Thursday, June 14, 2007

Peledakan Samarra dan Timur Tengah Baru

Saleh Lapadi

Masih hangat beritanya ketika 16 bulan yang lalu tepatnya tanggal 22 Pebruari 2006, 20 orang teroris memaksa masuk Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as. Mereka membawa 215 kg bahan peledak dan akhirnya meledakkan Dharih kuburan Imam dan membuat kubahnya rusak berat. Seluruh kaum muslimin tersentak atas perbuatan biadab itu.

Kemarin hari Rabu tanggal 13 Juni jam 09:00 pagi kelompok teroris kembali memaksa masuk ke Haram. Anggota kelompok teroris ini telah memasuki Haram sejak jam 3 subuh. Setelah membunuh penjaga Haram, mereka mulai menempatkan bom di kedua menara Haram. Pertama mereka meratakan dengan tanah menara di samping kiri dan lima menit kemudian meledakkan menara sebelah kanan sehingga tinggal setengahnya. Begitu juga atap Sardab (tempat terakhir gaibnya Imam Mahdi af) rata dengan tanah. Namun, kali ini tidak ada korban jiwa dari peziarah karena sejak peledakan pertama para peziarah telah dilarang memasuki Haram Imam Hasan Askari dan Ali al-Hadi as.

Setelah terjadi peledakan itu televisi Irak menunda siaran hariannya dan langsung memberitakan peristiwa Samarra babak kedua ini. Secara serentak ditayangkan lagu-lagu nasional yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi top Irak mengajak untuk tetap menjaga persatuan, menghindari tindak kekerasan atas nama mazhab dan menunjukkan sikap patriotisme membela Irak.

Dampak peledakan Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as konflik sektarian selama berbulan-bulan. Itulah mengapa Ayatullah Sistani dan ulama Syiah lainnya mengeluarkan pernyataan agar orang-orang Syiah dan Ahli Sunah bisa menahan diri. Ulama Ahli sunah di Irak juga mengutuk aksi teror tersebut.

Nouri al-Maliki dalam pertemuannya dengan Duta Besar Amerika dan komandan pasukan Amerika di Irak agar segera mengirimkan pasukan untuk mengamankan kota Samarra dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Pemerintah Irak dan pasukan Amerika telah mengamankan jalan yang menghubungkan Baghdad dan Samarra. Selain itu, Nouri al-Maliki membentuk tim penyidik untuk menyelidiki pasukan keamanan yang bertugas di sana ketika peristiwa peledakan terjadi.

Rencana keamanan yang diterapkan oleh pemerintah Nouri al-Maliki cukup sukses. Namun rencana ini baru meliputi daerah-daerah sekitar Baghdad seluas 30 kilometer dan ini rencana ini belum sampai ke Samarra. Itulah mengapa jalur Baghdad-Samarra yang tidak aman menghalangi pembangunan kembali Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as.

Menindaklanjuti seruan Ayatullah Sistani kepada seluruh rakyat Irak; baik Syiah maupun Sunni, untuk menahan diri, Muqtada Shadr memerintahkan tentara al-Mahdi untuk mencegah kemungkinan luapan kemarahan orang-orang Syiah terhadap orang-orang Ahli Sunah.

Siapa pelakunya?

Duta Besar Amerika dan komandan pasukan Amerika di Irak dalam pernyataan terpisah mengatakan, “Kami mengecam keras serangan setan pada pagi hari ini”. “Aksi yang dilakukan oleh kelompok yang telah dikepung ini muncul dari tidak adanya harapan bagi mereka. Mereka ingin menutup perkembangan politik, ekonomi dan perdamaian di Irak yang demokratis”. Di akhir pernyataannya, Duta Besar Amerika mengatakan, “Kami tidak akan mengizinkan kelompok teroris ini melakukan aksinya terhadap rakyat Irak yang menginginkan kesejahteraan dan kedamaian untuk semua”.

Nouri al-Maliki dalam pidatonya di televisi Irak meminta kepada rakyat Irak untuk tidak berlebihan menyikapi masalah ini. Bila ingin menuangkan kemarahannya, maka tempatnya kepada kelompok al-Qaedah. Kelompok yang terdiri dari orang-orang takfiri dan sisa-sisa pengikut Saddam. Kelompok takfiri melakukan aksi teroris ini karena terilhami oleh fatwa Bin Jabrin yang memuat fatwanya di situs pribadinya. Pada peledakan pertama di Samarra ia memuji aksi tersebut dan mengatakan, “Haram Imam Hasan dan Imam Hadi adalah sesembahan orang-orang Syiah”.

Bin Jabrin adalah ulama Wahhabi/Salafi nomor dua setelah Abdurrahman al-Barrak. Sebelum ini ia termasuk anggota Dewan Fatwa negara Arab Saudi. Tahun lalu ia mengeluarkan fatwa agar seluruh tempat-tempat suci orang-orang Syiah dihancurkan. Menurutnya, “Jangan biarkan bangunan-bangunan yang kelihatannya indah dianggap sebagai bagian dari Islam. Karena sekalipun bangunan-bangunan ini berada di negara-negara Islam, namun syariat tidak menerimanya. Islam memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan seperti itu”.

Sementara sisa-sisa pengikut Saddam melakukan aksi-aksi teror dengan harapan bila pemerintah yang ada sekarang lemah, mereka punya kesempatan untuk bisa kembali menguasai Irak. Karena pemerintah sekarang didukung oleh orang-orang Syiah, maka cara yang dipakai adalah dengan mengadu domba orang-orang Syiah dengan orang-orang Ahli Sunah.

Siapa yang bertanggung jawab?

Mungkin pertanyaan ini sudah dapat dibaca dalam penjelasan sebelumnya. Bahwa yang bertanggung jawab tentu adalah yang meledakkan. Namun, perlu diketahui sesuai dengan aturan yang berlaku, negara yang menduduki negara lain yang bertanggung jawab untuk menegakkan stabilitas keamanan negara tersebut. Di sini, Amerika yang bertanggung jawab ketika terjadinya peristiwa peledakan ini, sekalipun bukan dia yang melakukannya. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa tanpa kerja sama dengan pihak Amerika, sulit untuk dapat memasuki kawasan Haram dengan membawa bahan peledak seberat 215 kg seperti yang terjadi pada peledakan pertama.

Ditambah lagi, setelah peledakan pertama Haram Imam Hasan Askari dan Imam Hadi as, kawasan di sekitar Haram dijaga ketat. Bahkan peziarah dilarang masuk, sementara toko-toko yang ada di sana diperintahkan untuk ditutup. Sekalipun secara lahiriah yang banyak berkeliaran menjaga Haram adalah pihak keamanan dari pemerintah Irak, namun mereka tidak diberi keleluasaan yang semestinya. Semua gerakan mereka didikte oleh pasukan Amerika.

Problem yang dihadapi pemerintah Irak

Masalah terbesar yang dihadapi oleh pemerintah Irak adalah sekalipun mereka dipilih oleh rakyat Irak, namun pemerintah Irak tidak punya kekuasaan yang cukup. Semua gerak-geriknya dipantau dan dikuasai oleh Irak. Nouri al-Maliki setelah berhasil membekuk kelompok “Army of Heaven” berhasil menunjukkan kekuatannya, ia kemudian membuat rencana keamanan di Irak. Apa lagi sepak terjang Nouri al-Maliki yang Syiah tidak setuju dengan kehadiran Amerika di negaranya.

Keberadaan Nouri al-Maliki yang menjadikan Ayatullah Sistani sebagai kiblat kebijakan politiknya bagaikan duri dalam daging bagi Amerika. Ayatullah Sistani adalah satu-satunya tokoh di Irak yang membuat Irak cukup stabil. Dan hal ini tidak sesuai dengan tujuan-tujuan Amerika untuk mengeruk minyak Irak di tengah-tengah koflik. Itulah mengapa sekalipun kondisi Irak konflik, tentara Amerika yang menjaga ladang-ladang dan pipa-pipa minyak Irak tetap malah sekarah diperkuat. Nouri al-Maliki harus disingkirkan.

Beberapa waktu upaya Iyad Allawi untuk menggulingkan pemerintah gagal. Salah satu orang dekat Ayatullah Sistani diteror. Aksi-aksi teror yang setiap hari bisa disaksikan yang mengakibatkan terbunuhnya orang-orang tidak berdosa. Ditambah lagi kebijakan terakhir Amerika yang mempersenjatai orang-orang Ahli Sunah yang sebelumnya bersama kelompok al-Qaedah menyerang patroli-patroli Amerika. Kebijakan yang bukan saja ditentang oleh sebagian pejabat-pejabat Amerika, tapi juga negara-negara Eropa. Karena mempersenjatai orang-orang Ahli sunah sama artinya dengan meningkatkan ketegangan dan konflik di Irak.

Bila terjadi konflik, maka akan memakan waktu berbulan-bulan untuk dapat meredamnya. Amerika dengan peristiwa ini mendapat dua keuntungan; pertama Amerika berhasil menunjukkan kelemahan pemerintah yang dipimpin oleh Nouri al-Maliki dan kedua, Bush punya alasan untuk tinggal lebih lama di Irak setelah ditekan terus oleh kongres agar segera menentukan jadwal penarikan pasukan Amerika dari Irak.

Amerika sangat berkepentingan untuk menggulingkan Nouri al-Maliki yang kebijakannya tidak searah dengan kebijakan gedung putih. Setelah peristiwa ini, kita masih menunggu perkembangan politik di Irak. Manuver-manuver apa lagi yang akan dilakukan oleh Amerika untuk menggulingkan pemerintah Irak yang dipilih secara demokratis.

Sebuah kebetulan yang direncanakan?

Mungkin terlihat kebetulan bahwa pada hari yang sama salah seorang anggota parlemen Lebanon yang berafiliasi ke partai Saad Hariri. Ledakan itu terjadi di kawasan sebelah Barat Beirut bernama al-Hammam al-Askari dekat tempat peristirahatan Saad Hariri. Peristiwa ini membawa Lebanon dalam sebuah kancah baru yang penuh konflik setelah kelompok Fath al-Islam di Nahr al-Barid. Kelompok al-Qaedah yang sebagiannya ditarik dari Irak untuk tujuan tertentu. Begitu juga hari-hari ini bentrokan senjata cukup sengit terjadi di Palestina antara anggota Hamas dan Fatah.

Kejadian-kejadian ini kelihatannya terpisah-pisah dan tidak punya hubungan karena tempat kejadiannya juga berbeda-beda. Namun, sangat menarik bila menengok kembali pidato Ahmadi Nejad presiden Iran pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2007 yang mengatakan, “Fitnah baru di Timur Tengah sedang mengambil bentuknya. Seharusnya negara-negara di kawasan mewaspadai masalah ini. Rezim Israel untuk menyelamatkan dirinya dari kehinaannya saat ini tengah membuat rencana baru. Informasi-informasi dan analisa yang ada menunjukkan bahwa selain ingin menghancurkan pemerintah Palestina, mereka ingin mengobarkan fitnah konflik sektarian di Lebanon”.

Ahmadi Nejad menambahkan, “Sesuai dengan data-data intelijen yang kami miliki, pada musim panas ini mereka kembali ingin menyerang Lebanon. Mereka masih belum bisa menghilangkan rasa malu sebagai pecundang menghadapi Hizbullah. Mereka berharap tahun ini dapat menutupi rasa malu mereka akibat kekalahan tahun lalu. Saya memberikan peringatan keras kepada Rezim ini. Ketahuilah! Tahun ini tidak seperti tahun lalu”.

Ucapan Ahmadi Nejad yang menyebutkan bahwa musim panas ini akan ada serangan baru Rezim Israel atas Hizbullah. Untuk itu, sesuai dengan peribahasa “mengail di air keruh”, Amerika coba memperkeruh kondisi di Lebanon. Ketika muncul kelompok Fath al-Islam di Lebanon tidak berapa lama mereka mengirimkan senjata kepada tentara Lebanon yang dalam kenyataannya tidak pernah sampai ke tangan mereka. Senjata-senjata itu raib begitu saja. Kondisi Palestina juga tidak terlalu menguntungkan karena kembali lagi partai Fatah berniat keluar dari kabinet gotong royong. Bukan Cuma itu, saat ini salah satu dari bentrokan bersenjata paling hebat antara keduanya tengah terjadi.

Irak juga sedang dikondisikan sedemikian rupa. Bila semua mata tertuju pada konflik-konflik sektarian yang dimunculkan ini, maka kemungkinan besar Israel dapat mewujudkan usahanya untuk kembali menyerang Hizbullah sebagai upaya untuk membalas kekalahannya yang memalukan setahun lalu.

