Monday, July 7, 2008

Membongkar Jaringan AKKBB







Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.

Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
National Integration Movement (IIM)
The Wahid Institute
Kontras
LBH Jakarta
Jaingan Islam Kampus (JIK)
Jaringan Islam Liberal (JIL)
Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
Institut Dian/Interfidei
Masyarakat Dialog Antar Agama
Komunitas Jatimulya
eLSAM
Lakpesdam NU
YLBHI
Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
Lembaga Kajian Agama dan Jender
Pusaka Padang
Yayasan Tunas Muda Indonesia
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Crisis Center GKI
Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
Gerakan Ahmadiyah Indonesia
Tim Pembela Kebebasan Beragama
El Ai Em Ambon
Fatayat NU
Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
Koalisi Perempuan Indonesia
Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
SHEEP Yogyakarta Indonesia
Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
LSM Adriani Poso
PRKP Poso
Komunitas Gereja Damai
Komunitas Gereja Sukapura
GAKTANA
Wahana Kebangsaan
Yayasan Tifa
Komunitas Penghayat
Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
Crisis Center SAG Manado
LK3 Banjarmasin
Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
PERCIK Salatiga
Sumatera Cultural Institut Medan
Muslim Institut Medan
PUSHAM UII Yogyakarta
Swabine Yasmine Flores-Ende
Komunitas Peradaban Aceh
Yayasan Jurnal Perempuan
AJI Damai Yogyakarta
Ashram Gandhi Puri Bali
Gerakan Nurani Ibu
Rumah Indonesia
Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari 'The Hidden Agenda' di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz)








Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita. Pertama soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Yang kedua, soal kelompok sesat Ahmadiyah yang hendak dibubarkan namun mendapat dukungan dari koalisi liberal dan kelompok non-Muslim.

Di saat itulah, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya.

Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.

Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut (www.wiesenthal.com).

Dalam acara dinner yang dihadiri tokoh-tokoh Zionis Amerika dan Israel, di antaranya C. Holland Taylor (CEO LibForAll), Rabbi Marvin Hier (Pendiri SWC, dinobatkan oleh Newsweek Magazines sebagai Rabbi paling berpengaruh nomor satu di AS tahun 2007-2008), Rabbi Abraham Cooper (menempati urutan ke-25 Rabbi paling berpengaruh di AS tahun 2008), CEO Sony Corporation, dan lainnya, antara penerima penghargaan dengan tuan rumah—para Zionis Amerika dan Israel tersebut—berlangsung obrolan santai namun serius.

Selain isu Ahmadiyah, topik kontroversi kenaikan harga BBM yang tengah hangat di dalam negeri (Indonesia) diduga kuat menjadi salah satu bahan pembicaraan mereka mengingat kebijakan pemerintahan SBY tersebut sesungguhnya mengikuti Grandesign Washington agar harga minyak di Indonesia bisa sama dengan harga minyak di New York, sesuai Letter of Intent (LOI) dengan IMF pada tahun 1999. DI tahun 2000, USAID pun telah mengucurkan dollar dalam jumlah besar kepada pemerintah RI untuk memuluskan liberalisasi sektor Migas (silakan baca wawancara eramuslim dengan Revrisond Baswir dalam rubrik bincang-bincang).

Target IMF untuk menyamakan harga BBM di New York dengan di Indonesia sebenarnya sudah harus tercapai pada tahun 2005, namun tersendat-sendat karena penolakan dari rakyat Indonesia sangat kuat. Sebab itu, di tahun 2008 ini Amerika agaknya tidak mau hal tersebut tersendat lagi. “Penyesuaian” harga BBM harus terus jalan. Zionis-Amerika sangat berkepentingan dengan hal ini, sebab itu mereka mendesak pemerintahan SBY yang memang sangat takut dan tunduk tanpa reserve pada AS agar segera menaikkan harga BBM. Bagaimana takutnya SBY terhadap AS bisa kita lihat sendiri saat Presiden Bush datang ke Bogor, 20 November 2006, di mana persiapan yang dilakukan pemerintah ini sangat keterlaluan berlebihan dan cenderung paranoid.

Pada tanggal 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM. Abdurrahman Wahid sudah tiba di tanah air. Untuk menekan penolakan, pemerintah SBY (lagi-lagi) memberi ‘permen’ kepada sebagian rakyat miskin bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun Social bumper ini malah menjadi bulan-bulanan kecaman ke pemerintah. Gelombang unjuk rasa dilakukan mahasiswa dan elemen-elemen rakyat. Tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais dan Wiranto pun sudah terbuka menyatakan ‘perang’ terhadap sikap pemerintah menaikkan harga BBM. Banyak kalangan berfikir, demo-demo ini akan meningkat eskalasinya hingga jadi besar, bahkan bukan mustahil rusuh Mei 1998 terulang kembali. Teriakkan “Turunkan SBY-JK!” sudah terdengar di mana-mana. Pihak kepolisian menerapkan status Siaga Satu saat itu.

Sejak itu tiada hari tanpa demo. Istana merupakan tempat paling favorit para pendemo. Hari ahad, 1 Juni 2008, sejumlah elemen masyarakat termasuk massa dan anggota PDIP dan elemen umat Islam seperti FUI, HTI, dan FPI, sudah mengantungi izin untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas, Jakarta. Sedangkan AKKBB menurut laporan ke pihak kepolisian hanya melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI, sekitar tiga kilometer dari kawasan Silang Monas.

Jalur Demo dan Polisi Yang Aneh

Dari Bundaran HI, tiba-tiba massa AKKBB bergerak long-march ke kawasan silang Monas yang sudah dipenuhi massa umat Islam yang tengah berdemo. Padahal pemberitahuannya hanya ke Bundaran HI. Aparat kepolisian berusaha mencegah massa AKKBB yang sebagiannya merupakan pendemo bayaran yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa menuju silang Monas di mana massa elemen umat Islam tengah melakukan demo, agar tidak terjadi bentrok.

Namun massa AKKBB membandel dan polisi (anehnya) tidak mampu menghalangi massa AKKBB mendekati massa umat Islam. Setelah berdekatan, orator dari massa AKKBB memprovokasi massa umat Islam yang banyak terdiri dari para laskar meneriakkan, “Laskar setan!” dan sebagainya. Terang, mendapat provokasi seperti ini anak-anak muda dari massa Islam marah. Apalagi di antara massa AKKBB yang berada di dekat massa Islam ada yang membawa-bawa spanduk besar berisi penolakan SKB Ahmadiyah. Ini jelas provokasi. Anak-anak Laskar Islam pun menyerbu massa AKKBB. Dan terjadilah rusuh Monas.

Dalam tulisan ketiga, akan dipaparkan keanehan lainnya ba’da peristiwa Monas yaitu sikap SBY yang tiba-tiba cepat tanggap (biasanya peragu dan lamban), respon Kedubes AS dan pejabat Kedubes AS yang menjenguk korban, plintiran media massa baik itu cetak maupun teve, dan sebagainya.

Apa pun itu, semua ini telah berhasil membelokkan isu utama negeri ini dari yang tadinya menyoroti kenaikan BBM dan penolakan Ahmadiyah, menjadi isu sentral pembubaran FPI. Baik SBY maupun para liberalis dan non-Muslim yang tergabung dalam AKKBB (termasuk kelompok sesat Ahamdiyah) diuntungkan. (bersambung/rizki)

Kejadian rusuh yang diakibatkan provokasi massa AKKBB terhadap para laskar Islam siang itu (1/6) di Monas berlangsung cepat. Para korlap dari umat Islam berusaha menenangkan massanya yang marah. Untunglah korban luka hanya beberapa orang dan tidak ada yang parah. Namun oleh media massa cetak maupun teve yang dikuasai jaringan liberal Islam dan juga non-Muslim, peristiwa yang sebenarnya biasa saja ini diblow-up sedemikian rupa bagaikan sebuah peristiwa genosida yang memakan korban ratusan ribu nyawa. Penguasaan media massa, di sinilah titik lemah umat Islam Indonesia.

Sehari setelah peristiwa, Kuasa Usaha Kedubes Amerika Serikat John A Heffern menjenguk empat anggota AKKBB di RSPAD, Jakarta. Dalam kunjungannnya, John menyalami dan berbincang dengan mereka. Keempatnya adalah Manager Program Jurnal Perempuan Guntur Romli (salah satu pentolan JIL), Direktur ICIP Syafii Anwar, dan dua anggota kelompok sesat Ahmadiyah yakni Dedi C Ahmad dan Taher.

Pada hari yang sama, dan ini yang mengejutkan, Presiden SBY dengan amat cepat merespon peristiwa tersebut. Padahal presiden yang satu ini dikenal sebagai seseorang yang lamban dan peragu dalam mengambil sikap. Hanya sehari setelah kejadian, SBY menggelar jumpa pers mendadak di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta. Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, adik dari tokoh JIL Rizal Mallarangeng mengingatkan para jurnalis untuk tidak memotong pernyataan presiden dalam medianya. “Karena ini menyangkut isu yang sensitif, ” demikian Andi.

Secara lengkap, ini adalah pernyataan SBY soal bentrokkan di Monas: “Saya sangat menyesalkan terjadinya kekerasan di Jakarta kemarin siang. Saya mengecam keras pelaku-pelaku tindak kekerasan itu yang menyebabkan sejumlah warga kita luka-luka.

Negara kita adalah negara hukum yang punya UUD, UU dan peraturan yang berlaku, bukan negara kekerasan. Oleh karena itu terkait insiden kekerasan kemarin, saya minta hukum ditegakkan. Pelaku-pelakunya diproses secara hukum diberikan sanksi hukum yang tepat.

Ini menunjukkan negara tidak boleh kalah dengan perilaku-perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.


Saya meminta masyarakat luas mengingat akhir-akhir ini banyak kegiatan fisik di lapangan, sebagian adalah unjuk rasa sebagian lagi bukan. Tapi di satu kota bersamaan sering terjadi berbagai kegiatan fisik dengan tujuan, motif dan tema berbeda. Saya harap semua pihak tetap tertib mengendalikan diri. Apa yang disampaikan kepada kepolisian, itu dijalankan. Karena itu janjinya kepada kepolisian sehingga pengamanan bisa dilakukan.


Kalau ada masalah di antara komponen masyarakat, solusinya bukan dengan kekerasan, tapi solusi damai. Sesuai dengan semangat kita, UUD, UU dan peraturan yang berlaku.

Kepada kepolisian, saya meminta agar meningkatkan kinerjanya. Tantangannya tidak ringan, permasalahannya kompleks. Oleh karena itu kepolisian di seluruh tanah air khususnya Jakarta dan kota besar lain, lebih cepat dan profesional agar semua bisa ditangani dengan baik.


Memang ada dinamika, ada kegiatan yang tiba-tiba datang seperti kekerasan yang terjadi kemarin. Tapi kepolisian tetap melakukan pencegahan.

Tegas! Jangan memberikan ruang untuk keluar dari apa yang kita kehendaki. Kepada seluruh rakyat mari kita jaga baik-baik negeri ini, kita jaga kehormatan bangsa di negeri sendiri dan dunia internasional.


Tindakan kekerasan kemarin yang dilakukan oleh organisasi tertentu, orang-orang tertentu mencoreng nama baik negara kita di negeri sendiri maupun dunia.

Jangan mencederai seluruh rakyat Indonesia dengan gerakan-gerakan dan tindakan seperti itu. Demikian pernyataan saya, terima kasih.”


Sehari setelah SBY mengeluarkan Lalu (3/6/2008), Kedubes AS mengeluarkan rilis yang disampaikan kepada berbagai media massa Indonesia. Kedubes AS menyatakan jika tindak kekerasan seperti yang terjadi di Monas menimpa massa AKKBB akan memiliki dampak yang serius bagi kebebasan beragama dan berkumpul di Indonesia dan akan menimbulkan masalah keamanan. Kedubes AS juga prihatin terhadap para korban yang terluka dan pihaknya pun menyambut baik sikap SBY agar para pelaku tindak kejahatan segera ditindak secara hukum. Tidak sampai di sini, Kedubes AS pun mendesak pemerintah SBY untuk terus menjunjung kebebasan beragama bagi para warga negaranya sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.


Di sebagian besar media massa, cetak maupun teve, peristiwa ini mendapat porsi pemberitaan yang sangat besar dengan pemihakan yang sangat kentara. Yang sangat kasar dalam hal ini adalah Metro TV. Dalam aneka acara, Metro TV menyebut Habib Rizieq hanya dengan “Rizieq Shihab”, sedangkan Abdurrahman Wahid dengan sebutan Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid. Angle pemberitaan pun terasa sekali, bahkan kasar, mencitra-burukkan FPI sebagai organisasi massa yang haus darah, beringas bagaikan preman, dan wajib dibubarkan.

Apa yang dilakukan Metro TV sebenarnya tidaklah aneh karena stasiun teve ini memang sejak lama telah mengakomodir orang-orang dari kelompok liberal dan bukan rahasia umum lagi jika banyak siarannya sangat Americanized. Bagi sebagian kalangan, stasiun teve ini adalah CNN-nya Indonesia.

Lantas, di manakah letak hubungannya dengan kepentingan Zionis-Yahudi, apakah itu bernama Zionis Amerika atau Zionis Israel?


Jika kita jeli, maka AKKBB ini merupakan sebuah aliansi cair dari dua kubu yakni kaum Liberal seperti JIL dan juga kubu non-Muslim seperti KWI dan PGI. Bukan rahasia umum lagi jika JIL merupakan perpanjangan tangan kepentingan Zionis di Indonesia untuk menghancurkan Islam dari dalam. Keterangan tentang hal ini tidak perlu dibahas lagi. Salah satunya silakan lihat situs www.libforall.com dan juga tulisan di eramuslim.com, rubrik Nasional dengan judul “Di mana Habib Rizieq dan Abdurrahjan Wahid Sebelum Kasus Monas” (Ahad, 8/6) tentang Abdurrahman Wahid.

Arah dan strategi pemberitaan sebagian besar media massa kita—cetak maupun teve—secara kasar memang terlihat tidak profesional dan memihak kubu pro-Ahmadiyah. Hal ini sebenarnya berangkat dari strategi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank Amerika yang ingin menghancurkan Islam di Indonesia.

Dalam tulisan keempat akan dipaparkan isi dari strategi Rand Corporation yang ditulis oleh Cheryl Bernard. (bersambung/rizki)

Strategi yang dilakukan kelompok liberal dan juga para sekutunya di Indonesia untuk menghancurkan gerakan-gerakan Islam—termasuk Front Pembela Islam (FPI), adalah dengan dua cara utama: Strategi Izharul Islam, yakni berpura-pura sebagai bagian dari kelompok umat Islam Indonesia namun dari “dalam” menghancurkan Islam itu sendiri.

