Monday, December 29, 2008

Negara-Negara Arab Pengecut!

Oleh Fadly pada Sel 30 Des 2008, 08:27 AM

YAMAN - Serangan beruntun yang dilancarkan Israel kepada Palestina dalam tiga hari terakhir berdampak pada aksi demonstrasi di negara-negara Arab. Mereka meprotes para pemimpin negara Arab yang hanya diam saja.

Orang-orang Arab menggelar aksi unjuk rasa dengan cara turun ke jalan dan menunjukkan kemarahan kepada negara sendiri karena tidak melakukan tindakan.

Di Yaman, para demonstran yang turun ke jalan sempat terjadi kericuhan setelah para demonstran membakar bendera Israel di ibukota Yaman, Sanaa.

Para demonstran juga terlihat menangis melihat negara-negara di Liga Arab yang menunda sejumlah pembahasan terkait krisis Israel Palestina.

"Negara di Liga Arab sangat tidak berharga. Mereka adalah pemimpin yang lemah dan seharusnya mereka hanya pulang ke rumah." kritik para demonstran di Doha, Qatar.

Di Sudan, pemandangan juga terlihat sama. Seorang wanita yang menggunakan lambang Hamas di kepala mengatakan kepada Al Manar TV, "Ke mana para pemimpin negara Arab? Mana aksi dari mereka? Cukup perkataan mengutuk. Tunjukkan dukungan kepada Gaza."

Sementara para pelajar di Qatar melakukan boikot untuk tidak masuk ke kelas dan menggelar aksi unjuk rasa untuk dukungan terhadap Gaza.

Di Jordan, seorang anggota parlemen terlihat berbicara melalui mikrofon dan membakar bendera Israel sebelum berjalan ke tengah ruangan. Aksi ini juga mendapat aplaus dari rekan sesama anggota parlemen.

Mesir adalah negara yang paling banyak mendapat kritik dalam krisis ini. Para demonstran menilai, Mesir telah berdosa karena "telah menjual Palestina" dengan membina hubungan yang dekat dengan Israel dan Amerika Serikat. [okz]

Irak Resmi Menjadi Bagian Israel Raya

Irak Resmi Menjadi Bagian Israel Raya

Tuesday, August 09 2005 @ 01:38 PM WIT
Kontributor: HPI
Ditampilkan 208
Ali Reza al-Athas

Imam Ali Khamene'i juga menyatakan, demonstrasi-demonstrasi di belahan dunia, termasuk Indonesia sebagai bukti anti Amerika yang berangkat dari hati nurani mereka. Mungkin pada perang Vietnam, Amerika dapat menuduh bahwa yang mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi anti Amerika adalah Uni Sovyet. Berbeda untuk saat ini, Amerika tidak dapat menuduh siapa pun dibalik besarnya reaksi dunia terhadap invasi Amerika di Irak.

Pada awalnya hampir setiap orang berfikir, tidak mungkin Amerika bersikap membabi buta dengan kelakuannya untuk menginvasi Irak. Seakan tidak ada alternatif lain untuk membungkam negara seribu satu malam dibawah diktator Saddam, yang dikenal dengan pembangkang ini. Akan tetapi inilah yang telah terjadi. Amerika memang benar-benar konyol dan tidak memperdulikan opini dunia. Padahal, alasan yang diangkat untuk menginvasi Irak adalah demokrasi. Anehnya, pada waktu yang sama Amerika tidak memperdulikan demokrasi, dengan sikap tidak mau tahu dengan opini dunia, yang dikukuhkan dengan suara mayoritas badan dunia PBB,yang tidak merestui penggunaan kekuatan militer. Akhirnya, berlangsunglah sandiwara baru skenario Amerika dengan mengusung demokrasi, dihancurkanlah demokrasi itu sendiri. Semakin jelaslah keinginan Amerika di muka bumi ini. Pemimpin Spritual dan Politik Islam Imam Ali Khamane'i dalam khutbah jum'at pekan ini secara tegas menyatakan, invasi Amerika di Irak telah mengkaburkan makna demokrasi barat. Demokrasi barat yang dianggap norma masyarakat dunia telah kehilangan peranannya.

Amerika dan sekutunya meyakini, kawasan Timur Tengah tidak mungkin dibiarkan begitu saja, karena kunci kekuasaan dunia ada di kawasan tersebut. Orang-orang Arab dan Persia harus tertindas. Para pedagang Yahudi yang nota bene adalah Zionis, untuk mendapatkan keuntungan perdagangan di kawasan minyak tersebut, tidak akan mungkin membiarkan kawasan Timur Tengah dalam kondisi aman dan stabil. Krisis dikawasan tersebut haruslah terus diciptakan. Kepentingan invasi Amerika di Irak, tidak lain hanyalah minyak, tidak lebih.

Mengutip pernyataan Ayatullah Rafsanjani dalam pertemuannya dengan para birokrat Departemen Kesehatan Iran yang dimuat dalam harian Ofarinesh pada tanggal 9 April 2003 menyatakan: "Masyarakat dunia menyadari bahwa tujuan Amerika menginvasi Irak hanya ingin mendapatkan minyak, menguasai sumber daya alam kawasan ini dan menjaga kepentingan-kepentingan Israel. Atas alasan inilah Gedung Putih dengan tema kebebasan dan demokrasi melanjutkan tindakan kriminalnya."

Rafsanjani dalam kesempatan yang sama menanggapi sikap tidak manusiawi Amerika, dengan mengatakan, tragedi mengerikan itu sangatlah serius, akan tetapi Amerika menutupi tragedi tersebut dengan mengatakan ini adalah sebuah solusi yang terbaik. Ternyata Amerika meleset, karena para wartawan telah mengetahuinya, sehingga dapat mempersempit dan memojokkan perilakunya. Selanjutnya mantan Presiden dua periode di Iran tersebut menambahkan bahwaasanya situasi di Irak tidak dapat dibandingkan dengan Afghanistan. Dalam menanggapi semakin bertambahnya problema dan tidak amannya Afghanistan setelah invasi Amerika di negara itu, berkata:"Sejarah tidak akan memaafkan Amerika".

Anehnya, sekarang Amerika berharap seorang pensiun Jenderal Amerika akan menggantikan penguasa negara itu. Rafjanjani yang sekarang masih menjabat sebagai Ketua Badan Kemaslahatan Negara, dalam kesempatan itu juga mengomentari bahwasanya seorang pun tidak akan menerima seorang Jenderal Amerika memerintah masyarakat yang selama 30 tahun dibawah kekuasaan partai ba'st (partai sosialis miliknya Sadam). Pada kesempatan yang berbeda Sayyid Ali Khamene'i dalam khutbah jum'atnya juga menegaskan, tujuan Amerika yang didengungkan kepada masyarakat dunia adalah menyingkirkan penguasa diktator Sadam, akan tetapi setelah menduduki, masih ingin membentuk pemerintahan di kawasan tersebut, yang mestinya mereka harus berkomitmen dengan tujuan awalnya yang hanya ingin menyingkirkan Sadam, dan tujuan tersebut sudah diselesaikan, sewajarnyalah Amerika cepat hengkang kembali ke negaranya.

Harian Ofarinesh di hari yang sama juga menukil komentar menteri luar negri Iran, Kharozi, dalam menjawab pertanyaan seorang wartawan tentang analisa politik Amerika setelah lengsernya pemerintahan Saddam, Kharozi tidak memungkiri bahwasanya Amerika mempunyai strategi khusus dalam invasi kali ini.

Sehari kemudian, ternyata Imam Khamene'i dalam khutbah jumatnya pada tanggal 10 april menegaskan bahwa dibalik invasi ini adalah dukungan yang kuat terhadap Israel. Srategi ini termasuk sederet rencana untuk memperluas kawasan Israel Raya.

Anehnya, Inggris yang dalam beberapa tahun ini dapat mengkaburkan kesan kediktatoran, juga ikut bergabung dengan Amerika. Ini adalah kesalahan besar Tony Blair yang mengembalikan image buruk Inggris. Begitulah pernyataan Imam Ali Khamene'i dalam menanggapi sikap kriminalnya Inggris.

Imam Ali Khamene'i juga menyatakan, demonstrasi-demonstrasi di belahan dunia, termasuk Indonesia sebagai bukti anti Amerika yang berangkat dari hati nurani mereka. Mungkin pada perang Vietnam, Amerika dapat menuduh bahwa yang mengorganisasi demonstrasi-demonstrasi anti Amerika adalah Uni Sovyet. Berbeda untuk saat ini, Amerika tidak dapat menuduh siapa pun dibalik besarnya reaksi dunia terhadap invasi Amerika di Irak.

Selama ini, Amerika sangat khawatir dengan posisi Iran, sebagai pemerintahan Islam yang semakin kuat dan mendapat kepercayaan negara-negara dunia. Apakah Amerika berani menginvasi Iran? Kita lihat saja nanti.

Cara berfikir saya yang sederhana, sebagai bagian dari masyarakat awam, hanya dapat menilai, disaat Amerika memusuhi negara tersebut, berarti kebenaran ada di negara tersebut. Dan sebaliknya, pujian Amerika terhadap sekutunya dan bagian masyarakat yang mendukungnya, tidak akan membawa keuntungan untuk negara tersebut. Terlebih untuk negara Islam, seperti Iran, Malaysia dan Indonesia.

(Alireza Alatas, Qom Iran)[]

Israel Raya : Agenda Tersembunyi di Balik Kekejaman Israel

Syarifudin Ahmad *

Dunia Arab kembali disibukkan dengan ketegangan baru yang dipicu agresi militer darat, laut, dan udara Israel terhadap Lebanon sejak 12 Juli 2006. Alasan Israel melancarkan serangan tersebut untuk membebaskan dua prajuritnya yang diculik Hizbullah. Dalam perkembangan berikutnya, alasan tersebut ternyata kamuflase alias palsu.

Menteri Pertahanan Israel, Amir Perets, secara terbuka mengatakan Israel ingin mengusir Hizbullah dari Lebanon. Bahkan pada 23 Juli 2006 lalu, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, mengisyaratkan bahwa krisis di Lebanon akan memakan waktu yang lama, hingga infrastruktur Hizbullah di Lebanon dapat dihancurkan. Israel juga secara tegas menolak usul utusan PBB untuk gencatan senjata dalam waktu segera. Mereka beralasan, penghancuran infrastruktur kelompok 'teroris' tidak mengenal upaya diplomasi. Akibat dari agresi itu ratusan warga Lebanon meninggal, ratusan ribu penduduk lainnya terusir dari kampung halaman.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Israel sedemikian beringas melancarkan perang pembersihan tanpa membedakan antara target sipil dan militer? Bahkan infrastruktur Lebanon dari mulai jalan raya, jembatan, bandara, stasiun listrik, pemancar televisi, saluran air, juga mengapa ikut dihancurkan? Seandainya tujuan dari agresi tersebut hanya untuk membebaskan dua prajuritnya, tentu bernegosiasi secara langung jauh akan lebih efektif .

Balas dendam

Israel ibarat seorang yang sedang kehausan menemui sebuah mata air. Penculikan dua tentara Israel dimanfaatkan untuk melampiaskan dendam masa lalu dengan memberangus Lebanon. Seorang pengamat masalah Timteng asal Inggris, Patrick Seal, dalam artikelnya di Surat Kabar Harian Al Hayat terbitan 24 Juli 2006 mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan Israel sedemikian beringas menghadapi Hizbullah. Di antara alasan itu adalah historis konflik Hizbullah-Israel. Kedua kekuatan ini pernah berseteru sebelumnya selama 15 tahun yang berakhir dengan penarikan mundur Israel dari Lebanon selatan tahun 2000. Sehingga bisa dipahami serangan Israel merupakan aksi balas dendam atas kekalahan Israel di masa lalu.

Selain faktor historis konflik kedua pihak, kebiadaban Israel juga dipengaruhi oleh lemahnya reaksi dunia internasional dalam mengecam dan mengupayakan penghentian agresi tersebut secara cepat. Bahkan terkesan masyarakat internasional secara implisit menginginkan Israel sebagai alat implementasi Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 1559. Resolusi itu isinya antara lain menyangkut perlucutan senjata milisi-milisi sipil di Lebanon, termasuk Hizbullah.

Pemberitaan koran New York Times beberapa waktu lalu makin memperkeruh keadaan. Harian itu memberitakan, Amerika Serikat (AS) mempercepat pengapalan senjata bom berpresisi tinggi ke Israel di saat negara ini melakukan serangan membabi buta ke Lebanon. Apapun alasannya, pengiriman itu jelas menunjukan sikap dukungan buta AS terhadap agresi militer yang mendorong negara zioinis semakin gencar membombardir Lebanon. Kebijakan tersebut juga tidak mendukung bagi upaya penghentian perang.