Penutup
Terlepas dari apa tujuan peledakan di Samarra, namun yang perlu diperhatikan adalah al-Qaedah menjadi alat pencipta konflik. Sebagian negara-negara Arab lainnya mungkin belum kecipratan “berkah” al-Qaedah, namun cepat atau lambat al-Qaedah akan menyusup ke seluruh negara-negara Arab. Bila saat ini ada beberapa negara Arab yang membiayai, mendukung dan melindungi kelompok teroris ini, maka itu karena sampai saat ini tujuan mereka dan Amerika masih satu. Namun, tidak selamanya demikian. Amerika tidak pernah punya belas kasihan dengan siapa saja. Bagi mereka kepentingan mereka adalah nomor satu. Itulah mengapa mereka tidak pernah benar-benar serius menegakkan keamanan secara menyeluruh di Irak. Karena itu bertanda tangan dengan tujuan kedatangan mereka, di samping itu serangan-serangan sporadis yang membuat korban yang berjatuhan dari pihak mereka tidak sedikit. Saat ini yang dilakukan mereka di Irak adalah berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi korban di pihaknya.

Bila terjadi konflik sektarian antar Syiah dan Ahli Sunah, setidak-tidaknya mereka sebagai pihak ketiga lebih aman. Dan ketika itu, mereka telah melangkah lebih jauh membawa lari kekayaan Irak atau kembali menguasai Irak dengan menjatuhkan pemerintah yang ada. Bila di Palesitna, Lebanon dan Irak semua pemerintah yang berkuasa sesuai dengan “restu” Amerika, apakah itu tidak berarti sedang terbentuknya Timur Tengah Baru?

Qom, 14 Juni 2007[infosyiah]

http://infosyiah.wordpress.com/2007/06/14/peledakan-samarra-dan-timur-tengah-baru/

Ahli Sunah mengecam peledakan di Samarra

Maulawi Ishaq Madani salah satu ulama Ahli Sunah mengecam peledakan terorisme di Haram Imam Ali Naqi dan Imam Hasan Askari as.

Ulama Ahli Sunah ini mengatakan, “Ahli Sunah juga seperti orang-orang Syiah, marah atas pengulangan kejahatan peledakan dua Haram Imam maksum as di Samarra, dan ingin menghukum kelompok-kelompok teroris yang melakukan kejahatan-kejahatan seperti ini yang bertujuan memancing pertempuran antar mazhab”.

Dalam peledakan hari Rabu kemarin, dua menara Haram Imam Ali Naqi dan Imam Hasan Askari as hancur total.

Pada tanggal 22 Februari 2006 juga dilakukan peledakan di dua Haram Imam Ali Naqi dan Imam Hasan Askari as yang menyebabkan kerusakan berat, dan marahnya kaum muslimin dunia.[infosyiah]

http://infosyiah.wordpress.com/2007/06/14/ahli-sunah-mengecam-peledakan-di-samarra/

Fenomena unik Ahmadi Nejad!


Melihat senyum Ahmadi Nejad dan Muhammad Golpaighani, Parviz Davoudi menjadi penasaran. Akhirnya ia mendekati Muhammad Golpaighani untuk mengetahui apa rahasia senyum mereka.
Ada sebuah kejadian yang menarik dari kebiasaan Ahmadi Nejad setiap kali melakukan kunjungan luar negerinya. Dan itu ditangkap dengan baik oleh seorang wartawan ketika Ahmadi Nejad akan melakukan kunjungan ke negara Belarus.

Pada acara perpisahan sebelum naik ke pesawat, Ahmadi Nejad sambil bibirnya komat kamit membaca sesuatu ia lalu membuka al-Quran untuk melakukan istikharah. Setelah membuka dan membaca ayat yang dibuka secara acak ia tersenyum dan al-Quran kemudian diserahkan kepada Golpaighani, penanggung jawab kantor Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i yang datang mengantarnya sampai ke lapangan terbang. Keduanya sempat tersenyum ketika melihat ayat yang dibaca oleh Ahmadi Nejad.

Hal ini membuat seorang wartawan yang hadir pada waktu itu Parviz Davoudi ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Setelah acara perpisahan selesai, untuk mengetahui lebih lanjut ia kemudian menemui Muhammad Golpaighani dan menanyakan hal yang terjadi. Dialog mereka berdua demikian:

Parviz: Haji Agha! Sudikah Anda mengatakan ketika Ahmadi Nejad membuka al-Quran ayat apa yang dilihatnya?

Golpaighani: Anzalnahu Bilhaqqi Wa Nazala Bilhaqqi Wa Maa Arsalnaka Illa Mubassyiran Wa Nadzira.

Parviz: Haji Agha! Tolong sebutkan ayat ini dalam surat yang mana?

Golpaighani: Suratnya? Wah, saya tidak tahu dalam surat apa ayat ini. Tapi ayat yang keluar tadi adalah yang saya bacakan itu.

Parviz: Haji Agha! Untuk yang ke berapa kalinya dari perjalanan luar negerinya Ahmadi Nejad membuka al-Quran dan ayat ini yang keluar? Apakah menurut Anda ini bukan sebuah keanehan?

Golpaighani: Benar. Memang ini sebuah fenomena yang aneh.

Parviz: Bagaimana bisa?

Golpaighani: Anda benar. Tapi tentu saja bukan sesuatu yang direncanakan. Ahmadi Nejad membuka al-Quran dan kebetulan ayat itu yang muncul. Ini satu hal yang cukup aneh. Apa yang Anda katakan itu memang benar. Sesuatu yang aneh.

Dalam kunjungan Ahmadi Nejad ke Emirat pada acara perpisahan di bandar udara Ahmadi Nejad sempat bercakap-cakap dengan Muhammad Golpaighani.

Ahmadi Nejad: Apakah Anda masih ingat malam ketika saya akan terbang ke Arab Saudi? Pada waktu itu saya membuka al-Quran, ayat apa yang keluar?

Golpaighani: Saya tidak ingat.

Ahmadi Nejad: Wa Maa Arsalnaka Illa Mubassyiran Wa Nadzira.

Golpaighani: Betul memang demikian. Posisi Anda adalah ini sebagai utusan.

Ahmadi Nejad: Bagus. Republik Islam Iran memang demikian.[infosyiah]

http://infosyiah.wordpress.com/2007/06/13/fenomena-unik-ahmadi-nejad/

ISRAEL DALAM KATA-KATA AHMADINEJAD

Irman Abdurrahman
Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta


Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran, kembali membuat marah Israel. Dalam orasinya pada peringatan wafatnya Ayatullah Khomeini (3 Juni 2007), Ahmadinejad, seperti dikutip Jerusalem Post, menyatakan bahwa, “…kehancuran Israel sudah dekat”. Dan seperti biasanya, pernyataan tersebut juga kontan membuat Eropa—yang tampaknya tak pernah bisa berlepas dari ‘dosa’ historis holocaust— merah padam. Menlu Spanyol dan Menlu Perancis langsung menyampaikan kecaman resmi negaranya. Bagi keduanya, kata-kata Ahmadinejad harus mendapatkan respon dunia yang keras.

Ini bukan kali pertama Ahmadinejad menyampaikan pernyataan kontroversial terhadap rezim Zionis Israel. Satu pernyataan lainnya yang memicu kontroversi internasional dan dikutip hampir seluruh media pemberitaan dunia adalah, ketika pada sebuah konferensi bertajuk “The World Without Zionism” (Oktober 2005), Ahmadinejad menyatakan, “…Israel harus dihapuskan dari peta (dunia).”

Namun, dalam konteks ini, media-media Barat, telah melakukan disinformasi terhadap, bukan hanya konteks, tetapi bahkan teks sekalipun.

Disinformasi yang Sistematis

Kutipan tersohor dari pernyataan Ahmadinejad yang dalam bahasa Inggris kerap diterjemahkan sebagai “Israel must be wiped off the map” sungguh telah mengalami disinformasi yang sistematis. Mengapa demikian?

Pertama, pernyataan tersebut, seperti yang dikutip dari situs berbahasa Parsi ahmadinejad. ir, sebenarnya berbunyi, “Imam ghoft een rezhim-e ishghalgar-e qods bayad az safheh-ye ruzgar mahv shavad. Di sini, Nejad secuil pun tidak menyebut “Israel”, baik sebagai wilayah maupun bangsa. Ahmadinejad sebaliknya menggunakan sebuah frase spesifik, rezhim-e ishghalgar-e qods (’rezim yang menjajah al-Quds’). Fakta ini menghadirkan perbedaan yang signifikan, karena sebuah rezim—tidak seperti wilayah atau negara suatu bangsa—bukanlah entitas yang bisa dihapus dari ‘peta dunia’.

Kedua, dalam pernyataan tersebut, tidak terdapat kata nagsheh (Parsi) sebagai padanan kata peta (map). Ketiga, kata to wipe out (menghapus) merupakan kesalahan penerjemahan yang diakibatkan oleh ketidakpahaman akan konstruksi verba Parsi, mahv shavad, yang digunakan Nejad. Verba tersebut berfungsi intransitif, sehingga padanannya yang lebih tepat adalah to vanish from (’hilang/lenyap’ ) bukan to wipe out (’menghapus’ ) atau to eliminate (’menghancurkan’ ).

Luar biasa, dunia sudah dibuat percaya bahwa Presiden Iran telah mengancam akan “menghapus Israel dari peta (dunia)” meskipun dia tidak pernah mengucapkan kata peta, menghapus, dan bahkan Israel.
Lantas, apa terjemahan yang mendekati pernyataan tersebut? Tepatnya, inilah yang dikatakan Ahamdinejad, “Imam (Khomeini) berkata rezim yang menjajah al-Quds ini akan lenyap dari lembaran masa (sejarah).” Sejatinya, Nejad hanya mengungkapkan sebuah logika sejarah, bahwa penguasa atau rezim yang zalim serta menindas tidak akan pernah bertahan dalam lembaran sejarah.

Implikasi seperti itu terkait dengan konteks bahwa, dalam keseluruhan pernyataannya, Nejad menganalogikan lenyapnya rezim Zionis dengan rezim-rezim lain, seperti Shah Iran dan rezim komunis Uni-Soviet. Pertanyaanya, adakah kedua rezim itu runtuh karena bombardir militer atau serangan nuklir? Bukankah kedua rezim itu runtuh karena rakyat yang mereka tindas tidak lagi menginginkan mereka? Adakah Shah Iran dan rezim komunis Soviet tumbang dengan disertai lenyapnya bangsa Iran dan Rusia?

Dalam konteks seperti di ataslah, kita harus memahami pernyataan Nejad terbaru bahwa, “…kehancuran Israel sudah dekat.” Seperti dikutip dari IRNA, pernyataan ini terkait dengan sepak terjang Israel di Palestina dan Lebanon dalam setahun terakhir. Bagi Nejad, jika rezim Zionis tetap meneruskan penindasan terhadap Palestina dan mengulangi invasi militer ke Lebanon, maka “bangsa Palestina dan Lebanon akan menekan tombol ‘hitung mundur’ untuk membawa kehancuran bagi Israel.” Lagi-lagi logika sejarahlah yang ingin disampaikan Nejad, bahwa bangsa-bangsa terjajah yang menuntut kemerdekaan akan melawan dan menghancurkan siapa pun rezim penjajah mereka.

Konteks yang Tak Terkatakan

Terlepas dari pernyataan-pernyata an Nejad yang mengalami disinformasi, dan yang ingin dikesankan sebagai pernyataan anti-Semit, terdapat hal-hal substansial yang luput dari pemberitaan media Barat.

Pertama, sikap Iran dalam konflik Palestina-Israel. Seperti pernah diungkapkan Nejad sendiri, “Iran bukanlah ancaman bagi negara manapun,…bahkan bagi Israel sekalipun. Kami ingin menyelesaikan persoalan di sana (konflik Palestina-Israel) secara damai, melalui referendum” (kayhannews.ir). Referendum yang diikuti setiap penduduk asli tanah Palestina, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi, adalah solusi yang pernah diajukan Iran secara resmi, baik dalam forum PBB maupun OKI.

“Solusi satu-negara” (one-state solution) bukanlah milik Iran semata. Pemikir-pemikir Yahudi, seperti Noam Chomsky dan Uri Avnery, pun memandang solusi ini sebagai yang terideal, meski konon tidak ‘realistis’.

“Solusi dua-negara” (two-state solution), seperti yang konon berlaku sekarang, bahkan dipandang banyak aktivis hak asasi manusia sebagai sebuah halusinasi, mengingat karakter rasis dan apartheid rezim Zionis.

“Solusi satu-negara” melalui referendum adalah penyelesaian yang paling beradab bagi semua pihak tetapi jelas tidak bagi rezim rasis Zionis.

