Monday, July 7, 2008

Orientalisme dan Al-Quran: Kritik Wacana Keislaman Mutakhir

Orientalisme dan Al-Quran: Kritik Wacana Keislaman Mutakhir
Kamis, 14 Pebruari 2008
Kalangan orientalis seperti Arthur Jeffery dan kawan-kawan bersemangat ingin “mengkorupsi” keotentikan Al-Quran. Namun hingga kini tetap kokoh

“Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani,” kutipan ini adalah pernyataan Alphonse Mingana, seorang pendeta Kristen asal Iraq dan mantan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris. Pernyataan itu ia sampaikan tahun 1927.

Mengapa pendeta Kristen yang juga orientalis ini mengatakan seperti itu? Tentu saja, ia bukan sedang bergurau. Pernyataan orientalis-missionaris satu ini karena dilatarbelakangi oleh kekecewaan sarjana Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan juga disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci nya Al-Quran.

Perlu diketahui mayoritas ilmuwan dan cendekiawan Kristen telah lama meragukan otentisitas Bible. Mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa Bible yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti bukan asli alias palsu. Terlalu banyak campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sukar untuk dibedakan mana yang benar-benar Wahyu dan mana yang bukan.

Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Kurt Aland dan Barbara Aland, dalam The Text of the New Testament (Michigan: Grand Rapids, 1995). Menurut Barbara, sampai pada permulaan abad keempat, teks Perjanjian Baru dikemmengembangkan secara leluasa. Yang jelas banyak yang melakukan koreksi.

Pandangan seperti ini tidaklah sendiri. Saint Jerome, seorang rahib Katolik Roma yang belajar teologi juga mengeluhkan fakta banyaknya penulis Bible yang diketahui bukan menyalin perkataan yang mereka temukan, tetapi malah menuliskan apa yang mereka pikir sebagai maknanya. Sehingga yang terjadi bukan pembetulan kesalahan, tetapi justru penambahan kesalahan.

“Mereka menuliskan apa yang tidak ditemukan tapi apa yang mereka pikirkan artinya; selagi mereka mencoba meralat kesalahan orang lain, mereka hanya mengungkapkan dirinya sendiri,” ujar Jerome sebagaimana dikutip dalam The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption and Restoration (1992).

Disebabkan kecewa dengan kenyataan semacam itu, maka pada tahun 1720 Master of Trinity College, R. Bentley, menyeru kepada umat Kristen agar mengabaikan kitab suci mereka, yakni naskah Perjanjian Baru yang diterbitkan pada tahun 1592 versi Paus Clement. Seruan tersebut kemudian diikuti oleh munculnya "edisi kritis" Perjanjian Baru hasil suntingan Brooke Foss Westcott (1825-1903) dan Fenton John Anthony Hort (1828-1892).

Tentu saja Mingana bukan yang pertama kali melontarkan seruan semacam itu, dan ia juga tidak sendirian. Jauh sebelum dia, tepatnya pada tahun 1834 di Leipzig (Jerman), seorang orientalis bernama Gustav Fluegel menerbitkan 'mushaf' hasil kajian filologinya. Naskah yang dibuatnya itu ia namakan Corani Textus Arabicus. Naskah ini sempat dipakai “tadarrus” oleh aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Selain Flegel, datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Kemudian muncul Theodor Noeldeke yang ingin merekonstruksi sejarah Al-Quran dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh segelintir kaum Liberal di Indonesia.

Juga Arthur Jeffery yang datang tahun 1937 yang berambisi membuat edisi kritis Al-Quran, mengubah Mushaf Utsmani yang ada dan menggantikannya dengan mushaf baru. Orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American University Cairo dan menjadi guru besar di Columbia University ini, konon ingin merestorasi teks Al-Quran berdasarkan Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Dawuud as-Sijistaani yang ia anggap mengandung bacaan-bacaan dalam ‘mushaf tandingan’ (ia istilahkan dengan ‘rival codices’). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergstraesser dan Otto Pretzl yang pernah bekerja keras mengumpulkan foto lembaran-lembaran (manuskrip) Al-Quran dengan tujuan membuat edisi kritis Al-Quran (tetapi gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia ke-II berkecamuk), sebuah ambisi yg belum lama ini di “amini” kan oleh Taufik Amal dari JIL. Saking antusiasnya terhadap qira’aat-qira’aat pinggiran alias ‘nyleneh’ (Nichtkanonische Koranlesarten) Bergstraesser lalu mengedit karya Ibn Jinni dan Ibn Khalaawayh.

Kajian orientalis terhadap kitab suci Al-Quran tidak sebatas mempertanyakan otentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan Al-Quran (theories of borrowing and influence). Sebagian mereka bahkan berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi 'teori pinjaman dan pengaruh' itu, terutama dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristen (semisal Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain). Ada pula yang membandingkan ajaran Al-Quran dengan adat-istiadat Jahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. Biasanya mereka katakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Quran banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat.

Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson, " “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. Al-Quran] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha.” Tapi, bagaimanapun, segala upaya mereka tak ubahnya bagaikan buih, timbul dan pergi begitu saja, berlalu tanpa pernah berhasil mengubah keyakinan dan penghormatan umat Islam terhadap kitab suci Al-Quran, apatah lagi membuat mereka murtad.

Kekeliruan & Khayalan Orientalis

Al-Quran merupakan target utama serangan missionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah saw. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen, dan lain-lain. Karena itu mereka sibuk merekonstruksi biografi Nabi Muhammad saw. khususnya dan sejarah Islam umumnya. Mereka ingin umat Islam melakukan hal yang sama seperti mereka telah lakukan terhadap Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. Bagi mereka, Musa atau 'Moses' cuma tokoh fiktif belaka (invented, mythical figure) dalam dongeng Bibel, sementara tokoh ‘Jesus’ masih diliputi misteri dan cerita-cerita isapan-jempol.

Dalam logika mereka, jika ada upaya pencarian 'Jesus historis', mengapa tidak ada usaha menemukan fakta sejarah hidup Nabi Muhammad saw? Demikian seru mereka.

Muncullah Arthur Jeffery yang menulis The Quest of the Historical Mohammad, dimana ia tak sungkan-sungkan menyebut Nabi Muhammad saw sebagai "kepala perampok" (robber chief). Usaha Jeffery tersebut diteruskan oleh F. E. Peters dan belum lama ini dilanjutkan oleh seseorang yang menyebut dirinya "Ibn Warraq."

Missionaris-orientalis tersebut tidak menyadari bahwa tulisan mereka sebenarnya hanya menunjukkan hatred (kebusukan-hati) dan kebencian mereka terhadap tokoh dan agama yang mereka kaji, sebagaimana disitir oleh seorang pengamat; “The studies carried out in the West … have demonstrated only one thing : the anti-Muslim prejudice of their authors.”

Sikap semacam ini juga nampak dalam kajian Orientalis terhadap hadits. Mereka menyamakan Sunnah dengan tradisi apokrypha dalam sejarah Kristen atau tradisi Aggada dalam agama Yahudi. Dalam khayalan mereka, teori evolusi juga berlaku untuk sejarah hadits. Mereka berspekulasi bahwa apa yang dikenal sebagai hadits muncul beberapa ratus tahun sesudah Nabi Muhammad saw. wafat, bahwa hadits mengalami beberapa tahap evolusi. Nama-nama dalam rantai periwayatan (sanad) mereka anggap tokoh fiktif. Penyandaran suatu hadits secara sistematik (isnad), menurut mereka, baru muncul pada zaman Daulat Abbasiyyah. Karena itu, mereka beranggapan bahwa dari sekian banyak hadits hanya sedikit saja yang sahih, manakala sisanya kebanyakan palsu. Demikian pendapat Goldziher, Margoliouth, Schacht, Cook, dan para pengikutnya.

Pendapat ini telah banyak dikutip. Diantaranya dalam Muhammedanische Studien (Halle, 1889), On Muslim Tradition," Muslim World, II/2 (1912): 113-21; Alter und Ursprung des Isnad ," Der Islam, 8 (1917-18) juga Joseph Schacht dalam , A Revaluation of Islamic Traditions.” (Journal of the Royal Asiatic Society (1949)).

Umumnya para orientalis-missionaris menghendaki agar umat Islam membuang tuntunan Rasulullah saw. sebagaimana orang Kristen meragukan dan akhirnya mencampakkan ajaran Jesus.

Keaslian Al-Quran & Kesalahan Orientalis

Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan perlu senantiasa diingat. Pertama, Al-Quran pada dasarnya bukanlah 'tulisan' (rasm atau writing) tetapi merupakan 'bacaan' (qira'ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Proses pewahyuannya maupun cara penyampaian, pengajaran dan periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Sejak zaman dahulu, yang dimaksud dengan 'membaca' Al-Quran adalah "membaca dari ingatan (qara'a 'an zhahri qalbin, atau to recite from memory)." Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Quran dicatat—yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya—berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari’muqri’.

Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini.

Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan—manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya—memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.

Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. Orientalis seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Quran sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.

Akibatnya, mereka menganggap Al-Quran sebagai karya sejarah (historical product), sekedar rekaman situasi dan refleksi budaya Arab abad ke-7 dan 8 Masehi. Mereka juga mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang ini tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!), dan karenanya perlu membuat edisi kritis (critical edition), merestorasi teks Al-Quran dan menerbitkan naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada

Kedua, meskipun pada prinsipnya diterima dan diajarkan melalui hafalan, Al-Quran juga dicatat dengan menggunakan berbagai medium tulisan. Sampai wafatnya Rasulullah saw., hampir seluruh catatan-catatan awal tersebut milik pribadi para Sahabat Nabi dan karena itu berbeda kualitas dan kuantitasnya satu sama lain. Karena untuk keperluan masing-masing (for personal purposes only), banyak yang menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar (tafsir/glosses) di pinggir ataupun di sela ayat-ayat yang mereka tulis. Baru di kemudian hari, ketika jumlah penghafal Al-Quran menyusut karena banyak yang gugur di medan perang, usaha kodifikasi (jam') Al-Quran mulai dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sehingga Al-Quran dikumpulkan menjadi sebuah mushaf, berdasarkan periwayatan langsung (first-hand) dan mutawattir dari Nabi saw. Setelah wafatnya Abu Bakar as-Siddiq r.a. (13 H/ 634 M), mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah Umar r.a. sampai beliau wafat (23 H/ 644 M), lalu disimpan oleh Hafsah, sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah Utsman r.a. Pada masa beliaulah, atas desakan permintaan sejumlah Sahabat, sebuah komisi ahli sekali lagi dibentuk dan diminta mendata ulang semua qira’at yang ada, serta memeriksa dan menentukan nilai kesahihan periwayatannya untuk kemudian melakukan standarisasi bacaan demi mencegah kekeliruan dan mencegah perselisihan. Hasilnya dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang masing-masing mengandung qira’at-qira’at mutawattir yang disepakati kesahihan periwayatannya dari Nabi saw. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses kodifikasinya.

Para orientalis yang ingin mengubah-ubah Al-Quran biasanya akan memulai dengan mempertanyakan fakta sejarah ini seraya menolak hasilnya, menganggap bahwa sejarah kodifikasi tersebut hanyalah kisah fiktif, dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad ke-9 Masehi. Jeffery, misalnya, seenaknya mengatakan, "That he [i.e. Abu Bakr ra.] ever made an official recension as the orthodox theory demands is exceedingly doubtful." Ia juga mengklaim bahwa "…the text which Uthman canonized was only one out of many rival texts, and we need to investigate what went before the canonical text."

Ketiga, salah-faham tentang rasm dan qira'at. Sebagaimana diketahui, tulisan Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam, Al-Quran ditulis 'gundul', tanpa tanda-baca sedikitpun.

Sistem vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Meskipun demikian, rasm Utsmani sama sekali tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar Al-Quran langsung dari para Sahabat, dengan cara menghafal, dan bukan dari tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.

Orientalis seperti Jeffery dan Puin telah salah-faham dan keliru, lalu menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings --sebagaimana terjadi dalam kasus Bibel-- serta keliru menyamakan qira'aat dengan 'readings', padahal qira'aat adalah 'recitation from memory' dan bukan 'reading the text'.

Mereka tidak tahu bahwa dalam hal ini kaedahnya adalah: tulisan harus mengacu pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam ("ar-rasmu taab'iun li ar riwaayah") dan bukan sebaliknya.

Orientalis seperti Jeffery dan kawan-kawan yang bersemangat ingin “mengkorupsi” keotentikan Al-Quran tidak mengerti atau sengaja tidak peduli bahwa Al-Quran tidak sama dengan Bibel; Al-Quran bukan lahir dari manuskrip, tapi sebaliknya; manuskrip lahir dari Al-Quran.

Buku berjudul asli “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran”, ini merupakan kumpulan berbagai artikel Dr. Syamsuddin Arief dari berbagai media massa. Meliputi; jurnal, harian, majalah, seminar dan colloquia. Meski demikian, isinya tidak mengurangi ketajaman dan keutuhan isi kandungannya, yang secara keseluruhan merefleksikan worldview Islam dengan jelas dan gamblang. Tulisan-tulisan ini ditulis disela-sela kesibukannya semasa menjadi mahasiswa S3 di ISTAC Malaysia dan juga ketika menempuh program doktoralnya yang keduanya di “sarang” orientalis di Frankfrut Jerman. Buku ini merupakan monograf perdananya yang kebetulan diterbitkan bertepatan dengan ulang-tahun INSISTS yang kelima pada 9 Februari lalu, momentum yang menandai pertautan antara penulis buku ini dan INSISTS sendiri. [syam/malki/cha/www.hidayatullah.com]

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6350&Itemid=64

Kenaikan BBM, Kebijakan Panik dan Zalim Pemerintah SBY-JK

Kenaikan BBM, Kebijakan Panik dan Zalim Pemerintah SBY-JK
Minggu, 11 Mei 08 07:52 WIB

Saat ini langkah untuk segera menaikkan harga BBM seakan menjadi sebuah langkah kebijakan paling rasional, paling tepat dilakukan untuk menyelesaikan persoalan APBN. Opini tersebut terbentuk akibat gencarnya kampanye bahwa penyelamatan APBN akibat tingginya harga minyak dunia hanya dapat diselesaikan dengan menaikkan harga BBM.

Masih segar dalam ingatan kita berbagai upaya penciptaan opini untuk mendukung kenaikan harga BBM sebesar 126% pada bulan Oktober 2005. Saat terjadi kenaikan harga minyak dunia, pemerintah SBY dan berbagai lembaga pendukung sibuk memberikan argumentasi bahwa dampat buruk yang terjadi hanya bisa diatasi dengan kenaikan harga BBM. Berbagai proposalpun diajukan untuk memuluskan dan mempercepatan kenaikan harga BBM. Mulai dari alasan untuk menyelamatkan ekonomi, menjawab ketidakpastian pasar hingga keyakinan bahwa kenaikan harga BBM justru akan menjadi obat untuk mengurangi kemiskinan, dll.

Segala argumentasi untuk mendukung kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005 akhirnya terbukti ngawur. Angka kemiskinan justru meningkat dari 31, 1 juta jiwa (2005) menjadi 39, 3 juta jiwa (2006). Demikian pula inflasi mengalami kenaikan tajam sebesar 17, 75% (2006). Di sisi industri, kenaikan harga BBM untuk kedua kalinya tahun 2005 tersebut telah mendorong percepatan deindustrialisasi, Bila pada tahun 2004 sektor manufaktur masih tumbuh 7, 2% maka pada tahun 2007 hanya tumbuh sebesar 5, 1%. Ini terjadi karena industri ditekan dari dua sisi yakni peningkatan biaya produksi dan merosotnya demand akibat menurunnya daya beli masyarakat. Penambahan jumlah penganggur dari 9, 9% (2004) menjadi 10, 3% (2005) dan 10, 4% (2006) pun akhirnya tidak terelakkan.

