NAMRU: Kuda Troya Imperialisme
Siapapun konspirator Insiden Monas, harus diakui bahwa skenario ini memang cerdas. Bukan hanya soal kenaikan BBM dan aliran sesat Ahmadiyah yang terkubur, permasalahan NAMRU-2 pun turut terkubur. Permasalahan menjadi berbelok pada (kalau meminjam istilah mereka) anarkisme ‘Islam Radikal’. Dan rakyat kemudian di ‘nina bobok’kan dengan Piala Eropa.
Sementara itu, sepak terjang lembaga intelijen berkedok laboratorium milik Angkatan Laut Amerika Serikat, NAMRU-2, dengan aman tanpa terusik, terus berlangsung.
Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Kristianto Legowo, Deplu telah menerima draf Memorandum of Understanding (MoU) NAMRU-2 dari Pemerintah AS satu atau dua minggu lalu. Saat ini pemerintah sedang membahas draf itu secara mendalam. ”Kami akan lihat dan membahas draf yang diajukan untuk memastikan tidak atau adanya hal yang merugikan kepentingan nasional,” ujarnya. Tapi menurut dia, vokal poinnya ada di Departemen Kesehatan.
Anehnya, usai kunjungan dari Jenewa, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari malah mengaku tidak tahu soal perkembangan terakhir ini. ”Sekarang bola ditangan Amerika, mereka belum membahas darft MoU yang kita kirim,” ujarnya. Menurut dia, Depkes tetap akan menghentikan kegiatan operasional laboratorium milik Angkatan Laut AS itu di Indonesia.
Tentu saja hal ini sangat mengherankan. Sebab, jika benar Depkes adalah vokal poin pembebasan draf baru, seharusnya Menteri Kesehatn-lah yang perlu segera diajak bicara oleh Deplu untuk membahas draf MoU AS. Diduga, sikap keras Menteri Kesehatan menyebabkan pembahasan MoU tentang kelanjutan operasi NAMRU-2 ini juga dilakukan.
Alotnya pembahasan NAMRU-2 dimaklumi Menteri Kesehatan. Sebab MoU NAMRU-2 adalah satu dari tiga deal utama yang menandai pengaruh AS di Indonesia. MoU pertama adalah masuknya Indonesia ke International Monetary Fund (IMF) dan World Bank yang intinya AS jadi tim asisten ekonomi, deal ke dua adalah penyerahan pengelolaan tambang ke sejumlah perusahaan AS. ”Makanya Amerika ngotot mempertahankan NAMRU-2,” kata Siti Fadilah.
NAMRU-2 beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968 ketika Menteri Kesehatan GA Siwabessy, meminta bantuan dokter Angkatan Laut AS menanggulangi wabah pes di Boyolali, Jawa Tengah. Bantuan ditingkatkan menjadi kerjasama permanen berdasarkan MoU yang diteken Duta Besar AS untuk Indonesia, Francis Joseph Galbraith dan Siwabessy pada 16 Januari 1970.
Semula NAMRU-2 berstatus Detachment dipimpin seorang Kapten. Sejak 1991 Indonesia menjadi pangkalan utama NAMRU-2, ketika Command NAMRU-2 dipindah ke Jakarta dan dikepalai seorang Kolonel. ”NAMRU-2 beroperasi karena Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat menarik untuk diteliti,” kata Direktur NAMRU Trevor Jones.
Tahun 1986 NAMRU-2 mendirikan laboratorium di Jayapura bersama Depkes, dan RSU Jayapura. Anehnya dalam penelitian malaria itu mereka tak hanya mengambil sampel darah warga. Mereka juga memetakan situasi, topografi, dan penyebaran penyakit dengan cara tak lazim. ”Mereka mengumpulkan data pos militer, jarak lokasi penyebaran penyakit dengan kantor pemerintahan, dan memetakan lokasi dengan detail,” kata seorang peneliti Balitbangkes.
Tahun 1997 NAMRU-2 ditetapkan sebagai WHO Collaborating Center untuk Emerging Infectious Diseases Asia Tenggara. Dengan dalih meneliti malaria, demam berdarah, HIV/AIDS dan flu burung mereka mengirim surat ke seluruh rumah sakit umum, daerah mapun swasta dan puskesmas untuk mengirimkan sampel darah pasien ke NAMRU-2. Tapi, ketika pemerintah sibuk menghadapi bencana nasional demam berdarah dan flu burung, mereka diam saja.
Masalah NAMRU-2 marak ketika beredar surat penghentian sementara operasi NAMRU-2 di Indonesia. Surat untuk Direktur NAMRU-2 itu ditandatangani Kepala Balitbangkes Depkes, Dr.Triono Soendoro, 31 Maret 2008 lalu, atas perintah Menteri Kesehatan. Laboratorium yang telah bercokol empat dasa warsa itu diminta menghentikan operasi sampai MoU baru diteken.