Kedua, fakta bahwa 30 ribu lebih orang Yahudi hidup dengan tenang dan damai di Iran, sebuah jumlah komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah. Terlebih lagi, mereka pun memiliki representasi di parlemen Iran. Jika memang pernyataan Nejad tersebut dipandang anti-Semit, maka apa kata dunia tentang penindasan rezim Zionis terhadap bangsa Arab Palestina? Bukankah orang-orang Arab juga anak keturunan Sem putra Nuh? Jika pernyataan Nejad dianggap sebagai pernyataan pemusuhan, maka apa kata dunia terhadap George W. Bush yang menyandingkan Islam dengan fasisme, “islamofasisme” . Apa pula kata dunia kepada senator sekaligus kandidat presiden AS, John McCain, yang menyenandungkan lagu berirama reggae, “Bom…bom.. .bom Iran.” Adakah dunia pernah menyebut semua itu sebagai pernyataan pemusuhan?

Dalam memperingati 40 tahun penjajahan rezim Zionis terhadap al-Quds (Perang Enam Hari 5-10 Juni 1967), sudah semestinya bangsa-bangsa di dunia, yang mencintai peradaban dan keadilan serta menghargai martabat kemanusiaan, bangkit dan menegaskan sikap untuk membantu bangsa Palestina yang tertindas serta menjaga al-Quds, sebagai tempat suci agama-agama Tuhan, dari tindakan vandalisme rezim Zionis.[infosyiah]

http://infosyiah.wordpress.com/2007/06/13/israel-dalam-kata-kata-ahmadinejad/

Friday, June 8, 2007

Iran dan Negara-Negara Teluk Akan Tinggalkan Dollar


Iran sedang merencanakan untuk menghentikan penggunaan mata uang dollar dalam menetapkan harga minyaknya.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Ebrahim Sheibany dalam wawancara dengan Dow Jones News Service, Selasa (27/3) malam, di sela-sela acara Islamic Finance Forum yang berlangsung di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

"Itu rencana ke depan, kita sedang mengkajinya, " kata Sheibany.

Ia melanjutkan, "Lebih dari 50 persen pendapatan Iran dari minyak dibayarkan dalam mata uang lain. Kami akan mengurangi penggunaan dollar dan akan meminta klien-klien kami untuk membayar dalam mata uang lain. "

Saat ini, yang berlaku di pasar global, harga minyak ditentukan dalam dollar per barel. Menurut Sheibany, hampir semua konsumen minyak Iran berasal dari Eropa dan sebagian konsumennya di Asia sudah setuju untuk melakukan pembayaran dengan mata uang selain dollar.

"Bahkan jika kami dapat dollar, kami akan langsung menukarnya dengan mata uang lain. Jepang sudah menyatakan tidak keberatan untuk membayar dengan mata uang yen, " tukas Sheibany.

Sheibany mengungkapkan, dalam tahun fiskal yang berakhir pada 20 Maret 2007 kemarin, pendapat negara Iran dari hasil penjualan minyak mencapai 45 milyar dollar.

"Tanpa hubungan ekonomi dengan Washington, Iran baik-baik saja dan dengan sempurna berhasil mengontrol stabilitas mata uangnya, " tandas Sheibany.

"Kami tidak menghadapi masalah. Kami berdagang dengan lebih dari 70 negara di Asia dan Eropa, " sambungnya.

Kawasan Teluk Ikuti Langkah Iran

Langkah Iran ntuk mulai meninggalkan dollar, nampaknya akan diikuti oleh negara-negara lainnya di kawasan Teluk. Eksekutif Dubai International Financial Centre (DIFC) Nasser al-Shaali menyatakan, bank sentral Uni Emirat Arab sudah mulai membeli euro, sebagai strategi untuk mengubah sekitar 10 persen dana simpanan cadangan negaranya ke dalam mata uang tunggal euro, sebelum akhir tahun 2007.

"Di masa depan, kemungkinan besar, kami memprediksikan bahwa perekonomian di kawasan Teluk juga akan mengadopsi mata uang China, Yuan, " ujar al-Shalli saat pertemuan tingkat tinggi Middle East Investment.

Ia menyatakan, strategi investasi Dubai Holdings, Kuwait Investment Authority dan lembaga keuangan lainnya, mulai agresif mengalihkan perhatiannya pada kesempatan investasi di kawasan Asia Timur, bekerja sama dengan banyak institusi dan investor-investor lokal.

Selain Uni Emirat Arab, negara Teluk lainnya seperti Arab Saudi, Qatar, Oman dan Bahrain juga menyatakan akan melepaskan ketergantungannya pada dollar, sebagai persiapan rencana pemberlakuan mata uang bersama di kawasan itu pada tahun 2010. (ln/aljz/IHT)

http://www.eramuslim.com/berita/int/7329153551-Iran-dan-negara-negara-teluk-akan-tinggalkan-dollar.htm?rel

Tabligh Akbar Ummat Islam Jogja Menentang Kristenisasi


Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. ( Al Maa’idah : 54)


Ikuti dan Hadiri Aksi Massa :
Tabligh Akbar Ummat Islam Jogja Menentang Kristenisasi

Rabu, 30 Mei 2007 - Pukul 14.00 - selesai
di Masjid Noor Islam, Semaki Kulon
(Jalan Gayam, Sebelah Barat Stadion Mandala Krida)

Pembicara : K.H. Sunardi Syahuri (Ulama’ dan Tokoh Jogja)
K.H. Thoha Abdurrahman (Ketua MUI DIY)
H. Muhammad Muqoddas
Irfan S. Awwas (Majelis Mujahidin Indonesia)
H.M. Jazir ASP (Ketua MPP BKPRMI)

Pesan ini disampaikan oleh :
Forum Ukhuwwah Islamiyah DIY : MUI DIY - DDII DIY-FSRMY-Jangkar Islam-FSLDK-KAMMMI DIY-HTI DIY-Arimatea-FKAM-FKRM-GPII-MMI-GAM-IKADI DIY-Hidayatullah-BKPRMI DIY-

-----------------------------------------------------------------------------------

FUI GELAR DEMO DI DEWAN; Tolak Upaya Pemurtadan Umat
Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY menggelar aksi demonstrasi di depan gedung DPRD DIY, Sabtu (26/5) menolak upaya pemurtadan atas umat Islam secara terselubung. Karena itu, forum ini meminta kepada semua pihak tidak menggunakan kesempatan atas sikap toleransi umat Islam dengan memancing keresahan melalui kegiatan yang mengarah kepada pemurtadan.

Dalam aksi ini, FUI menggelar berbagai spanduk dan poster yang intinya tidak sependapat dengan kegiatan yang mengarah pada pemurtadan. Apalagi kondisi DIY sudah berjalan damai serta memiliki sikap toleransi antar umat beragama yang terbangun baik.Salah satu orator demo, Azis memperhatikan adanya gerakan yang berusaha menjerumuskan umat Islam. Karena itu kewaspadaan terhadap gerakan itu harus diperlukan.
Dalam demo tersebut disampaikan ketidaksetujuannya terhadap digelarkan Jogja Festival 2007. Alasannya event ini renta memicu persoalan SARA. Namun demikian kepada semua pihak untuk mewaspadai berbagai iming-iming, apapun bentuknya, yang ditawarkan pihak manapun.

Dalam pernyataan sikap FUI, juga meminta kepada umat Islam agar tidak terpancing dengan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. (Jon)-f. Sumber : kr.co.id


Jogja Festival Dituntut Dibubarkan
Yogyakarta - Polda DI Yogyakarta dituntut membubarkan kegiatan Jogja Festival 2007. Kegiatan itu diindikasi mengandung upaya permurtadan dan kristenisasi massal.

Tutuntuan itu diserukan oleh 50-an orang yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Islam DIY. Mereka menggelar aksi di halaman Mapolda DIY, Jl Ringroad Utara, Condong Catur, Yogyakarta, Selasa (29/5/2007).

Para demonstran yang rata-rata mengenakan pakaian muslim, sorban dan kopiah ini mulai menggelar aksi sekitar pukul 10.00 WIB. Selain berorasi, mereka membentangkan berbagai spanduk yang antara lain bertuliskan "Tolak Jogja Festival 2007" dan "Polda harus bubarkan Jogja Festival".

Koordinator aksi dari Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta, Muhamad Tyas, dalam orasinya mengatakan, kegiatan Jogja Festival yang akan dilaksanakan di Stadion Mandala Krida pada Rabu 29 Mei 2007 sore harus dibubarkan, karena nyata-nyata melakukan pemurtadan terselubung.

Menurut Tyas, kegiatan itu direncanakan mendatangkan seorang tabib asing bernama Peter Youngren yang akan melakukan pengobatan gratis dan massal. Kegiatan serupa di Bandung dan Balikpapan berhasil dibubarkan.

"Karena itu kami meminta Polda DIY untuk membubarkan acara itu. Kegiatan itu harus digagalkan karena rentan dan dapat memicu isu SARA di kalangan masyarakat Jogja. Kami juga mendukung forum ukhuwah islamiyah Yogyakarta yang telah melakukan pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X untuk membubarkan dan mencabut izin kegiatan tersebut," ujarnya.

Beberapa perwakilan dari demonstran diterima oleh Kapolda DIY Brigjen Pol Angorro Raharjo Harry Anwar. Mereka melakukan pertemuan tertutup di salah satu ruangan Mapolda DIY.

Jogja Festival 2007 merupakan kegiatan yang diadakan oleh para misionaris. Kegiatan itu antara lain akan diisi dengan dengan pengobatan gratis secara massal. Kegiatan tampaknya diadakan secara besar-besaran. Pantauan detikcom, ribuan poster dan spanduk tentang acara tersebut memenuhi tiap sudut kota Yogyakarta. (irw/sss/detik)

http://swaramuslim.net/FAKTA/more.php?id=5595_0_16_0_M

INGGERIS: Mencengangkan! Nama ‘Muhammad’ Tempati Urutan Kedua Paling Ngetrend !!

Saat ini di Inggeris, ‘Muhammad’ merupakan nama kedua paling ‘ngetrend’ setelah ‘Jack.’ Bahkan diprediksi akan menempati urutan pertama sebelum akhir tahun ini menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan surat kabar ‘Times’. Hal ini berdasarkan angka-angka dari sejumlah sumber pemerintah. Sementara versi kantor sensus nasional, nama ‘Muhammad’ menempati urutan ke 23 dari deretan nama-nama yang paling ‘ngetrend’ di Inggeris.

Surat kabar itu mengatakan, “Nama ini menempati urutan kedua bila mengacu pada standar metode ke-14 yang berbeda penulisannya. Nama ‘Muhammad’ pada tahun 2006 diberikan kepada 5991 bayi, sementara nama-nama; ‘Jack’ diberikan kepada 6928 bayi, Thomas kepada 5921 bayi, Joshua kepada 5808 dan Oliver kepada 5208 bayi.”

Para ahli statistik mengatakan, ‘ngetrend’nya nama Muhammad tidak terlepas dari meningkatnya jumlah keluarga Muslim di Inggeris. Surat kabar itu juga menyebutkan, dalam kondisi di mana terjadi pertumbuhan sebesar 12% pada tahun 2006, maka nama ‘Muhammad’ akan mencapai urutan pertama.

Seperti diketahui, di Inggeris, tinggal sekitar 1,56 juta jiwa alias 3% dari total jumlah penduduk. (ismo/AS)

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=619

RISET Di JERMAN: Jumlah Umat Islam Di Benua Eropa Capai 53 Juta Jiwa !!

Sebuah riset yang dipublikasikan baru-baru ini di Jerman mengungkapkan, jumlah umat Islam yang tinggal di Eropa saat ini mencapai sekitar 53 juta jiwa.

Berdasarkan informasi yang dirilis situs Dewan Tertinggi bagi kaum Muslimin di Jerman, Pusat Arsip Islam mengadakan sensus terhadap jumlah umat Islam di Eropa. Hasilnya menunjukkan, jumlah mereka mencapai 53.713.953, di antaranya sebanyak 15.890.428 jiwa tersebar di negara-negara uni Eropa.

Di antara poin penting yang dimuat dalam riset itu adalah sebagai berikut:

- 12.387.927 Muslim tinggal di Eropa Barat, masing-masing: 400.000 di Belgia, 293.000 di Jerman, 5500.000 di Prancis, 1.500.000 di Inggeris, 4000 di Irlandia, 1527 di Leichesten, 9000 di Luxemburg, 1000.000 di Belanda, 350.000 di Austria dan 330.000 di Swiss.