Dampak kenaikan harga BBM juga sangat panjang. Perhitungan dampak kenaikan harga BBM yang ngawur telah mengakibatkan pemerintah SBY lalai untuk membuat kebijakan antisipasinya. Akhirnya, beban rakyat terus meningkat akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Jumlah rakyat miskin terus bertambah dan bahkan di sejumlah daerah, rakyat menderita kekurangan gizi atau busung lapar hingga banyaknya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh masyarakat kelompok bawah akibat himpitan ekonomi.

Saat ini desakan untuk segera menaikkan harga BBM kembali terjadi. Sebagaimana tahun 2005, kenaikan harga minyak mentah dunia tidak segera direspon dengan berbagai kebijakan penyelamatan ekonomi tetapi pemerintah SBY justru gencar menciptakan opini pembenaran kenaikan harga BBM. Awalnya pemerintah SBY sibuk menjelaskan bahwa dampak buruk kenaikan harga minyak dunia tidak hanya dirasakan oleh Indonesia tetapi juga negara-negara lain. Kemudian disusul dengan pidato presiden SBY yang meminta rakyat memahami bila pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM.


Sebagaimana tahun 2005, sebagian anggota Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, terutama yang selama ini dikenal pro-kreditor dan lembaga internasional, bahkan juga mengusulkan untuk kembali meningkatkan utang. Alternatif ini menunjukkan tidak adanya kreatifitas dan tidak adanya upaya pemerintahan SBY untuk menghilangkan ketergantungan Indonesia kepada lembaga keuangan internasional. Padahal dalam APBN tahun 2008 telah direncanakan utang baru sebesar Rp 48 triliun dan penerbitan SUN, obligasi, dll sebesar Rp 117 triliun.

Tim Indonesia Bangkit menilai rencana kenaikan harga BBM sebagai sebuah kebijakan panik (panic policy) dan sangat tidak adil. Beberapa argumentasi kami adalah:

1. Rendahnya Kredibilitas Prediksi Tim Ekonomi Pemerintah SBY-JK. Tingginya harga minyak mentah dunia yang mengakibatkan kepanikan Pemerintah SBY-JK, terjadi akibat lemahnya kredibilitas prediksi Tim ekonomi atas asumsi-asumsi APBN 2008, termasuk prediksi harga minyak, sehingga pada akhirnya harus dibayar dengan mahal.

Di tengah tren harga minyak dunia yang terus meningkat pada tahun 2007, dalam asumsi dasar APBN 2008 pemerintah SBY yang sangat optimistis malah memprediksi harga minyak hanya sebesar US$60 per barel. Prediksi produksi minyak sebesar 1, 03 juta barel/hari juga diragukan karena realisasi tahun 2007 hanya sekitar 910 ribu barel per hari. Sementara dalam Nota Keuangan 2008 tidak dijelaskan kebijakan terobosan yang akan dilakukan untuk mendorong tingkat produksi. Hal ini mengakibatkan keraguan para pelaku pasar terhadap kredibilitas anggaran pemerintah.

Menyadari kelemahan prediksi ini, hanya satu bulan setelah APBN 2008 mulai berjalan, pemerintah SBY-JK meminta percepatan pembahasan RAPBN P 2008 kepada DPR dari jadwal rutin bulan Juli menjadi bulan Februari. Namun, dalam APBNP tidak tercantum berbagai langkah seperti yang diusulkan oleh Tim Indonesia Bangkit seperti mengurangi alokasi anggaran pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri, bunga rekap, pemangkasan biaya pengadaan BBM, dll.

Harga minyak pun direvisi menjadi US$95 per barel, dengan jumlah produksi sebesar 927 barel per hari tanpa alternatif kenaikan harga BBM. Sebelum sempat APBNP 2008 dijalankan, Menteri Keuangan kembali revisi harga minyak sebesar US$110 per barel, percepatan kenaikan harga BBM dan bersamaan dengan revisi asumsi-asumsi lainnya seperti pertumbuhan ekonomi menjadi hanya 6%, inflasi menjadi 8, 5-9, 5%, dll.

Kredibilitas prediksi pemerintah yang sangat lemah inilah yang telah mengakibatkan ketidakpercayaan pasar. Tetapi oleh Tim Ekonomi pemerintah, ketidakpercayaan pasar dibelokkan sebagai akibat penundaan kenaikan harga BBM.

2. Kenaikan Harga BBM Sebagai Pilihan Pertama Pemerintah SBY-JK, tetapi Telah Diklaim Sebagai Pilihan Terakhir. Tidak ada kemauan politik (political will) dan keberanian dari Pemerintah SBY-JK untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan ekonomi akibat tingginya harga minyak, yang mengedepankan prinsip pembagian beban (burden sharing) yang adil. Hal ini mengakibatkan seolah-olah klaim Presiden SBY bahwa kenaikan harga BBM yang akan dilakukan sebagai pilihan terakhir adalah sebuah kebohongan publik. Karena faktanya masih banyak langkah-langkah kebijakan penyelamatan ekonomi lain yang belum dilakukan sebelum menaikan harga BBM.

Beban APBN karena turunnya tingkat produksi akan lebih besar dibanding karena tingginya harga minyak dunia. Bila tingkat produksi minyak dapat dipertahankan di atas 1 juta barel per hari, maka dampaknya terhadap APBN akan relatif lebih kecil. APBN justru akan diuntungkan dengan tingginya harga minyak. Namun, langkah ini tidak pernah dilakukan karena memang akan memaksa Menteri ESDM untuk merevisi UU Migas yang berarti harus pula merevisi kebijakan liberalisasi sektor energi yang telah dilakukan secara ugal-ugalan.

Dalam paper yang direlease pada tanggal 25 Juli 2005, ”Kenaikan Harga BBM: Pilihan Akhir yang Harus Didahului Reformasi Tata Niaga Minyak Bumi dan Gas, Program Anti Kemiskinan yang Efektif, Renegosiasi”, TIB telah memberikan masukan langkah-langkah kebijakan yang harus dilakukan sebelum memilih kenaikan harga BBM. Langkah tersebut antara lain:

Reformasi Tata Niaga Minyak Bumi dan Gas: Hapus Brokers Pemburu Rente.

Telah menjadi rahasia umum, bahwa proses pengadaan dan distribusi BBM oleh Pertamina sarat dengan KKN dan ketidakefisienan. Selama ini, volume pasokan BBM, baik yang diproduksi oleh kilang dalam negeri maupun yang diimpor, jauh lebih tinggi dibanding jumlah BBM yang benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat dan industri.

Revisi Formula Perhitungan Alokasi Dana Bagi Hasil Minyak Bumi dan Gas

Ada dua cara yang dapat dilakukan dalam merubah perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas yaitu pertama, alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas diperhitungkan berdasarkan dana penerimaan pemerintah di sektor minyak bumi dan gas setelah dikurangi subsidi BBM. Dengan kebijakan ini, perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas masih tetap memperhitungkan fluktuasi harga minyak dunia, akan tetapi dana yang dibagikan adalah dana penerimaan pemerintah setelah dikurangi pengeluaran subsidi. Alternatif kedua adalah dengan mematok (freeze) besarnya alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas. Langkah kebijakan ini dilakukan dengan mengubah cara perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas yang semula mengikuti perubahan harga minyak dunia diganti dengan cara perhitungan alokasi Dana Bagi Hasil minyak bumi dan gas secara tetap (tidak didasarkan pada harga minyak dunia), berapa pun realisasi harga minyak mentah dunia.

Meningkatkan Mobilisasi Dana Alternatif

Beban berat APBN dapat diselesaikan dengan melakukan berbagai langkah kebijakan untuk melakukan burden sharing kepada semua stakeholders baik pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, kreditor kalangan bisnis maupun masyarakat luas. Langkah terobosan lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah APBN adalah dengan memobilisasi dana alternatif. Terdapat beberapa sumber dana yang dapat dioptimalkan, antara lain:

- Optimalisasi Penggunaan Dana-dana Pemerintah

- Optimalisasi penerimaan Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan Gas

- Memperbaiki manajemen utang dan restrukturisasi utang dalam negeri

- Dll.

Melaksanakan Program Anti Kemiskinan yang Efektif

Menyusun strategi diversifikasi energi

Meskipun langkah-langkah tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek maupun jangka panjang, akan tetapi pada tahun 2005 pemerinth SBY-JK langsung menyatakan tidak layak dan tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Tahun 2008, pemerintah SBY-JK dan para pendukung kebijakan kenaikan harga BBM kembali lagi memberikan alasan yang sama untuk tidak melaksanakan langkah-langkah yang lebih adil tersebut. Bila alasannya sama, lalu apa yang dilakukan oleh pemerintah SBY-JK selama 2-3 tahun ini? Tidak ada alasan lain kecuali pemerintah SBY-JK dengan kebijakan Washington Konsensus memang akan menghapuskan berbagai subsidi termasuk subsidi BBM bagi masyarakat, meskipun masih sangat dibutuhkan.


3. Kenaikan Harga BBM Tanpa Persiapan Matang dan Kebijakan Dukungan Sangat Merugikan Kinerja Ekonomi Nasional. Pengelolaan kebijakan fiskal yang lemah serta rencana kenaikan harga BBM yang diwacanakan akan segera dilakukan meski tidak didukung oleh persiapan yang matang akan berdampak negatif pada kesejahteraan masyarakat terutama menengah bawah serta daya saing dan ketahanan sektor industri terutama menengah dan kecil. Di samping kerugian ekonomi juga ada potensi timbulnya dampak sosial yang buruk.

Salah satu program yang akan dilakukan oleh pemerintah SBY-JK, sebagaimana tahun 2005, adalah memberikan kompensasi bagi masyarakat miskin. Tahun 2005 pemerintah SBY memberikan BLT sebesar Rp 100.000 per bulan per keluarga bagi keluarga miskin selama satu tahun. Banyak kelemahan dari program kompensasi ini antara lain besaran BLT tidak dapat mengkonversi tambahan beban orang miskin karena jumlah tersebut adalah hasil perhitungan bila harga BBM naik 30-40%, sementara faktanya BBM naik 126%. Selain juga masalah salah sasaran. Meskipun telah dilakukan pendataan oleh BPS, diprediksi ada sekitar 15-20% keluarga miskin yang tidak terjaring karena berbagai alasan.

Tahun 2008, pemerintah SBY-JK tanpa persiapan matang akan mengulang program tersebut. Padahal koreksi terhadap program dan mekanisme belum dilakukan. Demikian juga data yang akan dijadikan data based juga data yang telah out of date karena akan menggunakan data penerima BLT tahun 2005. Dengan gambaran ini dapat dipastikan tingkat efektifitas dari program BLT akan sangat rendah. Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2006 muncul keluarga miskin baru yang belum terdata akibat berbagai kebijakan ekonomi pemerintah SBY-JK yang tidak berpihak kepada kelompok masyarakat bawah.

Dari berbagai argumen di atas, Tim Indonesia Bangkit meminta pemerintah SBY-JK segera melakukan langkah-langkah kebijakan yang adil, di mana ada burden sharing dalam menghadapi beban APBN akibat tingginya harga minyak dunia. Menaikan harga BBM adalah cara gampangan yang membebankan dampak persoalan kepada masyarakat. Padahal cukup banyak dana APBN yang digunakan untuk membiayai birokrasi yang tidak efisien bahkan sangat tidak adil seperti telah dilakukan Menteri Keuangan dengan menaikan biaya renumerasi Departemen Keuangan sebesar Rp 5 Triliun lebih pertahun. Pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, dampak kerugian sosial ekonomis yang ditimbulkan jauh lebih besar dan tidak sebanding dengan penghematan finansial yang diperolah dalam APBN.

Jakarta, 7 Mei 2008

Tim Indonesia Bangkit

http://www.eramuslim.com/berita/tha/

Thursday, July 3, 2008

Kewajiban Memerangi Seluruh Kaum Kafir

Dalam surat al-taubah ayat 29 disebutkan, "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (beriman pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak beragama dengan agama yang benar (Islam). (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan rendah."

Imam Samudra tidak menafikan ayat-ayat `toleransi beragama,´ seperti ayat 109 surat al-Baqarah, "Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya." namun ayat-ayat toleransi ini dieliminasi (mansukh) oleh `ayat pedang,´ yang dalam versinya adalah ayat 5 dan 29 surat al-Taubah.

Dengan turunnya `ayat pedang´ ini, segala perjanjian yang pernah ada antara Rasulullah dengan kaum musyrik dihapuskan. Pada periode ini seluruh kaum musyrikin diperangi, kecuali jika mereka bertaubat masuk Islam, mendirikan shalat, dan membayar zakat, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasul Allah, dan mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat." (HR. Muttafaq `Alaih dari Ibn Umar).

Dalam Surat al-Taubah ayat 36 disebutkan, "Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." Peperangan ini dibenarkan hingga tidak ada lagi kemusyrikan dan kekafiran, "Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan supaya agama itu semata-mata agama Allah." (QS. al-Anfal: 39)

Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, "Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sehingga hanya Allah saja yang diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombak, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyalahi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu." (HR. Ahmad dari Ibn Umar)

Imam Samudra mengkritik seorang dai nasional terkenal yang disebut-sebut orang sebagai dai sukses dan dapat merebut hati umat Islam dan kaum kafir. Dai ini berdakwah dengan penuh `hikmah´ dan diterima oleh seluruh kalangan sehingga menjadi rahmatan lil `alamin. Menurut Imam Samudra, pemahaman semacam ini lumrah dan telah sekian lama mengendap di benak banyak kaum muslimin. Dalam persepsi mereka, akhlak karimah adalah mengalah, berbicara lemah lembut, tidak menyinggung perasaan orang lain, diam saja saat dicekik dan dilempari kotoran unta, bertoleransi dengan orang kafir dalam hal apapun termasuk dalam masalah ibadah dan akidah.

Menurut Imam Samudra, pemahaman ini tidak tepat. Ia mengutip Hadis di mana Rasulullah pernah melaknati kaum kafir yang melukainya di perang Uhud. Rasul juga pernah melakukan qunut nazilah untuk mengutuk kaum kafir yang sangat keji kepada kaum muslimin.

Membiarkan Bait al-Maqdis dan al-Haramain (kota Mekkah dan Madinah) dalam cengkraman Zionis dan Salibis bukanlah hikmah apalagi rahmatan lil `alamin. Membiarkan ribuan muslimah diperkosa kaum kaum kafir serta bayi-bayi muslim dibantai bukanlah rahmatan lil `alamin. Ketidakpedulian atas itu semua justru adalah sebuah pengkhianatan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Mundziri disebutkan: "Orang yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan muslim."

Islam cinta damai, namun bukan berarti Islam membolehkan kaum muslimin dianiaya dan disakiti.

Adanya klaim naskh `ayat pedang´ atas `ayat-ayat merpati,´ sebenarnya bukan pendapat pribadi Imam Samudra. Hampir seluruh ahli tafsir menyatakan demikian. Al-Suyuthi mengutip pendapat Ibn al-`Arabi bahwa seluruh ayat toleransi terhadap orang kafir dinaskh oleh ayat pedang ini. Jumlah ayat-ayat yang dinaskh itu ada 124 ayat, yang dalam penghitungan Muhammad al-Kilabi al-Andalusi jumlahnya 114.

Nampaknya, kajian parsial terhadap ayat-ayat al-Qur`an dengan memperdalam ayat-ayat jihad telah memicingkan pandangan dan penafsiran Imam Samudra atas ayat-ayat merpati, yang dia akui sendiri keberadaannya.