Triono juga merilis Surat Edaran untuk para DIrektur Rumah Sakit Umum, Daerah dan Swasta; para Rektor, Dekan Fakultas Kedokteran, Farmasi, Kesehatan Masyarakat dan FMIPA di seluruh Universitas Negeri maupun Swasta di Indonesia; serta para Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten se-Indonesia. Surat ini menghimbau semua lembaga yang masih mengirimkan spesimen biologis ke NMARU-2 untuk menghentikan kegiatan.
Begitu surat dirilis, Presiden Yudhoyono langsung memanggil Siti Fadilah. “Rasanya tidak perlu…. Toh, NAMRU sudah banyak berjasa kepada kita….” Kata seorang sumber di Depkes mengutip pembicaraan SBY kepada Siti Fadilah. Kata sumber tadi, masukan ke SBY berasal dari dari Juru bIcara Presiden Dino Patti Djalal yang dekat dengan Amerika Serikat.
Siti Fadilah lalu menegaskan, meski NAMRU-2 di lingkungan Balitbangkes, Depkes tak pernah mendapat laporan hasil penelitian mereka. Selama ini yang dilaporkan hanya kegiatan saja. ”Saya juga nggak tahu, opo to isine (apa sih isinya) NAMRU itu,” kata Siti Fadilah. Karena itu pula ia menginspeksi laboratorium itu secara mendadak.
NAMRU-2 pun tak pernah menyertakan dokumen Material Transfer Agreement. Padahal dokumen ini penting untuk pelacakan spesimen biologis, menyangkut dampak kesehatan maupun nilai ekonomisnya. Selain itu, meski mengaku meneliti dan mengambil sampel malaria, demam berdarah, TBC dan hepatitis, hingga kini penyakit-penyakit itu asih berjangkit.
Langkah Menkes didukung Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dan Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar. Menurut mereka, banyak hal perlu dibenahi dalam MoU, terutama soal jumlah peneliti NAMRU-2 yang memiliki paspor diplomatik, ketertutupan NAMRU-2 dan dugaan kegiatan intelijen para peneliti NAMRU.
Menlu, Menhan dan Menkes sepakat hanya akan memberikan paspor diplomatik untuk Direktur dan Wakil Direktur NAMRU-2. Syamsir malah menyatakan cukup seorang, selain menegaskan bahwa tak semua daerah boleh dikunjungi. Sementara, ”harus ada dokter TNI-AL yang diikutsertakan di setiap program,” kata Juwono.
Karena surat penghentian operasi itu, Panglima United States Pacific Command (US-PACOM) Laksamana Timothy J.Keating datang ke Indonesia pada kami (10/4). Ia bertemu Presiden dan Menhan di Istana. Dalam jumpa pers, Keating menegaskan bahwa NAMRU-2 akan tetap beroperasi di Indonesia. ”NAMRU-2 akan melanjutkan aktivitasnya di Indonesia,” ujarnya.
Karena pendekatan militer mentok, Presiden GW Bush mengutus Menkes Michael O Leavitt untuk bertemu SBY. Di Istana Negara, SBY mempertemukan Leavitt dengan Siti Fadilah dan Menko Kesra Aburizal Bakrie. Saat itu Siti Fadilah mendudukkan masalah. ”Saya terangkan tentang pentingnya aturan pengalihtanganan spesimen biologis,” ujarnya.
Saat itu, Leavitt seolah menyetujui usul Menkes agar kerjasama NAMRU-@ digelar antar Depkes. ”Dia mengaku heran dengan kerjasama selama ini dan dia setuju usul saya,” kata Siti Fadilah. Tapi belakangan, penjelasannya kepada Leavitt dianggap menjadi pangkal kemacetan MoU NAMRU-2. ”Semua gara-gara Menteri Kesehatan,” kata Leavitt kepada The Straits Times.
Jika tiga Menteri dan Kepala BIN menolak NAMRU-2, Istana malah melempem. Tak hanya memerintah para menteri agar tetap membuka hubungan, juru bicara presiden Dino Patti Djalal yang memback up NAMRU-2 hingga disinyalir antek AS malah dibela habis. ”Saya tegaskan, saudara Dino bukan agen Amerika,” kata Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa.
Sementara pemerintah AS pun mulai kasak-kusuk. Dua pekan lalu, Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron M Hume datang ke DPR/MPR bersama Direktur NAMRU-2, Captain Trevor R.Jones menemui Ketua DPR Agung Laksono. ”Mereka berencana mengundang DPR untuk meninjau NAMRU-2,” kata Agung seusai pertemuan itu.