Dalam sejarah negeri ini, strategi Izharul Islam telah diperkenalkan oleh seorang orientalis Yahudi Belanda bernama Snouck Hurgronje yang berpura-pura menjadi seorang Muslim namun dikemudian hari terbukti bahwa Hurgronje merupakan musuh dalam selimut. Demikianlah yang dikerjakan kaum liberal di Indonesia.

Strategi kedua adalah dengan memecah-belah umat Islam Indonesia (devide et Impera). Mereka memecah umatan tauhid ini dengan istilah-istilah kaum pembaharu dan kaum tradisional, kaum radikal dan kaum moderat, Islam liberal dan Islam Literal, bahkan Jaringan Rahmatan Alamin (maksudnya “Islam” yang berbaik-baik dengan Zionis-Yahudi seperti halnya Abdurrahman Wahid dan kawan-kawan) berhadapan dengan Jaringan Terorisme. Suatu istilah yang keji yang dipakai secara terang-terangan di situs libforall.com.

Guna meracuni opini publik maka senjata utama mereka adalah media massa, baik cetak (majalah, koran, tabloid, dan aneka penerbitaan buku), radio, situs dan aneka milis, maupun teve. Serangan media massa jaringan liberal ini secara kasar terlihat sekali dalam memberitakan apa yang terjadi setelah peristiwa benrokkan di Monas, 1 Juni 2008.

Mereka beramai-ramai berusaha keras membentuk opini publik bahwa FPI harus dibubarkan karena meresahkan masyarakat, radikal, bahkan disebut sebagai ‘barisan preman berjubah’. Di sisi lain mereka menayangkan aneka liputan tentang bagaimana tertindasnya kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka sama sekali tidak memuat sejumlah fakta bahwa AKKBB sebenarnya menyalahi rute aksi di hari tersebut, memprovokasi dan menantang FPI terlebih dahulu, bahkan ada peserta demonya yang membawa-bawa senjata api.

Padahal bisa dibayangkan, andaikata yang membawa senjata api itu salah seorang anggota FPI, maka dalam waktu sekejap pasti dunia internasional sudah mengetahuinya, bahkan tidak mustahil Kedubes AS akan segera menekan SBY untuk menangkap si pelaku.Dan SBY segera memerintahkan Kapolri untuk menurunkan Pasukan Elit Polri Densus 88 untuk memburunya.

Apa yang dilakukan media massa pro-liberal ini sesungguhnya mengikuti arahan yang sudah ditulis oleh Cheryl Bernard dari think-tank Zionis Amerika (kelompk Neo-Con di mana salah satu pentolannya adalah Paul Wolfowitz, si Zionis-Yahudi Gedung Putih, teman dekat Abdurrhaman Wahid) bernama Rand Corporation dalam artikelnya yang berjudul “CIVIL DEMOCRATIC ISLAM, PARTNERS, RESOURCES, AND STRATEGIES”. Inilah artikelnya:

STRATEGI: PECAH BELAH KELOMPOK ISLAM

Langkah pertama melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan kecenderungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi.

Pertama : Kelompok Fundamentalis: menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.

Kedua : Kelompok Tradisionalis: ingin suatu masyarakat yang konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.


Ketiga: Kelompok Modernis: ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.

Keempat : Kelompok Sekularis: ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan antara agama dan negaradengan cara seperti yang dilakukan negara-negara demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.

STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA

Setelah membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan antara NU yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang Barat sering disebut Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau MMI.

Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya:

Pertama, Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis) dengan,

Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi,
Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda,
Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam,
Memberikan mereka suatu platform publik
Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.
Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan “counterculture” bagi kaum muda Islam yang tidak puas.
Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.
Membantu dalam membangun organisasi-organisasi sipil yang independent, untuk
Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka.
Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists : Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain,

Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.
Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.
Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan Kaum modernis.
Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik „Islam pinggiran” yang kabur. Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.
Menambah kehadiran dan profil kaum modernis pada lembaga-lembaga tradisionalis.
Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda. Mendorong orang-orang dengan ketertarikan yang lebih besar atas modernisme, seperti pada Mazhab Hanafi, lawan yang lainnya. Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham Wahhabi yang terbelakang. Hal ini berkaitan dengan pendanaan. Uang dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab Hambali yang konservatif. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian dari Dunia Islam yang lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan tafsir dari Hukum Islam.
Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme.
Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain:

Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak akuratannya.
Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktiviats illegal.
Mengumumkan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
Menunjukkan ketidak mampuan mereka untuk memerintah, untuk mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.
Mengamanatkan pesan-pesan ini kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.
Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.
Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.
Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.
Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler:

Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama, mematahkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideology kiri.
Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa Hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya. Pendekatan manapun atau kombinasi pendekatan manapun yang diambil, kami sarankan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja dan secara hati-hati, dengan mengetahui beban simbolis dari isu-isu yang pasti; konsekuensi dari penyesuaian ini bagi pelaku-pelaku Islam lain, termasuk resiko mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang kita berusahah bantu; dan kesempatan biaya-biaya dan konsekuensi afiliasi yang tidak diinginkan dan pengawasan yang tampaknya pas buat mereka dalam jangka pendek.
KELEMAHAN UMAT ISLAM INDONESIA

Umat Islam Indonesia sebenarnya kuat, kompak, dan berjuang menegakkan Islam dengan ikhlas, bahkan jika perlu nyawa pun jadi taruhannya. Hanya saja, kelemahan yang paling mendasar adalah umatan tauhid ini tidak memiliki media massa yang kuat, apakah itu koran atau stasiun teve.

Dan amat disayangkan pula, sebagian pemimpin umat ini sekarang sudah banyak yang dijangkiti penyakit wahn, yakni cinta dunia melebihi kecintaannya pada akherat, sehingga membeli mobil mewah seperti Bentley yang satu unitnya miliaran rupiah mampu, tapi membuat satu harian untuk kemashlahatan umat, mengaku tidak mampu. Padahal Bentley tidak akan bisa dibawa ke liang kubur.

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan umatan tauhid ini seorang pemimpin yang sungguh-sungguh menegakkan dan menghidup Islam, bukan malah hidup dengan menunggangi umat Islam. Amien Ya Allah! (Tamat/Rizki)

Penjajahan Korporasi Asing Atas Migas Indonesia

Penjajahan Korporasi Asing Atas Migas Indonesia
Minggu, 2 Mar 08 07:24 WIB


Pada saat kami menuliskan release ini, Christopher Lingle di harian Jakarta Post (20/02/08), dalam artikel yang berjudul "Restoring Indonesia's economy to a higher growth path" mencatat bahwa pengangguran di Indonesia mencapai 40% dari total angkatan kerja. Selain itu, Bank Dunia menyebutkan sekitar 49, 5% Rakyat Indonesia berpendapatan di bawah 2US$/hari. Di sektor pendidikan, yang menjadi pilar utama pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), justru menggambarkan situasi yang lebih miris. Menurut data Susenas 2004, dari penduduk usia sekolah 7–24 tahun yang berjumlah 76, 0 juta orang, yang tertampung pada jenjang SD sampai dengan PT tercatat baru mencapai 41, 5 juta orang atau sebesar 55 persen.

Sementara itu, menurut data Balitbang Depdiknas 2004, angka putus sekolah atau drop-out di tingkat SD/MI tercatat sebanyak 685.967 anak, yang berhasil lulus SD/MI tetapi tidak melanjutkan ke jenjang SMP/MTs dan putus sekolah di tingkat SMP/MTs sebanyak 759.054 orang. Situasi ini sangat kontras dengan nilai profit kandungan kekayaan alam yang dimiliki oleh tanah air kita, yang justru memberikan kemakmuran melimpah kepada korporasi-korporasi asing.


Dalam laporan pendapatannya untuk tahun 2007, pihak ExxonMobil memperoleh keuntungan sebesar $40.6 Billion atau setara dengan Rp3.723.020.000.000.000 (dengan kurs rupiah 9.170). Nilai penjualan ExxonMobil mencapai $404 billion, melebihi Gross Domestic Product (GDP) dari 120 negara di dunia. Setiap detiknya, ExxonMobil berpendapatan Rp 11.801.790, sedangkan perusahaan minyak AS lainnya, Chevron, melaporkan keuntungan yang diperolehnya selama tahun 2007 mencapai $18, 7 billion atau Rp171.479.000.000.000. Royal Ducth Shell menyebutkan nilai profit yang mereka dapatkan selama setahun mencapai $31 milyar atau setara dengan Rp 284.270.000.000.000.

Keuntungan yang diperoleh korporasi-korporasi Negara imperialis ini tidaklah setara dengan Produk Domestic Bruto (PDB) beberapa Negara dunia ketiga, tempat korporasi tersebut menghisap. Hingga akhir tahun 2007, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia belum sanggup menembus Rp4.000 Trilyun, untuk triwulan ke III tahun 2007 saja hanya mencapai Rp 2.901. trilyun. Untuk Negara penghasil minyak lainnya, Libya hanya 50.320 juta US$, Angola (44, 033 juta US$), Qatar (42, 463US$), Bolivia (11.163 juta US$), dan lain-lain.

Konfigurasi ini memperlihatkan pengalihan keuntungan eksplorasi tambang, baik migas maupun non-migas, di Negara-negara penghasil justru dinikmati oleh grup-grup korporasi dan Negara induknya. Di Indonesia, menurut laporan Energy information Administration (EIA) dalam laporannya (jan/08) mengatakan bahwa total produksi minyak Indonesia rata-rata 1, 1 juta barel per-hari, dengan 81% (atau 894.000 barel) adalah minyak mentah (crude oil). Untuk produksi gas alam, Indonesia sanggup memproduksi 97.8 juta kubik. Indonesia masuk dalam daftar ke 9 penghasil gas alam di dunia, dan merupakan urutan pertama di kawasan Asia Pasifik.

Sayangnya, hampir 90% dari total produksi tersebut berasal dari 6 MNC, yakni; Total (diperkirakan market share-nya di tahun 2004, 30%), ExxonMobil (17%), Vico (BP-Eni joint venture, 11%), ConocoPhillips (11%), BP (6%), and Chevron (4%). Sedang, stok gas bumi mencapai 187 triliun kaki kubik atau akan habis dalam waktu 68 tahun dengan tingkat produksi per tahun sebesar 2, 77 triliun kaki kubik. Cadangan batu bara ada sekitar 18, 7 miliar ton lagi atau dengan tingkat produksi 170 juta ton per tahun berarti cukup buat memenuhi kebutuhan selama 110 tahun. (Sumber: Kementerian ESDM).

Bandingkan dengan kebutuhan untuk pendidikan! Berdasarkan kajian Balai Penelitian dan Pengembangan Depdiknas, biaya ideal seorang siswa SD per tahun adalah Rp 1, 68 juta. Data Depdiknas menunjukkan, siswa setingkat SD se-Indonesia sekitar 25, 5 juta. Jadi untuk menggratiskan pendidikan di SD (minus infrastruktur) adalah 42.8 trilyun. Berdasarkan data Balitbang 2003 mengenai kondisi bangunan SD seluruh Indonesia, 32, 2 persen rusak ringan, rusak berat ada 25 persen. SLTP yang rusak ringan 19, 9 persen, rusak berat 7, 4 persen. Padahal, untuk memperbaiki sebuah gedung sekolah hanya membutuhkan dana paling banyak Rp100 juta, nilai ini sangat kecil jika dibandingkan dengan share profit di sector pertambangan yang menguap keluar.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Cadangan minyak Indonesia pada tahun 1974 sebesar 15.000 metrik barel dan terus mengalami penurunan. Pada tahun 2000 cadangan minyak Indonesia sekitar 5123 metrik barel (MB) dan tahun 2004 menjadi sekitar 4301 MB. Penyebab dari turunnya cadangan minyak Indonesia adalah; pertama Ladang-ladang pengeboran minyak di Indonesia (milik Pertamina) sudah sangat tua, sebagian besar masih peninggalan penjajah Belanda. Kebanyakan sumur-sumur yang ada sudah tua, teknologi yang digunakan pun sudah ketinggalan zaman.

Tidak ada revitalisasi technologi, tidak ada pembenahan struktur dalam perusahaan Migas, dan tidak ada upaya pemerintah untuk memberikan perlakukan khusus bagi perusahaan tambang dalam negeri. Ini semua menyebabkan kemampuan dan kapasitas produksi untuk penerimaaan pemerintah semakin mengecil. PT Pertamina (Persero) menargetkan: laba bersih tahun ini hanya Rp17, 8 triliun atau turun 27, 3 persen dibandingkan laba bersih 2007 sebesar Rp24, 5 triliun. Jadi, merupakan sebuah ironi, korporasi-korporasi asing yang bereksplorasi di wilayah yang sama, memperoleh keuntungan maksimum, sedangkan Pertamina mengalami penurunan laba (keuntungan).

Penyebab kedua, turunnya cadangan minyak Indonesia adalah sebagian besar ladang-ladang minyak Indonesia dikuasai oleh korporasi asing (MNC), seperti BP, Chevron, CNOOC, ConocoPhillips, ExxonMobil, Inpex, KG, Mitsubishi, Nippon Oil, PetroChina, Petronas, Total, Vico. Dengan pembangunan pipeline (jalur onshore dan jalur offshore) yang bisa mengalirkan minyak hasil eksplorasi dari berbagai blok minyak di Indonesia ke Singapore power, menyebabkan potensi hilangnya minyak Indonesia semakin besar. Ini masih ditambah dengan ketidaksanggupan pemerintah mengontrol secara tegas produksi murni dari korporasi (MNC).

Berpatokan kepada UU Migas Nomor 22/2001, pembagian keuntungan pihak Indonesia (Cq. Pemerintah) dan korporasi dilakukan dalam skema Production Sharing Contract (PSC), di mana pertamina telah menjadi bagian dari Kontraktor kontrak Kerja Sama (KKKS). Dalam skema PSC yang ada sekarang, Cost Recovery (CR) sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Indonesia. Cost recovery minyak mentah Indonesia mencapai US$9, 03 per barel, sedangkan rata-rata cost recovery minyak mentah dunia sekitar US$4-US$6 per barel. Jadi, cost recovery Indonesia lebih tinggi sekitar 75 persen -125 persen per barel, dibandingkan rata-rata negara produsen minyak mentah di dunia.