- Jumlah kaum Muslimin di eropa utara ada sekitar 462.321 jiwa, masing-masing: 117.000 di Denmark, 15.000 di Finlandia, 321 di Eslandia, 80.000 di Norwegia dan 25.000 di Swedia.

- Jumlah kaum Muslimin di eropa selatan ada sekitar 1.716.500 jiwa, masing-masing: 1.000.000 di Italia, 12.000 di Portugal, 700.000 di Spanyol dan 4500 di Malta.

- Di eropa tenggara, masing-masing: 2.100.000 di Albani, 2000.000 di Bosnia, 1.100.000 di Bulgaria, 140.000 di Yunani, 56.777 di Kroasia, 750.000 di Macedonia, 150.000 di Rumania, 47.448 di Slovenia, 1.600.000 di Serbia, 20.000 di Republik Ceko, 5.900.000 di Turki, 70.000 di Hungaria dan 200.000 di Cyprus.

- Rusia merupakan tempat konsentrasi populasi Muslim terpadat di Eropa di mana mencapai 25.000 jiwa. Sedang di Litlandia ada 380 jiwa, di Lithuania 5.100 jiwa dan Polandia 7500 jiwa. (ismo/AS)

Didesak Presiden VENEZUELA, Orang Nomor Satu VATIKAN Itu Akui Kristen Disebarkan Dengan Kekerasan !!


Paus VATIKAN, Benedictus XVI mengakui penderitaan dan penganiayaan yang dialami penduduk asli Amerika akibat misi kristenisasi. Pengakuan ini disampaikannya setelah beberapa hari didesak presiden Venezuela, Hugo Chavez agar meminta maaf atas tragedi yang menimpa penduduk Amerika Latin akibat penyebaran agama Kristen secara paksa. Dalam pertemuan mingguannya yang diadakan setiap hari Rabu bersama para pengikutnya di lapangan kudus, Paus mengatakan, “Memang ada semacam kabut yang menyelubungi proses kristenisasi di Amerika Latin.”

Lebih lanjut, ia menambahkan seraya mengakui bahwa tidak diragukan lagi, memperingati masa lalu yang jaya tidak mungkin melupakan kabut yang menyertai proses injilisasi (penyebaran Kristen dengan Injil) terhadap Amerika Latin. Ia juga mengakui, sama sekali tidak mungkin melupakan penderitaan dan penganiayaan yang ditimpakan para penjajah yang menganut agama Kristen terhadap penduduk asli setempat.

Paus Benedictus XVI mengatakan, hak-hak kemanusiaan warga asli Amerika seringkali diinjak-injak. Demikian seperti yang diklaimnya. Padahal, sepuluh hari sebelumnya ketika berada di San Paolo, Paus membantah fakta terjadinya pemaksaan keyakinan Kristen secara kasar terhadap penduduk Amerika Latin yang menyebabkan tewasnya puluhan juta orang itu.!!??

Mereaksi bantahan Paus itu, presiden Venezuela, Hugo Chavez mendesak gereja Katholik dan paus agar meminta maaf kepada penduduk asli Amerika, khususnya Amerika Latin atas statement dan bantahan tersebut.!

Dalam acara televisi, hari Jum’at lalu, bertempat di Caracas, Chavez mengatakan, apa yang terjadi di Amerika Latin adalah lebih buruk dan berbahaya daripada apa yang terjadi dengan Holocaust dan genocide saat terjadinya Perang Dunia II. Chavez menilai, apa yang dialami penduduk Amerika Latin pada masa penyebaran agama Kristen tidak seorang pun yang dapat mengingkarinya, bahkan oleh Paus sekalipun yang datang ke tanah kita ini, tidak dapat mengingkari genocide yang dialami penduduk asli Amerika.!!

Saat itu, Chavez sebagai seorang pemimpin negara yang memakai pakaian sederhana seorang petani Venezuela mengimbau Paus agar menyampaikan permintaan maafnya terhadap penduduk asli Amerika seraya berujar, “Sesungguhnya tulang-belulang penduduk asli korban pembantaian yang dilakukan para penjajah Eropa adalah sebaik-baik saksi atas kesalahan pernyataan Paus.!!” (ismo/AH)


http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=615

Monday, June 4, 2007

Happy old man

 

Sunday, June 3, 2007

Konsili Nicea 325 Masehi


Konsili Nicea 325 Masehi

Pada abad ini pertikaian paham sangat sengit membakar Gereja. Arius, uskup dari Aleksandria, menolak ketuhanan Yesus yang menimbulkan kemarahan sebagian besar orang-orang Kristen. Akhirnya kaisar Konstantine menyelenggarakan konsili di Nicea tahun 325 Masehi. 1800 orang yang diundang untuk hadir dalam konsili ini terdiri atas, 1000 orang yang berasal dari Gereja Timur dan 800 dari Gereja Barat. 22 orang rombongan Arius yang dipimpin oleh Eusebius of Nicomedia, semuanya diusir dari forum. Sehingga secara keseluruhan Konstantine telah mengusir keluar sekitar 1482 uskup dan hanya 318 yang diijinkan mengikuti hingga akhir. (Dr. Henery Stbble, An Account of the Rise and Progress of Mohametanism, 1954, hal.44-45, Holy Blood Holy Grail hal.692, Arana-"Holocaust Theology"). Dari 318 suara tersebut hanya 2 suara yang mendukung Arius.



Konsili pertama yang dilaksanakan pada tanggal 20 Mei sampai 25 Juni diakhiri dengan ketokan palu yang mengesahkan Kredo Misterius, yang juga dikenal sebagai Kredo Nicea. Kredo Nicea yang sekarang bukanlah rumusan yang disepakati pada konsili Nicea dulu, tetapi sudah diperluas dan dimodifikasi. (Prof. Percy Gardner, English Modernism,-Apendiks I, hal.223). Yang paling penting dari semuanya, keputusan Konsili Nicea diambil dengan cara pengambilan suara, bahwa Yesus seorang Tuhan bukan sekedar nabi yang bisa wafat. (Holy Blood Holy Grail, hal.472)



Konsili Nicea menjatuhkan hukuman pengucilan Arius dan uskup lainnya yang ikut dalam konsili tetapi menolak doktrin Trinitas. Tulisan-tulisan Arius dibakar dan akan memasukkan ke penjara bagi siapa saja yang kedapatan memiliki tulisannya. (Edward Gibbon, Decline and Fall of Roman Empire, vol.2, hal.693)



Pada konsili tersebut Yesus dinyatakan sebagai, "Tuhan dari segala Tuhan, Cahaya dari segala Cahaya, Maha Tuhan dari segala Maha Tuhan". (Hasting's Encyclopedia of Etnics & Religion, vol.4, hal.239).


Lingkaran terpelajar masih berada di pihak Arius dan mereka telah dikekang dengan tangan besi. Dimasa itu popularitas Arius mencapai puncaknya, yang dibuktikan oleh Santo Jerome sebagai berikut :

"Seluruh dunia merasa dan terheran-heran menemukan dirinya sebagai penganut Arius". (Wilfred W.Briggs, Introduction to the History of the Christian Church, hal.49)


Will Durant menulis :
"Perdebatan seru tentang doktrin Trinitas yang diperkenalkan oleh Athanasius tidak pernah berakhir dengan adanya konsili Nicea. Beberapa uskup masih berpihak pada Arius. Kelompok gereja yang masih loyal kepada Kredo Nicea disingkirkan dari Gereja; kadang kala disingkirkan oleh kekerasan massa; setengah abad Gereja mengikuti ajaran Arius dan meninggalkan ketuhanan Yesus. Setiap uskup memiliki faksi yang mendukungnya. Pertikaian antar faksi pecah menjadi kerusuhan berdarah, dan banyak yang terbunuh. (Will Durant, Age of Faith)

Pemandangan kekerasan yang mengerikan dan pertempuran yang menelan ribuan jiwa, merupakan hal yang biasa selama periode ini. Aleksandria, daerah tempat tinggal Arius, menjadi ladang pertikaian yang paling ganas. Gibbon mencatat, satu insiden kekerasan menelan korban "tiga ratus lima puluh jiwa". Mengenai kekejaman Gereja dalam masalah ini bahas lengkap dalam buku Edward Gibbon (pasal 21)

Dimasa pemerintahan Konstantin, merupakan periode emas bagi Kristen karena mendapatkan kitab suci Bibel yang standar. Itu pun tidak bisa dikerjakan tanpa kontroversi yang dahsyat melalui konsili-konsili Gereja. Sebagaimana dicatat oleh Marjorie Bowen :

"Kitab-kitab injil harus direvisi beberapa kali sebelum diterima, orang-orang yang dianggap sesat harus dihadapi, serta menyelenggarakan konsili di Nicea tahun 325 Masehi dan di Konstantinopel tahun 381 Masehi untuk merumuskan dogma dan keimanan agama Kristen." (Marjorie Bowen, The Church and Social Progress, hal.4-5)

Konsili-konsili

Konsili Konstantinopel, Tahun 381. Theodosius I menyelenggarakan Konsili Konstantinopel untuk membahas lebih jauh tentang ketuhanan Yesus. Konsili ini berakhir dengan memberi penegasan pada Kredo Nicea.
Konsili Efesus, Tahun 431. Konsili ini diselenggarakan untuk membahas pertanyaan apakah Maria (Ibu Yesus) manusia asli atau termasuk Tuhan. Pembahasan ini dilatarbelakangi karena sekte Maronite menyembah Maria sebagai "Ibu Tuhan" dan memasukkannya sebagai salah satu oknum trinitas pengganti "roh suci". Konsili ini mengutuk penyembahan terhadap Maria.
Konsili Chalsedon, Tahun 451. Konsili ini membahas tentang teori Dua Kodrat Yesus.
Konsili Konstantinopel, Tahun 553. Konsili diselenggrakan untuk memecahkan teka-teki kodrat Yesus tersebut. Konsili ini didominasi oleh uskup-uskup Gereja Timur, Gereja Barat menolak semua keputusan dari konsili ini. Pada abad ini diputuskannya Natal pada 25 Desember oleh Dionysius Exiguus, mengadopsi hari kelahiran anak dewa Matahari yang lahir pada hari Minggu, 25 Desember.

Pada akhir abad ke-6 lahirlah Islam. Kristen telah menyimpang demikian jauh dari ajaran aslinya (ajaran Yesus) bahkan Gereja Barat lebih banyak mengadopsi agama Pagan. Kristen mengalami kebusukan hingga akarnya. Ketegangan antara Gereja Timur dan Gereja Barat berangsur-angsur melemah. Gereja Timur hanya memiliki sedikit pengikut, sebagai akibat ribuan pemeluk Kristen beralih ke agama Islam. Dan hampir semua wilayah Mediterania berada dibawah pengaruh Islam.

"Mungkin karena pengaruh secara tidak langsung dari agama baru Islam yang anti-musyrik, pada abad ke-8, tentara kaisar Isauria...menemukan sesuatu yang tidak disukainya pada peribadatan yang sudah lama berlaku dalam dunia Kristen yang berbau politheisme." (J.M Robertson, A Short History of Freethought, vol.1, hal.277)

Selanjutnya untuk pertama kali dalam sejarah Kristen pada tahun 723 tradisi Pagan dalam tata cara kebaktian agama Kristen dilarang oleh Kaisar Leo melalui pengumuman, dan ia lebih condong pada ajaran monotheistik Islam. Bagaimanapun, larangan ini dicabut pada tahun 787 oleh Konsili ke-II di Nicea. (The Invacation of Saints and Adoration of Images, oleh Rev. W.P. Hares, hal 10-11).

Pemilihan Kitab

Injil disebarkan dari mulut ke mulut sehingga tradisi oral ini menghasilkan laporan yang berlainan satu dengan lain terhadap perkataan dan perbuatan Yesus. Ketika mereka berusaha mendokumentasikannya maka bertambahlah perbedaan-perbedaan akibat variasi verbal. Sarjana-sarjana Kristen mengakui fakta sejarah bahwa pada terdapat juga sejumlah Injil-injil yang lain, dan masing-masing gereja mempunyai versinya sendiri. Sebagian sarjana mempercayai bahwa jumlah Injil-Injil tersebut mencapai 300 Injil (Holy Blood Holy Grail, hal.692). Tapi bagaimana yang yang terpilih hanya 4 saja ?

Ke-empat Injil tersebut (Matius, Markus, Lukas & Yohanes) dipilih pada saat Konsili Nicea 325 Masehi. Konsili yang memperkenalkan konsep Trinitas untuk pertama kali. Sehingga pemilihan ke-4 Injil tersebut adalah penyesuaian terhadap Kredo yang dipaksakan. Maka semua Injil yang menceritakan tentang kemanusiaan Yesus harus di hancurkan.