Seharusnya ia mau memperhatikan penafsiran yang dilakukan Rasulullah atas ayat-ayat pedang dan ayat-ayat merpati. Tafsiran ini tergambarkan dalam sikap dan perilaku Rasulullah terhadap kaum kafir.

Sebagai orang yang paling memahami al-Quran, Rasulullah tidak semerta-merta membunuh seluruh yahudi yang hidup dan tinggal di kota Madinah dan kota-kota sekitarnya, beliau justru bergaul dan berinteraksi baik dengan mereka. Demikian juga dengan nashrani Najran, bahkan terhadap kaum Majusi yang hidup di daerah Hajar, beliau tidak memerangi mereka, tetapi hanya memungut upeti dari mereka.

Adapun pemahaman Hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Ibn Umar, bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memerangi semua orang hingga mereka masuk Islam, maka harus dipahami secara kontekstual. Bahwa Rasulullah tidak semerta-merta memerangi orang kafir tanpa alasan, adalah bukti bahwa Hadis tersebut harus dimaknai sebagai perintah perang terhadap mereka yang enggan menyatakan keislaman dan tidak membayar upeti, serta merongrong kedamaian kaum muslimin, atau bahwa ayat dan Hadis tersebut, berkaitan dengan situasi perang, bukan dalam keadaan damai.

Masih dalam rangka 'memaknai' Hadis riwayat Sahabat Ibn Umar, Khalifah Abu Bakar memerangi orang-orang Islam yang membangkang dan enggan membayar zakat, padahal mereka sudah mengucapkan La ilaaha illa Allah.

Sikap dan perilaku kau muslimin terhadap non muslim, harus proporsional. Artinya kita akan memerangi mereka tanpa jerih dan takut, ketika mereka memerangi kita. Dan ketika mereka berlaku baik, maka kita pun dituntut untuk berbuat baik. Allah Ta'ala berfirman, Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Mumtahanah ayat 8-9).

Dalam sebuah Hadis, Rasulullah bersabda, Siapa yang membunuh orang kafir mu'ahad (yaitu kafir dzimmi yang telah mendapatkan perlindungan dari pemerintah), maka ia tidak dapat mencium aroma surga, dan aroma surga itu dapat dihirup dari jarak perjalanan selama empat puluh tahun." (HR. al-Bukhari)

Keterangan-keterang an di atas, menjelaskan kepada kita tentang kebolehan umat Islam berinteraksi atau ber-mu'amalah dengan non muslim, selama mereka bersikap kooperatif dan tidak mengganggu kaum muslimin.

Kaum Muslimin memang harus merasa prihatin dengan kezaliman yang menimpa saudara-saudaranya di banyak tempat. Namun berperang dengan dorongan hawa nafsu dan dendam bukan merupakan ajaran Agama. Saat Ali bin Abu Thalib berhasil memojokkan seorang kafir dalam sebuah pertempuran, di mana dia sudah mampu mendesaknya, Ali batal membunuhnya akibat orang kafir itu meludahinya. Hal itu dia lakukan karena dia tidak ingin peperangan dan pertempuran yang dilakukannya berdasarkan dendam dan hawa nafsu, melainkan karena dorongan Agama. Ali bisa saja melanjutkan keinginannya untuk membunuh, namun ia takut perbuatannya itu berangkat dari kemarahan pribadinya.

Ada juga pihak yang secara radikal menghendaki syariah jihad dihilangkan dari Ajaran Islam, karena jihad berpotensi menimbulkan radikalisme yang berujung kepada perilaku terorisme. Hal ini tentu bukan sebuah usulan yang bijak. Karena pensyariatan jihad ada dalam al-Qur`an dan Hadis. Justru yang lebih mendesak untuk dilakukan adalah upaya menyosialisasikan pemahaman jihad yang sebenarnya. Sehingga tidak dipahami secara keliru dan ekstrim.

Mereka yang melakukan kegiatan terorisme, sebagaimana faksi-faksi sempalan lain yang melakukan kejahatan dan penyelewengan atas nama Agama, memang menggunakan ayat-ayat al-Qur`an serta Hadis Rasulullah sebagai legitimasi kejahatan yang mereka lakukan. Namun bukan berarti mereka melakukan "hal yang benar", karena ayat-ayat dan Hadis yang mereka gunakan memang valid, hanya saja penafsiran atasnya berpotensi salah. Kondisi ini pernah diprediksikan Ali bin Abu Thalib lewat perkataannya, "kalimah al-haqq wa urid bi ha al-bathil" (kalimat haq yang digunakan sebagai legitimasi atas kebatilan). Wallah A´lam.

lengkapnya ada di: http://andiwowo. blogspot. com/

Sir Anthony O'Reilly & Trinity Foundation

http://www.tcd.ie/trinityfoundation/foundationboard/tfboreilly.php

Board Members of Trinity Foundation : Sir Anthony O'Reilly

Sir Anthony O’Reilly is Chief Executive, Independent News & Media PLC, a worldwide publishing group headquartered in Ireland. Amongst his numerous other business interests, he is non-Executive Chairman of Waterford Wedgwood plc, Chairman of Fitzwilton plc, an industrial holdings company and Chairman of Eircom plc.

Sir Anthony was conferred with an Honorary Doctorate in Laws from Trinity College in 1978. In 2001 he was made a knight in the British New Year's Honours List, for his "long and distinguished service to Northern Ireland".

Sir Anthony is Chairman and co-founder of The Ireland Funds, a fundraising programme to support peace and reconciliation, arts and culture, education and community development in Ireland, North and South, he is active in many other cultural and charitable organizations. In Trinity College he has donated towards the O’Reilly Institute, supported the development of Jewish Studies and the Chair in Neuroscience. He is currently a Pro-Chancellor of the University.

Gavin O'Reilly dan HU Republika

Gavin O'Reilly dan HU Republika
Kamis, 3 Jul 08 06:22 WIB


Dalam rubrik Tahukah Anda kemarin, ada sebuah artikel berjudul “Milyader Yahudi Jadi Komisaris HU Republika (1/7). Artikel ini mendapat respon yang hangat, dan ada pula yang menyatakan ketidaksetujuannya. Penulis secara pribadi mendapat dua pesan singkat di ponsel penulis yang meminta agar artikel tadi diralat. Secara lengkap isi dari pesan singkat itu adalah:


Ass.wr. wb. Sy protes soal pemberitaan Eramuslim ttg Republika. Seharusnya ada check and recheck (tabayyun) dulu sebelum tulisan itu turun agar tak menjadi fitnah. Mhn dicheck lg di situsyangdisebutkan di eramuslim. Dlm daftar org terjaya versi Forbes itu ada Yahu dan Non Yahudi. Yg Yahudi ditandai dg kata JEW. Jd tidak semuanya Yahudi. Mhn koreksi atas kesalahan ini. Tk. Wass Wr Wb @ Subroto (+62811150xxx)


Bung, bila anda gak bikin ralat, kami akan somasi anda. Republika (+628129441xxx)


Untuk kedua pesan tersebut, saya kirim kembali pesan singkat sebagai jawaban saya. Pada intinya, jawaban saya adalah menyatakan terima kasih atas perhatiannya, dan juga protes serta sarannya, dan mudah-mudahan Republika mengirim hak jawabnya pada eramuslim yang tentu saja akan dimuat. Dalam artikel tersebut, sejauh ini memang terdapat satu hal yang harus disempurnakan, yakni tentang istilah “Milyader Yahudi-Irlandia”.

Dalam artikel tersebut disebutkan jika Gavin O’Reilly merupakan “Milyader Yahudi-Irlandia”. Setelah dilakukan penelusuran lebih jauh di daftar nama Geneologi Yahudi Dunia yang saya lakukan sejauh ini, saya memang tidak mendapatkan nama keluarga O’Reilly sebagai nama keluarga Yahudi. Sebab itu, Gavin O’Reilly sejauh ini memang BUKAN seorang Yahudi. Jadi yang benar seharusnya adalah istilah ‘Milyader Irlandia’. Tidak pakai 'Yahudi'. Ini merupakan ralat dari saya.


Dalam daftar 288 Pengusaha Yahud Terkaya Dunia versi Jew Watch (www.jewwatch.com/jew-leaders-list-of-jewish-millionaires.html). Sir Anthony O’Reilly, ayah dari Gavin O’Reilly, memang tidak dicantumkan sebagai Yahudi (Jew). Hanya tertulis dengan kalimat: 288. O'Reilly, Anthony, Ireland, 1.7, Heinz, Waterford. Sedangkan yang Yahudi biasanya terdapat kata JEW di belakangnya seperti yang ada di nomor urutan satu yakni: 1. Gates, William H. III, United States, 90.0, Microsoft[MARANO - HIDDEN JEW - PSEUDO-JEW]


Namun kiprah keluarga O’Reilly ini dalam salah satu yayasannya yang bernama O’Reilly Institute (Trinity College Dublin) seperti yang bisa kita baca di (en.wikipedia.org/wiki/Tony_O'Reilly dan juga di www.tcd.ie/trinityfoundation/foundationboard/tfboreilly.php) ternyata memang menjadi salah satu donor bagi pengembangan Jewish Studies. (O'Reilly has contributed towards the O’Reilly Institute, backed the development of Jewish Studies and supported the Chair in Neuroscience. He is currently a Pro-Chancellor of the University and a member of the board of the Trinity Foundation.)


Dengan tulisan ini diharapkan bisa dianggap sebagai ralat dan penyempurnaan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Milyader Yahudi jadi Komisaris HU Republika” (1/7). Adalah suatu hal yang patut disyukuri jika HU Republika, media harian satu-satunya di Indonesia yang dimiliki umat Islam Indonesia ini, sungguh-sungguh bersih dari anasir-anasir Yahudi. Mudah-mudahan media Islam di bumi ini, terlebih media harian dan elektronik, bertambah banyak, bertambah maju, dan mampu untuk menjadi pengawal garda terdepan bagi dakwah Islam. Amien. (rz)

http://www.eramuslim.com/berita/tha/8703061915-gavin-o039reilly-dan-hu-republika.htm

Milyader Yahudi Jadi Komisaris HU Republika

Milyader Yahudi Jadi Komisaris HU Republika
Selasa, 1 Jul 08 10:14 WIB


Akhir Juni 2008, PT. Abdi Bangsa Tbk (ABBA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bagi setiap perusahaan, RUPS merupakan suatu keharusan untuk bisa revitalisasi perusahaan. Demikian pula yang dilakukan ABBA sebagai pemilik Harian Umum Republika yang pendirian awalnya dimotori sejumlah tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang notabene visi dan misinya lebih kurang sebagai media massa cetak harian berbentuk koran yang menyuarakan aspirasi umat Islam sebagai tuan rumah di negeri ini.

Sudah sunnatullah, setiap apa-apa yang hendak meninggikan kalimah Allah, mendakwahkan kebenaran, berjuang demi tegaknya al–haq, dan melawan kebathilan, selalu saja diintai oleh musuh-musuh Alah SWT agar bisa dihancurkan atau dimandulkan perjuangannya. Demikian pula HU Republika.

RUPS akhir Juni kemarin selain membahas pengembangan konsep e-newspaper, berita online, dan layanan berita mobile, sebagai antisipasi perkembangan teknologi informasi di abad millenium, ternyata juga menampilkan wajah-wajah baru yang duduk dalam jajaran Dewan Komisaris ABBA, seperti KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym dan mantan Pemimpin Kantor Berita Antara, Asro Kamal Rokan. Yang mengejutkan adalah masuknya CEO The Independent News Media Group (INM) Gavin O’Reilly dalam jajaran Dewan Komisaris ABBA. Orang yang satu ini layak untuk dikritisi. Siapa sebenarnya Gavin O’Reilly?

Pengusaha Yahudi Kaya

Gavin O’Reilly adalah salah satu anak dari Milyader Yahudi Irlandia bernama Sir Anthony O'Reilly yang masuk dalam daftar 288 Pengusaha Yahud Terkaya Dunia versi Jew Watch (www.jewwatch.com/jew-leaders-list-of-jewish-millionaires.html). Keluarga milyarder ini terhimpun dalam Yayasan O’Reilly yang bergerak di berbagai bidang, antara lain mendukung pengembangan Jewish Studies (www.tcd.ie/trinityfoundation/foundationboard/tfboreilly.php).

Sir Anthony O’Reilly yang merupakan pendiri INM menempatkan anaknya, Gavin O’Reilly, sebagai ‘watchdog’ di jajaran Dewan Komisaris ABBA dengan nilai saham yang dikuasainya sebesar 20%, sebuah angka yang tidak kecil. Sekilas tentang Sir Anthony O’Reilly dan Gavin O’Reilly bisa kita simak di wikipedia.

Dalam percaturan perekonomian global yang dikomandani sistem kapitalistik, sesungguhnya amat wajar siapa pun bisa menguasai atau menjadi bagian perusahaan apa pun. Sekat-sekat geografis suatu negara tidak lagi menjadi soal. Hanya saja, HU Republika yang dikenal selama ini sebagai ‘media massa milik umat Islam Indonesia’ yang harusnya memiliki ideologi dakwah Islam dan tidak menghalalkan segala cara terkesan aneh bin janggal jika mau-maunya menerima seorang milyader Yahudi menjadi salah satu anggota dewan komisarisnya. Umat Islam Indonesia patut bertanya, “Ada apa dengan HU Republika?”(rz)

http://www.eramuslim.com/berita/tha/8701101044-milyader-yahudi-jadi-komisaris-hu-republika.htm?rel