Apakah ada masalah dengan biaya cost recovery ini? Iya, audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan pada penggunaan cost recovery periode 2000-2006 terhadap 152 kontraktor senilai Rp122, 68 triliun, ditemukan indikasi penyimpangan pada 43 kontraktor senilai Rp18, 07 triliun. Perhitungan cost recovery sebenarnya hanya beban atas kegiatan eksplorasi migas, yang meliputi biaya produksi pengangkatan minyak (lifting) dan biaya investasi. Tapi kenyataannya, dalam kontrak yang dibuat kontraktor dengan pemerintah, tak ada batasan yang tegas. Akibatnya, banyak komponen biaya lain seperti renovasi rumah dinas, biaya berobat, hiburan bahkan kegiatan tanggung jawab sosial (CSR). Ini mungkin yang membuat biaya tersebut membengkak. (sumber: jurnal nasional)

Skema bagi hasil Pemerintah Indonesia dan pihak korporasi memang sangat tidak adil, sangat merugikan pihak Indonesia, namun, beberapa elit politik justru memanfaatkan isu ini demi kepentingan politiknya, bukan untuk kepentingan rakyat. Seandainya, Indonesia mau melakukan peninjauan ulang kontrak karya dengan semua KKS, alasan legal formalnya sangat dibenarkan, mengingat ada bukti-bukti penyimpangan yang disimpulkan BPK. Peraih Nobel Ekonomi 2001 Joseph E. Stiglitz waktu datang ke Indonesia, menyatakan eksploitasi yang dilakukan perusahaan multinasional di negara berkembang sering kali dianggap sepenuhnya sah. Sebagian besar negara berkembang dinilainya tidak mampu terlibat dalam negosiasi canggih yang melibatkan perusahaan-perusahaan multinasional. Dia menduga negara-negara itu tidak mengerti implikasi penuh dari setiap klausul di dalam kontrak. Untuk Indonesia pun, Stiglitz menyarankan agar berani melakukan negosiasi ulang.

Karena proses perampokan kekayaan alam Indonesia ini sepenuhnya dilegitimasi oleh perundang-undangan pemerintah Indonesia, maka tidak ada jalan lain, rakyat Indonesia harus melakukan nasionalisasi (pengambil-alihan) terhadap seluruh perusahaan tambang asing tersebut. Langkah ini merupakan jalan yang tepat dan sanggup menyelamatkan kekayaan alam yang seharusnya diperuntukkan untuk rakyat Indonesia. Pada Hari Buruh Internasional, Morales resmi mengumumkan nasionalisasi 20 perusahaan minyak dan gas asing. Pengumuman langsung didukung tindakan dengan mengirim tentara Bolivia ke ladang minyak dan gas alam. Penempatan pasukan militer itu merupakan simbol bahwa instalasi minyak dan gas itu telah menjadi milik negara Bolivia. Gara-gara dekrit itu, penerimaan Bolivia disektor migas melonjak menjadi US$780 juta (sekitar Rp7 triliun) pada tahun 2007. Jumlah itu enam kali lipat disbanding penerimaan pada 2002. Bagaimana jika perusahaan asing menolak? "Mereka boleh pergi, " ujar Menteri Energi Andres Soliz.

Di Indonesia, di bawah Bung Karno, pemerintahan Soekarno mengeluarkan kebijakan UU No. 86/1958 tentang nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, termasuk sektor pertambangan. Selain itu, Bung Karno memberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1960 yang mempertegas pengelolaan minyak dalam kontrol Negara. Setelah itu, Bung Karno menyerahkan skema profit-sharing agreement (PSA) yakni 60:40, ditambah kebijakan lain seperti MNC wajib menyerahkan 25 persen area eksplorasi setelah 5 tahun dan 25 persen lainnya setelah 10 tahun. Selain itu, MNC wajib menyediakan kebutuhan untuk pasar domestik dengan harga tetap dan menjual aset distribusi-pemasaran setelah jangka waktu tertentu. Skema Bung Karno langsung disetujui oleh presiden AS saat itu, John F Kennedy, dan tiga raksasa minyak dunia (Stanvac, Caltex, dan Shell). Cerita sukses Bung Karno itu bisa dilihat dalam prestasi sektor pendidikan, yakni Tingkat melék huruf naik dari 10 ke 50 persen (1960). Biaya pendidikan pada masa itu juga sangat murah.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka kami dari Eksekutif Nasional- Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN-LMND), menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Nasionalisasi perusahaan pertambangan asing untuk kepentingan pendidikan gratis dan berkualitas.

2. Tinjau-ulang kontrak karya dengan seluruh KKS karena telah merugikan pihak Indonesia.

3. Cabut semua paket perundang-undangan (regulasi) yang mensahkan korporasi asing menjarah kekayaan alam bangsa kita.

4. Industrialisasi Nasional; Pemerintah harus memfasilitasi pembangunan dan penguatan Industri pertambangan Negara yang tangguh dan modern, baik di sektor hulu sampai ke hilir.

Demikian release ini kami buat. Atas perhatiannya, kami ucapkan banyak terima kasih.

(Pers Rilis, Jakarta, 22 februari 2007, EksNas-LMND)

BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk

BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk
Rabu, 21 Mei 08 18:30 WIB


Kenapa pemerintah SBY-JK ngotot menaikkan harga BBM? Ternyata, hal itu dilakukan agar segera mencapai tingkat harga yang diinginkan oleh pemain asing. Jadi kenaikan BBM itu tidak untuk rakyat dan tidak juga untuk menyelamatkan APBN.

Demikian disampaikan Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, saat berbicara di depan ratusan peserta acara diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38, bertema BBM Naik, SBY-JK Turun?, di Jakarta, Senin (19/5).


Menurut Ismail, kesimpulan itu berdasarkan pernyataan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro yang ditulis di Kompas, 14 Mei 2003. Purnomo mengatakan, “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.”


Meski pernyataan itu sudah lama, tapi menurut Ismail kita baru menemukan faktanya sekarang. “Ini ironi, kita membeli minyak milik kita sendiri di halaman rumah kita, dengan harga yang ditentukan oleh asing, ” ujar Yusanto.

Saat ini saja, tambahnya, mengutip pernyataan Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Majalah Trust (edisi 11/2004), terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU). Perusahaan migas raksasa itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Serikat Pekerja Pertamina, Abdullah Sodik. Menurutnya, problem kelangkaan BBM itu sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya sistem yang diberlakukan pemerintah, yang membuka peluang privatisasi pengelolaan gas. “Serta memberikan kewenangan kepada perusahaan asing dan domistik untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Bahkan dibiarkan juga untuk menetapkan harga, ” ujarnya.

Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independent menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen, ” terang Sodik.

Melihat fakta itu logis bila kemudian kita mengalami masalah dengan BBM. Logis pula bila rakyat banyak yang menolak rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi itu. Sebab rakyat lah akan menjadi korban akibat kebijakan yang tidak populis ini.

”Saya juga tidak setuju kenaikan BBM, ” ujar Abdullah Sodik. “Kita harus menyadari minyak bumi itu bukan dibuat oleh pemerintah. Tapi minyak bumi itu dibuat oleh Allah. Karena itu rakyat berhak mendapatkan subsidi. Kenapa ketika pemerintah menyubsidi rakyat sendiri pemerintah kalang kabut, ” tambahnya.

Ekonom Tim Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, juga tidak sepakat bila harga BBM dinaikkan. Pertimbangannya adalah ekonomi. Ketika pemerintah mengatakan kita akan kolaps kalau tidak segera menaikkan harga BBM, maka publik harus tahu bahwa yang dimaksud kolaps menurut pemerintah itu adalah APBN. Sementara APBN itu terhadap kue ekonomi besarnya hanya 20 persen. “Jadi kalau harga BBM dinaikan, maka yang kena dampaknya 80 persen adalah rumah tangga dan industri, ” ujarnya.

Hendri mengatakan, kalau ada kenaikan harga minyak dunia, jika memang pemerintah itu akan menyelamatkan APBN maka semestinya pos yang boleh dikotak katik tidak hanya subsidi BBM. Karena kita punya pos-pos lain yang dalam kondisi darurat mestinya bisa direvisi. “Kenapa yang halal hanya subsidi BBM, kenapa pembayaran utang luar negeri menjadi tidak halal, ” ujar Hendri heran.

Ismail menegaskan ini semua terjadi karena adanya liberalisasi di sektor migas, yang merupakan bagian dari liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, liberalisasi sosial, budaya, pendidikan. Inilah yang harus dilawan. Sebab Indonesia makin hari makin menuju kepada negara liberal. “Dan siapa yang menjadi korban, kita semua, ” terangnya.

Solusi

Seperti dikatakan Hendri Saparini, pemerintah seharusnya tidak menaikan harga BBM, sebab masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN, terkait meningkatnya harga minyak dunia itu. Peserta Diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38 mengusulkan solusi jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah:

Pertama, pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun.

Kedua, pemotongan bunga utang 95 triliun,

Ketiga, Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM.

Keempat, membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing.

Dan kelima, mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara.

Terkait dengan wacana nasionalisasi perusahaan asing, Hendri Saparini mengatakan, “Kita memang selalu sering dicekoki bahwa nasionalisasi itu tidak boleh. Padahal banyak fakta, ketika negara lain melakukan nasionalisasi tidak ada masalah...Fakta terbaru, Inggris barus saja melakukan nasionalisasi bank –nya. Jadi jangan kita kemudian ditakut-takuti oleh sesuatu yang sebenarnya itu bisa terjadi di negara-negara maju, ” ujar Hendri.

Bukan hanya nasionalisasi, kata Hendri, kita juga selalu ditakut-takuti siapa pun yang menjadi presidennya dia pasti menaikan harga BBM. Padahal jawabannya tidak. “Pertama untuk beban subsidi misalnya, sekarang ini PLN masih menggunakan BBM. Kalau kemudian kita mengganti dengan gas maka tidak perlu ada tambahan subsidi. Masih juga ada hal lain. Jadi tidak sama. Bukan siapa pun presidennya akan menaikkan BBM, tapi kalau kebijakannya sama maka akan menaikkan BBM juga, ” ujar Hendri.

Ismail Yusanto mengatakan, kesalahan utama pengelolaan migas dan SDA kita adalah terjadinya transpormasi atau perpindahan dari State Business Management ke Coorporate Business Management. Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah mengembalikan bagaimana agar entitas negara itu kembali menjadi pilar utama pengelolaan SDA, termasuk migas. Untuk itulah, katanya perlu dilakukan perubahan total atas UU migas dan PMA yang ada. Juga perubahan atas mind set ideologi yang ada. [LI/Abu Ziad]

Orientalisme dan Al-Quran: Kritik Wacana Keislaman Mutakhir

Orientalisme dan Al-Quran: Kritik Wacana Keislaman Mutakhir
Kamis, 14 Pebruari 2008
Kalangan orientalis seperti Arthur Jeffery dan kawan-kawan bersemangat ingin “mengkorupsi” keotentikan Al-Quran. Namun hingga kini tetap kokoh

“Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani,” kutipan ini adalah pernyataan Alphonse Mingana, seorang pendeta Kristen asal Iraq dan mantan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris. Pernyataan itu ia sampaikan tahun 1927.

Mengapa pendeta Kristen yang juga orientalis ini mengatakan seperti itu? Tentu saja, ia bukan sedang bergurau. Pernyataan orientalis-missionaris satu ini karena dilatarbelakangi oleh kekecewaan sarjana Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan juga disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci nya Al-Quran.

Perlu diketahui mayoritas ilmuwan dan cendekiawan Kristen telah lama meragukan otentisitas Bible. Mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa Bible yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti bukan asli alias palsu. Terlalu banyak campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sukar untuk dibedakan mana yang benar-benar Wahyu dan mana yang bukan.

Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Kurt Aland dan Barbara Aland, dalam The Text of the New Testament (Michigan: Grand Rapids, 1995). Menurut Barbara, sampai pada permulaan abad keempat, teks Perjanjian Baru dikemmengembangkan secara leluasa. Yang jelas banyak yang melakukan koreksi.

Pandangan seperti ini tidaklah sendiri. Saint Jerome, seorang rahib Katolik Roma yang belajar teologi juga mengeluhkan fakta banyaknya penulis Bible yang diketahui bukan menyalin perkataan yang mereka temukan, tetapi malah menuliskan apa yang mereka pikir sebagai maknanya. Sehingga yang terjadi bukan pembetulan kesalahan, tetapi justru penambahan kesalahan.

“Mereka menuliskan apa yang tidak ditemukan tapi apa yang mereka pikirkan artinya; selagi mereka mencoba meralat kesalahan orang lain, mereka hanya mengungkapkan dirinya sendiri,” ujar Jerome sebagaimana dikutip dalam The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption and Restoration (1992).

Disebabkan kecewa dengan kenyataan semacam itu, maka pada tahun 1720 Master of Trinity College, R. Bentley, menyeru kepada umat Kristen agar mengabaikan kitab suci mereka, yakni naskah Perjanjian Baru yang diterbitkan pada tahun 1592 versi Paus Clement. Seruan tersebut kemudian diikuti oleh munculnya "edisi kritis" Perjanjian Baru hasil suntingan Brooke Foss Westcott (1825-1903) dan Fenton John Anthony Hort (1828-1892).

Tentu saja Mingana bukan yang pertama kali melontarkan seruan semacam itu, dan ia juga tidak sendirian. Jauh sebelum dia, tepatnya pada tahun 1834 di Leipzig (Jerman), seorang orientalis bernama Gustav Fluegel menerbitkan 'mushaf' hasil kajian filologinya. Naskah yang dibuatnya itu ia namakan Corani Textus Arabicus. Naskah ini sempat dipakai “tadarrus” oleh aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain Flegel, datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kemudian muncul Theodor Noeldeke yang ingin merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh segelintir kaum Liberal di Indonesia.

Juga Arthur Jeffery yang datang tahun 1937 yang berambisi membuat edisi kritis Al-Quran, mengubah Mushaf Utsmani yang ada dan menggantikannya dengan mushaf baru. Orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American University Cairo dan menjadi guru besar di Columbia University ini, konon ingin merestorasi teks Al-Quran berdasarkan Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Dawuud as-Sijistaani yang ia anggap mengandung bacaan-bacaan dalam ‘mushaf tandingan’ (ia istilahkan dengan ‘rival codices’). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergstraesser dan Otto Pretzl yang pernah bekerja keras mengumpulkan foto lembaran-lembaran (manuskrip) Al-Quran dengan tujuan membuat edisi kritis Al-Quran (tetapi gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia ke-II berkecamuk), sebuah ambisi yg belum lama ini di “amini” kan oleh Taufik Amal dari JIL. Saking antusiasnya terhadap qira’aat-qira’aat pinggiran alias ‘nyleneh’ (Nichtkanonische Koranlesarten) Bergstraesser lalu mengedit karya Ibn Jinni dan Ibn Khalaawayh.

Kajian orientalis terhadap kitab suci Al-Quran tidak sebatas mempertanyakan otentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan Al-Quran (theories of borrowing and influence). Sebagian mereka bahkan berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi 'teori pinjaman dan pengaruh' itu, terutama dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristen (semisal Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain). Ada pula yang membandingkan ajaran Al-Quran dengan adat-istiadat Jahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. Biasanya mereka katakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Quran banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat.

Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson, " “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. Al-Quran] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha.” Tapi, bagaimanapun, segala upaya mereka tak ubahnya bagaikan buih, timbul dan pergi begitu saja, berlalu tanpa pernah berhasil mengubah keyakinan dan penghormatan umat Islam terhadap kitab suci Al-Quran, apatah lagi membuat mereka murtad.