Teknis pemilihan Injil-Injil tersebut adalah, semua naskah Injil yang berbeda-beda diletakkan dibawah sebuah meja di ruang Konsili. Setiap orang diminta meninggalkan ruangan tersebut dan pintunya dikunci. Semua uskup diminta untuk berdoa sepanjang malam supaya versi Kitab yang benar akan berada di atas meja tersebut. Pada keesokan paginya, ke-4 Injil, Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan "ajaib"nya telah berada diatas meja dengan rapi, sisanya berserakan dibawah meja. Sehingga diputuskan semua yang terletak dibawah meja haruslah dibakar. (Sex in the Bible, Wahyudi).



Kredo (syahadat) Nicea dalam bahasa Latin

Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum,
Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri
per quem omnia facta sunt.
Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis.
Et incarnatus est de Spiritu Sancto
ex Maria virgine et homo factus est.
Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato,
passus et sepultus est.
Et resurrexit tertia die secundum Scripturas.
et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris.
Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos,
cuius regni non erit finis.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem,
qui ex Patre (Filioque)* procedit.
Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur:
qui locutus est per prophetas.
Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.
Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum.
Et expecto resurrectionem mortuorum,
et vitam venturi saeculi. Amen.



Kredo (syahadat) Nicea dalam Gereja Katholik & Protestan
Versi Katolik

Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal,
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang.
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa
segala sesuatu dijadikan olehnya.
Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita.
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus

dari Perawan Maria dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus

Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci.
Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati;
KerajaanNya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa (dan Putra)¹
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan.
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik² dan apostolik.
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa.

Aku menantikan kebangkitan orang mati,
dan kehidupan di akhirat. Amin.


Versi Protestan

Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal,
yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, terang dari terang.
Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat dengan Sang Bapa,
yang dengan perantaraan-Nya, segala sesuatu dibuat;
yang telah turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita,
dan menjadi daging oleh Roh Kudus

dari anak dara Maria, dan menjadi manusia.

yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,

menderita dan dikuburkan;
yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi Kitab-kitab,
dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa
dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati;
yang Kerajaan-Nya takkan berakhir.
Aku percaya kepada Roh Kudus, yang menjadi Tuhan dan yang menghidupkan
yang keluar dari Sang Bapa dan (Sang Anak)¹,
yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan,
yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi.
Aku percaya satu Gereja yang kudus dan am² dan rasuli.
Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa.
Aku menantikan kebangkitan orang mati
dan kehidupan di zaman yang akan datang. Amin.

by : Silmy

Upaya Mengkristenkan Yasser Arafat

Upaya Mengkristenkan Yasser Arafat
Selasa, 23 Maret 2004

Kaum Kristen tengah berusaha mengkristenkan Presiden Palestina, Yaser Arafat yang dilakukan oleh seorang pengajar Injil bernama R.T. Kendal. Baca kegigihan misi Kristen di CAP Adian Husaisin, MA ke-46 Majalah Rohani Populer (Krisren), BAHANA, edisi XXXXV, Februari 2004, menulis satu berita menarik tentang usaha mengkristenkan Presiden Palestina Yasser Arafat. (lihat: www.bahana-magazine.com). Diceritakan, seorang Pengajar Injil bernama R.T. Kendall, bertemu untuk kedua kalinya dengan Yasser Arafat di kediamannya di Ramallah.

"Rais [sebutan presiden dalam bahasa Arab],” kata Kendall, “Saya ingin mengatakan sesuatu untuk direnungkan. Ada yang mengatakan pada saya bahwa Yesus Kristus sangat berkesan bagi Anda." Arafat segera menjawab, "Oh ya, sangat, sangat penting."

Kendall yang setiap hari sejak tahun 1982 selalu mendoakan Arafat ini tahu bahwa Arafat pernah bermimpi tentang Yesus. Arafat lalu menceritakan mimpinya, ketika tentara Israel menyerang dan mengebomi kediaman Arafat, tahun 2002. "Pada hari ketiga pengepungan itu.....seekor domba menuntun saya ke Betlehem," kata Kendall menirukan kembali ucapan Arafat. "Di sana saya melihat bunda Maria sedang menggendong bayi Yesus.

Saya mencium Yesus. Ketika saya bangun, saya kaget karena saya memerintahkan domba itu disembelih dan diserahkan kepada para imam di Gereja tempat kelahiran Yesus di Betlehem supaya mereka berpesta."

Kendall lalu berkata, "Saya minta Anda mau mengakui bahwa Yesus benar-benar mati bagi dosa Anda. Dia bukan diselamatkan dari salib itu, melainkan Dia benar-benar mati." Ketika Kendall sedang berbicara tentang 'panggilan untuk bertobat' itu, tiba-tiba penerjemahnya menyela. "Tetapi Arafat menaruh tangannya pada penerjemah itu untuk memberi isyarat bahwa saya boleh meneruskan kata-kata saya," ucap Kendall.

Setelah menjelaskan pada Arafat apa saja keuntungan menjadi orang Kristen, Kendall memperhatikan bahwa penerjemah itu keberatan lagi ketika Kendall sekali lagi melakukan 'panggilan untuk bertobat'. "Saya berkata, 'Saya hanya berusaha agar publik tahu apa yang diyakini Arafat,'" kata Kendall (67 th) "Saya berkata pada Arafat, 'Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Perdamaian [di Timur Tengah] tidak bisa tercipta melalui jalur militer atau politik,'" lanjut Kendali.

Setelah itu, Kendall minta Arafat supaya bersedia merenungkan hal ini. Arafat setuju. Di akhir pertemuan, Kendall berdoa bagi Arafat dan memberikan buku "Total Forgiveness," yang dia tulis. "Saya tidak tahu apakah dua kunjungan saya ini berdampak baik atau tidak," kata Kendall kepada Charisma News Service ," tapi yang penting saya telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus.

Begitulah berita tentang usaha pengkristenan Yaser Arafat yang dilakukan oleh Kendall, sebagaimana diceritakan Majalah BAHANA. Sebagai berita, tentu saja, cerita ini sulit dipercaya kebenarannya, karena belum ada konfirmasi dari pihak Arafat. Apakah cerita Kendall itu betul atau ngibul? Kita tidak tahu pasti.

Yang penting dari cerita itu adalah paparan tentang kegigihan seorang mionaris Kristen (yang sudah tua, berumur 67 tahun) masih begitu bersemangat untuk meng-Kristenkan seorang tokoh dunia bernama Arafat, yang jelas-jelas dikenal publik internasional sebagai seorang Muslim. Simaklah kata-kata Kendall: “Tapi yang penting saya telah berusaha keras untuk membawa seseorang kepada Yesus Kristus.” Semangat misionaris Kendall itu sangat luas biasa. Adakah tokoh Islam yang berusaha mengislamkan Bush, Kofi Annan, dan berbagai pemimpin dunia lainnya, sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang mulia?

Dalam soal misi Kristen, ada ayat Bible yang biasanya banyak dikutip misionaris Kristen dan dijadikan pijakan misinya. Misalnya, dalam Matius 28:19 dikatakan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Dulu, para pemuka agama dan penguasa Kristen melakukan tindakan pembaptisan paksa terhadap semua manusia. Siapa yang menolak dibaptis, maka akan disiksa atau dibunuh. Sebagai contoh, di Spanyol, berdasarkan hasil The Third Council of Toledo (589), maka Katolik dijadikan sebagai agama negara, dan ditetapkan sejumlah keputusan terhadap kaum Yahudi: (1) larangan perkawinan antara pemeluk Yahudi dengan pemeluk Kristen, (2) keturunan dari pasangan itu harus dibaptis dengan paksa, (3) budak-budak Kristen tidak boleh dimiliki Yahudi (4) Yahudi harus dikeluarkan dari semua kantor publik, (5) Yahudi dilarang membaca Mazmur secara terbuka saat upacara kematian.

Dalam periode 612-620, banyak kasus tejadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Ribuan Yahudi melarikan diri ke Perancis dan Afrika. Pada 621-631, di bawah pemerintahan Swinthila, perlakuan Yahudi agak lebih lunak. Pelarian Yahudi kembali ke tempat tinggalnya semula dan mereka yang dibaptis secara paksa kembali lagi ke agama Yahudi. Tetapi, Swinthila ditumbangkan oleh Sisinad (631-636), yang melanjutkan praktik pembaptisan paksa. Pada masa pemerintahan Chintila (636-640), dibuatlah keputusan dalam The Six Council of Toledo (638), bahwa selain orang Katolik dilarang tingal di wilayahnya. Euric (680-687) membuat keputusan: seluruh Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan di bawa pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Raja Egica (687-701) membuat keputusan: semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak untuk selamanya, harta benda mereka disita, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka, sehingga mereka tersebar ke berbagai profinsi. Upacara keagamaan Yahudi dilarang keras. Lebih dari itu, anak-anak Yahudi, umur 7 tahun keatas diambil paksa dari orang tuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. (Lihat, Max L. Margolis dan Alexander Marx, A History of the Jewish People, hal. 304-306).

Misi Kristen terus berjalan, berangkat dari doktrin, bahwa “di luar Gereja tidak ada keselamatan”. (Extra ecclesiam nulla salus). Sebagian kalangan Kristen berusaha mendobrak doktrin itu dan melakukan liberalisasi teologi yang kemudian dikenal sebagai teologi pluralis, yang menganggap bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran. Itu klaim mereka. Kasus Arafat dan masih bergiatnya kegiatan misionaris Kristen di seluruh dunia menunjukkan, bahwa semangat pembaptisan itu masih terus bercokol dan berjalan. Hingga, mereka memandang perlu untuk mengkristenkan seorang Yasser Arafat.

Untuk apa? Mengapa mereka tidak berusaha mengkristenkan Ariel Sharon? Sejarah mencatat betapa misi Kristen telah memakan begitu banyak korban. Di Spanyol, misalnya, Mahkamah Inquisisi secara resmi dibentuk oleh Paus Sixtus IV pada November 1478, dan baru berakhir pada 1820.

Pembentukan ini dipicu oleh laporan bahwa para Yahudi dan Muslim yang dipaksa memeluk Kristen (dikenal sebagai conversos dan marranos) masih tetap mempraktikkan ritualitas agama lama mereka. Pada tahun 1480, dimulai satu penyelidikan dan pengadilan terhadap mereka di sebuah jalan utama di Kota Barcelona, yang dikenal sebagai Ramblas. Di sini, semua korban disiksa. Kaum Kristen yang berasal dari Yahudi, misalnya, dicap sebagai heretics karena masih mempraktikkan tradisi Yahudi, seperti mengenakan baju linen setiap Hari Sabtu, atau tidak mau memakan babi.

Dalam setahun saja, sebanyak 300 orang telah dibakar hidup-hidup. Kondisi kaum Yahudi dan Muslim menjadi lebih buruk setelah Tomas de Torquemada diangkat sebagai “inquisitor general” untuk Castil dan Aragon, tahun 1483. Jumlah yang dibakar hidup-hidup semakin banyak. Tidak puas dengan membantai para “Yahudi tersembunyi” (crypto-Jews), Torquemada kemudian berusaha mengusir seluruh Yahudi dari Spanyol. Upaya ini kemudian berhasil, dengan dikeluarkannya perintah pengusiran Yahudi dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella, yang dikenal dengan General Edict on the Expulsion of the Jews from Aragon and Castile. (Martin Gilbert (ed), Atlas of The Jewish People, hal. 61-64.)

Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan, diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu. Masa kekuasaan Ferdinand -- The King of Aragon -- dan Isabella -- the Queen of Castile–dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai “the Catholic Kings”, yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol.

Masa kekuasaan Kristen itu memang telah berakhir di Barat. Masyarakat Kristen Barat sendiri mengalami trauma dengan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh tokoh Gereja dengan mengatasnamakan wakil Kristus. Karena itu, kemudian merek tidak memberi tempat lagi kepada institusi Gereja untuk berkuasa dalam semua bidang, seperti di zaman pertengahan Eropa. Hanya saja, mereka pun tetap memanfaatkan misi Kristen untuk kepentingan kolonialisme dan imperialisme mereka.

Kasus Kendall yang mencoba mengkristenkan Yasser Arafat sebenarnya hal yang “mengherankan” jika kaum Kristen sendiri mau mengkaji dengan cermat problema teologi dan teks Bible sendiri. Jika para misionaris mengajak manusia untuk mempercayai dan mengakui bahwa kematian Jesus di Tiang Salib adalah untuk menebus dosa manusia, maka hingga kini, para teolog Kristen sendiri masih terus berdebat tentang hal itu. Heboh Film 'The Passion of the Christ' karya Mel Gibson menunjukkan bagaimana kontroversialnya cerita tentang penyaliban Jesus itu sendiri. Paus Yohanes Paulus II menyetujui film itu dan menyatakan, bahwa film itu adalah apa adanya, sesuai dengan cerita Bible. Namun, seorang tokoh Kristen membuktikan, banyak gambaran dalam film itu yang tidak sesuai dengan Bible. Misalnya digambarkan, bahwa Iblis menemui Yesus di Getsemane, padahal Bible menyebut Malaekat yang menemui Yesus (Luk.22:43).