Sementara kekuatan-kekuatan internasional termasuk PBB dan Uni Eropa tidak mengambil sikap tegas terhadap agresi ini. Hasil pernyataan para pemimpin yang menghadiri pertemuan G-8 di Petersburgh, Rusia, juga cenderung menyalahkan kelompok Hizbullah. Para pejuang Hizbullah dianggap sebagai pemicu terjadinya kekejian Israel di Lebanon.

Bisa dikatakan, terdapat kesepakatan di antara masyarakat internasional mengenai perlunya perlucutan dan netralisasi kelompok Hizbullah di Lebanon. Bahkan Hizbullah dianggap sebagai kelompok yang menjadi penghambat bagi proses demokratisasi di Lebanon. Situasi internasional demikian dimanfaatkan oleh Israel untuk terus menghancurkan Lebanon dengan dalih menumpas Hizbullah.

Mengubah peta

Terkait dengan misi agresi militer tersebut, beberapa pengamat Timur Tengah mengatakan misi agresi yang dilakukan Israel sebenarnya ingin menimbulkan perpecahan internal politik dan perubahan perimbangan kekuatan politik di Lebanon. Diharapkan, dari hancurnya infrastruktur Lebanon yang parah, mayoritas rakyat dan kekuatan-kekuatan politik di Lebanon mengecam eksistensi Hezbullah di Lebanon. Rakyat didorong untuk menuduh Hizbullah sebagai biang kerok kehancuran yang telah mengembalikan Lebanon ke masa 50 tahun yang lalu. Atau paling tidak, agresi ini bisa menjadikan Hizbullah bukan lagi sebagai 'pemain' yang berpengaruh dalam politik dalam negeri di Lebanon.

Dari kalangan umat Islam di beberapa negara Arab termasuk Ikhwanul Muslimin menanggapi agresi Israel sebagai bagian dari upaya bangsa Yahudi untuk mewujudkan eksistensi negeri Israel raya. Aksi ini juga implementasi dari agenda AS untuk mewujudkan The Greater Middle East yang dilontarkan AS sebelum menginvansi Irak.

Oleh karena itu, menurut Ikhwanul Muslimin, tidak ada jalan lain kecuali menghadapi Israel melalui perlawanan bersenjata. Pengamatan Ikhwanul Muslimin ini mungkin ada benarnya menyusul pernyataan Menlu AS, Condoleezza Rice dalam jumpa persnya sebelum meninggalkan Gedung Putih pada 23 Juli 2006. Dia menyebutkan bahwa lawatan kunjungannya ke Israel bukan untuk mendorong gencatan senjata melainkan ingin melihat terwujudnya Timur Tengah baru.

Tidak menutup kemungkinan, agresi Israel tersebut sebenarnya hanya perpanjangan tangan AS untuk mengubah situasi perimbangan kekuatan di negara-negara Timur Tengah agar lebih mendukung kepentingan-kepentingan AS dan Israel di kawasan. Keberhasilan Israel menumpas Hizbullah akan semakin mendorong AS dan Israel untuk menekan negara-negara kawasan yang dikategorikan melawan agar lebih pro dengan agenda dan kepentingan AS kawasan tersebut.

Siapapun yang keluar menjadi pemenang, agresi militer Israel terhadap Lebanon akan berdampak buruk bagi stabilitas keamanan di Timur Tengah secara keseluruhan. Jika Hizbullah berhasil memukul mundur Israel dari Lebanon selatan, hal ini berdampak akan melemahkan kubu pendukung penyelesaian damai konflik Arab-Israel.

Kelompok penyeru perdamaian sebagai satu-satunya alternatif menyelesaikan konflik Arab-Israel akan semakin terpojok dan menurunkan tingkat kepercayaan kalangan grass root mengenai efektivitas melakukan perundingan dengan Israel. Sebaliknya, ideologi Hizbullah yang mengatakan hanya dengan kekuatan senjata, konflik Arab-Israel dapat diselesaikan semakin mendapatkan pembuktian kebenarannya. Ini berarti kawasan Timur Tengah akan menghadapi perang-perang susulan.

Di sisi lain, jika Israel berhasil menginvansi Lebanon dengan meluluhlantakkan seluruh infrastruktur negeri ini, maka skenario Irak akan terulang kembali di Lebanon. Kalau skenario ini berjalan, berarti juga akan menyulut kembali maraknya aksi-aksi kekerasan dari kelompok pejuang kemerdekaan seperti di Afghanistan, Irak, dan Somalia. Lebih jauh lagi, invasi ini juga akan memperluas gerakan-gerakan sentimen anti-AS dan Israel di berbagai belahan dunia. (RioL)

Mahasiswa Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Politik Institut Liga Arab, Kairo

The Great Middle Esat alias Great Israel



Perhatikan Perluasan Koloni negara Israel pada Peta dibawah




Cek Link dibawah :
http://www.alfredlilienthal.com/greaterisrael.htm
http://www.alfredlilienthal.com/greaterisrael_links.htm
http://www.theunjustmedia.com/the%20zionist_plan_for_the_middle_east.htm

Wanita-Wanita Permata dan Genosida Gazza

Oleh : Taryudi, Mahasiswa Pasca Sarjana Al-Azhar Cairo


Logika apa yang dipakai oleh agresor Israel yang sampai hati membantai ratusan penduduk Palestina di Gazza? Alibi kerdil apa yang sampai bisa memasung kepedulian bangsa Arab untuk sekadar menonton pembantaian massal di Palestina? Sudah terlalu menggunungkah dosa-dosa kita yang kemudian mengatup nurani untuk melek menyaksikan kejahatan perang tak termaafkan dalam sejarah itu?

Sabtu (27/12) kemarin, genosida biadab tak berkesudahan itu kembali menumpahkan darah-darah manusia terhormat di bumi Gazza. Tidak kepalang tanggung, 150 orang syahid dan 200 lainnya menderita cidera serius dibabat ribuan amunisi buas Israel; ditebas oleh terjangan roket-roket maut F16 yang mengamuk di atas angkasa Palestina. Dan, korban sebanyak itu baru prolog. Allahu akbar!

Manusia-manusia Islam yang sudah kehilangan kepedulian saudara-saudaranya di belahan bumi yang lain itu, hanya kuasa menjerit pilu. Cuma bisa mengerang tak bisa berbuat apa apa, tatkala suami-suami mereka jatuh tersungkur bermandi darah; ketika bocah-bocah yang lucu dan menggemaskan itu berteriak kesana-kemari dalam derai kepanikan; manakala puluhan apartemen usang yang menjadi tempat berteduh keluarga-keluarga malang itu seketika roboh dihantam peluru raksasa Israel. Yang tersisa adalah gelimpangan mayat, jasad bocah-bocah suci yang tersenyum tenang, dan puing-puing bangunan yang menyatu ke bumi.

Israel kembali menggunakan "logika kematian". Strategi bertaruh nyawa yang tentu saja membuat bulu kuduk pemimpin-pemimpin Arab merinding. Karena kumpulan orang-orang yang mengaku diri mulia dan terhormat itu tidak pernah mengerti bahwa hanya dengan pertaruhan darah demi membela kemerdekaan sejati, manusia baru bisa mulia lalu mendapatkan kehormatan abadi. Bukan dengan bersembunyi di balik ketiak kepengecutan, atau menggelar ratusan pertemuan di meja-meja konferensi OKI, Liga Arab, yang selalu saja berakhir dengan rekomendasi bualan. Tanpa bukti. Pantas mereka menjadi kurcaci dihadapkan dengan logika kematian Israel?

Bagi rakyat Palestina sendiri dari dulu hingga sekarang, mereka sudah memahami bahwa letak krisis Palestina bukan karena Israel yang tak henti-hentinya melakukan pembunuhan dan perampasan. Masalah kematian bagi mereka tak menjadi soal, sebab mereka faham bahwa kesucian dan kemuliaan diri itu selalu harus ditebus dengan darah dan air mata.

Sumber genosida di Gazza adalah sikap pengecut pemimpin-pemimpin Arab dan umat Islam yang telah kehilangan semangat altruistik. Lelap berselimut egoistis hingga tak lagi peka akan nilai-nilai humanisme, yang tak lagi menyemat spirit kohesif yang menjadi pilar kekuatan Islam dan bangsa Arab. Dan, oleh karenanya kita dilindas Israel (Barat) yang sukses mengaplikasi semangat altruistik dan spirit kohesif! Maka wajar kita kalah.

Kontribusi Wanita Permata

Kenapa Palestina yang tinggal sekerat itu masih tetap bertahan menggelorakan semangat perlawanan tanpa batas dan tidak lekang dari bumi? Sebab di atas tanah milik umat Islam itu ada wanita-wanita luar biasa.

Bak permata. Meskipun tak menyimpan permata dan perhiasan mewah. Kemilaunya memancar dari kepribadian. Wanita yang mungkin tersembunyi, terbenam bersama perjuangan membina generasi pejuang. Mereka tidak populer, tapi selalu membisikkan spirit kepahlawanan ke telinga-telinga putera-puteri tercinta. "Nak, kehidupan abadi itu di surga. Kemuliaan itu senantiasa harus ditebus dengan tetes darah dan derai air mata"!

Begitulah Ummu Nidhol, wanita permata Palestina yang kerap membisikkan spirit perjuangan kepada ketiga puteranya. Ia deskripsikan surga di pangkal mata. Ia tak pernah pacu sang anak untuk merengkuh kehidupan hedonis yang acapkali membinasakan mental ukhrawi. Ia tak cita-citakan puteranya untuk mengemis harta bertuhankan nafsu. Ia hanya inginkan buah hatinya masuk surga, dengan berkorbankan darah.

Usai putera ketiganya yang baru berusia 16 tahun syahid dalam drama ledakan dahsyat di jantung kekuatan Israel, Ummu Nidhol menangis. Ketika ditanya perihal penyebab ia menangis. Wanita permata itu berkata: "Saya tidak punya lagi anak yang bisa saya persembahkan untuk kemuliaan Palestina!"

Lalu Ibunda Muh. Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel tahun 1453 M. Dalam usia 23 tahun, Al-Fatih berhasil memaksa hengkang Raja Constantine XI Paleologus dari tahtanya. Penaklukan paling fantastis dalam sejarah.

Ibunyalah yang kala masih mengandung Al-Fatih acap berdiri menghadap ke arah kota Konstantinopel. Ia berharap besar bahwa kelak puteranya yang akan menaklukkan negeri itu. Mengamini sabda baginda Rasulullah Saw. "“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan umat Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad). Obsesi mulia wanita permata.

Menegaskan Substansi Krisis

Sekali lagi, memang benar genosida di Gazza saat ini merupakan potret keangkaramurkaan. Sangat pantas kita kecam kebiadaban Israel bahkan menjadi suatu keharusan. Tidak kita biarkan penduduk Gazza menahan derita seorang diri. Segera tabuh genderang reaksi massal untuk hentikan pembantaian itu. Sebelum terlambat. Sebelum Palestina, seperti kata DR. Raghib Sirjani, akan menjadi Andalusia kedua. Hilang dari peta dunia.

Tapi, seyogyanya jangan biarkan pemimpin-pemimpin Arab yang duduk santai di singgahsana apatis itu lepas dari kecaman. Sebab mereka yang paling bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan yang melanda bumi Palestina. Paksa mereka untuk mengulurkan bantuan dan membungkam kekejaman Israel, walaupun mungkin hal itu hampir mustahil mereka lakukan.

Mengapa? Barangkali karena sosok wanita-wanita permata itu hanya ada di Palestina, hanya pernah ada di masa penaklukan Konstantinopel. Yang ada hanya seorang ibu yang cita-citanya hendak mengikuti riak-riak kecil arus modernisme. Meletakkan standar kesuksesan anak-anak pada wujud materi dan segudang sertifikasi. Seorang isteri yang memaksa suami berpeluh darah untuk menangkap kebahagiaan semu pada jabatan, pangkat, dan prestise. Pada ruang-ruang busana temporal yang sering menguap dilahap waktu. Mengapa ibu dan isteri itu tak membisikkan senandung merdu tentang surga ke telinga-telinga anak dan suami? Kenapa tak pintal sutera cinta dalam tiap keinginan bahwa ibu dan isteri itu ingin bersama merengguk kebahagiaan abadi?

Genosida Gazza adalah konsekuensi dari punahnya sistem pendidikan ukhrawi yang hanya bisa diajarkan oleh wanita-wanita permata. Cukup kita sesalkan karena pemimpin-pemimpin Arab itu dilahirkan, dibesarkan, dididik, dan didampingi oleh reinkarnasi wanita lain.