Kekeliruan & Khayalan Orientalis

Al-Quran merupakan target utama serangan missionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah saw. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen, dan lain-lain. Karena itu mereka sibuk merekonstruksi biografi Nabi Muhammad saw. khususnya dan sejarah Islam umumnya. Mereka ingin umat Islam melakukan hal yang sama seperti mereka telah lakukan terhadap Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. Bagi mereka, Musa atau 'Moses' cuma tokoh fiktif belaka (invented, mythical figure) dalam dongeng Bibel, sementara tokoh ‘Jesus’ masih diliputi misteri dan cerita-cerita isapan-jempol.

Dalam logika mereka, jika ada upaya pencarian 'Jesus historis', mengapa tidak ada usaha menemukan fakta sejarah hidup Nabi Muhammad saw? Demikian seru mereka.

Muncullah Arthur Jeffery yang menulis The Quest of the Historical Mohammad, dimana ia tak sungkan-sungkan menyebut Nabi Muhammad saw sebagai "kepala perampok" (robber chief). Usaha Jeffery tersebut diteruskan oleh F. E. Peters dan belum lama ini dilanjutkan oleh seseorang yang menyebut dirinya "Ibn Warraq."

Missionaris-orientalis tersebut tidak menyadari bahwa tulisan mereka sebenarnya hanya menunjukkan hatred (kebusukan-hati) dan kebencian mereka terhadap tokoh dan agama yang mereka kaji, sebagaimana disitir oleh seorang pengamat; “The studies carried out in the West … have demonstrated only one thing : the anti-Muslim prejudice of their authors.”

Sikap semacam ini juga nampak dalam kajian Orientalis terhadap hadits. Mereka menyamakan Sunnah dengan tradisi apokrypha dalam sejarah Kristen atau tradisi Aggada dalam agama Yahudi. Dalam khayalan mereka, teori evolusi juga berlaku untuk sejarah hadits. Mereka berspekulasi bahwa apa yang dikenal sebagai hadits muncul beberapa ratus tahun sesudah Nabi Muhammad saw. wafat, bahwa hadits mengalami beberapa tahap evolusi. Nama-nama dalam rantai periwayatan (sanad) mereka anggap tokoh fiktif. Penyandaran suatu hadits secara sistematik (isnad), menurut mereka, baru muncul pada zaman Daulat Abbasiyyah. Karena itu, mereka beranggapan bahwa dari sekian banyak hadits hanya sedikit saja yang sahih, manakala sisanya kebanyakan palsu. Demikian pendapat Goldziher, Margoliouth, Schacht, Cook, dan para pengikutnya.

Pendapat ini telah banyak dikutip. Diantaranya dalam Muhammedanische Studien (Halle, 1889), On Muslim Tradition," Muslim World, II/2 (1912): 113-21; Alter und Ursprung des Isnad ," Der Islam, 8 (1917-18) juga Joseph Schacht dalam , A Revaluation of Islamic Traditions.” (Journal of the Royal Asiatic Society (1949)).

Umumnya para orientalis-missionaris menghendaki agar umat Islam membuang tuntunan Rasulullah saw. sebagaimana orang Kristen meragukan dan akhirnya mencampakkan ajaran Jesus.

Keaslian Al-Quran & Kesalahan Orientalis

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan perlu senantiasa diingat. Pertama, Al-Quran pada dasarnya bukanlah 'tulisan' (rasm atau writing) tetapi merupakan 'bacaan' (qira'ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Proses pewahyuannya maupun cara penyampaian, pengajaran dan periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Sejak zaman dahulu, yang dimaksud dengan 'membaca' Al-Quran adalah "membaca dari ingatan (qara'a 'an zhahri qalbin, atau to recite from memory)." Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Quran dicatat—yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya—berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari’muqri’.

Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini.

Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan—manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya—memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.

Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. Orientalis seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Quran sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.

Akibatnya, mereka menganggap Al-Quran sebagai karya sejarah (historical product), sekedar rekaman situasi dan refleksi budaya Arab abad ke-7 dan 8 Masehi. Mereka juga mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang ini tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!), dan karenanya perlu membuat edisi kritis (critical edition), merestorasi teks Al-Quran dan menerbitkan naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada

Kedua, meskipun pada prinsipnya diterima dan diajarkan melalui hafalan, Al-Quran juga dicatat dengan menggunakan berbagai medium tulisan. Sampai wafatnya Rasulullah saw., hampir seluruh catatan-catatan awal tersebut milik pribadi para Sahabat Nabi dan karena itu berbeda kualitas dan kuantitasnya satu sama lain. Karena untuk keperluan masing-masing (for personal purposes only), banyak yang menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar (tafsir/glosses) di pinggir ataupun di sela ayat-ayat yang mereka tulis. Baru di kemudian hari, ketika jumlah penghafal Al-Quran menyusut karena banyak yang gugur di medan perang, usaha kodifikasi (jam') Al-Quran mulai dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sehingga Al-Quran dikumpulkan menjadi sebuah mushaf, berdasarkan periwayatan langsung (first-hand) dan mutawattir dari Nabi saw. Setelah wafatnya Abu Bakar as-Siddiq r.a. (13 H/ 634 M), mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah Umar r.a. sampai beliau wafat (23 H/ 644 M), lalu disimpan oleh Hafsah, sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah Utsman r.a. Pada masa beliaulah, atas desakan permintaan sejumlah Sahabat, sebuah komisi ahli sekali lagi dibentuk dan diminta mendata ulang semua qira’at yang ada, serta memeriksa dan menentukan nilai kesahihan periwayatannya untuk kemudian melakukan standarisasi bacaan demi mencegah kekeliruan dan mencegah perselisihan. Hasilnya dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang masing-masing mengandung qira’at-qira’at mutawattir yang disepakati kesahihan periwayatannya dari Nabi saw. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses kodifikasinya.

Para orientalis yang ingin mengubah-ubah Al-Quran biasanya akan memulai dengan mempertanyakan fakta sejarah ini seraya menolak hasilnya, menganggap bahwa sejarah kodifikasi tersebut hanyalah kisah fiktif, dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad ke-9 Masehi. Jeffery, misalnya, seenaknya mengatakan, "That he [i.e. Abu Bakr ra.] ever made an official recension as the orthodox theory demands is exceedingly doubtful." Ia juga mengklaim bahwa "…the text which Uthman canonized was only one out of many rival texts, and we need to investigate what went before the canonical text."

Ketiga, salah-faham tentang rasm dan qira'at. Sebagaimana diketahui, tulisan Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam, Al-Quran ditulis 'gundul', tanpa tanda-baca sedikitpun.

Sistem vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Meskipun demikian, rasm Utsmani sama sekali tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar Al-Quran langsung dari para Sahabat, dengan cara menghafal, dan bukan dari tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.

Orientalis seperti Jeffery dan Puin telah salah-faham dan keliru, lalu menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings --sebagaimana terjadi dalam kasus Bibel-- serta keliru menyamakan qira'aat dengan 'readings', padahal qira'aat adalah 'recitation from memory' dan bukan 'reading the text'.

Mereka tidak tahu bahwa dalam hal ini kaedahnya adalah: tulisan harus mengacu pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam ("ar-rasmu taab'iun li ar riwaayah") dan bukan sebaliknya.

Orientalis seperti Jeffery dan kawan-kawan yang bersemangat ingin “mengkorupsi” keotentikan Al-Quran tidak mengerti atau sengaja tidak peduli bahwa Al-Quran tidak sama dengan Bibel; Al-Quran bukan lahir dari manuskrip, tapi sebaliknya; manuskrip lahir dari Al-Quran.

Buku berjudul asli “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran”, ini merupakan kumpulan berbagai artikel Dr. Syamsuddin Arief dari berbagai media massa. Meliputi; jurnal, harian, majalah, seminar dan colloquia. Meski demikian, isinya tidak mengurangi ketajaman dan keutuhan isi kandungannya, yang secara keseluruhan merefleksikan worldview Islam dengan jelas dan gamblang. Tulisan-tulisan ini ditulis disela-sela kesibukannya semasa menjadi mahasiswa S3 di ISTAC Malaysia dan juga ketika menempuh program doktoralnya yang keduanya di “sarang” orientalis di Frankfrut Jerman. Buku ini merupakan monograf perdananya yang kebetulan diterbitkan bertepatan dengan ulang-tahun INSISTS yang kelima pada 9 Februari lalu, momentum yang menandai pertautan antara penulis buku ini dan INSISTS sendiri. [syam/malki/cha/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6350&Itemid=64

Kenaikan BBM, Kebijakan Panik dan Zalim Pemerintah SBY-JK

Kenaikan BBM, Kebijakan Panik dan Zalim Pemerintah SBY-JK
Minggu, 11 Mei 08 07:52 WIB

Saat ini langkah untuk segera menaikkan harga BBM seakan menjadi sebuah langkah kebijakan paling rasional, paling tepat dilakukan untuk menyelesaikan persoalan APBN. Opini tersebut terbentuk akibat gencarnya kampanye bahwa penyelamatan APBN akibat tingginya harga minyak dunia hanya dapat diselesaikan dengan menaikkan harga BBM.

Masih segar dalam ingatan kita berbagai upaya penciptaan opini untuk mendukung kenaikan harga BBM sebesar 126% pada bulan Oktober 2005. Saat terjadi kenaikan harga minyak dunia, pemerintah SBY dan berbagai lembaga pendukung sibuk memberikan argumentasi bahwa dampat buruk yang terjadi hanya bisa diatasi dengan kenaikan harga BBM. Berbagai proposalpun diajukan untuk memuluskan dan mempercepatan kenaikan harga BBM. Mulai dari alasan untuk menyelamatkan ekonomi, menjawab ketidakpastian pasar hingga keyakinan bahwa kenaikan harga BBM justru akan menjadi obat untuk mengurangi kemiskinan, dll.

Segala argumentasi untuk mendukung kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005 akhirnya terbukti ngawur. Angka kemiskinan justru meningkat dari 31, 1 juta jiwa (2005) menjadi 39, 3 juta jiwa (2006). Demikian pula inflasi mengalami kenaikan tajam sebesar 17, 75% (2006). Di sisi industri, kenaikan harga BBM untuk kedua kalinya tahun 2005 tersebut telah mendorong percepatan deindustrialisasi, Bila pada tahun 2004 sektor manufaktur masih tumbuh 7, 2% maka pada tahun 2007 hanya tumbuh sebesar 5, 1%. Ini terjadi karena industri ditekan dari dua sisi yakni peningkatan biaya produksi dan merosotnya demand akibat menurunnya daya beli masyarakat. Penambahan jumlah penganggur dari 9, 9% (2004) menjadi 10, 3% (2005) dan 10, 4% (2006) pun akhirnya tidak terelakkan.

Dampak kenaikan harga BBM juga sangat panjang. Perhitungan dampak kenaikan harga BBM yang ngawur telah mengakibatkan pemerintah SBY lalai untuk membuat kebijakan antisipasinya. Akhirnya, beban rakyat terus meningkat akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Jumlah rakyat miskin terus bertambah dan bahkan di sejumlah daerah, rakyat menderita kekurangan gizi atau busung lapar hingga banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat kelompok bawah akibat himpitan ekonomi.

Saat ini desakan untuk segera menaikkan harga BBM kembali terjadi. Sebagaimana tahun 2005, kenaikan harga minyak mentah dunia tidak segera direspon dengan berbagai kebijakan penyelamatan ekonomi tetapi pemerintah SBY justru gencar menciptakan opini pembenaran kenaikan harga BBM. Awalnya pemerintah SBY sibuk menjelaskan bahwa dampak buruk kenaikan harga minyak dunia tidak hanya dirasakan oleh Indonesia tetapi juga negara-negara lain. Kemudian disusul dengan pidato presiden SBY yang meminta rakyat memahami bila pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM.


Sebagaimana tahun 2005, sebagian anggota Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, terutama yang selama ini dikenal pro-kreditor dan lembaga internasional, bahkan juga mengusulkan untuk kembali meningkatkan utang. Alternatif ini menunjukkan tidak adanya kreatifitas dan tidak adanya upaya pemerintahan SBY untuk menghilangkan ketergantungan Indonesia kepada lembaga keuangan internasional. Padahal dalam APBN tahun 2008 telah direncanakan utang baru sebesar Rp 48 triliun dan penerbitan SUN, obligasi, dll sebesar Rp 117 triliun.

Tim Indonesia Bangkit menilai rencana kenaikan harga BBM sebagai sebuah kebijakan panik (panic policy) dan sangat tidak adil. Beberapa argumentasi kami adalah:

1. Rendahnya Kredibilitas Prediksi Tim Ekonomi Pemerintah SBY-JK. Tingginya harga minyak mentah dunia yang mengakibatkan kepanikan Pemerintah SBY-JK, terjadi akibat lemahnya kredibilitas prediksi Tim ekonomi atas asumsi-asumsi APBN 2008, termasuk prediksi harga minyak, sehingga pada akhirnya harus dibayar dengan mahal.

Di tengah tren harga minyak dunia yang terus meningkat pada tahun 2007, dalam asumsi dasar APBN 2008 pemerintah SBY yang sangat optimistis malah memprediksi harga minyak hanya sebesar US$60 per barel. Prediksi produksi minyak sebesar 1, 03 juta barel/hari juga diragukan karena realisasi tahun 2007 hanya sekitar 910 ribu barel per hari. Sementara dalam Nota Keuangan 2008 tidak dijelaskan kebijakan terobosan yang akan dilakukan untuk mendorong tingkat produksi. Hal ini mengakibatkan keraguan para pelaku pasar terhadap kredibilitas anggaran pemerintah.

Menyadari kelemahan prediksi ini, hanya satu bulan setelah APBN 2008 mulai berjalan, pemerintah SBY-JK meminta percepatan pembahasan RAPBN P 2008 kepada DPR dari jadwal rutin bulan Juli menjadi bulan Februari. Namun, dalam APBNP tidak tercantum berbagai langkah seperti yang diusulkan oleh Tim Indonesia Bangkit seperti mengurangi alokasi anggaran pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri, bunga rekap, pemangkasan biaya pengadaan BBM, dll.

Harga minyak pun direvisi menjadi US$95 per barel, dengan jumlah produksi sebesar 927 barel per hari tanpa alternatif kenaikan harga BBM. Sebelum sempat APBNP 2008 dijalankan, Menteri Keuangan kembali revisi harga minyak sebesar US$110 per barel, percepatan kenaikan harga BBM dan bersamaan dengan revisi asumsi-asumsi lainnya seperti pertumbuhan ekonomi menjadi hanya 6%, inflasi menjadi 8, 5-9, 5%, dll.

Kredibilitas prediksi pemerintah yang sangat lemah inilah yang telah mengakibatkan ketidakpercayaan pasar. Tetapi oleh Tim Ekonomi pemerintah, ketidakpercayaan pasar dibelokkan sebagai akibat penundaan kenaikan harga BBM.