Saat itu, Hume dan Jones minta dukungan DPR agar anggota tim NAMRU-2 yang diberi fasilitas kekebalan diplomatik ditambah. Jadi tak hanya dua orang seperti draft Indonesia. Padahal, kata anggota Komisi I Yusron Ihza Mahendra, perpanjangan NAMRU-2 tak layak lagi. Seharusnya kerjasama berakhir tahun 2000, tapi hingga kini tetap beroperasi. ”Saya tidak tahu mengapa perpanjangannya dengan nota diplomatik. Mungkin ada tekanan Amerika,” ujarnya.
Jika sekedar meninjau dan membiarkan anggota DPR mengkritisi, tentu tak jadi masalah. Tapi tampaknya AS menyiapkan jurus khusus merayu DPR agar mendukung NAMRU-2. Sebab, keberlangsungan laboratorium itu sudah harga mati agar Indonesia tetap mereka kangkangi. Namun Yusron memastikan, DPR tak akan memenuhi undangan itu. ”Selama ini mereka sangat tertutup. Pasti mereka sudah menyembunyikan hal-hal yang berbahaya,” ujarnya.
Bahkan anggota Komisi I DPR, Mutammimul Ula, meminta agar kerjasama Naval Medical Reasearch Unit 2 (NAMRU-2) antara Indonesia-Amerika tidak dilanjutkan. Sebab, menurutnya, tidak adanya keuntungan yang bisa diraih Indonesia dari kerjasama tersebut.
”Di bidang medis juga tidak ada terobosan yang signifikan dari laboratorium AS ini dalam membantu mengurangi penyakit-penyakit tropis di Indonesia,” ujar Mutammimul Ula dalam rilisnya kepada pers tertanggal 4 juni 2008.
Meski kerjasama antara Indonesia-AS ini telah berlangsung sejak 30 tahun silam, namun dalam konteks capacity bouilding pun tak menguntungkan bagi perguruan tinggi Indonesia yang ikut melakukan penelitian bersama NAMRU.
”Dengan UI misalnya hanya dihasilkan satu disertasi S3, 12 tesis S2 dan hanya lima publikasi. Hasil laporannya pun dinilai Menkes masih sangat minim,” jelas Tamim.
Ditambah lagi, lanjut Mutammimul, adanya permintaan tambahan kekebalan diplomatik bagi staf NAMRU sangat berpotensi mengancam keamanan Nasional. Sebab, sifat mobilitas mereka yang tinggi dan adanya kemudahan kerjasama dengan instansi-instansi di daerah sangat mengkhawatirkan keamanan nasional.
”Belum lagi motif ekonomi di balik sepak terjang NAMRU selama ini,”lanjutnya.
Oleh karenanya, jika pemerintah bersikeras meneruskan kerjasama ini, maka pemerintah menurut Mutammimul harus memastikan bahwa kerjasama yang digalangnya tidak keluar dari enam klausul yang disampaikan oleh Menkes, diantaranya transparansi, tidak adanya kekebalan diplomati, larangan bagi pembuatan senjata biologis, larangan bagi komersialisasi dan menyesuaikan dengan program Departemen Kesehatan.
”Klausul tersebut harus disepakati lebih dahulu sebelum menentukan boleh tidaknya NAMRU di Indonesia,” tandasnya.
Mungkinkah Amerika bersedia menerima klausul tersebut ?
Menurut Fahmi AP Pane, Staf Ahli Fraksi PPP DPR RI (Namru, Trojan Imperialisme, Republika, 07 Mei 2008), kontroversi NAMRU-2 tampaknya tidak terselesaikan dalam binkai kepentingan terbaik bangsa Indonesia. Perkembangan mutakhir menunjukkan adanya pergeseran fokus persoalan secara sistematis dan upaya mengembangkan konflik antarpejabat Indonesia, bahkan terkesan menyudutkan Menkes Siti Fadilah Supari.
Pane berpendapat, NAMRU-2 harus dideterminasi berikut segala perakadan dengannya. Diatas semuanya, NAMRU-2 is permanent military base. NAMRU-2 adalah aset Angkatan Laut AS yang terletak di tengah kota sipil Ibukota NKRI Jakarta.
Persoalan NAMRU-2 melampaui problematika kapal induk AS yang sering hilir mudik di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), insiden F-18 Hornets beberapa tahun lalu, atau persoalan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (DCA) dengan Singapura serta Australia yang bisa mengundang pihak ketiga, seperti AS dan Israel. Sebagaimana bisa ditelusuri pada situs resmi mereka, NAMRU berada dibawah lembaga Naval Medical Reserach Center (NAMRC) dan Global Emerging Infections Surveillance and Response System (GEIS).
Semuanya dibawah kendali Departemen Pertahanan AS. Namun, NAMRU tetap berkoordinasi dengan Depkes AS. Tujuan, visi, misinya juga jelas. AS tidak pernah menutup-nutupinya.