Harapan itu masih ada. Di Palestina masih banyak wanita permata yang menjamin eksistensi para pahlawan pembela negeri. Kalau Dunia Arab telah mandul melahirkan wanita permata, maka Dunia Islam yang membentang dari pangkal Indonesia sampai ke pucuk Samudera Atlantik di pesisir Afrika Barat, pasti telah bersiap-sedia menjadi wanita-wanita permata. Untuk melahirkan pemimpin satria sekelas Al-Fatih. Bukan seperti pemimpin Arab yang kini hanya bisa menonton Genosida di Gazza. []

Saturday, December 27, 2008

Perayaan Natal Sarat Misi, Perusak Aqidah

Perayaan Natal Sarat Misi, Perusak Aqidah

Natal Bersama, Tahun Baru, dan Valentine bukanlah perayaan tanpa misi Kristen. Para tokoh ummat harus tegas bersikap.

‘’Bertaubatlah, bertaubatlah, karena bulan Desember sampai Pebruari biasanya Allah SWT akan menimpakan bala bencana kepada negeri kita, baik berupa bencana alam maupun bencana kemanusiaan,’’ seru KH Ma’ruf Amien, Ketua MUI.

Bencana itu, Kyai Ma’ruf menuturkan, selain disebabkan oleh perbuatan manusia merusak alam, juga lantaran kemusyrikan sebagian umat bahkan tokoh Islam. Yaitu mereka aktif dalam perayaan Natal (25 Desember), Tahun Baru (1 Januari), dan Valentine’s Day (14 Pebruari).

Ya, tak berlebihan bila Amien Rais menyebut psikologi pemerintah kita bermental inlander. Salah satu ekspresinya adalah ‘’mewajibkan’’ diri mengikuti Perayaan Natal Bersama (PNB). Padahal, Islam yang menjadi agama anutannya dan merupakan agama mayoritas di negeri ini, tidak pernah mengemis-ngemis kepada umat agama lain untuk turut dalam acara IFB (Iedul Fitri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), atau IMB (Isra’ Mi’raj Bersama).

Menurut anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI, DR Adian Husaini, PNB hanyalah mitos yang patut dipertanyakan urgensinya. Sebab, kebersamaan ini hanyalah agenda sepihak umat lain. Umat Islam tidak merasa berhak dan perlu menuntut serupa atas umat lain, agar mengikuti semisal IFB, MNB, atau IAB tadi.

Dalih PNB untuk membina kerukunan antar umat beragama, juga mitos belaka. Sebab, jelas Adian, dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, yang bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Menurut Kristen, Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16).

Sedangkan dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91).

Karena itu, Prof Hamka menyebut tradisi PNB semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tapi menyuburkan kemunafikan.

Sebagian aktivis PNB berkilah, toh tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Menurut Adian Husaini, melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat.

Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen. Konsili Vatikan II (1962-1965), mengeluarkan satu dokumen khusus tentang misi Kristen. Dalam ad gentes ditegaskan, misi Kristen harus tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semua manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan.

Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim juga menghormati fatwa MUI yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB.

Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI. Adapun soal ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.


Tahun Baru Masehi

Penetapan 1 Januari sebagai pertanda Tahun Baru bermula pada abad 46 Sebelum Masehi (SM). Kala itu Kaisar Romawi Julius Caesar membuat Kalender Matahari. Ia mengklaim kalender solar system ini lebih akurat ketimbang kalender-kalender lain pernah dibuat sebelumnya.

Sebelumnya, pada abad 153 SM, Janus seorang pendongeng di Roma yang menetapkan awal mula tahun. Konon dengan dua wajahnya, Janus mampu melihat kejadian di masa lalu dan masa depan. Dialah yang menjadi simbol kuno resolusi (sebuah pencapaian) Tahun Baru. Bangsa Roma berharap dengan dimulainya tahun yang baru, kesalahan-kesalahan di masa lalu dapat dimaafkan. Sebagai penebus dosa, tahun baru juga ditandai dengan saling tukar kado.

Berdasarkan hal ini, Ustadz Ihsan Tanjung menilai perayaan Tahun Baru sebagai perbuatan tasyabbuh (meniru kebiasaan kaum kafir). Ia lalu mengutip hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa saat Rasulullah SAW ke Madinah, warga setempat memiliki dua hari besar untuk bermain-main. Lalu Rasul bertanya, “Dua hari untuk apa ini?” Jawab mereka, “Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa lalu.” Maka Rasulullah SAW pun berkata, ‘’Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri.”


Valentine’s Day

Pemkot Bukittinggi, melarang remaja merayakan Valentine’s Day 14 Pebruari. Bagi remaja yang terlihat merayakan bisa dianggap melanggar Peraturan Daerah tentang Pemberantasan Maksiat.

Pebruari lalu, pemkot mengerahkan 100 satuan polisi pamong praja merazia hotel serta menangkap remaja yang berduaan di jalan.

Wakil Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis, waktu itu menegaskan, perayaan Hari Valentine’s Day terlarang mata karena tidak sesuai adat istiadat Minagkabau dan ajaran agama Islam.

Valentine’s Day menurut penggeledahan literatur ilmiah, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu resmi agama Nasrani menjadikannya hari raya baru.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Ketua Dewan Syariah Nasional MUI KH Ma’ruf Amin menilai perayaan Valentine’s Day yang jatuh pada tanggal 14 Februari esok, haram.

Meskipun MUI belum memfatwakan keharamannya, menurut KH Ma’ruf Amien, perayaan Valentine’s Day selama ini lebih banyak mengarah pada pesta-pesta dan mabuk-mabukan, sehingga diharamkan. (taqiyuddin al baghdady/tabloid media umat edisi 3)

Natal, ‘Imperialisme’ Kasih Sayang , dan Kegagalan Gereja

Natal, ‘Imperialisme’ Kasih Sayang , dan Kegagalan Gereja

“Bagaimanapun juga Islam harus dihadapi, karena semua yang menguntungkan Islam di Kepulauan ini akan merugikan kekuasaan Belanda… Kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan (Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum)

Ada yang selalu berulang pada bulan Desember, semarak perayaan natal di mana-mana. Di bulan ini Indonesia yang mayoritas Islam , bak kan negeri di Eropa. Di toko-toko, supermarket, perusahaan swasta, sampai instansi pemerintahan hari natal disambut dengan meriah. Acara tv pun dipenuhi dengan film, dokumentar, talkshow, berita, entertainment yang bertemakan natal.

Tentu saja bagi yang pemeluk agama Nashrani sah-sah saja merayakan natal. Tapi ‘memblow up’ demikian rupa kegiatan Natal , apa tidak menyakitkan umat Islam. Lihat saja di super market yang tentu saja mayoritas pengunjungnya umat Islam disuguhi lagu-lagu natal terus menerus. Tidak hanya itu karyawan sampai satpam yang kita yakin mayoritas Islam pun ‘dipaksa’ pakai atribut Natal seperti topi Santa Claus. Dimana toleransi pemilik TV yang memang mayoritas beragama kristen ? Umat Islam disuguhi terus menerus dengan tema-tema Natal. Ini tentu saja harus kita protes.


Bagi Umat Islam sendiri, merayakan natal jelas diharamkan. Sebab , perayaan Natal adalah bagian dari ibadah umat Nashrani. Syariat Islam sendiri dengan tegas melarang umat Islam mengikuti tata acara hidup pemeluk agama Yahudi dan Nasharani. Apalagi merayakan kegiatan ibadah mereka .


Fatwa dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, isinya sudah sangat jelas . Antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.



Disamping itu ‘kasih sayang’ pun menjadi tema utama yang sering didakwahkan pemeluk kristen dalam bulan ini. Lagi-lagi, adalah hak pemeluk kristen mengangkat tema ini. Yang kita tantang adalah ‘kasih sayang’ kemudian menjadi kedok untuk memurtadkan umat Islam. Atas nama menyebarkan kasih sayang dibuat acara yang memberikan bantuan kepada umat Islam untuk kemudian dimurtadkan. Ini tentu kita protes.


Seperti yang terjadi di Bekasi baru-baru ini , dengan topeng Bekasi Berbagi Bahagia (B3), tapi ternyata isinya adalah kegiatan terselubung pemurtadan. Acara dimulai dengan hiburan, kemudian para peserta yang mayoritas Islam diceburkan ke kolam renang buatan, mirip ritual pembaptisan . Di akhir acara, para pengunjung diajak berdoa dengan menyebut-nyebut nama Jesus.


Tema menyebarkan ‘kasih-sayang’ ini pun kehilangan maknanya kalau kemudian diartikan sebatas kegiatan sosial gereja membagi-bagikan sembako murah atau memberikan pendidikan murah bagi rakyat miskin. Sementara Gereja cendrung mendiamkan akar persoalan dari kemiskinan di masyarakat yakni penerapan sistem kapitalisme. Padahal kapitalisme penyebab sistematis kemiskinan masyarakat.


Apalagi kalau gereja malah didanai oleh negara-negara Kapitalis dan perusahaan-perusahaan global kapitalisme yang rakus. Bantuan dana yang digunakan untuk memurtadkan umat Islam, justru sebenarnya berasal dari kekayaan alam umat Islam yang dirampok oleh negara-negara Kapitalis itu.


Makna ‘kasih sayang’ gereja pun semakin dipertanyakan ketika gereja gagal menghentikan pembantaian manusia yang menjadi bencana kemanusiaan yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis rakus di dunia termasuk di negeri Islam. Pesan kasih sayang gereja pun menjadi hambar. Ketika gereja gagal menghentikan pembantaian di Irak, Afghanistan, Palestina, yang dilakukan negara-negara Kapitalis.


Apalagi kalau tindakan pembantaian itu dilakukan dengan motif agama , sungguh dipertanyakan. Esther Kaplan dalam bukunya With God on Their Side: How Christian Fundamentalists Trampled Science, Policy, and Democracy in George W. Bush’s White House, (New York: The New Press, 2004), hal. 5), menulis bagaimana sejak Bush berkuasa di gedung putih secara rutin dilakukan studi Bible mingguan yang dihadiri lebih dari setengah staff Gedung Putih. Tidak mengherankan kalau berkali-kali Bush mengatakan kebijakannya dalam pemerintah di pengaruhi oleh ajaran kristen.

Berkaitan dengan Irak Bush mengatakan Tuhan mengatakan dia untuk menyerang al Qaida dan Saddam Husain : “God told me to strike at al-Qaeda and I struck them, and then he instructed me to strike at Saddam, which I did, and now I am determined to solve the problem in the Middle East.”


Sayangnya saat bertemu dengan Bush , Paus tidak secara terbuka mengecam kebijakan AS di negara-negara tersebut yang oleh banyak pihak justru dianggap menjadi pangkal utama krisis di kawang tersebut . Hal ini tentu amat disayangkan. Padahal seharusnya Paus bicara lantang menentang kebijakan penjajahan AS di Irak. Seruan perdamaian Paus ditanggapi skeptis oleh banyak pihak.


Paus yang dianggap tokoh perdamaian tersebut tidak bisa menghentikan perang. Bahkan sekadar melarang tentara Italia pergi bersama AS memerangi umat Islam di Irak Paus tidak bisa. Paus dan Gereja juga tidak bisa berbuat banyak menghentikan praktik-praktik diskriminasi terhadap umat Islam di Eropa, seperti larangan jilbab di Prancis, meskipun Paus mengecamnya


Kegagalan gereja bisa dimengerti, karena Paus dan Gereja hanya bergerak dalam tataran spritual dan moral saja. Padahal berbagai persoalan manusia seperti perang, kemiskinan, konflik, atau kerusakan moral tidak bisa diselesaikan hanya dengan seruan-seruan spritual dan moral saja.


Pangkal persoalan dari semua itu adalah sistem Kapitalisme sekular yang rusak. Karenanya harus ada perubahan ideologi sistem dunia saat ini. Penjajahan seperti di Irak, Afganistan, maupun Palestina, misalnya, jelas harus dilawan dengan perang/jihad terhadap sang penjajah, bukan sekadar dihadapi dengan seruan moral.


Paus dan Gereja terjebak dalam berbagai kontradiksi yang membingungkan sekaligus menurunkan wibawa mereka sendiri. Di satu sisi Gereja menentang perang yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis, di sisi lain Gereja hidup di bawah dukungan negara-negara kapitalis. Tentu sulit membayangkan dari mana dana Gereja yang demikian besar jika tidak didukung oleh perusahan-perusahan kapitalis dan negara-negara kapitalis yang mengeksploitasi kekayaan alam Dunia Ketiga, terutama Dunia Islam, secara rakus.



Lalu pemimpin seperti apa yang dibutuhkan dunia saat ini? Tidak lain pemimpin yang tidak hanya menyerukan perdamaian, tetapi juga bisa mewujudkan perdamaian. Dia adalah Khalifah, pemimpin tertinggi kaum Muslim, dengan sistem Khilafah-nya. Khalifahlah, dengan sistem Khilafah-nya, yang secara kongkret akan mampu menyelamatkan dunia dengan Islam;


Sejarah telah membuktikan, pada masa lalu, Khalifah kaum Muslim pada masa Khilafah Utsmaniyah pernah memberikan bantuan pangan kepada rakyat Amerika pada abad ke-18 yang mengalami kelaparan setelah perang panjang melawan Inggris. Khalifah kaum Muslim pada masa Khilafah Utsmaniyah juga pernah melindungi Raja Swedia dan berbuat baik kepada Raja Prancis yang meminta perlindungan pada Khilafah.Khilafah Utsmaniah juga pernah melindungi rakyat Aceh dari penjajahan Portugis dengan mengirim ekspedisi militer besar di bawah laksamananya, Kortoglu Hizier Reis.