2. Kenaikan Harga BBM Sebagai Pilihan Pertama Pemerintah SBY-JK, tetapi Telah Diklaim Sebagai Pilihan Terakhir. Tidak ada kemauan politik (political will) dan keberanian dari Pemerintah SBY-JK untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan ekonomi akibat tingginya harga minyak, yang mengedepankan prinsip pembagian beban (burden sharing) yang adil. Hal ini mengakibatkan seolah-olah klaim Presiden SBY bahwa kenaikan harga BBM yang akan dilakukan sebagai pilihan terakhir adalah sebuah kebohongan publik. Karena faktanya masih banyak langkah-langkah kebijakan penyelamatan ekonomi lain yang belum dilakukan sebelum menaikan harga BBM.

Beban APBN karena turunnya tingkat produksi akan lebih besar dibanding karena tingginya harga minyak dunia. Bila tingkat produksi minyak dapat dipertahankan di atas 1 juta barel per hari, maka dampaknya terhadap APBN akan relatif lebih kecil. APBN justru akan diuntungkan dengan tingginya harga minyak. Namun, langkah ini tidak pernah dilakukan karena memang akan memaksa Menteri ESDM untuk merevisi UU Migas yang berarti harus pula merevisi kebijakan liberalisasi sektor energi yang telah dilakukan secara ugal-ugalan.

Dalam paper yang direlease pada tanggal 25 Juli 2005, ”Kenaikan Harga BBM: Pilihan Akhir yang Harus Didahului Reformasi Tata Niaga Minyak Bumi dan Gas, Program Anti Kemiskinan yang Efektif, Renegosiasi”, TIB telah memberikan masukan langkah-langkah kebijakan yang harus dilakukan sebelum memilih kenaikan harga BBM. Langkah tersebut antara lain:

Reformasi Tata Niaga Minyak Bumi dan Gas: Hapus Brokers Pemburu Rente.

Telah menjadi rahasia umum, bahwa proses pengadaan dan distribusi BBM oleh Pertamina sarat dengan KKN dan ketidakefisienan. Selama ini, volume pasokan BBM, baik yang diproduksi oleh kilang dalam negeri maupun yang diimpor, jauh lebih tinggi dibanding jumlah BBM yang benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat dan industri.

Revisi Formula Perhitungan Alokasi Dana Bagi Hasil Minyak Bumi dan Gas

Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam merubah perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas yaitu pertama, alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas diperhitungkan berdasarkan dana penerimaan pemerintah di sektor minyak bumi dan gas setelah dikurangi subsidi BBM. Dengan kebijakan ini, perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas masih tetap memperhitungkan fluktuasi harga minyak dunia, akan tetapi dana yang dibagikan adalah dana penerimaan pemerintah setelah dikurangi pengeluaran subsidi. Alternatif kedua adalah dengan mematok (freeze) besarnya alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas. Langkah kebijakan ini dilakukan dengan mengubah cara perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas yang semula mengikuti perubahan harga minyak dunia diganti dengan cara perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas secara tetap (tidak didasarkan pada harga minyak dunia), berapa pun realisasi harga minyak mentah dunia.

Meningkatkan Mobilisasi Dana Alternatif

Beban berat APBN dapat diselesaikan dengan melakukan berbagai langkah kebijakan untuk melakukan burden sharing kepada semua stakeholders baik pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, kreditor kalangan bisnis maupun masyarakat luas. Langkah terobosan lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah APBN adalah dengan memobilisasi dana alternatif. Terdapat beberapa sumber dana yang dapat dioptimalkan, antara lain:

- Optimalisasi Penggunaan Dana-dana Pemerintah

- Optimalisasi penerimaan Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan Gas

- Memperbaiki manajemen utang dan restrukturisasi utang dalam negeri

- Dll.

Melaksanakan Program Anti Kemiskinan yang Efektif

Menyusun strategi diversifikasi energi

Meskipun langkah-langkah tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek maupun jangka panjang, akan tetapi pada tahun 2005 pemerinth SBY-JK langsung menyatakan tidak layak dan tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Tahun 2008, pemerintah SBY-JK dan para pendukung kebijakan kenaikan harga BBM kembali lagi memberikan alasan yang sama untuk tidak melaksanakan langkah-langkah yang lebih adil tersebut. Bila alasannya sama, lalu apa yang dilakukan oleh pemerintah SBY-JK selama 2-3 tahun ini? Tidak ada alasan lain kecuali pemerintah SBY-JK dengan kebijakan Washington Konsensus memang akan menghapuskan berbagai subsidi termasuk subsidi BBM bagi masyarakat, meskipun masih sangat dibutuhkan.


3. Kenaikan Harga BBM Tanpa Persiapan Matang dan Kebijakan Dukungan Sangat Merugikan Kinerja Ekonomi Nasional. Pengelolaan kebijakan fiskal yang lemah serta rencana kenaikan harga BBM yang diwacanakan akan segera dilakukan meski tidak didukung oleh persiapan yang matang akan berdampak negatif pada kesejahteraan masyarakat terutama menengah bawah serta daya saing dan ketahanan sektor industri terutama menengah dan kecil. Di samping kerugian ekonomi juga ada potensi timbulnya dampak sosial yang buruk.

Salah satu program yang akan dilakukan oleh pemerintah SBY-JK, sebagaimana tahun 2005, adalah memberikan kompensasi bagi masyarakat miskin. Tahun 2005 pemerintah SBY memberikan BLT sebesar Rp 100.000 per bulan per keluarga bagi keluarga miskin selama satu tahun. Banyak kelemahan dari program kompensasi ini antara lain besaran BLT tidak dapat mengkonversi tambahan beban orang miskin karena jumlah tersebut adalah hasil perhitungan bila harga BBM naik 30-40%, sementara faktanya BBM naik 126%. Selain juga masalah salah sasaran. Meskipun telah dilakukan pendataan oleh BPS, diprediksi ada sekitar 15-20% keluarga miskin yang tidak terjaring karena berbagai alasan.

Tahun 2008, pemerintah SBY-JK tanpa persiapan matang akan mengulang program tersebut. Padahal koreksi terhadap program dan mekanisme belum dilakukan. Demikian juga data yang akan dijadikan data based juga data yang telah out of date karena akan menggunakan data penerima BLT tahun 2005. Dengan gambaran ini dapat dipastikan tingkat efektifitas dari program BLT akan sangat rendah. Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2006 muncul keluarga miskin baru yang belum terdata akibat berbagai kebijakan ekonomi pemerintah SBY-JK yang tidak berpihak kepada kelompok masyarakat bawah.

Dari berbagai argumen di atas, Tim Indonesia Bangkit meminta pemerintah SBY-JK segera melakukan langkah-langkah kebijakan yang adil, di mana ada burden sharing dalam menghadapi beban APBN akibat tingginya harga minyak dunia. Menaikan harga BBM adalah cara gampangan yang membebankan dampak persoalan kepada masyarakat. Padahal cukup banyak dana APBN yang digunakan untuk membiayai birokrasi yang tidak efisien bahkan sangat tidak adil seperti telah dilakukan Menteri Keuangan dengan menaikan biaya renumerasi Departemen Keuangan sebesar Rp 5 Triliun lebih pertahun. Pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, dampak kerugian sosial ekonomis yang ditimbulkan jauh lebih besar dan tidak sebanding dengan penghematan finansial yang diperolah dalam APBN.

Jakarta, 7 Mei 2008

Tim Indonesia Bangkit

http://www.eramuslim.com/berita/tha/

Thursday, July 3, 2008

Kewajiban Memerangi Seluruh Kaum Kafir

Dalam surat al-taubah ayat 29 disebutkan, "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (beriman pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak beragama dengan agama yang benar (Islam). (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan rendah."

Imam Samudra tidak menafikan ayat-ayat `toleransi beragama,´ seperti ayat 109 surat al-Baqarah, "Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya." namun ayat-ayat toleransi ini dieliminasi (mansukh) oleh `ayat pedang,´ yang dalam versinya adalah ayat 5 dan 29 surat al-Taubah.

Dengan turunnya `ayat pedang´ ini, segala perjanjian yang pernah ada antara Rasulullah dengan kaum musyrik dihapuskan. Pada periode ini seluruh kaum musyrikin diperangi, kecuali jika mereka bertaubat masuk Islam, mendirikan shalat, dan membayar zakat, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasul Allah, dan mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat." (HR. Muttafaq `Alaih dari Ibn Umar).

Dalam Surat al-Taubah ayat 36 disebutkan, "Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." Peperangan ini dibenarkan hingga tidak ada lagi kemusyrikan dan kekafiran, "Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan supaya agama itu semata-mata agama Allah." (QS. al-Anfal: 39)

Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, "Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sehingga hanya Allah saja yang diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombak, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyalahi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu." (HR. Ahmad dari Ibn Umar)

Imam Samudra mengkritik seorang dai nasional terkenal yang disebut-sebut orang sebagai dai sukses dan dapat merebut hati umat Islam dan kaum kafir. Dai ini berdakwah dengan penuh `hikmah´ dan diterima oleh seluruh kalangan sehingga menjadi rahmatan lil `alamin. Menurut Imam Samudra, pemahaman semacam ini lumrah dan telah sekian lama mengendap di benak banyak kaum muslimin. Dalam persepsi mereka, akhlak karimah adalah mengalah, berbicara lemah lembut, tidak menyinggung perasaan orang lain, diam saja saat dicekik dan dilempari kotoran unta, bertoleransi dengan orang kafir dalam hal apapun termasuk dalam masalah ibadah dan akidah.

Menurut Imam Samudra, pemahaman ini tidak tepat. Ia mengutip Hadis di mana Rasulullah pernah melaknati kaum kafir yang melukainya di perang Uhud. Rasul juga pernah melakukan qunut nazilah untuk mengutuk kaum kafir yang sangat keji kepada kaum muslimin.

Membiarkan Bait al-Maqdis dan al-Haramain (kota Mekkah dan Madinah) dalam cengkraman Zionis dan Salibis bukanlah hikmah apalagi rahmatan lil `alamin. Membiarkan ribuan muslimah diperkosa kaum kaum kafir serta bayi-bayi muslim dibantai bukanlah rahmatan lil `alamin. Ketidakpedulian atas itu semua justru adalah sebuah pengkhianatan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Mundziri disebutkan: "Orang yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan muslim."

Islam cinta damai, namun bukan berarti Islam membolehkan kaum muslimin dianiaya dan disakiti.

Adanya klaim naskh `ayat pedang´ atas `ayat-ayat merpati,´ sebenarnya bukan pendapat pribadi Imam Samudra. Hampir seluruh ahli tafsir menyatakan demikian. Al-Suyuthi mengutip pendapat Ibn al-`Arabi bahwa seluruh ayat toleransi terhadap orang kafir dinaskh oleh ayat pedang ini. Jumlah ayat-ayat yang dinaskh itu ada 124 ayat, yang dalam penghitungan Muhammad al-Kilabi al-Andalusi jumlahnya 114.

Nampaknya, kajian parsial terhadap ayat-ayat al-Qur`an dengan memperdalam ayat-ayat jihad telah memicingkan pandangan dan penafsiran Imam Samudra atas ayat-ayat merpati, yang dia akui sendiri keberadaannya.

Seharusnya ia mau memperhatikan penafsiran yang dilakukan Rasulullah atas ayat-ayat pedang dan ayat-ayat merpati. Tafsiran ini tergambarkan dalam sikap dan perilaku Rasulullah terhadap kaum kafir.

Sebagai orang yang paling memahami al-Quran, Rasulullah tidak semerta-merta membunuh seluruh yahudi yang hidup dan tinggal di kota Madinah dan kota-kota sekitarnya, beliau justru bergaul dan berinteraksi baik dengan mereka. Demikian juga dengan nashrani Najran, bahkan terhadap kaum Majusi yang hidup di daerah Hajar, beliau tidak memerangi mereka, tetapi hanya memungut upeti dari mereka.

Adapun pemahaman Hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibn Umar, bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memerangi semua orang hingga mereka masuk Islam, maka harus dipahami secara kontekstual. Bahwa Rasulullah tidak semerta-merta memerangi orang kafir tanpa alasan, adalah bukti bahwa Hadis tersebut harus dimaknai sebagai perintah perang terhadap mereka yang enggan menyatakan keislaman dan tidak membayar upeti, serta merongrong kedamaian kaum muslimin, atau bahwa ayat dan Hadis tersebut, berkaitan dengan situasi perang, bukan dalam keadaan damai.

Masih dalam rangka 'memaknai' Hadis riwayat Sahabat Ibn Umar, Khalifah Abu Bakar memerangi orang-orang Islam yang membangkang dan enggan membayar zakat, padahal mereka sudah mengucapkan La ilaaha illa Allah.

Sikap dan perilaku kau muslimin terhadap non muslim, harus proporsional. Artinya kita akan memerangi mereka tanpa jerih dan takut, ketika mereka memerangi kita. Dan ketika mereka berlaku baik, maka kita pun dituntut untuk berbuat baik. Allah Ta'ala berfirman, Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Mumtahanah ayat 8-9).

Dalam sebuah Hadis, Rasulullah bersabda, Siapa yang membunuh orang kafir mu'ahad (yaitu kafir dzimmi yang telah mendapatkan perlindungan dari pemerintah), maka ia tidak dapat mencium aroma surga, dan aroma surga itu dapat dihirup dari jarak perjalanan selama empat puluh tahun." (HR. al-Bukhari)

Keterangan-keterang an di atas, menjelaskan kepada kita tentang kebolehan umat Islam berinteraksi atau ber-mu'amalah dengan non muslim, selama mereka bersikap kooperatif dan tidak mengganggu kaum muslimin.

Kaum Muslimin memang harus merasa prihatin dengan kezaliman yang menimpa saudara-saudaranya di banyak tempat. Namun berperang dengan dorongan hawa nafsu dan dendam bukan merupakan ajaran Agama. Saat Ali bin Abu Thalib berhasil memojokkan seorang kafir dalam sebuah pertempuran, di mana dia sudah mampu mendesaknya, Ali batal membunuhnya akibat orang kafir itu meludahinya. Hal itu dia lakukan karena dia tidak ingin peperangan dan pertempuran yang dilakukannya berdasarkan dendam dan hawa nafsu, melainkan karena dorongan Agama. Ali bisa saja melanjutkan keinginannya untuk membunuh, namun ia takut perbuatannya itu berangkat dari kemarahan pribadinya.

Ada juga pihak yang secara radikal menghendaki syariah jihad dihilangkan dari Ajaran Islam, karena jihad berpotensi menimbulkan radikalisme yang berujung kepada perilaku terorisme. Hal ini tentu bukan sebuah usulan yang bijak. Karena pensyariatan jihad ada dalam al-Qur`an dan Hadis. Justru yang lebih mendesak untuk dilakukan adalah upaya menyosialisasikan pemahaman jihad yang sebenarnya. Sehingga tidak dipahami secara keliru dan ekstrim.

