain, jika ia seorang ”teroris”, ABB tentu tidak akan menjalani kehidupan sehari-harinya seperti selama ini (sebelum dijebloskan ke penjara atas dakwaan pelanggaran imigrasi).

Tapi, kenapa rezim Bush terus menekan Jakarta agar tidak membebaskan ABB (kesaksian Syafii Maarif) dan bahkan pada 2002 meminta Megawati agar menyerahkan ABB ke AS (kesaksian Fred Burks)? Jawabannya tentu tidak terlalu sulit. Jika pengadilan Indonesia tak mampu membuktikan keterlibatan ABB dalam kasus “terorisme Islam” maka seluruh skenario rezim Bush tentang JI di kawasan Asia Tenggara menjadi buyar, dan itu artinya mereka pun gagal menjadikan “terorisme Islam” sebagai momok baru yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Asia Tenggara. Oleh sebab itu, rezim Bush berkepentingan agar Ustadz ABB terus mendekam di penjara, bahkan jika mungkin diekstradisi ke AS.

Maaf, jika saya terpaksa menggunakan istilah ”rezim Bush,” karena seperti dikatakan Fred Burks, Bush dan konco-konconya pada hakikatnya mengembangkan sistem politik dan pemerintahan yang otoritarian dan diktatorial ala Soeharto dulu. Sebuah karikatur yang dimuat majalah Kanada, Global Outlook (edisi Fall 2004/Winter 2005, hlm 65) misalnya, menggambarkan Bush yang sedang memeluk bola dunia sebagai seorang “The Great Dictator.” Bahkan, seperti dikatakan Fred Burks dalam diskusi di LIPI dan ISMES, 14 Januari lalu, rezim Bush tak segan-segan untuk menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan ribuan warga sipil demi mencapai tujuan dan ambisi politik dan ekonomi mereka.

Jadi, jika terorisme dipahami sebagai sebuah aksi bermotif politik dengan mengorbankan nyawa warga sipil, maka orang pun tahu siapa yang paling layak disebut sebagai teroris nomor satu dunia. Presiden Goerge W Bush tidak hanya bisa dianggap bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 24 ribu warga sipil di Afghanistan (2001-2004) dan sekitar 37 ribu warga sipil di Irak (2003-2004), melainkan juga tiga ribuan warga sipil AS sendiri pada 11 September 2001 dan dua ratusan warga sipil Australia di Bali pada Oktober 2002.

Memang, bukti-bukti keterlibatan langsung rezim Bush dalam kasus Bali (juga JW Marriot dan Kuningan) belum banyak diungkapkan. Namun, dalam kasus 11 September 2001, sudah puluhan buku dan ratusan artikel di media cetak dan internet baik yang ditulis oleh orang-orang Eropa maupun AS sendiri yang terang-terangan menuding keterlibatan langsung rezim Bush dalam tragedi WTC itu. Lihat, misalnya, buku-buku The New Pearl Harbor (karya David Ray Griffin), 9-11 (Noam Chomsky), The Big Lie (Thierry Meyssan), The High Priests of War (Michael Collins Piper), Stranger Than Fiction (Albert D Pastore), The Lies of George W Bush (David Corn), The Terror Time Line (Paul Thompson), dan 911 Synthetic Terror Made in USA (Webster G Tarpley).

Menurut Fred Burks, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menebak siapa pelaku dari setiap aksi terorisme berskala besar, khususnya sepanjang periode 2001-2004 yaitu, dengan melihat siapa pihak yang paling diuntungkan dari setiap kejadian itu. Umat Islam merupakan pihak yang paling dirugikan dari aksi-aksi terorisme 2001-2004. Oleh sebab itu, sangat tidak masuk akal menuding umat atau negara-negara Islam sebagai pelaku atau pendukung aksi-aksi terorisme. Burks dan hampir seluruh penulis Barat lainnya yang menolak “versi resmi” rezim Bush dalam kasus WTC, umumnya sepakat menuding kaum neokonservatif (neocon) yang bekerja sama dengan jaringan mafia Zionis (bukan Yahudi, karena banyak umat Yahudi yang menentang Zionisme) sebagai pihak yang paling diuntungkan dari aksi-aksi terorisme 2001-2004.

Sejak kemenangan Bush tahun 2000, kaum neocon dan Zionis sepenuhnya mengendalikan politik dan pemerintahan AS, dengan tokoh-tokohnya seperti Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Richard Perle, Douglas Feith, dan Condi Rice. Lebih dari itu, mereka pun kini mengendalikan sektor ekonomi dan media massa di AS. Semua media besar di AS ada di bawah kendali mereka. Tak ada satu pun media besar di AS yang berani menolak “versi resmi” rezim Bush dalam kasus WTC. Akibatnya, kalangan intelektual dan aktivis AS yang tak sepaham dengan rezim Bush terpaksa membuat media alternatif seperti yang dilakukan Burks dan kawan-kawannya. “Situasinya mirip Indonesia era Soeharto,” kata Burks.

Kehadiran Fred Burks di Jakarta, tentu diharapkan tidak hanya akan meringankan Ustadz ABB, melainkan juga diharapkan dapat membuka mata kita semua khususnya yang menyangkut kebohongan-kebohongan rezim Bush dalam isu terorisme global. Burks benar, bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran dan demokrasi yang hakiki tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Burks mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan keagamaan yang dianut Ustadz ABB. Tapi, setidaknya dalam satu hal mereka sepakat, yaitu melawan kediktatoran dunia di bawah cengkeraman rezim Bush. Burks lebih ”beruntung” lantaran tidak direnggut kemerdekaannya seperti Ustadz ABB, namun ada baiknya jika Fred Burks juga selalu mengingat ucapan Rosiana Silalahi (Liputan 6 SCTV, 14 Januari 2005), ”Hati-hati, banyak orang yang mengkhawatirkan keselamatan Anda”. Wallahualam bissawab. (RioL)

*Ahli peneliti utama LIPI