Walhasil, ketika agama hanya sekedar menyerukan kasih kasih sayang membantu orang miskin, tapi tidak menghentikan kapitalisme yang menjadi sumber kemiskinan, berarti agama telah gagal. Termasuk ketika agama tidak bisa menghentikan penjajahan kapitalisme yang menimbulkan bencana kemanusiaan, agama tersebut juga telah gagal. Dan ketika agama itu kemudian berkoalisi dengan negara-negara kapitalis penyebar perang , kasih sayang telah menjadi alat imperialisme . ‘Imperialisme kasih sayang’ untuk kepentingan negara kapitalis justru lebih mengerikan . (farid wadjdi)

Komoditi Itu Bernama Islam

Komoditi Itu Bernama Islam
Ditulis oleh Andres Irawan di/pada September 9, 2006

Berapakah jumlah rakyat Indonesia? Data dari BPS tahun 1999 sendiri memperkirakan bahwa penduduk Indonesia berjumlah sekitar 210 juta jiwa. Dari 200 juta tersebut, banyak pihak yang mengklaim bahwa penduduk Indonesia 90 persen menganut agama Islam. Dengan demikian, secara hitungan kasar maka jumlah muslim di Indonesia berkisar 190 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar tentunya dan sangat potensial.

Lalu berapakah jumlah penduduk Indonesia saat ini? Data dari BPS terakhir yang beredar di Koran dan surata kabar penduduk Indonesia berjumlah hampir 240 juta jiwa atau naik sekitar 12 persen. Berapakah jumlah penduduk muslim Indonesia? Jika masih mengaku 90 persen maka jumlah muslim di Indonesia adalah sekitar 216 juta. Berarti sejumlah 24 juta jiwa adalah non muslim. Pertanyaannya adalah, riil kah data diatas? Apakah benar jumlah muslim di Indonesia adalah 200 juta jiwa lebih?, sedangkan pihak Nasrani sendiri mengklaim telah berhasil menambah umatnya paling tidak lebih dari 10 juta jiwa. Bahkan menantang untuk diadakan sensus agama untuk membuktikan bahwa jumlah kaum Nasrani melonjak jauh dari perhitungan umat islam yang masih terbuai dengan jumlahnya yang besar.

Aku gak akan mengajak anda untuk menghitung-hitung dan mengira-ngira berapakah jumlah penduduk muslim Indonesia, karena bukan itu focus tulisan ini. nanti bakan aku coba telusuri lebih lanjut. Tapi saat ini aku hanya ingin mengajak anda untuk menyadari besarnya potensi jumlah muslim di Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar, dengan para pemimpin mulai timgkat pusat sampe daerah yang juga didominasi kaum muslim. Namun apakah tingkat kesejahteraan kaum muslim meningkat??

Dibidang hiburan, jika anda maniak dengan kotak ajaib yang bernama televisi maka anda akan menemukan berbagai macam tayangan film dan sinetron yang menjual indentitas Islam. Dengan menyulap para artisnya yang biasa berpakaian terbuka di kehidupan normal menjadi sosok berjilbab dan religi dalam perannya menjadikan banyak dari kita betah untuk mengikuti acara tersebut. Belum lagi ceritanya yang ujung-ujungnya adalah tentang harta – tahta – wanita dengan menampilkan sosok wanita antagonis sebagai pemicu masalah. Dan bodohnya lagi adalah kita dengan sukarela menyumbangkan uang kita yang tidak seberapa kepada produser sinetron tersebut sedangkan produser tersebut sendiri tidak pernah peduli akan isi dan pesan moral di dalam acaranya tersebut. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana setiap episode bisa dibayar mahal oleh stasiun televisi lewat pemasukan iklan yang banyak karena acaranya itu di tempatkan di jam premiere.

Benar, kita manusia bodoh yang mau menyaksikan sinetron tersebut. Dengan kebodohan kitalah, yang rela menonton acara tersebut menjadikan rating acara tersebut menjadi tinggi dan akhirnya harga iklanpun mahal sehingga harga tiap episodepun menjuadi mahal. Dan akhirnya yang kaya adalah sang produser.

Lalu, masih ada acara yang menampilkan sosok kyai sakti, yang menangkapi jin dan makhluk halus yang ada di suatu tempat. Dan hebatnya lagi adalah, dibukanya konsultasi jarak jauh dengan sang kyai untuk menerawang masalah yang sedang menimpa orang yang sedanga konsultasi. Rasulullah sendiri, tidak pernah meminta bantuan kepada makhluk apapun untuk mengatasi masalah beliau. Beliau hanya meminta pertolongan dari Allah bukan kepada jin dan makhluk halus lainnya. Lalu sedemikian saktinya sang kyai sehingga makhluk haluspun tunduk padanya

Dan menjelang Ramadhan ini, dapat dipastikan makin bermunculnya segala hal yang berlabel islam meskipun tidak jelas akan maksud dan tujuannya serta caranya. Tahun 2004 dulu, pernah ada Festival Nasyid Indonesia yang mengadu grup-grup nasyid dari daerah untuk menjadi juara, yang kalo boleh saya plesetkan menjadi Nasyid Idol. Setelah berlangsung satu peridoe, ternyata tidak dilanjutkan lagi Nasyid Idol ini.

Kalo isu yang berdar bahwa ternyata Nasyid Idol ini tidak semegah yang ditayangkan di TV. Penonton yang datang untuk melihat langsung ternyata jauh dari harapan dan perkiraan, Lalu jumlah sms yang masuk ternyata juga tidak sesuai dengan target sehingga operator yang menyediakan layanan premium hanya dapat untung sedikit dan menyebabkan kerugian dari penyelenggara. Yang akhirnya membuat Nasyid Idol ini tidak berlanjut.

Dibidang industri, siapakah pemegang juara penyedia alat-alat atau kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, pasta gigi dan sebagainya? Memang ada pengusaha muslim seperti Aa’ Gym dengan MQ nya, lalu juga pengusaha lainnya. Tapi kalo boleh saya hadirkan satu nama, yaitu UNILEVER. Meskipun berbendera Yahudi, namun produsen ini adalah yang paling tertib soal label kehalalan. Hal yang kurang di lakukan oleh para produsen lain, bahkan produsen muslim. Unilever sadar bahwa pasar yang besar di Indonesia dengan kaum muslimnya, membuat mereka harus menjaga image mereka sebagai produk halal meskipun bendera mereka adalah Yahudi.

Lalu sampai kapankah umat Islam ini hanya menjadi ajang komoditas???

Thursday, December 25, 2008

Hizbut Tahrir Khawarij ?

Hizbut Tahrir Khawarij ?

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Nopember 1, 2007


Soal: Siapakah sebenarnya kaum Khawarij? Benarkah Hizbut Tahrir termasuk Khawarij? Apakah perjuangan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir sama dengan apa yang telah dilakukan oleh kaum Khawarij?

Jawab:Khawarij mempunyai beberapa sebutan. Kadang disebut Haruriyyah karena mereka keluar di suatu tempat yang bernama Harura’. Mereka juga disebut warga Nahrawan, karena Imam Ali memerangi mereka di sana. Di antara kelompok Khawarij ada yang beraliran Abadhiyyah, yaitu para pengikut Abdullah bin Abadh; ada juga yang beraliran Azariqah, yaitu para pengikut Nafi’ bin al-Azraq, dan aliran an-Najadat, yaitu para pengikut Najdah al-Haruri. Merekalah kelompok yang pertama kali mengkafirkan kaum Muslim karena sejumlah dosa. Karenanya, mereka juga telah menghalalkan darah kaum Muslim. Mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan siapa saja yang loyal kepada keduanya. Mereka telah membunuh Ali bin Abi Thalib setelah menyatakan bahwa beliau halal untuk dibunuh. Secara umum mereka berpandangan bahwa status orang hanya ada dua, Mukmin atau kafir. Mukmin adalah siapa saja yang telah melakukan semua kewajiban dan meninggalkan keharaman. Siapa saja yang tidak seperti itu berarti kafir, ia kekal di dalam neraka. Mereka pun kemudian memvonis kafir siapa saja yang berbeda dengan pandangan mereka. Mereka menyatakan bahwa Utsman dan Ali telah berhukum pada selain hukum yang diturunkan oleh Allah dan zalim. Karena itu, mereka kafir.[1] Bahkan, sekte an-Najadat tegas menolak kewajiban mengangkat imam atau khalifah.[2] Berdasarkan fakta-fakta di atas, jelas sekali perbedaan Khawarij dengan Hizbut Tahrir, antara lain:Pertama, dalam masalah iman dan kufur, Hizbut Tahrir berpegang pada prinsip pembuktian yang qath‘i (al-burhân al-qâthi‘). Karena itu, Hizbut Tahrir tidak dengan mudah memvonis orang Islam dengan vonis kafir.[3] Kedua, Hizbut Tahrir juga berkeyakinan bahwa umat Islam saat ini masih memeluk akidah Islam, betapapun kotor dan rapuhnya akidah tersebut. Dengan kata lain, Hizbut Tahrir tidak pernah menganggap umat ini tidak lagi berakidah Islam, karena anggapan seperti justru sangat berbahaya, dan membahayakan.[4] Karena itu, Hizbut Tahrir tidak pernah menghalalkan darah kaum Muslim sehingga boleh dibunuh. Bahkan, tumpahnya darah seorang Muslim dianggap masih jauh lebih berharga ketimbang dunia dan seisinya, sebagaimana sabda Nabi saw.:

Ù„َزَÙˆَالُ الدُّÙ†ْÙŠَا Ø£َÙ‡ْÙˆَÙ†ُ عَÙ„َÙ‰ اللهِ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َتْÙ„ِ رَجُÙ„ٍ Ù…ُسْÙ„ِÙ…ٍ.

Sesungguhnya hilangnya dunia (dan seisinya) benar-benar lebih ringan bagi Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim. (HR at-Tirmidzi).

Ketiga, Hizbut Tahrir menyatakan bahwa semua Sahabat adalah adil (kullu ash-Shahâbah ‘udul). Meski seorang Sahabat bisa saja berbuat salah, hal itu tetap tidak akan menghilangkan status keadilannya.[5] Apatah lagi, memvonis Sahabat dan para pengikutnya dengan vonis kafir. Na‘ûdzu billâh.

Keempat, Hizbut Tahrir juga menyatakan bahwa Utsman dan Ali sebagai kepala negara Islam tetap berhukum pada hukum yang diturunkan oleh Allah. Adapun kasus tahkîm yang terjadi antara Ali dan Muawiyah, yang masing-masing mengangkat Abu Musa al-Asy‘ari dan Amr bin al-Ash, justru untuk menjalankan perintah Allah dalam masalah tahkîm, bukan sebaliknya.

Kelima, dalam konteks pengangkatan imam dan khalifah, termasuk di dalamnya kewajiban menegakkan Khilafah,[6] jelas Hizbut Tahrir sangat berbeda dengan sekte an-Najadat, yang dengan tegas menolak kewajiban tersebut.Tinggal satu masalah, apakah tindakan Hizbut Tahrir menasihati penguasa dan mengkritik kebijakan mereka secara terbuka sama dengan tindakan kaum Khawarij? Tentu tidak. Kaum Khawarij, sebagaimana namanya, adalah mereka yang melawan para penguasa (Khalifah) yang nyata-nyata menjalankan hukum Allah, bukan para penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah. Sebaliknya, Hizbut Tahrir menasihati penguasa dan mengkritik kebijakan mereka secara terbuka justru karena mereka tidak mau tunduk dan patuh pada hukum Allah. Umumnya, mereka adalah para penguasa boneka dan kaki tangan negara penjajah, pengkhianat Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh kaum Muslim.

Dalam melakukan misinya, kaum Khawarij menggunakan cara-cara fisik dan kekerasan, bahkan sampai membunuh lawannya, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Ali bin Abi Thalib. Sebaliknya, Hizbut Tahrir, sebagai entitas intelektual, tidak pernah menggunakan cara-cara tersebut. Sekalipun para anggotanya banyak yang telah dianiaya, dizalimi dan dibunuh di dalam penjara-penjara para penguasa despot, Hizbut Tahrir tetap hanya menjalankan aktivitas intelektual dan politik; tanpa sedikitpun menggunakan cara-cara kekerasan, apalagi anarkis. Semua itu dilakukan bukan karena tidak berani atau tidak mampu, tetapi semata-mta karena Hizbut Tahrir berpegang teguh pada garis perjuangan Nabi saw. dan tidak ingin menyimpang sedikitpun, meski hanya seutas rambut.