LIST OF BILLIONAIRE JEWS AND SOME NON-JEWS

LIST OF BILLIONAIRE JEWS AND SOME NON-JEWS
Forbes List of World's Billionaires Sunday, June 20, 1999;2:42 p.m. EDT
NEW YORK (AP) -- The ranking of the world's richest peopleas estimated by Forbes magazine, excluding dictators and royalty.Listings include name, home country, wealth in billions of dollarsand source of wealth, where available.
1. Gates, William H. III, United States, 90.0, Microsoft[MARANO - HIDDEN JEW - PSEUDO-JEW]
2. Buffett, Warren, United States, 36.0, Berkshire Hathaway[MARANO - HIDDEN JEW - PSEUDO-JEW]
3. Allen, Paul, United States, 30.0, Microsoft [JEW]
4. Ballmer, Steven, United States, 19.5, Microsoft [JEW]
5. Oeri, Hoffman and Sacher families, Switzerland, 17.0,Roche pharmaceuticals [JEW]
6. Anschutz, Philip, United States, 16.5, oil, railroads,telecommunications [JEW]
7. Dell, Michael, United States, 16.5, Dell Computer [JEW]
8. Walton, Alice L., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
9. Walton, Helen R., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
10. Walton, Jim C., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
11. Walton, John T., United States, 16.0, inheritance (Wal-MartStores)
12. Walton, S. Robson, United States, 15.8, Wal-Mart Stores
13. Alsaud, Prince Alwaleed Bin Talal, Saudi Arabia, 15.0,investments [CURRUPT GOY-FRONT]
14. Bettencourt, Liliane, France, 13.9, cosmetics [JEW]
15. Albrecht, Theo and Karl and family, Germany, 13.6, retailing[JEW]
16. Li Ka-shing, Hong Kong, 12.7, real estate, telecommunications,diversified
17. Haniel family, Germany, 12.4, pharmaceuticals, diversified[JEW?]
18. Engelhorn, Curt and family, Germany, 12.0, pharmaceuticals[JEW]
19. Thomson, Kenneth, Canada, 11.9, Thomson Corp
20. Lee Shau Kee, Hong Kong, 11.1, real estate
21. Moore, Gordon Earl, United States, 10.9, Intel [JEW?]
22. Anthony, Barbara Cox, United States, 10.6, inheritance(Cox Enterprises)
23. Chambers, Anne Cox, United States, 10.6, inheritance(Cox Enterprises)
24. Kluge, John, United States, 10.5, Metromedia Co. [JEW?]
25. Walker, Jay, United States, 10.2, Priceline.com
26. Bezos, Jeffrey, United States, 10.1, Amazon.com [JEW?]
27. Quandt family, Germany, 9.9, BMW
28. Mulliez, Gerard, France, 9.8, retail
29. Kwok, Walter, Thomas, Raymond, Hong Kong, 9.7, real estate
30. Ellison, Larry, United States, 9.5, Oracle
31. Rausing, Gad, Sweden, 9.0, packaging [JEW]
32. Redstone, Sumner, United States, 8.7, Viacom [JEW]
33. Schwab, Charles, United States, 8.7, discount stock brokerage[JEW]
34. Berlusconi, Silvio, Italy, 8.0, media [CURRUPT MAN ANDALL AROUND SLIME-BALL]
35. Slim Helu, Carlos, Mexico, 8.0, diversified [JEW?]
36. Omidyar, Pierre, United States, 7.8, eBay [JEW?]
37. Takei, Yasuo, Japan, 7.8, consumer finance
38. Turner, Ted, United States, 7.8, Turner Broadcasting[A WEAK-WILLED MOUSE OF A MAN AND A GOY-FRONT]
39. Kerkorian, Kirk, United States, 7.3, investments [JEW]
40. Haefner, Walter, Switzerland, 7.2, computers, cars [JEW]
41. Murdoch, Rupert, United States, 7.2, publishing [MARANO- HIDDEN JEW - OR PSEUDO-JEW]
42. Schwarz, Dieter, Germany, 7.1, retailing [JEW]
43. Boehringer family, Germany, 7.1, pharmaceuticals [JEW]
44. Olayan, Suliman, Saudi Arabia, 7.1, Olayan InvestmentCo. [ANOTHER SLIMEY GOY-FRONT]
45. Persson, Stefan, Sweden, 7.0, retailing
46. Rausing, Hans, Sweden, 7.0, packaging [JEW]
47. Beisheim, Otto, Germany, 6.8, retailing [JEW]
48. Saji, Keizo, Japan, 6.7, Suntory
49. Schmidt-Ruthenbeck family, Germany, 6.6, retailing [JEW?]
50. Landolt, Pierre and family, Switzerland, 6.4, Novartis[JEW?]
51. Pinault, Francois, France, 6.4, retail [JEW?]
52. SeydouxSchlumberger families, France, 6.4, diversified[JEWS]
53. Son, Masayoshi, Japan, 6.4, software
54. Arnault, Bernard, France, 6.0, luxury goods [JEW?]
55. Tsai Wan-lin and family, Taiwan, 5.9, insurance, financialservices
56. Knight, Philip, United States, 5.8, Nike [A REALLY DEPRAVEDHUMAN BEING WHO MAY ALSO BE A MARANO OR HIDDEN JEW]
57. Wang, Y.C., Taiwan, 5.8, Formosa Plastics
58. Otto, Michael, Germany, 5.7, retailing [JEW?]
59. Arison, Theodore (Ted), Israel, 5.6, Carnival Corp. [JEW]
60. Defforey family, France, 5.6, Carrefour
61. Haub, Erivan and family, Germany, 5.6, retailing [JEW?]
62. Woeste, Albrecht and Henkel family, Germany, 5.6, chemicals[JEWS]
63. Latsis, Spiro, Greece, 5.4, banking
64. Hopp, Dietmar and sons, Germany, 5.2, software
65. Gerling, Rolf, Germany, 5.1
66. Herz, Gunter and family, Germany, 5.1, consumer products
67. Winnick, Gary, United States, 5.1, investments
68. Arison, Micky, United States, 5.0, Carnival Cruise Lines[JEW]
69. Hewlett, William Redington, United States, 5.0, Hewlett-Packard
70. Kirch, Leo, Germany, 5.0, media [JEW]
71. Piech, Ferdinand and family, Austria, 5.0, Porsche
72. Pritzker, Robert, United States, 5.0, financier [JEW?]
73. Tschira, Klaus, Germany, 5.0
74. Flick, Friedrich Karl Jr., Germany, 4.9
75. Sainsbury family, Britain, 4.9
76. Halley, Paul-Louis and family, France, 4.8, retailing
77. Ito, Masatoshi and family, Japan, 4.8, retail
78. Kinoshita, Kyosuke, Japan, 4.8, consumer finance
79. Scott, Walter Jr., United States, 4.8, construction,telecommunications
80. Skoll, Jeffrey, United States, 4.8, eBay
81. Tsutsumi, Yoshiaki, Japan, 4.8, real estate
82. von Finck, August and family, Germany, 4.8, insurance(Allianz AG) [JEWS AND PART OF THE 'GERMAN NOBILITY']
83. Al-Kharafi, Nasser, Kuwait, 4.7, M. A. Al Kharafi &Sons [SOUL-LESS SLIMEBALLS]
84. Ricketts, J. Joe, United States, 4.7, Ameritrade
85. Wurth, Reinhold, Germany, 4.7
86. Waitt, Theodore, United States, 4.6, Gateway 2000
87. Kuok, Robert, Malaysia, 4.5, diversified
88. Langmann, Hans Joachim, Germany, 4.5, chemicals [JEW]
89. Newhouse, Donald, United States, 4.5, media [JEW]
90. Newhouse, S.I., United States, 4.5, media [JEW]
91. Sabanci, Sakip and family, Turkey, 4.5, conglomerate
92. Cheng Yu-tung, Hong Kong, 4.4, real estate
93. Hostetter, Amos Jr., United States, 4.4, ContinentalCablevision
94. Lauder, Leonard A., United States, 4.4, inheritance (cosmetics)[JEW]
95. Lauder, Ronald S., United States, 4.4, cosmetics [JEW]
96. Malone, John, United States, 4.4, cable TV
97. Plattner, Hasso, Germany, 4.4, SAP [JEW]
98. Schmidheiny, Stephan, Switzerland, 4.4, ABB [JEW]
99. Bronfman, Edgar Sr., United States, 4.3, Seagram Co.[JEW]
100. Fisher, Donald, United States, 4.3, The Gap [JEW]
101. Fisher, Doris, United States, 4.3, The Gap [JEW]
102. Jahr, John and family, Germany, 4.3, publishing
103. Reimann family, Germany, 4.3
104. Shigeta, Yasumitsu, Japan, 4.3, software
105. Annenberg, Walter Hubert, United States, 4.2, publishing[JEW]
106. Johnson, Abigail, United States, 4.2, Fidelity Investments
107. McCaw, Craig, United States, 4.2, telephones
108. Perelman, Ronald, United States, 4.2, investments [JEW]
109. Filo, David, United States, 4.1, Yahoo!
110. Al-Hariri, Rafik and family, Lebanon, 4.0, construction,banking
111. Benetton, Luciano and family, Italy, 4.0, apparel
112. Mars, Forrest Sr., United States, 4.0, candy (Mars Inc.)[JEW]
113. Mars, Forrest Jr., United States, 4.0, candy (Mars Inc.)[JEW]
114. Mars, John, United States, 4.0, candy (Mars Inc.) [JEW]
115. Perot, H. Ross, United States, 4.0, electronic datamanagement [GOY-FRONT]
116. Schickedanz family, Germany, 4.0 [JEW]
117. Soros, George, United States, 4.0, money management[JEW AND SUSPECTED MASS MURDERER]
118. Vogel, Jacqueline Mars, United States, 4.0, candy (MarsInc.) [JEW]
119. Wang, Nina, Hong Kong, 4.0, real estate
120. Yang, Jerry, United States, 4.0, Yahoo! Inc.
121. Bertarelli, Ernesto, Switzerland, 3.9, Ares-Serono
122. Bronfman, Charles, Canada, 3.7, Seagram Co. [JEW]
123. Irving, James, Arthur and Jack, Canada, 3.7, diversified,including Irving Oil
124. Packer, Kerry, Australia, 3.7, Publishing & BroadcastingLtd.
125. Broad, Eli, United States, 3.6, home building [JEW]
126. Dolan, Charles, United States, 3.6, cable TV [JEW]
127. Johnson, Samuel C., United States, 3.6, S.C. Johnson& Son
128. Matsuda, Kazuo, Japan, 3.6, consumer finance
129. Mori, Akira, Japan, 3.6, real estate
130. Perez Companc, Gregorio, Argentina, 3.6, conglomerate
131. Bass, Lee, United States, 3.5, oil, investments
132. Brost and Funke families, Germany, 3.5
133. Del Vecchio, Leonardo, Italy, 3.5, eyewear
134. Kamel, Saleh, Saudi Arabia, 3.5, Dallah Albaraka
135. Perenchio, A. Jerrold, United States, 3.5, television
136. Botin, Emilio and family, Spain, 3.4, banking
137. Dassault, Serge and family, France, 3.4, aviation
138. von Holtzbrinck, Dieter and family, Germany, 3.4, publishing[JEW AND MEMBERS OF 'GERMAN NOBILITY']
139. Agnelli, Giovanni and family, Italy, 3.3, autos
140. Grosvenor, Gerald Cavendish, Britain, 3.3, real estate
141. Heineken, Alfred, Netherlands, 3.3
142. Ng Teng Fong and Robert, Singapore, 3.3, real estate
143. Schmidheiny, Thomas, Switzerland, 3.3, Holderbank [JEW]
144. Ergen, Charles, United States, 3.2, EchoStar (satelliteTV) [JEW]
145. Greenberg, Maurice, United States, 3.2, American InternationalGroup [JEW]
146. Huntsman, Jon Meade, United States, 3.2, plastics, chemicals[JEW]
147. Khoo Teck Puat, Singapore, 3.2, investments
148. Kwek Leng Beng, Singapore, 3.2, diversified
149. Mohn, Reinhard and family, Germany, 3.2, media
150. Sturm, Donald L., United States, 3.2, telecommunications
151. Verspieren/ Decoster family, France, 3.2 [JEWS?]
152. Bren, Donald L., United States, 3.1, real estate [JEW]
153. Kipp, Karl-Heinz, Germany, 3.1 [JEW?]
154. Lerner, Alfred, United States, 3.1, MBNA (finance) [JEW]
155. Oshima, Kenshin, Japan, 3.1, finance
156. Wrigley, William, United States, 3.1, Wrigley gum
157. Al Rajhi, Saleh bin Abdul Aziz, Saudi Arabia, 3.0, banking
158. Bass, Sid Richardson, United States, 3.0, investments
159. Goodnight, James, United States, 3.0, SAS Institute
160. Hillman, Henry Lea, United States, 3.0, industrial holdings[JEW?]
161. Iwasaki, Fukuzo, Japan, 3.0, Iwasaki Sangyo
162. Koch, Charles De Ganahl, United States, 3.0, Koch Industries[JEW]
163. Koch, David Hamilton, United States, 3.0, Koch Industries[JEW]
164. Oetker, Rudolf and family, Germany, 3.0, diversified
165. von Siemens family, Germany, 3.0 [PROBABLY MARANOS ORPSEUDO-JEWS ALSO PART OF THE 'NOBILITY']
166. Wonowidjojo family, Indonesia, 3.0, tobacco
167. Crown, Lester, United States, 2.9, diversified [JEW]
168. Ebner, Martin, Switzerland, 2.9, investments [JEW]
169. Mann, Hugo, Germany, 2.9, furniture stores, supermarkets[JEW]
170. Moller, Maersk Mc-Kinney, Denmark, 2.9, shipping
171. Moores family, Britain, 2.9
172. Sorenson, James L., United States, 2.9, medical devices
173. Buffett, Susan Thompson, United States, 2.8, BerkshireHathaway
174. Koc, Rahmi and family, Turkey, 2.8, Koc Holding [GOY-FRONTS]
175. Kristiansen, Kjeld Kirk, Denmark, 2.8, Lego
176. Mendoza, Lorenzo and family, Venezuela, 2.8, EmpresasPolar [MARANOS]
177. Premji, Azim Hasham, India, 2.8, information technology
178. Wexner, Leslie Herbert, United States, 2.8, The Limited[JEW]
179. Bass, Robert Muse, United States, 2.7, investments
180. Davis, Marvin H., United States, 2.7, investments
181. Fentener van Vlissingen family, Netherlands, 2.7, retailing,travel services
182. Hector, Hans-Werner, Germany, 2.7
183. Jacobs, Klaus, Switzerland, 2.7 [JEW]
184. Marcus, Bernard, United States, 2.7, Home Depot
185. Branson, Richard, Britain, 2.6, diversified [JEW]
186. Ermirio de Moraes, Antonio and family, Brazil, 2.6,mining, cement, pulp and paper
187. Goldschmeding, Frits, Netherlands, 2.6 [JEW WHO HAPPENSTO BE INCREDIBLY SINISTER LOOKING]
188. Hsu, Douglas and family, Taiwan, 2.6, Far Eastern Group
189. Ingram, Martha Robinson Rivers, United States, 2.6,inheritance (Ingram)
190. Itoyama, Eitaro, Japan, 2.6, Shin Nihon Kanko
191. Kamprad, Ingvar, Sweden, 2.6, Ikea
192. Naify, Robert Allen, United States, 2.6, movie theaters
193. Takenaka, Toichi and family, Japan, 2.6, construction,civil engineering
194. Ty, George, Philippines, 2.6, banking
195. Brenninkmeyer, Herman and family, Netherlands, 2.5,retailing [JEWS]
196. Faria, Dr. Aloysio de Andrade, Brazil, 2.5, banking
197. Geffen, David, United States, 2.5, entertainment [JEW]
198. Icahn, Carl Celian, United States, 2.5, investments[JEW]
199. Safra, Edmond, Lebanon, 2.5, Republic Bank [JEW]
200. Sahenk, Ayhan and family, Turkey, 2.5, Garanti Bank
201. Simplot, John R., United States, 2.5, potatoes 202.Widjaja, Eka Tjipta, Indonesia, 2.5, pulp and paper, food
203. Bin Mahfouz, Khalid, Saudi Arabia, 2.4, banking, investments
204. Kadoorie, Michael and family, Hong Kong, 2.4, familyof merchants
205. Malone, Mary Alice Dorrance, United States, 2.4, inheritance(Campbell Soup)
206. Rockefeller, David Sr., United States, 2.4, investments[MARANOS AND VERY ODD PEOPLE]
207. Schoerghuber, Stefan, Germany, 2.4, services, breweries,construction, real estate [JEW]
208. Taylor, Jack Crawford, United States, 2.4, EnterpriseRent-A-Car
209. Dorrance, John T. III, Ireland, 2.3
210. Dumas, Jean-Louis and family, France, 2.3, Hermes International
211. Foriel-Destezet, Phillipe, France, 2.3, temporary helpagency
212. Fukuda, Yoshitaka, Japan, 2.3, consumer finance
213. Louis-Dreyus, Gerard and family, France, 2.3, commoditiestrading [JEWS]
214. Mantegazza, Sergio, Switzerland, 2.3, travel services
215. Otsuka, Masahito, Japan, 2.3
216. Rocca, Roberto and family, Argentina, 2.3, diversified
217. Sy, Henry and family, Philippines, 2.3, shopping malls
218. Yamaguchi, Hisakazu and family, Japan, 2.3, manufacturing
219. Birck, Michael, United States, 2.2, Tellabs