Film ini juga secara khas model ‘Perjanjian Baru’ yang menggambarkan, bahwa Yahudi bertanggung jawab atas kematian Jesus itu. Tetapi, John Dominic Crossan, professor dalam Biblical Studies di DePaul University Chicago, menulis sebuah buku berjudul Who Killed Jesus? yang isinya membuktikan bahwa pemahaman tradisional terhadap terbunuhnya Jesus, yang digambarkan sebagai perbuatan kaum Yahudi, sebagaimana dipaparkan dalam Perjanjian Baru, bukan hanya salah, tetapi juga berbahaya. Ia juga mempertanyakan berbagai persoalan teologis yang mendasar, seperti “benarkah Jesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia?” juga “apakah keimanan kita sia-sia jika tidak ada kebangkitan tubuh Jesus?” (Lihat, John Dominic Crossan, Who Killed Jesus (New York: HarperCollins Publishers, 1995). Perdebatan seputar Jesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Jesus itu benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). (Lihat, Howard Clark Kee, Jesus in History, (New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970), hal. 29.

Konsep ketuhanan Jesus itu sendiri baru diputuskan secara resmi pada Konsili Nicea tahun 325 M. Sebuah buku berjudul “The Messianic Legacy” mencatat: “At Nicea Jesus’s divinity, and the precise nature of his divinity, were established by means of a vote. It is fair to state that Christianity as We know It today derives ultimately not from Jesus’s time, but from the Council of Nicea.” Jadi, konsep Ketuhanan Jesus dan hakikat alamiahnya ditetapkan dalam Konsili tersebut, melalui cara voting. Maka, kata buku ini, adalah fair untuk menyatakan, bahwa Kekristenan yang dikenal saat ini diturunkan bukan dari zaman Jesus, tetapi dari Konsili Nicea.

Maka, sejak awal mula perkembangan Kristen, banyak sekali aliran yang tidak mengakui Ketuhanan Jesus. Contohnya, adalah satu kelompok yang bernama Cathary yang hidup di Selatan Perancis. Kelompok Cathary adalah penganut Catharism, satu kelompok heresy radikal di Zaman Pertengahan. Cathary percaya bahwa karena daging adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan. Dalam ajaran Cathary, Jesus bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Untuk memperhambakan manusia, tuhan yang jahat menciptakan gereja, yang mempertontonkan “sihirnya” dengan mengejar kekuasaan dan kekayaan. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan persuasif, Paus Innocent III menyerukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka dengan senjata, sehingga ribuan orang dibantai.

Lebih pelik lagi jika kaum Kristen mau menelaah dengan serius problema yang dihadapi Kitab agama mereka sendiri, yaitu Bible. Begitu banyak kajian ilmiah yang membuktikan bahwa Bible memang bermasalah. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah.

Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. Hasil penelaahan serius oleh Prof. Bruce M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bahwa sekarang mungkin saja untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament.

(the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). (Lihat, Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance, (Oxford:Clarendon Press, 1987), hal. 273).

Kristen adalah agama yang dibentuk dan disusun teologi dan ritualitasnya oleh perkembangan sejarah. Ini sangat berbeda dengan Islam, yang merupakan satu-satunya agama, yang namanya sudah diberikan oleh Allah, melalui Kitab Suci al-Quran. Nama “Islam” sudah built-in sejak awal. Konsep teologi dan ritual pokok dalam Islam pun sudah sempurna sejak awal mula.

(al-Yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’maty, wa radhiitu lakumul Islama diinaa). Tidak ada satu pun agama yang memiliki sifat dan karakteristik seperti Islam itu, sehingga pendiri Islamic Studies di MacGill University, Wilfred Cantwell Smith, dalam bukunya The Meaning and End of Religion, menampatkan satu bab khusus “The Special Case of Islam”. Meskipun dalam buku ini ia mereduksi makna Islam hanya sekedar “submission to God” atau “pasrah kepada Tuhan”.

Maka, kisah Kendall dan Arafat itu seyogyanya dapat menjadi pelajaran bagi kaum Muslim. Bahwa, meskipun secara konseptual teologis dan kitab Kitab-nya masih dipersoalkan, namun Kendall begitu bersemangat mengkristenkan Yasser Arafat. Jika kaum Muslim yakin bahwa Islam adalah ya’luu wa laa yu’laa ‘alaihi, maka adalah sangat aneh, jika semangat kaum Muslim dalam “melakukan Islamisasi” jauh lebih rendah daripada Kendall. Wallahu a’lam. (Adhian Husaini, Kuala Lumpur, 18 Maret 2004).

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1051&Itemid=0

Konsili Nicea, Kongres Kontroversi Pelantikan Tuhan

Mukjizat Kristen di Senayan
Senin, 09 Agustus 2004
Konsep ketuhanan Yesus sejak Konsili Nicea tahun 325 sudah kontroversial. Bagaimana menjelaskan dengan akal sehat, bahwa Yesus benar Tuhan" dan sekaligus "manusia"?. Baca CAP Adian Husaini ke-64

Majalah Kristen BAHANA edisi Agustus 2004 menurunkan satu berita dengan judul panjang: "Doa Bagi Bangsa: Pesona Reinhard Bonke di Stadion Bung Karno, Mengawal Indonesia Memilih Presiden, Menebar Mukjizat Ilahi."

Ada baiknya kita simak berita tersebut secara lengkap: "Kidung pujian bagi Bapa di Surga kembali bergema dari Stadion Gelora Bung Karno. Ribuan umat Kristiani dari penjuru Jakarta berkumpul memanjatkan Doa Bagi Bangsa, melepas denominasi masing-masing. Bagai dupa yang harum dengan ketulusan pujian sebagai korban persembahan membuka pintu surga, menerangi malam yang gelap dengan cahaya mukjizat yang luar biasa.

Sejak sore, ribuan jemaat yang rindu akan Tuhan telah membanjiri stadion terbesar di Indonesia ini. Pujian penyembahan menggema dari mereka yang haus bersekutu dengan-Nya, ataupun dari tubuh-tubuh lemah yang rindu jamahan mukjizat Tuhan. Melalui hamba-Nya Reinhard Bonke, Tuhan menyatakan kuasa-Nya dengan begitu ajaib. Dari kisah perempuan yang berzinah (Yoh. 8:1-11), Bonke memaparkan, bahwa betapa pun hinanya dia di mata manusia, namun Yesus tetap mengampuni dan memintanya untuk tidak berbuat dosa lagi.

Usai khotbah, Bonke mengajak seluruh jemaat berdoa bersama. Kesibukan drastis terjadi tepat di depan panggung, tempat orang-orang sakit berkumpul. Mulai dari yang pincang, lumpuh, buta, hingga yang terbaring sekarat di atas tempat tidur berjajar kesembuhan Ilahi. Para pendoa segera menyebar, mendampingi mereka yang butuh bantuan doa. Kuasa Tuhan bekerja dengan dahsyat. Usai berdoa, satu per satu jemaat yang beroleh kesembuhan bersaksi di atas panggung. Mereka yang lumpuh dapat berjalan, yang tuli dapat mendengar.

Bahkan ada seorang wanita yang minta jamahan Tuhan agar diberi anak beberapa tahun lalu saat Bonke kali pertama datang ke Indonesia, dengan dua anak kembarnya naik ke atas mimbar menyaksikan mukjizat Tuhan yang luar biasa. Menurut ketua panitia, Cecilia Sianawati, acara ini merupakan kegiatan doa untuk menopang bangsa Indonesia memasuki pemilihan presiden. Dengan persembahan puji-pujian, umat Kristiani percaya Tuhan Yesus membuka pintu gerbang transformasi bagi bangsa Indonesia. "Kita sadar, semua usaha kita sebagai manusia tidak cukup. Kita butuh pertolongan Tuhan,"katanya. Doa Bagi Bangsa juga dihadiri Ketua Umum Partai Damai Sejahtera Ruyandi Hutasoit, Ketua Umum Nahdlatul Ulama dan Menteri Agama (Menag) Said Aqil Husein Al Munawar.

Menag: Syaloom

Syaloom, teriak lantang Menag Al-Munawar mengawali kata sambutannya. Sontak salam hangat ini disahut ribuan jemaat dengan pekik Syaloom pula. Dalam sambutannya, Al-Munawar menyatakan mendapat kehormatan mewakili Presiden Megawati Soekarnoputri sekaligus permintaan maaf yang sebesar-besarnya dari presiden yang berhalangan karena tengah menuju Bali menghadiri pertemuan penting.

Sebagai bangsa pluralis, lanjut Al-Munawar, langkah menggelar Doa Bagi Bangsa ini sangat tepat, sebab mendoakan bangsa dan negara, serta pemimpin yang tepat merupakan tanggung jawab semua warga negara, tanpa memandang agama ataupun sukunya. "Untuk membangun Ibu pertiwi, kemajemukan harus dipertahankan, " ungkapnya. Dalam kesempatan ini, menteri juga menyatakan, SKBRI bagi WNI keturunan dicabut dan Keputusan Bersama dua menteri tahun 1969 yang melarang umat Nasrani beribadah di luar gereja, telah direvisi. Inilah mukjizat lain juga luar biasa malam itu. "Syaloom Indonesia."

(***)

Begitulah berita yang disebarluaskan oleh majalah Rohani populer Kristen itu. Membaca berita tersebut, sangatlah mengherankan, bahwa pejabat tinggi Negara setingkat Menteri Agama menghadiri acara itu. Sudah lama bangsa Indonesia disuguhi adegan penyebaran agama melalui cara-cara ?penyembuhan ajaib? yang selain tidak masuk akal, juga sebenarnya melecehkan kalangan Kristen sendiri. Logikanya, jika para pendoa Kristen itu mampu menyembuhkan orang buta, lumpuh, pincang, dan sebagainya, lalu buat apa mereka membangun begitu banyak rumah sakit Kristen?

Beberapa waktu lalu, saat pro-kontra RUU Sisdiknas, beredar luas "VCD Gus Dur" yang didoakan oleh pendeta wanita AS dan diikuti oleh ribuan jemaat yang hadir. Mereka berdoa agar saat itu juga Tuhan membuka mata Gus Dur, sehingga dapat melihat. Sampai berulangkali doa itu itu dipanjatkan, ternyata Gus Dur tidak berubah.

Sekali lagi, jika formula pengobatan ajaib yang diklaim sebagai "mukjizat" oleh kaum Kristen itu memang ampuh, maka Depkes RI sebaiknya segera dibubarkan saja. Adalah ajaib, jika berita itu benar, menteri agama kita yang Prof. Dr. dan pakar dalam agama, mau menghadiri acara yang sudah begitu banyak menimbulkan pro-kontra di kalangan umat beragama.

Beginikah cara kaum Kristen menyebarkan agamanya kepada bangsa Indonesia? Dari segi pengembangan intelektualitas dan diskursus keagamaan, berita yang dibanggakan oleh Majalah Kristen itu menunjukkan, bahwa mereka sama sekali tidak mau memahami problematika teologis yang ada dalam agama mereka sendiri. Justru ketika mereka selalu menyebut Tuhan Yesus, maka disitulah, sejak ratusan tahun lalu, sejak awal-awal masa Kekristenan, problematika yang paling mendasar dalam teologi Kristen muncul. Mereka belum pernah selesai dalam mendefinisikan siapa sebenarnya yang mereka sebut dengan Yesus itu. Apakah dia manusia, atau dia Tuhan.

Apakah dia manusia dan sekaligus Tuhan. Atau dia memang Tuhan. Sejak dulu, hingga kini, perdebatan seputar ketuhanan Yesus berlangsung sengit. Dr. C. Groenen ofm, seorang teolog Belanda, mencatat, bahwa seluruh permasalahan kristologi di dunia Barat berasal dari kenyataan bahwa di dunia Barat, Tuhan menjadi satu problem. Setelah membahas perkembangan pemikiran tentang Yesus Kristus (Kristologi) dari para pemikir dan teolog Kristen yang berpengaruh, ia sampai pada kesimpulan, bahwa kekacauan para pemikir Kristen di dunia Barat hanya mencerminkan kesimpangsiuran kultural di Barat. "Kesimpang siuran itu merupakan akibat sejarah kebudayaan dunia Barat," tulis Groenen. Dalam buku Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen (1988).