Lalu, dari mana Hizbut Tahrir dan aktivitasnya disamakan dengan Khawarij, padahal keduanya berbeda sama sekali? Ataukah mereka yang membuat tuduhan itu memang tidak paham tentang Khawarij dan juga Hizbut Tahrir? Atau mungkin mereka paham, tetapi sengaja melakukan penyesatan, karena ada pesanan, sehingga bisa membuat analogi yang sama sekali keliru, yang bahkan membuktikan rendahnya kadar intelektualitas mereka? Wallâhu a‘lam. [HAR]


[1] Lihat, Ibn Taymiyyah, Majmu’ al-Fatawa, juz VII, bab Akidah.
[2] Lihat, Ibn Hazm, al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal, juz IV, hal. 87; as-Syahrastani, Nihayat al-Iqdam, hal. 482; Ibn Khaldun, Muqaddimah, juz II, hal. 133; al-Iji, al-Mawaqif, juz VIII, hal. 345; al-Amidi, Ghayat al-Maram, hal. 364; ar-Razi, al-Mahshal, hal. 181; dan as-Syaukani, Nail al-Authar, juz VIII, hal. 265.
[3] Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I, bab al-’Aqidah wa al-Hukm as-Syar’i.
[4] Hizbut Tahrir, Nida’ al-Harr, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.t., hal.
[5] Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz I,
[6] Taqiyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, cet. V, edisi Mu’tamadah, 2003, juz II, hal. 13.
Sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/10/30/hizbut-tahrir-khawarij/

Sunday, December 14, 2008

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan
Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina


Thurday, May 10, 2007 15:42

Al Quran Kuno dan Tulisan Tangan Dihadiahkan ke Museum Kota Syibi, Cina
Al Quran kuno dan ditulis dengan tulisan tangan yang kembali pada zaman kerajaan Ming dihadiahkan ke Museum peninggalan budaya di kota Syibi, Cina

Waratwan Kehormatan Iqna dari Pekan, Cina melaporkan, bahwa sebuah al Quran yang dihadiahkan ke musemun itu adalah hasil karya para seniman dan penulis kaligrafi berkebangsaan Cina dan semua pinggiran kertasnya dihiasi dengan berbagai yang indah.

Pemberi hadiah tersebut menyatakan, bahwa Al Quran tersebut merupakan warisan yang ia terima dari kakek-kakeknya dan sudah berpindah tangan kepadanya melalui delapan generasi.

Pemberi hadiah Al Quran tersebut yang merupakan imam jamaah mesjid Jami kota Syibi menyatakan hal itu dalam wawancaranya dengan pihak Iqna. dalam rangka menjaga warisan yang sangat berharga itu kami memutuskan untuk menghadiahkannya ke musium yang memang ahli dalam pemeliharaan barang-barang kuno dan berharga.

Ketua pengelola museum memberikan keterangan, bahwa memang sesuai penelitian yang dilakukan Al Quran tersebut dibuat pada zaman pemerintahan Ming dan merupakan salah satu dari Al Quran terkuno di dunia saat ini.

Al Quran tersebut berukuran 20 X 6 X 26/6 cm untuk Cina ia merpakan Al Quran tulisan tangan ke empat terkuno dan terindah.

Menurut para ahli kertasnya juga memuat bahan-bahan lain sebagai campurannya, seperti sutera dan kapas.

Keberadaan kitab Al Quran kuno dan beberapa kitab arab lainnya yang merupakan karya ulama Islam zaman terdahulu menjadi bukti kuat akan lamanya Islam menginjak tanah Cina.

122280

Yusuf Qardawi: Umat Islam Wajib Membantu Iran

Yusuf Qardawi: Umat Islam Wajib Membantu Iran
Rabu, 17 Oktober 2007





Syeh Yusuf Qardawi dalam pesan iedul fitrinya kepada kaum muslimin mengatakan: “ Adalah tangung jawab bersama umat muslimin untuk menjaga Islam. Dan kita harus menjaga dan ikut membantu Iran dari serangan musuh karena Iran adalah negara Islam”.

Lebih lanjut Syeh Yusuf Qardawi melanjutkan: ” Hari ini AS dalam rangka memerangi terorisme pada hakekatnya mempunyai maksud dan tujuan untuk melenyapkan agama Islam. Dan AS adalah negara yang dengan segala kekuatan yang dimiliki berdiri selalu disamping Zionis. Kalau saja bukan karena bantuan dari AS maka hari ini kita tidak akan menyaksikan wujud rezim zionist”.

Dalam pesan iedul fitri dia bertanya kepada kaum muslimin: “Kenapa mereka mengharamkan hak-hak negara seperti Iran atau negara-negara Arab untuk memiliki reaktor nuklir damai ?.

Dalam kesempatan yang sama Yusuf Qardawi juga memberikan pesan khusus kepada Hamas dan Fatah Iraq untuk menyelesaikan setiap permasalahnya dengan diskusi dan rundingan seraya mengatakan: “Untuk semua saudara-saudara Muslim di Iraq, Palestina saya katakan bahwa selalu jagalah persaudaraan dan jangan saling jatuh menjatuhkan satu sama lainnya. Perkuat rasa persatuan dan rasa persaudaraan”.

Dalam menyoroti permasalahan dan gejolak yang terjadi di Palestina beliau mengatakan bahwa: “Palestina hari ini dalam keadaan perang dan sampai detik ini Palestina masih dalam cengkeraman penjajah, semua janji-janji Olmert dan Condoleeza Rice yang diomongkan hanyalah dusta. Ini adalah tangung jawab bangsa Palestina untuk selalu selalmu mendahulukan diskusi dan perundingan dan hal ini merupakan sebuah keharusan dan kewajiban dalam agama”.

Dalam kesempatan itu Yusuf Qardawi menghimbau kepada bangsa Iraq untuk tidak terjebak pada konspirasi musuh dan menumpahkan darah sesama kaum muslimin.[IM/MT] taghribnews

http://www.islammuhammadi.com/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=68

Saturday, December 13, 2008

Afghany children

Image Hosting by PictureTrail.com

http://pic90.picturetrail.com/VOL2313/9985074/18197016/347085779.jpg

[IMG]http://pic90.picturetrail.com/VOL2313/9985074/18197016/347085779.jpg[/IMG]

Free Image Hosting at www.picturetrail.com

Free Image Hosting at www.picturetrail.com


Mereka adalah anak-anak dari desa Darmorakh - Badakhshan - Afghanistan. Tersenyum ceria...
Tertawa lepas...
Kepolosan mereka memberi sebuah nasihat sederhana pada kita....
Bahwa bagaimanapun kondisi yang kita hadapi....tetaplah tersenyum. Karena hidup terus berjalan dan tidak mungkin untuk dihentikan.
Inilah realita kehidupan.

Sebuah pesan sederhana dari anak-anak Afganistan untuk semua orang.

Thursday, November 20, 2008

KENAPA AS INCAR IRAN?

KENAPA AS INCAR IRAN?

ISU NUKLIR IRAN DAN ENERGI LISTRIK KAWASAN

Jika membayangkan nuklir, semua orang akan membayangkan senjata nuklir seperti dijatuhkan AS ke atas kota Nagasaki dan Hiroshima dalam Perang Dunia Kedua di Asia Pasifik. Kehebatan dan ancaman senjata nuklir itu pula yang didengungkan AS ke persoalan Iran.

Memang benar ADA laporan intelijen AS yang menyebutkan bahwa Iran telah memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir, seiring dengan rencana Iran untuk membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik. TAPI, apakah masyarakat dunia (termasuk Indonesia) tidak belajar dengan kasus Irak? AS menyerang Irak dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, dalih itu berdasarkan laporan intelijen semata. MANA sekarang buktinya? (silahkan lihat lagi halaman 1 di artikel ini) Masyarakat AS sebagian besar telah sadar atas kebohongan publik yang dibuat oleh pemerintahannya. Pajak yang didapatkan dari masyarakat AS dibuang percuma demi Irak. Sementara itu, perusahaan alat militer dan perusahaan minyak besar (Big Oil Company) di AS ternyata yang memperoleh keuntungan. Di sisi lain, sebagian keluarga para tentara AS mulai tidak mau anggota keluarganya bertugas sia-sia dan tak jelas tujuannya di medan konflik Irak. SEKALI LAGI, isu senjata nuklir Irak ataupun Iran itu hanya isu kampungan yang digembar-gemborkan AS.

List of Locations Relevant to the Implementation of IAEA Safeguards
As of November 2003



Sumber: www.globalsecurity.org

Lalu, jika memang Iran memiliki kemampuan membuat senjata nuklir gara-gara potensi dari pengayaan uranium, darimana Iran mendapatkan teknologi nuklir itu sendiri? Mau tahu?! Kata Bung Karno: Jasmerah!

Yang pertama harus diingat adalah Iran sebenarnya telah berusaha membangun reaktor nuklir sejak tahun 1974, ketika Iran di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi. Anda tahu khan negara mana di balik sang Shah tersebut?.

Saat itu, Shah berencana membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik dengan bantuan Jerman, Perancis, dan AS. Ya tentunya semua dengan restu Washington. Kemudian Shah memberikan kontrak pembangunan ke perusahaan Jerman, Siemens, untuk membangun 2 reaktor nuklir berkekuatan 1200 MW di wilayah Bushehr, Iran Kawasan Bushehr adalah salah satu kawasan yang diributkan oleh AS lewat IAEA saat ini.


Saat itu (tahun 1974), AS mendukung Iran untuk mengembangkan sumber energi alternatif; tidak berbasiskan minyak dan gas. Padahal saat itu, pembangkit listrik nuklir belum sangat dibutuhkan oleh Iran. Saat itu, jumlah penduduk Iran kurang dari 70 juta orang, produksi minyak sekitar 5,8 juta bpd, konsumsi energi domestik Iran saat itu sekitar seperempat dari saat ini. Kenapa saat itu pembangkit listrik nuklir Iran tidak dipersoalkan?!

Tapi oleh AS, sebuah penelitian pun digelar Stanford Research Institute. Penelitian lembaga tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1990, Iran membutuhkan kapasitas listrik sebesar 20.000 MW. Lalu, generasi pertama teknisi nuklir Iran dikirim dan dilatih ke Massachusetts Intitute of Technology.

Dalam dua Memorandum Keputusan Keamanan Nasional AS (National Security Decision Memoranda) tertanggal 22 April 1975 dan 20 April 1976, Presiden AS saat itu Gerald Ford menyetujui penjualan fasilitas pemrosesan dan pengayaan uranium ke Iran. Sebaliknya, Iran membeli 8 reaktor nuklir. Kerjasama Iran dan AS itu senilai 15 miliar Dollar Amerika. Amerika Serikat setuju membangun 8 pembangkit listrik tenaga nuklir yang total kapasitasnya 8000 MW. Kebijakan Gedung Putih saat itu diumumkan resmi oleh juru bicara Sydney Sober pada bulan Oktober 1977, dalam sebuah simposium, “The US and Iran: An Increasing Partnership.” Akhirnya, draft final US-Iran Nuclear Energy Agreement ditandatangani bersama Iran dan AS pada bulan Juli 1978. Penandatanganan tersebut dilakukan beberapa bulan sebelum adanya gejolak Revolusi Islam Iran. AS melongo……


Kemudian, pada 9 Februari 2003, Presiden Iran Mohammad Khatami mengumumkan program pengayaan uranium untuk bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Sejak itu, tenaga ahli dari IAEA (International Atomic Energy Agency) berdatangan ke Iran. Pihak Gedung Putih (AS) berkeyakinan bahwa pengayaan uranium Iran itu untuk pembuatan senjata nuklir. Sungguh lucu!

Kini, teknologi nuklir Iran untuk pembangkit listrik di-support oleh Rusia. Rusia dan Iran menjalin kerja sama strategis. Nilai kontraknya diperkirakan senilai 25 Miliar Dollar Amerika. Rusia membutuhkan Iran, demikian sebaliknya. Rusia membutuhkan Iran sebagai partner strategis untuk mengimbangi upaya dominasi AS di kawasan Eurasia (Eropa-Asia). Sementara Iran membutuhkan teknologi Rusia untuk agar nanti Iran menjadi pusat geopolitik-ekonomi di Timur Tengah. Dalam intelijen internasional, kawasan Eurasia memang merupakan target dominasi AS. Kegelisahan AS dan Sekutunya pun menjadi-jadi. Selain teknologi nuklir, Rusia ternyata juga mentransfer teknologi militer dan ruang angkasa ke Iran.