220. David-Weill, Michel, France, 2.2, finance [JEW]
221. Haas, Peter E. Sr., United States, 2.2, inheritance(Levi Strauss) [JEW]
222. Haffa, Thomas, Germany, 2.2, media, television, merchandising[JEW]
223. Jinnai, Ryoichi, Japan, 2.2, consumer finance
224. Johnson, Edward Crosby III, United States, 2.2, FidelityInvestments
225. Magness, Gary, United States, 2.2, inheritance (Tele-Communications)
226. Mays, L. Lowry, United States, 2.2, Clear Channel
227. Oppenheimer, Nicky and family, South Africa, 2.2, AngloAmerican Corp., DeBeers [JEWS AND EXCEPTIONALLY BAD GUYS...]
228. Rowling, Robert, United States, 2.2, oil and gas
229. Schmid, Gerhard, Germany, 2.2, MobilCom AG
230. Tan, Lucio, Philippines, 2.2, tobacco, airlines, beer
231. Azcarraga Jean, Emilio and family, Mexico, 2.1, media
232. Dorrance, Bennett, United States, 2.1, inheritance (CampbellSoup)
233. Garza Laguera, Eugenio and family, Mexico, 2.1, beverages,banking
234. Hunt, Ray Lee, United States, 2.1, investments
235. Johnson, Barbara Piasecka, United States, 2.1, inheritance(Johnson & Johnson)
236. Romo Garza, Alfonso, Mexico, 2.1, Empresas La Moderna
237. Wertheimer, Alain, France, 2.1, luxury goods [JEW]
238. Zambrano, Lorenzo and family, Mexico, 2.1, cement
239. Andre, Henri and Eric, Switzerland, 2.0, commodity trading
240. Bloomberg, Michael Rubens, United States, 2.0, BloombergFinancial Markets [JEW]
241. Bombardier family, Canada, 2.0
242. Bringas, Ricardo Martin and family, Mexico, 2.0, retailing
243. Cisneros, Gustavo and family, Venezuela, 2.0, beverages,media [MARANOS?]
244. Getty, Gordon Peter, United States, 2.0, inheritance(oil)
245. Ho, Stanley, Hong Kong, 2.0, casinos, transport, hotels
246. Lim Goh Tong, Malaysia, 2.0, diversified
247. Lucas, George, United States, 2.0, motion pictures [MARANOOR JUST A VERY DEPRAVED GOY-FRONT]
248. Saba Raffoul, Isaac, Mexico, 2.0, textiles, chemicals,real estate
249. Thurn und Taxis family, Germany, 2.0
250. Thyssen-Bornemisza, Hans Heinrich, Switzerland, 2.0
251. Tisch, Preston Robert, United States, 2.0, Loews [JEW]
252. Arango, Jeronimo, Mexico, 1.9
253. Johnson, Charles Bartlett, United States, 1.9, FranklinResources
254. Kroc, Joan Beverly, United States, 1.9, McDonald's
255. Mittal, Lakshmi N., India, 1.9, steel
256. Ofer, Yuli and Sammy, Israel, 1.9, Ofer Brothers Group
257. Oppenheim, Alfred von, Germany, 1.9, banking [JEW]
258. Rothschild family, France/Britain, 1.9, RothschildsContinuation Holdings [JEWS]
259. Soares dos Santos, Eliseo Alexandre, Portugal, 1.9,retailing
260. Swire, Sir Adrian and family, Hong Kong, 1.9, aviation,real estate, diversified
261. Tisch, Laurence Alan, United States, 1.9, Loews
262. Udvar-hazy, Steven Ferencz, United States, 1.9, InternationalLease Finance
263. Weston, W. Galen, Canada, 1.9, retailing
264. Yoshida, Tadahiro and family, Japan, 1.9, zippers
265. Batten, Frank, United States, 1.8, media [JEWS?]
266. Bosch family, Germany, 1.8
267. Chen Din Hwa, Hong Kong, 1.8, real estate
268. Chung Ju-yung and family, South Korea, 1.8, automobiles,diversified
269. Davidson, William Morse, United States, 1.8, GuardianIndustries
270. Del Pino, Rafael, Spain, 1.8, construction
271. Farmer, Richard T., United States, 1.8, Cintas
272. Fok, Henry, Hong Kong, 1.8, casinos, real estate, hotels
273. Galvin, Robert William, United States, 1.8, Motorola
274. Helmsley, Leona, United States, 1.8, real estate [MARANO- HIDDEN JEW]
275. Kampf, Serge, France, 1.8, computer services [JEW]
276. Koo, Jeffrey and family, Taiwan, 1.8, banking, diversified
277. Lee Kun-hee and family, South Korea, 1.8, electronics,diversified
278. Lowy, Frank, Australia, 1.8, Westfield Holdings [JEW]
279. Marinho, Roberto and family, Brazil, 1.8, media
280. McCombs, Billy Joe (Red), United States, 1.8, auto dealerships,radio
281. Zobel de Ayala, Jaime Augusto II, Philippines, 1.8,real estate, diversified [MARANO]
282. Allen, Herbert A. Jr., United States, 1.7, investmentbanking [JEW]
283. Blocher, Christoph, Switzerland, 1.7, EMS Chemie [JEW]
284. Carlson, Curtis Leroy, United States, 1.7, trading stamps,hotels
285. Lauren, Ralph, United States, 1.7, Ralph Lauren
286. Lefrak, Samuel Jayson, United States, 1.7, real estate
287. March, Juan and Carlos, Spain, 1.7, investments
288. O'Reilly, Anthony, Ireland, 1.7, Heinz, Waterford
289. Robertson, Julian H. Jr., United States, 1.7, investments
290. Stempel, Ernest E., United States, 1.7, American InternationalGroup [JEW]
291. Stern, Leonard Norman, United States, 1.7, real estate[JEW]
292. Suharto family, Indonesia, 1.7, investments
293. Zell, Samuel, United States, 1.7, real estate [JEW]
294. Al Ghurair, Abdul Aziz, UAE, 1.6, banking
295. Angelini, Anacleto, Chile, 1.6
296. Camargo, Dirce Navarro de, Brazil, 1.6
297. Case, Steve, United States, 1.6, America Online
298. Clark, James H., United States, 1.6, Internet investments
299. Fortabat, Amalia Lacroze de, Argentina, 1.6, cement
300. Frere, Baron Albert, Belgium, 1.6, investments
301. Glaser, Robert D., United States, 1.6, RealNetworks[JEW]
302. Hall, Donald Joyce, United States, 1.6, inheritance(Hallmark Cards)
303. Hamilton, Dorrance Hill, United States, 1.6, inheritance(Campbell Soup)
304. Hearst, Randolph Apperson, United States, 1.6, inheritance(Hearst media)
305. Huizenga, Harry Wayne, United States, 1.6, garbage,automobiles, video
306. Kokkalis, Socrates, Greece, 1.6, electrical equipmentfor PTT
307. Morgridge, John P., United States, 1.6, Cisco Systems
308. Naify, Marshall, United States, 1.6, movie theaters
309. Pratt, Richard, Australia, 1.6
310. Rales, Mitchell, United States, 1.6, Danaher Corp.
311. Rales, Steven, United States, 1.6, Danaher Corp.
312. Rothermere, Lord, Britain, 1.6
313. Sarmiento, Luis Carlos, Colombia, 1.6
314. Schmidt, Karl, Germany, 1.6, banking, brokerage
315. Spangler, Clemmie Dixon Jr., United States, 1.6, investments[JEW]
316. Spielberg, Steven Allen, United States, 1.6, entertainment[JEW]
317. Stephens, Jackson Thomas, United States, 1.6, investmentbanking
318. Uehara, Shoji, Japan, 1.6
319. Wang, Patrick, Hong Kong, 1.6, micromotor manufacturer
320. Weston, Garry and family, Britain, 1.6, Associated BritishFoods
321. Azevedo, Belmiro, Portugal, 1.5
322. Bechtel, Riley P., United States, 1.5, Bechtel [JEW]
323. Bechtel, Stephen Davison Jr., United States, 1.5, Bechtel[JEW]
324. Bezos, Miguel A., United States, 1.5, Amazon.com
325. Booth, Franklin Otis Jr., United States, 1.5, BerkshireHathaway
326. Chang Yung Fa, Taiwan, 1.5
327. Devos, Richard M., United States, 1.5, Amway
328. Flinn, Lawrence Jr., United States, 1.5, United VideoSatellite Corp.
329. Fujita, Den, Japan, 1.5
330. Gonda, Louis L., United States, 1.5, International LeaseFinance
331. Johnson, Rupert Jr., United States, 1.5, Franklin Resources
332. Liebherr family, Switzerland, 1.5 [JEW]
333. Luksic, Andronico and family, Chile, 1.5
334. McCain, Harrison and family, Canada, 1.5
335. McGovern, Patrick Joseph, United States, 1.5, IDG
336. Nicholas, Peter M., United States, 1.5, medical devices
337. Pohlad, Carl, United States, 1.5, banking
338. Sall, John, United States, 1.5, SAS Institute
339. Sarofim, Fayez Shalaby, United States, 1.5, money management
340. Schroder, Bruno, Britain, 1.5
341. Takizaki, Takemitsu, Japan, 1.5
342. Washington, Dennis, United States, 1.5, mining, railroads
343. Woo, Peter, Hong Kong, 1.5
344. Yamauchi, Hiroshi, Japan, 1.5
345. Abele, John E., United States, 1.4, medical devices[JEW?]
346. Adams, Richard L., United States, 1.4, UUNET
347. Aramburuzabala, Maria Asuncion, Mexico, 1.4
348. Bamford, Anthony, Britain, 1.4
349. Blank, Arthur, United States, 1.4, Home Depot [JEW]
350. Fisher, John J., United States, 1.4, inheritance (TheGap) [JEW]
351. Ford, William Clay, United States, 1.4, Ford Motor
352. Fribourg, Michel, United States, 1.4, Continental Grain[JEW]
353. Goldman, Richard N., United States, 1.4, inheritance(Levi Strauss) [JEW]
354. Gonda, Leslie L., United States, 1.4, InternationalLease Finance [JEW]
355. Hayek, Nicolas, Switzerland, 1.4
356. Jobs, Steven Paul, United States, 1.4, Apple Computer[JEW?]
357. Littlefield, Edmund Wattis, United States, 1.4, UtahInternational
358. Mabuchi, Kenichi, Japan, 1.4
359. Marriott, Richard Edwin, United States, 1.4, Marriotthotels
360. Mellon, Paul, United States, 1.4, inheritance
361. Munger, Charles, United States, 1.4, Berkshire Hathaway
362. Nambu, Yasuyuki, Japan, 1.4
363. Peralta, Carlos, Mexico, 1.4
364. Rockefeller, Laurance Spelman, United States, 1.4, investments[MARANOS]
365. Ryan, Patrick George, United States, 1.4, insurance
366. Salinas Pliego, Richardo, Mexico, 1.4 [MARANO]
367. Simmons, Harold Clark, United States, 1.4, investments[JEW]
368. Van Beuren, Hope Hill, United States, 1.4, inheritance(Campbell Soup)
369. Wang, Charles B., United States, 1.4, Computer Associates
370. Weber, Charlotte Colket, United States, 1.4, inheritance(Campbell Soup) [JEW (MARRIED TO ONE)]
371. Ardila Lulle, Carlos, Colombia, 1.3
372. Asper, Israel, Canada, 1.3
373. Bass, Perry Richardson, United States, 1.3, investments
374. Bozano, Julio, Brazil, 1.3
375. Busujima, Kunio, Japan, 1.3
376. Ebbers, Bernard J., United States, 1.3, MCI Worldcom
377. Fukutake, Soichiro, Japan, 1.3
378. Hilti, Michael, Lichtenstein, 1.3
379. Hughes, Bradley Wayne, United States, 1.3, Public StorageInc.
380. Koplowitz, Esther, Spain, 1.3 [JEW]
381. Lewis, Peter Benjamin, United States, 1.3, ProgressiveCorp. [JEW]
382. Lindemann, George L., United States, 1.3, cable TV,cellular telephones [JEW]
383. McCaw, Bruce R., United States, 1.3, telephones
384. McCaw, John Elroy Jr., United States, 1.3, telephones
385. McCaw, Keith W., United States, 1.3, telephones
386. Morita, Akio, Japan, 1.3
387. Nakajima, Kenichi, Japan, 1.3
388. Osano, Masakuni, Japan, 1.3
389. Pattison, Jim, Canada, 1.3
390. Rupert, Johann, South Africa, 1.3
391. Smith, Ollen Bruton, United States, 1.3, Speedway Motorsports
392. Troutt, Kenny A., United States, 1.3, Excel Communications[JEW?]
393. Van Andel, Jay, United States, 1.3, Amway
394. Waitt, Norman W., United States, 1.3, Gateway 2000
395. Ambani, Dhirubai, India, 1.2
396. Bass, Edward Perry, United States, 1.2, investments
397. Burkle, Ronald, United States, 1.2, supermarkets [JEW]
398. Butt, Charles C., United States, 1.2, grocery stores
399. Dedman, Robert Henry, United States, 1.2, country clubs
400. Egan, Richard J., United States, 1.2, EMC
401. Field, Frederick Woodruff, United States, 1.2, media402. Freudenberg family, Germany, 1.2, manufacturing [JEW]
403. Gates, Charles Cassius Jr., United States, 1.2, GatesCorp.
404. Goizueta, Roberto Crispulo, United States, 1.2, inheritance
405. Haindl family, Germany, 1.2
406. Kuo, Terry, Taiwan, 1.2
407. Lin, Barry, Taiwan, 1.2
408. Marshall, E. Pierce, United States, 1.2, oil
409. Matte, Eliodoro, Chile, 1.2
410. McCaw, Wendy, United States, 1.2, divorce
411. Merckle, Adolf, Germany, 1.2
412. Nadar, Shiv, India, 1.2
413. Noboa, Alvaro, Ecuador, 1.2
414. Rainwater, Richard Edward, United States, 1.2, investments
415. Rich, Robert Edward Sr., United States, 1.2, Rich ProductsCorp. [JEW?]
416. Rogers, Edward (Ted), Canada, 1.2
417. Simon family, Germany, 1.2
418. Taubman, A. Alfred, United States, 1.2, real estate
419. Taylor, Glen, United States, 1.2, printing
420. Toyoda, Shoichiro, Japan, 1.2
421. Tyson, Donald John, United States, 1.2, Tyson Foods
422. Ueltschi, Albert Lee, United States, 1.2, Flight Safety
423. Ziff, Daniel Morton, United States, 1.2, investments[JEW]
424. Ziff, Dirk Edward, United States, 1.2, investments [JEW]
425. Ziff, Robert David, United States, 1.2, investments[JEW]
426. Anselmo, Mary, United States, 1.1, PanAmSat
427. Arrillaga, John, United States, 1.1, real estate
428. Birla, Kumar Mangalam, India, 1.1
429. Chace, Malcolm Green III, United States, 1.1, inheritance
430. Chearavanont, Dhanin, Thailand, 1.1, agribusiness (CPGroup)
431. Cook, William Alfred, United States, 1.1, catheters
432. Diehl, Karl and family, Germany, 1.1
433. Diniz, Abilio and family, Brazil, 1.1
434. Emmerson, Archie Aldis (Red), United States, 1.1, SierraPacific
435. Lee Hon Chiu, Hong Kong, 1.1
436. Rochling family, Germany, 1.1
437. Santo Domingo, Julio Mario, Colombia, 1.1
438. Stroeher family, Germany, 1.1
439. Al-Fahim, Mohammed, United Arab Emirates (Abu Dhabi),1.0
440. Champalimaud, Antonio, Portugal, 1.0
441. Cutrale, Jose and family, Brazil, 1.0
442. Ecclestone, Bernie, Britain, 1.0
443. Fisher, Robert J. , United States, 1.0, inheritance(The Gap) [JEW]
444. Ford, Josephine, United States, 1.0, inheritance (FordMotor)
445. Godrej, Adi, India, 1.0
446. Goldsbury, Christopher, United States, 1.0, salsa [JEW]
447. Golisano, B. Thomas, United States, 1.0, payroll services(Paychex)
448. Hartono, Budi and family, Indonesia, 1.0, tobacco
449. Heraeus family, Germany, 1.0, diversified
450. Hinduja brothers, India, 1.0
451. Kimmel, Sidney, United States, 1.0, apparel [JEW]
452. Knauf family, Germany, 1.0, construction materials
453. Koplowitz, Alicia, Spain, 1.0 [JEW]
454. Lee family, Singapore, 1.0
455. Lewis, Joseph, Britain, 1.0 [JEW]
456. Liem Sioe Liong, Indonesia, 1.0
457. Said, Jamie and Jose, Chile, 1.0
458. Schneider, Donald, United States, 1.0, trucking [JEW]
459. Sidhu, Sanjiv, United States, 1.0, software
460. Sobrato, John Anthony, United States, 1.0, real estate
461. Tiong Hiew King, Malaysia, 1.0
462. Vidigal, Gaston, Brazil, 1.0
463. Werhahn family, Germany, 1.0, diversified [JEW]
464. Yeoh, Francis, Malaysia, 1.0
465. Zuckerman, Mortimer, United States, 1.0, real estate,media [JEW]