Mereka yang melakukan kegiatan terorisme, sebagaimana faksi-faksi sempalan lain yang melakukan kejahatan dan penyelewengan atas nama Agama, memang menggunakan ayat-ayat al-Qur`an serta Hadis Rasulullah sebagai legitimasi kejahatan yang mereka lakukan. Namun bukan berarti mereka melakukan "hal yang benar", karena ayat-ayat dan Hadis yang mereka gunakan memang valid, hanya saja penafsiran atasnya berpotensi salah. Kondisi ini pernah diprediksikan Ali bin Abu Thalib lewat perkataannya, "kalimah al-haqq wa urid bi ha al-bathil" (kalimat haq yang digunakan sebagai legitimasi atas kebatilan). Wallah A´lam.

lengkapnya ada di: http://andiwowo. blogspot. com/

Sir Anthony O'Reilly & Trinity Foundation

http://www.tcd.ie/trinityfoundation/foundationboard/tfboreilly.php

Board Members of Trinity Foundation : Sir Anthony O'Reilly

Sir Anthony O’Reilly is Chief Executive, Independent News & Media PLC, a worldwide publishing group headquartered in Ireland. Amongst his numerous other business interests, he is non-Executive Chairman of Waterford Wedgwood plc, Chairman of Fitzwilton plc, an industrial holdings company and Chairman of Eircom plc.

Sir Anthony was conferred with an Honorary Doctorate in Laws from Trinity College in 1978. In 2001 he was made a knight in the British New Year's Honours List, for his "long and distinguished service to Northern Ireland".

Sir Anthony is Chairman and co-founder of The Ireland Funds, a fundraising programme to support peace and reconciliation, arts and culture, education and community development in Ireland, North and South, he is active in many other cultural and charitable organizations. In Trinity College he has donated towards the O’Reilly Institute, supported the development of Jewish Studies and the Chair in Neuroscience. He is currently a Pro-Chancellor of the University.

Gavin O'Reilly dan HU Republika

Gavin O'Reilly dan HU Republika
Kamis, 3 Jul 08 06:22 WIB


Dalam rubrik Tahukah Anda kemarin, ada sebuah artikel berjudul “Milyader Yahudi Jadi Komisaris HU Republika (1/7). Artikel ini mendapat respon yang hangat, dan ada pula yang menyatakan ketidaksetujuannya. Penulis secara pribadi mendapat dua pesan singkat di ponsel penulis yang meminta agar artikel tadi diralat. Secara lengkap isi dari pesan singkat itu adalah:


Ass.wr. wb. Sy protes soal pemberitaan Eramuslim ttg Republika. Seharusnya ada check and recheck (tabayyun) dulu sebelum tulisan itu turun agar tak menjadi fitnah. Mhn dicheck lg di situsyangdisebutkan di eramuslim. Dlm daftar org terjaya versi Forbes itu ada Yahu dan Non Yahudi. Yg Yahudi ditandai dg kata JEW. Jd tidak semuanya Yahudi. Mhn koreksi atas kesalahan ini. Tk. Wass Wr Wb @ Subroto (+62811150xxx)


Bung, bila anda gak bikin ralat, kami akan somasi anda. Republika (+628129441xxx)


Untuk kedua pesan tersebut, saya kirim kembali pesan singkat sebagai jawaban saya. Pada intinya, jawaban saya adalah menyatakan terima kasih atas perhatiannya, dan juga protes serta sarannya, dan mudah-mudahan Republika mengirim hak jawabnya pada eramuslim yang tentu saja akan dimuat. Dalam artikel tersebut, sejauh ini memang terdapat satu hal yang harus disempurnakan, yakni tentang istilah “Milyader Yahudi-Irlandia”.

Dalam artikel tersebut disebutkan jika Gavin O’Reilly merupakan “Milyader Yahudi-Irlandia”. Setelah dilakukan penelusuran lebih jauh di daftar nama Geneologi Yahudi Dunia yang saya lakukan sejauh ini, saya memang tidak mendapatkan nama keluarga O’Reilly sebagai nama keluarga Yahudi. Sebab itu, Gavin O’Reilly sejauh ini memang BUKAN seorang Yahudi. Jadi yang benar seharusnya adalah istilah ‘Milyader Irlandia’. Tidak pakai 'Yahudi'. Ini merupakan ralat dari saya.


Dalam daftar 288 Pengusaha Yahud Terkaya Dunia versi Jew Watch (www.jewwatch.com/jew-leaders-list-of-jewish-millionaires.html). Sir Anthony O’Reilly, ayah dari Gavin O’Reilly, memang tidak dicantumkan sebagai Yahudi (Jew). Hanya tertulis dengan kalimat: 288. O'Reilly, Anthony, Ireland, 1.7, Heinz, Waterford. Sedangkan yang Yahudi biasanya terdapat kata JEW di belakangnya seperti yang ada di nomor urutan satu yakni: 1. Gates, William H. III, United States, 90.0, Microsoft[MARANO - HIDDEN JEW - PSEUDO-JEW]


Namun kiprah keluarga O’Reilly ini dalam salah satu yayasannya yang bernama O’Reilly Institute (Trinity College Dublin) seperti yang bisa kita baca di (en.wikipedia.org/wiki/Tony_O'Reilly dan juga di www.tcd.ie/trinityfoundation/foundationboard/tfboreilly.php) ternyata memang menjadi salah satu donor bagi pengembangan Jewish Studies. (O'Reilly has contributed towards the O’Reilly Institute, backed the development of Jewish Studies and supported the Chair in Neuroscience. He is currently a Pro-Chancellor of the University and a member of the board of the Trinity Foundation.)


Dengan tulisan ini diharapkan bisa dianggap sebagai ralat dan penyempurnaan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Milyader Yahudi jadi Komisaris HU Republika” (1/7). Adalah suatu hal yang patut disyukuri jika HU Republika, media harian satu-satunya di Indonesia yang dimiliki umat Islam Indonesia ini, sungguh-sungguh bersih dari anasir-anasir Yahudi. Mudah-mudahan media Islam di bumi ini, terlebih media harian dan elektronik, bertambah banyak, bertambah maju, dan mampu untuk menjadi pengawal garda terdepan bagi dakwah Islam. Amien. (rz)

http://www.eramuslim.com/berita/tha/8703061915-gavin-o039reilly-dan-hu-republika.htm

Milyader Yahudi Jadi Komisaris HU Republika

Milyader Yahudi Jadi Komisaris HU Republika
Selasa, 1 Jul 08 10:14 WIB


Akhir Juni 2008, PT. Abdi Bangsa Tbk (ABBA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bagi setiap perusahaan, RUPS merupakan suatu keharusan untuk bisa revitalisasi perusahaan. Demikian pula yang dilakukan ABBA sebagai pemilik Harian Umum Republika yang pendirian awalnya dimotori sejumlah tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang notabene visi dan misinya lebih kurang sebagai media massa cetak harian berbentuk koran yang menyuarakan aspirasi umat Islam sebagai tuan rumah di negeri ini.

Sudah sunnatullah, setiap apa-apa yang hendak meninggikan kalimah Allah, mendakwahkan kebenaran, berjuang demi tegaknya al–haq, dan melawan kebathilan, selalu saja diintai oleh musuh-musuh Alah SWT agar bisa dihancurkan atau dimandulkan perjuangannya. Demikian pula HU Republika.

RUPS akhir Juni kemarin selain membahas pengembangan konsep e-newspaper, berita online, dan layanan berita mobile, sebagai antisipasi perkembangan teknologi informasi di abad millenium, ternyata juga menampilkan wajah-wajah baru yang duduk dalam jajaran Dewan Komisaris ABBA, seperti KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym dan mantan Pemimpin Kantor Berita Antara, Asro Kamal Rokan. Yang mengejutkan adalah masuknya CEO The Independent News Media Group (INM) Gavin O’Reilly dalam jajaran Dewan Komisaris ABBA. Orang yang satu ini layak untuk dikritisi. Siapa sebenarnya Gavin O’Reilly?

Pengusaha Yahudi Kaya

Gavin O’Reilly adalah salah satu anak dari Milyader Yahudi Irlandia bernama Sir Anthony O'Reilly yang masuk dalam daftar 288 Pengusaha Yahud Terkaya Dunia versi Jew Watch (www.jewwatch.com/jew-leaders-list-of-jewish-millionaires.html). Keluarga milyarder ini terhimpun dalam Yayasan O’Reilly yang bergerak di berbagai bidang, antara lain mendukung pengembangan Jewish Studies (www.tcd.ie/trinityfoundation/foundationboard/tfboreilly.php).

Sir Anthony O’Reilly yang merupakan pendiri INM menempatkan anaknya, Gavin O’Reilly, sebagai ‘watchdog’ di jajaran Dewan Komisaris ABBA dengan nilai saham yang dikuasainya sebesar 20%, sebuah angka yang tidak kecil. Sekilas tentang Sir Anthony O’Reilly dan Gavin O’Reilly bisa kita simak di wikipedia.

Dalam percaturan perekonomian global yang dikomandani sistem kapitalistik, sesungguhnya amat wajar siapa pun bisa menguasai atau menjadi bagian perusahaan apa pun. Sekat-sekat geografis suatu negara tidak lagi menjadi soal. Hanya saja, HU Republika yang dikenal selama ini sebagai ‘media massa milik umat Islam Indonesia’ yang harusnya memiliki ideologi dakwah Islam dan tidak menghalalkan segala cara terkesan aneh bin janggal jika mau-maunya menerima seorang milyader Yahudi menjadi salah satu anggota dewan komisarisnya. Umat Islam Indonesia patut bertanya, “Ada apa dengan HU Republika?”(rz)

http://www.eramuslim.com/berita/tha/8701101044-milyader-yahudi-jadi-komisaris-hu-republika.htm?rel