Kini, Rusia seperti “mengkhianati” Iran. Rusia lewat IAEA, mendukung resolusi PBB. Iran menilai sikap Rusia ambigu. Padahal Rusia sebenarnya mengkhawatirkan serangan AS ke Iran benar-benar akan terjadi. Sikap AS yang kelewatan sebenarnya tak seharusnya terjadi; karena nafsu. Yang patut ditiru adalah sikap Perancis, Jerman, dan Inggris yang menjanjikan pengiriman bantuan dan kerja sama teknis kepada Iran untuk pembangunan reaktor nuklir sipil (listrik), demi transparansi nuklir. Sikap negara-negara tersebut bijaksana ketimbang kekhawatiran yang membabi buta atas sikap Iran.

Lepas dari fakta tersebut, sebenarnya ada apa di balik sikap Iran yang “ngotot” untuk program nuklir sipilnya? Berdasarkan analisis, terdapat dua hal yang mendasari, yakni: antisipasi konsumsi energi listrik dalam negeri Iran yang makin tinggi, dan geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan.



Antisipasi konsumsi energi listrik Iran. Menurut EIA, kebutuhan listrik domestik Iran makin tinggi, dan dibutuhkan investasi miliaran Dollar Amerika. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang di Iran sebesar 34,3 GW. Produksi listrik sebesar 155,7 miliar KWH. Konsumsi listriknya 145,1 miliar KWH. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang Iran naik menjadi sebesar 36 GW. Pertumbuhan konsumsi listriknya mencapai 7-9 persen. Pemerintahan Iran mau tak mau harus mengejar keamanan pasokan listrik domestik apalagi jumlah penduduk Iran diperkirakan mencapai 100 juta orang pada tahun 2025.

Kapasitas Pembangkit Listrik Iran Berdasar Jenisnya




Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, Iran membutuhkan daya listrik 70.000 MW pada tahun 2021. Jika daya listrik tersebut dihasilkan dari minyak (BBM), dibutuhkan 112-140 juta barrel per tahun. Ini sebuah dilema untuk Iran. Pembangkit listrik besar Iran kebanyakan berbahan baku BBM. Padahal pendapatan Iran 80 persen berasal dari ekspor minyak, dan 45 persennya digunakan untuk APBN Iran. Selain itu, hasil produksi minyak Iran belum ada kemajuan pesat akibat konsumsi domestik yang naik 280 persen sejak tahun 1978, dan belum pula dibutuhkan biaya 40 miliar USD untuk perawatan kilang-kilang minyak Iran dalam 15 tahun. Jika situasi terus seperti itu, Iran diprediksi menjadi net oil importer pada tahun 2010.

Daftar Pembangkit Listrik Iran





Bagaimana dengan pembangkit listrik berbahan baku gas? Jika Iran mengembangkan dan meningkatkan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku gas, sangat percuma. Menurut Massachusetts Intitute of Technology (AS) sendiri, biaya produksi listrik dari gas berbanding sama dengan biaya produksi listrik dari reaktor nuklir. Selain itu, dilema Iran, Eropa, dan Asia yang lain adalah gas Iran termasuk yang SANGAT dibutuhkan untuk memasok kebutuhan Eropa dan Asia.

Penggunaan Nuklir Untuk Listrik Di Dunia



Sungguh tak masuk akal jika Iran harus mengikuti kemauan AS untuk menghentikan pengayaan uranium demi listrik Iran. Iran memang kaya akan minyak dan gas, tapi tetap membutuhkan sumber energi alternatif untuk listrik. Inggris, Canada, hingga Rusia adalah eksportir migas, tapi negara-negara ini tetap menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Di dunia saat ini, 19 persen daya listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir. Penggunaan reaktor nuklir di dunia sebagai penghasil daya listrik diperkirakan akan meningkat terus.

Yang jelas, Iran telah merencanakan sumber pasokan energi listrik pada tahun 2021 berasal dari 10 persen tenaga nuklir, 20 persen dari hydro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari yang lain.

Geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan. Seperti diketahui bersama, letak Iran yang sangat strategis membuat posisi Iran dekat dengan negara-negara Asia Selatan, Asia Tengah, ataupun Laut Caspia. Beberapa negara di kawasan tersebut kekurangan pasokan listrik untuk dalam negerinya. Sebut saja seperti negara-negara seperti Syria, Georgia, Azerbaijan, Afghanistan, Irak, Pakistan, hingga India.

Tapi, negara-negara yang minim pasokan daya listriknya mau tak mau harus bersyukur, karena jaringan interkoneksi telah dibangun dan sedang dikembangkan lagi menghubungkan antar-negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan Kabarnya jaringan interkoneksi ini menyambung hingga ke daratan Eropa; dari Iran melalui Armenia.


Jaringan Transmisi Listrik Utara Iran




Afghanistan’s Cross-Border Electricity Interconnections



Source: www.pakistan.gov.pk



Sumber: http://meaindia.nic.in

Iran yang kaya akan minyak dan gas melihat peluang bisnis energi listrik kawasan. Tercatat, sejak tahun 1992, Iran mulai menjual daya listriknya ke negara-negara tetangga.



Sumber: http://amar.tavanir.org.ir


Ambisi Iran untuk mempengaruhi negara-negara kawasan lewat penjualan listrik, sepertinya seimbang dengan rencana Iran yang akan membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik, walaupun juga untuk kebutuhan domestik Iran juga. Iran masih berencana memperluas pasar penjualan daya listriknya ke negara-negara tetangga.

Selain mencari pasar penjualan, Iran bersama Rusia, dan China termasuk concern berinvestasi pembangunan pembangkit listrik di Asia Tengah. Selain sebagai perluasan pengaruh geopolitik, juga untuk memasok kebutuhan energinya sendiri (seperti ke China). Tiga negara ini mendorong negara Asia Tengah untuk menjual ke luar negara bersangkutan. Tiga negara ini terlibat pendanaan pembangunan di negara-negara seperti Tajikistan dan Kazakhstan. Tercatat, tidak ada perusahaan asal AS satu pun yang terlibat di pengembangan pembangkit listrik di Asia Tengah.

Gerakan bisnis energi listrik Iran, Rusia, dan China bisa jadi membuat gerah AS. Secara geopolitik energi, gerakan tiga serangkai (Iran, Rusia, dan China) secara tidak langsung akan membuat negara-negara kawasan Asia Tengah ataupun Asia Selatan akan tergantung pada tiga negara tersebut, dan mengurangi pengaruh dominasi AS.

Sunday, November 9, 2008

TPM: Aneh, Dakwaan dan BAP Amrozi Cs Soal Bahan Peledak Berbeda!

TPM: Aneh, Dakwaan dan BAP Amrozi Cs Soal Bahan Peledak Berbeda!
Alfian Banjaransari - detikNews

Jakarta - Tim Pengacara Muslim (TPM) kembali menegaskan sikap mereka bahwa ekseksui Amrozi cs harus ditunda. Salah satu alasannya adalah, ada keganjilan dalam dakwaan terhadap Amrozi cs.

"Dalam surat dakwaan disebutkan bahwa bahan peledaknya adalah TNT. Padahal dalam berita acara ditemukan banyak sekali jenis residu bahan peledak," kata Ketua TPM, Mahendradatta, di kantor TPM Jl Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (8/11/2008).

Mahendradatta kemudian menunjukkan masing-masing Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan berkas dakwaan terhadap Amrozi. Dia mnggarisbawahi perbedaan antara kedua berkas tersebut berkaitan dengan bahan peledak yang digunakan.

Memang terdapat perbedaan keduanya dalam menjelaskan jenis bahan peledak yang digunakan. Dalam BAP, disebutkan bahwa hasil pemeriksaan residu bahan peledak yang terdapat pada serpihan barang bukti
yang ditemukan di kawah maupun sekitarnya menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis residu senyawa kimia, antara lain : TNT, RDX, dan HMX. Sementara dalam surat dakwaan disebutkan bahwa ditemukan TNT, belerang, dan Kalium Chloride (KClO3).

"Bahan HMX misalnya, itu hanya ada di lima negara. Itu barang pabrik, jadi nggak mungkin dirakit," kata Mahendradatta.

Dalam BAP, disebutkan bahwa penelitian terhadap residu bahan peledak tersebut dilakukan oleh tim dari Laboratorium Forensik Denpasar, Bali. Namun anehnya, mereka tidak pernah dijadikan saksi dalam persidangan.

"Ketika kami minta diuji coba (peledaknya), mereka nggak mau," ujarnya heran.

Hasil penelitian mengenai kandungan residu bahan peledak tersebut ditandatangani oleh Kepala Laboratorium Forensik Denpasar Kombes Budiono serta beranggotakan peneliti sebanyak enam orang. Mahendradatta berharap, agar hal ini menjadi pertimbangan pihak pemerintah untuk menunda pelaksanaan eksekusi mati.(alf/djo)

Ba’asyir, Burks, dan Bush

Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 08 Feb 2005 - 6:25 am

Oleh : Riza Sihbudi*
Dua bulan lalu barangkali tidak ada orang Indonesia yang mengenal nama Frederick Burks (kecuali mereka yang mengenalnya secara pribadi), walaupun ia pernah lama tinggal di Kalimantan dan menguasai dengan sangat fasih Bahasa Indonesia (selain Spanyol dan Mandarin). Dalam beberapa hari terakhir ini nama dan gambarnya terpampang di hampir semua media cetak terkemuka di Indonesia, seperti Republika, Koran Tempo, dan Kompas. Wajah pria jangkung kelahiran Amerika Serikat 46 tahun lalu itu pun sempat muncul di sejumlah stasiun televisi. Bahkan MetroTV dan SCTV secara khusus mewawancarai Burks pada Jumat, 14 Januari 2005 lalu.

Pada hari yang sama Burks juga tampil sebagai pembicara tunggal di forum diskusi yang diadakan Pusat Penelitian Politik LIPI dan the Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, dengan tema “Mengungkap Kebohongan Bush.” Tidak disangka, acara yang diadakan secara mendadak dan bahkan penyebaran undangannya hanya lewat SMS (pesan pendek) ini pun ternyata menyedot banyak perhatian dari kalangan akademisi dan profesional, sehingga ruangan berkapasitas 50-an orang itu pun penuh sesak.

Kenapa nama Fred Burks mendadak “populer” di Indonesia?

kPertama, tentu karena kesaksiannya dalam sidang kasus “terorisme” dengan terdakwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (amir Majelis Mujahidin Indonesia) di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta, (13 Januari 2005). Dalam sidang itu, Burks antara lain mengatakan bahwa Pemerintah George W Bush pernah meminta agar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) ditahan dan diserahkan ke AS. Permintaan AS itu, menurut Burks, disampaikan utusan khusus Bush kepada Presiden Republik Indonesia (saat itu) Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan rahasia di Jalan Teuku Umar Jakarta (rumah pribadi Megawati), September 2002.

Pernyataan Burks di sidang ABB itu sebenarnya tidak ada yang baru.

Dalam berbagai kesempatan, dua atau tiga tahun lalu, saya sudah sering mengungkapkan adanya ntervensi pemerintahan AS dalam berbagai kasus “terorisme” di berbagai negara, termasuk Indonesia (lihat misalnya, opini Republika, 7 Oktober 2002, dan Koran Tempo, 25 Maret 2002). Hanya saja pernyataan itu menjadi istimewa lantaran keluar dari seorang Fred Burks yang sejak 1996 berprofesi sebagai penerjemah di Departemen Luar Negeri AS, dan sempat pula menjadi penerjemah Presiden AS, dari Bill Clinton sampai Bush. Artinya, pernyataan itu keluar dari seseorang yang memiliki otoritas yang tak perlu diragukan lagi.
Tentu bukan hanya itu. Burks yang sejak 2002 mengelola media alternatif dalam bentuk website bernama wanttoknow.info dan membangun jaringan internasional yang berupaya mengungkap kebohongan rezim Bush dalam kasus 11 September 2001, memiliki data-data yang sangat valid dan akurat. Data-data itu ia peroleh selama bertahun-tahun bekerja di Deplu AS serta interaksinya dengan puluhan elite politik, ekonomi, intelijen, maupun militer di negaranya. Dengan kredibilitasnya itu, apa yang dikatakan Fred Burks jelas bukan sekadar ”teori konspirasi” seperti yang selama ini dituduhkan sementara kalangan terhadap orang-orang seperti saya yang tidak pernah percaya pada ”versi resmi” kasus-kasus terorisme, khususnya 2001-2004.

Kasus Ustadz ABB, misalnya, sudah terang benderang mengandung banyak kejanggalan. Begitu pula kasus-kasus Bom Kuningan 2004, JW Marriot 2003, Bali 2002, dan—tentu saja-- 11 September 2001. “Versi resmi” yang, kendati tak didukung data-data yang valid dan akurat, berhasil “menyihir” opini dunia-ironisnya tak hanya kalangan awam melainkan juga kalangan akademisi dan intelektual—bahwa para pelaku aksi-aksi teror
(2001-2004) itu adalah Jamaah Islamiyah (JI) dan Alqaidah. Jika dibaca secara luas, pelaku aksi-aksi teror besar 2001-2004 adalah umat Islam, sebab kedua ”organisasi” itu dipimpin oleh tokoh-tokoh muslim, yaitu Abu Bakar Ba’asyir dan Usamah bin Ladin.