http://www.jewwatch.com/jew-leaders-list-of-jewish-millionaires.html

Wednesday, July 2, 2008

Revrisond Baswir: Kenaikan BBM Cuma Alasan untuk Ciptakan Liberalisasi Sektor Migas

Revrisond Baswir: Kenaikan BBM Cuma Alasan untuk Ciptakan Liberalisasi Sektor Migas

Kenaikan harga BBM sebenarnya merupakan satu bagian kecil dari upaya liberalisasi sektor migas di negeri ini. Nantinya, Pertamina, perusahaan miyak yang selama ini menjadi pengelola tunggal itu akan bersaing dengan lebih dari 40 perusahaan migas asing yang sudah mengantongi izin untuk membuka 20.000 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia, dengan harga standar internasional.

Berikut ini perbincangan dengan Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Drs. Revrisond Baswir, M.B.A, yang ditemui dalam Seminar Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Gedung DPR, Jakarta. Berikut petikannya:

Kenaikan BBM ini kedepannya akan berdampak seperti apa?

Untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM, kita harus tahu persis latar belakang dan motivasi. Kalau menurut pemerintah, latar belakangnya apakah untuk mengoreksi yang tidak tepat sasaran, untuk menghemat konsumsi BBM, termasuk untuk menghindari penyelundupan dan sebagainya. Saya kira itu alasan yang dicari-cari, bukan penjelasan namun justru mengaburkan dari motif sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah sejak pemerintah menandatanganani LOI 1998 di mana kita tunduk pada IMF untuk melepas harga BBM ke harga internasional. Ini sebenarnya bukan soal kenaikan, tapi soal proses bertahap melepas harga BBM ke harga pasar sesuai garis IMF, dan itu sudah difollow up oleh pemerintah yang sejak 1999 sudah membuat draft UU Migas yang baru, tapi pada waktu itu bentrok dengan Pertamina.

Lalu pada tahun 2000, Amerika masuk lewat USAID menyediakan utang untuk memulai proses liberalisasi sektor migas itu. Salah satu yang dikerjakan USAID dalam rangka liberalisasi itu adalah menyiapkan draft UU yang baru, bekerjasama dengan IDB dan World Bank menyiapkan reformasi sektor energi secara keseluruhan. Dalam UU Migas jelas, pasal 28 ayat 2 UU migas mengatakan harga BBM dilepas ke mekanisme pasar, sudah jelas itu.

Yang jadi masalah kemudian, segera setelah UU Migas keluar, pemerintah segera membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke berbagai tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir. Dan bahkan mereka mengendalikan izin untuk perusahaan asing untuk membuka SPBU, sampai lebih dari 40 perusahaan yang sudah pegang izin untuk membuka SPBU itu. Masing-masing perusahaan diberi kesempatan membuka sekitar 20.000 SPBU di seluruh Indonesia. Target mereka sebenarnya pada 2005 harga BBM sudah bisa dilepas ke pasar, hanya saja di tengah jalan UU migas dibawa ke Mahmakah Konstitusi (MK) oleh serikat pekerja pertamina, disidangkan di MK. Dan pasal 28 tentang pelepasan harga ke pasar itu dibatalkan MK, karena bertentangan dengan konstitusi. Itu sebenarnya yang menggganjal.

Masalahnya mereka kan tidak mau menyerah, setelah dinyatakan UU itu bertentangan dengan konstitusi, mereka jalan terus dengan istilah baru, dari istilah harga pasar menjadi “harga keekonomian”, itu hanya untuk berkelit saja. Karena harga pasar dilarang MK, maka ganti yang lain, tetapi maksudnya sama.

Isu yang tepat dalam kasus ini adalah liberalisasi sektor migas dan pelepasan harga BBM ke harga pasar. Jadi kalau kita lihat, setelah rencana itu gagal tahun 2005, dan muncul istilah harga keekonomian. Maka kini target pemerintah sesuai dengan apa yang diakatakan oleh Pak Budiono (Menko Perekonomian, dulu), setelah naik pada 24 Mei kemarin, diperkirakan pada September 2008 akan naik lagi secara bertahap, sampai ditargetkan selambat-lambatnya 2009 sudah sesuai dengan harga pasar minyak dunia. Sama dengan patokan di New York, kalau dieceran mencapai Rp 12.000 per liter.

Keuntungan apa yang akan diambil dari kebijakan melepas harga BBM ke pasar?

Bukan itu isunya. Isunya hanya dengan melepas harga BBM ke pasar, hanya dengan cara itu SPBU-SPBU asing itu mau beroperasi di sini. Kalau harga bersubsidi bagaimana SPBU asing bisa beroperasi dan bersaing dengan Pertamina, ini masalahnya. Masalahnya soal menangkap peluang investasi. Ada perusahaan asing ingin membuka SPBU asing, berarti SPBU asing ini mau melakukan investasi, tetapi SPBU asing hanya bisa jualan BBM, kalau BBM-nya sesuai dengan harga pasar. Jadi masalah ini saja, soal pasar. Pengakhiran monopoli Pertamina, pembukaan peluang bagi asing untuk berbisnis eceran BBM, dan seterusnya.

Seperti sekarang ini Petronas dan Shell sudah membuka SPBU-nya?

Makanya akibat kenaikan BBM tahun 2005, Shell buka, Petronas juga buka. Tapi apakah masuk akal kalau orang membuka SPBU itu hanya Jabotabek saja, gak mungkinkan, izin yang mereka peroleh, mereka boleh buka 20.000 SPBU di seluruh Indonesia, nah ada 40 perusahaan lebih yang punya izin. Bisa dibayangkan, berapa banyak SPBU yang akan berdiri, dan bukan hanya Jabodetabek, tapi juga seluruh Indonesia.

Pertamina sendirisudah memperkirakan hanya akan mampu menjual maksimal 50 persen saja, 50 persennya akan diambil oleh SPBU-SPBU asing itu. Nah kalau 2009 dilepas ke pasar, rencana terakhir pemerintah adalah bahwa sektor swasta bisa masuk ke bisnis eceran migas dilakukan secara penuh baru pada tahun 2010. Jadi bukan masalah BBM naik, kemiskinan, BLT, bukan isu itu, tapi mereka menganggap ini hanya dampak saja. Lalu kemudian bagaimana dampak itu diperlunak. Tetap saja mereka akan jalan terus dengan agendanya, bagaimana membuat sektor migas hingga terpenuhi sesuai harga pasar.

Saya kira isu lifting tidak relevan, karena ini isunya bukan naiknya berapa persen, bukan itu. Isunya adalah soal melepas harga itu, jadi pemerintah ingin lepas tangan dari urusan harga BBM. Dia gak mau mengatur mau naik, mau gak naik, dia mau lepaskan, jadi isu lifting menjadi tidak penting. Apalagi kalau SPBU beroperasi di sini, gak penting lagi, sumber migasnya darimana, mau impor 100 persen, ya boleh. Itu dia, justru itu malah mengaburkan masalah dari pokok masalah kita.

Masalah ini sekarang sudah mulai masuk ke ranah politik, ada wacana mengimpeach Presiden. Bagaimana ini?

Soal pemakzulan Presiden, kalau kita bicara UU migas, kemudian UU Kelistrikan, kemudian UU APBN, yang terkait dengan subsidi dan lain-lain itu kan atas persetujuan DPR, jadi proses liberalisasi ini juga berlangsung atas persetujuan DPR. Kalau akan dimakzulkan bukan saja Presiden, tapi juga DPR-nya juga dimakzulkan.

Dan itu terbukti di MK, jadi yang melanggar konstitusi bukan hanya pemerintah, tapi juga DPR. Inilah yang menjadi problem sekarang, jadi secara politik masalah ini sangat kompleks, karena belum ada aturan, bagaimana apabila pelanggaran konstitusi dilakukan Presiden dan DPR. Nah ini tidak ada UU-nya, saya sudah menanyakan hal ini kepada hakim agung, celakanya pelanggaran konstitusi ini tidak hanya sekali. UU Listrik batal demi hukum, karena melanggar konstitusi, UU Migas pasal mengenai harga pasar batal karena melanggar konstitusi, UU Penanaman Modal pasal mengenai Hak Guna Usaha karena melanggar konstitusi, UU APBN tiga tahun berturut-turut melanggar konstitusi, ini masalah kita.

Akar permasalah dari kebijakan melepas BBM ke harga pasar?

Masalahnya adalah apa yang disebut dengan Neokolonialisme dan Neoliberalisme.

Solusinya bagaimana?

Solusinya, kita harus memperteguh kembali komitmen sebagai bangsa terhadap cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi, ini harus ditegakan kembali. Setelah ini baru mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan, apakah itu kebijakan, peraturan pemerintah, UU, semua itu harus ditertibkan kembali. Karena menurut perkiraan Ketua Mahmakah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, 27 persen UU melanggar konstitusi, harus dibereskan dulu. Dari situ baru kita lihat dampak turunannya apakah kepada kontrak bagi hasil, harga BBM, harga listrik, dan lain-lain. (novel)
http://www.eramuslim.com/berita/bc2/8527161342-revrisond-baswir-kenaikan-bbm-cuma-alasan-ciptakan-liberalisasi-sektor-migas.htm

Menelusuri Jejak Liberalisme Islam di Indonesia

Menelusuri Jejak Liberalisme Islam di Indonesia

Tak syak lagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di Barat telah membuat sebagian kalangan umat Islam terkagum-kagum dan mengalami shock culture. Untuk mengapreasiasi kemajuan Barat itu, sejumlah tokoh Islam menganjurkan dan menyerukan adanya pembaharuan Islam dengan mencontoh Barat.

Pembaharuan pemikiran di dunia Islam dimulai ketika Khilafah ‘Utsmaniyah di Turki diambang kehancuran. Selanjutnya, Islam Turki di bawah komando Mustafa al-Tatruk didekontruksi sedemikian rupa seperti Barat. Setelah berhasil mendelegitimasi kewenangan khalifah dan Pengadilan Khusus Agama (Islam), al-Tatruk dengan penuh kepongahan merombak total tatanan prinsip-prinip Islam.

Tak hanya itu. Ia juga mengganti Hukum Syari’at tentang perkawinan Islam dengan diganti hukum Swiss, di mana perempuan punya hak cerai sama dengan laki-laki. Selanjutnya, sekolah-sekolah agama (madrasah) dan perguruan tinggi agama dibubarkan, dan diganti dengan sekolah ala Barat.

Yang lebih parah lagi adalah adzan bahasa Arab diganti dengan bahasa lokal (Turki), jilbab dilarang, dan penggunaan bahasa Arab pun diganti dengan bahasa Barat. Pendek kata, semua identitas, idiom-idiom keIslaman dan kearaban dihapuskan diganti dengan simbol, identitas dan tradisi Barat. Setelah itu semua, sempurnalah bekas khilafah ‘Utsmaniyah itu menjadi Republik Turki yang sekular. (Harun Nasution, Islam Rasional, , 1995)

Selain Turki, dunia Islam yang kecipratan dengan pembaharuan Islam adalah Mesir. Pembaharuan di negeri Kinanah ini mulai terjadi ketika utusan Perancis Napoleon Bonaparte dan sejumlah ilmuan yang ikut rombongannya datang ke negeri itu. Dari situ terjadilah kontak masyarakat Mesir dengan budaya Barat.

Seperti yang dialamiTurki, sebagian ulama Mesir mendukung program pembaharuan model Barat itu. Untuk kepentingan ini, maka diutuslah pelajar-pelajar Mesir untuk belajar di Paris dengan pengawasan imam. Adalah Rifa’ al-Thahthawi (1803-1873) dari imam-imam yang diutus untuk belajar ke sana. Sekembalinya dari pengembaraan dari negeri Barat, pemikiran al-Thahthawi cukup berpengaruh dalam masyarakat Mesir saat itu. Di antara pembaharuan yang digaungkan al-Thahthawi adalah penyesuaian penafsiran/interpretasi syari’at dengan kondisi zaman modern.

Setelah ia wafat, barulah Jamaluddin al-Afghani datang ke Mesir, dan menyuarakan hal yang serupa. Pembaharuan yang dibawa al-Afghani selanjutnya dilanjutkan oleh Muhammad ‘Abduh dan muridnya Rasyid Ridla.

Menurut Harun, pembaharuan yang digerakkan oleh mereka itu memakai pendekatan teologi atau pemikiran Mu’tazilah (rasionalisme). Dari sini pula muncul tokoh-tokoh sekular- liberal, sebut saja misalnya, Musthafa A. Raziq, Sa’ad Zaghlul, Ahmad Amin, Thaha Husein, ‘Ali Abdul Raziq, dan lain-lainnya yang senada.

Merambah ke Indonesia

Gaung dan gerakan pembaharuan di Mesir rupanya juga merambah ke Indonesia. Melalui KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya, pembaharuan Islam dimulai. Gagasan pembaharuan Kyai Dahlan sendiri merupakan pengaruh dari tokoh-tokoh Mesir. Ketika pendiri Muhammadiyah itu melakukan perjalanan ke Mekah untuk belajar di sana, di tengah perjalanan ia membaca karya ‘Abduh dan Ridla, Tafsir al-Manar.

Sepulangnya dari menimba ilmu itu, rupanya Tafsir al-Manar telah menginspirasi KH. Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaharuan Islam di Indonesia. Selain karena pengaruh Mesir, penetrasi misi Katholik-Protestan dari penjajah (Spanyol, Portugis, dan Belanda) dan parktik takhayul, khurafat serta bid’ah di masyarakat Indonesia telah membuat KH. Ahmad Dahlan prihatin sekaligus protes keras. Faktor-faktor inilah yang mendorong pembaharuan Islam oleh Kyai. Dahlan bersama Muhammadiyahnya.

Kendati begitu, dalam pandangan Harun, pembaharuan yang disuarakan Muhammadiyah bukanlah pembaharuan yang prinsipil dan menyangkut hal-hal dasar (ushul), tapi pada masalah cabang (furu’). Misalnya, soal ru’yah al-Hilal, patung, gambar, musik, kenduri, tahlilan, dan lain-lainnya. Pembaharuan demikian berbeda dengan yang terjadi di Mesir dan Turki.