LIST OF BILLIONAIRE JEWS AND SOME NON-JEWS

LIST OF BILLIONAIRE JEWS AND SOME NON-JEWS
Forbes List of World's Billionaires Sunday, June 20, 1999;2:42 p.m. EDT
NEW YORK (AP) -- The ranking of the world's richest peopleas estimated by Forbes magazine, excluding dictators and royalty.Listings include name, home country, wealth in billions of dollarsand source of wealth, where available.
1. Gates, William H. III, United States, 90.0, Microsoft[MARANO - HIDDEN JEW - PSEUDO-JEW]
2. Buffett, Warren, United States, 36.0, Berkshire Hathaway[MARANO - HIDDEN JEW - PSEUDO-JEW]
3. Allen, Paul, United States, 30.0, Microsoft [JEW]
4. Ballmer, Steven, United States, 19.5, Microsoft [JEW]
5. Oeri, Hoffman and Sacher families, Switzerland, 17.0,Roche pharmaceuticals [JEW]
6. Anschutz, Philip, United States, 16.5, oil, railroads,telecommunications [JEW]
7. Dell, Michael, United States, 16.5, Dell Computer [JEW]
8. Walton, Alice L., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
9. Walton, Helen R., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
10. Walton, Jim C., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
11. Walton, John T., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
12. Walton, S. Robson, United States, 15.8, Wal-Mart Stores
13. Alsaud, Prince Alwaleed Bin Talal, Saudi Arabia, 15.0,investments [CURRUPT GOY-FRONT]
14. Bettencourt, Liliane, France, 13.9, cosmetics [JEW]
15. Albrecht, Theo and Karl and family, Germany, 13.6, retailing[JEW]
16. Li Ka-shing, Hong Kong, 12.7, real estate, telecommunications,diversified
17. Haniel family, Germany, 12.4, pharmaceuticals, diversified[JEW?]
18. Engelhorn, Curt and family, Germany, 12.0, pharmaceuticals[JEW]
19. Thomson, Kenneth, Canada, 11.9, Thomson Corp
20. Lee Shau Kee, Hong Kong, 11.1, real estate
21. Moore, Gordon Earl, United States, 10.9, Intel [JEW?]
22. Anthony, Barbara Cox, United States, 10.6, inheritance(Cox Enterprises)
23. Chambers, Anne Cox, United States, 10.6, inheritance(Cox Enterprises)
24. Kluge, John, United States, 10.5, Metromedia Co. [JEW?]
25. Walker, Jay, United States, 10.2, Priceline.com
26. Bezos, Jeffrey, United States, 10.1, Amazon.com [JEW?]
27. Quandt family, Germany, 9.9, BMW
28. Mulliez, Gerard, France, 9.8, retail
29. Kwok, Walter, Thomas, Raymond, Hong Kong, 9.7, real estate
30. Ellison, Larry, United States, 9.5, Oracle
31. Rausing, Gad, Sweden, 9.0, packaging [JEW]
32. Redstone, Sumner, United States, 8.7, Viacom [JEW]
33. Schwab, Charles, United States, 8.7, discount stock brokerage[JEW]
34. Berlusconi, Silvio, Italy, 8.0, media [CURRUPT MAN ANDALL AROUND SLIME-BALL]
35. Slim Helu, Carlos, Mexico, 8.0, diversified [JEW?]
36. Omidyar, Pierre, United States, 7.8, eBay [JEW?]
37. Takei, Yasuo, Japan, 7.8, consumer finance
38. Turner, Ted, United States, 7.8, Turner Broadcasting[A WEAK-WILLED MOUSE OF A MAN AND A GOY-FRONT]
39. Kerkorian, Kirk, United States, 7.3, investments [JEW]
40. Haefner, Walter, Switzerland, 7.2, computers, cars [JEW]
41. Murdoch, Rupert, United States, 7.2, publishing [MARANO- HIDDEN JEW - OR PSEUDO-JEW]
42. Schwarz, Dieter, Germany, 7.1, retailing [JEW]
43. Boehringer family, Germany, 7.1, pharmaceuticals [JEW]
44. Olayan, Suliman, Saudi Arabia, 7.1, Olayan InvestmentCo. [ANOTHER SLIMEY GOY-FRONT]
45. Persson, Stefan, Sweden, 7.0, retailing
46. Rausing, Hans, Sweden, 7.0, packaging [JEW]
47. Beisheim, Otto, Germany, 6.8, retailing [JEW]
48. Saji, Keizo, Japan, 6.7, Suntory
49. Schmidt-Ruthenbeck family, Germany, 6.6, retailing [JEW?]
50. Landolt, Pierre and family, Switzerland, 6.4, Novartis[JEW?]
51. Pinault, Francois, France, 6.4, retail [JEW?]
52. SeydouxSchlumberger families, France, 6.4, diversified[JEWS]
53. Son, Masayoshi, Japan, 6.4, software
54. Arnault, Bernard, France, 6.0, luxury goods [JEW?]
55. Tsai Wan-lin and family, Taiwan, 5.9, insurance, financialservices
56. Knight, Philip, United States, 5.8, Nike [A REALLY DEPRAVEDHUMAN BEING WHO MAY ALSO BE A MARANO OR HIDDEN JEW]
57. Wang, Y.C., Taiwan, 5.8, Formosa Plastics
58. Otto, Michael, Germany, 5.7, retailing [JEW?]
59. Arison, Theodore (Ted), Israel, 5.6, Carnival Corp. [JEW]
60. Defforey family, France, 5.6, Carrefour
61. Haub, Erivan and family, Germany, 5.6, retailing [JEW?]
62. Woeste, Albrecht and Henkel family, Germany, 5.6, chemicals[JEWS]
63. Latsis, Spiro, Greece, 5.4, banking
64. Hopp, Dietmar and sons, Germany, 5.2, software
65. Gerling, Rolf, Germany, 5.1
66. Herz, Gunter and family, Germany, 5.1, consumer products
67. Winnick, Gary, United States, 5.1, investments
68. Arison, Micky, United States, 5.0, Carnival Cruise Lines[JEW]
69. Hewlett, William Redington, United States, 5.0, Hewlett-Packard
70. Kirch, Leo, Germany, 5.0, media [JEW]
71. Piech, Ferdinand and family, Austria, 5.0, Porsche
72. Pritzker, Robert, United States, 5.0, financier [JEW?]
73. Tschira, Klaus, Germany, 5.0
74. Flick, Friedrich Karl Jr., Germany, 4.9
75. Sainsbury family, Britain, 4.9
76. Halley, Paul-Louis and family, France, 4.8, retailing
77. Ito, Masatoshi and family, Japan, 4.8, retail
78. Kinoshita, Kyosuke, Japan, 4.8, consumer finance
79. Scott, Walter Jr., United States, 4.8, construction,telecommunications
80. Skoll, Jeffrey, United States, 4.8, eBay
81. Tsutsumi, Yoshiaki, Japan, 4.8, real estate
82. von Finck, August and family, Germany, 4.8, insurance(Allianz AG) [JEWS AND PART OF THE 'GERMAN NOBILITY']
83. Al-Kharafi, Nasser, Kuwait, 4.7, M. A. Al Kharafi &Sons [SOUL-LESS SLIMEBALLS]
84. Ricketts, J. Joe, United States, 4.7, Ameritrade
85. Wurth, Reinhold, Germany, 4.7
86. Waitt, Theodore, United States, 4.6, Gateway 2000
87. Kuok, Robert, Malaysia, 4.5, diversified
88. Langmann, Hans Joachim, Germany, 4.5, chemicals [JEW]
89. Newhouse, Donald, United States, 4.5, media [JEW]
90. Newhouse, S.I., United States, 4.5, media [JEW]
91. Sabanci, Sakip and family, Turkey, 4.5, conglomerate
92. Cheng Yu-tung, Hong Kong, 4.4, real estate
93. Hostetter, Amos Jr., United States, 4.4, ContinentalCablevision
94. Lauder, Leonard A., United States, 4.4, inheritance (cosmetics)[JEW]
95. Lauder, Ronald S., United States, 4.4, cosmetics [JEW]
96. Malone, John, United States, 4.4, cable TV
97. Plattner, Hasso, Germany, 4.4, SAP [JEW]
98. Schmidheiny, Stephan, Switzerland, 4.4, ABB [JEW]
99. Bronfman, Edgar Sr., United States, 4.3, Seagram Co.[JEW]
100. Fisher, Donald, United States, 4.3, The Gap [JEW]
101. Fisher, Doris, United States, 4.3, The Gap [JEW]
102. Jahr, John and family, Germany, 4.3, publishing
103. Reimann family, Germany, 4.3
104. Shigeta, Yasumitsu, Japan, 4.3, software
105. Annenberg, Walter Hubert, United States, 4.2, publishing[JEW]
106. Johnson, Abigail, United States, 4.2, Fidelity Investments
107. McCaw, Craig, United States, 4.2, telephones
108. Perelman, Ronald, United States, 4.2, investments [JEW]
109. Filo, David, United States, 4.1, Yahoo!
110. Al-Hariri, Rafik and family, Lebanon, 4.0, construction,banking
111. Benetton, Luciano and family, Italy, 4.0, apparel
112. Mars, Forrest Sr., United States, 4.0, candy (Mars Inc.)[JEW]
113. Mars, Forrest Jr., United States, 4.0, candy (Mars Inc.)[JEW]
114. Mars, John, United States, 4.0, candy (Mars Inc.) [JEW]
115. Perot, H. Ross, United States, 4.0, electronic datamanagement [GOY-FRONT]
116. Schickedanz family, Germany, 4.0 [JEW]
117. Soros, George, United States, 4.0, money management[JEW AND SUSPECTED MASS MURDERER]
118. Vogel, Jacqueline Mars, United States, 4.0, candy (MarsInc.) [JEW]
119. Wang, Nina, Hong Kong, 4.0, real estate
120. Yang, Jerry, United States, 4.0, Yahoo! Inc.
121. Bertarelli, Ernesto, Switzerland, 3.9, Ares-Serono
122. Bronfman, Charles, Canada, 3.7, Seagram Co. [JEW]
123. Irving, James, Arthur and Jack, Canada, 3.7, diversified,including Irving Oil
124. Packer, Kerry, Australia, 3.7, Publishing & BroadcastingLtd.
125. Broad, Eli, United States, 3.6, home building [JEW]
126. Dolan, Charles, United States, 3.6, cable TV [JEW]
127. Johnson, Samuel C., United States, 3.6, S.C. Johnson& Son
128. Matsuda, Kazuo, Japan, 3.6, consumer finance
129. Mori, Akira, Japan, 3.6, real estate
130. Perez Companc, Gregorio, Argentina, 3.6, conglomerate
131. Bass, Lee, United States, 3.5, oil, investments
132. Brost and Funke families, Germany, 3.5
133. Del Vecchio, Leonardo, Italy, 3.5, eyewear
134. Kamel, Saleh, Saudi Arabia, 3.5, Dallah Albaraka
135. Perenchio, A. Jerrold, United States, 3.5, television
136. Botin, Emilio and family, Spain, 3.4, banking
137. Dassault, Serge and family, France, 3.4, aviation
138. von Holtzbrinck, Dieter and family, Germany, 3.4, publishing[JEW AND MEMBERS OF 'GERMAN NOBILITY']
139. Agnelli, Giovanni and family, Italy, 3.3, autos
140. Grosvenor, Gerald Cavendish, Britain, 3.3, real estate
141. Heineken, Alfred, Netherlands, 3.3
142. Ng Teng Fong and Robert, Singapore, 3.3, real estate
143. Schmidheiny, Thomas, Switzerland, 3.3, Holderbank [JEW]
144. Ergen, Charles, United States, 3.2, EchoStar (satelliteTV) [JEW]
145. Greenberg, Maurice, United States, 3.2, American InternationalGroup [JEW]
146. Huntsman, Jon Meade, United States, 3.2, plastics, chemicals[JEW]
147. Khoo Teck Puat, Singapore, 3.2, investments
148. Kwek Leng Beng, Singapore, 3.2, diversified
149. Mohn, Reinhard and family, Germany, 3.2, media
150. Sturm, Donald L., United States, 3.2, telecommunications
151. Verspieren/ Decoster family, France, 3.2 [JEWS?]
152. Bren, Donald L., United States, 3.1, real estate [JEW]
153. Kipp, Karl-Heinz, Germany, 3.1 [JEW?]
154. Lerner, Alfred, United States, 3.1, MBNA (finance) [JEW]
155. Oshima, Kenshin, Japan, 3.1, finance
156. Wrigley, William, United States, 3.1, Wrigley gum
157. Al Rajhi, Saleh bin Abdul Aziz, Saudi Arabia, 3.0, banking
158. Bass, Sid Richardson, United States, 3.0, investments
159. Goodnight, James, United States, 3.0, SAS Institute
160. Hillman, Henry Lea, United States, 3.0, industrial holdings[JEW?]
161. Iwasaki, Fukuzo, Japan, 3.0, Iwasaki Sangyo
162. Koch, Charles De Ganahl, United States, 3.0, Koch Industries[JEW]
163. Koch, David Hamilton, United States, 3.0, Koch Industries[JEW]
164. Oetker, Rudolf and family, Germany, 3.0, diversified
165. von Siemens family, Germany, 3.0 [PROBABLY MARANOS ORPSEUDO-JEWS ALSO PART OF THE 'NOBILITY']
166. Wonowidjojo family, Indonesia, 3.0, tobacco
167. Crown, Lester, United States, 2.9, diversified [JEW]
168. Ebner, Martin, Switzerland, 2.9, investments [JEW]
169. Mann, Hugo, Germany, 2.9, furniture stores, supermarkets[JEW]
170. Moller, Maersk Mc-Kinney, Denmark, 2.9, shipping
171. Moores family, Britain, 2.9
172. Sorenson, James L., United States, 2.9, medical devices
173. Buffett, Susan Thompson, United States, 2.8, BerkshireHathaway
174. Koc, Rahmi and family, Turkey, 2.8, Koc Holding [GOY-FRONTS]
175. Kristiansen, Kjeld Kirk, Denmark, 2.8, Lego
176. Mendoza, Lorenzo and family, Venezuela, 2.8, EmpresasPolar [MARANOS]
177. Premji, Azim Hasham, India, 2.8, information technology
178. Wexner, Leslie Herbert, United States, 2.8, The Limited[JEW]
179. Bass, Robert Muse, United States, 2.7, investments
180. Davis, Marvin H., United States, 2.7, investments
181. Fentener van Vlissingen family, Netherlands, 2.7, retailing,travel services
182. Hector, Hans-Werner, Germany, 2.7
183. Jacobs, Klaus, Switzerland, 2.7 [JEW]
184. Marcus, Bernard, United States, 2.7, Home Depot
185. Branson, Richard, Britain, 2.6, diversified [JEW]
186. Ermirio de Moraes, Antonio and family, Brazil, 2.6,mining, cement, pulp and paper
187. Goldschmeding, Frits, Netherlands, 2.6 [JEW WHO HAPPENSTO BE INCREDIBLY SINISTER LOOKING]
188. Hsu, Douglas and family, Taiwan, 2.6, Far Eastern Group
189. Ingram, Martha Robinson Rivers, United States, 2.6,inheritance (Ingram)
190. Itoyama, Eitaro, Japan, 2.6, Shin Nihon Kanko
191. Kamprad, Ingvar, Sweden, 2.6, Ikea
192. Naify, Robert Allen, United States, 2.6, movie theaters
193. Takenaka, Toichi and family, Japan, 2.6, construction,civil engineering
194. Ty, George, Philippines, 2.6, banking
195. Brenninkmeyer, Herman and family, Netherlands, 2.5,retailing [JEWS]
196. Faria, Dr. Aloysio de Andrade, Brazil, 2.5, banking
197. Geffen, David, United States, 2.5, entertainment [JEW]
198. Icahn, Carl Celian, United States, 2.5, investments[JEW]
199. Safra, Edmond, Lebanon, 2.5, Republic Bank [JEW]
200. Sahenk, Ayhan and family, Turkey, 2.5, Garanti Bank
201. Simplot, John R., United States, 2.5, potatoes 202.Widjaja, Eka Tjipta, Indonesia, 2.5, pulp and paper, food
203. Bin Mahfouz, Khalid, Saudi Arabia, 2.4, banking, investments
204. Kadoorie, Michael and family, Hong Kong, 2.4, familyof merchants
205. Malone, Mary Alice Dorrance, United States, 2.4, inheritance(Campbell Soup)
206. Rockefeller, David Sr., United States, 2.4, investments[MARANOS AND VERY ODD PEOPLE]
207. Schoerghuber, Stefan, Germany, 2.4, services, breweries,construction, real estate [JEW]
208. Taylor, Jack Crawford, United States, 2.4, EnterpriseRent-A-Car
209. Dorrance, John T. III, Ireland, 2.3
210. Dumas, Jean-Louis and family, France, 2.3, Hermes International
211. Foriel-Destezet, Phillipe, France, 2.3, temporary helpagency
212. Fukuda, Yoshitaka, Japan, 2.3, consumer finance
213. Louis-Dreyus, Gerard and family, France, 2.3, commoditiestrading [JEWS]
214. Mantegazza, Sergio, Switzerland, 2.3, travel services
215. Otsuka, Masahito, Japan, 2.3
216. Rocca, Roberto and family, Argentina, 2.3, diversified
217. Sy, Henry and family, Philippines, 2.3, shopping malls
218. Yamaguchi, Hisakazu and family, Japan, 2.3, manufacturing
219. Birck, Michael, United States, 2.2, Tellabs
220. David-Weill, Michel, France, 2.2, finance [JEW]