JI, Alqaidah dan Usamah masih banyak diselimuti misteri (menurut Burks, bukan tak mungkin mereka bikinan CIA). Tapi, tidak demikian halnya dengan Ustadz ABB. ABB adalah seorang ustadz yang jelas latar belakangnya, lantaran mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk kepentingan dakwah Islam. ABB memang pernah terusir karena melawan rezim Soeharto, namun ABB jelas bukan satu-satunya penentang penguasa Orde Baru itu. Benar bahwa ABB secara konsisten memperjuangkan tegaknya Syariat Islam di Indonesia yang—seperti dikatakan Ketua Muhammadiyah Syafii Maarif—mungkin saja kurang sejalan dengan “mainstream” umat Islam di republik ini. Tapi, menyejajarkan ABB dengan Usamah (juga Hambali dan Umar Faruq, “dua tokoh JI” versi AS), jelas sangat tidak masuk di akal sehat.

Seorang teroris tentu tidak akan pernah tampil di depan publik, melainkan akan terus berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya seperti yang kini dilakukan Dr Azahari dan Noordin M Top, atau Imam Samudera, Amrozi, dan kawan-kawannya dulu. Ini jelas berbeda dengan ABB yang selalu tampil di depan publik, kecuali pada masa Orde Baru, lantaran terus diancam aparat Soeharto, sehingga ABB terpaksa
”bersembunyi” di Malaysia. Namun, selama di Malaysia pun keberadaan ABB bukan sama sekali tak bisa dipantau. Dengan kata lain, jika ia seorang ”teroris”, ABB tentu tidak akan menjalani kehidupan sehari-harinya seperti selama ini (sebelum dijebloskan ke penjara atas dakwaan pelanggaran imigrasi).

Tapi, kenapa rezim Bush terus menekan Jakarta agar tidak membebaskan ABB (kesaksian Syafii Maarif) dan bahkan pada 2002 meminta Megawati agar menyerahkan ABB ke AS (kesaksian Fred Burks)? Jawabannya tentu tidak terlalu sulit. Jika pengadilan Indonesia tak mampu membuktikan keterlibatan ABB dalam kasus “terorisme Islam” maka seluruh skenario rezim Bush tentang JI di kawasan Asia Tenggara menjadi buyar, dan itu artinya mereka pun gagal menjadikan “terorisme Islam” sebagai momok baru yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Asia Tenggara. Oleh sebab itu, rezim Bush berkepentingan agar Ustadz ABB terus mendekam di penjara, bahkan jika mungkin diekstradisi ke AS.

Maaf, jika saya terpaksa menggunakan istilah ”rezim Bush,” karena seperti dikatakan Fred Burks, Bush dan konco-konconya pada hakikatnya mengembangkan sistem politik dan pemerintahan yang otoritarian dan diktatorial ala Soeharto dulu. Sebuah karikatur yang dimuat majalah Kanada, Global Outlook (edisi Fall 2004/Winter 2005, hlm 65) misalnya, menggambarkan Bush yang sedang memeluk bola dunia sebagai seorang “The Great Dictator.” Bahkan, seperti dikatakan Fred Burks dalam diskusi di LIPI dan ISMES, 14 Januari lalu, rezim Bush tak segan-segan untuk menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan ribuan warga sipil demi mencapai tujuan dan ambisi politik dan ekonomi mereka.

Jadi, jika terorisme dipahami sebagai sebuah aksi bermotif politik dengan mengorbankan nyawa warga sipil, maka orang pun tahu siapa yang paling layak disebut sebagai teroris nomor satu dunia. Presiden Goerge W Bush tidak hanya bisa dianggap bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 24 ribu warga sipil di Afghanistan (2001-2004) dan sekitar 37 ribu warga sipil di Irak (2003-2004), melainkan juga tiga ribuan warga sipil AS sendiri pada 11 September 2001 dan dua ratusan warga sipil Australia di Bali pada Oktober 2002.

Memang, bukti-bukti keterlibatan langsung rezim Bush dalam kasus Bali (juga JW Marriot dan Kuningan) belum banyak diungkapkan. Namun, dalam kasus 11 September 2001, sudah puluhan buku dan ratusan artikel di media cetak dan internet baik yang ditulis oleh orang-orang Eropa maupun AS sendiri yang terang-terangan menuding keterlibatan langsung rezim Bush dalam tragedi WTC itu. Lihat, misalnya, buku-buku The New Pearl Harbor (karya David Ray Griffin), 9-11 (Noam Chomsky), The Big Lie (Thierry Meyssan), The High Priests of War (Michael Collins Piper), Stranger Than Fiction (Albert D Pastore), The Lies of George W Bush (David Corn), The Terror Time Line (Paul Thompson), dan 911 Synthetic Terror Made in USA (Webster G Tarpley).

Menurut Fred Burks, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menebak siapa pelaku dari setiap aksi terorisme berskala besar, khususnya sepanjang periode 2001-2004 yaitu, dengan melihat siapa pihak yang paling diuntungkan dari setiap kejadian itu. Umat Islam merupakan pihak yang paling dirugikan dari aksi-aksi terorisme 2001-2004. Oleh sebab itu, sangat tidak masuk akal menuding umat atau negara-negara Islam sebagai pelaku atau pendukung aksi-aksi terorisme. Burks dan hampir seluruh penulis Barat lainnya yang menolak “versi resmi” rezim Bush dalam kasus WTC, umumnya sepakat menuding kaum neokonservatif (neocon) yang bekerja sama dengan jaringan mafia Zionis (bukan Yahudi, karena banyak umat Yahudi yang menentang Zionisme) sebagai pihak yang paling diuntungkan dari aksi-aksi terorisme 2001-2004.

Sejak kemenangan Bush tahun 2000, kaum neocon dan Zionis sepenuhnya mengendalikan politik dan pemerintahan AS, dengan tokoh-tokohnya seperti Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Richard Perle, Douglas Feith, dan Condi Rice. Lebih dari itu, mereka pun kini mengendalikan sektor ekonomi dan media massa di AS. Semua media besar di AS ada di bawah kendali mereka. Tak ada satu pun media besar di AS yang berani menolak “versi resmi” rezim Bush dalam kasus WTC. Akibatnya, kalangan intelektual dan aktivis AS yang tak sepaham dengan rezim Bush terpaksa membuat media alternatif seperti yang dilakukan Burks dan kawan-kawannya. “Situasinya mirip Indonesia era Soeharto,” kata Burks.

Kehadiran Fred Burks di Jakarta, tentu diharapkan tidak hanya akan meringankan Ustadz ABB, melainkan juga diharapkan dapat membuka mata kita semua khususnya yang menyangkut kebohongan-kebohongan rezim Bush dalam isu terorisme global. Burks benar, bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran dan demokrasi yang hakiki tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Burks mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan keagamaan yang dianut Ustadz ABB. Tapi, setidaknya dalam satu hal mereka sepakat, yaitu melawan kediktatoran dunia di bawah cengkeraman rezim Bush. Burks lebih ”beruntung” lantaran tidak direnggut kemerdekaannya seperti Ustadz ABB, namun ada baiknya jika Fred Burks juga selalu mengingat ucapan Rosiana Silalahi (Liputan 6 SCTV, 14 Januari 2005), ”Hati-hati, banyak orang yang mengkhawatirkan keselamatan Anda”. Wallahualam bissawab. (RioL)

*Ahli peneliti utama LIPI

Friday, October 24, 2008

Hadapi Kemiskinan Dengan Jihad

Salah satu problem yang dihadapi kaum Muslim saat ini adalah kemiskinan. Karena miskin ekonomi, mayoritas masyarakat hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Kekurangan pangan, sandang, dan papan menyertai kehidupan sehari-harinya. Kemiskinan yang melanda umat tidak hanya karena kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi yang kurang tepat dalam memaknai ajaran Islam. Konsep zuhud dan tawakal seringkali dimaknai sebagai sikap menjauhi dunia dan enggan berusaha. Berikut ini hasil perbincangan Yulmedia dari Center for Moderate Muslim (CMM) bersama KH. Dr. Tarmizi Taher, ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang juga Ketua Dewan Direktur CMM beberapa waktu lalu:

Indonesia mayoritas penduduknya pemeluk Islam, namun mayoritas juga dalam kemiskinan. Apanya yang salah?
Kemiskinan yang diderita mayoritas Muslim Indonesia merupakan hal yang menyedihkan. Di antara banyak etnis grup di Indonesia bidang perdagangan tidak disukai oleh semua etnis grup. Dalam kaitan ini boleh kita katakan etnis grup tertentu tidak berada dalam bagian kemiskinan itu, mereka berada pada posisi lumayan. Tetapi sebagian besar mereka itu dibenaknya menurut hasil penelitian LIPI, bahwa orang Indonesia itu idenya, cita-citanya sebagian besar adalah menjadi pegawai negeri, sedangkan menjadi wiraswasta atau pebisnis itu tidak banyak. Mereka menekankan jadi pegawai punya uang pensiun.

Sebagai contoh, ada cerita lucu dalam sebuah penemuan bahwa orang Indonesia itu dalam mengarahkan anak-anak atau keluarganya yang telah bekerja pada sebuah perusahaan asing dengan gaji lumayan besar disuruh berhenti dan masuk menjadi pegawai negeri. Alasan orangtua yang tradisional itu sederhana saja, diperusahaan asing itu pensiunnya nggak jelas tetapi dipegawai negeri pensiunnya jelas.

Bagaimana cara mengubahnya persepsi seperti itu?
Semangat menjadi pedagang atau pebisnis itu kita sosialisasikan pada masarakat banyak. Dalam masyarakat Cina itu kalau mereka Imlek itu dalam bersalaman mereka jelas mengharapkan saudara atau sahabatnya itu agar tahun depan lebih kaya. Bagi kita bukan kaya, sebagai orang Islam tujuan hidup kita keridhaan Allah Swt, tapi keridhaan Allah Swt. itu “bahagia di dunia dan bahagian di akhirat” (fiddun-ya hasanah wa fil akhirati hasanah), tangan yang di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah. Naik haji itu disuruh dalam agama kita dan bagaimana mau naik haji kalau tidak punya duit. Isyarat dari Nabi kita bahwa “kemiskinan itu mendekatkan orang pada kekufuran” kurang disosialisasikan ketimbang hal-hal yang lain.

Bagaimana kaitan antara zuhud dan tawakal dengan kemiskinan umat?
Di Indonesia gerakan Islam terbagi-bagi ada Muhammadiyah, NU, sementara gerakan menuju masarakat sejahtera berhadapan dengan nilai-nilai yang tidak menuju kesejahteraan umpamanya zuhud. Apakah zuhud itu, zuhud itu sebenarnya kita tidak tergoda oleh dunia yang dihadapan kita. Dunia itu kita gunakan sekedar alat bagi kita untuk menyeberang ke akhirat. Ada hadits Nabi yang berbunyi, “bukan kemiskinan yang aku takutkan pada umatku ini” yang aku takutkan kata Nabi “kalau umatku tergoda, tergila-gila pada dunia, mengejar-ngejar dunia akhirnya dia akan ditelan oleh dunia.” Mestinya hadits ini bisa kita jadikan sebagai pengertian dari zuhud.

Sementara itu, tawakal artinya sangat tinggi dalam Islam. Tawakal itu ibarat burung pada pagi hari keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, pulang kenyang. Artinya kesejahteraan dunia juga penting. Para sahabat itu kan tidak miskin semua bahkan ada yang konglomerat.

Sepanjang yang Kyai telusuri, apa yang jadi penyebabnya?
Ada kesalah pengertian dalam memahami Islam. Mereka menganggap kemiskinan itu sebagai lambang dari kesalehan. Ini yang kita tidak setuju. Dalam Islam kita disuruh membantu orang, memperhatikan anak yatim, membantu gerakan Islam, pelajar dan lain sebagainya itu. Jadi ironi ini bahwa umat Islam penduduk mayoritas tapi dalam kemiskinan juga mayoritas harus diubah. Siapa yang mengubah? Pihak pemerintah. Sedangkan dalam pengalaman kita selama enam puluh satu tahun merdeka pemerintah itu politik ekonominya yang memihak rakyat banyak tidak jelas. Rakyat banyak siapa? Ya umat Islam. Dulu orang menguasai tanah rakyat lalu minta duit di bank, seperti usaha real estate itu mengunakan tanah rakyat yang belum dibayarnya, pinjam duit di bank sekian tahun lamanya sehinnga rakyat itu makin lama makin tersingkir dari daerah-daerah sentra ekonomi dan akhirnya mereka tenggelam dalam kemiskinan.