AS hanya tidak mengatakan semuanya tentang NAMRU ketika Dubes Cameron Hume dan komandan NAMRU Trevor Jones mengadakan konferensi pers 24 April silam. NAMRU-2 untuk memperkuat persiapan, surveillance, dan sitem tanggap terhadap penyakit menular bagi personel militer AS dan keluarganya dikawasan tropis Asia Pasifik.
NAMRU juga untuk meningkatkan kesiapan medis mereka, sekaligus menurunkan resiko bagi ketahanan nasional AS. NAMRU berguna mencegah penyakit menular bagi tentara AS yang berada di kawasan tropis Asia – Pasifik.
Bahkan, dalam situs Dephan AS (DoD GEIS) ditegaskan pula NAMRU-2 also participates in a number of US military exercises such a Cobra Gold, Tandem Thrust and CARAT Cruise (NAMRU-2 juga berpartisipasi dalam sejumlah latiham militer AS, seperti Cobra Gold, Tandem Thrust dan CARAT Cruise). Ironisnya, dalam beberapa latihan tersebut, personel TNI tidak dilibatkan.
Maka, tidak perlu operasi kontraintelijen atau memasang personel TNI untuk memahami NAMRU. Sejak awal berdiri dan hingga kini NAMRU 99,9% untuk kepentingan kehadiran dan hegemoni militer AS di Asia Pasifik.
Signifikansi NAMRU adalah karena AS mengharuskan dirinya memasuki dan menguasai negeri dan tanah air bangsa-bangsa lain. AS menjalankan imperialisme dan kolonialisme yang ditopang oleh kekuatan politik, ekonomi, militer dan semua aspek kehidupan lainnya. Ini untuk menjaga sistem dan pilar-pilar kapitalismenya, termasuk pengurasan sumber daya alam di kawasan Asia Pasifik.
Dalam konteks ini, NAMRU laksana trojan. NAMRU adalah kuda troya untuk menembus benteng. Namun, itu juga berarti seperti virus komputer yang bila berada dalam sistem komputer, walaupun tidak bekerja, kehadirannya adalah sinyal masalah besar.
Oleh karena itu, selama AS merasa tentaranya harus menguasai kawasan Asia Pasifik, selama itu pula laboratorium militer seperti NAMRU akan dipertahankan dengan memaksakan seluruh daya. Pada satu sisi, itu penting untuk memperkuat sistem pertahanan personelnya dari beragam penyakit menular dan pada sisi lain itu bisa menjadi strategi deterrence (menakut-nakuti lawan) karena potensi penyebaran serangan biologis dan kimiawi ke tengah-tengah penduduk Jakarta dan sekitarnya dalam waktu singkat.
Menyimak konteks strategis tersebut, jelas persoalan NAMRU perlu diselesaikan dengan strategi khusus yang melibatkan kesatuan sikap pemerintah dan seluruh komponen bangsa. Semua pihak perlu meyakinkan AS bahwa imperialisme mereka harus diakhiri untuk mencegah AS hancur secara politik, ekonomi dan fisik. Paling tidak, ada empat persoalan besar imperialisme militer AS.
Pertama, kegagalan misi militer AS dan sekutunya di Iraq, Afghanistan, Somalia dan lain-lain. Kedua, defisit ganda dai APBN dan neraca transaksi berjalan AS yang meremukkan kemampuan mereka mencegah resesi ekonomi.
Ketiga, AS gagal memenangkan peperangan di hati dan pikiran umat Islam, seperti disebut dalam laporan Defense Science Board (Reuters, 25 November 2004). Lembaga itu adalah kelompok staf ahli Dephan AS.
Keempat, ancaman runtuhnya kepercayaan publik AS terhadap para perwira militer yang terjun ke dalam aktivitas politik (American Forces Press Service, 28 April 2008 dalam situs Dephan AS). Namun, jika AS bersikeras maka strategi membuka aliansi strategis dengan kekuatan lain patut dipertimbangkan.
Apalagi, negara seperti RRC telah sangat dirugikan karena seakan-akan menjadi pusat penyebaran wabah semacam SARS (severe acute respiratory syndrome) dan flu burung.
Lebih dari itu, Fahmi Pane mengingatkan, inilah ujian sesungguhnya bagi pemerintah dan bangsa Indonesia bahwa kita memang telah bangkit sebagai bangsa yang sederajat dengan bangsa-bangsa lain dan hanya takut kepada ALLAH SWT.
Karena itu, MER-C, An-Nashr Institute dan FUI, mengajak segenap komponen bangsa terutama TNI, untuk melumat NAMRU-2.
(Sally Sety)
Dikutip dari:
Buku Putih NAMRU-2: Pabrik Senjata Biologi AS Berkedok Laboratorium Medis. Diterbitkan oleh : Forum Penyelamat Indonesia.