221. Haas, Peter E. Sr., United States, 2.2, inheritance(Levi Strauss) [JEW]
222. Haffa, Thomas, Germany, 2.2, media, television, merchandising[JEW]
223. Jinnai, Ryoichi, Japan, 2.2, consumer finance
224. Johnson, Edward Crosby III, United States, 2.2, FidelityInvestments
225. Magness, Gary, United States, 2.2, inheritance (Tele-Communications)
226. Mays, L. Lowry, United States, 2.2, Clear Channel
227. Oppenheimer, Nicky and family, South Africa, 2.2, AngloAmerican Corp., DeBeers [JEWS AND EXCEPTIONALLY BAD GUYS...]
228. Rowling, Robert, United States, 2.2, oil and gas
229. Schmid, Gerhard, Germany, 2.2, MobilCom AG
230. Tan, Lucio, Philippines, 2.2, tobacco, airlines, beer
231. Azcarraga Jean, Emilio and family, Mexico, 2.1, media
232. Dorrance, Bennett, United States, 2.1, inheritance (CampbellSoup)
233. Garza Laguera, Eugenio and family, Mexico, 2.1, beverages,banking
234. Hunt, Ray Lee, United States, 2.1, investments
235. Johnson, Barbara Piasecka, United States, 2.1, inheritance(Johnson & Johnson)
236. Romo Garza, Alfonso, Mexico, 2.1, Empresas La Moderna
237. Wertheimer, Alain, France, 2.1, luxury goods [JEW]
238. Zambrano, Lorenzo and family, Mexico, 2.1, cement
239. Andre, Henri and Eric, Switzerland, 2.0, commodity trading
240. Bloomberg, Michael Rubens, United States, 2.0, BloombergFinancial Markets [JEW]
241. Bombardier family, Canada, 2.0
242. Bringas, Ricardo Martin and family, Mexico, 2.0, retailing
243. Cisneros, Gustavo and family, Venezuela, 2.0, beverages,media [MARANOS?]
244. Getty, Gordon Peter, United States, 2.0, inheritance(oil)
245. Ho, Stanley, Hong Kong, 2.0, casinos, transport, hotels
246. Lim Goh Tong, Malaysia, 2.0, diversified
247. Lucas, George, United States, 2.0, motion pictures [MARANOOR JUST A VERY DEPRAVED GOY-FRONT]
248. Saba Raffoul, Isaac, Mexico, 2.0, textiles, chemicals,real estate
249. Thurn und Taxis family, Germany, 2.0
250. Thyssen-Bornemisza, Hans Heinrich, Switzerland, 2.0
251. Tisch, Preston Robert, United States, 2.0, Loews [JEW]
252. Arango, Jeronimo, Mexico, 1.9
253. Johnson, Charles Bartlett, United States, 1.9, FranklinResources
254. Kroc, Joan Beverly, United States, 1.9, McDonald's
255. Mittal, Lakshmi N., India, 1.9, steel
256. Ofer, Yuli and Sammy, Israel, 1.9, Ofer Brothers Group
257. Oppenheim, Alfred von, Germany, 1.9, banking [JEW]
258. Rothschild family, France/Britain, 1.9, RothschildsContinuation Holdings [JEWS]
259. Soares dos Santos, Eliseo Alexandre, Portugal, 1.9,retailing
260. Swire, Sir Adrian and family, Hong Kong, 1.9, aviation,real estate, diversified
261. Tisch, Laurence Alan, United States, 1.9, Loews
262. Udvar-hazy, Steven Ferencz, United States, 1.9, InternationalLease Finance
263. Weston, W. Galen, Canada, 1.9, retailing
264. Yoshida, Tadahiro and family, Japan, 1.9, zippers
265. Batten, Frank, United States, 1.8, media [JEWS?]
266. Bosch family, Germany, 1.8
267. Chen Din Hwa, Hong Kong, 1.8, real estate
268. Chung Ju-yung and family, South Korea, 1.8, automobiles,diversified
269. Davidson, William Morse, United States, 1.8, GuardianIndustries
270. Del Pino, Rafael, Spain, 1.8, construction
271. Farmer, Richard T., United States, 1.8, Cintas
272. Fok, Henry, Hong Kong, 1.8, casinos, real estate, hotels
273. Galvin, Robert William, United States, 1.8, Motorola
274. Helmsley, Leona, United States, 1.8, real estate [MARANO- HIDDEN JEW]
275. Kampf, Serge, France, 1.8, computer services [JEW]
276. Koo, Jeffrey and family, Taiwan, 1.8, banking, diversified
277. Lee Kun-hee and family, South Korea, 1.8, electronics,diversified
278. Lowy, Frank, Australia, 1.8, Westfield Holdings [JEW]
279. Marinho, Roberto and family, Brazil, 1.8, media
280. McCombs, Billy Joe (Red), United States, 1.8, auto dealerships,radio
281. Zobel de Ayala, Jaime Augusto II, Philippines, 1.8,real estate, diversified [MARANO]
282. Allen, Herbert A. Jr., United States, 1.7, investmentbanking [JEW]
283. Blocher, Christoph, Switzerland, 1.7, EMS Chemie [JEW]
284. Carlson, Curtis Leroy, United States, 1.7, trading stamps,hotels
285. Lauren, Ralph, United States, 1.7, Ralph Lauren
286. Lefrak, Samuel Jayson, United States, 1.7, real estate
287. March, Juan and Carlos, Spain, 1.7, investments
288. O'Reilly, Anthony, Ireland, 1.7, Heinz, Waterford
289. Robertson, Julian H. Jr., United States, 1.7, investments
290. Stempel, Ernest E., United States, 1.7, American InternationalGroup [JEW]
291. Stern, Leonard Norman, United States, 1.7, real estate[JEW]
292. Suharto family, Indonesia, 1.7, investments
293. Zell, Samuel, United States, 1.7, real estate [JEW]
294. Al Ghurair, Abdul Aziz, UAE, 1.6, banking
295. Angelini, Anacleto, Chile, 1.6
296. Camargo, Dirce Navarro de, Brazil, 1.6
297. Case, Steve, United States, 1.6, America Online
298. Clark, James H., United States, 1.6, Internet investments
299. Fortabat, Amalia Lacroze de, Argentina, 1.6, cement
300. Frere, Baron Albert, Belgium, 1.6, investments
301. Glaser, Robert D., United States, 1.6, RealNetworks[JEW]
302. Hall, Donald Joyce, United States, 1.6, inheritance(Hallmark Cards)
303. Hamilton, Dorrance Hill, United States, 1.6, inheritance(Campbell Soup)
304. Hearst, Randolph Apperson, United States, 1.6, inheritance(Hearst media)
305. Huizenga, Harry Wayne, United States, 1.6, garbage,automobiles, video
306. Kokkalis, Socrates, Greece, 1.6, electrical equipmentfor PTT
307. Morgridge, John P., United States, 1.6, Cisco Systems
308. Naify, Marshall, United States, 1.6, movie theaters
309. Pratt, Richard, Australia, 1.6
310. Rales, Mitchell, United States, 1.6, Danaher Corp.
311. Rales, Steven, United States, 1.6, Danaher Corp.
312. Rothermere, Lord, Britain, 1.6
313. Sarmiento, Luis Carlos, Colombia, 1.6
314. Schmidt, Karl, Germany, 1.6, banking, brokerage
315. Spangler, Clemmie Dixon Jr., United States, 1.6, investments[JEW]
316. Spielberg, Steven Allen, United States, 1.6, entertainment[JEW]
317. Stephens, Jackson Thomas, United States, 1.6, investmentbanking
318. Uehara, Shoji, Japan, 1.6
319. Wang, Patrick, Hong Kong, 1.6, micromotor manufacturer
320. Weston, Garry and family, Britain, 1.6, Associated BritishFoods
321. Azevedo, Belmiro, Portugal, 1.5
322. Bechtel, Riley P., United States, 1.5, Bechtel [JEW]
323. Bechtel, Stephen Davison Jr., United States, 1.5, Bechtel[JEW]
324. Bezos, Miguel A., United States, 1.5, Amazon.com
325. Booth, Franklin Otis Jr., United States, 1.5, BerkshireHathaway
326. Chang Yung Fa, Taiwan, 1.5
327. Devos, Richard M., United States, 1.5, Amway
328. Flinn, Lawrence Jr., United States, 1.5, United VideoSatellite Corp.
329. Fujita, Den, Japan, 1.5
330. Gonda, Louis L., United States, 1.5, International LeaseFinance
331. Johnson, Rupert Jr., United States, 1.5, Franklin Resources
332. Liebherr family, Switzerland, 1.5 [JEW]
333. Luksic, Andronico and family, Chile, 1.5
334. McCain, Harrison and family, Canada, 1.5
335. McGovern, Patrick Joseph, United States, 1.5, IDG
336. Nicholas, Peter M., United States, 1.5, medical devices
337. Pohlad, Carl, United States, 1.5, banking
338. Sall, John, United States, 1.5, SAS Institute
339. Sarofim, Fayez Shalaby, United States, 1.5, money management
340. Schroder, Bruno, Britain, 1.5
341. Takizaki, Takemitsu, Japan, 1.5
342. Washington, Dennis, United States, 1.5, mining, railroads
343. Woo, Peter, Hong Kong, 1.5
344. Yamauchi, Hiroshi, Japan, 1.5
345. Abele, John E., United States, 1.4, medical devices[JEW?]
346. Adams, Richard L., United States, 1.4, UUNET
347. Aramburuzabala, Maria Asuncion, Mexico, 1.4
348. Bamford, Anthony, Britain, 1.4
349. Blank, Arthur, United States, 1.4, Home Depot [JEW]
350. Fisher, John J., United States, 1.4, inheritance (TheGap) [JEW]
351. Ford, William Clay, United States, 1.4, Ford Motor
352. Fribourg, Michel, United States, 1.4, Continental Grain[JEW]
353. Goldman, Richard N., United States, 1.4, inheritance(Levi Strauss) [JEW]
354. Gonda, Leslie L., United States, 1.4, InternationalLease Finance [JEW]
355. Hayek, Nicolas, Switzerland, 1.4
356. Jobs, Steven Paul, United States, 1.4, Apple Computer[JEW?]
357. Littlefield, Edmund Wattis, United States, 1.4, UtahInternational
358. Mabuchi, Kenichi, Japan, 1.4
359. Marriott, Richard Edwin, United States, 1.4, Marriotthotels
360. Mellon, Paul, United States, 1.4, inheritance
361. Munger, Charles, United States, 1.4, Berkshire Hathaway
362. Nambu, Yasuyuki, Japan, 1.4
363. Peralta, Carlos, Mexico, 1.4
364. Rockefeller, Laurance Spelman, United States, 1.4, investments[MARANOS]
365. Ryan, Patrick George, United States, 1.4, insurance
366. Salinas Pliego, Richardo, Mexico, 1.4 [MARANO]
367. Simmons, Harold Clark, United States, 1.4, investments[JEW]
368. Van Beuren, Hope Hill, United States, 1.4, inheritance(Campbell Soup)
369. Wang, Charles B., United States, 1.4, Computer Associates
370. Weber, Charlotte Colket, United States, 1.4, inheritance(Campbell Soup) [JEW (MARRIED TO ONE)]
371. Ardila Lulle, Carlos, Colombia, 1.3
372. Asper, Israel, Canada, 1.3
373. Bass, Perry Richardson, United States, 1.3, investments
374. Bozano, Julio, Brazil, 1.3
375. Busujima, Kunio, Japan, 1.3
376. Ebbers, Bernard J., United States, 1.3, MCI Worldcom
377. Fukutake, Soichiro, Japan, 1.3
378. Hilti, Michael, Lichtenstein, 1.3
379. Hughes, Bradley Wayne, United States, 1.3, Public StorageInc.
380. Koplowitz, Esther, Spain, 1.3 [JEW]
381. Lewis, Peter Benjamin, United States, 1.3, ProgressiveCorp. [JEW]
382. Lindemann, George L., United States, 1.3, cable TV,cellular telephones [JEW]
383. McCaw, Bruce R., United States, 1.3, telephones
384. McCaw, John Elroy Jr., United States, 1.3, telephones
385. McCaw, Keith W., United States, 1.3, telephones
386. Morita, Akio, Japan, 1.3
387. Nakajima, Kenichi, Japan, 1.3
388. Osano, Masakuni, Japan, 1.3
389. Pattison, Jim, Canada, 1.3
390. Rupert, Johann, South Africa, 1.3
391. Smith, Ollen Bruton, United States, 1.3, Speedway Motorsports
392. Troutt, Kenny A., United States, 1.3, Excel Communications[JEW?]
393. Van Andel, Jay, United States, 1.3, Amway
394. Waitt, Norman W., United States, 1.3, Gateway 2000
395. Ambani, Dhirubai, India, 1.2
396. Bass, Edward Perry, United States, 1.2, investments
397. Burkle, Ronald, United States, 1.2, supermarkets [JEW]
398. Butt, Charles C., United States, 1.2, grocery stores
399. Dedman, Robert Henry, United States, 1.2, country clubs
400. Egan, Richard J., United States, 1.2, EMC
401. Field, Frederick Woodruff, United States, 1.2, media402. Freudenberg family, Germany, 1.2, manufacturing [JEW]
403. Gates, Charles Cassius Jr., United States, 1.2, GatesCorp.
404. Goizueta, Roberto Crispulo, United States, 1.2, inheritance
405. Haindl family, Germany, 1.2
406. Kuo, Terry, Taiwan, 1.2
407. Lin, Barry, Taiwan, 1.2
408. Marshall, E. Pierce, United States, 1.2, oil
409. Matte, Eliodoro, Chile, 1.2
410. McCaw, Wendy, United States, 1.2, divorce
411. Merckle, Adolf, Germany, 1.2
412. Nadar, Shiv, India, 1.2
413. Noboa, Alvaro, Ecuador, 1.2
414. Rainwater, Richard Edward, United States, 1.2, investments
415. Rich, Robert Edward Sr., United States, 1.2, Rich ProductsCorp. [JEW?]
416. Rogers, Edward (Ted), Canada, 1.2
417. Simon family, Germany, 1.2
418. Taubman, A. Alfred, United States, 1.2, real estate
419. Taylor, Glen, United States, 1.2, printing
420. Toyoda, Shoichiro, Japan, 1.2
421. Tyson, Donald John, United States, 1.2, Tyson Foods
422. Ueltschi, Albert Lee, United States, 1.2, Flight Safety
423. Ziff, Daniel Morton, United States, 1.2, investments[JEW]
424. Ziff, Dirk Edward, United States, 1.2, investments [JEW]
425. Ziff, Robert David, United States, 1.2, investments[JEW]
426. Anselmo, Mary, United States, 1.1, PanAmSat
427. Arrillaga, John, United States, 1.1, real estate
428. Birla, Kumar Mangalam, India, 1.1
429. Chace, Malcolm Green III, United States, 1.1, inheritance
430. Chearavanont, Dhanin, Thailand, 1.1, agribusiness (CPGroup)
431. Cook, William Alfred, United States, 1.1, catheters
432. Diehl, Karl and family, Germany, 1.1
433. Diniz, Abilio and family, Brazil, 1.1
434. Emmerson, Archie Aldis (Red), United States, 1.1, SierraPacific
435. Lee Hon Chiu, Hong Kong, 1.1
436. Rochling family, Germany, 1.1
437. Santo Domingo, Julio Mario, Colombia, 1.1
438. Stroeher family, Germany, 1.1
439. Al-Fahim, Mohammed, United Arab Emirates (Abu Dhabi),1.0
440. Champalimaud, Antonio, Portugal, 1.0
441. Cutrale, Jose and family, Brazil, 1.0
442. Ecclestone, Bernie, Britain, 1.0
443. Fisher, Robert J. , United States, 1.0, inheritance(The Gap) [JEW]
444. Ford, Josephine, United States, 1.0, inheritance (FordMotor)
445. Godrej, Adi, India, 1.0
446. Goldsbury, Christopher, United States, 1.0, salsa [JEW]
447. Golisano, B. Thomas, United States, 1.0, payroll services(Paychex)
448. Hartono, Budi and family, Indonesia, 1.0, tobacco
449. Heraeus family, Germany, 1.0, diversified
450. Hinduja brothers, India, 1.0
451. Kimmel, Sidney, United States, 1.0, apparel [JEW]
452. Knauf family, Germany, 1.0, construction materials
453. Koplowitz, Alicia, Spain, 1.0 [JEW]
454. Lee family, Singapore, 1.0
455. Lewis, Joseph, Britain, 1.0 [JEW]
456. Liem Sioe Liong, Indonesia, 1.0
457. Said, Jamie and Jose, Chile, 1.0
458. Schneider, Donald, United States, 1.0, trucking [JEW]
459. Sidhu, Sanjiv, United States, 1.0, software
460. Sobrato, John Anthony, United States, 1.0, real estate
461. Tiong Hiew King, Malaysia, 1.0
462. Vidigal, Gaston, Brazil, 1.0
463. Werhahn family, Germany, 1.0, diversified [JEW]
464. Yeoh, Francis, Malaysia, 1.0
465. Zuckerman, Mortimer, United States, 1.0, real estate,media [JEW]

http://www.jewwatch.com/jew-leaders-list-of-jewish-millionaires.html