Tapi sekarang kan ada gerakan ekonomi kerakyatan. Bagaimana dengan gerakan ini?
Timbulnya gerakan-gerakan “ekonomi kerakyatan”, “ekonomi Pancasila” kata Mubiarto, karena para ekonom ini melihat ketimpangan akibat kebijakan ekonomi pemerintah. Rakyat yang banyak ini akhirnya memberikan modal, memberikan usaha hanya kepada kelompok ekonomi tertentu. Menurut para pakar, sebetulnya belum jelas apa sebenarnya ekonomi kerakyatan itu, karena kita berhadapan dengan kelompok kapitalis yang sudah mapan sedangkan ekonomi kerakyatan itu paradigmanya, aksiomanya serta cara mencapainya itu belum jelas.

Bagaimana dengan aturan ekonomi dalam Islam tentang pembangunan ekonomi umat ?
Dalam membangun ekonomi umat itu jelas sekali antaranya baitul mal. Dari segala macam yang ada dalam baitul mal itu pemerintah Islam mengadakan gaji pegawai, mengadakan sumbangan untuk duafa, mengadakan bantuan-bantuan untuk bencana alam. Jadi baitul mal itu barangkali sekarang harus dipermoderen, umpamanya soal beras dipegang oleh bulog tapi begitu kita lihat bila beras petani surplus pemerintah mengimpor, ini menimbulkan pertengkaran.

Nah sekarang bagaimana menghubungkan persoalan kemiskinan ini dengan Jihad?
Jihad yang paling utama itu sekarang adalah “jihad menghadapi kemiskinan serta jihad menghadapi Korupsi” di republik ini. Saya cenderung pada apa yang telah digarap pemerintah pada waktu dulu, yaitu modal untuk pedagang-pedagang kecil. Misalnya diperbankan itu KMPK (Kredit Modal untuk Pedagang Kecil), sayangnya pemerintah tidak bertindak tegas pada orang yang memanipulasi ini. Ada pedagang-pedagang tertentu dia suruh pegawainya yang banyak untuk minta KMPK.

Jadi, menurut saya permainan pasar di Indonesia sudah sangat berbahaya. Ambil gula, ambil beras itu yang memainkan—kata Rizal Ramli—itu jelas dan seharusnya pemerintah sudah bisa menindak mereka. Apa yang dikatakan sekarang era pasar bebas, RRC yang rakyatnya lebih banyak dari kita dia tidak percaya pada mekanisme pasar bebas kecuali pasar bebas yang terkontrol, yang bisa dikontrol oleh pemerintah dengan tegas. Ketegasan regulator jangan disangkutpautkan dengan satu hal, disangkutpautkan dengan demokrasi, HAM itu sebuah ketakutan. PM Cina ini menyiapkan sekian peti mati. Kalau Dia yang korup satu untuk dia katanya. Jadi pemerintah kita baik di daerah maupun di pusat harus tegas terhadap manipulator tersebut.(CMM)

Wednesday, October 8, 2008

Bank AMERIKA

IMF: Akibat Krisis Keuangan, AS akan Kehilangan Pengaruh Politik dan Ekonominya di Dunia

IMF: Akibat Krisis Keuangan, AS akan Kehilangan Pengaruh Politik dan Ekonominya di Dunia
Thursday, 09 October 2008

Laporan Badan Moneter Internasional (IMF) mengenai kondisi ekonomi global yang dipublikasikan pada Rabu (8/10) menyatakan, akibat krisis keuangan yang tengah dihadapi, peran dan pengaruh politik dan ekonomi AS di dunia internasional akan berkurang. Menurut laporan tersebut, untuk masa-masa mendatang AS dan Uni Eropa akan lebih konsentrasi menyelesaikan permasalahan dalam negerinya sendiri, akibat dampak krisis tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh analis pasar uang di London, Antwan Matar kepada Aljazeera mengatakan bahwa krisis keuangan yang dihadapi AS dan akan menyusul negara-negara Uni Eropa akan mengurangi peran internasional AS dan Uni Eropa.

Hal ini dikarenakan, menurut Matar, AS selama ini adalah pemiliki perekonomian terbesar dan terkuat di dunia, sehingga kontribusi dan peranannya di lembaga-lembaga keuangan global juga besar, sehingga mampu mengendalikan kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF.

Dengan adanya krisis finansial yang dihadapinya, baik AS dan Uni Eropa dalam jangka menengah akan lebih mengarahkan kebijakan moneternya untuk membenahi kondisi ekonomi dalam negerinya. Oleh karena itu, menurut Matar, AS dan Uni Eropa akan mengurangi berbagai bantuan luar negerinya dan program-program kemanusiaan yang didanainya, khususnya di negara-negara berkembang.

Terkait dengan efektifitas UU Bailout dalam meredam gejolak krisis, Matar mengatakan tidak yakin UU itu akan mampu mengeluarkan AS dari ancaman resesi. Bahkan dia memperkirakan akan semakin banyak bank-bank dan perusahaan-perusahaan finansial AS yang akan menyatakan pailit. " UU itu tidak terlalu banyak berpengaruh", tukasnya seperti dikutip Aljazeera. [syarif/alj/www.suara-islam.com]

Americans Must Stop Congress Bailout Treason

Americans Must Stop Congress Bailout Treason
9-25-8

You must CALL your Congressmen and Senators and DEMAND they NOT support the bailout. They must be told that if the engage in the rape of America for financial gangsters, they will be voted OUT of office if not subjected to an immediate recall drive. -ed

This was just received and shows the TREASON which cannot be allowed to stand...

Jeff, I got this from a long time member of my email list, figures...

"I just spoke to Senator Bob Casey's staffer (D-PA), and they told me that they are getting THOUSANDS of phone calls which are running 99 to 1 against the BAILOUT - but that Bob has decided to support it none the less!

Can you spell "fascism"?

Menkeu AS: AS Akan Hadapi "Tsunami" Ekonomi

Menkeu AS: AS Akan Hadapi "Tsunami" Ekonomi
Thursday, 09 October 2008


Meski UU Bailout telah disepakati, AS masih akan tetap hadapi gejolak "Tsunami" ekonomi. Menteri Keuangan AS, Henry Paulson mengatakan sejumlah lembaga keuangan AS diperkirakan akan mengalami pailit, meski Pemerintah AS telah mengeluarkan dana talangan ratusan milyar USD.




"Satu hal yang harus diakui, meski otoritas finansial AS memiliki kekuasaan dan kewenangan baru, tapi sejumlah lembaga keuangan AS akan tetap menyatakan pailit," kata Paulson dalam jumpa persnya di Washington pada Rabu (8/10).

Paulson menegaskan bahwa UU Bailout senilai 700 Milyar USD yang telah disetujui Konggres AS pada Jumat lalu dirancang hanya untuk menahan sementara gejolak pasar uang.

Untuk menstabilkan krisis finansial, Paulson mengusulkan perlunya dilakukan pertemuan darurat internasional melibatkan negara-negara berkepentingan untuk sama-sama mencari solusi. Secara khusus, Paulson menyerukan diselenggarakan pertemuan negara-negara G20, termasuk Brazil, Rusia, China dan India.

"Saya menyerukan pertemuan negara-negara G20 dan para pemimpin lembaga keuangan dunia, gubernur Bank Sentral dan para regulator perbankan. Pertemuan ini untuk membahas dan mengkoordinasikan penanggulangan dampak krisis finansial global dan kelesuan pertumbuhan ekonomi dunia," tukas Paulson. [syarif/press/www.suara-islam.com]

Bailout Means Full Faith And Credit

Bailout Means Full Faith And Credit
Terrell E. Arnold
9-27-8

As the US Congress wrangles over a bailout package while Treasury Secretary Paulson literally goes on his knees to pray for immediate action, just what the crisis is remains obscure to most people. There are two main questions: Just who needs to be bailed out, and what is the specific funding problem? Plunging boldly into the chill waters of investment banking and such arcane devices as mortgage backed securities, commercial mortgage backed securities and et cetera, the answers are not what you might expect. For better or worse, the US Government is now in the home mortgage business.

A home or commercial property mortgage, as such, is straightforward: A buyer (individual, family or company) selects a property that is for sale, determines what he/she/they have as a down payment, how much they can borrow, and what amortization schedule and interest rate they can handle, and if the seller plus funding source are happy, the deal is done. The mortgage backed security creator, whether the bundle is commercial, individual home, or other property based, takes a bundle of similar such done deals and turns them into a marketable investment security. Over the past several years an estimated 5-6 trillion dollars worth of these packages have been sold to investors, principally by Fannie Mae and Freddie Mac. Over a trillion dollars worth of those deals have been picked up by foreign investors, including mainly central banks. The big bundles are in China, Japan and Western Europe, but there are others.

Who did most of the bundling for these deals? While all eyes are on investment bankers, the bundles-upward of 80% at least-were put together by Fannie Mae and Freddie Mac. These bundles were then marketed by investment bankers, and with triple, that is AAA ratings, the bundles were attractive to central banks, mutual funds and others looking for remunerative and safe places for funds.

How do subprime mortgages get into this act? For the uninitiated, an AAA rated bundle of high risk mortgages sounds like an oxymoron. There are two levels to the answer: First, if you take a bundle of 10 such high risk mortgages the chances of the whole bundle going belly up are pretty slim. Bundling is a real risk mitigation device. That in itself, however, still would not seem to justify AAA ratings, because the risk of some failures-as has been demonstrated at the subprime level-is substantially greater than zero. Second though, as seen by the mortgage backed security buyer, the risk of failure was rendered minimal, because _Fannie Mae and Freddie Mac guaranteed payment of the interest and principal on all mortgages in the bundle, even if individual mortgage holders defaulted_. The AAA rating flowed from this guarantee, not from the intrinsic security of any mortgage bundle.

Given this guarantee, Fannie Mae and Freddie Mac got caught in the middle when the subprimes started failing. Worth noting is that reportedly in 2008 upward of 98% of payments on mortgages underwritten by them were current. They apparently had based their business model on an expectation that failure rates would be low to minimal, certainly manageable. (At least that is a reasonable explanation of their operation). In fact, as subprime mortgage holders started to fail, Fannie and Freddie were faced by rapid reduction in liquidity as a result of non-payments. They were not getting expected revenues, but they had guaranteed principal and interest returns on the mortgage backed securities they had sold. Although it involved only a small proportion of outstanding mortgages, the arithmetic was simply murderous, and the two were going belly up when the government stepped in. Everybody in the chain was undercut by the subprime failures. Nobody in the chain appears to have anticipated this debacle. In effect, virtually all of the banks involved were operating on thin reserve margins that simply did not allow for the order of subprime failures that occurred. The ones most deeply into the subprime market, e.g. Washington Mutual and Lehmann Brothers, along with Fannie Mae and Freddie Mac were caught flat footed.

One can say that since no one anticipated the subprime mortgage holder meltdown or the collapse in housing values that undercut even prime mortgage markets that ensued, no one is to blame. But who to blame is not the issue. Who to look to for making things right is the matter on the table. We are back to Fannie Mae and Freddie Mac. They hold, or guarantee more than $5 trillion in mortgages. But they are now in government hands.

Where then does responsibility lie? The Federal Housing Finance Agency (FHFA) has the authority and responsibility and placed Fannie Mae and Freddie Mac in conservatorship. According to Wikipedia, the effect of this action is that FHFA will "support the soundness of the obligations and guarantees on securities issued by Fannie Mae and Freddie Mac to obtain funds." That means essentially that the Fannie Mae and Freddie Mac guarantees of principal and interest payments on mortgage backed securities have become obligations of the federal government, read the American taxpayer.

Just like that, the United States Government is now, full time, in the home mortgage business as the intermediary between banks that make and sell mortgages and investment houses or others who buy, sell or hold mortgage backed securities. This makes the alleged bailout not a bailout at all but funding to support a suddenly assumed Federal budgetary responsibility to maintain the liquidity of Fannie Mae and Freddie Mac, and to preserve their reputations in financial markets.

This is a critical action as foreign investors, especially the big holders of mortgage backed securities, may see it. In recent news reports, Japan and China, both big time holders of these securities, have indicated satisfaction with the takeover decision. Others who hold parts of the more than trillion dollar overseas component of the US mortgage backed securities market should also be pleased.

If it can be carried out successfully, the "bailout" will serve to minimize or avoid both further foreign and domestic losses. However, the President, Secretary Paulson and Fed Chairman Bernanke should be stressing the obvious argument: The takeover of Fannie Mae and Freddie Mac by the Federal Housing Finance Agency and the commitment of FHFA to support their guarantees and obligations puts the full faith and credit of the United States on the line. How this plays out will affect American business and financial relations both at home and with the rest of the world for years to come.

The writer is a retired Senior Foreign Service Officer of the US Department of State. He served in key economic interest countries such as Egypt, India, the Philippines and Brazil. He has an MA in political science and economics from San Jose State University, he is a graduate of the National War College, and he studied development economics at the University of California, Berkeley. He will welcome comments at wecanstopit@charter.net