Sebagai orang yang pernah belajar di Mesir dan di Barat, justru Harun sendirilah yang dikenal sebagai lokomotif liberalisme di Indonesia melalui lembaga pendidikan tinggi. Setelah pulang dari Mesir, ia kemudian bekerja di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sekitar 1969. Ketika pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama (Menag) A.Mukti ‘Ali menunjuk dia sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, program liberalisasi pemikiran Islam segera ditabuh dan digulirkan. (Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, 2006)

Untuk merealisasikan liberalisme, Harun mempromosikan dan mensosialisasikan paham Mu’tazilah. IAIN Jakarta di bawah komandonya mewajibakan para mahasiswa membaca buku-buku karyanya, antara lain, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Teologi Islam, Filsafat Agama.

Belasan tahun kemudian, bukunya yang berjudul Islam Rasional juga menjadi bacaan dan referensi ”wajib” di kalangan dosen dan mahasiswa IAIN. Kewajiban memakai buku-buku karya Harun itu berlangsung sampai kini di semua jurusan atau program studi, kendati nama IAIN sudah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

Maka di tangan Harun-lah UIN/IAIN/STAIN berhasil di-Mu’tazilah-kan. Tentunya keberhasilan Harun menggeser dan mengubah model pemikiran di lingkungan IAIN ketika itu tak lepas dari dukungan politik dari pemerintah Orde Baru.

Harun memang dikenal gigih dan serius berkiprah di pendidikan tinggi. Ia punya dedikasi tinggi untuk mengawal dan membesarkan IAIN sebagaimana yang ia harapkan seperti lahirnya para pemikir liberal sekular di Mesir.

Menurut mantan muridnya di program Pascasarjana IAIN, Dr. Ahmad Dardiri, Harun sangat perhatian dengan mahasiswanya dalam berbagai hal. “Bimbingan tesis ataupun disertasi betul-betul ia tangani dengan serius. Pak Harun betul-betul serius untuk berkiprah di dunia pendidikan. Ini berbeda dengan Cak Nur yang kadang kurang serius dengan bimbingan tesis atau disertasi mahasiswa. Waktunya tersita dengan kegiatan di luar IAIN, ” ujarnya.

Setelah berjalan selama hampir 40 tahun, usaha Harun menemukan hasilnya. Hampir seluruh UIN/ IAIN/ STAIN di seluruh Indonesia kini telah menjadi gerbong terbesar proyek liberalisasi pendidikan dan studi Islam. Bila di masa Harun, liberalisasi lebih ditekankan pada studi teologi/ilmu Kalam, maka saat ini fokusnya adalah pada studi Al-Qur’an.

Hal ini dianggap strategis karena studi Al-Qur’an merupakan mata kuliah umum wajib yang harus diambil seluruh mahasiswa. Tentunya juga, liberalisasi Islam akan mudah berjalan dan kena sasaran bila leberalisasi Studi Al-Qur’an diperkuat dan dikurikulumkan.

Proyek liberalisasi Studi Al-Qur’an ini semakin gencar dan serius dengan dimasukanya mata kuliah Hermeneutika dan Semiotika di Program Studi Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Demikian pula mata kuliah Kajian Orientalis terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

Referensi dan sumber dua mata kuliah ini adalah para pengibar liberalisme Studi Al-Qur’an, baik dari kalangan Muslim maupun Kristen. Misalnya, Muhammad Arkoun, Norman Calder, Farid Essack, Hans G. Gadamer, dan lain-lain. Tujuan pengajaran mata kuliah Hermeneutika dan Semiotika adalah “Mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan ilmu Hermeneutika dan Semiotika terhadap kajian al-Qur’an dan Hadis.” Sedangkan untuk Kajian Orientalis bertujuan, ” Mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadits.”

Atas pengajaran mata kuliah Hermeneutika ini, entah karena tak paham tentang bahaya penerapan hermeneutika dalam studi Al-Qur’an atau karena alasan lain, seorang dosen ilmu Hadis di Prodi Tafsir Hadis UIN Jakarta juga mengaku tak ada persoalan dengan hal itu. “Tidak apa-apa. Itu bagus-bagus saja, ” katanya.

Pengajaran Studi Al-Qur’an dengan metode Barat itu, kini telah melahirkan banyak mahasiswa/i dan sarjana UIN/IAIN/STAIN yang meragukan, menghujat, bahkan melecehkan Al-Qur’an. Laporan majalah pekanan GATRA edisi 7 Juni 2006, menyebutkan, seorang dosen IAIN Surabaya di depan para mahasiswanya membuat adegan menginjak-injak lafaz Allah dengan kakinya tanpa merasa berdosa. Ini adalah sebuah tindakan yang tak beradab dan tak terpuji. Padahal dia adalah pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.

Kisah yang mirip dan serupa juga terjadi di UIN/IAIN/STAIN lainnya. Misalnya, dosen pembimbing tesis atau disertasi di UIN Jakarta sering mengolok-olok ketika ada mahasiswa/i dalam tesis/disertasinya mengutip ayat Al-Qur’an ataupun Hadis Nabi Saw. Inilah ironi Studi Al-Qur’an di perguruan tinggi (Islam) kita.

Kasus liberalisasi Studi Al-Qur’an di Indonesia memang sangat ironis dan memprihatinkan. Sebab, proyek ini tidak hanya dilakukan oleh sejumlah akademisi, tapi juga oleh beberapa aktivis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), para petinggi ormas Islam, pengasuh pondok pesantren, lembaga penelitian, dan sebagainya. Mereka begitu ”gigih dan getol” mengkampanyekan liberalisme, selain ingin lepas dan bebas dari Syari’at Islam, juga karena mendapat kucuran dana berlimpah dari The Asian Foundation. Dengan dukungan dana yang relatif besar, untuk mempromosikan agendanya mereka menjalin kerjasama dengan beberapa media massa.

Kasus yang teranyar adalah tindakan tidak fair enam guru besar yang meluluskan disertasi Abd. Moqsith Ghazali. Padahal dalam disertasi ini banyak penafsiran al-Qur'an yang mengabaikan dan memisahkan antara keimanan kepada Allah Swt dengan keimanan terhadap nabi Muhammad Saw.

Dalam disertasi aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) ini, disebutkan, ”secara eksplisit Al-Quran menegaskan bahwa siapa saja – Yahudi, Nashrani, Sabi’in, dan lain-lain – yang menyatakan hanya beriman kepada Allah, percaya akan Hari Akhir, dan melakukan amal saleh, tak akan pernah disia-siakan oleh Allah. Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal atas keimanan dan segala jerih payahnya.” (hal. 192). Jadi tanpa beriman kepada Rasulullah Muhammad, amal seorang Yahudi, Kristen dan Sabi'in sama kedudukannya dengan amal orang Muslim.

Yang lebih parah lagi adalah ketika penulis membahas tentang ”Pengakuan dan Keselamatan Umat non-Muslim”. Ia menyatakan, ”Agama yang satu tak membatalkan agama yang lain, karena setiap agama lahir dalam konteks historis dan tantangannya sendiri. Walau begitu, semua agama terutama yang berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengarah pada tujuan yang sama, yakni kemaslahatan dunia dan kemaslahatan akhirat. Dengan memperhatikan kesamaan tujuan ini, perbedaan eksoterik agama-agama mestinya tak perlu dirisaukan.” (hal. 189).

Disertasi berjudul, Perspektif Al-Quran tentang Pluralitas Umat Beragama dibimbing oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A (Dirjen Bimas Islam dan guru besar ilmu tafsir di UIN Jakarta) dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta). Bertindak sebagai penguji adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra (Ketua Sidang dan juga Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. Suwito, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof. Dr. Zainun Kamal dan Prof. Dr. Salman Harun.

Dari tujuh guru besar, hanya satu guru besar yang tidak meluluskan disertasi yang kontroversial ini, yakni Prof. Dr. Salman Harun. Bahkan mantan dekan Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta itu membuat kritik tertulis. Konon baru kali ini di UIN Jakarta ada penguji yang sampai membuat kritik tertulis ketika menguji.

Salman menilai Abd.Moqsith salah memahami penggalan buku Nawawi Al-Jawi (1813-1899) tentang bisa tidaknya non-muslim masuk surga. Moqsith dinilai tak utuh mengutip Ibnu Katsir (1300-1373).

Ia menambahkan, dua ulama itu berkesimpulan hanya Muslim yang masuk surga. Tapi Moqsith menyimpulkan, non muslim juga bisa. Salman khawatir disertasi ini akan memperkuat tuduhan sebagian kalangan bahwa UIN adalah tempat kristenisasi.

Orientalis modern William Montogomerry Watt, menjelaskan, mereka yang disebut liberal adalah orang-orang Islam yang banyak memahami Islam dengan sudut pandang Barat dan melakukan kritik-kritik terhadap Islam baik secara implicit atau eksplisit, tapi mereka masih mengaku sebagai Muslim (William Montogomerry Watt, Fundamentalisme dan Modernity in Islam). (dina)

http://www.eramuslim.com/berita/lpk/8207055743-menelusuri-jejak-liberalisme-islam-indonesia.htm

Prof. Mansur Suryanegara: Indonesia Merdeka Karena Perjuangan Ulama

Prof. Mansur Suryanegara: Indonesia Merdeka Karena Perjuangan Ulama

Tak banyak tahu bila kemerdekaan bangsa ini atas pengorbanan dan jerih payah para ulama kita. Mereka tidak hanya berjuang melawan penjajah secara fisik, tapi juga harta benda. Tak hanya itu mereka pula yang menyusun dan merancang konsep kemerdekaan Negara ini.

Untuk mengetahui lebih jauh, eramuslim menemui sejarawan Mansur Suyanegara. Inilah kutipannya:

Kolonialisme seolah tak pernah berhenti di negara-negara Islam, termasuk di Indonesia. Bagaiamana Anda melihat hal ini?

Perjuangan nasionalisme menentang penjajah itu tokohnya adalah ulama dan santri. Sehingga, Thomas S. Raffles, dalam bukunya The History of Java, di situ menjelaskan ulama itu tidak melakukan kerjasama dengan sultan. Bahkan tidak mungkin kaki tangan penjajah aman di Indonesia, kendati jumlah ulama dan santri hanya sepersembilan belas dari populasi penduduk di Jawa pada waktu itu. Jadi, adanya penjajahan itu dimulai 1494, dari Paus Alexander ke VI. Paus inilah yang memberikan kewenangan kepada kerajaan Katholik Portugis untuk menguasai belahan dunia timur, dan kerajaan Katholik Spanyol menguasai belahan Barat. Lalu sampailah ke Indonesia orang-orang Portugis itu pada tahun 1511 dengan menguasai Malaka.

Dari mana kaum penjajah menguasai wilayah Islam?

Sejak itulah ada serangan dari kesultanan Demak terhadap Malaka. Kenapa menyerang Malaka? Karena kuatnya Islam itu tergantung pada penguasaan pasar dan pengusaan maritim. Karena Nabi sendiri, sejak umur delapan tahun sebelum diangkat sampai menjadi Nabi seorang wirausahawan. Di dalam Al-Qur’an sendiri banyak ayat yang berbicara tentang perniagaan dan maritim. Di dalam Al-Qur’an ada 40 ayat yang berbicara tentang maritim. Inilah yang tidak dikuasai para ahli sejarah pada umumnya.

Mereka sering menggambarkan Rasulullah hanya dengan padang pasir dan onta. Tidak ada orientasi pada kelautan. Padahal, Islam itu kuat karena menguasai laut. Dan jazirah Arabia itu sendiri berarti wilayah yang dikelilingi laut. Karena kita dikuasai sejarah Barat, informasi kelautan itu hanya dimiliki Inggris.

Jadi mereka memakai metode Nabi Saw?

Inggris itu meniru Islam. Maka saya angkat kembali bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai laut terbesar di dunia, tidak ada negara yang punya laut seluas Indonesia, maka kalau perhatian pada lautnya kurang, kita tidak tahu informasi sejarah Rasulullah menguasai dunia.

Bukankah Indonesia dulu juga diperjuangkan para ulama kita?

Setelah Indonesia ini merdeka, ada dua kekuatan yang disepelekan masyarakat. Setelah perang selesai, ada dua kekuatan, yaitu ulama dan militer yang tidak dianggap berperan dalam menegakkan NKRI. Padahal ulama dan militer adalah satu kesatuan. Karena PETA, pasukan bentukan Jepang, sewaktu mengikuti Indonesia, yang terdiri atas 68 batalyonnya, semuanya ulama. Jadi pada masa Jepang ulama diberi kesempatan untuk memimpin organisasi kesenjataan (kemiliteran). Maka umat Islam mempunyai kekuatan yang dahsyat. Saya katakan dahsyat, karena di kalangan NU diberi kewenangan untuk membina 50 batalyon Hizbullah. Anda bisa bayangkan ketika Proklamsi kekuatan militer dari Islam itu luar biasa besarnya. Bung Karno sendiri ketika pidato Proklamasi tanggal 9 Ramadhan 1364 H/ 17 Agustus 1945, kalau tanpa dukungan ulama tidak akan berani.

Kenapa begitu?

Karena tanggal 6 dan 9 Agustus ada dua bom yang dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki. Tidak ada bangsa yang bisa menghancurkan bangsa, yang sampai flora dan faunanya hancur mati, kecuali hanya AS. Itulah kenapa Yahudi dianggap kejam. Padahal tidak pernah flora dan fauna Yahudi yang dihancurkan. Tapi kalau AS, orang yang sedang sakit sampai rumah sakitnya dihancurkan. Dalam kondisi demikian Jepang, tanggal 14 Agustus, bertekuk lutut. Lha kenapa Indonesia berani memproklamirkan kemerdekaannya tanggal 17? Itu karena Bung Karno didukung oleh ulama.

Misalnya siapa dari ulama itu?

Umpanya Syekh Musa, itu ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Lalu dari Bandung ada Drs. Sosrokartono, kakaknya RA. Kartini. Lalu ada Abdul Mukti dari Muhammadiyah, dan dari NU KH. Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Dan Hasyim Asy’ari waktu juga bilang bahwa presiden pertamanya adalan Bung Karno, dan itu disetujui angkatan laut Jepang.

Bisa dijelaskan lebih lanjut?

Jadi ketika tanggal 10 Ramadhan tau 18 Agustus, Pancasila yang merumuskan itu tiga orang. Yakni, KH Wahid Hasyim dari NU, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, dan Kasman Singodimedjo, juga dari Muhammadiyah. Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila itu sebagai ideologi, UUD 45 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI tidak akan mampu, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Jadi negara ini yang memberi kesempatan proklamasi seperti itu adalah ulama.

Dan ketika ada gerakan separatis APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), KNIL, RMS (Republik Maluku Selatan), lalu dibuat negara kesatuan. Itu atas perjuangan dan usaha M. Natsir dari Masyumi dan Persatuan Islam. Jadi kita bisa melihat sumbangan ulama itu sangat besar.

Sekarang ini ulama dilupakan?
Iya dilupakan. (dina)

http://www.eramuslim.com/berita/bc2/7914143834-prof.-mansur-suryanegara-indonesia-merdeka-karena-perjuangan-ulama.htm?prev

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin: Arah dan Strategi Gerakan Islam Harus Sama

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin: Arah dan Strategi Gerakan Islam Harus Sama

Pascajatuhnya rezim Soeharto, banyak gerakan Islam di Indonesia bermunculan. Dengan beragam bidang yang ditekuni, mereka berharap gerakan mereka memberikan kontribusi untuk umat. Tapi, sayang sudah sepuluh tahun era reformasi ini berjalan, akhir-akhir ini gerakan-gerakan Islam itu justru menuju ke arah yang tidak jelas.