Setelah membahas puluhan konsep para teolog besar di era Barat modern, Groenen memang akhirnya "menyerah" dan "lelah", lalu sampai pada kesimpulan klasik, bahwa konsep Kristen tentang Yesus memang "misterius" dan tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Sebab itu, jangan dipikirkan. Kata dia: "Iman tidak tergantung pada pemikiran dan spekulasi para teolog. Yesus Kristus, relevansi dan kebenaran abadi-Nya, akhirnya hanya tercapai dengan hati yang beriman dan berkasih. Yesus Kristus, Kebenaran, selalu lebih besar dari otak manusia, meski otak itu sangat cerdas dan tajam sekali pun."

Sepanjang sejarah peradaan Barat, terjadi banyak problema serius dalam perdebatan teologis Kristen. Di zaman pertengahan, rasio harus disubordinasikan kepada kepercayaan Kristen. Akal dan filosofi di zaman pertengahan tidak digunakan untuk mengkritisi atau menentang doktrin-doktrin kepercayaan Kristen, tetapi digunakan untuk mengklarifikasi, menjelaskan, dan menunjangnya. Sejumlah ilmuwan seperti Saint Anselm, Abelard, dan Thomas Aquinas mencoba memadukan antara akal (reason) dan teks Bible (revelation).

Problema yang kemudian muncul ialah, ketika para ilmuwan dan pemikir diminta mensubordinasikan dan menundukkan semua pemikirannya kepada teks Bible dan otoritas Gereja, justru pada kedua hal itulah terletak problema itu sendiri. Disamping menghadapi problema otentisitas, Bible juga memuat hal-hal yang bertentangan dengan akal dan perkembangan ilmu pengatahuan. Sejumlah ilmuwan mengalami benturan dengan Gereja dalam soal ilmu pengatahuan, seperti Gelileo Galilei (1546-1642) dan Nicolaus Copernicus (1473-1543). Bahkan Giordano Bruno (1548-1600), pengagum Nicolaus Copernicus, dibakar hidup-hidup.

Thomas Aquinas mengungkapkan konsep teologi Kristen dengan kata-katanya: "deum esse trinum et unum est solum creditum, et nullo modo potest demonstrative probari" (That God is three and one is only known by belief, and it is in no way possible for this to be demonstratively proven by reason).

Konsep ketuhanan Yesus yang dirumuskan dalam Konsili Nicea, tahun 325, sudah memunculkan problem serius dan kontroversial tentang "ketuhanan Yesus". Bagaimana menjelaskan kepada akal yang sehat, bahwa Yesus adalah "Tuhan" dan sekaligus "manusia". Apa yang disebut kaum Katolik sebagai "Syahadat Nicea", secara eksplisit mengutuk pemikiran Arius, seorang imam Alexandria yang lahir tahun 280. Arius didukung sejumlah Uskup menyebarkan pemahaman bahwa Yesus bukanlah Tuhan adalah tunggal, esa, transenden, dan tak tercapai oleh manusia. Yesus adalah "Firman Allah" yang secara metafor boleh disebut "Anak Allah" bukanlah Tuhan,tetapi makhluk, ciptaan, dan tidak kekal abadi.

"Syahadat Nicea" menyatakan: "Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada" (Lihat, C. Groenen, Sejarah Dogma Kristologi, dan buku Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, (Yogyakarta, Kanisius, 2003).

Simaklah, bagaimana perdebatan tentang "Syahadat Kristen" yang menjadi perbincangan dan kontroversi hebat dalam sejarah Kristen. Konsili Efesus, tahun 431, melarang perubahan apa pun pada "Syahadat Nicea", dengan ancaman kutukan Gereja (anathema). Namun, Konsili Kalsedon, tahun 451, mengubah "Syahadat Nicea". Kutukan terhadap Arius dihapuskan. Naskah syahadat Konsili Kalsedon berasal dari konsili local di Konstantinopel tahun 381. Sebab, naskah edisi tahun 325 dianggap sudah tidak memadai untuk berhadapan dengan situasi baru. Kalangan teolog Kristen ada yang menyebut bahwa naskah tahun 381 adalah penyempurnaan naskah tahun 325, tanpa mengorbankan disiplin teologisnya. Naskah syahadat itu di kalangan sarjana disebut "Syahadat dari Nicea dan Konstantinopel" disingkat N-C. Naskah syahadat N-C ini hingga sekarang masih menjadi naskah syahadat penting dari kebanyakan Gereja Kristiani. Namun, pada Konsili Toledo III di Spanyol tahun 589, Gereja Barat melakukan tambahan frasa "dan Putra" (Filioque), pada penggal kalimat "dan akan Roh Kudus" yang berasal dari Bapa".

Penambahan itu dimaksudkan untuk menekankan keilahian dan kesetaraan antara Putra dengan Bapa. Paus, yang mulanya menolak penambahan itu, akhirnya menerima dan mendukungnya. Namun, Gereja Timur menolak, karena melanggar Konsili Efesus. Penambahan ini kemudian menjadi penyebab utama terjadinya "skisma", perpecahan antara dua Gereja (Barat dan Timur) pada abad ke-11.

Konsili Vatikan II juga membuat perubahan kecil pada Syahadat N-C, dengan mengganti kata pembuka "Aku percaya" menjadi "Kami percaya". (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).

Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). (Lihat, Howard Clark Kee, Jesus in History, (New York: Harcourt, Brace&World Inc, 1970).

Bahkan, perdebatan seputar Yesus itu kadangkala sampai menyentuh aspek moralitas Yesus sendiri dalam aspek sexual. Marthin Luther sendiri dilaporkan menyebutkan , bahwa Yesus berzina seban yak tiga kali. Arnold Lunn, dalam bukunya, The Revolda Against Reason, (London: Eyre&Spottiswoode, 1950), hal. 233, mencatat: "Weimer quoted a passage from the Table-Talk, in which Luther states that Christ committed adultary three times, first with the woman at the well, secondly with Mary Magdalene, and thirdly with the woman taken adultary, "whom he let off so lightly. Thus even Christ who was so holy had to commit adultary before he died."

Bahkan, The Times, edisi 28 Juli 1967, mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi tokoh-tokoh Gereja di Oxford tahun 1967: "Women were his friends, but it is men he is said to have loved. The stricking fact was that he remained unmarried, and men who did not marry usually had one of three reasons: they could not afford it; there were no girls, or they were homosexual in nature.." (Dikutip dari: Muhammad Musthafa al-A'zhami, The History of The Quranic Text, from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testament, (Leicester: UK Islamic Academy, 2003)

Perdebatan seputar Yesus memang tidak berkesudahan. padahal, di atas landasan inilah, teologi Kristen ditegakkan. Pada awal-awal kekristenan, mereka ingin menonjolkan aspek ketuhanan Yesus. Tetapi, teolog-teolog modern kemudian ingin menonjolkan aspek kemanusiaan Yesus, mendekati gagasan Arius yang dulu dikutuk Gereja. Menyimak perdebatan tentang Yesus yang tiada henti itu, maka teolog Kristen seperti Groenen membuat teori "pokoknya", bahwa meskipun pemikiran kaum Kristen tentang Yesus Kristus berbeda-beda, tetapi Yesus tetap tidak berubah. Yesus tetaplah Yesus.

Argumentasi Groenen semacam ini tentu sulit dipahami oleh kalangan teolog yang sejak dahulu kala berusaha merumuskan pemahaman tentang Yesus, namun tidak pernah mencapai titik temu. Kepelikan itu bisa dipahami, mengingat Yesus sendiri tidak pernah menyatakan, bahwa dia adalah Tuhan. Paul Young, dalam bukunya, Christianity, mencatat, bahwa seluruh penulis Perjanjian Baru menekankan hakikat kemanusiaan Yesus. Ia lapar, haus, dan lelah, sebagaimana manusia lainnya. Ia juga punya emosi, bisa sedih dan senang. Tetapi, beratus tahun kemudian, Yesus dirumuskan dan disembah sebagai Tuhan. "This Jesus, a real human being, is the focus of Christian worship. Such worship contrasts sharply with all other great world religion," tulis Young. Tentang kepelikan seputar "misteri Yesus", Mark Twain membuat sindiran: "It's not the parts of the Bible which I can't understand that bother me, it's the parts that I can understand." Bukan bagian Bible yang tidak dipahaminya yang meresahkannya, tetapi justru bagian yang ia pahami.

Kontroversi dalam soal teologi seperti dalam sejarah Kristen semacam itu tidak dijumpai dalam Islam. Mengingat begitu hebatnya kontroversi teologis Kristen dan trauma Barat terhadap hegemoni Gereja ketika mereka memegang doktrin eksklusivisme teologis (extra ecclesiam nulla salus), bisa dipahami jika mereka lebih menyukai pengembangan paham pluralisme agama.

Kondisi Islam sama sekali berbeda. Dasar-dasar teologi Islam sudah dirumuskan dan sudah sangat jelas, sejak awal Islam lahir, serta tidak pernah diputuskan melalui satu "kongres", musyawarah, atau "konsili". Karena itu, sejak awal kelahirannya, Islam memang sudah sempurna. Konsep teologi dan ibadah dalam Islam sudah selesai dirumuskan. Bahkan, sebagai agama, nama "Islam" pun sudah diberikan oleh Allah. (QS al-Maidah:3).

Sebaliknya, Konsep Kristen tentang tuhannya dirumuskan melalui Kongres, dan hingga kini masih saja memunculkan kontroversi, sehingga banyak memunculkan apatisme di kalangan masyarakat Barat. Hanya sebagian kecil kalangan Kristen yang nekad, menyebarkan agamanya kepada kaum Muslim, dengan cara-cara seperti di Stadiun Bung Karno itu. Yang perlu diacungi jempol, meskipun berdiri di atas landasan yang rapuh, tetapi kelompok kristen di Senayan itu nekad; alias bonek, "bondo nekad". Wallahu a'lam. (KL, 6 Agustus 2004).

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1315&Itemid=0

Friday, June 1, 2007

If Media Advocates Terrorism

If Media Advocates Terrorism

By Kamala Sarup

To harbor means to bring something or someone to safety. How can any media do that with "terrorism", an abstraction meaning the sum of terrorist acts over time?


Media sometimes slant the news to favor terrorists. Which is biased (untruthful) reporting. Unbiased (truthful) reporting means reporting the facts about terrorists and terrorism, not just selecting those facts that fit the reporter's and editor's prejudices, while ignoring the rest.

Likewise, reporting faulty interpretations of the facts (illogical cause-effect relationships) is harmful for the same reason. Most media do that all the time, in part so that their readers and advertisers will continue to read and finance them. Academics who write in professional journals are a little more truthful than the media because they are under the scrutiny of their peers and not under advertising pressure. Finally, it's hard for me to find a unbiased book on the subject of terrorism or geo-politics-economics; that is, all the facts and logical interpretations of them.

Reporting favorable or unfavorable untruths about anything can potentially be useful in proper context; it just confuses people and causes them to take erroneous actions based on faulty information.

It's difficult for ordinary people to get at the truth through the media, but most of us have no alternative. If we are ambitious, all we can do is read a lot of media, books and journals and do the best we can to get at the truth.

A press, or media in general, if it remains somewhat objective is the only way the people can see what is happening in the society, good and bad. The more objective press (media), the better, because what one press fails to report, a competitor will.

The only justification for forbidding a particular press to publish is when it loses it objectivity so much that its articles are lies by any standard, or at least gross distortions from the truth by any standard.

Even after September 11, the Bush administration announced a variety of actions designed to restrict information from reaching the public.

An even stronger USA Patriot Act, a draft of which was obtained last month by the Center For Public Integrity, could conceivably allow for the wiretapping of news operations, according to a memo from the American Society of Newspaper Editors.

So, Media can play an objective role in society and respect human security.

Press freedom does not mean allowing the media to promote terrorism, violence and destruction. Media can be more responsible toward the people and the principle of freedom.

The media has both a right and a duty to report fully on terrorism in the interest of the public's right to know and to promote open, informed debate about terrorism. It should not be one sided.

In their daily work, Journalists from around the world are sometimes exposed to the dangers of terrorism and violence. Measures are needed to protect society against terrorism.

Much of Asia's media is either partisan or outright controlled by, for example, the government or political parties. Some examples: In Thailand, the Army owns a national TV station; In Sri Lanka, the largest English-language daily is government-controlled; In Indonesia, the largest English-language newspaper is pro-government.

I think that the U.S., Australian, and some "conservative" British media probably sometimes portray conflict as necessitating intervention. In Europe, you see much less of that perspective.