Kenyataan itu menyimpulkan, masing-masing gerakan itu bergerak untuk kepentingan kelompoknya. Sementara itu, di sisi lain invansi pemikiran dari Barat, yang merupakan kelanjutan dari proses werternisasi (pem-Barat-an) kurang direspon oleh gerakan-gerakan itu. Diakui atau tidak, pem-Barat-an telah mengganjal gerakan-gerakan Islam itu.

Untuk menghadapi itu semua, berikut nasehat cendiakawan Muslim, yang juga aktivis ekonomi kerakyatan, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin kepada eramuslim. Berikut petikannya:

Fenomena arah gerakan-gerakan Islam akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, arah dan strategis mereka tidak menuju pada satu titik. Bagaimana ini terjadi?

Memang gerakan-gerakan Islam sekarang itu sangat semarak. Tapi, barang kali dengan tekanan-tekanan yang berbeda-beda, gerakan Islam itu mengarah kepada pembangunan sosial kemasyarakatan. NU dan Muhammadiyah sebagai contoh persis sebagai gerakan keummatan yang bergerak di bidang sosial keummatan, pendidikan, dan sedikit bidang ekonomi. Tapi sekarang ada juga yang bergerak di bidang politik, melalui partai-partai Islam dan bergerak di bidang politik praktis. Tentu saja kita men-support mereka dengan catatan nilai-nilai keIslaman tetap mereka junjung tinggi.

Tapi ada juga gerakan Islam yang sama sekali tidak mau terkait dengan politik. Mereka hanya menekankan pada pemikiran Islamiyah. Ini banyak sekali, baik yang berseberangan dengan yang lain, ataupun gerakan keummatan yang hanya bidang ekonomi, dakwah, dan pendidikan. Singkatnya banyak gerakan yang heterogenitas, punya variasai yang luar biasa dalam gerakan keumatan ini. Walaupun sekarang ada perbedaan-perbedaan, kita harapkan ke depan arahnya sama, dan langkah-langkah strategisnya juga sama.

Kelihatannya gerakan-gerakan Islam itu berjalan sendiri, dan tidak saling koordinasi. Betul demikian?
Iya. Itu betul. Saya melihat masih begitu. Masing-masing jalan dengan sendiri dengan konsepnya. Jalan sendiri dengan pemikirannya. Kadang-kadang juga statemen yang disampaikan juga kontraproduktif, tidak merupakan kesatuan yang utuh. Saya kira ke depan ada kelompok-kelompok yang menjadi perekat antarkelompok yang ada. Ini kita harapkan dari kalangan muda, saling berkomunikasi, berdialog dan bermusyawarah. Karena ini adalah bagian dari dakwah dan perekat, termasuk perekatan pemikiran. Kalau tidak pernah berdialog dan bersilaturahim, maka akan berjalan dengan sendiri-sendiri. Saya kira yang berkaitan dengan perekatan umat ini, perlu kita bangun bersama.

Selain minimnya silaturahmi antargerakan, ada semacam kesimpulan mereka hanya memikirkan kelompoknya sendiri?
Ya banyak faktorlah. Banyak yang sekadar memikirkan dirinya sendiri dan kelompok. Mereka belum merasa perlu terlibat membangun dan berkontribusi kepada gerakan lainnya. Saya kira hal ini perlu kita luruskan bersama. Dan kita tentu sangat tidak berharap antar satu gerakan dengan yang lain saling mencela. Seharusnya satu sama yang lain harus saling mengisi kekosongan. Misalnya, ada gerakan yang hanya bergerak di bidang pemikiran, mestinya ia harus disupport dengan sikap amaliyah. Dan sebaliknya.

Untuk menyatukan gerakan-gerakan ini, apakah ke depan perlu wadah atau forum tersendiri?
Saya kira forum sudah ada. Sebenarnya, bukan masalah forumnya. Tapi kesadaran individu atau pemimpinnya dengan hati yang jernih dan dengan mengakui kekuatan yang lain, untuk bersatu. Tapi kalau yang diakui hanya kekuatannya sendiri, dan tidak mengakui kelemahannya, saya kira tidak akan pernah terjadi silaturahim itu.

Satu hal yang krusial adalah masalah pemikiran. Bagaimana ke depan umat mampu merespon gerakan pemikiran secara cepat?
Ya memang salah satu kelemahan kita, jarang berfikir secara mendalam. Kita hanya berfikir hanya very perial, di sini-sini saja. Sementara yang lain mengikuti gerakan–gerakan keIslaman yang mendalam, katakanlah JIL(Iaringan Islam Liberal). Kita menolak gerakan-gerakan pemikiran mereka yang sistematis yang dikemas secara dengan baik. Dan buku-bukunya juga penampilan bukan isinya tapi penampilannya cukup kuat. Jadi gerakan yang di koordinasikan dengan dana yang cukup besar terus kita hadapi pula dengan gerakan-garakan pemikiran yang sama.

Saya kira kita tidak bisa mengahadapi pemikiran seperti itu secara emosional tetapi harus secara mendalam, pemikiran dilawan dengan pemikiran. Kita diperintahkan berjihad seperti itu. Jadi hadapilah dengan ghazul fikri-ghazulfikri, budaya dengan budaya, tulisan dengan tulisan. Lalu dengan gerakan-gerakan keIslaman bisa lebih menukik mereka menulis, membaca, menggali, khazanah-khazanah keilmuan yang telah di pelopori para ulama yang terdahulu karena mereka juga luar biasa jasanya.

Memulainya dari mana?
Dimulai dari pendidikan, kita harus menyiapkan kader-kader untuk mendalami masalah ini, dilatih menulis mendiskusikan dengan baik dengan mempertahankan etika dan akhlak yang baik. Berdiskui itu tidak dengan emosional tidak mengarah kepada pribadi, tetapi mengarah kepada pemikiran- pemikiran saya kira itu harus di bangun, system pendidikan inilah, salah satu kenapa Ibnu Khaldun dibangun program Pascasarjananya, yang juga ada bidang Pemikiran Islamnya.

Kita melihat konsep-konsep selama ini tidak hanya pemikiran Islamnya, tidak pada politik. Saya kira kita harus ada pembagian tugas. Politik perlu karena semua juga akan ada kekuatan politik, karena untuk undang-undang perbankan syari’ah perlu politik. Undang-undang pornoaksi saja belum selesai, itu juga karena itu kita perlu kekuatan politik, ekonomi juga perlu. Tapi, semua pembagian tugas dan koordinasi satu dengan yang lain.

Selama ini belum terkoordinasikan dengan baik?
Belum. Belum terkoordinasikan dengan baik. Karena kita asyik dengan kegiatan masing-masing kita sendiri.

Menghadapi gerakan pemikiran yang kencang dari Barat, kelihatannya umat ini tak siap. Bagaimana menurut Anda?
Saya kira kita harus mempersiapkan diri. Sebenarnya umat Islam telah mempersiapkan diri, hanya saja itu belum kelihatan, dan itu harus serius. Soal pemikiran itu harus serius. Masalahnya kita ini sering asal-asalan terhadap program yang kita lakukan.

Itu lazim di gerakan-gerakan Islam?
Iya. Kita terlalu banyak pekerjaan yang lirik, tapi jarang yang fokus. (dina)

http://www.eramuslim.com/berita/bc2/7c03150521-prof.-dr.-kh.-didin-hafidhuddin-arah-dan-strategi-gerakan-islam-harus-sama.htm?prev

M. Al-Khaththath: Ahmadiyah Itu Bagian dari Kolonialis Inggris

M. Al-Khaththath: Ahmadiyah Itu Bagian dari Kolonialis Inggris

Jemaat Ahmadiyah jelas bukan bagian dari umat Islam Indonesia alias non-Muslim. Jika mereka tetap ngotot minta dianggap Muslim, maka mereka harus membuang Mirza Ghulam Ahmad dan Kitab Tadzkirahnya. Ini harga mati.

Forum Umat Islam (FUI) merupakan salah satu ormas garda depan yang berupaya memberi pencerahan pada umat Islam Indonesia dalam hal ini. Sebab itu, guna mengelaborasi masalah Ahmadiyah ini maka eramuslim mewawancarai Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath. Berikut petikannya:

Bisa ustadz jelaskan di mana letak kesesatan Ahmadiyah?

Orang yang pertama membuat pengakuan adalah Mirza Ghulam Ahmad, ia membuat pengakuan bahwa dirinya adalah seorang nabi. Dalam pandangan Islam jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nah itu yang menimbulkan kekesalan di India, daerah asal Mirza Ghulam Ahmad. Pada waktu dalam penjajahan Inggris, Pakistan berusaha untuk memerdekakan negeri Islam di India. Sebenarnya di India itu negara Islam karena yang berkuasa kaum muslimin, meskipun penduduk aslinya beragama Hindu.

Inggris masuk ke India, kekuasaan diambil-alih Inggris. Kemudian dari ajaran Mirza, yang membuat kita menduga kuat bahwa ajaran Ahmadiyah itu buatan Inggris, karena para pengikutnya dilarang untuk berjihad melawan pemerintahan Inggris. Dari sini kita bisa melihat, bahwa mereka adalah bagian dari kolonialis.

Keberadaan Ahmadiyah di Pakistan ditentang rakyatnya sendiri sehingga mereka memindahkan markas besarnya ke London.

Penyimpangannya seperti apa?

Sudah tampak jelas sekali, tidak benar kalau ada yang mengatakan ini khilafiyah. Karena urusan nabi palsu ini adalah hal yang pokok, mendasar, dan sudah ada sejak dulu.

Dari segi ajaran Islam, mereka sudah melanggar sesuatu yang sudah ada dalam Al- Quran Surat Al-Ahzab ayat 40 yang artinya, 'tidaklah Muhammad itu bapak dari salah seorang laki-laki di antara kalian, tapi tiadalah dia merupakan rasulullah dan penutup para nabi'.

Ahmadiyah itu mengarang-karang bahwa khatamuun nabiyiin di situ bukan penutup para nabi, tapi sebagai stempel kenabian atau cap kenabian, ini karangan mereka. Padahal dalam hadis sudah jelas, hadis Imam Ahmad At-Tawuud, Imam Turmudzi, maupun Imam Bukhori, menyebutkan 'aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi sesudahku'. Jelas dalam hadis Bukhori, yang mengatakan, tidak ada nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah.

Pada zaman Rasul bagaimana cara mengatasi persoalan nabi palsu. supaya saat ini umat Islam mempunyai refensi yang benar?

Orang yang mengaku dirinya sebagai nabi adalah kesesatan, dan apabila dia menyampaikan kepada orang lain, statusnya menjadi penyesatan. Karena pada zaman Rasulullah itu sudah ada contohnya orang yang bernama Musailamah menulis surat kepada Rasulullah. Surat berbunyi, 'surat dari Musailamah rasulullah, kepada Muhammad rasulullah', kemudian Muhammad SAW membalas dengan 'Surat dari Rasulullah ditujukan kepada Musailamah sang pembohong'. Beberapa hadis lain menyatakan, 'kalau sekiranya Muhammad memberikan pangkat kenabian padaku sesudahnya, maka aku akan mengikuti dia'. Artinya apa kalau Muhammad SAW tidak memberikan pangkat kenabian itu kepadanya, dia tidak akan mengikuti Nabi Muhammad berarti dia murtad. Nabi SAW pun berkata,

'Andaikan kau meminta pelepah kurma ini aku tidak akan berikan'. Ya pelepah kurma saja tidak diberikan, apalagi pangkat kenabian, 'karena pangkat kenabian itu tidak bisa diberikan atau diwariskan, tapi itu adalah kehendak Allah SWT'. Kemudian ada dua pengikut Musailamah dari daerah yang letaknya sangat jauh Madinah menyampaikan surat kepada Rasul, lalu Rasul bertanya,

'Apakah kalian bersaksi aku adalah Rasulullah, lalu keduanya menjawab kami bersaksi Musailamahlah Rasulullah' jadi mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, baik Musailamah dan pengikutnya yang berjumlah 41 ribu dari kalangan suku bani Hanifah, mereka murtad, padahal sebelumnya mereka muslim. Karena mereka murtad, maka Rasulullah mengatakan lagi kepada utusan itu 'kalau seandainya aku adalah kepala negera yang membunuh utusan, pasti kalian berdua akan aku bunuh', tapi ada kesepakatan saat yang mengatakan utusan tidak boleh dibunuh.

Hadist ini dipahami oleh para oleh sahabat bahwa hukuman untuk para pengikut Musailamah dan termasuk dua utusan tidak pada posisi sebagai utusan adalah mereka dihukum mati. Ketika khalifah Abu Bakar, ketika kelompok Musailamah Al-Khalzab bersatu dengan kelompok murtadin, lalu kelompok murtadin ini bahu membahu untuk membangkang pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq, kemudian Abu Bakar mengangkat panglima untuk menyampaikan ultimatum dari khalifah kepada mereka, agar segera kembali kepada Islam.

Kemudian keluar ayat terjemahan berbunyi "Tidaklah Muhammad itu melainkan hanya sekedar seorang rasul, telah berlalu rasul-rasul sebelum beliau, kalau sekiranya Muhammad itu wafat, maka kalian berpaling ke belakang (murtad)." Ayat ini yang dipakai khalifah Abu Bakar untuk mengembalikan kaum murtadin ke pangkuan Islam dan menjalankan syariat Islam yang diyakini sebelumnya, apabila mereka menolak bertobat tidak mau kembali kepada Islam maka hukumannya adalah hukuman mati, tanpa pandang bulu. Tapi bagi mereka bertobat, dan diterima kembali sebagai pemeluk Islam.

Apakah pemerintah harus melakukan seperti contoh para sahabat zaman Rasulullah?

Meskinya pemerintah muslim menangani dengan cara-cara seperti itu, contoh di atas memberikan gambaran bahwa nabi palsu bukan baru kemarin, bukan baru Mirza Ghulam Ahmad, di zaman Nabi Muhammad SAW sudah ada, di zaman khulafaurasyiddin sudah ada.

Jangan dibiarkan ada, sebab kalau dibiarkan ada, mereka sangat membahayakan bagi umat Islam, karena mereka melakukan pemurtadan. Jadi contoh di atas, merupakan landasan syari'i yang harus diambil terhadap orang Ahmadiyah. Itu sudah jelas, itu sudah nyata jangan diplintir-plintir ke sana kemari.


Kalau penyelesaian melalui jalan pengadilan seperti yang disarankan oleh Mahkamah Konstitusi?

Kalau mau pengadilan ya pengadilan yang merujuk pada syariat, tapi yang mau diadili apanya. Kalau yang mau diadili sesat atau tidak sesat, mereka jelas sudah sesat, menurut syariat Islam, orang yang sesat harus diminta bertobat, mereka sudah murtad.

Mereka diajak kembali kepada Islam, gampangnya itu saja. Kalau diadili, tapi tetap dalam kemurtadanya buat apa diadili,

Apanya yang diadili. Jadi mereka diajak kembali masuk kepada Islam, kalau diajak tidak mau, ya menurut syariat Islam hukumnya dihukum mati. Kalau mau diadili harus ada Mahkamah Syariah seperti ini, baru bisa. Kalau pengadilannya tidak bisa menilai benar dan tidak sesuai syariah Islam ya susah. Janganlah merusak ajaran Islam dengan ketidakjelasan. Kita sudah pengalaman dalam kasus Playboy, dibawa ke pengadilan tapi keputusannya tidak jelas. Yang mengatakan tuntutan tidak bisa diterima karena KUHP tidak berlaku, harus mengikuti UU Pers, ya bagaimana kalau terulang seperti tidak akan ada penyelesaiannya. (novel)

http://www.eramuslim.com/berita/bc2/8422181031-m.-al-khaththath-ahmadiyah-bagian-kolonialis-inggris.htm