To the extent that the media can bring conflicts to people's attention, I think it can help peace. (Journalist and writer from Nepal, Kamala Sarup has been invited as a speaker at a number of peace and womens conferences.)

http://www.opednews.com/articles/2/opedne_kamala_s_070529_if_media_advocates_t.htm

Journalist and Story Writer Kamala Sarup is specialising in in-depth reporting and writing on Peace, Anti War, Women, Terrorism, Democracy, and Development. Some of her publications are: Women's Empowerment (South Asia, Nepal Booklet). Prevention of trafficking in women through media, (Book) Efforts to Prevent Trafficking in for Media Activism (Media research). Two Stories collections.
Her interests include international conflict resolution, cross-cultural communication,philosophy,feminism, political, socio-economic and literature.
Her current plans are to move on to humanitarian work in conflict areas in the near future. She also is experienced in organizational and community development. A meeting of jury members held on 21 March in Geneva has decided to attribute Kamala Sarup, with a Honurable Mention of International Award for Women Issue.

OPERATION IRAQI GENOCIDE

by Mac McKinney

Words have power! If we spend 24 hours a day accepting the White House and Federal Government's terminology and semantics framing reality, then we are already at a terrible disadvantage, for we have already bought into their deadly thought-forms. So let's begin by attacking their malevolent thought-forms and deflating and destroying them. Perhaps none is so disingenuous and malicious as the operational name for the entire rape of Iraq, what these criminals call "Operation Iraqi Freedom".

What does invading a country, bombing the Hell out of it, incarcerating and torturing its citizens, slaughtering or acquiescing to the slaughter of some 600,000 or more of them and counting, driving millions of them into internal and external exile, and engineering the theft of their oil resources have to do with freedom?

Absolutely nothing, so why do we even tolerate this misrepresentation? Let's call a spade a spade. The agressions against Iraq amount to genocide against its population, every bit as deadly as the one in Darfur, and which has been ongoing since the severe sanctions imposed after the first Gulf War. So please, from now on, do not give any credibility to the Bush Crime Syndicate by paying lip-service to their semantics and the ugly realities behind them, starting with OPERATION IRAQI GENOCIDE.

And there are miles more of semantics to retranslate from Double Speak back into reality, so let us wade into this linguistic sewer and start draining it, as stinking as it may be.

Student of history, religion, exoteric and esoteric, the Humanities in general and advocate for peace, justice and the unity of humankind, not through force, but through self-realization and mutual respect.

http://www.opednews.com/articles/opedne_mac_mcki_070531_operation_iraqi_geno.htm

Our "Enemy" Islam

by Jeremy Hammond

There is no great lack of ignorance about the religion of Islam in the United States. In a recent New York Times editorial, entitled "Can You Tell a Sunni From a Shiite", Jeff Stein relates having asked intelligence and law enforcement officials, as well as members of Congress, what the difference is between a Sunni and a Shiite. Not surprisingly, in his quest, he found that "Too many officials in charge of the war on terrorism just don't care to learn much, if anything, about the enemy we're fighting."

It's of no slight significance that the Times editorial should, while criticizing ignorance of Islam, describe Muslims as "the enemy". This is, perhaps needless to say, not atypical. But let us set the notion that Muslims are our "enemy" aside for the moment and concentrate first on the problem of ignorance.

To begin with, the perception that Islam is a religion of violence is a common one. For evidence, subscribers to this notion point to acts of terrorism by people calling themselves "Muslims", often otherwise referred to as "radical Islamists" or "Islamo-Fascists", etc.

The fallacy of this logic is simple enough to demonstrate. One simply need point out the many acts of violence committed by those calling themselves "Christians" through the ages. Were the actions of the Crusaders, the Conquistadors, or the Inquisitors representative of the Christian religion? Do we point to the slaughter of Jews and Muslims in Jerusalem, the slaughter of indigenous people in the Americas, or the torture and execution of dissenters in Europe and say, "see, Christianity is a religion of violence"? In the words of the apostle Paul, "certainly not!"

And the historical pattern hasn't necessarily discontinued. To cite just one contemporary example, very many Christians today virtually rejoice in certain actions of Israel, including its illegal occupation of the Palestinian territories and numerous instances of aggression.

Let us accept, therefore, that the actions of some who call themselves by some title or another do not necessarily reflect the true beliefs and teachings of one religion or another. Having done so, we must next ask whether acts of terrorism are truly representative of Islam. There are no shortage of people, not least among the Christian community, who will tell you that the Quran preaches intolerance and violence. They will even cite passages to support their assertion. A common example is a line from Surah 9:5 that reads, "slay the idolaters wherever ye find them..."

Well, that certainly supports the theory that the Quran preaches violence-unless, of course, one is inclined to study the context. Those who quote such passages for such a purpose often fail to provide any context, such as in this case, where the verse just previous explicitly forbids committing any violence against those who keep their peace with you. This Surah refers to a time when Muhammed and his followers had made a treaty with the tribes of non-believers who controlled Mecca, only to have that treaty broken when the opponents of Islam attacked and massacred a tribe allied with the Muslims. Verse 4 states explicitly that those who have kept their treaty are excepted from the command of violence. As for the call to arms, it is explicitly a call to self-defense, not aggression. As verse 13 reads, "Will ye not fight a folk who broke their solemn pledges, and purposed to drive out the messenger and did attack you first?"

Surah 2:191 is another commonly quoted evidence of the violence of Islam. It begins, "And slay them wherever ye find them..." What is left conveniently unmentioned is that the previous verse explicitly forbids violence except in self-defense. "Fight in the way of Allah against those who fight against you, but begin not hostilities. Lo! Allah loveth not aggressors." The command to "slay them" refers to those who have engaged in hostilities and is a command to defend against aggressors. The very next verse, similarly conveniently left out in such arguments, explicitly states that if the aggressors cease from their hostilities, Muslims are to "desist", only to "fight them until persecution is no more", for "Allah is Forgiving, Merciful."

Most people, most Christians certainly being no exception, would be surprised to learn some other things about what the Quran actually says. It calls the Jews the "Children of Israel" and recognizes the covenant between the God of Abraham and his descendants. It refers to the great prophets of old, such as Moses, who received the Ten Commandments "that ye might be led aright." It recognizes the Bible, both Old and New Testaments, as "Scripture", for before the Quran, Allah had "revealed the Torah and the Gospel".

The Quran describes faithful Jews and Christians as being "People of the Scripture". They are included with Muslims as those who "believeth in Allah and the Last Day" and who "doeth right", and says of them that "their reward is with their Lord". It asks, "And who forsaketh the religion of Abraham save him who befooleth himself?" Where it criticizes Jews and Christians, it is on the grounds that "Ye have naught till ye observe the Torah and the Gospel and that which was revealed unto you from your Lord." Jesus, it may be noted, made a similar criticism of his people.

As in the New Testament, the Quran speaks of the "Day of Resurrection" and speaks of "Jesus, son of Mary," the "Messiah" who was supported "with the holy Spirit" who confirmed the Torah that was before him, who ascended to God.

The Quran gives instructions on how to treat women, calling upon men to respect them. Islam raised women from being mere chattel to having legal rights, such as rights of inheritance and, "If a woman feareth ill-treatment from her husband", divorce.

Criticism of Islam from some Christians is particularly intriguing. One is forced to wonder whether many Christians have ever even read their own Book, much less the Quran. The Bible contains no shortage of passages one could take, either in or out of context, to support the argument that Christianity is a violent religion. Take 1 Samuel 15:3, in which the Israelites are commanded to attack the people of Amalek "and utterly destroy all that they have, and do not spare them. But kill both man and woman, infant and nursing child, ox and sheep, camel and donkey." There are no similar incitements to genocide within the pages of the Quran. While the command to commit an indiscriminate act of revenge in the Bible is commonly explained away as righteous execution of God's judgment, the command for Muslims to "slay" those who have engaged in hostilities against them in the Quran is regarded as "terrorism" and the like.

There could, perhaps, be a lesson to be learned from this pattern.

Islam, we are often told, has brought only bloodshed and violence to this earth, history notwithstanding. The fact that Muslim scholars in Baghdad and other great centers of learning studied and translated great works of old, keeping alive centuries of knowledge and expanding upon it while Europe digressed towards barbarism during the Dark Ages, barely makes a dent in the arguments that Islam is the "enemy" of civilization itself.

Compared with the history of Christianity, the relative tolerance of Islam may be dismissed. The mercy of Saladin compared with the bloodlust of the Crusaders as they massacred not only Muslims but also Jews as they sacked Jerusalem was more a representative snapshot than an aberration of history, but we may forget about that.

And thus we return to the recent Times op-ed and the confrontation of the ignorance of Islam. If we were truly interested in combating ignorance, we might begin by accepting a truism from our own tradition, the principle of universality, reflected in the Bible in the words of Jesus when he asked, "And why beholdest thou the mote that is in thy brother's eye, but considerest not the beam that is in thine own eye?"

If we were to discontinue our rejection of this elementary moral principle, we might be able to shed the heavy shroud of ignorance that surrounds us and thus be able to recognize our true enemy. To borrow the memorable words of Pogo, "We have met the enemy and he is us."

But that's a lesson The New York Times is ever so reluctant to impart to us.

http://www.opednews.com/articles/opedne_jeremy_h_061018_our__22enemy_22_islam.htm

Jeremy R. Hammond is an independent researcher and writer currently residing in Taiwan, where he works as an English teacher. In his spare time, he studies, writes, and maintains a website dedicated to examining the myths and realities of U.S. foreign policy, primarily with regard to "war on terrorism" and the Middle East.

LETTER FROM A SOLDIER IN IRAQ / WHY ARE WE HERE ?


A soldier in Iraq asks in despair: Why are we here? After watching his roommate fatally wounded in a roadside bombing, an Army private wonders why the lives of good men are being lost when the Iraqis pose no threat to us and don't want us there ~ a good question which Bush cannot legitimately and morally answer: Allen L Roland


BAGHDAD, May 12, 2007 " My name is Donald Hudson Jr. I have been serving our country's military actively for the last three years. I am currently deployed to Baghdad on Forward Operating Base Loyalty, where I have been for the last four and a half months.

I came here as part of the first wave of this so called "troop surge", but so far it has effectively done nothing to quell insurgent violence.

I have seen the rise in violence between the Sunni and Shiite. This country is in the middle of a civil war that has been on going since the seventh century.

Why are we here when this country still to date does not want us here?

Why does our president's personal agenda consume him so much, that he can not pay attention to what is really going on here?

Let me tell you a story. On May 10, I was out on a convoy mission to move barriers from a market to a joint security station. It was no different from any other night, except the improvised explosive device that hit our convoy this time, actually pierced through the armor of one of our trucks.

The truck was immediately engulfed in flames, the driver lost control and wrecked the truck into one of the buildings lining the street. I was the driver of the lead truck in our convoy; the fifth out of six was the one that got hit. All I could hear over the radio was a friend from the sixth truck screaming that the fifth truck was burning up real bad, and that they needed fire extinguishers real bad. So I turned my truck around and drove through concrete barriers to get to the burning truck as quickly as I could.

I stopped 30 meters short of the burning truck, got out and ripped my fire extinguisher out of its holder, and ran to the truck. I ran past another friend of mine on the way to the burning truck, he was screaming something but I could not make it out. I opened the driver's door to the truck and was immediately overcome by the flames. I sprayed the extinguisher into the door, and then I saw my roommate's leg. He was the gunner of that truck. His leg was across the driver's seat that was on fire and the rest of his body was further in the truck.

My fire extinguisher died and I climbed into the truck to attempt to save him. I got to where his head was, in the back passenger-side seat. I grabbed his shoulders and attempted to pull him from the truck out the driver's door. I finally got him out of the truck head first. His face had been badly burned. His leg was horribly wounded. We placed him on a spine board and did our best to attempt "Buddy Aid".

We heard him trying to gasp for air. He had a pulse and was breathing, but was not responsive. He was placed into a truck and rushed to the "Green Zone", where he died within the hour. His name was Michael K. Frank. He was 36 years old. He was a great friend of mine and a mentor to most of us younger soldiers here.

Now I am still here in this country wondering why, and having to pick up the pieces of what is left of my friend in our room. I would just like to know what is the true reason we are here? This country poses no threat to our own. So why must we waste the lives of good men on a country that does not give a damn about itself? Most of my friends here share my views, but do not have the courage to say anything."

About Donald C. Hudson Jr. / Donald C. Hudson Jr. is a private assigned to the 1st Brigade Special Troops Battalion, 1st Brigade Combat Team, 82nd Airborne Division. E-mail: donaldchudsonjr@yahoo.com

Allen L Roland
http://blogs.salon.com/0002255/2007/06/01.html